Fans pergi, sampah pun datang
Swiss kini sudah mulai ditinggal fans sepakbola. Tak ada lagi pertandingan di sana. Tinggal menunggu babak final saja di Wina. Yang tersisa saat ini adalah sampah yang menggunung. Selama tiga pekan perhelatan Euro 2008 ada ratusan ton sampah di empat kota penyelenggara.
Pengunjung memang membludak selama Euro 2008. Di Bern misalnya, menurut catatan tak resmi, sedikitnya ada 750.000 temu berada disana. Dari angka tersebut, 250.000 tamu berasal dari luar Swiss. Di Basel, hingga pertandingan terakhir semifinal Jerman vs Turki yang berlangsung total turis mendekati 1 juta orang.
Sudah pasti banjir pengunjung itu tak bisa dipisahkan dari sampah. Di Bern, sebagaimana dilaporkan Theo Schmid dari dinas kebersihan, saat pertandingan Belanda melawan Perancis mencapai 30 ton. Hal yang sama juga tampak di tiga kota lainnya.
“Sedikitnya ada 100 ton sampah selama tiga kali pertandingan“, tukas Boris Woelfle, juru bicara dinas kebersihan pemkot Basel kepada pers. Ada berbagai macam sampah. Yang paling banyak adalah botol minuman, kaleng bir, sisa makanan, serpihan kertas, hingga aneka pernak pernik fans. Untungnya toilet cukup tersedia. Jika tidak, dipastikan bau pesing bakal menyengat ke seantoro kota.
Dari segi volume, yang paling banyak memproduksi sampah adalah kota Basel. Ada dua pertandingan yang bikin repot tim dari dinas kebersihan. Yakni tatkala Belanda melawan Rusia, sampahnya mencapai 40 ton. Sedangkan saat pertandingan pembukaan antara Swiss vs Ceska, 24 ton sampah berhasil dikumpulkan. Sementara di Zurich, sejauh ini belum ada informasi dari penanggungjawab kebersihan setempat. Ya resiko jadi tuan rumah memang begini. Sampah adalah bagian dari sukses juga.
Di Bern ada 80 hingga 100 petugas kebersihan saban harinya. Mereka bergerak malam hari selepas pertandingan usai digelar dan penonton beranjak pulang“, imbuh Leo Schmid. Di Basel petugas kebersihan tak memadai hingga musti menambah petugas tambahan yang berjumlah sekitar 60 orang. Mereka bekerja di sekitar stadion dan arena nobar. Begitu juga halnya di Jenewa, ada 20 petugas tambahan diterjunkan ke arena sampah.
Bagaimana dengan di Austria? Tak jauh beda. Di Wina misalnya, Fernwarme, salah satu perusahaan daur ulang sampah di Wina, mampu mengangkut ribuan ton saban harinya. Sampah-sampah tersebut terlebih dahulu dipilah menurut jenisnya, organik dan anorganik. Semuanya diseleksi oleh mesin. Sampah hasil seleksi itu dimasukkan ke dalam ratusan insenerator (pembakar sampah).
Hasilnya ? Ratusan megawatt energi listrik mampu dihasilkan dari sampah itu, yang mampu memasok kebutuhan listrik sehari-hari bagi warga Wina. Misalnya di pusat pengolahan sampah Spittelau di dekat sungai Donau, mampu memasok energi listrik hingga 460 MW bagi kota Wina. Pusat pengolahan sampah milik miliknya Fernwärme Wien GmbH itu rata-rata mampu mengangkut hingga 250.000 ton sampah per tahunnya.
Menariknya, pusat pengolahan sampah berteknologi tinggi itu berada di pusat kota. Bahkan pusat pengolahan sampah tersebut jadi obyek wisata karena desainnya yang menarik. Sepintas lebih mirip gedung kesenian ketimbang tempat pengolahan sampah. Sebuah contoh yang patut ditiru tentunya.