Idul Fitri di Eropa:
Tari Saman turut meriahkan suasana lebaran
PENGANTAR. Idul Fitri atau lebaran sejatinya adalah hari berkumpul dengan sanak keluarga, karib kerabat dan tetangga. Saling memaafkan, mengucap syukur kepada Allah dengan hadiah di hari kemenangan nan fitri. Namun banyak pula yang kurang beruntung, terutama yang berada jauh diperantauan. Bagaimana mereka merayakan Idul Fitri? Berikut kesan-kesan Idul Fitri beberapa warga Aceh yang tinggal di Eropa yang dikirim via e-mail dan dirangkum oleh Kontributor Kontras, Zulkarnain Jalil.
Jerman
“Acara Idul Fitri di Berlin berlangsung meriah pada tanggal 1 Oktober di aula KBRI dan dihadiri lebih kurang 300 jamaah. Shalat Ied dipimpin oleh Ust. Saiful Bahri yang diundang khusus dari Mesir untuk mengisi Ramadhan dan Idul Fitri di Berlin, cerita Muzli, mahasiswa asal Aceh yang tinggal di
”Acara selanjutnya yang paling dinanti-nantikan tentu saja makan bersama. Apalagi buat mahasiswa yang jauh dari keluarga he he . Berbagai hidangan istimewa tersedia, dari gule kambing, sate hingga singkong rebus,” sebut Muzli.
Yang sangat berkesan, masih menurut Muzli, pada 3 Oktober 2008 bertepatan dengan lebaran ke-3, ada kegiatan tahunan yakni "Tag der offenen Moscheen" atau Hari Mesjid. Pada hari tersebut semua mesjid di Jerman dibuka untuk kalangan nonmuslim. Program yang pelopori oleh Pusat Islam di Jerman (ZMD) ini telah berlangsung beberapa tahun dan terbilang sukses menarik pengunjung dari orang-orang non muslim di Jerman untuk mengunjungi masjid-masjid dan mengenal Islam dan kaum muslimin lebih jauh. Juga untuk menunjukkan semangat kaum muslimin yang tinggal di Jerman sebagai bagian dari masyarakat Jerman.
Sementara itu di
”Buat kami terasa istimewa, sebab kali ini giliran adik saya yang tinggal di Belanda datang bersama keluarganya untuk berlebaran bersama-sama. Dan, paling istimewa lagi, kali ini ibunda tercinta datang dari Aceh berlebaran bersama. Naah, tentu saja menu lebaran disamakan dengan menu lebaran keluarga kami di Aceh. Lontong, timphan, pulut. Pokoknya ndak kalah deh dengan yang di Aceh he he,” imbuh ibu dua anak itu lagi.
Lebaran di Muenchen saban tahun memang selalu meriah. “Tak hanya acara silaturrahim, tapi ada hiburan juga seperti acara menyanyi, tari-tarian, pembacaan puisi, dan beberapa hiburan lainnya. Istimewanya sejak ada TPA di Muenchen, kegiatan lebaran tahun ini diisi oleh santri TPA plus guru-guru TPA dan pengajian Muenchen,” kata Eko Faridianto, Direktur TPA
“Kali ini ada 2 persembahan khas dari Aceh yaitu Saman anak-anak oleh santri dan Saman dewasa oleh guru-guru TPA plus para mahasiswa,” kata Susi yang bertindak sebagai pelatih sekaligus syech Saman.
“Alhamdulillah, sambutannya yang sangat meriah dan mendapat applaus yang luar biasa dan para penonton sampai ada yang teriak-teriak Zugabe ... Zugabe... alias tambah lagi tamboh lagi he he.” sebut Susi sumringah.
“Yang bikin saya terharu, ada seorang ibu datang menghampiri saya dan langsung memeluk serta mencium saya. Rupanya ibu itu juga berasal dari Aceh. Si ibu mengaku senang dan terharu karena mendapat siraman suasana Aceh,” kenang Susi.
Pada acara game, para penonton tak mampu menahan tawanya, dimana setiap anak diminta untuk menggambar wajah ayahnya sesuka hati mereka. “Nah lucunya anak-anak menggambar wajah ayahnya dengan tema yang berbeda-beda.
”Dan diakhir acara anak-anak diberi bingkisan lebaran. Ini sudah berlangsung saban tahun. Initiatif pemberian bingkisan buat anak-anak ini datang dari ibu Dwi Saad, yang walaupun dalam keadaan hamil tetapi bisa menggerakkan ibu-ibu lainnya untuk aktif berpartisipasi. Ibu Dwi ini dibantu suaminnya yang asal
Belanda
Umat Islam di Belanda merayakan Idul Fitri mayoritas pada tanggal 30 September. “Di tempat saya tinggal,
Di Enschede dan sekitanya ribuan ummat muslim melaksanakan shalat Idul Fitri 1429H di mesjid-mesjid Turki dan mesjid Maroko. Mesjid-mesjid tersebut mencerminkan mayoritas ummat muslim yang tinggal di Enschede yang berasal dari Turki dan Maroko,” kata Nasrullah Zaini, mahasiswa Aceh yang tinggal di
Dikatakannya, umumnya para pelajar Indonesia yang sedang menuntut ilmu disini, demikian juga warga Indonesia yang menetap di Enschede atau di daerah perbatasan Jerman seperti Gronau dan Ahaus melaksanakan shalat Idul Fitri di mesjid Maroko. Karena mesjid tersebut merupakan mesjid terbesar di Enschede yang dapat menampung seribuan lebih jamaah.
Di Mesjid Maroko itu, sebut Nasrullah, yang menjadi khatib dan imam shalat Id adalah Prof. Dr. Ahmad Id, guru besar ilmu syariah dan hafiz dari Universitas Al-Azhar, Mesir, yang diundang khusus oleh dewan mesjid Maroko untuk menjadi imam shalat fardhu dan tarawih serta penceramah selama bulan Ramadhan.
“Ribuan jamaah yang berasal dari berbagai negara dan muslim Belanda asli sudah memenuhi mesjid sejak pukul 08:00 pagi kendati shalat baru dimulai pukul 9. Bahkan tidak sedikit dari para jamaah tidak kebagian tempat di ruang utama mesjid. Sehingga ruang seminar dan kelas belajar juga digunakan sebagai tempat shalat. Seperti di ketahui keadaan di luar mesjid sudah mulai dingin dan gerimis dengan masuknya musim gugur dimana suhu terendahnya mencapai 3oC,” imbuh pria asal Sawang itu lagi.
Menurut pantauan Nasrullah, suasana hari raya Idul Fitri di Enschede dan sekitarnya tidak jauh berbeda seperti hari-hari biasa karena tidak ada hari liburnya bagi pelajar dan pekerja serta gema takbirpun tidak terdengar dimana-mana. Setelah khatib selesai menyampaikan khutbahnya, seterusnya para jamaah beramah tamah, bermaaf-maafan sembari mencicipi minuman dan makanan yang disediakan oleh pengurus mesjid. Karena tidak ada libur atau tanggal merah, mahasiswa kembali ke kampus dan pekerja masuk kantor.
Di Belanda, tak hanya idul Fitri yang meriah, Ramadhan pun cukup semarak. Mesjid selalu ramai. Warga Belanda sudah mahfum dengan Ramadhan karena intensitas hubungan mereka dengan kaum muslim yang cukup besar. Mungkin hanya kelompok partai ekstrim saja yang tidak suka dengan Islam.
Denmark
Mukarram, seorang warga Aceh yang tinggal di Denmark sempat diwawancarai Radio Netherland seputar kesannya berlebaran di negeri Skandinavia itu. “Terasa sekali, apalagi orang Aceh tinggalnya berjauhan. Di kota saya, yang berjarak tiga jam perjalanan dari ibukota denmarik Kopenhagen, hanya ada beberapa orang Aceh. Untuk bisa bertemu dengan orang Aceh lain, saya harus naik mobil sekitar satu jam perjalanan. Di sini, di Denmark kalau kita datang ke rumah teman-teman terasa bagaikan kita sudah berkumpul dengan sanak saudara di sana,” terang Mukarram yang merayakan lebaran untuk ketiga kalinya di Denmark.
Dia juga mengungkapkan masalah makanan awalnya jadi sebuah kendala ketika mula pertama datang ke Denmark. “Kini tak masalah lagi. Jika tidak ada di sini, misalnya di toko-toko Asia, kita pesan khusus dari Aceh. Tapi secara umum kita dengan mudah bisa peroleh kebutuhan harian di toko Asia,” tukas pria yang mendapat suaka sejak Februari 2005 itu lagi.
Inggris
Di Inggris, seperti diliput Islamonline, nuansa multikultur justru sangat terasa. Di London Timur misalnya, di tempat berdiamnya komunitas
Masih di Londin utara, kelompok muslim Turki yang ada disana pun turut memeriahkan lebaran dengan masakan tradisional khas idul fitri mereka yakni Hazer Baba yang sangat terkenal itu. Inggris merupakan rumah bagi dua juta muslim multi etnis berbagai suku bangsa, kebanyakan berlatar Pakistan, Bangladesh dan India.
Begitulah sekelumit kisah dari saudara-saudara kita yang terpaksa melewati semaraknya Idul Fitri di negeri orang. Adapun Ramadhan, bulan mulia itu telah pergi dan meninggalkan kesedihan yang sangat mendalam bagi hamba-hamba-Nya yang merindukan kedatangannya dan mengisi hari dan malamnya dengan penuh ikhlas dan khusyuk.