Wednesday, November 08, 2006

Catatan Idul Fitri 1427 H Eropa:
Likok Pulo Semarakkan Lebaran di Jerman

Masyarakat muslim di Jerman dan Eropa umumnya merayakan Hari Raya Idul Fitri 1427 H pada Senin (23/10). Di Jerman, warga Indonesia di kota-kota besar seperti Berlin, Hamburg, dan Frankfurt mengikuti shalat Id yang diadakan oleh KBRI dan Konsulat Jenderal setempat. Sebagian besar lainnya mengikuti shalat Id di mesjid Turki atau Arab. Lain halnya di Muenchen, warga Indonesia yang berdomisili di kota terbesar ketiga di Jerman itu berinisitif untuk mengadakan sendiri acara shalat Idul Fitri. Istimewanya -tidak seperti di Tanah Air- jamaah ‘Id tidak langsung pulang selepas shalat. Akan tetapi mengadakan berbagai aneka acara seperti nasyid, hiburan anak-anak, hingga pemutaran film sembari bersilaturrahim.

Kontributor Serambi di Jerman -yang bertindak sebagai khatib dan imam di sana- mengamati antusiasme yang tinggi terutama di kalangan anak-anak. Terlebih lagi tatkala Tari Likok Pulo tampil di pentas, tepuk tangan dan decak kagum penonton bagai tak henti setiap para penari menyelesaikan satu variasi gerakan cepat yang diiringi pantun khas Aceh.

“Kami hanya punya waktu efektif untuk belajar sekitar satu minggu. Maklum para penari sibuk dengan kuliah juga. Namun Alhamdulillah, teman-teman cepat beradaptasi dengan tarian ini,” ungkap Teuku Edward, sang pelatih sumringah. Edward –kandidat master di Technische Universitaet Muenchen- dan grup tarinya kontan mendapat tawaran tampil pada acara Malam Budaya Indonesia Muenchen Nopember mendatang. Tak pelak lagi Likok Pulo memang memukau.

Hal lainnya, selepas shalat ‘Id anak-anak juga memperoleh hadiah dari orang tua atau sanak saudara mereka. Hal ini memang sudah mentradisi baik di Jerman maupun Eropa secara umum.

“Sebabnya –sebagai perbandingan- anak-anak selalu mendapat hadiah di sekolah pada saat Natal tiba. Karena itu orang tua perlu mengimbanginya di kala lebaran guna menunjukkan kepada anak-anak mereka bahwa Islam pun punya hari besar,“ tukas Estananto, salah seorang panitia acara itu.
“Bagi muslim yang tinggal di negara Barat hal tersebut menjadi penting. Jika tidak, anak-anak tak akan kenal dengan hari-hari besar Islam yang berujung lunturnya kecintaan pada Islam, “ imbuh Estananto lagi.

Sementara itu di Perancis, ucapan “Bonne Fete” (selamat Idul Fitri) telah menjadi sapaan favorit di kalangan muslim di sana. Sapaan dalam bahasa Perancis itu bahkan melebihi ucapan tradisional yang biasa diucapkan orang tua mereka yang sebagian besar berasal dari Maroko dan Aljazair. Di Perancis -dan beberapa negara Eropa lainnya- Idul Fitri bukanlah libur resmi, sehingga warga tetap ke kantor atau sekolah selepas shalat Id. Namun kebanyakan orang tua tidak mengantar anaknya ke sekolah pada hari pertama lebaran. Hal ini juga untuk menjaga kecintaan Islam bagi anak-anak.

Sebagian besar Warga Indonesia melaksanakan shalat Id di kantor KBRI Paris.
“Yang tidak ada cuma Timphan, lainnya mudah didapat disini, “ ujar Taufik Akbar, mahasiswa asal Aceh mengomentari lebaran di sana seraya tertawa.

Adapun di Italia, tepatnya di kota Milan -seperti dilaporkan IslamOnline (23/10) Idul Fitri yang berlangsung Senin kemarin membawa kebahagiaan tersendiri bagi banyak warga muslim di sana. Shalat Id yang berlangsung di tempat terbuka sekaligus jadi ajang silaturrahim sesama warga muslim di kota mode itu.

Muslim Italia hingga saat ini masih menghadapi banyak kendala terutama meningkatnya Islamofobia di negara Pizza itu. Di Italia warga muslim sedikit tertekan dengan gencarnya propaganda media massa yang menyudutkan Islam yang mengidentikkan Islam dengan terorisme dan kekerasan.

“Kami berusaha melupakan masa-masa sulit itu dan menikmati hari lebaran ‘Id,” ujar Ali Abu Oshwaima, direktur Islamic Center Milan kepada IslamOnline. Di Milan sendiri ada tiga mesjid besar dengan menara dan kubah, disamping 35 mushalla dan 150 toko halal. Populasi muslim Italia saat ini ada sekitar 1,2 juta jiwa, termasuk 20.000 muallaf asli negara Eropa bagian Selatan itu.

Yang menarik adalah di Spanyol, suasana perayaan Idul Fitri sangat berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Setelah dua tahun berada dalam rasa tidak nyaman, selepas kasus penangkapan muslim oleh polisi pada peristiwa bom di kota Madrid (2002) yang menewaskan 190 warga disana. Islam jadi target utama dimana warga muslim, mesjid, Islamic Center sempat jadi sasaran kebencian.

Namun kemarin, suasana Idul Fitri berlangsung meriah. Shalat ‘Id yang berkesan adalah di mesjid Granada. Masjid indah di puncak bukit, menghadap Pegunungan Sierra Nevada dan istana Alhambra itu diresmikan kembali pemakaiannya pada 10 Juli 2003 silam. Kumandang azan di Granada bergema lagi setelah hampir 500 tahun ! Beberapa orang turis muslim yang ada disana terharu, seakan tidak percaya bangunan itu dulunya adalah mesjid.

Laporan IslamOnline menyebutkan media Spanyol yang sebelumnya “garang“ tampak lebih bersahabat, terutama berita-berita yang menyejukkan beberapa hari menjelang lebaran. Mereka berhenti menghujat dan bahkan mengundang tokoh muslim untuk berbicara tentang Islam selama Ramadhan maupun Idul Fitri. Beberapa saluran televisi malah menyiarkan dokumentasi singkat berkenaan persiapan Idul fitri. Misalnya, stasiun televisi Euskal Telebista bahkan mengirim reporternya ke Rabat -ibukota Marokko- guna meliput suasana menjelang Idul Fitri di negara Afrika Utara itu. Patut diketahui warga Maroko merupakan imigran terbesar di Spanyol.

Lain halnya dengan harian La Ley yang mengangkat tentang keingintahuan warga Spanyol tentang Ramadhan serta meningkatnya warga Spanyol yang memeluk Islam. “Kini dengan mudah kita temui orang-orang Spanyol yang belajar tradisi ritual Islam,” tulis surat kabar itu dalam laporan terbarunya.

Selama Ramadhan hubungan muslim dan non muslim juga jadi sorotan. Pemutaran film “Sea and Heaven” –Lautan dan Syurga- yang menceritakan sejarah Andalusia (sekarang Spanyol) mendapat perhatian khusus.

Budaya Andalusia sangat dipengaruhi oleh pemerintahan Muslim di wilayah itu selama delapan abad. Andalusia berasal dari nama bahasa Arab "Al Andalus". Dalam sejarah dinasti Islam di Andalusia, dikisahkan masyarakat pada masa itu baik Yahudi, Kristen, maupun Islam hidup berdampingan secara damai. Mesjid Cordoba di Andalusia –kini beralih fungsi sebagai gereja- adalah saksi bisu kejayaan Islam selama 800 tahun di Spanyol.

Sedikitnya saat ini ada 800.000 muslim dari total 40 juta jiwa penduduk Spanyol. Negara yang terletak di Selatan Eropa itu telah menerima Islam sebagai agama melalui undang-undang kebebasan beragama pada Juli 1967. Saat ini muslim di Spanyol masih terus mengupayakan adanya hari libur resmi pada hari-hari besar Islam. Wallahu ‘alam bisshawab.
(Zulkarnain Jalil Serambinews (28/10)).