Friday, June 27, 2008

Fans pergi, sampah pun datang


Swiss kini sudah mulai ditinggal fans sepakbola. Tak ada lagi pertandingan di sana. Tinggal menunggu babak final saja di Wina. Yang tersisa saat ini adalah sampah yang menggunung. Selama tiga pekan perhelatan Euro 2008 ada ratusan ton sampah di empat kota penyelenggara.


Pengunjung memang membludak selama Euro 2008. Di Bern misalnya, menurut catatan tak resmi, sedikitnya ada 750.000 temu berada disana. Dari angka tersebut, 250.000 tamu berasal dari luar Swiss. Di Basel, hingga pertandingan terakhir semifinal Jerman vs Turki yang berlangsung total turis mendekati 1 juta orang.

Sudah pasti banjir pengunjung itu tak bisa dipisahkan dari sampah. Di Bern, sebagaimana dilaporkan Theo Schmid dari dinas kebersihan, saat pertandingan Belanda melawan Perancis mencapai 30 ton. Hal yang sama juga tampak di tiga kota lainnya.


“Sedikitnya ada 100 ton sampah selama tiga kali pertandingan“, tukas Boris Woelfle, juru bicara dinas kebersihan pemkot Basel kepada pers. Ada berbagai macam sampah. Yang paling banyak adalah botol minuman, kaleng bir, sisa makanan, serpihan kertas, hingga aneka pernak pernik fans. Untungnya toilet cukup tersedia. Jika tidak, dipastikan bau pesing bakal menyengat ke seantoro kota.


Dari segi volume, yang paling banyak memproduksi sampah adalah kota Basel. Ada dua pertandingan yang bikin repot tim dari dinas kebersihan. Yakni tatkala Belanda melawan Rusia, sampahnya mencapai 40 ton. Sedangkan saat pertandingan pembukaan antara Swiss vs Ceska, 24 ton sampah berhasil dikumpulkan. Sementara di Zurich, sejauh ini belum ada informasi dari penanggungjawab kebersihan setempat. Ya resiko jadi tuan rumah memang begini. Sampah adalah bagian dari sukses juga.


Di Bern ada 80 hingga 100 petugas kebersihan saban harinya. Mereka bergerak malam hari selepas pertandingan usai digelar dan penonton beranjak pulang“, imbuh Leo Schmid. Di Basel petugas kebersihan tak memadai hingga musti menambah petugas tambahan yang berjumlah sekitar 60 orang. Mereka bekerja di sekitar stadion dan arena nobar. Begitu juga halnya di Jenewa, ada 20 petugas tambahan diterjunkan ke arena sampah.


Bagaimana dengan di Austria? Tak jauh beda. Di Wina misalnya, Fernwarme, salah satu perusahaan daur ulang sampah di Wina, mampu mengangkut ribuan ton saban harinya. Sampah-sampah tersebut terlebih dahulu dipilah menurut jenisnya, organik dan anorganik. Semuanya diseleksi oleh mesin. Sampah hasil seleksi itu dimasukkan ke dalam ratusan insenerator (pembakar sampah).


Hasilnya ? Ratusan megawatt energi listrik mampu dihasilkan dari sampah itu, yang mampu memasok kebutuhan listrik sehari-hari bagi warga Wina. Misalnya di pusat pengolahan sampah Spittelau di dekat sungai Donau, mampu memasok energi listrik hingga 460 MW bagi kota Wina. Pusat pengolahan sampah milik miliknya Fernwärme Wien GmbH itu rata-rata mampu mengangkut hingga 250.000 ton sampah per tahunnya.


Menariknya, pusat pengolahan sampah berteknologi tinggi itu berada di pusat kota. Bahkan pusat pengolahan sampah tersebut jadi obyek wisata karena desainnya yang menarik. Sepintas lebih mirip gedung kesenian ketimbang tempat pengolahan sampah. Sebuah contoh yang patut ditiru tentunya.


Dan, ketika malam datang lagi. Pasukan “siluman” bersenjatakan sapu mulai keluar dari markas besarnya. Mereka menari-nari di atas tumpukan sampah, dari tengah malam hingga menjelang subuh. Paginya tahu-tahu seluruh kota sudah bersih seperti sedia kala. Saat mentari bergerak naik, kota mulai sibuk dengan aneka aktifitas warganya. Kala itu petugas kebersihan justru sedang menikmati mimpi indahnya di atas ranjang. Menunggu malam datang lagi.

Thursday, June 26, 2008

Jerman menang, fans Turki ikut senang

Sungguh malam yang luar biasa. Patut dicatat, mungkin tak ada dalam sejarah sepakbola, dimana fans tim yang kalah ikut merayakan kemenangan bersama dengan fans yang menang. Itulah yang terjadi malam kemarin pasca pertandingan semifinal Jerman-Turki. Setelah wasit meniup peluit panjang tanda pertandingan berakhir terlihat fans Jerman mendekati fans Turki, merangkul mereka seraya menghibur. Sebuah kemenangan bagi persabahatan.

Malah Lukas Podolski secara simpatik mendatangi kamar ganti Turki. "Mereka memberi ucapan selamat padaku. Walau kalah, mereka sangat sportif. Kami senang melaju ke final. Tapi penampilan kami tidak mengesankan. Turki memang hebat", aku Podolski kepada pers seusai pertandingan.

Di Fan Zone Wina, fans Turki mendominasi arena nobar dekat gedung Rathaus (balai kota -red). Lautan warna merah menyala terhampar disana. Di belakangnya terlihat fans Jerman dengan warna putih dominan. Total ada sekitar 28.000 penonton yang menyesaki kawasan tersebut.

Fans Turki juga menempati "pole position“di Fan Zone Burgtheater. Fans Jerman boleh dibilang minoritas, berada di tengah-tengah massa Turki yang menyemut. Atmosfirnya benar-benar panas.
“Melebihi suasana di stadion malahan“, sebut Syafruddin Ghandy, seorang warga Aceh yang tinggal di Wina.

“Wah, kalau Turki yang maen, penampilan mereka ndak ada lawan pokoknya. Seluruh fans membalut diri dengan kaos merah serta mengikat kepala dengan bendera Turki. Ini bisa dimaklumi karena beberapa pusat perdagangan di Wina dikuasai warga Turki”, lanjut mahasiswa program doktor di Universitas Wina itu lagi.

Satu jam setelah pertandingan berakhir, di area seluas tujuh hektar itu masih terlihat fans Turki dalam kelompok-kelompok kecil. Mereka menyanyi dan mengelu-elukan pemain timnasnya.
Halnya di Jerman, selepas kemenangan itu, pendukung Jerman keluar dari rumah, berpawai.
Diperkirakan ratusan ribu fans der Panzer memenuhi arena nobar baik di kedai-kedai, pub, stadion hingga lapangan terbuka. Menariknya, fans Turki juga ikut serta. Mereka mengibar-ngibarkan bendera negaranya.

Di Berlin, seperti dicatat Bild-Online, 500.000 pendukung Jerman memadati jalan raya sepanjang 1,2 kilometer di dekat Brandenbuger Tor yang disulap jadi arena nobar. Sejam sebelum pertandingan dimulai, semua akses menuju jalan tersebut ditutup untuk kenderaan umum. 1700 polisi bersiaga di sekitar arena. Namun hingga acara berakhir tak terjadi tindakan yang menjurus anarkis.

Sementara di Hamburg, sedikitnya 42.000 suporter memadati kawasan Heiligengeistfeld. Di Muenchen, 30.000 penonton menyesaki stadion Olimpiade yang disulap jadi arena nobar. Sedangkan di Stuttgart 40.000 maniak bola nobar di lapangan Schlossplatz. Stadion milik klub Borussia Dortmud yang berkapasitas 12.000 penonton juga disulap jadi arena nonton bareng. Karena tidak muat, 15.000 warga Dortmund lainnya menonton di lapangan Friedenplatz. Yang menarik, di kota Nuernberg, dari 25.000 penonton yang memadati lapangan nobar, setengahnya adalah warga Turki.

Begitulah, Jerman yang menang, tapi fans Turki ikut senang. Begitupun, sebagian media di Jerman tak mau gegabah dalam memberi komentar. "Jujur saja, kita menang karena lebih beruntung. Bukan karena permainan yang memikat. Ingat, Turki bermain dengan "tim kedua“. Jadi semata-mata karena keberuntungan“, tulis Morgenpost yang terbit di Berlin. Media lainnya kurang lebih sama.

Di Basel, tempat pertandingan tersebut berlangsung, tak kalah hebohnya. Arena Fan Zone sudah terisi penuh sejak satu jam sebelum pertandingan. Fans Turki dan Jerman menyatu di sana. Di sela-sela tampak beberapa pendukung Spanyol, Rusia, bahkan fans Swiss juga ikut nongol. Ya itulah pertandingan terakhir di Basel. Perlahan Basel mulai ditinggalkan maniak bola yang selama tiga pekan memadati kota seni itu. Beberapa pedagang mulai menurunkan harga jual beberapa jenis souvenir, hingga setengah harga. Bahkan di arena nobar dekat Kasernen ada yang berani memberi diskon hingga 70 persen. Kontan tempat itu diserbu banyak fans. Obral, obral...!

Wednesday, June 25, 2008

Nuansa warung kopi Ulee Kareng di kota Wina


Kata orang, jika ke Austria belum lengkap rasanya bila tak merasakan nikmatnya kopi di Wina. Jika satu ketika Anda kesana, cobalah singgah di salah satu kafe yang tersebar merata hingga ke pojok-pojok kota. Kafe disini tak jual bir. Berbeda dengan kafe di tempat lain.


Para jurnalis biasanya melepas penat di kafe dekat kawasan Stephansdom. Disana berjejer kafe-kafe tradisional. Orang Wina memang dikenal suka minum kopi. Makanya dimana-mana berdiri kafe (baca; kedai kopi). Konon kabarnya budaya minum kopi tersebut berasal dari Turki yang dibawa oleh pasukan Islam zaman dinasti Usmaniyah saat berusaha menduduki Wina.


Salah satu yang terkenal adalah Kafe Hawelka yang terletak di Jalan Dorotheergasse 6. Hawelka adalah nama pemiliknya, Leopold Hawelka ditemani istrinya yang setia Josefine. Leopold selalu menyambut para tamu yang datang ke kedainya dengan ramah dan bibir tersungging. Dari luar, aroma kopinya yang khas langsung menusuk hidung. Oya Cappucino (Italia) atau kopi Starbuck (Amerika) tak laku disini.


Dan, jangan terkejut, suasana didalamnya persis seperti suasana di salah satu warung kopi terkenal di Ulee Kareng, Banda Aceh. Para tamu sambil minum kopi terlihat asyik membaca koran atau majalah. Koran memang salah satu “panganan“ wajib disini. Berbagai jenis koran tersedia. Di pojok yang lain ada yang lagi serius, tampaknya sedang membahas suatu persoalan.


Menilik dekorasinya, tak ada yang istimewa. Bahkan bisa dibilang kesan tradisonalnya sangat kentara. Kedainya berdinding papan. Di dinding yang terkesan sudah kusam itu tergantung beberapa lukisan dan foto. Rupanya itu foto mantan Stammgäste. Yakni tamu yang datang rutin dan hanya duduk di meja itu selalu, tidak berpindah-pindah. Sehingga meja itu disebut Stammtisch. Di tiap meja ada sepotong pesan yang berbunyi "Bitte kein Handy". Artinya, mohon HP dinonaktifkan. Jangan harap ada suara musik. Televisi juga tidak ada.


Tak perlu menunggu lama. Secangkir kopi dilengkapi dengan segelas kecil kreamer (sejenis susu) plus segelas air putih yang disajikan di atas sebuah nampan kecil berwarna perak segera terhidang di hadapan Anda. Wiener Melange nama kopinya. Spintas mirip kopi sanger. Panganan khasnya? Ada juga. Kalau di Ulee Kareng terkenal dengan roti yang diolesi selai srikaya, maka di kafe Hawelka kita bisa nikmati roti khasnya yakni Sacher Torte. Serupa kue bolu yang diiris dan diolesi gula. Secangkir kopi harganya 2 Euro (sekitar 30 ribu rupiah).


Dan jangan heran, orang Wina suka duduk berjam-jam lamanya dengan hanya membeli secangkir kopi, sambil baca koran tentunya. Bahkan di kafe pula mereka saling bertukar informasi, sosialisasi dan silaturahmi sesama warga kota. Ngopi yuk!

Tuesday, June 24, 2008

Ujian bagi sebuah persahabatan


“Toooor !“ (Gooool !), teriakan yang memekakkan telinga itu terdengar ketika Lukas Podolski mencetak gol. Kedai doner kebab itu seakan hendak runtuh. Penonton yang semuanya pria Turki spontan melompat gembira. Apa? Warga Turki mendukung Jerman? Bukan, itu tadi rekaman suasana di Piala Dunia 2006 yang lalu.


Kala itu Jerman menghadapi Swedia di babak perempatfinal. Turki tidak ikut, karena gagal di kualifikasi, sehingga semua warga Turki di Jerman mendukung Lukas Podolski dkk. Tapi kini keadaannya malah berbalik. Malam nanti, Turki harus menghadapi saudara tuanya“ Jerman di semifinal. Nuansa perang saudara“ mulai dihembus banyak pihak, terutama media. Padahal Jerman dan Turki ibarat dua sahabat lama yang diikat oleh sejarah masa lalu.


Menilik sejarah, orang Turki datang ke Jerman sekitar awal 1960-an. Umumnya generasi pertama ini adalah pekerja kasar yang datang untuk membantu membangun Jerman dari keruntuhan pasca Perang Dunia II. Sebagian besar dari pekerja Turki itu tidak kembali lagi ke negara asalnya dan memilih menetap di Jerman. Kini generasi kedua Turki bisa dikatakan telah banyak yang berhasil baik di parlemen, sebagai pengusaha, akademisi, olahragawan, hingga bintang film. Catatan Wikipedia, saat ini ada sekitar 2,5 juta warga Turki di seluruh Jerman (termasuk yang telah mendapatkan status kewarganegaraan Jerman).


Komunitas warga Turki di Austria, jika dibandingkan dengan di Jerman, tak ada apa-apanya. Makanya orang Turki menyebut Jerman sebagai rumah kedua bagi mereka. Sebab itu sebagian warga Turki seperti menghadapi dilema kala menatap partai knock out nanti malam. Begitupun, kabarnya mereka tetap santai dan berharap tidak ada gejolak apa-apa antar sesama pendukung.


Mengutip laporan harian Tagesspiegel, di kota Berlin kini banyak dijumpai mobil-mobil yang memasang dua bendera sekaligus, Jerman dan Turki. Bahkan banyak anak-anak muda Turki yang mengenakan kaos timnas Jerman.


”Pertandingan nanti bisa disebut sebagai uji coba bagi hubungan persaudaraan Jerman dan Turki,” ujar Ozcan Mutlu, politikus Jerman berdarah Turki. Dia menyebutkan jika nanti malam Jerman yang menang, warga Turki tetap akan melakukan pesta. Berbaur bersama saudaranya warga Jerman. Ketika Turki melawan Kroasia, misalnya. Terlihat banyak pemuda Jerman mengenakan kaos Turki. Giliran Jerman yang bertanding, tampak anak-anak muda Turki berkaos Jerman dengan antusias melambai-lambaikan bendera berwarna hitam-merah-kuning emas.


“Tak peduli siapa yang menang, saya tetap akan merayakannya“, kata Yusuf Deniz saat minum teh di kedai Körfez. Direktur sebuah perusahaan logistik yang lahir di Jerman itu mengaku tahu dengan pasti bagaimana perasaan warga Turki saat ini.


Jujur saja, bagi kami yang sudah bertahun-tahun tinggal di Jerman, hati ini serasa terbelah dua,“ lanjut Yusuf yang tinggal di Köln. Ketika ditanya siapa yang diharapkannya menang nanti malam. Yusuf lama terdiam. Köln adalah kampung saya. Saya bayar pajak di Jerman, bukan di Turki“, jawab pria berusia 29 tahun itu diplomatis.


Yusuf lalu melangkah keluar seraya menunjuk ke jalan raya. Persis di seberang jalan Osheimerstrasse tampak dua pemuda, satu Jerman dan satunya lagi Turki, melambai-lambaikan bendera Jerman berukuran sekitar 3 x 5 meter. Yusuf lalu menunjuk pada truk besar yang sedang parkir dekat kedai. Warna truk itu gabungan dari warna bendera Jerman dan Turki. Dia seakan hendak menunjukkan bagaimana jalinan persahabatan Jerman dan Turki.


“Pertandingan bakal dramatis. Hati-hati buat yang punya penyakit jantung atau darah tinggi ha ha“, wanti-wanti Ozcan Oz (41) seraya terbahak. Ozkan yang tinggal di Jerman sejak tahun 1980, ditemani rekannya Ahmet Kilickiran (37), berharap selepas pertandingan nanti nuansa persahabatan tetap terjadi serta tidak terjadi kerusuhan.


Jadi siapa yang bakal menang malam nanti, Jerman atau Turki? Persahabatan yang akan memenangkan partai nanti malam“, ujar Jan Wördenweber, kolumnis harian Tagesspiegel diplomatis. Semoga begitu, dan selamat begadang!


Monday, June 23, 2008

Karl Wald, pencetus adu tendangan penalti yang terlupakan

Adu tendangan penalti selalu melahirkan ironi. Bahkan Frank Lampard sampai mengupat “sepakbola itu kejam” kala Chelsea tersingkir di final Liga Champion 2008 yang lalu saat kalah lewat adu penalti melawan MU. Lalu, pekan lalu, setelah menjalani pertandingan yang heroik, pemain Kroasia terlihat menangis tersedu-sedu selepas kalah adu penalti lawan Turki.

Banyak yang bilang pertandingan yang diakhiri dengan adu tendangan penalti tidak fair dan persis seperti lotre. Untung-untungan. Yang lain malah menikmatinya karena nuansa ketegangan yang tinggi. Saking tegangnya bisa bikin jantung copot.

Namun tak banyak yang tahu siapa sebenarnya penemu adu tendangan penalti itu. Ternyata pencetusnya adalah seorang wasit dari Penzberg, sebuah kota kecil berjarak 50 kilometer dari Muenchen, Jerman. Dialah Karl Wald yang kini berusia 92 tahun dan mengaku bangga dengan gagasannya yang diperkenalkan pertamakali tahun 1970 itu. "Hanya ada satu pemenang dalam tiap pertandingan", ujar Wald kepada majalah Stern.

“Dulu, sebelum adu penalti diperkenalkan, pertandingan penentuan yang berakhir imbang pemenangnya ditentukan lewat undian koin“, imbuh Wald yang pernah menjadi pemain FSV Frankfurt dan FC Nürnberg. “Bahkan ada pertandingan yang musti diulang lagi. Misalnya final Piala Eropa 1968 yang dihelat di Italia. Di babak final Italia bertemu Yugoslavia. Pertandingan berakhir 1-1. Karena adu penalti belum diperkenalkan, pertandingan pun diulang sekali lagi. Kala itu Italia sukses mendulang dua gol dan menggondol Piala Eropa 1968,“ kenang pria kelahiran Frankfurt 17 Februari 1916.

Ada cerita menarik dibalik undian koin ini. Pada final Liga Champion tahun 1965 FC. Köln bertemu FC Liverpool di babak akhir melalui sistem tandang dan kandang. Keduanya berakhir 0-0. Pertandingan lalu diulang di tempat netral yakni di Rotterdam, Belanda. Hasilnya masih imbang 2-2. Akhirnya pemenang diundi dengan lemparan koin. Menariknya pas lemparan pertama koin malah jatuh tegak lurus. Harus diulang lagi. Pada lemparan kedua itulah Liverpool “memenangkan“ pertandingan. Karl Wald mengaku berang jika sang juara ditentukan lewat koin. Dia menyebutnya sebagai sangat tidak sportif.

Setelah melalui serangkaian percobaan, Karl Wald menemukan gagasan adu penalti itu. Tak menunggu lama, Wald mengajukan inovasinya ke organisasi sepakbola negara bagian Bayern (BFV). Awalnya ditolak mentah-mentah. Pria yang mendapat lisensi wasit tahun 1936 itu terus berusaha meyakinkan pimpinan BFV, hingga akhirnya diadakan semacam dengar pendapat dengan mengundang seluruh anggota BVF dari berbagai daerah di Bayern.

Dalam forum itu Hans Huber –Presiden BFV- masih tetap keberatan dengan ide Karl Wald. Hingga Wald secara berani melakukan interupsi: "Tuan Presiden, sejak pagi saya duduk berjam-jam disini. Dengan tekun saya mendengarkan berbagai pendapat dalam forum ini. Sekarang saya minta waktu 5 menit saja kepada Anda untuk mendengar saya." Spontan keberaniannya itu mendapat aplaus dari anggota yang hadir. Dari sini sudah dapat diduga sebagian peserta sebenarnya menyetujui idenya tersebut.

Selepas interupsi bersejarah itu, sidang diskor selama 20 menit. Hans Huber melakukan rapat tertutup dengan stafnya. Selepas masa istirahat, Hans Huber tampil ke podium dan berujar: "Saudara Wald, sekarang saya akan menyampaikan putusan sidang. Gagasan adu tendangan penalti yang Saudara ajukan kami terima dan akan diterapkan pada musim kompetisi mendatang. Apakah Anda setujui?“ Karl Wald dengan wajah tersenyum sumringah menyetujui keputusan tersebut seraya mengucapkan terima kasih.

Gagasan Wald diperkenalkan tepat pada perayaan ulang tahun BFV tahun 1970. Delegasi BFV lalu mengajukan ide Wald ke DFB (PSSI-nya Jerman). DFB menerima dengan mutlak inovasi dari negara bagian Bayern itu. Berselang beberapa waktu, induk sepakbola Eropa (UEFA) dan dunia (FIFA) juga menerima ide adu tendangan penalti. Sejak itulah nama Karl Wald tercatat dalam sejarah sepakbola dunia.

Adu tendangan penalti mulai diperkenalkan pada Piala Eropa 1976 di Yugoslavia saat Jerman bertemu Cekoslowakia di babak final. Cekoslowakia sukses merengkuh gelar pertamanya di Eropa setalah menang adu penalti 4-3. Di ajang Piala Dunia adu penalti diperkenalkan tahun 1982 kala berlangsung di Spanyol. Jerman berhasil menundukkan Perancis lewat adu tendangan 12 pas di babak semifinal.

Kini Karl Wald melewati masa tuanya di Penzberg dan jauh dari soroton publik. Dia seolah terlupakan di tengah hingar bingarnya industri sepakbola. Padahal Wald, yang telah mengabdi sebagai wasit selama 40 tahun dan memimpin lebih dari 1000 pertandingan, telah memperkenalkan sebuah inovasi maha penting dalam dunia persepakbolaan. Begitulah.

Sunday, June 22, 2008

Eropa buka pintu bagi pekerja imigran

Hari ini tidak ada pertandingan. Jadi saya ajak Anda menyimak satu isu hangat yang merebak belakangan ini di Eropa. Hitung-hitung untuk menghilangkan stress pasca babak perempatfinal yang menegangkan. Terutama pendukung Belanda, jangan terlalu bersedih tim Anda gagal melaju. Itulah sepakbola, kata Franz Beckenbauer.

Baik, isu apa itu? Badan pengurus harian Uni Eropa beberapa waktu lalu mengajukan satu usulan menarik yang intinya meminta negara-negara di Eropa agar membuka pintunya bagi kaum imigran berpendidikan tinggi.

Usulan yang diajukan akhir 2007 lalu itu beranjak dari kekhawatiran dengan semakin berkurangnya pekerja lokal berkemampuan tinggi, terutama bidang IT. Seperti disitir Radio Netherland, solusi bakal dilakukan melalui sistem Blue Card atau kartu biru yang memberikan hak tambahan bagi imigran dengan keahlian tertentu. Mirip Green Card di Amerika Serikat.

Menurut amatan Dr.-Ing. Syafii Syam, putra Aceh yang saat ini bekerja di Ghent University, Belgia, warga asli Eropa yang tertarik untuk belajar di sektor high engineering education terutama yang berbasis komputer (ICT-based) memang makin sedikit saja. Mereka seperti ”menghindar” masuk program studi ilmu-ilmu advance tersebut.

”Kebanyakan diisi oleh imigran. Orang Eropa bisa dihitung dengan jari. Saya kira beberapa tahun mendatang mereka bakal kekurangan tenaga ahli. Mau ndak mau ya musti buka pintu bagi imigran,” tugas pria yang datang ke Eropa 2002 silam dan sedang mengerjakan proyek Anesthesia Automatic Control.

”Peluang sekarang sangat terbuka dan ada dimana saja. Saat ini penyadaran ke anak muda (baca; pelajar dan mahasiswa) masih kecil. Umumnya kesempatan yang diperebutkan adalah kesempatan yang datang didepan mata. Padahal banyak sekali peluang ”tersembunyi”. Bila mau sedikit berpayah-payah akan dapat,” kata pria kelahiran Sanggeu, Kab. Pidie itu lagi. Syafii meminta pemuda-pemudi di Aceh agar sejak dini memupuk semangat untuk bersaing dalam hal keilmuan.

2050 Eropa kekurangan pekerja

Diprediksi tahun 2050 sepertiga rakyat Uni Eropa kebanyakan berusia di atas 65 tahun dan memasuki masa pensiun. Sementara pertumbuhan penduduk nyaris stagnan. Saat itu dibutuhkan jutaan orang untuk mengisi kekosongan itu.

Usulan itu juga menegaskan agar peraturan kerja bagi imigran di negara-negara Uni Eropa harus dipermudah. Komisi itu menghendaki agar setiap orang yang memiliki blue card mendapat ijin kerja sekaligus ijin menetap, kesetaraan gaji dan hak sosial ekonomi lainnya. Disamping itu pemilik kartu biru mendapat kemudahan untuk pindah ke negara anggota Uni Eropa lainnya, jika mendapat pekerjaan di sana. Saat ini mustahil bagi imigran untuk pindah atau mencari pekerjaan lain di Uni Eropa karena setiap negara memiliki peraturannya masing-masing.

Menteri muda Kehakiman Belanda, Albayrak sependapat dengan ide itu. ”Jumlah lansia di Belanda terus meningkat. Menarik orang-orang yang berpendidikan tinggi dari luar Uni Eropa akan bermanfaat, ” kata Albayrak yang keturunan Turki. Di Belanda. 24% imigran di sana konon berpendidikan tinggi. Frattini, komisaris Eropa urusan migrasi secara tegas menyebut kaum imigran harus dipandang sebagai sebuah fenomena dunia masa kini. ”Jangan lihat itu sebagai ancaman saja," tukas Frattini.

Namun, rencana tersebut mendapat kritikan serikat buruh setempat. Menurut mereka jumlah migran di Eropa sudah cukup banyak dan mereka harus lebih dimanfaatkan lagi. Tak perlu mendatangkan dari luar lagi.

Patut ditunggu, apakah Eropa benar-benar serius dengan proposal itu. Jika terlaksana, maka imigran terampil, terutama dari negara berkembang bisa bersiap. Tertarik menikmati hidup dan bekerja di Eropa? Sudah bisa siap-siap dari sekarang.