Friday, July 14, 2006

Misi Rahasia Klinsmann

Pada saat pintu ruang khusus pemutaran video di Schloss Hotel Berlin ditutup, ketika itu tetamu yang berada di luar musti menahan bicaranya. Tidak boleh berisik sedikitpun. Jürgen Klinsmann, Joachim Löw (asisten pelatih) dan Urs Siegenthaler tak ingin ada gangguan di dalam ruangan “rahasia“ tersebut. Urs Siegenthaler, siapa pula orang ini ?

Siegenthaler merupakan nama asing yang bikin penasaran semua orang. Apa tugas pria asal Swiss yang dikontrak oleh DFB (PSSI-nya Jerman) sejak Mei 2005 ini ? Simak kalimat Klinsmann berikut:“Kunci kemenangan kami atas Swedia (2-0) kemarin mutlak berkat bantuan Urs Siegenthaler“.

Spielebeobachter atau mata-mata pertandingan, itulah tugas Urs Siegenthaler ! Siegenthaler berkeliling dari satu pertandingan ke pertandingan yang lain. Tentunya pertandingan yang dimainkan oleh tim segrup Jerman dan tim yang diprediksi bakal bertemu Jerman di babak berikutnya, Swedia misalnya. Seperti pada babak penyisihan, Urs mengumpulkan semua video pertandingan Kosta Rika, Polandia, dan Ekuador. Video ini dianalisanya secara cermat dan detail, kekuatan dan kelemahan tim-tim tersebut. Hasilnya didiskusikan dengan Klinsmann dan asistennya. Taktik apa yang perlu diterapkan di lapangan dibuat berdasarkan hasil analisis tersebut. Bukan main.

Secara ofisial fungsinya di DFB sebenarnya adalah pemandu bakat. Namun, di lapangan Siegenthaler justru lebih banyak berperan sebagai mata-mata. Jauh-jauh hari sebelum piala dunia berlangsung Siegenthaler pergi ke berbagai tempat seperti Kosta Rika, Polandia, dan Ekuador untuk mengamati kehidupan sepak bola di sana. Demikian juga negara yang diperkirakan bakal ketemu Jerman di babak selanjutnya.

„Tidak hanya teknik dan trik yang dipelajari, namun juga mentalitas dan karakter mereka. Bahkan bagaimana cara atau kebiasaan mereka melepaskan diri di saat menghadapi tekanan juga kita pelajari“, tukas Siegenthaler sebagaimana disitir Berliner Morgenpost (26/06).
Dan dengan bangga ia berujar: “Ich bin Klinsis Superspion“ (saya adalah super spionnya Klinsi).

Insinyur sipil berusia 58 tahun ini sebelumnya sempat menjadi mitra pelatih timnas Swiss dari tahun 1986 sampai 1988. Disamping itu ia juga mantan mantan pemain FC Basel, klub di liga utama Swiss. Joachim Löw, yang pernah tinggal di Schaffhausen (Swiss), adalah orang pertama yang “menemukan“ Siegenthaler. Löw lalu mengenalkannya pada Klinsmann yang langsung tertarik pada pandangan pertama.

Tentang tim di Piala Dunia 2006, Siegenthaler menyebut Argentina sebagai salah satu tim terbaik. ”Mereka merupakan tim yang sangat homogen, diantara para pemain sudah saling kenal sejak lama. Pemain cadangan pun tak kurang lincahnya. Kelebihan lainnya, para pemain Argentina begitu menyatu dengan Pekerman, sang pelatih”, puji Siegenthaler. Patut diketahui, sebagian besar skuad Argentina saat ini merupakan mantan pemain yang membawa Argentina merebut juara dunia junior tahun 1995, 1997, dan 2001. Hebatnya, semua gelar tersebut direbut dibawah asuhan tangan dingin Jose Pekerman.

Hari-hari belakangan ini Siegenthaler betah berlama-lama di ruangan khusus Schloss Hotel, Berlin. Kali ini tangannya menggenggam sebuah VCD berjudul “Argentina“. Mengenai hasil analisa video sebelum pertandingan tersebut, Siegenthaler cuma berkata: "Wer Argentinien besiegt, wird Weltmeister." (Siapa yang kalahkan Argentina, dia juara dunianya).
Zulkarnain Jalil, Serambinews (29/06/06).
Pemulung Botol Bekas pun Panen

“Disini uang berceceran di jalanan“, ujar seorang wanita tua dengan mimik gembira sembari memasukkan botol-botol plastik bekas ke dalam kantong yang dibawanya. Sekitar empat kantong plastik ukuran besar berisi berbagai jenis botol plastik dan botol kaca berhasil dikumpulkannya. Hasil kerja selama 3 jam itu jika ditotal ia memperoleh sedikitnya 50 Euro (sekitar 590.000 Rupiah, kurs 1 Euro=Rp.11.800). Kok bisa ?

Di Jerman setiap botol plastik -bekas air mineral- dihargai 25 cent (sekitar 2900 Rupiah), dan jenis botol kaca 15 cent (sekitar 1700 Rupiah). Botol bekas minuman yang dibeli dapat ditukar langsung di supermarket tempat kita berbelanja. Di setiap supermarket memang telah disediakan tempat pengumpulan botol bekas. Selanjutnya botol-botol bekas tersebut didaur ulang kembali. Ini merupakan salah satu kebijakan pemerintah Jerman dalam menangani masalah lingkungan.

Selama Piala Dunia berlangsung sampah yang paling kentara adalah botol-botol bekas minuman. Gunungan sampah botol ada dimana-mana. Konon lagi kalau Jerman yang main pasti para pemulung berteriak gembira, sebab sampahnya makin banyak. Orang Jerman dikenal suka minum bir, persis seperti kita minum air putih.

Kebanyakan dari para pemulung botol bekas ini adalah pelajar/mahasiswa, pensiunan, dan pengangguran yang tunjangan sosialnya rendah. “Saya datang terlambat. Jadi tidak begitu banyak yang saya kumpulkan hari ini. Yang lain udah ngumpulin banyak“, sahut David Schreier yang beroperasi di seputar Zentral Stadion, Leipzig. “Di perjalanan masih banyak yang sedang kesini. Malah ada yang bawa karung juga“, imbuh pemuda 19 tahun ini lagi. Ia sendiri membawa dua tas ransel dan kantong plastik ukuran besar.

“Pada saat Belanda dan Spanyol bertanding di Leipzig sampahnya luar biasa banyak. Pas Spanyol main misalnya, selama 3 jam bekerja kami ngumpulin botol yang jika ditotal dapat 235 Euro (sekitar 2, 7 juta Rupiah)“, cerita pasangan suami istri Schramm gembira. “Demikian juga pada saat Perancis main, kami bisa bawa pulang 11 karung besar“, lanjut mereka tanpa merinci berapa Euro yang bisa didapatkan.

Lain lagi dengan dua pemuda, Tim Lukas dan Alexander Drogla. Kalau orang lain demam bola, mereka sekarang malah demam mengumpulkan botol bekas. “Saat fans Belanda bikin perayaan di pusat kota, dalam waktu 90 menit kami bisa mengumpulkan botol bekas yang jika ditotal dapatlah 300 Euro (sekitar 3,5 juta Rupiah)“, cerita Lukas yang berniat akan mentraktir teman-temannya.

Sementara itu, Asim Brkic yang beroperasi di pusat kota Dortmund menceritakan bahwa ia juga memperoleh sekitar 50 Euro setiap harinya. “Itu cukup banyak buat saya. Uang pensiun saya cuma 400 Euro per bulan. Ngapain duduk-duduk di rumah aja”, sahutnya dalam bahasa Jerman logat Turki. Asim bekerja seperti ini bukan hanya selama Piala Dunia, jika klub Borussia Dortmund main ia ikutan juga memulung sampah botol tersebut.

Yang menarik adalah Nazmi Yildürüm, pria Turki ini malah mengajak teman-temannya mengais rezeki dari botol bekas tersebut. “Hari ini saya bawa 20 teman-teman ke sini. Yaa, buat uang rokok lah“, ujar Nazmi sambil tertawa terbahak-bahak.

Namun jika Iran atau Arab Saudi yang main misalnya, para pemulung kecele karena sedikitnya botol bekas yang didapat. “Tidak banyak yang bisa dikumpulkan kalau Iran yang main. Soalnya mereka kan Muslim, jadi ndak minum alkohol“, ujar David Schreier dengan santai.

Para pemulung itu, disamping memperoleh tambahan rezeki, tentu saja pekerjaan mereka tersebut setidaknya membantu petugas kebersihan. Rezeki memang Allah sebar dimana-mana, asal mau dan gigih berusaha.
Zulkarnain Jalil, Serambinews (05/07/06).
Warga Turki di Jerman Makin Mesra

Di sebuah kedai roti doner kebab –roti khas Turki- di Kreuzberg, Berlin tampak semua kursi telah terisi penuh. Semua pengunjungnya lelaki Turki, tua muda kumpul disitu. Tidak berapa lama terdengar teriakan “Toooor !“ (Gooool !) ketika Lukas Podolski mencetak gol. Semua yang ada disitu melompat gembira. Saat itu memang sedang berlangsung pertandingan antara Jerman melawan Swedia.
Di lain waktu kita bisa saksikan anak muda Turki berparade bersama-sama warga Jerman lainnya dengan bendera nasional Jerman di tangan.

Kreuzberg hanya salah satu sisi lain kehidupan warga Turki di Jerman. Tidak ada tempat lain di Jerman yang begitu „Turki“ selain disini. 40 persen penduduk di Kreuzberg adalah warga asing. Sebagian besarnya keturunan Turki yakni sekitar 10.000-an jiwa. Di kawasan itu dengan mudah bisa ditemukan mesjid, organisasi kemasyarakatan, supermarket, juga tim sepak bola yang semuanya bernuansa Turki. Orang menyebut kawasan itu dengan julukan “die kleine Istambul“ atau Istambul Kecil. Selama piala dunia berlangsung, di setiap rumah, kedai, dan kios kepunyaan warga Turki pasti berkibar bendera nasional Jerman

Tak pelak lagi, sepak bola telah membuka simpul benang kusut integrasi warga Turki di Jerman. Presiden Jerman, Horst Köhler dalam satu wawancara dengan harian Bild berujar: „Kita memang tidak juara dunia, namun kita banyak meraih kemenangan yang lain. Salah satunya adalah perbaikan integrasi warga asing di Jerman”. Warga asing dimaksud disini adalah Turki yang merupakan imigran terbesar.

Menurut catatan Wikipedia Jerman, saat ini ada sekitar 2,5 juta warga Turki di seluruh Jerman. Sebab itu Islam di Jerman pun kental dengan warna Turki. Seperti Islam di Perancis yang dipengaruhi oleh warna Marokko, atau di Inggris yang kental dengan nuansa Pakistannya.

Kenan Kolat, ketua masyarakat Turki di Jerman mengaku sangat terkesan dengan perkembangan tersebut. “Hal ini menunjukkan rasa memiliki telah timbul“, ujar Kolat bangga.
”Warga Turki sekarang lagi demam bola. Mereka sangat mencintai Ballack dkk. Bagi mereka, Jerman adalah kampung halamannya”, sahut Taciddin Yatkin, ketua masyarakat Turki di Berlin kepada Netzeitung (30/6).

Huseyn Ugur (30) seorang pengusaha ekspor-impor menyebutkan ia tidak pernah menjumpai sebelumnya sebuah solidaritas yang demikian tinggi antara warga Turki dan Jerman.
“Akhirnya kami bisa tunjukkan bahwa kami mencintai Jerman. Fans Jerman kini jangan memalingkan muka lagi. Biarkan kami bersama-sama menikmatinya“, tukas Ugur bersemangat.

Tak kurang pedagang kain gorden, Ayhan Yalcin yang melihat simpati Turki dan Jerman sebagai suatu kejutan. “Inilah kali pertama -sejak Turki hidup di Jerman- orang Turki benar-benar ingin menunjukkan bahwa mereka juga warga Jerman“, ujar Yalcin yang lahir di Jerman.

Menilik sejarahnya, warga Turki datang ke Jerman sekitar awal tahun 1960-an. Umumnya generasi pertama ini adalah pekerja kasar yang membantu membangun Jerman dari keruntuhan setelah Perang Dunia II. Kini generasi kedua Turki bisa dikatakan telah banyak yang berhasil baik di parlemen, bintang film, pengusaha, olahragawan, dan akademisi. Di sepak bola, Mehmet Scholl -mantan pemain timnas Jerman- boleh disebut sebagai salah satu keturunan Turki yang sukses.

Hanya saja di masa silam integrasi muslim Turki di Jerman masih memiliki masalah. Hal ini disebabkan antara lain, lingkungan yang terpisah dari warga asli Jerman, lalu banyak juga diantara mereka yang tidak dapat berbahasa Jerman dengan baik. Gerhard Schröder –mantan kanselir Jerman- satu ketika pernah berujar: “Jika ingin menyatu dengan kami, belajarlah bahasa Jerman”.

Sebab itu tidak lolosnya timnas Turki ke Piala Dunia 2006 di Jerman adalah “rahmat” juga. “Jika tim nasional Turki hadir di sini, sudah pasti kebanyakan warga Turki mendukung negara asalnya“, tukas Yatkin lebih lanjut. Zulkarnain Jalil, Serambinews (13/07/06)
Toor ! Pesta pun Dimulai

Pesta bagi penikmat sepakbola telah tiba. Ya, sore hari ini waktu setempat sekitar 66.000 penonton di FIFA World Cup Stadion München akan menjadi saksi dibukanya perhelatan akbar sebulan penuh melalui pertandingan pembuka antar Jerman melawan Kosta Rika.
Jutaan pendukung lainnya yang ada di Jerman akan menyaksikan melalui ribuan layar lebar. Belum lagi yang menonton melalui televisi di rumah-rumah. Sementara itu milyaran penduduk di belahan bumi lainnya juga tak kurang antusiasnya. Sihir sepakbola telah dimulai !

Ballack, Ronaldinho, Drogba, dan pemain-pemain kaliber lainnya sadar bahwa apa yang dilakukannya bukan sekedar urusan menendang bola. Tapi bagaimana menghibur ribuan penonton yang memadati Stadion München dan milyaran lainnya yang menonton melalui layar kaca. Sepak bola kini bukan lagi sekedar olah raga. Tapi telah menjelma menjadi hiburan, bahkan industri yang dapat menggerakkan roda perekonomian.

Sepak bola kini berubah wujud menjadi industri yang menggiurkan. Aspek bisnis tidak dapat dipisahkan dengan kegiatan Piala Dunia. Dana trilyunan rupiah dapat diperoleh organisasi seperti FIFA dari kegiatan ini. Belum lagi Jerman sebagai negara penyelenggara.

Di luar itu, masyarakat di seluruh dunia banyak juga yang memperoleh keuntungan finansial. Katakanlah semisal penjual kaos, atribut tim, terompet, balon, aksesories dan berbagai macam pernak-pernik lainnya. Sepertinya produk yang “disentuh” sedikit saja dengan Piala Dunia bakal laku keras, Belum lagi terbukanya lapangan kerja baru yang begitu beragam. Sangat panjang untuk ditulis.

Seperti telah ditulis di harian ini, sepakbola adalah fenomena unik yang bisa mebuat siapapun terpana. 22 pemain mengejar sebuah bola di tengah lapangan dan ditonton milyaran orang, bisa memutar roda ekonomi, menghasilkan lapangan kerja baru, dan menambah teman baru. Kok bisa ?

Die Welt zu Gast bei Freunden, saatnya mencari teman adalah motto Piala Dunia kali ini. Hanya sepak bola barangkali yang bisa bikin semua bebas ngomong. Tak peduli dari kalangan mana berasal, suku, agama, ras, jenis kulit, jenis rambut, tua, muda, semua bebas ngomong tentang sepakbola. Ini bukan politik Bung !

Penyelenggaraan Piala Dunia kali memang sarat dengan masalah politik dan rasisme. Polemik boleh tidaknya Presiden Iran Ahmedinejad hadir di Jerman jadi headline dimana-mana. Terakhir kabarnya Ahmadinejad hanya akan mengirim pembantunya, sang wakil presiden.

Lalu masalah rasisme yang memuncak persis hanya beberapa pekan sebelum pembukaan, membuat suasana pengawalan menjadi begitu sangat ketat. Bahkan di perbatasan Jerman, kebijakan visa Schengen (bebas masuk bagi negara anggota Uni Eropa) terpaksa dibekukan sementara waktu. Belum lagi pengamanan untuk hooligans yang bikin Jerman minta tambahan bantuan polisi asing.

Ah, sudahlah mari lupakan sejenak persoalan itu. Kini mari fokuskan diri pada pertandingan pembuka Jerman melawan Kosta Rika. Pertandingan pembuka yang selalu bikin heboh. Ingat Piala Dunia 1990 dan 1998 ? Saat mana Argentina ditekuk Kamerun (1-0), lalu Perancis dibuat kaget oleh pendatang baru Senegal juga dengan skor 1-0, walau akhirnya Perancis jadi juara.
Masih belum lekang, Piala Dunia 2002 empat tahun silam saat tim-tim Asia membuat kejutan besar dengan menumbangkan tim-tim negara unggulan.

Ballack dkk musti hati-hati jika tidak ingin diterkam oleh anak-anak asuh Gumaraes. “Kaiser” Beckenbauer pun sampai perlu memompa semangat. "Singt und Siegt für Deutschland !“ (Ayo nyanyilah dan menangkan Jerman !).

Pukul 18.00 waktu Jerman saat lagu kedua negara selesai dialunkan, maka pesta pun dimulai. Tooor ! Selamat begadang. Zulkarnain Jalil, Serambinews (10/06/06)
Italia Quattro !

Quattro, Grosso, Italia, Quattro !” (Empat, Grosso, Italia, Empat!), demikian teriakan suporter Skuadra Azzura dalam bahasa Italia sesaat Fabio Grosso melesakkan penalti terakhir untuk kemenangan Italia. Dan, negara Pizza itu pun berhak menambah bintang di kaosnya menjadi empat. Italia quattro!, Ya Italia juara dunia empat kali.

Sekelompok anak-anak muda yang mengaku dari Lecce, melompat-lompat di depan sebuah cafe stasiun kereta api Berlin yang menayangkan live final itu. Sebagian besar suporter Italia memang sejak Minggu pagi datang langsung dari berbagai kota disana. Yang sempat saya pantau umumnya datang dari Napoli, Bari, Lecce, dan beberapa kota lainnya.

Para bonek Italia ini tampaknya tidak punya akomodasi yang memadai. Mereka terlihat tidur seadanya di taman-taman dekat stadion. Sebagiannya lagi masih mencari-cari tiket masuk stadion dengan membawa karton bertuliskan “I need ticket” (saya butuh tiket) –sesuatu yang mustahil diperoleh tentunya.

Namun sebagian pendukung yang tidak punya tiket itu akhirnya berkumpul di arena nobar Brandenburger Tor. Tempat itu kemarin malam juga tetap ramai pengunjung. 500.000 ribu pendukung Italia dan Perancis menyemuti lokasi bersejarah tersebut.

Paginya sebelum meninggalkan Berlin saya coba menyusuri arena itu lagi. Suasana sangat sepi, yang ada hanya tumpukan sampah dimana-mana. Seorang petugas yang berjaga-jaga mengatakan tempat itu ditutup untuk sementara waktu selama dua minggu. Karena tanggal 15 Juli di situ bakal ada parade dan karnaval terbesar se-Jerman.

Kembali ke pertandingan, tadi malam yang spesial sebenarnya adalah Zinedine Zidane. Pasalnya ia menjadikan malam puncak itu sebagai arena perpisahannya dari panggung sepak bola dunia. Namun sayangnya sedikit tercoreng oleh ulahnya yang konyol.

“Oh, Zidane, menit-menit terakhir karirmu !“, teriak seorang warga Jerman di samping saya ketika Zizou “menanduk“ Materazzi. Ulah Zidan sungguh disayangkan. Pasalnya ia telah meraih simpati di dunia sepakbola, kendatipun di final tidak bisa mengantarkan Perancis jadi juara. Sejam setelah pertandingan, salah satu televisi swasta Jerman mengadakan talk show. Gerd Mueller, pemain timnas Jerman 1974 yang jadi salah satu pembicara mengulas apa yang dilakukan Zidane sebagai sesuatu yang tragis. Persis hanya beberapa menit akhir karirnya yang sangat gemilang.

Zidane, warga Perancis keturunan Aljazair itu memang telah mengumumkan bahwa ia akan mengakhiri karirnya setelah piala dunia. Jauh sebelum turnamen dimulai, Zidane mengatakan tujuannya telah sampai ke batas akhir. Buku telah ditutup. Prof. Wolfgang Haerdle, warga Jerman dan peneliti di Humbold University Berlin boleh disebut sebagai salah seorang pengagum Zidane. Haerdle menyebut Zidane sebagai jenius di sepak bola.

Malam final kemarin bisa dibilang Perancis mendapat dukungan tambahan dari warga Jerman. Maklum, orang Jerman lumayan “iri“ dengan Italia yang merebut juara dunia keempatnya di tanah Jerman. Sementara Jerman “baru“ tiga kali. Suporter Jerman sampai ada yang ngomong begini: “Kami tidak mau makan Pizza lagi“. Zulkarnain Jalil, Serambinews (11/07/06)