Thursday, March 13, 2008

DARI BANDA ACEH MENEMBUS KONGO

PENGANTAR. Penampilannya kalem, gaya bicara perlahan. Sekilas seperti kurang bersemangat. Tapi setelah kenal dekat, maka “isi dalam” pria ini akan tampak. Itulah Teuku Syahrial yang saat ini dipercaya sebagai seorang tenaga spesialis di Halliburton Energy Services, sebuah perusahaan pengeboran minyak lepas pantai terkemuka milik mantan Wakil Presiden AS, Dick Cheney. Saat ini Syahrial, oleh perusahaannya ditugaskan di Kongo, Afrika. Sebelum di Kongo ia pernah ditempatkan di Mozambik selama 6 bulan. Pernah juga bekerja di perusahaan minyak Shell Brunei dan MB Petroleum di Oman. Untuk kawasan Afrika, barangkali dialah satu-satunya putra Aceh yang saat ini bekerja di sana. Apa dan bagaimana hingga dia bisa sampai ke Kongo? Berikut penuturan alumni Teknik Mesin, ITS Surabaya itu disela-sela liburannya di Banda Aceh Februari lalu kepada Kontributor Kontras, Zulkarnain Jalil.

-------------------------ööö----------------------------------------------------------

“Saya bekerja di Kongo sejak tahun 2007 lalu. Tak ada dalam bayangan sedikitpun akan bekerja di kawasan Afrika,” ujar Syahrial di awal percakapan dengan Kontras. Pria kelahiran Banda Aceh 4 Januari 1973 itu mengaku awalnya sangat asing dengan benua hitam itu. Konon lagi yang dia dengar suasananya tidak kondusif. Banyak perang saudara.

“Perkiraan saya meleset. Penduduk setempat cukup ramah. Mereka menerima kehadiran kami. Hanya saja harus diakui kehidupan mereka sangatlah bersahaja dan sederhana sekali,” imbuhnya. Menurut dia, situasi di Kongo relatif aman dibanding beberapa negara Afrika lain yang masih dilanda perang saudara dan sarat masalah sosial seperti kemiskinan dan kelaparan.

Sebelum bekerja di Kongo, Syahrial yang menamatkan sekolah dasar dan menengahnya di Banda Aceh, pernah ditempatkan di Mozambik selama 6 bulan. “Tahun 2006 saya bekerja kota Vilanculous, sebuah kota propinsi di Mozambik. Saya bertugas di pengeboran minyak daratan. Selesai kontrak kemudian pindah ke Kongo dan bekerja di pengeboran minyak lepas pantai,” tukas suami dari Lia Susanti yang dinikahinya tahun 2002 silam di Banda Aceh.

Rindu keluarga

Seperti diakui Syahrial, bekerja di pengeboran minyak, konon lagi luar negeri bukanlah perkara mudah. Apalagi buat pria yang telah berkeluarga sepertinya. Rindu akan keluarga, istri dan anak-anak, sangatlah terasa.

“Selama kerja di luar negeri keluarga tinggal di Aceh. Kalau lagi kangen paling liat foto aja,” aku alumni SMA 1 Banda Aceh itu terkekeh. Begitupun, ia merasa bersyukur karena mendapat cuti setiap 6 bulan sekali oleh perusahaannya. Masa cuti selalu dimanfaatkannya untuk kumpul dengan keluarga di Aceh.

“Selama kerja di Halliburton, kesan paling mendalam adalah teman sekerja berasal dari berbagai negera. Jadi kita bisa belajar atau saling tukar pengalaman mengenai adat kebiasaan di negeri masing-masing. Juga makin memperkaya kosa kata karena tiap hari bercakap dengan bahasa Inggris. Juga kita belajar dalam hal disiplin dengan waktu. Tidak ada waktu yang tersia-sia,” ujar Syahrial tatkala ditanya pengalaman bekerja di perusahaan asing.

Mengenai makanan? Syahrial mengakui awalnya sedikit mengalami kendala ketika pertamakali datang ke sana. Namun akhirnya ia dan teman-teman lain yang beragama Islam bisa mendapatkan toko yang menjual makanan halal. Bersyukurnya lagi, perusahaan tetap memberikan waktu untuk shalat. Kecuali jika tugas ke lapangan ia sering menjamak shalatnya. “Mereka sangat menghormati kita. Bahkan pas puasa juga disediakan sahur di camp,” ujarnya.

Modal keberanian

Saat ini Syahrial bertanggungjawab terhadap instalasi dan analisis peralatan-peralatan pengeboran minyak baik daratan maupun lepas pantai. Ia tergolong punya skill tinggi dan teamwork (kerjasama tim) yang bagus. Tentu saja semua itu tidaklah diraihnya dengan mudah. Dengan pengalamannya itu maka tak heran jika ia siap ditugaskan dimana saja.

Syahrial menyebut bahwa pengalaman kerjanya mulai terasah saat pertama kali mengikuti praktek lapangan di Exxon Mobile, Lhokseumawe. Kala itu ia masih studi di Teknik Mesin ITS Surabaya. “Waktu itu tahun 2003. Saya pernah pasang alat di Exxon Mobil, dimana alatnya itu yang paling besar di dunia,” ujarnya seraya menyebut ukuran alat itu.

“Ada expert (ahli-red) dari Amerika tidak berani memasang alatnya, saking besarnya. Saya kan orang lokal. Saya pikir sekalian mau unjuk keberanian. Dibilang nekat iya juga, tapi ini nekat yang disertai perhitungan,” kenangnya seraya tersenyum. Pimpinan di sana takjub hingga ia mendapat rekomendasi dari seorang supervisor Exxon asal Dallas, AS yang bunyinya: “Syahrial’s performance was above his supervisor” (Kemampuan Syahrial di atas supervisornya).

Begitulah, sejak dapat rekomendasi itu kepercayaan dirinya jadi berlipat. “Orang Aceh ternyata mampu juga. Selepas lulus S1 saya beranikan diri untuk melamar di perusahaan Halliburton Jakarta,” ujar ayah dari Cut Ansya Zahara (2,5) dan Cut Alisya Raihanah (1).

Tak perlu menunggu lama, di perusahaan yang memiliki cabang di 120 negara itu iapun diterima bekerja. Di perusahaan milik mantan Wakil Presiden AS Dick Cheney itu Syahrial awalnya bekerja sebagai teknisi lapangan (field engineer). Masa kontraknya dari Oktober 2001 hingga Nopember 2005.

Tenaga lokal dibayar murah

Diakuinya, saat bekerja dengan orang asing di Halliburton Indonesia bayaran untuk tenaga lokal sangat rendah. “Padahal skill kita tidak jauh beda dengan bule-bule itu,” tukasnya tegas. “Makanya saya masih belum puas. Hingga satu ketika ada tawaran dari Shell. Shell juga salah satu perusahaan minyak terkemuka asal AS. Waktu itu ada lowongan di Brunei untuk masa 6 bulan,” imbuh pria yang suka traveling itu lagi.

“Alhamdulillah saya diterima walau pengalaman masih minim. Waktu itu ditunjuk sebagai completion workshop supervisor dengan gaji 5.000 dolar per bulan,” cerita pria yang suka sie kameng dan kuah pliek u itu sumringah.

“Habis kontrak di Brunei, eh ada perusahaan minyak dari Oman yakni MB Petroleum menggaet saya. Jadilah tahun 2006 saya pindah ke Oman, sebuah kawasan di jazirah Arab. Di sana saya bekerja sebagai field supervisor atau pengawas lapangan dan dikontrak selama 10 bulan,” imbuh alumni Politeknik Lhokseumawe angkatan 1993 itu.

Setelah beberapa kali pindah, Syahrial mengaku ada seorang kolega lamanya di Halliburton yang tahu akan kemampuan kerjanya. Iapun diundang untuk bergabung kembali dengan Halliburton Energy Services. Tak tanggung-tanggung ia ditunjuk sebagai service specialist dan langsung ditugaskan ke kawasan Afrika (Mozambik dan Kongo).

Hilangkan budaya malas

Syahrial mengaku sejak remaja telah memiliki keinginan untuk bisa ke luar negeri. Jika ada bule yang dijumpainya ia selalu mencoba berinteraksi. “Ya sambil mengasah kemampuan bahasa Inggris gitu. Saya dekati mereka dengan mengenalkan hasil kerajinan Aceh, misalnya rencong. Terutama orang-orang asing yang lagi ada job di Aceh. Saya ingat betul, waktu itu pernah laku keras. Keuntungan mencapai 10 juta. Mereka sangat suka dengan rencong. Saya kira ini pertanda bahwa potensi daerah kita punya nilai jual tinggi,”kenangnya.

Pria yang gemar membaca itu telah mengunjungi banyak negara, diantaranya negara-negara ASEAN (Singapura, Thailand, Malaysia), kawasan Arab (Oman, Qatar, Bahrain, Uni Emirat Arab), dan Afrika (Ethiopia, Mozambik dan Kongo). Dari pengalamannya, ia mengaku kemampuan anak-anak Aceh sangat bisa diandalkan. “Saya punya keyakinan anak-anak Aceh bisa go internasional. Kita punya kemampuan kok. Dan satu lagi, rezeki itu Allah sebar di mana-mana. Jangan pikir jadi PNS aja. Marilah mandiri, jangan malas. Kebiasaan nongkrong, duduk-duduk di warung kopi berjam-jam patut dihilangkan,” ujarnya seraya menyebut bahasa Inggris sebagai salah satu prasyarat sangat penting.

Keep the face toward the sunshine and the shadow will fall behind you,” imbuh putra pasangan Teuku Husin Ali (alm) dan Rohani itu lagi. Itulah motto hidupnya yang berarti tetap hadapkan dirimu ke arah matahari maka bayangan akan tinggal di belakangmu. “Maksudnya kita harus tetap optimis menatap masa depan dan tidak terpengaruh dengan bayang-bayang hitam atau kegagalan masa lalu,” urainya mantap.

Itulah Teuku Syahrial. Kendati hidup jauh di rantau, ia masih ingat akan Aceh. Di akhir perbincangan ia masih saja mengingatkan berkali-kali terutama untuk para pemuda Aceh untuk belajar hidup mandiri, bekerja keras dan pantang menyerah. Syahrial meyakini putra-putri Aceh punya kemampuan secara akademik yang bagus, jika diberi kesempatan.