Di Blikkiesdorp, Piala Dunia kehilangan makna
Blikkiesdorp tak ada dalam peta Afrika Selatan. Karena memang bukan nama kota ataupun lokasi wisata. Blikkiesdorp adalah barak penampungan sementara kaum marginal. Layaknya shelter korban tsunami di Aceh. Nama formalnya adalah Temporary Relocation Area (TRA) atau kawasan relokalisasi sementara.
Tapi para penghuni barak alergi dengan nama ”mentereng” itu dan lebih suka menyebutnya dengan nama Blikkiesdorp yang bermakna “Kampung Kaleng”, karena seluruh struktur bangunan seluas 6 x 3 meter itu, baik dinding maupun atapnya terbuat dari seng. Di siang hari yang terik, rumah-rumah kaleng itu serasa sangat panas. Tubuh bak terpanggang api. Konon lagi lokasi pemukiman ini berdiri di atas tanah berpasir yang tandus. Tak ada pepohonan apapun di dekat situ.
Pemukiman yang berjarak 20 kilometer dari kota Cape Town itu awalnya diperuntukkan bagi warga kota yang kena gusur akibat adanya pembangunan infrastruktur Piala Dunia 2010. Sambil menanti selesainya pembangunan rumah permanen, mereka diminta tinggal dulu di TRA.
Blikkiesdorp dibangun pertamakali tahun 2007 oleh Pemkot Cape Town, saat itu masih dijabat Walikota Helen Zille. Pemkot setempat kabarnya mengeluarkan dana sekitar 30 juta rand (sekitar 3,6 milyar rupiah) untuk relokalisasi warga pinggiran tersebut. Awalnya khusus diperuntukkan bagi warga dari kawasan Athlone, Symphoni Way, Salt River dan Woodstock.yang kena gusur akibat adanya pembangunan infrastruktur Piala Dunia 2010. Jumlahnya tak sampai seribuan orang. Tapi sekarang ini penghuninya sudah mencapai 15.000 orang!
Penghuninya kini makin beragam, dari gembel, gelandangan, pengemis, pengangguran hingga tunawisma. Suasana makin tak nyaman, akibat kriminalitas makin tinggi disini. Tinggal berhimpit-himpitan dalam barak yang berjumlah sekitar 1500 buah itu. Ditambah lagi fasilitas listrik, air dan toilet umum sangat terbatas. Sebagian warga mengaku mulai frustasi, tak tahan lagi tinggal di Blikkiesdorp.
“Barak ini lebih mirip kamp konsentrasi. Dikelilingi pagar kawat berduri, pakai lampu sorot, pintu masuk dijaga satuan polisi pengaman. Penghuninya diawasi secara ketat dan berlaku jam malam. Layaknya kami ini narapidana saja,” ujar Abahlali Mjondolo, salah satu penghuni Blikkiesdorp. “Lokasinya sangat jauh dari pusat kota, tempat kerja dan juga sekolah,” sambung Mjondolo.
"Mereka mengusir gembel jalanan, gelandangan dan pengemis yang tinggal di gubuk-gubuk kumuh dan menumpuknya disini, semata-mata agar kota tampak indah selama Piala Dunia," sergah Mohammed Ali, salah seorang penghuni yang tempat tinggalnya kena gusur .
“Afsel mengeluarkan dana trilyunan untuk Piala Dunia. Kenapa mereka tidak memanfaatkan uang sebesar itu untuk membangun rumah bagi warga miskin?," umpat Beverley Jacobs yang telah menetap di barak berukuran 18 meter persegi sejak tiga tahun lalu.
Penghuni lainnya, Priscilla Ludidi tinggal bersama empat anaknya ditemani sang ibu yang telah berusia 82 tahun. Mereka tidur berhimpit-himpitan di kasur yang terhampar di atas lantai. Sebagian bangunannya bahkan ada yang sudah bocor.
"Awalnya pemerintah kota menjanjikan bahwa kami disini cuma 3-6 bulan. Tapi nyatanya sudah tahunan kami disini. Mereka telah membohongi kami," keluh Ludidi, juga korban kena gusur.
"Ini bukan rumah. Kami dipaksa pindah kemari. Tapi gimana lagi, kami tak punya pilihan lain. Entah kapan bisa pindah ke rumah yang dijanjikan,” keluh Washeila. Smith (57).
Gelandangan merasa nyaman
Namun ada juga yang merasa nyaman hidup di Blikkiesdorp. James Adam dan Rina Kiwido misalnya, yang masuk barak September 2009 silam. Bagi mereka bisa tinggal di Blikkiesdorp adalah berkah. Betapa tidak, dulunya Adam dan Kiwido homeless alias gelandangan yang tinggal di gubuk-gubuk kumuh dekat stadion Green Point. Warga seperti Adam ini sangat dominan di Kampung Kaleng. Makanya mereka maklum saja ketika gubuk derita mereka digusur pas Piala Dunia.
Sebagian penghuni malah ada yang merenovasi sendiri barak mereka agar layak huni. Xolani Bokolo, misalnya, menyulap gubuknya hingga terkesan “mewah”. Dinding bagian dalam telah dicat. Lalu antara kamar tidur dengan ruang keluarga diberi sekat pembatas. Untuk menghindari masuknya debu lewat seng, Bokolo menempelkan kertas kardus di sisi bagian dalam. Sebelumnya, dia terkadang sulit tidur pada malam hari karena terpaan debu yang sangat tebal.
Bagaimana dengan kebutuhan harian? Beberapa warga memanfaatkan ruang kecil di barak untuk berdagang. Warung kopi juga ada. Setidaknya ada sekitar enam kios disitu. “Semua kebutuhan tersedia. Dari roti, gula, minyak goreng, susu bubuk, dan kebutuhan lainnya. Harganya terjangkau. Dari 1 rand (sekitar 1200 rupiah) hingga 10 rand,” sebut Janine Schoeman, seorang ibu rumah tangga yang mengaku sehari-hari dia belanja tidak sampai 10 rand.
"Sebagian besar warga ingin pindah. Tempat ini sudah penuh dengan kriminalitas, dari perampok hingga pengguna narkoba. Kita tidak ingin anak-anak tumbuh di lingkungan seperti itu," keluh Ashraf Cassiem, salah seorang aktifis Kelompok Anti-Penggusuran seperti dikutip Daily Voice menyikapi keluhan warga Kampung Kaleng.
Begitulah, kini muncul nada miring yang menuduh Blikkiesdorp sebagai tempat untuk penampungan gelandangan dan pengemis di pusat kota agar pemerintah dapat menyembunyikan wajah kemiskinan Afsel dari mata turis asing. Terutama selama Piala Dunia berlangsung. Nasib..nasib…
Friday, July 02, 2010
Wednesday, June 30, 2010
Inggris marah, Uruguay minta maaf
Drama Bloemfontein yang menghadirkan kontroversi kekalahan Inggris dari Jerman masih terus bergulir. Kali ini yang terlibat adalah media. Dikabarkan oleh harian Afsel, Cape Times, bahwa banyak surat kabar di Inggris yang terbit Senin (28/6) kemarin meluncurkan serangan pedas atas kinerja buruk tim mereka ketika melawan Jerman. Media itu juga meminta Fabio Capello untuk pergi dengan menyebut istilah FabiGo (dari singkatan Fabio Go atau Fabio silahkan pergi)
"Kita telah mengenalkan sepakbola kepada dunia. Namun setelah tahun 1966, sejak itu dunia tak mau mengembalikannya lagi (kepada kita)," tulis harian Dailymail yang terbit di London, mengacu kepada tahun dimana Inggris pernah memenangkan Piala Dunia.
"Menyedihkan sekali. Kemarin kita gagal lagi oleh musuh lama, Jerman. Fabio Capello dan timnya telah bikin malu bangsa. Ini adalah salah satu penghinaan paling perih dalam sejarah olahraga kita," keluh Daily Mail.
Tak kalah sengit, media-media Inggris juga menyemprot wasit yang memimpin pertandingan. Mereka mengecam keputusan wasit Uruguay, Jorge Larrionda dan asistennya Mauricio Espinosa yang tak mensahkan gol Lampard. "Barangkali, cuma wasit dan asistennya saja yang tidak melihat bola itu telah melewati garis gawang," komentar Daily Mail lagi.
Lain lagi fans Inggris, yang telah mengeluarkan dana yang tak sedikit untuk berangkat ke Afrika Selatan, beranggapan bahwa andai saja wasit Larrionda mensahkan gol itu maka jalannya pertandingan akan lain. Begitupun, seperti diakui Dailymail, diluar keputusan kontroversial itu Inggris sendiri memang bermain begitu buruk.
Media Uruguay minta maaf
Sementara itu, merasa nama Uruguay terbawa-bawa dalam kasus itu, beberapa surat kabar terkemuka Uruguay spontan merespon media Inggris. El Pais, misalnya, merespon keluhan orang-orang Inggris dengan pernyataan maaf yang ditulis di headline-nya.
”Atas nama sepakbola: Maafkan kami,” tulis koran beroplah besar itu dengan huruf besar bercetak tebal. Bahkan El Pais yang terbit di Montevideo –ibukota Uruguay- itu juga meminta pejabat sepakbola di negerinya untuk menyampaikan hal yang sama kepada sejawat mereka FA (PSSI-nya Inggris) yang sedang dilanda kesedihan.
Diego Perez, kolumnis di El Pais, berujar: "Kesalahan kemarin itu sangat parah. Ini dapat didefinisikan sebagai sebuah kesalahan besar yang dibuat oleh trio wasit dipimpin oleh Jorge Larrionda. Ini akan jadi sejarah hitam Piala Dunia. Dapat dipastikan mereka bertiga akan bersegera meninggalkan Afrika Selatan. Tapi masalahnya, Uruguay termasuk tim yang masih berjuang di perempat final.”
Sementara itu La Republica, harian berpengaruh Uruguay lainnya, menceritakan bahwa Direktur Atletico Penarol –salah satu klub ternama Uruguay- Sergio Perrone sedang menyelidiki seluruh video pertandingan Penarol yang pernah dipimpin Jorge Larrionda dalam 10 tahun terakhir, terutama saat Penarol melawan rival tradisional mereka. Selanjutnya, video plus rangkuman kerja Larrionda dalam memimpin liga Uruguay bakal dikirimkan ke persatuan sepakbola Uruguay AUF, federasi sepakbola Amerika Latin CONMEBOL dan juga FIFA.
“Kami ingin cek semua keanehan dalam pertandingan yang merugikan kami, yang dipimpin oleh Jorge Larrionda. Sebenarnya, hal ini telah kami rencanakan sejak sebulan yang lalu, jauh sebelum datangnya kontroversi pertandingan Jerman dan Inggris," tukas Sergio Perrone seperti dikutip La Republica.
Sementara itu mantan manajer Lampard di Chelsea, Jose Mourinho, yang kini bertugas di Real Madrid, mengatakan teknologi garis gawang harus segera diperkenalkan untuk mencegah timbulnya perselisihan lebih lanjut. "Aku tak mengerti, mengapa sepak bola termasuk satu dari sedikit cabang olahraga dimana teknologi masih tabu untuk dipakai," sebut pelatih yang mendapat julukan the special one itu penuh rasa heran.
Drama Bloemfontein yang menghadirkan kontroversi kekalahan Inggris dari Jerman masih terus bergulir. Kali ini yang terlibat adalah media. Dikabarkan oleh harian Afsel, Cape Times, bahwa banyak surat kabar di Inggris yang terbit Senin (28/6) kemarin meluncurkan serangan pedas atas kinerja buruk tim mereka ketika melawan Jerman. Media itu juga meminta Fabio Capello untuk pergi dengan menyebut istilah FabiGo (dari singkatan Fabio Go atau Fabio silahkan pergi)
"Kita telah mengenalkan sepakbola kepada dunia. Namun setelah tahun 1966, sejak itu dunia tak mau mengembalikannya lagi (kepada kita)," tulis harian Dailymail yang terbit di London, mengacu kepada tahun dimana Inggris pernah memenangkan Piala Dunia.
"Menyedihkan sekali. Kemarin kita gagal lagi oleh musuh lama, Jerman. Fabio Capello dan timnya telah bikin malu bangsa. Ini adalah salah satu penghinaan paling perih dalam sejarah olahraga kita," keluh Daily Mail.
Tak kalah sengit, media-media Inggris juga menyemprot wasit yang memimpin pertandingan. Mereka mengecam keputusan wasit Uruguay, Jorge Larrionda dan asistennya Mauricio Espinosa yang tak mensahkan gol Lampard. "Barangkali, cuma wasit dan asistennya saja yang tidak melihat bola itu telah melewati garis gawang," komentar Daily Mail lagi.
Lain lagi fans Inggris, yang telah mengeluarkan dana yang tak sedikit untuk berangkat ke Afrika Selatan, beranggapan bahwa andai saja wasit Larrionda mensahkan gol itu maka jalannya pertandingan akan lain. Begitupun, seperti diakui Dailymail, diluar keputusan kontroversial itu Inggris sendiri memang bermain begitu buruk.
Media Uruguay minta maaf
Sementara itu, merasa nama Uruguay terbawa-bawa dalam kasus itu, beberapa surat kabar terkemuka Uruguay spontan merespon media Inggris. El Pais, misalnya, merespon keluhan orang-orang Inggris dengan pernyataan maaf yang ditulis di headline-nya.
”Atas nama sepakbola: Maafkan kami,” tulis koran beroplah besar itu dengan huruf besar bercetak tebal. Bahkan El Pais yang terbit di Montevideo –ibukota Uruguay- itu juga meminta pejabat sepakbola di negerinya untuk menyampaikan hal yang sama kepada sejawat mereka FA (PSSI-nya Inggris) yang sedang dilanda kesedihan.
Diego Perez, kolumnis di El Pais, berujar: "Kesalahan kemarin itu sangat parah. Ini dapat didefinisikan sebagai sebuah kesalahan besar yang dibuat oleh trio wasit dipimpin oleh Jorge Larrionda. Ini akan jadi sejarah hitam Piala Dunia. Dapat dipastikan mereka bertiga akan bersegera meninggalkan Afrika Selatan. Tapi masalahnya, Uruguay termasuk tim yang masih berjuang di perempat final.”
Sementara itu La Republica, harian berpengaruh Uruguay lainnya, menceritakan bahwa Direktur Atletico Penarol –salah satu klub ternama Uruguay- Sergio Perrone sedang menyelidiki seluruh video pertandingan Penarol yang pernah dipimpin Jorge Larrionda dalam 10 tahun terakhir, terutama saat Penarol melawan rival tradisional mereka. Selanjutnya, video plus rangkuman kerja Larrionda dalam memimpin liga Uruguay bakal dikirimkan ke persatuan sepakbola Uruguay AUF, federasi sepakbola Amerika Latin CONMEBOL dan juga FIFA.
“Kami ingin cek semua keanehan dalam pertandingan yang merugikan kami, yang dipimpin oleh Jorge Larrionda. Sebenarnya, hal ini telah kami rencanakan sejak sebulan yang lalu, jauh sebelum datangnya kontroversi pertandingan Jerman dan Inggris," tukas Sergio Perrone seperti dikutip La Republica.
Sementara itu mantan manajer Lampard di Chelsea, Jose Mourinho, yang kini bertugas di Real Madrid, mengatakan teknologi garis gawang harus segera diperkenalkan untuk mencegah timbulnya perselisihan lebih lanjut. "Aku tak mengerti, mengapa sepak bola termasuk satu dari sedikit cabang olahraga dimana teknologi masih tabu untuk dipakai," sebut pelatih yang mendapat julukan the special one itu penuh rasa heran.
Monday, June 28, 2010
Pedagang Zimbabwe jejali Johannesburg
“Hei Jepang, kemari. Ini ada barang bagus buat kamu! Jepang pasti juara!,” teriak Jerry Madziwana ke arah gerombolan turis Jepang berseragam biru yang sedang melintasi kawasan Parkhurst, Johannesburg. Jerry berteriak sembari melambai-lambaikan syal timnas Jepang. Tak ketinggalan terompet vuvuzela juga disodorkannya. Mengenakan pakaian serba hijau dengan senyum yang tak pernah lekang dari bibirnya, Jerry tiada henti memuji-muji kehebatan tim Jepang. Itu memang strategi dagangnya.
Fans Jepang itu tersenyum seraya mendekati Jerry. Dua lembar syal dan beberapa asesoris bercorak timnas Jepang mereka beli. “Dagang disini prospeknya bagus, lumayan lakunya. Sebab disini banyak restoran, toko, bar, cafe dan warung kopi. Fans bola pada ngumpul disini,” kata Jerry sumringah. Jerry sebenarnya bukan warga Afsel. Dia asli dari Zimbabwe, tetangga terdekat Afsel. Jerry hadir disana khusus untuk mengais rezeki selama penyelenggaraan Piala Dunia.
Menarik dicermati, selama Piala Dunia kota-kota utama di Afsel kini dijejali banyak pedagang asing, terutama negara-negara Afrika yang bertetanggaan dengan Afsel. Para pedagang kaki lima kebanyakan berasal dari Zimbabwe, seperti Jerry.
“Tahun 2004, saat Afsel diumumkan sebagai tuan rumah Piala Dunia 2010, saya bilang sama istri bahwa ini kesempatan emas. Saya musti tinggalkan Harare –ibukota Zimbabwe- sesegera mungkin dan bermukim di Johannesburg untuk sementara waktu,’” ujar Jerry mengenang. “Peluang seperti ini sayang untuk dilewati,” imbuhnya.
Tahun 2005 Jerry pun pindah ke Johannesburg. Di sana dia memborong aneka barang grosiran yang berbau Piala Dunia. “Saya belanja syal, kaos tim, terompet, peluit, dan pernak pernik lainnya. Pokoknya semua yang ada kaitan dengan Piala Dunia,” ujar pria yang mendukung timnas Ghana sembari memegang replika tropi Piala Dunia warna kuning keemasan.
“Tahun-tahun awal berdagang sepi sekali. Saya mulai putus asa dan menyalahkan diri sendiri kenapa dulu datang kemari. Karena ingat keluarga di kampung, saya coba bertahan. Nah setelah beberapa bulan berjalan, perlahan turis mulai ramai datang ke Afsel. Dagangan mulai laku. Semangat saya tumbuh lagi,” kata Jerry mengingat masa-masa sulit di awal usahanya. Sejak itu teman-temannya pun mulai berdatangan dari Zimbabwe.
Selama turnamen berlangsung, Jerry mengaku barang yang paling laku adalah bendera nasional, diikuti syal dan kaos. “Sekarang kan udah masuk musim dingin disini. Jadi banyak fans yang cari perangkat yang bisa menghangatkan tubuh,” tukas Jerry menjawab pertanyaan barang yang paling dicari fans.
Jerry mengaku sekarang ini sangat menikmati hari-harinya di Afsel. “Asyik disini, selain dagang, kita bisa berinteraksi dengan supporter bola dari macam-macam negara. Dari Kanada, Amerika, Belanda, Jerman dan lainnya. Wah macam-macam tingkah polahnya,” kata dia.
Temannya Walter Kanyegoni, juga asal Zimbabwe, membuka lapak di kawasan Parktown. Seperti Jerry, Walter juga datang khusus untuk mengais rejeki selama Piala Dunia.
“Ha ha Zimbabwe memang tak lolos kualifikasi Piala Dunia dan mungkin tak akan pernah,” kata Walter Kanyegoni terbahak ditanya timnas negaranya. Walter merasa gembira dagangannya laris manis selama Piala Dunia. Beda dengan Jerry, selain menjual pernak pernik Piala Dunia Walter juga banyak menawarkan barang-barang kerajinan tangan khas Afrika.
Di sudut lain berdiri Blessing Mdunge. Bibirnya tak henti berteriak menawarkan dagangan. Hingga gigi palsunya yang berwarna keemasan berkilau kena pantulan sinar matahari. Wig bercat warna-warni nangkring di kepalanya. Sekujur tubuhnya diselimuti dengan bendera berbagai negara. “Ramai sekali disini. Ada yang dari Brazil, Italia, Jerman, Belanda. Wah kalau tim-tim besar terus melaju, bakal laris manis,” sebut Blessing bahagia.
Uang keamanan
Agar usaha mereka aman dan lancar, para pedagang kaki lima asal Zimbabwe itu rupanya membayar semacam “jasa keamanan” kepada warga tempatan. Yang buka lapak di kawasan Parkhurst misalnya, mereka nyetor ke Lizo Lukela, seorang juru parkir yang menguasai kawasan situ.
“Ini senang sama senang aja. Saling membantu lah. Bukan semata-mata karena uang. Pedagang Zimbabwe ini saudara kami juga, sesama bangsa Afrika. Mereka pantas mendapatkan keuntungan dari Piala Dunia yang berlangsung di tanah Afrika. Persis seperti saya juga, jadi juru parkir. Mencari rezeki untuk keluarga kami di kampung,” kilah Lizo. Lizo sendiri bukan asli Johannesburg. Dia juga perantau di sana. “Saya dari Queenstown, kota kecil sebelah timur Cape Town. Disini ya selama Piala Dunia aja,” ujar Lizo.
“Di kampung tak ada atmosfir Piala Dunia. Makanya saya kemari. Enaknya lagi, disini bisa dapat kenalan baru, fans bola dari berbagai macam suku bangsa,” imbuh Lizo sambil meniup pluit memandu pengemudi mobil yang masuk area parkir. Tim mana yang mereka dukung?
“Kami awalnya mendukung Afsel. Sayang mereka tersisih. Kini saya dan kawan-kawan mendukung timnas Ghana. Permainan mereka sangat impresif. Pasti semua orang Afrika kepingin tropi Piala Dunia bertahan di Afrika,” ujar Jerry. Tak seperti rekan-rekannya yang lain, Jerry sudah memikirkan apa dan kemana setelah Piala Dunia berakhir, saatmana situasi di Afsel kembali seperti sediakala. Uang hasil jerih payah selama di Johannesburg pun tak lupa disisihkan untuk tabungan.
“Rencananya saya mau buka usaha baru. Belum tahu lagi bentuknya. Saya yakin, selalu saja ada peluang baru. Asal mau berpikir dan berusaha,” tukasnya optimis. Sesaat, dahinya mengkerut seperti mengingat sesuatu. “Oya, saya dengar Afrika Selatan mencalonkan diri jadi tuan rumah Olimpiade 2020. Nah itu kan peluang juga,” sahut Jerry dengan mimik gembira. Iya mas, tapi itu kan masih lama, sepuluh tahun lagi ..he he.
“Hei Jepang, kemari. Ini ada barang bagus buat kamu! Jepang pasti juara!,” teriak Jerry Madziwana ke arah gerombolan turis Jepang berseragam biru yang sedang melintasi kawasan Parkhurst, Johannesburg. Jerry berteriak sembari melambai-lambaikan syal timnas Jepang. Tak ketinggalan terompet vuvuzela juga disodorkannya. Mengenakan pakaian serba hijau dengan senyum yang tak pernah lekang dari bibirnya, Jerry tiada henti memuji-muji kehebatan tim Jepang. Itu memang strategi dagangnya.
Fans Jepang itu tersenyum seraya mendekati Jerry. Dua lembar syal dan beberapa asesoris bercorak timnas Jepang mereka beli. “Dagang disini prospeknya bagus, lumayan lakunya. Sebab disini banyak restoran, toko, bar, cafe dan warung kopi. Fans bola pada ngumpul disini,” kata Jerry sumringah. Jerry sebenarnya bukan warga Afsel. Dia asli dari Zimbabwe, tetangga terdekat Afsel. Jerry hadir disana khusus untuk mengais rezeki selama penyelenggaraan Piala Dunia.
Menarik dicermati, selama Piala Dunia kota-kota utama di Afsel kini dijejali banyak pedagang asing, terutama negara-negara Afrika yang bertetanggaan dengan Afsel. Para pedagang kaki lima kebanyakan berasal dari Zimbabwe, seperti Jerry.
“Tahun 2004, saat Afsel diumumkan sebagai tuan rumah Piala Dunia 2010, saya bilang sama istri bahwa ini kesempatan emas. Saya musti tinggalkan Harare –ibukota Zimbabwe- sesegera mungkin dan bermukim di Johannesburg untuk sementara waktu,’” ujar Jerry mengenang. “Peluang seperti ini sayang untuk dilewati,” imbuhnya.
Tahun 2005 Jerry pun pindah ke Johannesburg. Di sana dia memborong aneka barang grosiran yang berbau Piala Dunia. “Saya belanja syal, kaos tim, terompet, peluit, dan pernak pernik lainnya. Pokoknya semua yang ada kaitan dengan Piala Dunia,” ujar pria yang mendukung timnas Ghana sembari memegang replika tropi Piala Dunia warna kuning keemasan.
“Tahun-tahun awal berdagang sepi sekali. Saya mulai putus asa dan menyalahkan diri sendiri kenapa dulu datang kemari. Karena ingat keluarga di kampung, saya coba bertahan. Nah setelah beberapa bulan berjalan, perlahan turis mulai ramai datang ke Afsel. Dagangan mulai laku. Semangat saya tumbuh lagi,” kata Jerry mengingat masa-masa sulit di awal usahanya. Sejak itu teman-temannya pun mulai berdatangan dari Zimbabwe.
Selama turnamen berlangsung, Jerry mengaku barang yang paling laku adalah bendera nasional, diikuti syal dan kaos. “Sekarang kan udah masuk musim dingin disini. Jadi banyak fans yang cari perangkat yang bisa menghangatkan tubuh,” tukas Jerry menjawab pertanyaan barang yang paling dicari fans.
Jerry mengaku sekarang ini sangat menikmati hari-harinya di Afsel. “Asyik disini, selain dagang, kita bisa berinteraksi dengan supporter bola dari macam-macam negara. Dari Kanada, Amerika, Belanda, Jerman dan lainnya. Wah macam-macam tingkah polahnya,” kata dia.
Temannya Walter Kanyegoni, juga asal Zimbabwe, membuka lapak di kawasan Parktown. Seperti Jerry, Walter juga datang khusus untuk mengais rejeki selama Piala Dunia.
“Ha ha Zimbabwe memang tak lolos kualifikasi Piala Dunia dan mungkin tak akan pernah,” kata Walter Kanyegoni terbahak ditanya timnas negaranya. Walter merasa gembira dagangannya laris manis selama Piala Dunia. Beda dengan Jerry, selain menjual pernak pernik Piala Dunia Walter juga banyak menawarkan barang-barang kerajinan tangan khas Afrika.
Di sudut lain berdiri Blessing Mdunge. Bibirnya tak henti berteriak menawarkan dagangan. Hingga gigi palsunya yang berwarna keemasan berkilau kena pantulan sinar matahari. Wig bercat warna-warni nangkring di kepalanya. Sekujur tubuhnya diselimuti dengan bendera berbagai negara. “Ramai sekali disini. Ada yang dari Brazil, Italia, Jerman, Belanda. Wah kalau tim-tim besar terus melaju, bakal laris manis,” sebut Blessing bahagia.
Uang keamanan
Agar usaha mereka aman dan lancar, para pedagang kaki lima asal Zimbabwe itu rupanya membayar semacam “jasa keamanan” kepada warga tempatan. Yang buka lapak di kawasan Parkhurst misalnya, mereka nyetor ke Lizo Lukela, seorang juru parkir yang menguasai kawasan situ.
“Ini senang sama senang aja. Saling membantu lah. Bukan semata-mata karena uang. Pedagang Zimbabwe ini saudara kami juga, sesama bangsa Afrika. Mereka pantas mendapatkan keuntungan dari Piala Dunia yang berlangsung di tanah Afrika. Persis seperti saya juga, jadi juru parkir. Mencari rezeki untuk keluarga kami di kampung,” kilah Lizo. Lizo sendiri bukan asli Johannesburg. Dia juga perantau di sana. “Saya dari Queenstown, kota kecil sebelah timur Cape Town. Disini ya selama Piala Dunia aja,” ujar Lizo.
“Di kampung tak ada atmosfir Piala Dunia. Makanya saya kemari. Enaknya lagi, disini bisa dapat kenalan baru, fans bola dari berbagai macam suku bangsa,” imbuh Lizo sambil meniup pluit memandu pengemudi mobil yang masuk area parkir. Tim mana yang mereka dukung?
“Kami awalnya mendukung Afsel. Sayang mereka tersisih. Kini saya dan kawan-kawan mendukung timnas Ghana. Permainan mereka sangat impresif. Pasti semua orang Afrika kepingin tropi Piala Dunia bertahan di Afrika,” ujar Jerry. Tak seperti rekan-rekannya yang lain, Jerry sudah memikirkan apa dan kemana setelah Piala Dunia berakhir, saatmana situasi di Afsel kembali seperti sediakala. Uang hasil jerih payah selama di Johannesburg pun tak lupa disisihkan untuk tabungan.
“Rencananya saya mau buka usaha baru. Belum tahu lagi bentuknya. Saya yakin, selalu saja ada peluang baru. Asal mau berpikir dan berusaha,” tukasnya optimis. Sesaat, dahinya mengkerut seperti mengingat sesuatu. “Oya, saya dengar Afrika Selatan mencalonkan diri jadi tuan rumah Olimpiade 2020. Nah itu kan peluang juga,” sahut Jerry dengan mimik gembira. Iya mas, tapi itu kan masih lama, sepuluh tahun lagi ..he he.
Subscribe to:
Comments (Atom)