Saturday, January 05, 2008

Tawa di Tengah Musibah

(Refleksi Perayaan Tahun Baru Masehi)

Oleh; Dr. H. Mustanir Yahya, M.Sc

Ketua Ikatan Da’i Indonesia (IKADI) Propinsi NAD

Perayaan malam tahun baru 2008 Masehi telah sama-sama kita saksikan. Kenyataan bahwa prosesi malam tahun baru di tanah Seramoe Mekkah semakin hari semakin meriah tak dapat dipungkiri. Kabarnya jalan-jalan utama di Banda Aceh macet berat, terompet dan kembang api dijual bebas sehingga menambah hingar-bingarnya ritual malam tahun baru tersebut. Dentuman keras dari kembang api tidak hanya terdengar di pusat kota, akan tetapi juga terdengar di berbagai pelosok kampung di tanah bekas tsunami ini. Belum lagi, terbetik kabar bahwa beberapa hotel dan tempat hiburan juga menyelenggarakan even khusus menyambut malam tahun baru.

Hal itu bisa dikatakan cukup tragis. Betapa tidak, kondisi hiruk-pikuk tersebut berlangsung persis di tengah-tengah berbagai musibah yang melanda tanah air. Bahkan di tengah kondisi ekonomi yang sedang sulit. Kita juga terkesima dengan berita habisnya tiket Banda Aceh-Kuala Lumpur karena warga Aceh liburan tahun baru di Malaysia (Serambi, 29/12). Padahal angka kemiskinan di Aceh kabarnya mencapai angka 50%.

Adapun taushiyah MPU NAD Nomor 451.48/2080 (Serambi, 30/12) dan himbauan beberapa lembaga lain terkesan hanya berlalu begitu saja ibarat halo-halo mobil SATPOL PP meneriaki sapi di jalan-jalan dalam kota. Petugasnya sampai berbuih-berbusa mulut tapi gerombolan sapi tak bergeming. Luar biasa memang cara kita merayakan Tahun Baru Masehi. Kalau diresapi sepintas gambaran suasana malam tahun baru di atas maka hal tersebut tak jauh dari refleksi pemahaman dan pengamalan Islam masyarakat Aceh.

Pertama; Ikut-ikutan. Setelah shalat isya di masjid, tetangga saya pamit dengan alibi ingin membawa anak-anak untuk melihat-melihat bagaimana kondisi di pusat kota Banda Aceh. Jangan-jangan banyak anak muda yang berprilaku tidak benar, ujarnya. Saya yakin ada banyak orang yang berfikir mirip seperti tetangga saya, sehingga jalan-jalan di kota macet disesaki orang-orang yang semula hasratnya hanya ingin memantau tapi jadinya saling tonton. Penonton menonton penonton. Bisa dibayangkan bahwa sesampai di kota, anaknya akan minta dibelikan terompet dan kembang api. Mereka merengek menunggu jam tengah malam dengan terus berputar-putar mengitari jalan-jalan yang berujung dengan terjadinya keramaian dan kemacetan.

Secara tidak langsung terjadilah aneka pemoborosan. Pemborosan BBM, membeli suatu barang yang tidak perlu, dan membuang-buang waktu. Tentu hal ini sangat jauh dari keinginan untuk mengambil hikmah peringatan tahun baru. Padahal tak kurang dari 2 jutaan masyarakat Aceh yang dikatagorikan miskin hari ini sangat butuh bantuan kita. Selain itu ada ribuan korban banjir, tanah longsor, puting beliung dan gempa bumi juga menunggu uluran belas kita. Tradisi ikut-ikutan ini adalah buah dari kurang utuhnya pemahaman ke-Islaman itu sendiri.

Kedua; Rendahnya perhatian penguasa. Memang sulit dibayangkan kalau semua hal harus diurus gubernur. Di sisi lain kita musti angkat jempol dengan sifat tegas yang dimiliki seorang Irwandi Yusuf. Jadi, sepatah kata saja dari sosok Irwandi yang dikenal sangat tegas, akan sangat bermakna bagi masyarakat Aceh hari ini. Apalagi kalau instruksi gubernur tersebut kemudian “diamankan” oleh polisi yang memang bertugas menjaga ketentraman masyarakat. Hal ini dikuatkan lagi dengan kondisi saat ini bahwa korps polisi Aceh dipimpin figur Kapolda putra Aceh yang mewarisi darah seorang ulama besar. Artinya beliau sangat faham dengan adat istiadat Aceh. Beliau juga pasti orang yang paling depan untuk pasang badan bila ada yang mencoba mengikis budaya bangsa Aceh. Konon lagi hal-hal yang menyerempet wilayah aqidah.

Hal yang perlu diyakini lagi adalah bahwa tradisi perayaan tahun baru masehi ini “dimunculkan” sebagai upaya penumbuhan budaya baru. Tentu sangat sulit bagi kita dalam era keterbukaan saat ini untuk tidak terseret arus dunia. Namun saya sangat yakin bahwa kepemimpinan yang kuat (strong leadership) akan merupakan tameng kokoh bagi masyarakatnya terhadap upaya perusakan dari luar. Kasih sayang adalah kuncinya. Jika penguasa punya rasa sayang kepada umatnya, maka ia tentu tidak ingin membiarkan sedikitpun kaumnya terjerumus. Apalagi dengan kesadaran bahwa jabatan yang kita emban hari ini adalah amanah. Sehingga kalau kemudian kita melakukan pembiaran terhadap peluang terjadinya perzinahan, mabuk, dan berbagai bentuk maksiat lainnya, maka hal itu bermakna kita telah menantang Sang Pencipta. Tentu tingginya perhatian kita terhadap penegakan syariat Islam ini tidak langsung mendapatkan benefit sebagaimana tingginya concerns kita terhadap illegal logging yang langsung dapat dikonversi dengan dolar oleh negara-negara donor karena Nanggroe Aceh ini adalah bagian dari paru-paru dunia. Namun sekali lagi, kecintaan kita terhadap ajaran Tuhan pasti akan lebih menguatkan cinta-Nya Tuhan kepada kita.

Ketiga; Hilangnya jati diri Islam sebagai way of life (cara hidup). Seiring perjalanan zaman, ajaran Islam sering hanya sebatas ungkapan yang indah didengar. Seperti halnya pelaksanaan Islam secara kaffah kini menjadi jargon yang cukup laku dijual. Namun saat berbicara tahun baru kita lebih memilih Masehi daripada Hijriah, paling tidak dari perayaan tahunnya. Ini adalah gambaran dari pribadi kita yang malu atau tidak bangga dengan milik sendiri. Bahkan lebih parah lagi sebagian kita malah merasa inferior dengan Islam. Na’uzubillahi minzalik! Akibat lemahnya jati diri ini, umat Islam sering menjadi korban iklan. Sudah menjadi rahasia umum bahwa dibalik budaya baru biasanya ada skenario pihak ghairu Islam. Upaya imperialisme melalui marketing produk tertentu baik itu hotel, jasa entertainment, kembang api, lilin, atau bahkan kondom secara perlahan kini mulai menembus dinding syariat. Bagi kaum imperialis yang penting bagaimana mengeruk untung. Sama halnya kaitannya dengan perayaan lain, semisal valentine day (hari kasih sayang) dengan perusahaan coklat. Menurut catatan, lebih dari 30% hasil penjualan setahun coklat terjadi pada satu hari yaitu valentine day.

Dalam pertimbangan apapun merayakan malam tahun baru masehi tidak dibenarkan untuk kita yang mengakui diri kita sebagai ummat Islam. Prilaku berhura-hura di tengah-tengah penderitaan saudara-saudara kita saat ini, baik yang sedang ditimpa musibah atau mereka yang hidup dalam kemiskinan, sangat tidak bisa ditolerir. Adalah tanggung jawab penguasa untuk menjaga nilai dan norma dalam masyarakat. Wallahu ‘alam bisshawab.

Muhammad Ali Shilhavy, Legenda Muslim Republik Ceko

Akhir tahun 2007 terasa manis bagi warga Republik Ceko. Betapa tidak, mulai 2008 mereka sudah bisa mengadakan perjalanan tanpa paspor di seluruh kawasan Uni Eropa. Pasalnya Ceko baru saja masuk sebagai salah satu dari 24 negara di kawasan yang memiliki kesepakatan Schengen yang bebas visa. Kegembiraan lain, khususnya bagi muslim di Ceko, mereka seakan membuka kembali halaman sejarah Islam di Republik Ceko. Karena Nopember 2007 lalu bertepatan dengan peringatan ulang tahun ke-90 salah satu peletak dasar-dasar Islam di negara yang dulunya menganut paham komunis. Itulah dia Muhammad Ali Shilhavy.

“Bagi Muslim Ceko, Shilhavy ibarat jembatan yang menghubungkan antara dua zaman berbeda,” tutur Munib Al-Rawi, Direktur Otoritas Wakaf Islam di Republik Ceko.
“Ia telah mengambil peran dan tanggung jawab dalam mendokumentasikan kehadiran Muslim di Cekoslowakia sejak Perang Dunia II,” imbuh Al-Rawi. Shilhavy sendiri lahir 17 Nopember 1917 di sebuah desa di pinggiran kota Trebic.

Sebagaimana diceritakan Islamonline, persinggungan pertama Shilhavy dengan Islam adalah saat ia masih duduk di sekolah menengah. “Entah bagaimana, di sebuah perpustakaan saya sangat tertarik dengan Al-Quran yang diterjemahkan dalam bahasa Ceko,” kisah Shilhavy dalam sebuah wawancara tentang sejarah keislamannya.

Shihavy muda tampak sangat antusias dan tanpa pikir panjang iapun meminjam Al-Quran tersebut. Staf perpustakaan heran. “Petugas perpustakaan kala itu menyangka saya telah salah pilih buku. Ia, seperti kebanyakan nonmuslim lainnya, saat itu tidak tahu apa-apa tentang Islam dan Muslim,” ujarnya mengenang sembari tertawa.

Masuk Islam
Saat itu tahun 1934, Shilhavy masih berusia 17 tahun. Ia mengaku merasakan daya tarik yang sangat kuat akan agama yang baru dikenalnya itu. Kebetulan tahun itu berdiri organisasi Al-Gamaa al-Islamiya yang di kemudian hari berperan besar dalam sejarah hidupnya. Shilhavy makin dekat dengan kelompok Islam itu hingga akhirnya ia bersyahadat tahun 1937 di saat berumur 20 tahun serta mengganti namanya menjadi Muhammad Ali Shilhavy.

Setahun kemudian ia mengadakan lawatan ke Mesir guna belajar Islam di Universitas Al-Azhar, salah satu universitas bergengsi di dunia Islam. Ia tercatat sebagai muslim Ceko pertama yang belajar di salah satu universitas Islam tertua di dunia itu.

Namun Shilhavy tak lama berada disana. Pasalnya tahun 1938 pasukan Nazi menguasai Cekoslowakia. Karena khawatir akan keluarganya ia lalu pulang kampung. Oleh pasukan Jerman yang berkuasa kala itu, ia tak diizinkan untuk kembali lagi ke Mesir. Minatnya menuntut ilmu tak luntur. Akhirnya Shilhavy memilih melanjutkan sekolah di kotanya yakni di Universitas Brno dan mengambil jurusan Kimia.

Kendati hidup di tengah-tengah paham komunis, Shilhavy tetap berani menunjukkan identitas muslimnya. Kedua putrinya juga dididik dengan nilai-nilai Islam dan bahkan menjadi teladan bagi muslim lainnya di sana. Rumahnya disulap bak sebuah mesjid kecil. Di ruang keluarga ada mimbar, sajadah dan mushaf Al-Quran.

Mendirikan mesjid
Shilhavy, bagi minoritas muslim di Republik Ceska, pantas dianggap sebagai bagian halaman sejarah emas di sana. Ucapan terima kasih memang patut ditujukan pada pria lansia atas kontribusinya yang besar kepada Islam. Ialah yang memperjuangkan agar Islam diakui negara. Shilhavy getol menulis surat. Misalnya tahun 1990 ia menyurati pemerintah komunis Cekoslowakia agar mengakui Islam di negara yang bertetanggaan dengan Austria dan Jerman itu.

Tahun 1991 ia secara berani menghidupkan kembali organisasi Al-Gamaa al-Islamiya di Cekoslowakia. Bahkan tahun 1992, ia dipercaya menjadi Ketua Persatuan Islam (Islamic Union) di Praha, ibukota Republik Ceko. Pekerjaan pertamanya adalah mereformasi Persatuan Islam menyusul jatuhnya rezim komunis yang kemudian diikuti terbentuknya dua negara, Republik Ceko dan Slowakia pada Januari 1993. Sejak runtuhnya tirai besi komunisme, masyarakat Ceko memperlihatkan pengaruh yang sangat tinggi akan budaya-budaya lain. Kini turis-turis dari Barat pada berdatangan ke Praha. Pelajar dari berbagai negara juga tak ketinggalan menuntut ilmu di sana. Bahkan para pengungsi dan penerima suaka, terutama dari negara-negara Islam, juga memberi warna baru terutama bagi perkembangan Islam.

Shilhavy melobi pemerintah guna mendapat ijin bagi pembangunan mesjid di sana. Usahanya tak sia-sia. Mesjid pertama di kota Brno, kota kedua terbesar di negara beribukota Praha itu, berhasil didirikan. Mesjid yang dibuka 1998 selepas beberapa kampanye Shilhavy, yang berdiri dengan kuat menghadapi politisi sayap kanan, komunis dan bahkan gerakan islamphobia setempat.

Shilhavy menerjemahkan banyak buku ke dalam bahasa Ceko termasuk dua bukunya yang sangat terkenal, Islam Between the East and the West (Islam antara Timur dan Barat) dan What is Islam (Apa itu Islam?). Muslim Ceko diperkirakan saat ini berjumlah 50 ribu jiwa. Di seluruh Ceko hanya ada dua buah mesjid, masing-masing di ibukota negara Praha dan Brno berikut beberapa ruangan yang dijadikan tempat shalat. Tahun 2004 muslim Ceko berhasil mendapatkan pengakuan resmi dari pemerintah.

“Kami punya Islamic Center di Praha, satunya lagi di Brno dan ada beberapa ruangan shalat yang tersebar di berbagai tempat. Kami punya satu organisasi Islam. Kami punya sejarah panjang di Ceko. Dulu di masa komunis, hal itu semua adalah tabu,” ujar Zuzana Masakova, salah seorang muallaf wanita, penuh semangat.

Baru-baru ini muncul inisiatif membangun mesjid di kota Teplice yang berbatasan dengan Jerman. Mesjid jadi penting di sana, agar warga muslim yang bepergian dari Jerman bisa singgah dan shalat di sini. Namun beberapa kalangan di sana menghalangi.
Syukurnya, walikota Teplice Jaroslav Kubera justru mendukung inisiatif tersebut. Menurut dia, tak ada alasan bagi dibangunnya sebuah mushalla kecil di sekitar hotel, sehingga pelancong (muslim) yang melewati perbatasan bisa melaksanakan shalat.
Muslim Ceko memang tidak sebanyak di Perancis, Jerman atau Inggris. Sedikitnya kini ada 20 ribuan warga muslim di negara yang berpenduduk 10 juta itu. Umumnya adalah imigran dari negara-negara muslim. Tapi kita akan temukan juga ratusan warga Ceko yang telah memeluk Islam. Semoga Islam makin bersinar di sana. (zulkarnain jalil)

Pengalaman jamaah haji Rumania

Muallaf Rumania mereguk kenikmatan dalam Islam selepas pencarian spiritual yang panjang di tanah suci Mekkah. Beberapa dari mereka mengaku mendapatkan kedamaian hati yang tiada tara selepas melaksanakan ibadah haji.

“Bagi saya, haji adalah pengalaman rohani terindah yang pernah saya rasakan dalam hidup. Saya bersyukur bisa kesana. Nikmat sekali mendengarkan bacaan ayat-ayat suci AlQuran di Mekkah,” ujar Istan Liliana yang masuk Islam pertengahan 2005 silam seperti dikutip islamonline.

“Saya memang telah lama menunggu kesempatan untuk bisa ziarah ke tanah suci guna mendapatkan kedamaian hati dan pikiran,” ujar muallaf yang tinggal di kota Costanta, sebuah kota keresidenan di Tenggara Rumania, tempat mayoritas muslim di Rumania (sekitar 85 persen) bermukim.

“Kebahagiaan yang saya peroleh ini bisa sebagai kompensasi untuk beberapa kesukaran yang saya alami selepas memeluk Islam,” tutur muslimah yang menghadapi banyak tantangan, baik dari keluarga maupun masyarakat selepas memeluk Islam. Misalnya, ia kehilangan pekerjaannya persis selepas mengenakan jilbab. Lalu diacuhkan oleh keluarga dan teman-temannya karena perubahan keyakinannya itu. Akan tetapi ia tetap tegar menghadapinya seraya berdoa keluarga dan para sahabatnya mendapatkan hidayah satu ketika nanti.

Liliana tahun 2006 lalu berangkat bersama 320 jamaah haji lainnya yang didominasi oleh kaum muda. Menurut catatan, jamaah haji Rumania 2006 silam merupakan yang terbesar, terutama setelah bubarnya komunis di sana 1989. Haji tahun 2005 diikuti oleh 180 jamaah.

Mimpi yang jadi kenyataan

Mihaj Brescaro, salah seorang muallaf lainnya, melihat ibadah haji merupakan amalan yang sangat utama, terutama baginya yang baru menemukan kehidupan baru dalam Islam.

“Layaknya mimpi yang jadi kenyataan,” ujar Brescaro. Pemuda berusia 22 tahun itu masuk Islam tahun 2004 silam setuju dengan pernyataan Liliana bahwa haji merupakan ibadah yang sangat mengesankan. Brescaro, yang pertamakali mengenal Islam saat jadi mahasiswa di sebuah universitas di Belgia, juga mengaku kala itu sangat menunggu-nunggu kesempatan ke Mekkah guna menunaikan Rukun Islam kelima.

Sejumlah jamaah haji Rumania yang berangkat tahun lalu adalah pemenang lomba kuis tahunan yang diselenggarakan oleh yayasan Tiba International. Yayasan Tiba International merupakan salah satu organisasi nirlaba milik imigran muslim yang bermarkas di kota Constanta.

Ada 20 pemuda yang mendapatkan hadiah haji tahun lalu,” ujar Kareem Anjin, penanggungjawab yayasan tersebut. Kareem juga menyebutkan isi pertanyaan kuis adalah seputar haji dan shalat. Pertanyaannya merujuk pada referensi empat buah buku tentang dasar-dasar Islam yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Rumania.

"Dari 20 pemenang 10 diantaranya memenangkan paket hadiah yang ditawarkan oleh kerajaan Arab Saudi," imbuh Kareem. Dikatakannya, subsidi atau hadiah haji tahun kemarin adalah yang pertamakali diadakan bagi umat Islam di negeri yang dulu menganut paham komunis itu.

"Adapun untuk perjalanan haji regular, biayanya 1700 Euro (sekitar 23 jura Rupiah-red) per jiwa," ungkap Kareem. Ditambahkan, yayasannya juga mencetak lebih dari 1000 eksemplar buletin berisi penjelasan tentang sejarah, tatacara dan kumpulan doa haji. Buletin setebal 48 halaman dan ditulis dalam bahasa Rumania itu tidak saja diperuntukkan bagi jamaah haji, namun juga dibagikan ke seluruh mesjid yang ada di Rumania. Bahkan, masih menurut Kareem Anjin, yayasannya juga menawarkan kuliah agama seputar haji serta menyelenggarakan manasik haji.

Tiba International memang sudah sangat dikenal di Rumania. Tahun 2005 silam, misalnya, mereka sukses menyelenggarakan Konferensi Internasional Islam yang berhasil mempertemukan pemuka-pemuka Muslim dari 40 negara se-Eropa. Mereka juga menerjemahkan banyak buku-buku Islam ke dalam bahasa Rumania. Baru-baru ini bahkan sukses menerbitkan sebuah majalah bagi umat Islam di sana, yakni Islam Today.

Jika lomba kuis diperuntukkan terutama bagi kawula muda maka bagi kaum tua yayasan menyelenggarakan musabaqah hafiz Quran.

"Ada seorang muslimah berusia 60 tahun yang menang musabaqah hafal Al-Quran tahun lalu dan mendapat hadiah haji," tutur Kareem menambahkan. Menariknya, bagi yang tidak menang lomba namun memiliki minat untuk berhaji, mereka membantu dengan memberikan potongan biaya haji. Potongan itu, tentu saja, diperuntukkan hanya bagi muslim yang menghadapi kendala keuangan.

Sedikitnya saat ini ada 70 ribu umat Islam bermukim di Rumania. Kebanyakan dari mereka berasal dari Turki dan Albania. Jumlah itu berarti 2 persen dari total penduduknya yang berjumlah 22 juta jiwa. Jumlah mesjid ada sekitar 80 buah.

Islam di Rumania sebenarnya telah dikenal sejak lama. Catatan Wikipedia, tradisi Islam telah ada sejak 700 tahun silam yang masuk melalui kawasan Dobruja, berdekatan dengan Laut Hitam. Daerah itu dulunya adalah bekas kekuasaan Khalifah Usmaniyah yang berkuasa selama lebih dari lima abad (1420-1878). Kini cahaya yang telah lama redup itu datang kembali. (zulkarnain jalil)