Warga Aceh di rantau; Ada yang rindu Boh Rom Rom
“Ini abang sama sinyak. Anak kita tambah cabak, dah pintar nangis..” Demikian isi SMS yang diterima Erfiati, salah satu mahasiswi asal Aceh yang saat ini sedang studi di Universitas Leipzig, Jerman. SMS dari suaminya di Banda Aceh itu kontan bikin sesak dada menahan rasa rindu. Er –panggilan perempuan asal Beureunuen ini- mengaku sering menelpon ke kampung hanya untuk mendengar suara tangisan anaknya yang masih berusia lima bulan . Erfiati, barangkali bisa jadi satu diantara sekian banyak mahasiswa Aceh di luar negeri yang harus memendam rindu akan kampung halaman.
Jauh dari kampung, keluarga atau sanak saudara, konon lagi menjelang lebaran, memang sungguh menyiksa batin. Saat ini ada ratusan lebih warga Aceh bertebaran di beberapa negara Eropa. Sebagian besar dari mereka adalah mahasiswa, ada juga yang telah menetap lama. Selain rindu keluarga, ada pula yang rindu akan masakan, dan tentunya juga suasana Ramadhan. Menariknya lagi, selama di rantau kebanyakan dari mereka justru jadi mahir memasak.
“Saya sering masak sendiri selama puasa. Padahal saya dulu paling ndak bisa masak. Sekarang udah bisa buat rendang Aceh..he..he..,” ujar Meutia, mahasiswa Kedokteran di Universitas Muenster, Jerman sembari terkekeh. Alumni SMA 1 Banda Aceh ini mengaku untuk mengobati rindu sampai berpayah-payah belanja ikan ke Enschede, Belanda yang berbatasan dengan Jerman.
“Pokok jih ta lawok-lawok laju, mangat keudro (pokoknya diaduk-aduk saja, nanti enak sendiri-red),” ujar Bahi, yang tinggal di kota Ulm.
“Alah bisa karena terpaksa,” tambah Bahi memelesetkan sebuah pepatah. Lain halnya Syafii yang tinggal di Valladolid, Spanyol. Pria lajang asal Sanggeu, Pidie ini malah kangen berat dengan boh rom-rom. Untuk masalah masakan khas Aceh sebagian besar memang membawa bumbu sejak berangkat dari Aceh.
Tidak mau kalah dengan saudaranya di kampung, warga Aceh di Eropa ada juga yang mengadakan tradisi meugang. Ali Jahja misalnya, pria asal Meureudu yang tinggal di Hamburg mengaku tiap Ramadhan dan lebaran selalu mengadakan meugang.
“Bagaimana di kampung, ya begini pula di sini. Misal meugang, kami buat juga,” ujar Aminah, istri Ali Yahya yang sudah 38 tahun berada di Jerman.
Tak kurang serunya adalah keluarga Tgk. Iskandar yang tinggal di Amsterdam, Belanda. Pria asal Tanoh Abee, Aceh Besar yang sudah lebih dari 30 tahun di Belanda ini tampaknya terkesan suasana berbuka bersama di mesjid seperti di Tanah Air. Hampir setiap hari Iskandar dan keluarganya berbuka di mesjid PPME (Persatuan Pemuda Muslim se-Eropa), Amsterdam. Ia bersama warga Indonesia lainnya saling bergantian membawa makanan.untuk berbuka.
“Malah ada juga warga Belanda, Afrika, atau Suriname yang datang ikut berbuka,” ungkap Tgk. Iskandar yang membuka usaha restoran di ibukota Belanda itu.
“Selama Ramadhan, kami juga mendatangkan ustazd dari Indonesia yang berkeliling dari satu kota ke kota lainnya. Biasaya ada lebih dari satu orang ustazd, jadi saling bergantian di tiap kota,” imbuh pria yang putra-putrinya lahir dan besar di Belanda.
Di Belanda sendiri saat ini ada sekitar 200-an mesjid, dan dari 15,6 juta penduduknya ada sekitar 1 juta warga yang beragama Islam. Kaum muslim yang terbesar disana adalah keturunan Turki, selain itu ada Maroko, Aljazair, dan Suriname.
Banyak pula pengalaman menarik lainnya seputar Ramadhan. Misalnya Erfiati yang kadang terpaksa meneguk air di keran kamar mandi di kampusnya untuk berbuka.
“Kalau lagi kuliah sampe sore, dan ndak sempat pulang, saya ke toilet batalin puasa pake air keran,” ungkap alumni MAN Sigli yang saat ini mengambil master Global Studies di Leipzig. Hal yang sama juga dialami temannya sekampus Nadya Rusydi yang berasal dari Banda Aceh.
Entah kapan lagi aku merasakan indahnya alam dari Tebing Bak Ret.
Entah kapan lagi aku merasakan nikmatnya mereguk secangkir kopi di Ulee Kareng.
Entah kapan lagi aku merasakan suasana pagi yang diwarnai ocehan Nyak-Nyak di Pasar Aceh. Entah kapan lagi merasakan indahnya malam di Rek.......
Demikian sejumput ungkapan rindu akan Aceh yang ditulis di sebuah blog (diari online). Masih banyak lagi tentunya pengalaman menarik dengan beragam corak keunikannya. Intinya, Aceh tetap lon sayang.
(Zulkarnain Jalil, dari Jerman untuk Serambi Indonesia)
Friday, October 27, 2006
Thursday, October 26, 2006
Di Aceh Ada Kanji, di Perancis Ada Harira
JIKA kita berkunjung ke Paris-ibukota Perancis- maka siapa sangka kota yang identik dengan mode dan glamournya selebritis dunia itu juga memancarkan nuansa Islam, utamanya di bulan Ramadhan.
Di Evry misalnya, kota kecil berjarak 25 kilometer arah selatan Paris, dihuni 15.000 muslim, yang merupakan sepertiga populasi penduduk kota itu. Masjid dan Islamic Centernya adalah terbesar kedua di Perancis. Warga muslim Perancis sendiri kini ada sekitar 5 juta jiwa yang merupakan populasi terbesar di Eropa.
Selama Ramadhan, sedikitnya 1.500 jamaah meramaikan masjid Evry sepanjang hari. Kala waktu berbuka tiba, jamaah berkumpul di ruangan bawah tanah. Aroma masakan Maroko langsung menyergap. Khalil Merroun-imam masjid––ikut membantu jamaahnya mencuci piring selepas berbuka. Lalu kembali ke ruangan shalat guna menyampaikan ceramah berbahasa Arab maupun Perancis. Begitulah rutinitas di masjid yang dibangun tahun 1985 yang merupakan sumbangan Raja Hassan II dari Maroko.
Ramadhan memang bikin kagum warga Perancis. Sebuah survei yang dilakukan oleh koresponden Islamonline di Paris menyebutkan, mayoritas warga Perancis mengaku kagum dan takjub akan kemampuan rekannya yang muslim dalam menahan napsu (makan, minum, dan lainya) sepanjang hari.
“Benar-benar mengagumkan, teman karib saya tiba-tiba berhenti ke kedai kopi selama Ramadhan,” ujar Escafi yang ikut menikmati malam Ramadhan bersama rekan-rekannya yang muslim di Saint Denis, utara Paris. Saint Denis merupakan tempat berdiamnya populasi muslim terbesar di Perancis ––500.000 jiwa- dari jumlah penduduk kota itu 1,4 juta jiwa.
Namun, harus diakui, berpuasa di negeri berpenduduk 63 juta jiwa juga tidak mudah, terutama untuk menjaga pandangan mata. “Yang cukup berat di sini ya menahan godaan mata, karena walaupun sudah mulai dingin masih banyak yang berpakaian sangat seksi, atau bahkan ada yang asyik peluk cium di depan umum. Kadang suka risih juga melihatnya. Tapi gimana lagi namanya juga kultur mereka. Paling kita palingkan wajah atau pindah tempat duduk,” begitu pengakuan Adhi Setiaji, seorang warga Indonesia yang bekerja di sebuah perusahaan telekomunikasi di Paris.
Bagi warga Perancis sendiri, bulan suci Ramadhan juga identik dengan sup Maroko (harira) yang terkenal lezat itu. Ibaratnya barangkali seperti kanji di tempat kita yang tersedia gratis kala berbuka di hampir semua masjid dan meunasah di Aceh. Bicara masalah makanan, muslim Perancis berani tampil beda.
Jika kita berjalan agak ke timur Paris, tepatnya di Clichy-sous-Bois di sana ada restoran halal, Beurger King Muslim (BKM) namanya. BKM seakan hendak menyaingi McDonalds atau KFC-nya Amerika. Restoran yang dibuka Juli 2005 itu mengikuti sukses Mecca-Cola––menyaingi Coca Cola–– yang diluncurkan November 2002 silam. “Saking gembiranya saya sampai meneteskan air mata,” ungkap Mouna Talbi (24). Mouna yang datang bersama keluarganya menempuh jarak sejauh 90 kilometer untuk membeli burger halal ini. Wanita ini mengaku merasa nyaman berbelanja di sana. “Di restoran lain, saya sering jadi bahan tatapan asing karena berjilbab,” imbuhnya. Pegawai wanita di restoran muslim Aljazair ini juga berjilbab.
Muslimah Perancis memang dikenal sangat teguh mempertahankan jilbabnya kendati ada larangan dari pemerintah. “Jika nanti saya dapat kerja, saya akan tetap berjilbab. Namun saya yakin pasti perusahaan tak akan mengizinkan. Jadi, haruskah saya melakukan sesuatu yang bertolak belakang dengan hati nurani saya?,” tukas Sonya Benhia, mahasiswi muslim yang tinggal di dekat Paris.
“Aku melihat Islam (di Paris), meski tidak ada orang Islam di sana. Aku melihat orang Islam di Kairo, tetapi tak melihat Islam di sana”. Itulah kalimat terkenal yang dilontarkan Syekh Muhammad Abduh. Pemikir muslim dari Mesir tersebut pernah tinggal di Paris pada tahun 1884 saat mana diasingkan oleh pemerintahnya. Kini, di negara yang terkenal dengan menara Eiffel-nya itu tentu sudah jauh berbeda dengan yang dilihat Syekh Abduh dulu.
“Arus masuk Islam menjadi fenomena yang makin meluas di Perancis. Saya yakin nilai-nilai yang diserukan Islam itulah yang menjadi motif pertama kebanyakan pemeluk Islam baru di sini,” demikian dikatakan Steve Brodwer, seorang muallaf baru, seperti disitir Islamonline.
Zulkarnain Jalil, Serambinews 16 Oktober 2006
JIKA kita berkunjung ke Paris-ibukota Perancis- maka siapa sangka kota yang identik dengan mode dan glamournya selebritis dunia itu juga memancarkan nuansa Islam, utamanya di bulan Ramadhan.
Di Evry misalnya, kota kecil berjarak 25 kilometer arah selatan Paris, dihuni 15.000 muslim, yang merupakan sepertiga populasi penduduk kota itu. Masjid dan Islamic Centernya adalah terbesar kedua di Perancis. Warga muslim Perancis sendiri kini ada sekitar 5 juta jiwa yang merupakan populasi terbesar di Eropa.
Selama Ramadhan, sedikitnya 1.500 jamaah meramaikan masjid Evry sepanjang hari. Kala waktu berbuka tiba, jamaah berkumpul di ruangan bawah tanah. Aroma masakan Maroko langsung menyergap. Khalil Merroun-imam masjid––ikut membantu jamaahnya mencuci piring selepas berbuka. Lalu kembali ke ruangan shalat guna menyampaikan ceramah berbahasa Arab maupun Perancis. Begitulah rutinitas di masjid yang dibangun tahun 1985 yang merupakan sumbangan Raja Hassan II dari Maroko.
Ramadhan memang bikin kagum warga Perancis. Sebuah survei yang dilakukan oleh koresponden Islamonline di Paris menyebutkan, mayoritas warga Perancis mengaku kagum dan takjub akan kemampuan rekannya yang muslim dalam menahan napsu (makan, minum, dan lainya) sepanjang hari.
“Benar-benar mengagumkan, teman karib saya tiba-tiba berhenti ke kedai kopi selama Ramadhan,” ujar Escafi yang ikut menikmati malam Ramadhan bersama rekan-rekannya yang muslim di Saint Denis, utara Paris. Saint Denis merupakan tempat berdiamnya populasi muslim terbesar di Perancis ––500.000 jiwa- dari jumlah penduduk kota itu 1,4 juta jiwa.
Namun, harus diakui, berpuasa di negeri berpenduduk 63 juta jiwa juga tidak mudah, terutama untuk menjaga pandangan mata. “Yang cukup berat di sini ya menahan godaan mata, karena walaupun sudah mulai dingin masih banyak yang berpakaian sangat seksi, atau bahkan ada yang asyik peluk cium di depan umum. Kadang suka risih juga melihatnya. Tapi gimana lagi namanya juga kultur mereka. Paling kita palingkan wajah atau pindah tempat duduk,” begitu pengakuan Adhi Setiaji, seorang warga Indonesia yang bekerja di sebuah perusahaan telekomunikasi di Paris.
Bagi warga Perancis sendiri, bulan suci Ramadhan juga identik dengan sup Maroko (harira) yang terkenal lezat itu. Ibaratnya barangkali seperti kanji di tempat kita yang tersedia gratis kala berbuka di hampir semua masjid dan meunasah di Aceh. Bicara masalah makanan, muslim Perancis berani tampil beda.
Jika kita berjalan agak ke timur Paris, tepatnya di Clichy-sous-Bois di sana ada restoran halal, Beurger King Muslim (BKM) namanya. BKM seakan hendak menyaingi McDonalds atau KFC-nya Amerika. Restoran yang dibuka Juli 2005 itu mengikuti sukses Mecca-Cola––menyaingi Coca Cola–– yang diluncurkan November 2002 silam. “Saking gembiranya saya sampai meneteskan air mata,” ungkap Mouna Talbi (24). Mouna yang datang bersama keluarganya menempuh jarak sejauh 90 kilometer untuk membeli burger halal ini. Wanita ini mengaku merasa nyaman berbelanja di sana. “Di restoran lain, saya sering jadi bahan tatapan asing karena berjilbab,” imbuhnya. Pegawai wanita di restoran muslim Aljazair ini juga berjilbab.
Muslimah Perancis memang dikenal sangat teguh mempertahankan jilbabnya kendati ada larangan dari pemerintah. “Jika nanti saya dapat kerja, saya akan tetap berjilbab. Namun saya yakin pasti perusahaan tak akan mengizinkan. Jadi, haruskah saya melakukan sesuatu yang bertolak belakang dengan hati nurani saya?,” tukas Sonya Benhia, mahasiswi muslim yang tinggal di dekat Paris.
“Aku melihat Islam (di Paris), meski tidak ada orang Islam di sana. Aku melihat orang Islam di Kairo, tetapi tak melihat Islam di sana”. Itulah kalimat terkenal yang dilontarkan Syekh Muhammad Abduh. Pemikir muslim dari Mesir tersebut pernah tinggal di Paris pada tahun 1884 saat mana diasingkan oleh pemerintahnya. Kini, di negara yang terkenal dengan menara Eiffel-nya itu tentu sudah jauh berbeda dengan yang dilihat Syekh Abduh dulu.
“Arus masuk Islam menjadi fenomena yang makin meluas di Perancis. Saya yakin nilai-nilai yang diserukan Islam itulah yang menjadi motif pertama kebanyakan pemeluk Islam baru di sini,” demikian dikatakan Steve Brodwer, seorang muallaf baru, seperti disitir Islamonline.
Zulkarnain Jalil, Serambinews 16 Oktober 2006
Mengintip Suasana Puasa di barak militer Austria
Austria –tetangga terdekat Jerman- boleh dijuluki sebagai Serambi Mekkahnya Eropa. Tidak percaya ? Pasalnya, Islam di Austria termasuk agama yang diakui oleh negara sejak tahun 1912. Berbeda dengan negara Eropa lainnya –katakanlah Jerman atau Perancis. Muslim Austria menurut data terbaru diperkirakan berjumlah 400.000 jiwa atau 4 persen dari 8 juta jiwa warga Austria. Populasi Islam di Austria memang terbilang kecil, tetapi lebih beruntung daripada warga muslim lain di Eropa. Hak-hak mereka dijamin oleh undang-undang.
“Adanya undang-undang yang mengatur keberadaan Islam membuat muslim di Austria mudah berintegrasi, sehingga terbangun komunikasi positif antara Islam dengan pemerintah dan organisasi sosial kemasyarakatan,” ujar Prof. Anas Shakfa, Ketua Himpunan Muslim Austria sebagaimana dikutip Islamonline. Kabar terkini menyebutkan saat ini amandemen undang-undang baru tentang pendirian sekolah untuk mendidik para calon imam/guru agama Islam sedang dalam penggodokan.
Patut diketahui di sekolah-sekolah di Austria kini juga ada mata pelajaran agama Islam. Mata pelajaran ini dimulai sejak tahun ajaran 1982/1983 silam. Karena itu pula pada tahun 1998 dibuka sebuah Akademi Agama Islam. Institusi ini tiap tahunnya menghasilkan lulusan berkualitas guna memenuhi tuntutan ketersediaan pengajar mata pelajaran agama Islam di sekolah-sekolah di Austria.
Hal menarik lainnya, saat ini pertumbuhan generasi kedua dan ketiga imigran di Autria telah memberi warna baru di barak militer. Seperti dilaporkan harian Salzburg (23/9), saat ini ada sekitar 1100 tentara beragama Islam di tubuh departemen pertahanan Austria. Disebabkan besarnya jumlah itu –setara dengan tentara yang beragama Katolik dan Evangelis- maka saat ini sedang diupayakan pengadaan ulama di lapangan bagi para tentara tersebut.
“Tentara beragama Islam disini juga diizinkan berpuasa. Bahkan makanan untuk bersahur dan berbuka juga disediakan. Ini menunjukkan respek pemerintah yang tinggi,” imbuh Prof. Anas lebih lanjut. Pada hari-hari besar Islam warga muslim di Austria juga memperoleh masa libur. Idul Adha mendapat prioritas dengan masa libur selama empat hari, sementara Idul Fitri tiga hari.
Uniknya lagi, para tentara muslim dibolehkan juga berjenggot. Hal yang sama juga berlaku bagi penganut aliran Sikh –yang dibolehkan memelihara jenggot dan sorban khas mereka.
Hal lainnya lagi, kehalalan makanan bagi tentara muslim sangatlah diperhatikan, disamping bebas dari daging babi tentunya.
Adapun para tentara yang bermarkas di pusat komando militer Wina –ibukota Austria- kini malah memiliki sebuah mushalla yang aktif digunakan untuk shalat lima waktu dan shalat Jumat. Mushalla seluas 40 meter persegi -dibuka Februari 2002- itu mampu menampung sekitar 60 jamaah. Berikut seorang imam yang bertugas memberikan bimbingan rohani bagi tentara muslim di barak militer tersebut.
"Sebelumnya para tentara muslim itu menunaikan shalat Jumat di mesjid yang terletak jauh dari markas,“ ujar Atila Külcü, salah seorang petugas mushalla. Di Austria sendiri saat ini ada lebih sekitar 100 hingga 130 mesjid besar dan kecil.
Prof. Anas Shakfa menyebutkan integrasi muslim di Austria bisa menjadi model sukses bagi negara Eropa lainnya.
"Atmosfir di Austria kini sangat menyenangkan dan kami berharap tentu saja hal ini menjadi contoh teladan bagi tetangga kami yang lain,“ujar pria kelahiran Syiria ini lebih lanjut dalam satu wawancara dengan dengan televisi Jerman ARD stasiun transmisi Wina. Maka tak heran pula jika Prof. Bernard Lewis, pakar Timur Tengah pada Universitas Princeton, AS sampai mengatakan bahwa Eropa akan makin Islami di penghujung abad ke-21. Wallahu'alam bisshawab. (Zulkarnain Jalil, dari Jerman, Serambinews 21.10.2006)
Austria –tetangga terdekat Jerman- boleh dijuluki sebagai Serambi Mekkahnya Eropa. Tidak percaya ? Pasalnya, Islam di Austria termasuk agama yang diakui oleh negara sejak tahun 1912. Berbeda dengan negara Eropa lainnya –katakanlah Jerman atau Perancis. Muslim Austria menurut data terbaru diperkirakan berjumlah 400.000 jiwa atau 4 persen dari 8 juta jiwa warga Austria. Populasi Islam di Austria memang terbilang kecil, tetapi lebih beruntung daripada warga muslim lain di Eropa. Hak-hak mereka dijamin oleh undang-undang.
“Adanya undang-undang yang mengatur keberadaan Islam membuat muslim di Austria mudah berintegrasi, sehingga terbangun komunikasi positif antara Islam dengan pemerintah dan organisasi sosial kemasyarakatan,” ujar Prof. Anas Shakfa, Ketua Himpunan Muslim Austria sebagaimana dikutip Islamonline. Kabar terkini menyebutkan saat ini amandemen undang-undang baru tentang pendirian sekolah untuk mendidik para calon imam/guru agama Islam sedang dalam penggodokan.
Patut diketahui di sekolah-sekolah di Austria kini juga ada mata pelajaran agama Islam. Mata pelajaran ini dimulai sejak tahun ajaran 1982/1983 silam. Karena itu pula pada tahun 1998 dibuka sebuah Akademi Agama Islam. Institusi ini tiap tahunnya menghasilkan lulusan berkualitas guna memenuhi tuntutan ketersediaan pengajar mata pelajaran agama Islam di sekolah-sekolah di Austria.
Hal menarik lainnya, saat ini pertumbuhan generasi kedua dan ketiga imigran di Autria telah memberi warna baru di barak militer. Seperti dilaporkan harian Salzburg (23/9), saat ini ada sekitar 1100 tentara beragama Islam di tubuh departemen pertahanan Austria. Disebabkan besarnya jumlah itu –setara dengan tentara yang beragama Katolik dan Evangelis- maka saat ini sedang diupayakan pengadaan ulama di lapangan bagi para tentara tersebut.
“Tentara beragama Islam disini juga diizinkan berpuasa. Bahkan makanan untuk bersahur dan berbuka juga disediakan. Ini menunjukkan respek pemerintah yang tinggi,” imbuh Prof. Anas lebih lanjut. Pada hari-hari besar Islam warga muslim di Austria juga memperoleh masa libur. Idul Adha mendapat prioritas dengan masa libur selama empat hari, sementara Idul Fitri tiga hari.
Uniknya lagi, para tentara muslim dibolehkan juga berjenggot. Hal yang sama juga berlaku bagi penganut aliran Sikh –yang dibolehkan memelihara jenggot dan sorban khas mereka.
Hal lainnya lagi, kehalalan makanan bagi tentara muslim sangatlah diperhatikan, disamping bebas dari daging babi tentunya.
Adapun para tentara yang bermarkas di pusat komando militer Wina –ibukota Austria- kini malah memiliki sebuah mushalla yang aktif digunakan untuk shalat lima waktu dan shalat Jumat. Mushalla seluas 40 meter persegi -dibuka Februari 2002- itu mampu menampung sekitar 60 jamaah. Berikut seorang imam yang bertugas memberikan bimbingan rohani bagi tentara muslim di barak militer tersebut.
"Sebelumnya para tentara muslim itu menunaikan shalat Jumat di mesjid yang terletak jauh dari markas,“ ujar Atila Külcü, salah seorang petugas mushalla. Di Austria sendiri saat ini ada lebih sekitar 100 hingga 130 mesjid besar dan kecil.
Prof. Anas Shakfa menyebutkan integrasi muslim di Austria bisa menjadi model sukses bagi negara Eropa lainnya.
"Atmosfir di Austria kini sangat menyenangkan dan kami berharap tentu saja hal ini menjadi contoh teladan bagi tetangga kami yang lain,“ujar pria kelahiran Syiria ini lebih lanjut dalam satu wawancara dengan dengan televisi Jerman ARD stasiun transmisi Wina. Maka tak heran pula jika Prof. Bernard Lewis, pakar Timur Tengah pada Universitas Princeton, AS sampai mengatakan bahwa Eropa akan makin Islami di penghujung abad ke-21. Wallahu'alam bisshawab. (Zulkarnain Jalil, dari Jerman, Serambinews 21.10.2006)
Subscribe to:
Comments (Atom)