Situs FIFAworldcup Terbaik Sepanjang Sejarah
Piala Dunia 2006 tidak hanya sukses di atas rumput, namun juga di di dunia maya. Dilaporkan Presseportal, selama Piala Dunia 2006 berlangsung situs FIFAworldcup.com diakses lebih dari 4,2 milyar kali dan videonya yang berisi gol-gol terkini selama turnamen ditonton lebih dari 138 juta kali. Prestasi lainnya, sekitar 73 juta kali website itu juga diakses penggemar sepakbola melalui telepon seluler. Sebagai perbandingan, Piala Dunia 2002 di Korea/Jepang situs sepakbola dunia itu “hanya” diakses sebanyak 2 milyar kali. Dengan demikian FIFAworldcup.com -situs resmi Piala Dunia 2006- terpilih sebagai situs olahraga terbaik sepanjang sejarah
Situs milik FIFA tersebut dikelola oleh perusahaanYahoo! yang merupakan salah satu sponsor utama piala dunia. September 2001 Yahoo! menandatangani kontrak kerjasama jangka panjangnya dengan FIFA. Dalam kerangka perjanjian itu, Yahoo! bertindak sebagai pengelola portal resmi penyelenggaraan piala dunia. Hasil kerja pertama mereka adalah Piala dunia 2002. Masih berbasis Yahoo!, situs McDonald’s/FIFA juga menangguk untung, dimana sekitar 875.000 pengunjung mendaftar di layanan Sport Game-nya perusahaan burger tersebut.
Lebih dari itu, FIFAworldcup dirancang khusus sehingga dapat diakses dalam 9 bahasa, berisi info 32 kesebelasan peserta meliputi berita terkini, data dan profil pemain, demikian juga data seputar negara peserta. Lalu, info negara penyelenggara seperti kota, stadion, tiket, dll. Setiap pertandingan juga bisa disaksikan secara live berikut dengan komentar, statistik, dan gambar-gambar sepanjang pertandingan 90 menit.
Yahoo! awalnya hanyalah sebuah usaha kecil menengah yang dirintis oleh dua orang anak muda, David Filo dan Jerry Yang pada Januari 1994. Keduanya merupakan mahasiswa Universitas Stanford, Amerika. Hanya setahun, tepatnya 2 Maret 1995 Yahoo! menjadi perusahaan yang berbadan hukum. Kini situs perusahaan yang bermarkas di Sunnyvalle, California itu termasuk katagori portal yang paling banyak dikunjungi terutama para pengguna e-mail.
Zulkarnain Jalil, Jerman, Serambinews 10/08/06
Wednesday, August 09, 2006
Monday, August 07, 2006
20 Mahasiswa Aceh Lanjutkan Studi di Jerman
20 mahasiswa asal Aceh yang akan melanjutkan studi melalui program beasiswa Dinas Pertukaran Akademis Jerman (DAAD) tiba di Goettingen Jumat pekan lalu (4/8). Dibiayai oleh Kementerian Luar Negeri Jerman, sebagian besar mahasiswa itu akan melanjutkan program masternya di Goettingen, umumnya di bidang Pertanian dan Kehutanan. Selain itu tiga orang akan menekuni ilmu kedokteran molekuler dan juga bidang matematika. Khusus untuk ilmu kelautan dan perikanan akan ditempatkan di Universitas Bremen.
Sebelumnya di IPB Bogor, para mahasiswa tersebut telah mendapatkan pelatihan meliputi penguasaan bahasa Inggris serta beberapa pengetahuan yang berhubungan dengan bidang studi mereka sejak Januari 2006 silam.
Menurut keterangan Ingrid Howe dari Centre for Tropical-Subtropical Agriculture and Forestry (CeTSAF) Universitas Goettingen, pada tanggal 21 Agustus nanti akan ada penyambutan resmi. Acara itu akan dihadiri antara lain Rektor Universitas Goettingen, wakil Menteri Pendidikan dan Kebudayaan negara bagian Niedersachsen, DAAD, dan Atase Pendidikan Kedutaan Besar Republik Indonesia di Jerman.
Pada saat yang bersamaan juga akan dilakukan penandatanganan naskah kerjasama antara tiga universitas, yakni Universitas Syiah Kuala, IPB Bogor, dan Universitas Goettingen. Masih menurut Howe, Rektor Universitas Syiah Kuala Prof. Dr. Abdi A. Wahab bakal hadir dalam acara tersebut.
Program yang melibatkan tiga universitas itu merupakan bagian dari bantuan DAAD dalam upaya membantu mahasiswa di daerah yang tertimpa bencana tsunami. Bantuan meliputi pemberian beasiswa bagi mahasiswa di NAD dan Sumut yang sedang menempuh studi di Indonesia, hibah riset, kursus singkat, serta beasiswa jangka panjang untuk studi di Jerman. DAAD adalah salah satu organisasi perantara terbesar di dunia dalam bidang pendidikan dan penelitian yang membantu pertukaran akademis antara Jerman dan dunia internasional. Khusus untuk Indonesia, setiap tahunnya mereka menyerahkan 400 beasiswa dalam berbagai bidang.
Kota Goettingen sendiri disebut-sebut sebagai kampung Melayu-nya Jerman. Sebab komunitas pelajar dan mahasiswa Indonesia terbesar di Jerman ada di Universitas Goettingen. Konon lagi dengan kedatangan rombongan besar dari Aceh ini.“Kajeut ta peudong saboh meunasah (Sudah bisa kita dirikan sebuah musalla)“, ujar Abdul Manan, mahasiswa program doktor pada Universitas Muenster yang juga dosen di IAIN Arraniry Banda Aceh bergurau.
Zulkarnain Jalil, dari Jerman, Serambinews 08/08/06
20 mahasiswa asal Aceh yang akan melanjutkan studi melalui program beasiswa Dinas Pertukaran Akademis Jerman (DAAD) tiba di Goettingen Jumat pekan lalu (4/8). Dibiayai oleh Kementerian Luar Negeri Jerman, sebagian besar mahasiswa itu akan melanjutkan program masternya di Goettingen, umumnya di bidang Pertanian dan Kehutanan. Selain itu tiga orang akan menekuni ilmu kedokteran molekuler dan juga bidang matematika. Khusus untuk ilmu kelautan dan perikanan akan ditempatkan di Universitas Bremen.
Sebelumnya di IPB Bogor, para mahasiswa tersebut telah mendapatkan pelatihan meliputi penguasaan bahasa Inggris serta beberapa pengetahuan yang berhubungan dengan bidang studi mereka sejak Januari 2006 silam.
Menurut keterangan Ingrid Howe dari Centre for Tropical-Subtropical Agriculture and Forestry (CeTSAF) Universitas Goettingen, pada tanggal 21 Agustus nanti akan ada penyambutan resmi. Acara itu akan dihadiri antara lain Rektor Universitas Goettingen, wakil Menteri Pendidikan dan Kebudayaan negara bagian Niedersachsen, DAAD, dan Atase Pendidikan Kedutaan Besar Republik Indonesia di Jerman.
Pada saat yang bersamaan juga akan dilakukan penandatanganan naskah kerjasama antara tiga universitas, yakni Universitas Syiah Kuala, IPB Bogor, dan Universitas Goettingen. Masih menurut Howe, Rektor Universitas Syiah Kuala Prof. Dr. Abdi A. Wahab bakal hadir dalam acara tersebut.
Program yang melibatkan tiga universitas itu merupakan bagian dari bantuan DAAD dalam upaya membantu mahasiswa di daerah yang tertimpa bencana tsunami. Bantuan meliputi pemberian beasiswa bagi mahasiswa di NAD dan Sumut yang sedang menempuh studi di Indonesia, hibah riset, kursus singkat, serta beasiswa jangka panjang untuk studi di Jerman. DAAD adalah salah satu organisasi perantara terbesar di dunia dalam bidang pendidikan dan penelitian yang membantu pertukaran akademis antara Jerman dan dunia internasional. Khusus untuk Indonesia, setiap tahunnya mereka menyerahkan 400 beasiswa dalam berbagai bidang.
Kota Goettingen sendiri disebut-sebut sebagai kampung Melayu-nya Jerman. Sebab komunitas pelajar dan mahasiswa Indonesia terbesar di Jerman ada di Universitas Goettingen. Konon lagi dengan kedatangan rombongan besar dari Aceh ini.“Kajeut ta peudong saboh meunasah (Sudah bisa kita dirikan sebuah musalla)“, ujar Abdul Manan, mahasiswa program doktor pada Universitas Muenster yang juga dosen di IAIN Arraniry Banda Aceh bergurau.
Zulkarnain Jalil, dari Jerman, Serambinews 08/08/06
Dilelang, Barang Bekas Piala Dunia
Anda butuh bendera bekas FIFA atau tempat duduk bekas pelatih dan pemain untuk taman ? Ataupun lampu stadion untuk kamar tidur ? Sekaranglah saatnya bagi para pemburu barang kenang-kenangan. Dari bangku bekas Juergen Klinsmann hingga rumput stadion pun kini mulai dilelang.
"Kami sudah memiliki sekitar 5500 barang inventaris“, ujar jubir FIFA Jens Grittner kepada der Spiegel. “Berapa jumlah totalnya, saya belum bisa sebutkan. Namun setidaknya saat ini ada 3000 kursi bekas wartawan foto, 3300 lampu meja, 1000 printer, 280 mesin fax demikian juga 200 mesin foto kopi. Juga bangku bekas Juergen Klinsmann“, lanjut Grittner.
Adalah Dechow, sebuah rumah lelang yang berpusat di Hamburg mendapat kepercayaan melelang berbagai jenis inventaris original yang ada di di 12 stadion. Beberapa barang yang tertera di situsnya antara lain: tempat duduk pelatih, bendera sepak pojok, tiang gawang, berbagai jenis bendera,plakat, dan spanduk, meja pers, meja IT, papan tulis, lampu, hingga perangkat dekorasi (bunga, lampu hias). Pusat pelelangan akan berlangsung di Hamburg, Koeln, Muenchen, Berlin, Kaiserslautern, dan Frankfurt. “Jadwal pastinya belum jelas lagi. Namun paling lambat awal Agustus sudah bisa dimulai“, ujar direktur Dechow, Jan Broeker seperti dilansir die Welt (11/7).
Lain halnya di Stuttgart, disana pelelangan akan berlangsung hari ini di kawasan Markplatz. “Ada sekitar 600 jenis barang bekas Piala Dunia 2006 yang ditawarkan. Barang-barang ini sudah banyak yang tanya, bahkan sebelum turnamen ini berakhir“, urai Hilke Langer, juru bicara Stuttgart Marketing GmbH. Sedangkan di Koeln, sekitar 1800 bendera bekas akan dilelang pada tanggal 17 dan 18 Juli di gedung Köllner Aussenwerbung GmbH. “Harganya antara 10 hingga 18 Euro“, ujar Simone Winkelhog dari bagian humas.
Rumput Final Dilelang 4000 Euro
Yang menarik adalah rumput bekas pertandingan final di Stadion Olimpia, Berlin. Rumput bekas dipakai babak final tersebut dijual seharga 75 Euro (885 ribu ) per potong. Agar tahan lama disimpan dalam kaca akrilik ukuran 14 x 8 x 5 cm. Juga dijual jenis potongan asli yang masih alami (30 x 20 cm). Total ada sekitar 40.000 hingga 60.000 potong rumput yang akan dijual. Semuanya tentu memiliki sertifikat. Rumput-rumput yang dicabut sejak 11 Juli yang lalu itu diberi perawatan khusus agar tetap dapat tumbuh dan terjaga dengan baik.
”Sebenarnya hal ini tidak lazim, tapi masalahnya FIFA tidak membuat aturan mengenai rumput bekas tersebut. Karenanya kami langsung bicara dengan penanggung jawab stadion mengenai penawaran harga rumput itu“ ujar Manfred Gawlas, juru bicara rumah lelang Quelle seperti disitir Financial Times (11/7). Namun Gawlas menambahkan bahwa rumput tersebut hanya dijual di Jerman saja.“Siapa yang ingin beli, maka harus memakai alamat tinggal di Jerman“, imbuh Gawlas.
Yang paling fenomenal adalah rumput di bekas titik putih penalti. Rumput yang berada di tempat paling dramatis ketika Italia menumbangkan Perancis itu tidak dijual dalam harga standar, melainkan berlabel “edisi khusus” via rumah lelang online eBay. Rumput daerah penalti, tempat dimana Fabio Grosso melesakkan gol kemenangan Italia, dilelang hingga 4000 Euro atau sekitar 47 juta Rupiah ! Sementara itu rumput di sekitar garis gawang dilelang seharga 1590 Euro (sekitar 18,7 juta Rupiah). Memang bagi yang ingin melelang dengan harga tinggi cara terbaik adalah melalui internet.
Lain halnya dengan fans Jerman. Mereka justru lebih tertarik dengan rumput di stadion Stuttgart, sebab disanalah timnasnya merebut peringkat ketiga.
Lebih lanjut Detlef Reichenbacher, kepala bagian teknik Stadion Olimpia Berlin menjelaskan bahwa tiang gawang dan bangku duduk para pemain tetap berada di sana. Adapun bendera sepak pojok masuk ke museum DFB (PSSI-nya Jerman), hanya rumput stadion saja ditangani oleh Quelle.
Namun sejauh ini belum ada yang menanyakan potongan rumput di tempat Zidane menandukkan kepalanya ke dada Materazzi yang menimbulkan polemik hingga hari ini. Mungkin lebih mahal lagi ya?
Zulkarnain Jalil, dari Jerman, Serambinews
Anda butuh bendera bekas FIFA atau tempat duduk bekas pelatih dan pemain untuk taman ? Ataupun lampu stadion untuk kamar tidur ? Sekaranglah saatnya bagi para pemburu barang kenang-kenangan. Dari bangku bekas Juergen Klinsmann hingga rumput stadion pun kini mulai dilelang.
"Kami sudah memiliki sekitar 5500 barang inventaris“, ujar jubir FIFA Jens Grittner kepada der Spiegel. “Berapa jumlah totalnya, saya belum bisa sebutkan. Namun setidaknya saat ini ada 3000 kursi bekas wartawan foto, 3300 lampu meja, 1000 printer, 280 mesin fax demikian juga 200 mesin foto kopi. Juga bangku bekas Juergen Klinsmann“, lanjut Grittner.
Adalah Dechow, sebuah rumah lelang yang berpusat di Hamburg mendapat kepercayaan melelang berbagai jenis inventaris original yang ada di di 12 stadion. Beberapa barang yang tertera di situsnya antara lain: tempat duduk pelatih, bendera sepak pojok, tiang gawang, berbagai jenis bendera,plakat, dan spanduk, meja pers, meja IT, papan tulis, lampu, hingga perangkat dekorasi (bunga, lampu hias). Pusat pelelangan akan berlangsung di Hamburg, Koeln, Muenchen, Berlin, Kaiserslautern, dan Frankfurt. “Jadwal pastinya belum jelas lagi. Namun paling lambat awal Agustus sudah bisa dimulai“, ujar direktur Dechow, Jan Broeker seperti dilansir die Welt (11/7).
Lain halnya di Stuttgart, disana pelelangan akan berlangsung hari ini di kawasan Markplatz. “Ada sekitar 600 jenis barang bekas Piala Dunia 2006 yang ditawarkan. Barang-barang ini sudah banyak yang tanya, bahkan sebelum turnamen ini berakhir“, urai Hilke Langer, juru bicara Stuttgart Marketing GmbH. Sedangkan di Koeln, sekitar 1800 bendera bekas akan dilelang pada tanggal 17 dan 18 Juli di gedung Köllner Aussenwerbung GmbH. “Harganya antara 10 hingga 18 Euro“, ujar Simone Winkelhog dari bagian humas.
Rumput Final Dilelang 4000 Euro
Yang menarik adalah rumput bekas pertandingan final di Stadion Olimpia, Berlin. Rumput bekas dipakai babak final tersebut dijual seharga 75 Euro (885 ribu ) per potong. Agar tahan lama disimpan dalam kaca akrilik ukuran 14 x 8 x 5 cm. Juga dijual jenis potongan asli yang masih alami (30 x 20 cm). Total ada sekitar 40.000 hingga 60.000 potong rumput yang akan dijual. Semuanya tentu memiliki sertifikat. Rumput-rumput yang dicabut sejak 11 Juli yang lalu itu diberi perawatan khusus agar tetap dapat tumbuh dan terjaga dengan baik.
”Sebenarnya hal ini tidak lazim, tapi masalahnya FIFA tidak membuat aturan mengenai rumput bekas tersebut. Karenanya kami langsung bicara dengan penanggung jawab stadion mengenai penawaran harga rumput itu“ ujar Manfred Gawlas, juru bicara rumah lelang Quelle seperti disitir Financial Times (11/7). Namun Gawlas menambahkan bahwa rumput tersebut hanya dijual di Jerman saja.“Siapa yang ingin beli, maka harus memakai alamat tinggal di Jerman“, imbuh Gawlas.
Yang paling fenomenal adalah rumput di bekas titik putih penalti. Rumput yang berada di tempat paling dramatis ketika Italia menumbangkan Perancis itu tidak dijual dalam harga standar, melainkan berlabel “edisi khusus” via rumah lelang online eBay. Rumput daerah penalti, tempat dimana Fabio Grosso melesakkan gol kemenangan Italia, dilelang hingga 4000 Euro atau sekitar 47 juta Rupiah ! Sementara itu rumput di sekitar garis gawang dilelang seharga 1590 Euro (sekitar 18,7 juta Rupiah). Memang bagi yang ingin melelang dengan harga tinggi cara terbaik adalah melalui internet.
Lain halnya dengan fans Jerman. Mereka justru lebih tertarik dengan rumput di stadion Stuttgart, sebab disanalah timnasnya merebut peringkat ketiga.
Lebih lanjut Detlef Reichenbacher, kepala bagian teknik Stadion Olimpia Berlin menjelaskan bahwa tiang gawang dan bangku duduk para pemain tetap berada di sana. Adapun bendera sepak pojok masuk ke museum DFB (PSSI-nya Jerman), hanya rumput stadion saja ditangani oleh Quelle.
Namun sejauh ini belum ada yang menanyakan potongan rumput di tempat Zidane menandukkan kepalanya ke dada Materazzi yang menimbulkan polemik hingga hari ini. Mungkin lebih mahal lagi ya?
Zulkarnain Jalil, dari Jerman, Serambinews
Subscribe to:
Comments (Atom)