Dan, mimpi bangsa Afrika pun terwujud
Acara pembukaan yang diawali musik dan tari-tarian mewarnai Stadion Soccer City , Johannesburg tadi malam berlangsung memukau. Sayangnya, aneka atraksi pembukaan Piala Dunia 2010 yang ditonton jutaan pasang mata itu tak dihadiri oleh Nelson Mandela. Tokoh kharismatik Afsel itu tengah berduka usai tewasnya sang cicit Zenani Mandela dalam satu kecelakaan tragis Kamis kemarin. Acara pembukaan secara resmi pun hanya berlangsung dalam 30 menit yang berisi pagelaran musik dan tarian. Tak ada pidato yang panjang-panjang dan membosankan.
"Mimpi itu akhirnya terwujud hari ini," ujar bos FIFA Sepp Blatter penuh rasa bangga. Mimpi yang dimaksud adalah bahwa bangsa Afsel mampu menggelar even akbar sejagad itu. Akhirnya, Presiden Afsel Jacob Zuma tampil ke depan dan membuka secara resmi perhelatan empat tahunan tersebut. "Ini adalah Piala Dunia bagi seluruh rakyat benua Afrika," demikian Zuma dalam kata pembukanya.
Setelahnya, pertandingan perdana pun dimulai. Pertandingan Afsel vs Meksiko tadi malam mungkin adalah yang paling bising sepanjang sejarah pembukaan Piala Dunia. Betapa tidak, suara aneh mirip dengungan ribuan tawon yang sedang beterbangan terdengar sepanjang pertandingan. Sangat memekakkan telinga.
Ya itulah suara tiupan Vuvuzela, terompet plastik khas rakyat Afsel yang ditiup dengan memanfaatkan getaran bibir. Gabungan ribuan vuvuzela terdengar memekakkan telinga.
Sepanjang hari Jumat kemarin, suara vuvuzela juga membahana di sepanjang ruas jalan menuju stadion dan kawasan nobar yang tersebar di beberapa titik. Fans terlihat lumayan tertib. Bus dan kereta api cepat bagai tak henti, pulang pergi membawa para maniak bola. Kemacetan tidak begitu terlihat. Karena kebanyakan penonton memilih menggunakan transportasi umum ketimbang kenderaan pribadi. Beberapa helikopter terlihat meraung-raung di angkasa memantau keadaan.
Shalat Jumat dekat stadion
Hal menarik lainnya, khusus fans yang beragama Islam, juga mendapat servis memuaskan dari komunitas muslim setempat. Konon lagi kemarin bertepatan dengan hari Jumat. Komunitas muslim Johannesburg telah menyebarkan informasi via situs mereka samuslims2010.net, mengenai posisi mesjid dan mushalla yang berdekatan dengan lokasi stadion dan arena nobar untuk shalat Jumat.
“Saran kami tunaikan shalat Jumat terlebih dahulu, baru ke stadion. Tempat shalat lumayan luas dan dimulai tepat waktu. Di dalam stadion tidak ada fasilitas ruang shalat,” tukas Mohammed Haffejee, seorang muslim setempat yang menjadi panitia bagian keamanan.
Temapt shalat Jumat yang paling dekat dengan stadion, seperti tertera di situs, diadakan di musalla Corobrik, Mushalla yang terletak di Nasrec Road 85 adalah sebuah bangunan sederhana berdampingan dengan area parkir Shareworld Parking. Jaraknya sekitar 2 kilometer ke Stadion Soccer City . Karena fasilitas wudhu yang terbatas, jamaah diminta membawa botol berisi air masing-masing untuk keperluan wudhu. Begitulah. Bangsa Afsel berdiri tegak penuh rasa bangga. Waka Waka ! Saatnya untuk Afrika!
Friday, June 11, 2010
Thursday, June 10, 2010
Ke Nako! Johannesburg siap gelar pesta
Ke Nako! Waktunya telah tiba!. Istilah dalam bahasa Zulu ini, bahasa utama warga Afsel, terpampang di spanduk-spanduk raksasa di sepanjang jalan raya kota Johannesburg. Aroma Piala Dunia kini terasa begitu menyengat di kota Johannesburg. Bendera 32 kontestan berkibar di setiap ruas jalan. Tentu saja lebih didominasi oleh warna kuning, warna seragam timnas Afsel. Mobil-mobil berseleweran dengan bendera nasional Afsel. Bendera Afsel juga melambai-lambai di pertokoan, rumah-rumah penduduk yang sudah didekorasi sedemikian rupa. Suara vuvuzela, terompet khas Afsel, terdengar memekakkan telinga. Radio dan televisi saban hari terus menyiarkan musik-musik khas Afsel. Juga iklan-iklan Piala Dunia.
Pemerintah kota Joburg –sebutan untuk Johannesburg- menanti saat-saat jelang pembukaan dengan hati ketar-ketir. Terutama berkaitan dengan transportasi dan kemacetan. Patut diingat, di hari-hari biasa, kemacetan adalah pemandangan umum di Joburg. Pejabat bidang transportasi Propinsi Gauteng, Bheki Nkosi, telah mewanti-wanti para fans bola untuk hadir lebih awal ke stadion agar tak berimbas pada kemacetan.
"Hari Jumat akan ada pengerahan massa besar-besaran. Karena itu kami harapkan penonton untuk berangkat lebih awal, baik ke stadion maupun ke area nonton bareng. Ini untuk menghindari munculnya kemacetan yang parah," pesan Nkosi dalam selebaran yang disebar ke seluruh pojok kota.
Sebanyak 19 metrorail, sejenis tram, telah disiapkan untuk hari-H. Tram ini akan melayani tiga tempat utama yakni Stadion Soccer City, tempat kumpul fans Coca Cola Park dan Loftus. Sebanyak 149 bus yang tergabung dalam Bus Rapid Transit (BRT) –sejenis bus way- juga akan melayani rute yang sama. Tak ketinggalan ratusan taksi milik swasta ikut serta menyukseskan pembukaan nanti.
Amos Masondo, Walikota Johannesburg, memberi jaminan bahwa kotanya sudah sangat siap sebagai tuan rumah, akan menjamu dan melindungi para tamunya selama perhelatan nanti.
Pedagang dilarang jualan
Harapan para pedagang musiman, asongan dan pedagang kaki lima untuk meraih sedikit keuntungan selama turnamen, tampaknya bakal gigit jari. Pasalnya, para pedagang tak resmi dilarang membuka lapak di area seperti stadion, FIFA Fan Fest, dan arena nobar resmi lainnya. Padahal disanalah maniak bola banyak berkumpul. Lalu, memasuki detik-detik akhir jelang pembukaan, di beberapa sudut kota terlihat masih berantakan akibat adanya perbaikan jalan dan infrastruktur lainnya. Masalah penjualan tiket langsung juga masih menggayut.
Namun demikian, menurut beberapa pengamat bola, untuk ukuran negeri yang masih dibelit kemiskinan, pengangguran dan masalah sosial lainnya, apa yang telah dilakukan oleh panitia setempat adalah sebuah progres yang luar biasa. Sebagai negeri yang baru lepas dari politik perbedaan warna kulit (apartheid), satu langkah besar telah mereka tancap.
Sabtu pekan lalu, sebuah parade tahunan Pale Ya Rona digelar di Soweto, kota di selatan Johannesburg. Ribuan warga bergembira bersama di karnaval sepanjang 6 kilometer itu. Warga Afsel kulit putih dan hitam terlihat akrab. Tak ada perbedaan lagi. Turis asing tak ketinggalan ikut menonton. Inilah sepakbola, menyatukan warga Afsel di tengah segala perbedaan.
Akhirnya, mari lupakan sejenak semua persoalan sehari-hari yang membelit. Selama sebulan penuh, perhatian dunia akan tertuju ke Afrika Selatan, tempat hajatan akbar Piala Dunia 2010 dihelat. Ke Nako! Saatnya telah tiba! (zulkarnain jalil)
Ke Nako! Waktunya telah tiba!. Istilah dalam bahasa Zulu ini, bahasa utama warga Afsel, terpampang di spanduk-spanduk raksasa di sepanjang jalan raya kota Johannesburg. Aroma Piala Dunia kini terasa begitu menyengat di kota Johannesburg. Bendera 32 kontestan berkibar di setiap ruas jalan. Tentu saja lebih didominasi oleh warna kuning, warna seragam timnas Afsel. Mobil-mobil berseleweran dengan bendera nasional Afsel. Bendera Afsel juga melambai-lambai di pertokoan, rumah-rumah penduduk yang sudah didekorasi sedemikian rupa. Suara vuvuzela, terompet khas Afsel, terdengar memekakkan telinga. Radio dan televisi saban hari terus menyiarkan musik-musik khas Afsel. Juga iklan-iklan Piala Dunia.
Pemerintah kota Joburg –sebutan untuk Johannesburg- menanti saat-saat jelang pembukaan dengan hati ketar-ketir. Terutama berkaitan dengan transportasi dan kemacetan. Patut diingat, di hari-hari biasa, kemacetan adalah pemandangan umum di Joburg. Pejabat bidang transportasi Propinsi Gauteng, Bheki Nkosi, telah mewanti-wanti para fans bola untuk hadir lebih awal ke stadion agar tak berimbas pada kemacetan.
"Hari Jumat akan ada pengerahan massa besar-besaran. Karena itu kami harapkan penonton untuk berangkat lebih awal, baik ke stadion maupun ke area nonton bareng. Ini untuk menghindari munculnya kemacetan yang parah," pesan Nkosi dalam selebaran yang disebar ke seluruh pojok kota.
Sebanyak 19 metrorail, sejenis tram, telah disiapkan untuk hari-H. Tram ini akan melayani tiga tempat utama yakni Stadion Soccer City, tempat kumpul fans Coca Cola Park dan Loftus. Sebanyak 149 bus yang tergabung dalam Bus Rapid Transit (BRT) –sejenis bus way- juga akan melayani rute yang sama. Tak ketinggalan ratusan taksi milik swasta ikut serta menyukseskan pembukaan nanti.
Amos Masondo, Walikota Johannesburg, memberi jaminan bahwa kotanya sudah sangat siap sebagai tuan rumah, akan menjamu dan melindungi para tamunya selama perhelatan nanti.
Pedagang dilarang jualan
Harapan para pedagang musiman, asongan dan pedagang kaki lima untuk meraih sedikit keuntungan selama turnamen, tampaknya bakal gigit jari. Pasalnya, para pedagang tak resmi dilarang membuka lapak di area seperti stadion, FIFA Fan Fest, dan arena nobar resmi lainnya. Padahal disanalah maniak bola banyak berkumpul. Lalu, memasuki detik-detik akhir jelang pembukaan, di beberapa sudut kota terlihat masih berantakan akibat adanya perbaikan jalan dan infrastruktur lainnya. Masalah penjualan tiket langsung juga masih menggayut.
Namun demikian, menurut beberapa pengamat bola, untuk ukuran negeri yang masih dibelit kemiskinan, pengangguran dan masalah sosial lainnya, apa yang telah dilakukan oleh panitia setempat adalah sebuah progres yang luar biasa. Sebagai negeri yang baru lepas dari politik perbedaan warna kulit (apartheid), satu langkah besar telah mereka tancap.
Sabtu pekan lalu, sebuah parade tahunan Pale Ya Rona digelar di Soweto, kota di selatan Johannesburg. Ribuan warga bergembira bersama di karnaval sepanjang 6 kilometer itu. Warga Afsel kulit putih dan hitam terlihat akrab. Tak ada perbedaan lagi. Turis asing tak ketinggalan ikut menonton. Inilah sepakbola, menyatukan warga Afsel di tengah segala perbedaan.
Akhirnya, mari lupakan sejenak semua persoalan sehari-hari yang membelit. Selama sebulan penuh, perhatian dunia akan tertuju ke Afrika Selatan, tempat hajatan akbar Piala Dunia 2010 dihelat. Ke Nako! Saatnya telah tiba! (zulkarnain jalil)
Wednesday, June 09, 2010
Jelang pembukaan, keamanan makin diperketat
Pembukaan Piala Dunia sudah demikian dekat, hanya hitungan jam. Panitia masih ketar ketir dengan masalah keamanan. Ya keamanan adalah tantangan terbesar selama kejuaraan Piala Dunia 2010. Afsel, tentu saja, tak mau kecolongan untuk masalah yang satu ini. Konon lagi, sejauh ini, stereotip negeri tidak aman dengan tingkat kriminalitas tinggi di dunia masih melekat kuat. Catat saja, sedikitnya 50 orang meninggal dunia akibat kasus pembunuhan dan perampokan.
Kejadian mutakhir adalah kerusuhan berdarah yang terjadi saat pertandingan persahabatan antara Nigeria melawan Korea Utara akhir pekan lalu. Pihak keamanan mulai gerah. Tak mau kecolongan lagi, mereka mulai mengerahkan seluruh aspek keamanan. Mulai dari intensitas penggunaan anjing pelacak, gas air mata, water canon hingga penggunaan helikopter.
“Laga pembuka Jumat(11/6) nanti adalah pertaruhan akan kesiapan tim keamanan,” ujar Sally de Beer, Jubir Kepolisian Afsel serius. Bahkan teknologi komunikasi dan informasi militer canggih bakal dikerahkan.
Saat ini sedikitnya ada 40 helikopter yang telah disiagakan dan melibatkan 41 ribu tim keamanan terlatih. Saking seriusnya masalah keamanan, Afsel menggelontorkan dana sekitar 665 juta rand (sekitar 790 milyar rupiah). Dana sebesar itu untuk pengadaan peralatan keamanan termasuk didalam sistem kontrol otomatis, training, pesawat udara kecil, helikompter, 10 water cannon, 100 mobil patroli dan pengadaan seragam anti peluru.
Tak hanya itu, sekitar 300 kamera bergerak sejenis CCTV juga bakal digunakan. Pekan lalu, sistem keamanan yang diberi nama Africa's Advanced Passenger Processing (APP) telah sukses diujicoba di Johannesburg. Sistem ini dipakai pertamakali di bandara internasional OR Tambo, Johannesburg untuk mendeteksi para berandal atau hooligan.
Usaha jasa keamaman bermunculan
Disisi lain, menariknya, kini malah muncul bisnis jasa keamanan khusus selama perhelatan Piala Dunia. Rupanya pihak perusahan keamanan swasta melihat itu sebagai peluang besar.
“Bisnis keamanan pribadi sangat menggiurkan dan masih terbuka banyak kesempatan kerja. Selama turnamen nanti paling sedikit dibutuhkan 5000 pengawal pribadi, yakni untuk orang-orang khusus. Kami saat ini memperkerjakan sekitar 1000 orang. Sebagian besar sudah dipesan jauh-jauh hari untuk kebutuhan selama Piala Dunia,” ungkap Andre Viljoen, Direktur SA Bodyduard, sebuah perusahaan jasa keamanan yang sudah 17 tahun berpengalaman menangani masalah keamanan. Pengguna jasa pribadi musti merogoh kocek mereka sekitar 350 euro (sekitar 4 juta rupiah) per hari.
Disamping memasok bodyguard (pengawal-red) bagi kalangan personal, perusahaan itu juga menerima pesanan untuk tim peserta kejuaraan. Namun sejauh ini belum diketahui tim mana saja yang menggunakan jasa perusahaan yang bermarkas di Graskop, Nelspruit.
Namun, kebanyakan negara peserta membawa sendiri tim keamanan dari negerinya. Misalnya tim Panser Jerman, mereka menyertakan 20 orang bodyguard yang khusus didatangkan dari negerinya. Bahkan kabarnya timnas Jerman telah menerima anjuran perusahaan keamanan agar para pemain mengenakan jaket anti peluru setiap keluar dari hotel. Baru-baru ini sebuah perusahaan jasa keamanan Inggris memasarkan jaket khusus yang anti tusukan, yang dijual untuk fans sepakbola. Sekilas hal itu sudah terlalu berlebihan. Namun, tentu saja tiap tim punya kebijakan khusus demi menjaga kenyamanan pemain mereka selama turnamen di benua hitam itu. Semoga saja kekhawatiran berlebihan itu tidak terbukti. (zulkarnain jalil)
Pembukaan Piala Dunia sudah demikian dekat, hanya hitungan jam. Panitia masih ketar ketir dengan masalah keamanan. Ya keamanan adalah tantangan terbesar selama kejuaraan Piala Dunia 2010. Afsel, tentu saja, tak mau kecolongan untuk masalah yang satu ini. Konon lagi, sejauh ini, stereotip negeri tidak aman dengan tingkat kriminalitas tinggi di dunia masih melekat kuat. Catat saja, sedikitnya 50 orang meninggal dunia akibat kasus pembunuhan dan perampokan.
Kejadian mutakhir adalah kerusuhan berdarah yang terjadi saat pertandingan persahabatan antara Nigeria melawan Korea Utara akhir pekan lalu. Pihak keamanan mulai gerah. Tak mau kecolongan lagi, mereka mulai mengerahkan seluruh aspek keamanan. Mulai dari intensitas penggunaan anjing pelacak, gas air mata, water canon hingga penggunaan helikopter.
“Laga pembuka Jumat(11/6) nanti adalah pertaruhan akan kesiapan tim keamanan,” ujar Sally de Beer, Jubir Kepolisian Afsel serius. Bahkan teknologi komunikasi dan informasi militer canggih bakal dikerahkan.
Saat ini sedikitnya ada 40 helikopter yang telah disiagakan dan melibatkan 41 ribu tim keamanan terlatih. Saking seriusnya masalah keamanan, Afsel menggelontorkan dana sekitar 665 juta rand (sekitar 790 milyar rupiah). Dana sebesar itu untuk pengadaan peralatan keamanan termasuk didalam sistem kontrol otomatis, training, pesawat udara kecil, helikompter, 10 water cannon, 100 mobil patroli dan pengadaan seragam anti peluru.
Tak hanya itu, sekitar 300 kamera bergerak sejenis CCTV juga bakal digunakan. Pekan lalu, sistem keamanan yang diberi nama Africa's Advanced Passenger Processing (APP) telah sukses diujicoba di Johannesburg. Sistem ini dipakai pertamakali di bandara internasional OR Tambo, Johannesburg untuk mendeteksi para berandal atau hooligan.
Usaha jasa keamaman bermunculan
Disisi lain, menariknya, kini malah muncul bisnis jasa keamanan khusus selama perhelatan Piala Dunia. Rupanya pihak perusahan keamanan swasta melihat itu sebagai peluang besar.
“Bisnis keamanan pribadi sangat menggiurkan dan masih terbuka banyak kesempatan kerja. Selama turnamen nanti paling sedikit dibutuhkan 5000 pengawal pribadi, yakni untuk orang-orang khusus. Kami saat ini memperkerjakan sekitar 1000 orang. Sebagian besar sudah dipesan jauh-jauh hari untuk kebutuhan selama Piala Dunia,” ungkap Andre Viljoen, Direktur SA Bodyduard, sebuah perusahaan jasa keamanan yang sudah 17 tahun berpengalaman menangani masalah keamanan. Pengguna jasa pribadi musti merogoh kocek mereka sekitar 350 euro (sekitar 4 juta rupiah) per hari.
Disamping memasok bodyguard (pengawal-red) bagi kalangan personal, perusahaan itu juga menerima pesanan untuk tim peserta kejuaraan. Namun sejauh ini belum diketahui tim mana saja yang menggunakan jasa perusahaan yang bermarkas di Graskop, Nelspruit.
Namun, kebanyakan negara peserta membawa sendiri tim keamanan dari negerinya. Misalnya tim Panser Jerman, mereka menyertakan 20 orang bodyguard yang khusus didatangkan dari negerinya. Bahkan kabarnya timnas Jerman telah menerima anjuran perusahaan keamanan agar para pemain mengenakan jaket anti peluru setiap keluar dari hotel. Baru-baru ini sebuah perusahaan jasa keamanan Inggris memasarkan jaket khusus yang anti tusukan, yang dijual untuk fans sepakbola. Sekilas hal itu sudah terlalu berlebihan. Namun, tentu saja tiap tim punya kebijakan khusus demi menjaga kenyamanan pemain mereka selama turnamen di benua hitam itu. Semoga saja kekhawatiran berlebihan itu tidak terbukti. (zulkarnain jalil)
Tuesday, June 08, 2010
Relawan kota Cape Town siap tempur
Volunteer (relawan-red) adalah bagian terpenting bagi suksesnya penyelenggaraan Piala Dunia. Cape Town yang bakal disesaki tamu dan maniak bola dilaporkan telah menyiapkan sedikitnya 1200 relawan selama Piala Dunia 2010.
"Sebagian besar relawan kami rekrut dari warga kota Cape Town sendiri. Disamping ada juga dari negara lain. Alasannya, relawan lokal tentu hafal dan paham setiap inci sudut kotanya. Ini akan memudahkan kami dalam membantu dan memandu para tamu.," ungkap Garth Kemp, penanggung jawab relawan kota Cape Town seperti dikutip BuaNews.
Para relawan yang berusia antara 18-75 tahun diseleksi secara ketat. Yang lulus seleksi mendapat pembekalan singkat meliputi tips dan trik servis bagi tamu asing, P3K, keamanan, pariwisata, transportasi, IT dan prosedur pengurusan administrasi kota. Hasil pelatihan langsung diujicoba di stadion dan area penting di pusat kota. Khalayak ramai terlihat antusias menonton atraksi sukarelawan ini.
"Mereka mulai bertugas sejak 5 Juni lalu hingga 13 Juli nanti. Masing-masing dibentuk dalam beberapa kelompok dan bahu membahu satu sama lainnya dengan koordinasi terpadu," imbuh Kemp seraya menyebut wilayah kerja relawan sebagian besar adalah kawasan stadion, arena nonton bareng, bandar udara, dan hotel tempat tim dan para tamu menginap.
Para relawan dengan berbalut seragam warna oranye akan bekerja selama 9 jam sehari dengan cara shift (bergiliran) dari pukul 8.30 pagi hingga 24.30 tengah malam. Tak hanya itu, para relawan juga akan ditempatkan di Pusat Kegiatan Olahraga dan Rekreasi setempat. Area itu bakal dijejali pengunjung, terutama anak-anak sekolah, sebab bertepatan dengan musim liburan.
"Relawan kami adalah relawan terpilih yang memiliki gairah, semangat dan antusias tinggi, juga skill sosial dan kemampuan beradaptasi secara cepat pada tiap kondisi. Mereka mampu berkomunikasi dalam beberapa bahasa, selain Inggris" terang Kemp seraya menyebut seluruh relawan telah mendapat akreditasi penuh dari FIFA.
Selama turnamen, Good Hope Centre akan jadi markas para relawan.
Beberapa relawan ditempatkan khusus untuk memasukkan data-data mutakhir ke sistem database pemerintah kota Cape Town. Hal ini akan memudahkan otoritas kota untuk mengakses segala aktifas di seluruh penjuru kota secara real time, akurat dan tepat waktu.
"Wah, senang sekali bisa ikut serta sebagai relawan di Piala Dunia kali ini. Banyak sekali hal-hal baru yang kupelajari selama pelatihan, terutama saat ujicoba di lapangan. Misalnya, bagaimana mengekspresikan diri dengan orang banyak, dari berbagai negara dan dengan kultur berbeda. Sungguh sebuah pengalaman yang mahal," tukas Joyce McGowan (21), salah seorang anggota relawan yang berasal dari kawasan Scottsdene, Cape Town Utara sumringah.
Selama turnamen Joyce dapat tugas menemani Timothy Amos, relawan lainnya, di Pusat Kegiatan Olahraga dan Rekreasi. Diperkirakan ratusan pelajar berusia 3 hingga 18 tahun bakal memenuhi arena itu selama musim liburan sekolah.
"Dibantu beberapa relawan lain, kami secara bergantian akan memandu acara khusus untuk anak-anak dan para pelajar selama liburan sekolah bulan Juni di kawasan itu," kata Timothy.
Pada Piala Dunia kali ini, hingga akhir masa pendaftaran ada sekitar 67.000 calon relawan dari 170 negara yang memasukkan lamaran mereka. Padahal untuk penyelenggaraan nanti, mengutip FIFA, dibutuhkan 15.000 relawan. Bagi Dr Danny Jordan, Ketua Panitia Piala Dunia, animo pelamar yang sedemikian tinggi sebagai bentuk apresiasi dan respon yang luar biasa dari masyarakat dunia terhadap Piala Dunia Afsel. Apakah para relawan itu mendapat bayaran? Tidak sama sekali alias gratis.
“Kita harus memberi terlebih dahulu dan jangan berharap untuk mendapatkan kembaliannya,” ujar Camila Ismail (44) diplomatis. Dia akan bertugas memandu tim Jerman. “Aku serasa seperti terbang ke bulan. Sulit dilukiskan dengan kata-kata. Begitu bahagianya. Hampir tak percaya bisa jadi salah satu diantara 15 ribu relawan,” tutur Nosisa Mbolekwa yang akan berulang tahun ke-20 persis pada Jumat, 11 Juni nanti. Begitulah, tak semua rasa bahagia bisa dinilai dengan uang semata. (zulkarnain jalil)
Volunteer (relawan-red) adalah bagian terpenting bagi suksesnya penyelenggaraan Piala Dunia. Cape Town yang bakal disesaki tamu dan maniak bola dilaporkan telah menyiapkan sedikitnya 1200 relawan selama Piala Dunia 2010.
"Sebagian besar relawan kami rekrut dari warga kota Cape Town sendiri. Disamping ada juga dari negara lain. Alasannya, relawan lokal tentu hafal dan paham setiap inci sudut kotanya. Ini akan memudahkan kami dalam membantu dan memandu para tamu.," ungkap Garth Kemp, penanggung jawab relawan kota Cape Town seperti dikutip BuaNews.
Para relawan yang berusia antara 18-75 tahun diseleksi secara ketat. Yang lulus seleksi mendapat pembekalan singkat meliputi tips dan trik servis bagi tamu asing, P3K, keamanan, pariwisata, transportasi, IT dan prosedur pengurusan administrasi kota. Hasil pelatihan langsung diujicoba di stadion dan area penting di pusat kota. Khalayak ramai terlihat antusias menonton atraksi sukarelawan ini.
"Mereka mulai bertugas sejak 5 Juni lalu hingga 13 Juli nanti. Masing-masing dibentuk dalam beberapa kelompok dan bahu membahu satu sama lainnya dengan koordinasi terpadu," imbuh Kemp seraya menyebut wilayah kerja relawan sebagian besar adalah kawasan stadion, arena nonton bareng, bandar udara, dan hotel tempat tim dan para tamu menginap.
Para relawan dengan berbalut seragam warna oranye akan bekerja selama 9 jam sehari dengan cara shift (bergiliran) dari pukul 8.30 pagi hingga 24.30 tengah malam. Tak hanya itu, para relawan juga akan ditempatkan di Pusat Kegiatan Olahraga dan Rekreasi setempat. Area itu bakal dijejali pengunjung, terutama anak-anak sekolah, sebab bertepatan dengan musim liburan.
"Relawan kami adalah relawan terpilih yang memiliki gairah, semangat dan antusias tinggi, juga skill sosial dan kemampuan beradaptasi secara cepat pada tiap kondisi. Mereka mampu berkomunikasi dalam beberapa bahasa, selain Inggris" terang Kemp seraya menyebut seluruh relawan telah mendapat akreditasi penuh dari FIFA.
Selama turnamen, Good Hope Centre akan jadi markas para relawan.
Beberapa relawan ditempatkan khusus untuk memasukkan data-data mutakhir ke sistem database pemerintah kota Cape Town. Hal ini akan memudahkan otoritas kota untuk mengakses segala aktifas di seluruh penjuru kota secara real time, akurat dan tepat waktu.
"Wah, senang sekali bisa ikut serta sebagai relawan di Piala Dunia kali ini. Banyak sekali hal-hal baru yang kupelajari selama pelatihan, terutama saat ujicoba di lapangan. Misalnya, bagaimana mengekspresikan diri dengan orang banyak, dari berbagai negara dan dengan kultur berbeda. Sungguh sebuah pengalaman yang mahal," tukas Joyce McGowan (21), salah seorang anggota relawan yang berasal dari kawasan Scottsdene, Cape Town Utara sumringah.
Selama turnamen Joyce dapat tugas menemani Timothy Amos, relawan lainnya, di Pusat Kegiatan Olahraga dan Rekreasi. Diperkirakan ratusan pelajar berusia 3 hingga 18 tahun bakal memenuhi arena itu selama musim liburan sekolah.
"Dibantu beberapa relawan lain, kami secara bergantian akan memandu acara khusus untuk anak-anak dan para pelajar selama liburan sekolah bulan Juni di kawasan itu," kata Timothy.
Pada Piala Dunia kali ini, hingga akhir masa pendaftaran ada sekitar 67.000 calon relawan dari 170 negara yang memasukkan lamaran mereka. Padahal untuk penyelenggaraan nanti, mengutip FIFA, dibutuhkan 15.000 relawan. Bagi Dr Danny Jordan, Ketua Panitia Piala Dunia, animo pelamar yang sedemikian tinggi sebagai bentuk apresiasi dan respon yang luar biasa dari masyarakat dunia terhadap Piala Dunia Afsel. Apakah para relawan itu mendapat bayaran? Tidak sama sekali alias gratis.
“Kita harus memberi terlebih dahulu dan jangan berharap untuk mendapatkan kembaliannya,” ujar Camila Ismail (44) diplomatis. Dia akan bertugas memandu tim Jerman. “Aku serasa seperti terbang ke bulan. Sulit dilukiskan dengan kata-kata. Begitu bahagianya. Hampir tak percaya bisa jadi salah satu diantara 15 ribu relawan,” tutur Nosisa Mbolekwa yang akan berulang tahun ke-20 persis pada Jumat, 11 Juni nanti. Begitulah, tak semua rasa bahagia bisa dinilai dengan uang semata. (zulkarnain jalil)
Monday, June 07, 2010
Blatter serahkan trofi Piala Dunia ke Pemerintah Afsel
Presiden FIFA Sepp Blatter secara resmi menyerahkan trofi Piala Dunia kepada pemerintah Afsel Jumat (4/6) pekan lalu di Pretoria . Dalam kesempatan itu, Blatter menyatakan apresiasi tingginya kepada rakyat dan pemerintah Afsel atas persiapan, keramahan dan segala sesuatu yang membuat para tamu betah berada disana. Seperti disitir Buanews, Blatter dalam sambutannya secara khusus menyelipkan penghargaan bagi mantan Presiden Nelson Mandela atas perannya dalam membangun demokrasi dan stabilitas politik di Afsel.
"Saya menyampaikan penghargaan yang tinggi bagi pemerintah Afsel karena tanpa kerjasama dan dukungan mereka tak mungkin even sekaliber ini bisa berlangsung. Khususnya bagi rakyat Afsel, saya mengucapkan terima kasih tak berhingga atas semangat menggelora yang mereka tunjukkan bagi suksesnya Piala Dunia," ucap Blatter sesaat setelah menyerahkan trofi Piala Dunia kepada pihak pemerintah yang diterima oleh Wakil Presiden, Kgalema Motlanthe. Selanjutnya trofi seberat 6,17 kg dan bakal diperebutkan oleh 32 kontestan Piala Dunia dipajang di Soweto, Johanesburg sembari menanti hari pembukaan yang akan berlangsung di Stadion Soccer City pada 11 Juni.
Pegawai istana antusias
Para pegawai di Istana Wapres tampak sangat bersemangat ingin melihat dari dekat piala penuh legenda itu. Mereka berkerumun di dekat trofi itu. Blatter tampak tersenyum maklum seraya memberi ruang lebih luas bagi mereka untuk mendekat. "Tapi mohon jangan disentuh," pinta Blatter khawatir piala itu jatuh.
Wapres Motlanthe, ditemani beberapa menteri negara, mengatakan pemerintah telah bekerja keras dan menjamin semua persyaratan yang diminta FIFA bagi suksesnya penyelenggaraan Piala Dunia telah terpenuhi. Dia menegaskan bahwa terpilihnya Afsel sebagai tuan rumah turnamen akbar itu sebagai buah kerja yang "incredible" (baca: luar biasa) dari tokoh nasional Nelson Mandela, mantan Presiden Thabo Mbeki dan Jacob Zuma, Presiden Afsel saat ini.
"Ini adalah kerja keras yang mengagumkan dari orang-orang terbaik negeri kami. Hari ini kami akan buktikan mampu menjadi tuan rumah even langka ini. Kami, bangsa Afsel bangga bisa sejajar dengan bangsa-bangsa lain di dunia sepakbola," ujar Motlanthe.
Blatter kembali menyitir opini-opini miring yang berhembus selama ini. Bahwa Afsel bakal tak mampu jadi tuan rumah, tidak terbukti. "Memang tidak ada yang sempurna di dunia ini. Tidak mungkin sukses itu selalu harus 100 persen. Tapi, dengan apa yang kita saksikan hari ini, mereka-mereka yang selama ini mengkritik patut menarik kembali ucapannya," kata dia.
Terkait kehadiran Nelson Mandela di hari pembukaan Jumat (11/6) nanti, Blatter menceritakan bahwa dia telah bertemu langsung dengan negarawan berusia 91 tahun itu dan mengindikasikan Mandela bisa hadir langsung di stadion. (zulkarnain jalil)
Presiden FIFA Sepp Blatter secara resmi menyerahkan trofi Piala Dunia kepada pemerintah Afsel Jumat (4/6) pekan lalu di Pretoria . Dalam kesempatan itu, Blatter menyatakan apresiasi tingginya kepada rakyat dan pemerintah Afsel atas persiapan, keramahan dan segala sesuatu yang membuat para tamu betah berada disana. Seperti disitir Buanews, Blatter dalam sambutannya secara khusus menyelipkan penghargaan bagi mantan Presiden Nelson Mandela atas perannya dalam membangun demokrasi dan stabilitas politik di Afsel.
"Saya menyampaikan penghargaan yang tinggi bagi pemerintah Afsel karena tanpa kerjasama dan dukungan mereka tak mungkin even sekaliber ini bisa berlangsung. Khususnya bagi rakyat Afsel, saya mengucapkan terima kasih tak berhingga atas semangat menggelora yang mereka tunjukkan bagi suksesnya Piala Dunia," ucap Blatter sesaat setelah menyerahkan trofi Piala Dunia kepada pihak pemerintah yang diterima oleh Wakil Presiden, Kgalema Motlanthe. Selanjutnya trofi seberat 6,17 kg dan bakal diperebutkan oleh 32 kontestan Piala Dunia dipajang di Soweto, Johanesburg sembari menanti hari pembukaan yang akan berlangsung di Stadion Soccer City pada 11 Juni.
Pegawai istana antusias
Para pegawai di Istana Wapres tampak sangat bersemangat ingin melihat dari dekat piala penuh legenda itu. Mereka berkerumun di dekat trofi itu. Blatter tampak tersenyum maklum seraya memberi ruang lebih luas bagi mereka untuk mendekat. "Tapi mohon jangan disentuh," pinta Blatter khawatir piala itu jatuh.
Wapres Motlanthe, ditemani beberapa menteri negara, mengatakan pemerintah telah bekerja keras dan menjamin semua persyaratan yang diminta FIFA bagi suksesnya penyelenggaraan Piala Dunia telah terpenuhi. Dia menegaskan bahwa terpilihnya Afsel sebagai tuan rumah turnamen akbar itu sebagai buah kerja yang "incredible" (baca: luar biasa) dari tokoh nasional Nelson Mandela, mantan Presiden Thabo Mbeki dan Jacob Zuma, Presiden Afsel saat ini.
"Ini adalah kerja keras yang mengagumkan dari orang-orang terbaik negeri kami. Hari ini kami akan buktikan mampu menjadi tuan rumah even langka ini. Kami, bangsa Afsel bangga bisa sejajar dengan bangsa-bangsa lain di dunia sepakbola," ujar Motlanthe.
Blatter kembali menyitir opini-opini miring yang berhembus selama ini. Bahwa Afsel bakal tak mampu jadi tuan rumah, tidak terbukti. "Memang tidak ada yang sempurna di dunia ini. Tidak mungkin sukses itu selalu harus 100 persen. Tapi, dengan apa yang kita saksikan hari ini, mereka-mereka yang selama ini mengkritik patut menarik kembali ucapannya," kata dia.
Terkait kehadiran Nelson Mandela di hari pembukaan Jumat (11/6) nanti, Blatter menceritakan bahwa dia telah bertemu langsung dengan negarawan berusia 91 tahun itu dan mengindikasikan Mandela bisa hadir langsung di stadion. (zulkarnain jalil)
Hotel di Cape Town habis dibooking
Hanya bersisa beberapa hari lagi Piala Dunia Afsel 2010 akan dibuka. Salah satu sektor yang kecipratan rejeki nomplok adalah perhotelan. Saat ini seluruh hotel berbintang dilaporkan telah habis dibooking oleh turis dan fans bola mancanegara. Contohnya di kota Cape Town, yang akan menjadi salah satu kota magnet bola dunia 2010, hotel-hotel disana sudah masuk status fully booked alias habis dibooking.
Hasil satu survey, seperti dilaporkan Cape Times , hotel-hotel berbintang kini kapasitasnya tampungnya makin terbatas karena telah dipesan jauh-jauh hari. Sedangkan tingkat hunian hotel-hotel skala kecil menengah telah pun mencapai 50 hingga 70 persen. Cape Grace Hotel misalnya. Hotel berbintang lima dikabarkan telah 90 persen terisi. Baik oleh secara kelompok maupun pribadi.
“Kamar-kamar di hotel kami sudah penuh untuk periode Juni-Juli ini. Memang ada beberapa kamar kelas ekonomi yang tersisa, tapi itu tidak banyak. Secara definitif, kami sudah penuh selama Piala Dunia,” kata salah seorang pegawai Cape Grace Hotel bagian reservasi.
Sementara itu di Table Bay Hotel, salah satu hotel bintang lima lainnya, hanya tersisa lima kamar tipe twin rooms (dua tempat tidur) dan dua kamar suite khusus untuk keluarga.
"Memang masih ada kamar kosong, tapi sangat terbatas sekali. Mayoritas sudah dipesan jauh-jauh hari khusus selama penyelenggaraan Piala Dunia.," tukas Yolisa Motsamai, salah seorang pegawai hotel itu.
Yang fenomenal adalah penginapan Pepper Club. Tingkat hunian hotel yang terletak di kawasan Loop Street ini telah melebihi prediksi awal dimana 95 persen kamarnya telah diboking. Padahal hotel ini justru baru dibuka tahun ini.
"Hotel-hotel mewah berbintang di pusat perkotaan lebih diminati dan dipilih oleh turis asing selama Piala Dunia. Daya tampung hotel-hotel jenis ini memang sangat terbatas. Kadangkala ada hotel yang terpaksa menambah kapasitas kamar karena permintaan yang tinggi," sebut David Solomon, juru bicara Pepper Club.
Bagi yang berkantong cekak, bisa menginap di hotel skala kecil meski terletak agak di pinggiran kota. Begitupun, tetap saja diminati. Seperti hotel Ashanti Lodge di kawasan Green Point, 60 persen kamar telah dipesan. "Kebanyakan calon penghuni kami adalah grup atau kelompok fans tertentu. Saya yakin menjelang hari-H nanti akan penuh," kata Lisa Mason, sang pemilik hotel optimis. Lalu ada penginapan A Cat and Moose Backpackers, petugas hotel disana menyebut 70 persen telah dibooking. Meski hotel-hotel kecil tersebut tidak masuk dalam daftar registrasi agen FIFA, namun tetap dipercaya oleh calon penghuni yang sebagian besar warga asing.
Cape Town memang menawarkan eksotisme yang memanjakan mata. Kota ini terletak di sisi pegunungan yang berjajar di Cape Peninsula dan berada sejajar dengan permukaan air laut yang sangat indah. Karena itu lebih dikenal sebagai kota pelabuhan.
Pertandingan selama Piala Dunia di Cape Town akan berlangsung di Stadion Green Point. Di stadion berkapasitas 70 ribu tempat duduk ini nantinya akan dilangsungkan lima pertandingan babak penyisihan, satu babak 16 besar, satu perempat final, dan satu semi final. (zulkarnain jalil)
Hanya bersisa beberapa hari lagi Piala Dunia Afsel 2010 akan dibuka. Salah satu sektor yang kecipratan rejeki nomplok adalah perhotelan. Saat ini seluruh hotel berbintang dilaporkan telah habis dibooking oleh turis dan fans bola mancanegara. Contohnya di kota Cape Town, yang akan menjadi salah satu kota magnet bola dunia 2010, hotel-hotel disana sudah masuk status fully booked alias habis dibooking.
Hasil satu survey, seperti dilaporkan Cape Times , hotel-hotel berbintang kini kapasitasnya tampungnya makin terbatas karena telah dipesan jauh-jauh hari. Sedangkan tingkat hunian hotel-hotel skala kecil menengah telah pun mencapai 50 hingga 70 persen. Cape Grace Hotel misalnya. Hotel berbintang lima dikabarkan telah 90 persen terisi. Baik oleh secara kelompok maupun pribadi.
“Kamar-kamar di hotel kami sudah penuh untuk periode Juni-Juli ini. Memang ada beberapa kamar kelas ekonomi yang tersisa, tapi itu tidak banyak. Secara definitif, kami sudah penuh selama Piala Dunia,” kata salah seorang pegawai Cape Grace Hotel bagian reservasi.
Sementara itu di Table Bay Hotel, salah satu hotel bintang lima lainnya, hanya tersisa lima kamar tipe twin rooms (dua tempat tidur) dan dua kamar suite khusus untuk keluarga.
"Memang masih ada kamar kosong, tapi sangat terbatas sekali. Mayoritas sudah dipesan jauh-jauh hari khusus selama penyelenggaraan Piala Dunia.," tukas Yolisa Motsamai, salah seorang pegawai hotel itu.
Yang fenomenal adalah penginapan Pepper Club. Tingkat hunian hotel yang terletak di kawasan Loop Street ini telah melebihi prediksi awal dimana 95 persen kamarnya telah diboking. Padahal hotel ini justru baru dibuka tahun ini.
"Hotel-hotel mewah berbintang di pusat perkotaan lebih diminati dan dipilih oleh turis asing selama Piala Dunia. Daya tampung hotel-hotel jenis ini memang sangat terbatas. Kadangkala ada hotel yang terpaksa menambah kapasitas kamar karena permintaan yang tinggi," sebut David Solomon, juru bicara Pepper Club.
Bagi yang berkantong cekak, bisa menginap di hotel skala kecil meski terletak agak di pinggiran kota. Begitupun, tetap saja diminati. Seperti hotel Ashanti Lodge di kawasan Green Point, 60 persen kamar telah dipesan. "Kebanyakan calon penghuni kami adalah grup atau kelompok fans tertentu. Saya yakin menjelang hari-H nanti akan penuh," kata Lisa Mason, sang pemilik hotel optimis. Lalu ada penginapan A Cat and Moose Backpackers, petugas hotel disana menyebut 70 persen telah dibooking. Meski hotel-hotel kecil tersebut tidak masuk dalam daftar registrasi agen FIFA, namun tetap dipercaya oleh calon penghuni yang sebagian besar warga asing.
Cape Town memang menawarkan eksotisme yang memanjakan mata. Kota ini terletak di sisi pegunungan yang berjajar di Cape Peninsula dan berada sejajar dengan permukaan air laut yang sangat indah. Karena itu lebih dikenal sebagai kota pelabuhan.
Pertandingan selama Piala Dunia di Cape Town akan berlangsung di Stadion Green Point. Di stadion berkapasitas 70 ribu tempat duduk ini nantinya akan dilangsungkan lima pertandingan babak penyisihan, satu babak 16 besar, satu perempat final, dan satu semi final. (zulkarnain jalil)
Warga Pretoria Antusias Sambut Trofi Piala Dunia
Pagi itu 31 Mei, ribuan fans bola dari berbagai kalangan, tua muda, hingga kanak-kanak memenuhi aula balai kota Pretoria, ibukota Afrika Selatan. Kendati cuaca masih sangat dingin, namun jumlah mereka yang datang makin lama makin bejubel saja. Ya warga Pretoria tumpah ruah untuk melihat dan berpose dengan trofi Piala Dunia yang saat itu dipajang di Balai Kota Tshwane.
Piala terbuat dari emas, dengan berat sekitar 6,17 kg itu menempuh perjalanan terakhir dari rangkaian tur trofi piala dunia di 86 negara di seluruh dunia. Menurut Manajer Coca Cola, Brad Ross, seperti disitir BuaNews (31/5), perhentian terakhir tur adalah di kota Soweto pada Sabtu 5 Juni mendatang. Setelah itu trofi Piala Dunia yang menempuh garis start awal di Zurich, Swiss akan dikembalikan ke FIFA.
Ditanya tentang tanggapan warga di kota-kota calon tuan rumah saat dikunjungi, Ross mengatakan: "Pengalaman yang sangat menakjubkan. Masyarakat sangat antusias dan terjadi antrian yang begitu panjang di tiap kota yang kami singgahi. Tidak ada keraguan sedikitpun, Afrika Selatan sangat pantas jadi tuan rumah turnamen sepak bola spektakuler sejagad ini," tukas Ross dipenuhi rasa kagumnya.
Elias Mahlangu (23), salah seorang fans bola yang datang dari desa kecil di pinggiran Pretoria untuk melihat trofi, mengaku bangga jadi warga Afrika Selatan. "Saya bangga jadi warga Afsel. Kami memang pantas untuk perhelatan ini. Saya gembira bisa melihat piala penuh legenda itu," katanya Elias penuh semangat.
Sementara itu Nomthandazo Ntikinca (29), warga Afsel lainnya, melakukan perjalanan jauh dari East Rand, Katlehong, hanya untuk melihat trofi piala dunia. "Piala dunia adalah impianku. Saya senang bahwa Afrika Selatan menjadi tuan rumah Piala Dunia 2010. Meskipun tidak akan nonton di stadion karena aku tidak mampu beli tiket, aku akan tonton semua pertandingan via televisi," aku Nomtha. Pria berkulit gelap itu seakan mewakili warga Afsel kebanyakan, yang tidak mampu membeli tiket untuk bisa nonton langsung di stadion.
Dengan waktu tersisa sepekan lagi sebelum peluit kick-off dibunyikan, Pretoria sebagai salah satu kota penyelenggara benar-benar berubah. Memasuki pusat kota, di sepanjang jalan dipenuhi oleh beragam spanduk, poster, bendera, graffiti, iklan berbagai merk produk, dari besar, kecil hingga kombinasi aneka warna. Di malam hari, Pretoria bermandikan lampu hias aneka warna. Tak hanya itu, kondisi kota juga tampak bersih bersinar dan menyehatkan. “Kami sudah punya komitmen untuk menjadikan Pretoria nyaman dan sehat bagi pengunjung sepakbola. Warga kota sudah siap untuk menyambut tamunya dengan ramah,” kata Dr Gwen Ramokgopa, Walikota Pretoria dalam siaran persnya.
Begitulah. Di seluruh Afsel, kini orang-orang menghabiskan malam tanpa tidur karena antrian dalam upaya untuk membeli tiket. Virus demam piala dunia sudah menjangkiti warga benua hitam. (zulkarnain jalil).
Pagi itu 31 Mei, ribuan fans bola dari berbagai kalangan, tua muda, hingga kanak-kanak memenuhi aula balai kota Pretoria, ibukota Afrika Selatan. Kendati cuaca masih sangat dingin, namun jumlah mereka yang datang makin lama makin bejubel saja. Ya warga Pretoria tumpah ruah untuk melihat dan berpose dengan trofi Piala Dunia yang saat itu dipajang di Balai Kota Tshwane.
Piala terbuat dari emas, dengan berat sekitar 6,17 kg itu menempuh perjalanan terakhir dari rangkaian tur trofi piala dunia di 86 negara di seluruh dunia. Menurut Manajer Coca Cola, Brad Ross, seperti disitir BuaNews (31/5), perhentian terakhir tur adalah di kota Soweto pada Sabtu 5 Juni mendatang. Setelah itu trofi Piala Dunia yang menempuh garis start awal di Zurich, Swiss akan dikembalikan ke FIFA.
Ditanya tentang tanggapan warga di kota-kota calon tuan rumah saat dikunjungi, Ross mengatakan: "Pengalaman yang sangat menakjubkan. Masyarakat sangat antusias dan terjadi antrian yang begitu panjang di tiap kota yang kami singgahi. Tidak ada keraguan sedikitpun, Afrika Selatan sangat pantas jadi tuan rumah turnamen sepak bola spektakuler sejagad ini," tukas Ross dipenuhi rasa kagumnya.
Elias Mahlangu (23), salah seorang fans bola yang datang dari desa kecil di pinggiran Pretoria untuk melihat trofi, mengaku bangga jadi warga Afrika Selatan. "Saya bangga jadi warga Afsel. Kami memang pantas untuk perhelatan ini. Saya gembira bisa melihat piala penuh legenda itu," katanya Elias penuh semangat.
Sementara itu Nomthandazo Ntikinca (29), warga Afsel lainnya, melakukan perjalanan jauh dari East Rand, Katlehong, hanya untuk melihat trofi piala dunia. "Piala dunia adalah impianku. Saya senang bahwa Afrika Selatan menjadi tuan rumah Piala Dunia 2010. Meskipun tidak akan nonton di stadion karena aku tidak mampu beli tiket, aku akan tonton semua pertandingan via televisi," aku Nomtha. Pria berkulit gelap itu seakan mewakili warga Afsel kebanyakan, yang tidak mampu membeli tiket untuk bisa nonton langsung di stadion.
Dengan waktu tersisa sepekan lagi sebelum peluit kick-off dibunyikan, Pretoria sebagai salah satu kota penyelenggara benar-benar berubah. Memasuki pusat kota, di sepanjang jalan dipenuhi oleh beragam spanduk, poster, bendera, graffiti, iklan berbagai merk produk, dari besar, kecil hingga kombinasi aneka warna. Di malam hari, Pretoria bermandikan lampu hias aneka warna. Tak hanya itu, kondisi kota juga tampak bersih bersinar dan menyehatkan. “Kami sudah punya komitmen untuk menjadikan Pretoria nyaman dan sehat bagi pengunjung sepakbola. Warga kota sudah siap untuk menyambut tamunya dengan ramah,” kata Dr Gwen Ramokgopa, Walikota Pretoria dalam siaran persnya.
Begitulah. Di seluruh Afsel, kini orang-orang menghabiskan malam tanpa tidur karena antrian dalam upaya untuk membeli tiket. Virus demam piala dunia sudah menjangkiti warga benua hitam. (zulkarnain jalil).
7 siswa Aceh lulus program beasiswa Bidik Misi ITS
7 siswa SMA/MA Aceh, setelah melalui proses seleksi yang ketat, diterima di Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Surabaya dan akan mendapat beasiswa penuh selama 4 tahun melalui program beasiswa Bidik Misi. Beasiswa Bidik Misi adalah program dari Departemen Pendidikan Nasional dan dilaksanakan oleh universitas-universitas di Indonesia. Beasiwa ini khusus diperuntukkan bagi mereka yang memiliki prestasi akademik tinggi namun kurang mampu secara ekonomi. Dua diantara siswa Aceh ini berasal dari SMA Negeri 10 Fajar Harapan, Banda Aceh dan lima lainnya berasal dari MAS Ruhul Islam Anak Bangsa, Aceh Besar.
Nama-nama mereka serta jurusan masing-masing adalah sebagai berikut:
1. Iskandar Zulkarnain, SMA 10 Fajar Harapan, diterima di jurusan Teknik Industri
2. Iqbal Abrian Z, SMA 10 Fajar Harapan, diterima di jurusan Teknik Informatika
3. Rizki Satryanto, MAS Ruhul Islam, diterima di jurusan Perencanaan Wilayah Kota
4. Nurul Qamar, MAS Ruhul Islam, diterima di jurusan Teknik Informatika
5. Rina Trisfuani, MAS Ruhul Islam, diterima di jurusan Teknik Arsitektur
6. Mukhlisin ZB, MAS Ruhul Islam, diterima di jurusan Teknik Sistem Perkapalan
7. Yeni Anggraini AY, MAS Ruhul Islam, diterima di jurusan Teknik Industri
Sementara itu, dalam rangka menambah motivasi mereka, Ikatan Alumni ITS cabang Aceh menggelar ramah tamah dengan para siswa dan keluarganya yang berlangsung Jumat (4/6) kemarin di Aula Kantor Dishubkomintel NAD. Pertemuan itu, Kadis Hubkomintel Aceh, Prof. Dr. Ir. Yuwaldi Away, M.Sc, yang juga Ketua Umum Ikatan Alumni ITS cabang Aceh memberikan motivasi dan dorongan agar mampu menjaga prestasi selama di ITS. Yuwaldi juga berharap para siswa dapat membawa nama baik Aceh di level nasional dan setelah menyelesaikan studi dapat mengambil peran dalam membangun daerah. Pertemuan ini dihadiri oleh para orang tua atau wali dari setiap calon mahasiswa, para anggota IKA-ITS Cabang Aceh, dan juga kepala sekolah SMA 10 Fajar Harapan dan MAS Ruhul Islam.
Dalam kesempatan tersebut, IKA-ITS Aceh juga menyerahkan sumbangan berupa tiket perjalanan Banda Aceh-Surabaya kepada 7 siswa tersebut. Para siswa akan berangkat ke Surabaya pada tanggal 15 Juni mendatang untuk melakukan pendaftaran ulang.
7 siswa SMA/MA Aceh, setelah melalui proses seleksi yang ketat, diterima di Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Surabaya dan akan mendapat beasiswa penuh selama 4 tahun melalui program beasiswa Bidik Misi. Beasiswa Bidik Misi adalah program dari Departemen Pendidikan Nasional dan dilaksanakan oleh universitas-universitas di Indonesia. Beasiwa ini khusus diperuntukkan bagi mereka yang memiliki prestasi akademik tinggi namun kurang mampu secara ekonomi. Dua diantara siswa Aceh ini berasal dari SMA Negeri 10 Fajar Harapan, Banda Aceh dan lima lainnya berasal dari MAS Ruhul Islam Anak Bangsa, Aceh Besar.
Nama-nama mereka serta jurusan masing-masing adalah sebagai berikut:
1. Iskandar Zulkarnain, SMA 10 Fajar Harapan, diterima di jurusan Teknik Industri
2. Iqbal Abrian Z, SMA 10 Fajar Harapan, diterima di jurusan Teknik Informatika
3. Rizki Satryanto, MAS Ruhul Islam, diterima di jurusan Perencanaan Wilayah Kota
4. Nurul Qamar, MAS Ruhul Islam, diterima di jurusan Teknik Informatika
5. Rina Trisfuani, MAS Ruhul Islam, diterima di jurusan Teknik Arsitektur
6. Mukhlisin ZB, MAS Ruhul Islam, diterima di jurusan Teknik Sistem Perkapalan
7. Yeni Anggraini AY, MAS Ruhul Islam, diterima di jurusan Teknik Industri
Sementara itu, dalam rangka menambah motivasi mereka, Ikatan Alumni ITS cabang Aceh menggelar ramah tamah dengan para siswa dan keluarganya yang berlangsung Jumat (4/6) kemarin di Aula Kantor Dishubkomintel NAD. Pertemuan itu, Kadis Hubkomintel Aceh, Prof. Dr. Ir. Yuwaldi Away, M.Sc, yang juga Ketua Umum Ikatan Alumni ITS cabang Aceh memberikan motivasi dan dorongan agar mampu menjaga prestasi selama di ITS. Yuwaldi juga berharap para siswa dapat membawa nama baik Aceh di level nasional dan setelah menyelesaikan studi dapat mengambil peran dalam membangun daerah. Pertemuan ini dihadiri oleh para orang tua atau wali dari setiap calon mahasiswa, para anggota IKA-ITS Cabang Aceh, dan juga kepala sekolah SMA 10 Fajar Harapan dan MAS Ruhul Islam.
Dalam kesempatan tersebut, IKA-ITS Aceh juga menyerahkan sumbangan berupa tiket perjalanan Banda Aceh-Surabaya kepada 7 siswa tersebut. Para siswa akan berangkat ke Surabaya pada tanggal 15 Juni mendatang untuk melakukan pendaftaran ulang.
Subscribe to:
Comments (Atom)