Hindari listrik padam, stadion gunakan genset
Sekitar 2000 suporter bola terjebak di stasiun kereta api Pretoria pasca pertandingan tuan rumah Afsel melawan Uruguay, Rabu (16/6) kemarin. Kereta api yang akan mereka tumpangi mogok akibat putusnya aliran listrik. Alhasil para suporter terpaksa menunggu dua hingga tiga jam lamanya di tengah udara dingin yang menusuk. Tak kuat menunggu, sebagiannya memutuskan menggunakan sarana transportasi lain. Kebanyakan fans baru tiba kembali di rumah masing-masing jelang subuh.
"Malam itu sebagian besar suporter akan ke Johannesburg, yang diperkirakan tiba disana pukul 24.30. Akibat putusnya listrik, kami lalu mengupayakan lokomotif tenaga uap. Namun baru tiba sekitar dua jam kemudian. Atas keterlambatan ini kami meminta maaf kepada pengguna jasa kereta api," ujar Nozipho Sangweni, manajer regional jawatan kereta api propinsi Gauteng, seperti dikutip kantor berita Afsel, SAPA.
Perihal matinya listrik sarana transportasi kereta api itu spontan jadi pembicaraan hangat. Ternyata krisis listrik di Afsel punya kisah tersendiri, mungkin hampir mirip dengan di tempat kita. Krisis listrik ini muncul awal 2008 silam. Sejak itu warga Afsel mulai mengenal yang namanya mati lampu dan pemadaman bergilir karena suplai listrik tak cukup. Lalu bagaimana jika pas pertandingan mati lampu?
”Khusus selama Piala Dunia, pemerintah menjamin pasokan listrik. Bakal tak ada pemadaman listrik selama PD 2010 ini, kecuali jika terjadi hal yang diluar dugaan seumpama bencana alam,” Wakil Presiden Kgalema Motlanthe, seperti disitir Afrol News, memberikan garansinya
Eskom (PLN-nya Afsel) sendiri berjanji pada pemerintah dan FIFA takkan ada pemadaman selama perhelatan Piala Dunia. Pihak Eskom berkilah mereka akan menggunakan berbagai alternatif lain agar suplai listrik cukup selama PD. Misalnya penggunaan listrik tenaga batu bara, uap dan air.
Tapi tampaknya jaminan Eskom itu tetap tak membuat panitia setempat bisa duduk tenang. Mereka tak berani memegang janji Eskom. Sebagai contoh di Stadion Soocer City, Johannesburg kini semua jaringan listrik dihubungkan dengan mesin genset. ” Saat pertandingan malam hari, kami tak akan gunakan jasa Eskom. Takut tiba-tiba mati, sangat berisiko,” sebut salah seorang panitia lokal.
"Seluruh stadion punya fasilitas genset untuk mem-backup listrik Eskom. Kami yakin perangkat ini akan mampu menutupi konsumsi listrik, terutama selama Piala Dunia 2010," sebut panitia.
Pemadaman bergilir terjadi di seluruh Afsel terutama saat beban puncak. Padahal negeri Nelson Mandela itu punya pembangkit listrik tenaga nuklir di Koeberg, Cape Town. Namun saat ini PLTN Koeberg lagi bermasalah dengan salah satu generator pembangkitnya. Listrik tenaga nuklir Koeberg memproduksi 12,7 juta kWh dan mampu menutupi sekitar 6% konsumsi listrik di Afsel.
Saturday, June 19, 2010
Friday, June 18, 2010
Pedagang bendera pun panen
Piala Dunia membawa berkah tersendiri bagi para pedagang bendera di Afsel. Terbukti penjualan bendera 32 negara peserta PD 2010 saat ini laku keras. Seperti dilaporkan Sport24, banyak warga Afsel yang memanfaatkan even ini untuk memperbaiki kondisi ekonomi mereka. Salah satunya ya dengan berjualan bendera.
Editor olahraga Voice of America, Parke Brewer yang sedang meliput Piala Dunia mengaku terkesima selama berada di Afsel. “Saya tak pernah melihat sebelumnya begitu banyak bendera berkibar disini. Tak hanya di stadion, tapi di hampir semua pelosok kota bermandikan bendera. Mobil, rumah, perkantoran, toko hingga kios-kios kecil,” ujar Brewer kagum.
Sebagian warga Afsel kini malah mengisi waktu dengan berjualan bendera, terutama para pengangguran. Bahkan ada yang meninggalkan pekerjaan lamanya dan beralih jadi pedagang bendera. Karena uang yang diraih dari berjualan bendera bisa lebih banyak.
Di kota-kota besar seperti Johannesburg, Cape Town dan Durban, penjual bendera begitu menjamur. Seperti di Johannesburg, kebanyakan mereka beroperasi di jalan raya, utamanya di kawasan lampu merah. Kota itu kini penuh warna warni bendera 32 kontestan.
Para pedagang jalanan menjual bendera yang paling besar rata-rata seharga 150 rand (sekitar 180 ribu rupiah). Sedangkan yang kecil bervariasi. Bendera yang paling laku adalah Brazil, Belanda, Spanyol dan Portugal. the Netherlands, Spain and Portugal. Tentu saja bendera tuan rumah Afsel masih menempati peringkat pertama. Saat pembukaan pedagang meraup keuntungan besar.
Nathan Murindagamo (24), seorang pemuda Afsel, terlihat sangat menikmati pekerjaan barunya itu. Nathan mengaku telah meneguk untung banyak dari berjualan bendera. "Piala Dunia ini luar biasa, hebat buat kami yang berekonomi lemah. Aku senang bisa dapat uang disini, di jalan raya," ujar pria pengangguran itu gembira.
Lain lagi Murindagamo, dia mengaku mampu meraup pendapatan yang menggiurkan dalam sehari. ”Bendera paling laris ya Afsel, diikuti Brazil, Belanda, Spanyol dan Portugal. Saya mampu mengumpulkan uang hingga 800 rand sehari (sekitar 960 ribu rupiah). Senang sekali rasanya. Piala Dunia sangat membantu keluarga saya," kata dia sumringah.
"Saya meninggalkan pekerjaan lama dan beralih jualan bendera disini. Uangnya lebih banyak dari dagang bendera," kata Lovemore Toronga (30) sambil melambai-lambaikan bendera dagangannya di sebuah perempatan jalanan yang sibuk di Johannesburg. "Saya akan jualan terus hingga turnamen selesai 11 Juli nanti,” imbuh Toronga sembari berteriak menawarkan bendera.
Diantara pedagang kecil, pedagang bendera seperti Toronga dan Murindagamo patut berlega hati. Pasalnya saudara mereka, pedagang kaki lima dan asongan, yang berdagang makanan dan minuman ringan kurang mampu meraih hasil maksimum. Kalah bersaing dengan pedagang modal besar seperti Coca Cola dan McDonald.
Made in China
Sayangnya, raihan omset besar ternyata tak dinikmati produsen bendera lokal. Apa pasal?
“Produsen lokal tak mampu berkompetisi dengan produsen asal China yang berani melepas dengan harga rendah. Kami bahkan tak mampu menutupi biaya produksi. Sebegitu rendahnya bendera produk China," keluh Michael Goldman, direktur Flag Factory seperti dikutip iol.za.
“Sebuah bendera tipe kecil asal China harganya cuma 35 rand (sekitar 42 ribu rupiah). Itu setengah dari harga jual bendera produk lokal. Perbedaan harga mencolok ini, karena pabrik-pabrik di Afsel harus membayar pekerjanya lebih mahal. Itulah masalahnya. Sayang, padahal saat ini bendera sedang jadi primadona,” lanjut Goldman.
Tak pelak, produsen bendera di Afsel pun geram dengan banyaknya produk murah asal China itu. “Padahal ini peluang besar kami untuk menciptakan lapangan kerja di Afsel. Setidaknya sekitar 4 jura rand hilang diserap bendera impor,” ujar salah satu produsen lokal tak mau disebut namanya.
Piala Dunia membawa berkah tersendiri bagi para pedagang bendera di Afsel. Terbukti penjualan bendera 32 negara peserta PD 2010 saat ini laku keras. Seperti dilaporkan Sport24, banyak warga Afsel yang memanfaatkan even ini untuk memperbaiki kondisi ekonomi mereka. Salah satunya ya dengan berjualan bendera.
Editor olahraga Voice of America, Parke Brewer yang sedang meliput Piala Dunia mengaku terkesima selama berada di Afsel. “Saya tak pernah melihat sebelumnya begitu banyak bendera berkibar disini. Tak hanya di stadion, tapi di hampir semua pelosok kota bermandikan bendera. Mobil, rumah, perkantoran, toko hingga kios-kios kecil,” ujar Brewer kagum.
Sebagian warga Afsel kini malah mengisi waktu dengan berjualan bendera, terutama para pengangguran. Bahkan ada yang meninggalkan pekerjaan lamanya dan beralih jadi pedagang bendera. Karena uang yang diraih dari berjualan bendera bisa lebih banyak.
Di kota-kota besar seperti Johannesburg, Cape Town dan Durban, penjual bendera begitu menjamur. Seperti di Johannesburg, kebanyakan mereka beroperasi di jalan raya, utamanya di kawasan lampu merah. Kota itu kini penuh warna warni bendera 32 kontestan.
Para pedagang jalanan menjual bendera yang paling besar rata-rata seharga 150 rand (sekitar 180 ribu rupiah). Sedangkan yang kecil bervariasi. Bendera yang paling laku adalah Brazil, Belanda, Spanyol dan Portugal. the Netherlands, Spain and Portugal. Tentu saja bendera tuan rumah Afsel masih menempati peringkat pertama. Saat pembukaan pedagang meraup keuntungan besar.
Nathan Murindagamo (24), seorang pemuda Afsel, terlihat sangat menikmati pekerjaan barunya itu. Nathan mengaku telah meneguk untung banyak dari berjualan bendera. "Piala Dunia ini luar biasa, hebat buat kami yang berekonomi lemah. Aku senang bisa dapat uang disini, di jalan raya," ujar pria pengangguran itu gembira.
Lain lagi Murindagamo, dia mengaku mampu meraup pendapatan yang menggiurkan dalam sehari. ”Bendera paling laris ya Afsel, diikuti Brazil, Belanda, Spanyol dan Portugal. Saya mampu mengumpulkan uang hingga 800 rand sehari (sekitar 960 ribu rupiah). Senang sekali rasanya. Piala Dunia sangat membantu keluarga saya," kata dia sumringah.
"Saya meninggalkan pekerjaan lama dan beralih jualan bendera disini. Uangnya lebih banyak dari dagang bendera," kata Lovemore Toronga (30) sambil melambai-lambaikan bendera dagangannya di sebuah perempatan jalanan yang sibuk di Johannesburg. "Saya akan jualan terus hingga turnamen selesai 11 Juli nanti,” imbuh Toronga sembari berteriak menawarkan bendera.
Diantara pedagang kecil, pedagang bendera seperti Toronga dan Murindagamo patut berlega hati. Pasalnya saudara mereka, pedagang kaki lima dan asongan, yang berdagang makanan dan minuman ringan kurang mampu meraih hasil maksimum. Kalah bersaing dengan pedagang modal besar seperti Coca Cola dan McDonald.
Made in China
Sayangnya, raihan omset besar ternyata tak dinikmati produsen bendera lokal. Apa pasal?
“Produsen lokal tak mampu berkompetisi dengan produsen asal China yang berani melepas dengan harga rendah. Kami bahkan tak mampu menutupi biaya produksi. Sebegitu rendahnya bendera produk China," keluh Michael Goldman, direktur Flag Factory seperti dikutip iol.za.
“Sebuah bendera tipe kecil asal China harganya cuma 35 rand (sekitar 42 ribu rupiah). Itu setengah dari harga jual bendera produk lokal. Perbedaan harga mencolok ini, karena pabrik-pabrik di Afsel harus membayar pekerjanya lebih mahal. Itulah masalahnya. Sayang, padahal saat ini bendera sedang jadi primadona,” lanjut Goldman.
Tak pelak, produsen bendera di Afsel pun geram dengan banyaknya produk murah asal China itu. “Padahal ini peluang besar kami untuk menciptakan lapangan kerja di Afsel. Setidaknya sekitar 4 jura rand hilang diserap bendera impor,” ujar salah satu produsen lokal tak mau disebut namanya.
Thursday, June 17, 2010
1990 + 1974 - 1954 = 2010
Tim Jerman yang bertanding lawan Australia kemarin malam sejauh ini dinilai banyak pihak sebagai tim yang terbaik. Baik dari segi permainan yang diklaim atraktif dan menghibur, demikian juga jumlah gol yang tercetak. Setelah melewati beberapa pertandingan, banyak maniak bola terlihat belum puas dengan minimnya gol-gol yang terjadi. Skornya tipis-tipis. Kemenangan der Panzer dengan 4 gol sangat memuaskan dahaga mereka. Apalagi Philip Lahm dkk menunjukkan sebuah permainan yang sangat jauh berbeda dengan Jerman di sama silam yang dikenal kaku dan membosankan.
Pasca pertandingan, praktis kota Durban -tempat pertandingan dilangsungkan- dikuasai oleh fans Jerman. Demikian juga di Cape Town yang merupakan basisnya fans Jerman. Bendera nasional Jerman melambai-lambai dimana-mana diiringi tiupan terompet vuvuzela yang memekakkan telinga. Bahkan, sebagian warga Afrika terlihat ikut berbaur dalam euforia itu. Maklum, beberapa pemain timnas Jerman ada yang berdarah Afrika, yakni Jerome Boateng (Ghana), Dennis Aogo (Nigeria) dan Sami Khedira (Tunisia).
Rumus Tolan
Di tengah euforia fans Jerman itulah menyeruak susunan angka-angka seperti di atas. Secara kasat mata Anda pasti sudah mahfum arti angka-angka tersebut. Itulah rumus yang disebut oleh orang Jerman sebagai Tolan Formel atau Rumus Tolan. Angka-angka di atas adalah tahun-tahun dimana Jerman jadi juara dunia (1954, 1974 dan 1990). Nah, penambahan 1990 dengan 1974 lalu dikurangi 1954 maka hasilnya tepat 2010. Artinya, juara Piala Dunia 2010 adalah Jerman! Waw, bukan main.
Empat tahun silam, saya pernah menulis di kolom serupa dengan judul 54 74 – 1990 = 2006 (lihat: Serambi Indonesia edisi 16 Juni 2006). Rumus sederhana itu diperkenalkan pertamakali oleh Prof. Dr. Metin Tolan. Pria ramah berdarah Turki ini adalah guru besar Fisika Eksperimen di Universitas Dortmund, Jerman.
Pemikiran Tolan yang lahir di Oldenburg dari pasangan Jerman (bapak) dan Turki (ibu) memang tergolong nyentrik. Buktinya, dia telah merangkum filosofi berpikirnya dalam beberapa buku yang berjudul tak kalah nyentrik, masing-masing “Fisika Star Trek“, “Fisika James Bond“ dan terakhir “Fisika Sepakbola“.
Namun, kala itu fans Jerman harus kecewa, karena Ballack cs kandas di semifinal dihempas Italia 0-2. Mimpi juara dunia pun punah. Rumus Tolan tak cukup ampuh saat itu. Rupanya, orang Jerman tak patah arang. Maka angka-angka keramat itu pun diutak-atik lagi hingga muncullah formula baru seperti judul di atas. Dasar Jerman, ujar seorang rekan jurnalis.
Tim yang akan melaju ke babak final 11 Juli 2010 nanti belum diketahui, tapi Prof Tolan malah sudah tahu siapa juaranya. “Tak ada keraguan lagi, Jerman adalah juara dunia 2010. Rumusnya kan sudah jelas he he,“ ujar Tolan dalam satu wawancara dengan televisi WDR.
"Jika dihitung lebih detail lagi menggunakan teori statistik, dengan memanfaatkan semua pertandingan yang dimainkan Jerman, jumlah gol, dan beberapa parameter lainnya, maka di Piala Dunia 2010 paling buruk Jerman akan masuk semi final dan dihitung secara rerata der Panzer akan menempati peringkat 3,7," ujar Tolan optimis. Profesor berusia 44 tahun itu sangat yakin dengan rumus terbarunya. Jerman bakal jadi juara dunia 2010. So, patut ditunggu apakah rumus Profesor Tolan benar-benar ampuh.
Tim Jerman yang bertanding lawan Australia kemarin malam sejauh ini dinilai banyak pihak sebagai tim yang terbaik. Baik dari segi permainan yang diklaim atraktif dan menghibur, demikian juga jumlah gol yang tercetak. Setelah melewati beberapa pertandingan, banyak maniak bola terlihat belum puas dengan minimnya gol-gol yang terjadi. Skornya tipis-tipis. Kemenangan der Panzer dengan 4 gol sangat memuaskan dahaga mereka. Apalagi Philip Lahm dkk menunjukkan sebuah permainan yang sangat jauh berbeda dengan Jerman di sama silam yang dikenal kaku dan membosankan.
Pasca pertandingan, praktis kota Durban -tempat pertandingan dilangsungkan- dikuasai oleh fans Jerman. Demikian juga di Cape Town yang merupakan basisnya fans Jerman. Bendera nasional Jerman melambai-lambai dimana-mana diiringi tiupan terompet vuvuzela yang memekakkan telinga. Bahkan, sebagian warga Afrika terlihat ikut berbaur dalam euforia itu. Maklum, beberapa pemain timnas Jerman ada yang berdarah Afrika, yakni Jerome Boateng (Ghana), Dennis Aogo (Nigeria) dan Sami Khedira (Tunisia).
Rumus Tolan
Di tengah euforia fans Jerman itulah menyeruak susunan angka-angka seperti di atas. Secara kasat mata Anda pasti sudah mahfum arti angka-angka tersebut. Itulah rumus yang disebut oleh orang Jerman sebagai Tolan Formel atau Rumus Tolan. Angka-angka di atas adalah tahun-tahun dimana Jerman jadi juara dunia (1954, 1974 dan 1990). Nah, penambahan 1990 dengan 1974 lalu dikurangi 1954 maka hasilnya tepat 2010. Artinya, juara Piala Dunia 2010 adalah Jerman! Waw, bukan main.
Empat tahun silam, saya pernah menulis di kolom serupa dengan judul 54 74 – 1990 = 2006 (lihat: Serambi Indonesia edisi 16 Juni 2006). Rumus sederhana itu diperkenalkan pertamakali oleh Prof. Dr. Metin Tolan. Pria ramah berdarah Turki ini adalah guru besar Fisika Eksperimen di Universitas Dortmund, Jerman.
Pemikiran Tolan yang lahir di Oldenburg dari pasangan Jerman (bapak) dan Turki (ibu) memang tergolong nyentrik. Buktinya, dia telah merangkum filosofi berpikirnya dalam beberapa buku yang berjudul tak kalah nyentrik, masing-masing “Fisika Star Trek“, “Fisika James Bond“ dan terakhir “Fisika Sepakbola“.
Namun, kala itu fans Jerman harus kecewa, karena Ballack cs kandas di semifinal dihempas Italia 0-2. Mimpi juara dunia pun punah. Rumus Tolan tak cukup ampuh saat itu. Rupanya, orang Jerman tak patah arang. Maka angka-angka keramat itu pun diutak-atik lagi hingga muncullah formula baru seperti judul di atas. Dasar Jerman, ujar seorang rekan jurnalis.
Tim yang akan melaju ke babak final 11 Juli 2010 nanti belum diketahui, tapi Prof Tolan malah sudah tahu siapa juaranya. “Tak ada keraguan lagi, Jerman adalah juara dunia 2010. Rumusnya kan sudah jelas he he,“ ujar Tolan dalam satu wawancara dengan televisi WDR.
"Jika dihitung lebih detail lagi menggunakan teori statistik, dengan memanfaatkan semua pertandingan yang dimainkan Jerman, jumlah gol, dan beberapa parameter lainnya, maka di Piala Dunia 2010 paling buruk Jerman akan masuk semi final dan dihitung secara rerata der Panzer akan menempati peringkat 3,7," ujar Tolan optimis. Profesor berusia 44 tahun itu sangat yakin dengan rumus terbarunya. Jerman bakal jadi juara dunia 2010. So, patut ditunggu apakah rumus Profesor Tolan benar-benar ampuh.
Makarapa, berkah dari lemparan penonton
Piala Dunia Afrika Selatan menawarkan banyak pernak pernik unik dan penuh warna. Selain terompet vuvuzela, ada satu asesoris lagi yang kini jamak digunakan suporter bola selama Piala Dunia. Itulah Makarapa, topi yang asal muasalnya dibuat dari helm proyek yang umum dipakai pekerja konstruksi bangunan. Tahu tidak, ternyata munculnya makarapa yang mendunia itu diilhami oleh lemparan penonton saat nonton bola di stadion. Lho, kok bisa?
”Semua bermula di tahun 1979. Kala itu, sehabis bekerja sebagai pencuci mobil, saya ke Orlando Stadium untuk nonton bola. Waktu itu tim kesayangan saya Kaizer Chiefs main lawan Moroka Swallows,” ujar Alfred Baloyi, pencipta makarapa, mengawali ceritanya.
”Bagi yang sering nonton bola di stadion Orlando pasti ingat dengan tribun kelas ekonomi, tribun khusus bagi yang berkantong cekak. Di tribun ini kita sudah biasa kena timpuk penonton yang duduk di atas. Nah, satu hari saya nonton ditemani Hendrik Langa, seorang teman yang bekerja di perusahaan konstruksi bangunan. Mungkin kasihan melihat saya kena timpuk, lantas Hendrik memberi saya sebuah helm proyek. Berkat helm itu kepala saya aman selama pertandingan,” lanjut Baloyi.
Baloyi, yang punya bakat seni sejak kecil, rupanya mencium “sesuatu” dari helm itu. Dia, bak fisikawan terkemuka Newton yang mendapat ilham dari jatuhnya buah apel yang menimpa kepala, lantas bergegas pulang ke rumah untuk menuangkan ide dari lemparan suporter di stadion itu.
"Di gudang, helm itu saya cat dengan warna-warni sesuai warna tim kesayangan saya,” kisahnya lagi. Di hari berikutnya, dia menambahkan tanduk hewan, misalnya tanduk kambing atau kerbau. Lalu ditambah foto para pemain. Rupanya ada penonton yang tertarik. Dia pun membuat beberapa buah makarapa.
“Saya jual seharga 7 rand (sekitar 8 ribu rupiah),” kata Baloyi mengenang. Perlahan, topi makarapa buatannya makin dikenal suporter bola. Pesanan pun terus meningkat. Akhirnya dia memutuskan berhenti bekerja sebagai pencuci mobil dan menekuni usaha makarapa. Baloyi lantas melatih beberapa anak muda di kampungnya merancang makarapa. Tiap ada pertandingan, mereka juga membuka lapak di sekitar stadion.
Jerih payahnya selama bertahun-tahun di bengkel sempit di Ga-Makausi, Germiston akhirnya mulai dikenal dunia luar. Saat Piala Konfederasi tahun 2009 kemarin, banyak fans Afsel mengenakan makarapa buatannya. Baloyi mengaku sangat terbantu oleh foto-foto yang muncul di media internasional. Maka dapat ditebak, topi makarapa pun go internasional.
Helm makarapa sempat diperkenalkan di Swiss saat Afsel ditunjuk sebagai tuan rumah Piala Dunia. Bahkan bos FIFA Sepp Blatter pernah diberi hadiah makarapa ketika melakukan inspeksi ke Afsel.
Selama Piala Dunia, untuk menambah kesan manis, makarapa pun dimodifikasi dengan tambahan aneka motif dan asesories. Ada yang dipasang sayap, dipadu dengan kacamata raksana, wajah pemain tertentu, bendera negara peserta Piala Dunia, dan bermacam asesories lainnya.
Makarapa bisa diperoleh di toko-toko, pedagang kaki lima hingga asongan dengan harga berkisar 120 rand (sekitar 154 ribu rupiah). Di pasaran internasional laku dijual hingga 30 dolar (sekitar 280 ribu rupiah). Untuk desain yang lebih ekslusif bahkan bisa mencapai 200 dolar (sekitar 1,8 juta rupiah).
Usaha Baloyi kini telah pindah ke Sandton, Johannesburg dan punya gudang luas. Dia dibantu oleh 50 orang pegawainya. Baloyi juga bekerjasama dengan Papadi Integrated Marketing (PIM) untuk memasarkan makarapa ciptaannya. PIM adalah sebuah perusahaan distributor alat-alat olahraga lokal dan direkturnya, Grant Nicholls merupakan teman lamanya dan sama-sama fans bola.
Kendati sudah sukses dan terkenal, Baloyi yang tak tamat sekolah dasar, tetap rendah hati. Hari-harinya disibukkan dengan membuat makarapa. Dia berharap mampu membuka lapangan kerja yang lebih luas dan dapat membantu pemerintah mengurangi pengangguran.
Piala Dunia Afrika Selatan menawarkan banyak pernak pernik unik dan penuh warna. Selain terompet vuvuzela, ada satu asesoris lagi yang kini jamak digunakan suporter bola selama Piala Dunia. Itulah Makarapa, topi yang asal muasalnya dibuat dari helm proyek yang umum dipakai pekerja konstruksi bangunan. Tahu tidak, ternyata munculnya makarapa yang mendunia itu diilhami oleh lemparan penonton saat nonton bola di stadion. Lho, kok bisa?
”Semua bermula di tahun 1979. Kala itu, sehabis bekerja sebagai pencuci mobil, saya ke Orlando Stadium untuk nonton bola. Waktu itu tim kesayangan saya Kaizer Chiefs main lawan Moroka Swallows,” ujar Alfred Baloyi, pencipta makarapa, mengawali ceritanya.
”Bagi yang sering nonton bola di stadion Orlando pasti ingat dengan tribun kelas ekonomi, tribun khusus bagi yang berkantong cekak. Di tribun ini kita sudah biasa kena timpuk penonton yang duduk di atas. Nah, satu hari saya nonton ditemani Hendrik Langa, seorang teman yang bekerja di perusahaan konstruksi bangunan. Mungkin kasihan melihat saya kena timpuk, lantas Hendrik memberi saya sebuah helm proyek. Berkat helm itu kepala saya aman selama pertandingan,” lanjut Baloyi.
Baloyi, yang punya bakat seni sejak kecil, rupanya mencium “sesuatu” dari helm itu. Dia, bak fisikawan terkemuka Newton yang mendapat ilham dari jatuhnya buah apel yang menimpa kepala, lantas bergegas pulang ke rumah untuk menuangkan ide dari lemparan suporter di stadion itu.
"Di gudang, helm itu saya cat dengan warna-warni sesuai warna tim kesayangan saya,” kisahnya lagi. Di hari berikutnya, dia menambahkan tanduk hewan, misalnya tanduk kambing atau kerbau. Lalu ditambah foto para pemain. Rupanya ada penonton yang tertarik. Dia pun membuat beberapa buah makarapa.
“Saya jual seharga 7 rand (sekitar 8 ribu rupiah),” kata Baloyi mengenang. Perlahan, topi makarapa buatannya makin dikenal suporter bola. Pesanan pun terus meningkat. Akhirnya dia memutuskan berhenti bekerja sebagai pencuci mobil dan menekuni usaha makarapa. Baloyi lantas melatih beberapa anak muda di kampungnya merancang makarapa. Tiap ada pertandingan, mereka juga membuka lapak di sekitar stadion.
Jerih payahnya selama bertahun-tahun di bengkel sempit di Ga-Makausi, Germiston akhirnya mulai dikenal dunia luar. Saat Piala Konfederasi tahun 2009 kemarin, banyak fans Afsel mengenakan makarapa buatannya. Baloyi mengaku sangat terbantu oleh foto-foto yang muncul di media internasional. Maka dapat ditebak, topi makarapa pun go internasional.
Helm makarapa sempat diperkenalkan di Swiss saat Afsel ditunjuk sebagai tuan rumah Piala Dunia. Bahkan bos FIFA Sepp Blatter pernah diberi hadiah makarapa ketika melakukan inspeksi ke Afsel.
Selama Piala Dunia, untuk menambah kesan manis, makarapa pun dimodifikasi dengan tambahan aneka motif dan asesories. Ada yang dipasang sayap, dipadu dengan kacamata raksana, wajah pemain tertentu, bendera negara peserta Piala Dunia, dan bermacam asesories lainnya.
Makarapa bisa diperoleh di toko-toko, pedagang kaki lima hingga asongan dengan harga berkisar 120 rand (sekitar 154 ribu rupiah). Di pasaran internasional laku dijual hingga 30 dolar (sekitar 280 ribu rupiah). Untuk desain yang lebih ekslusif bahkan bisa mencapai 200 dolar (sekitar 1,8 juta rupiah).
Usaha Baloyi kini telah pindah ke Sandton, Johannesburg dan punya gudang luas. Dia dibantu oleh 50 orang pegawainya. Baloyi juga bekerjasama dengan Papadi Integrated Marketing (PIM) untuk memasarkan makarapa ciptaannya. PIM adalah sebuah perusahaan distributor alat-alat olahraga lokal dan direkturnya, Grant Nicholls merupakan teman lamanya dan sama-sama fans bola.
Kendati sudah sukses dan terkenal, Baloyi yang tak tamat sekolah dasar, tetap rendah hati. Hari-harinya disibukkan dengan membuat makarapa. Dia berharap mampu membuka lapangan kerja yang lebih luas dan dapat membantu pemerintah mengurangi pengangguran.
Lengkingan Vuvuzela setara suara mesin jet
Vuvuzela adalah fenomena baru di Piala Dunia kali ini. Boleh jadi, Piala Dunia Afsel akan dikenang sebagai Piala Dunia paling berisik sepanjang masa. Saat pertandingan Afsel lawan Meksiko kemarin malam, pasti Anda mendengar suara riuh mirip dengungan ribuan tawon yang sedang berterbangan. Suara tiupan terompet plastik khas Afsel itu terdengar bagai tak ada henti. Vuvuzela sebagai salah satu alat musik lokal, diyakini mampu mendongkrak semangat pemain di lapangan. Tapi apa jadinya jika malah bikin telinga berdengung?
Tak pelak, vuvuzela bikin penasaran para peneliti masalah suara. "Suara vuvuzela sangat berisiko dan bisa menyebabkan kerusakan permanen pada alat pendengaran," terang Dr De Wet Swanepoel dari Jurusan Patologi Komunikasi, Universitas Pretoria, Afsel seperti dikutip Sport24.
Swanepoel yang melakukan riset bersama Dr James Hall dari Universitas Florida, Amerika Serikat menerbitkan hasil riset terbarunya itu di SA Medical Journal. Tim riset ini melakukan tes di stadion berstandar FIFA dengan kapasitas 30 ribu tempat duduk. 11 orang penonton dijadikan sampel ujicoba. Sebuah detektor suara mini direkatkan di dekat bahu mereka. Pengujian dilakukan sebelum dan sesudah pertandingan.
Hasilnya sangat mencengangkan. Suara vuvuzela selama dua jam ternyata memiliki intensitas sebesar 100,5 desibel (dB). Jika jumlah peniup ditambah, intensitas meningkat hingga 144,2 dB. Sebagai perbandingan, getaran suara mesin bor jalanan sama dengan 100 dB. Deru mesin pesawat terbang 120 dB. Berarti lengkingan vuvuzela bisa melebihi suara mesin jet. Wow!
“Jadi sangat beralasan jika kami katakan intensitas suara vuvuzela bisa lebih tinggi lagi di stadion resmi Piala Dunia. Dimana kapasitasnya bahkan mencapai tiga kali lipat dari stadion yang kami gunakan dalam penelitian ini, " terang Swanepoel dalam makalahnya.
Merujuk data, intensitas suara 30 sampai 40 dB masuk katagori gangguan ringan. Lalu, 40-60 dB skala sedang dan intensitas suara antara 60 hingga 90 desibel sudah tergolong skala berat. Karena itu, dengan intensitas suara yang dimiliki vuvuzela, para peneliti menyarankan perlunya penggunaan alat pelindung mini di telinga.
Hasil riset itu tak berbeda jauh dengan temuan tim riset Phonak -perusahaan produsen alat bantu pendengaran asal Jerman- yang meneliti suara vuvuzela. Hasil temuan tim Phonak yang dilakukan di sebuah stadion di Cape Town diketahui intensitas suara vuvuzela mencapai 127 dB.
Vuvuzela pemain ke-12
Vuvuzela sempat jadi kontroversi di Piala Konfederasi tahun 2009 silam, karena dianggap mengganggu konsentrasi pemain di lapangan. Pemain Spanyol Xabi Alonso bahkan meminta vuvuzela dilarang saja. Entah karena vuvuzela, Spanyol akhirnya kalah lawan Amerika 0-2 di semi final.
Presiden FIFA Sepp Blatter acuh saja dengan saran ini dan dengan enteng menjawab: “Vuvuzela adalah bagian dari budaya masyarakat Afrika. Kenapa kita tidak belajar beradaptasi dengan kultur mereka.“
"Kita musti hargai cara rakyat Afrika mengungkapkan rasa gembiranya. Biarkan mereka mengekspresikan dengan cara mereka sendiri. Mungkin beda dengan kultur kita. Tapi, itulah kebanggaan mereka dan jangan dilukai," timpal Juergen Klinsmann, eks pelatih tim panser Jerman yang berada di Afrika sebagai komentator televisi.
“Kami butuh Vuvuzela. Kami butuh segala hal yang bisa memompa semangat para pemain. Vuvuzela adalah pemain ke-12 kami,“ tegas Carlos Alberto Parreira, pelatih timnas Afsel.
Dan, kini ada sebuah perusahaan di Afsel yang sukses menangkap peluang usaha baru dari kontroversi vuvuzela. Perusahaan itu saat ini memasarkan busa penyumbat telinga yang dirancang secara khusus hingga mampu meredam suara dengan intensitas tinggi. Begitulah.
Vuvuzela adalah fenomena baru di Piala Dunia kali ini. Boleh jadi, Piala Dunia Afsel akan dikenang sebagai Piala Dunia paling berisik sepanjang masa. Saat pertandingan Afsel lawan Meksiko kemarin malam, pasti Anda mendengar suara riuh mirip dengungan ribuan tawon yang sedang berterbangan. Suara tiupan terompet plastik khas Afsel itu terdengar bagai tak ada henti. Vuvuzela sebagai salah satu alat musik lokal, diyakini mampu mendongkrak semangat pemain di lapangan. Tapi apa jadinya jika malah bikin telinga berdengung?
Tak pelak, vuvuzela bikin penasaran para peneliti masalah suara. "Suara vuvuzela sangat berisiko dan bisa menyebabkan kerusakan permanen pada alat pendengaran," terang Dr De Wet Swanepoel dari Jurusan Patologi Komunikasi, Universitas Pretoria, Afsel seperti dikutip Sport24.
Swanepoel yang melakukan riset bersama Dr James Hall dari Universitas Florida, Amerika Serikat menerbitkan hasil riset terbarunya itu di SA Medical Journal. Tim riset ini melakukan tes di stadion berstandar FIFA dengan kapasitas 30 ribu tempat duduk. 11 orang penonton dijadikan sampel ujicoba. Sebuah detektor suara mini direkatkan di dekat bahu mereka. Pengujian dilakukan sebelum dan sesudah pertandingan.
Hasilnya sangat mencengangkan. Suara vuvuzela selama dua jam ternyata memiliki intensitas sebesar 100,5 desibel (dB). Jika jumlah peniup ditambah, intensitas meningkat hingga 144,2 dB. Sebagai perbandingan, getaran suara mesin bor jalanan sama dengan 100 dB. Deru mesin pesawat terbang 120 dB. Berarti lengkingan vuvuzela bisa melebihi suara mesin jet. Wow!
“Jadi sangat beralasan jika kami katakan intensitas suara vuvuzela bisa lebih tinggi lagi di stadion resmi Piala Dunia. Dimana kapasitasnya bahkan mencapai tiga kali lipat dari stadion yang kami gunakan dalam penelitian ini, " terang Swanepoel dalam makalahnya.
Merujuk data, intensitas suara 30 sampai 40 dB masuk katagori gangguan ringan. Lalu, 40-60 dB skala sedang dan intensitas suara antara 60 hingga 90 desibel sudah tergolong skala berat. Karena itu, dengan intensitas suara yang dimiliki vuvuzela, para peneliti menyarankan perlunya penggunaan alat pelindung mini di telinga.
Hasil riset itu tak berbeda jauh dengan temuan tim riset Phonak -perusahaan produsen alat bantu pendengaran asal Jerman- yang meneliti suara vuvuzela. Hasil temuan tim Phonak yang dilakukan di sebuah stadion di Cape Town diketahui intensitas suara vuvuzela mencapai 127 dB.
Vuvuzela pemain ke-12
Vuvuzela sempat jadi kontroversi di Piala Konfederasi tahun 2009 silam, karena dianggap mengganggu konsentrasi pemain di lapangan. Pemain Spanyol Xabi Alonso bahkan meminta vuvuzela dilarang saja. Entah karena vuvuzela, Spanyol akhirnya kalah lawan Amerika 0-2 di semi final.
Presiden FIFA Sepp Blatter acuh saja dengan saran ini dan dengan enteng menjawab: “Vuvuzela adalah bagian dari budaya masyarakat Afrika. Kenapa kita tidak belajar beradaptasi dengan kultur mereka.“
"Kita musti hargai cara rakyat Afrika mengungkapkan rasa gembiranya. Biarkan mereka mengekspresikan dengan cara mereka sendiri. Mungkin beda dengan kultur kita. Tapi, itulah kebanggaan mereka dan jangan dilukai," timpal Juergen Klinsmann, eks pelatih tim panser Jerman yang berada di Afrika sebagai komentator televisi.
“Kami butuh Vuvuzela. Kami butuh segala hal yang bisa memompa semangat para pemain. Vuvuzela adalah pemain ke-12 kami,“ tegas Carlos Alberto Parreira, pelatih timnas Afsel.
Dan, kini ada sebuah perusahaan di Afsel yang sukses menangkap peluang usaha baru dari kontroversi vuvuzela. Perusahaan itu saat ini memasarkan busa penyumbat telinga yang dirancang secara khusus hingga mampu meredam suara dengan intensitas tinggi. Begitulah.
Burung vulture dan tebak skor pertandingan
Burung Vulture atau burung pemakan bangkai memiliki populasi terbesar di Afrika. Namun saat ini dikabarkan keberadaannya makin terancam, terutama selama berlangsungnya Piala Dunia. Lho, apa hubungannya?
Selidik punya selidik, rupanya burung tipe predator (pemangsa) itu digunakan oleh para muti (dukun-red) untuk membantu para pejudi tebak skor hasil pertandingan. Caranya? Sang dukun menyembelih dan mengambil otaknya. Otak itu lalu dibakar hingga mengeluarkan asap. Efek dari bau asap itulah yang dipakai untuk “jampi-jampian” dalam judi tebak skor. Otak vulture adakalanya dibenam dalam tepung dan ditambahkan wewangian tertentu untuk menambah efek magis.
Dukun Afrika sangat meyakini bahwa asap otak burung pemakan bangkai memiliki tenaga supranatural yang mampu menuntun para dukun menebak skor akhir pertandingan. Di jalanan Johannesburg, para muti terlihat secara sembunyi-sembunyi menawarkan otak burung vulture yang siap dipakai untuk ajang tebak skor.
Pengamat masalah lingkungan yakin keberadaan burung vulture sangat terancam, terutama selama Piala Dunia, disebabkan ulah para muti. Mark Anderson, Direktur BirdLife South Africa menyebut bahwa spesies burung pemakan bangkai kini dalam ancaman besar.
“Spesies burung ini di Afsel menurun sangat tajam. Ada beberapa factor pemicu, seperti makin berkurangnya makanan, penggunaan racun secara sengaja dan yang paling parah adalah dibunuh dengan memakai tegangan listrik. Burung-burung itu dibunuh untuk diambil otaknya guna menuntun para muti,” ungkap Anderson seperti dikutip Afrol News.
Chris Magin, pakar lingkungan lainnya, malah memprediksi burung itu bakal terancam punah. “Sejak dua dekade terakhir mulai menghilang di kawasan Afrika Barat, Asia Selatan dan di beberapa kawasan lain,” kata dia.
Hasil observasi Steve McKean, dari KwaZulu-Natal Wildlife, secara jelas menunjukkan bahwa menurunnya jumlah burung vulture sangat berhubungan dengan kepentingan magis para muti. "Hasil penelitian kami menunjukkan penyembelihan burung vulture akhir-akhir ini sering dilakukan untuk alasan yang sangat “tradisional” alias kolot. Jika begini terus, maka secara ekstrem, saya berani katakan populasi spesies burung ini akan hilang dalam 12 tahun ke depan," tegas McKean mengingatkan.
Diracun
Dari hasil penyelidikan lapangan diketahui pula bahwa burung-burung tersebut kebanyakan mati karena diracun. “Jenis racun yang sering dipakai adalah Aldicarb. Racun jenis ini sangat mematikan, bahkan untuk manusia sekalipun,” imbuh McKean.
Andre Botha, manajer Birds of Prey Working Group, mengingatkan bahwa burung pemakan bangkai memegang peranan penting dalam menjaga kelestarian lingkungan di Afrika. Jika burung pemakan bangkai hilang, bakal berpengaruh pada munculnya masalah lingkungan hidup yang tidak sehat, sepertinya bertebarannya aneka penyakit. Ini akibat hilangnya layanan yang diberikan burung pada manusia, seperti proses pembersihan dan pembusukan bangkai, demikian juga penebaran biji-biji tumbuhan.
"Burung pemakan bangkai, oleh BirdLife International, telah masuk dalam daftar merah sebagai hewan yang paling banyak diburu di Afrika. Ini tugas kami untuk menyelamatkannya," kata Botha. Afsel merupakan salah satu negara dengan populasi burung terbanyak di Afrika. Menurut data, ada sekitar 841 spesies burung di negeri Nelson Mandela itu. Sayangnya, sekitar 39 diantaranya terancam punah.
Begitulah, intervensi magis tampaknya sulit hilang dalam dunia olahraga. Semoga Allah melindungi kita dari hal-hal yang melunturkan iman. Amiin.
Burung Vulture atau burung pemakan bangkai memiliki populasi terbesar di Afrika. Namun saat ini dikabarkan keberadaannya makin terancam, terutama selama berlangsungnya Piala Dunia. Lho, apa hubungannya?
Selidik punya selidik, rupanya burung tipe predator (pemangsa) itu digunakan oleh para muti (dukun-red) untuk membantu para pejudi tebak skor hasil pertandingan. Caranya? Sang dukun menyembelih dan mengambil otaknya. Otak itu lalu dibakar hingga mengeluarkan asap. Efek dari bau asap itulah yang dipakai untuk “jampi-jampian” dalam judi tebak skor. Otak vulture adakalanya dibenam dalam tepung dan ditambahkan wewangian tertentu untuk menambah efek magis.
Dukun Afrika sangat meyakini bahwa asap otak burung pemakan bangkai memiliki tenaga supranatural yang mampu menuntun para dukun menebak skor akhir pertandingan. Di jalanan Johannesburg, para muti terlihat secara sembunyi-sembunyi menawarkan otak burung vulture yang siap dipakai untuk ajang tebak skor.
Pengamat masalah lingkungan yakin keberadaan burung vulture sangat terancam, terutama selama Piala Dunia, disebabkan ulah para muti. Mark Anderson, Direktur BirdLife South Africa menyebut bahwa spesies burung pemakan bangkai kini dalam ancaman besar.
“Spesies burung ini di Afsel menurun sangat tajam. Ada beberapa factor pemicu, seperti makin berkurangnya makanan, penggunaan racun secara sengaja dan yang paling parah adalah dibunuh dengan memakai tegangan listrik. Burung-burung itu dibunuh untuk diambil otaknya guna menuntun para muti,” ungkap Anderson seperti dikutip Afrol News.
Chris Magin, pakar lingkungan lainnya, malah memprediksi burung itu bakal terancam punah. “Sejak dua dekade terakhir mulai menghilang di kawasan Afrika Barat, Asia Selatan dan di beberapa kawasan lain,” kata dia.
Hasil observasi Steve McKean, dari KwaZulu-Natal Wildlife, secara jelas menunjukkan bahwa menurunnya jumlah burung vulture sangat berhubungan dengan kepentingan magis para muti. "Hasil penelitian kami menunjukkan penyembelihan burung vulture akhir-akhir ini sering dilakukan untuk alasan yang sangat “tradisional” alias kolot. Jika begini terus, maka secara ekstrem, saya berani katakan populasi spesies burung ini akan hilang dalam 12 tahun ke depan," tegas McKean mengingatkan.
Diracun
Dari hasil penyelidikan lapangan diketahui pula bahwa burung-burung tersebut kebanyakan mati karena diracun. “Jenis racun yang sering dipakai adalah Aldicarb. Racun jenis ini sangat mematikan, bahkan untuk manusia sekalipun,” imbuh McKean.
Andre Botha, manajer Birds of Prey Working Group, mengingatkan bahwa burung pemakan bangkai memegang peranan penting dalam menjaga kelestarian lingkungan di Afrika. Jika burung pemakan bangkai hilang, bakal berpengaruh pada munculnya masalah lingkungan hidup yang tidak sehat, sepertinya bertebarannya aneka penyakit. Ini akibat hilangnya layanan yang diberikan burung pada manusia, seperti proses pembersihan dan pembusukan bangkai, demikian juga penebaran biji-biji tumbuhan.
"Burung pemakan bangkai, oleh BirdLife International, telah masuk dalam daftar merah sebagai hewan yang paling banyak diburu di Afrika. Ini tugas kami untuk menyelamatkannya," kata Botha. Afsel merupakan salah satu negara dengan populasi burung terbanyak di Afrika. Menurut data, ada sekitar 841 spesies burung di negeri Nelson Mandela itu. Sayangnya, sekitar 39 diantaranya terancam punah.
Begitulah, intervensi magis tampaknya sulit hilang dalam dunia olahraga. Semoga Allah melindungi kita dari hal-hal yang melunturkan iman. Amiin.
Sunday, June 13, 2010
Pedagang kaki lima pun menjerit
Dibalik gemerlap dan gegap gempita Piala Dunia, ternyata tidak semua orang bisa menikmati hajatan sepak bola terbesar dunia ini. Mereka adalah para pedagang kecil, seumpama pedagang kaki lima dan asongan yang kehilangan kesempatan meraih rezeki selama Piala Dunia. Para pedagang itu harus menyingkir dari area stadion, juga arena fan fest. Munculnya kawasan ekslusif di sekitar stadion dan fan fest yang digagas FIFA telah menimbulkan kekecewaan para pedagang kecil yang berharap kecipratan rezeki selama Piala Dunia. Bahkan para pedagang yang punya kios dan bertahun-tahun telah membuka lapak disana, tetap harus minggat. Kawasan tersebut hanya boleh diisi oleh pedagang atau sponsor resmi berlisensi FIFA.
"Saya pernah jualan di sini, dekat Grand Parade, tetapi sejak didirikan Fan Park kami harus pindah ke pinggiran. Piala Dunia ini hanya peristiwa yang akan menguntungkan kalangan konglomerat besar seperti Cola Cola dan McDonald." Kata benji yang berdagang buah-buahan di kawasan Grand Street, Cape Town. Bersama pedagang kaki lima lain dia saat ini berdesak-desakan di sisi sebuah jalan raya yang sebenarnya sudah diisi para pedagang tetap."Tidak benar kalau disebut Piala Dunia 2010 untuk semua orang Afrika Selatan. Tapi kami tidak bisa berbuat apa-apa. Orang seperti kami tak punya kuasa," imbuh Benji.
Lain lagi di Rustenburg. Para pedagang kecil di sana rencananya akan melakukan demo hari Senin (hari ini-red). Demo itu, seperti disitir StreetNet International, akan dipusatkan di kawasan Magistrate’s Court. Ratusan pedagang kaki lima dan asongan yang merasa terampas hak berjualan selama Piala Dunia bakal ikut serta.
“Pemko telah mengusir kami demi untuk “kecantikan” kota selama Piala Dunia. Mereka mengusir tanpa pemberitahuan, juga tidak memberi tempat alternatif lain untuk berdagang,” ujar Paul Shambira, pemimpin demo itu.
"Kami berusaha untuk hidup kami. Kami menjual barang seharga 2 hingga 5 rand (sekitar 2400 hingga 5800 rupiah) untuk membantu mereka-mereka yang tak mampu, bahkan pengemis sekalipun berbelanja pada pedagang seperti kami," ujar Mony Govender, seorang pedagang buah-buahan. "Tentu saja harga seperti itu tak akan didapat jika beli di supermarket atau mall," imbuh ibu itu lagi.
Kekecewaan para pedagang kecil terhadap panitia Piala Dunia juga merebak di kota Durban. Johannes Mzimela, seorang pedagang es krim, mengaku kecewa saat diciduk oleh Satpol PP setempat "Ini razia penuh permusuhan," umpat Mzimela yang bermaksud menggelar dagangannya di sekitar stadion.
“Saya telah jualan es krim selama 25 tahun disini. Tapi kini harus minggat. Pedagang bermodal besar bisa berjualan di dekat stadion. Mereka bisa membayar berapapun untuk mengurus perizinan. Tapi kami?,” ujar Clement Zulu, salah satu pedagang lainnya dengan nada ketus. Menurut regulasi, siapa saja yang akan berjualan musti mengurus izin usaha di kantor pemkot setempat. Yang melanggar, maka penjara menunggu.
Jabulane Ngubane, pedagang kaki lima lainya , menyebut Piala Dunia telah merampas kehidupan keluarganya. "Polisi mengusir kami dari kawasan stadion seakan-akan kami ini orang-orang kriminal," ujar Ngubane, yang berdagang makanan dan minuman ringan untuk menghidupi 13 orang anaknya.
Ngubane sendiri berasal dari Pietermaritzburg, sekitar 43 km dari Durban. Dia pulang kampung seminggu sekali untuk menemui keluarganya. Sebelum diciduk satpol, di hari-hari biasa Ngubane memperoleh penghasilan sekitar 400 rand (sekitar 480 ribu rupiah) dalam sehari. Dengan penghasilan segitu dia mampu mengirim untuk keluarga sedikitnya 1200 rand (sekitar 1,4 juta rupiah) setiap pekan. Saat barang dagangannya disita, dia musti bayar denda sebesar 300 rand, setara dengan pendapatannya sehari. "Tak ada yang bisa dilakukan dengan Piala Dunia ini. Saya gembira jika bisa segera berakhir. Jadi bisa dagang lagi seperti biasa,” harap Ngubane.
Umumnya para pedagang itu menyesalkan aturan yang menyebut hanya sponsor resmi Piala Dunia saja yang berhak tampil di stadion dan arena fan fest. Sementara pedagang kecil yang menjajakan makanan ringan, jagung bakar, rokok, permen, kartu telepon dan aneka souvenir tidak memiliki akses berdagang. Padahal merekalah yang mendominasi gambaran ekonomi warga di hampir semua kota di Afsel.
Seperti saya tulis di Serambi edisi Jumat (11/6) lalu, banyak pedagang kecil yang harus gigit jari sebab dilarang berdagang di arena kumpul fans dan sekitar stadion. FIFA memang mengeluarkan regulasi yang melarang pedagang membuka lapak dagangan di sekitar stadion dan fan fest kecuali sponsor resmi Piala Dunia. Manejer stadion yang ditanya seputar hal itu bungkam, menolak berkomentar. Sejauh ini belum ada respon dari pejabat FIFA terkait masalah sensitif tersebut.
Dibalik gemerlap dan gegap gempita Piala Dunia, ternyata tidak semua orang bisa menikmati hajatan sepak bola terbesar dunia ini. Mereka adalah para pedagang kecil, seumpama pedagang kaki lima dan asongan yang kehilangan kesempatan meraih rezeki selama Piala Dunia. Para pedagang itu harus menyingkir dari area stadion, juga arena fan fest. Munculnya kawasan ekslusif di sekitar stadion dan fan fest yang digagas FIFA telah menimbulkan kekecewaan para pedagang kecil yang berharap kecipratan rezeki selama Piala Dunia. Bahkan para pedagang yang punya kios dan bertahun-tahun telah membuka lapak disana, tetap harus minggat. Kawasan tersebut hanya boleh diisi oleh pedagang atau sponsor resmi berlisensi FIFA.
"Saya pernah jualan di sini, dekat Grand Parade, tetapi sejak didirikan Fan Park kami harus pindah ke pinggiran. Piala Dunia ini hanya peristiwa yang akan menguntungkan kalangan konglomerat besar seperti Cola Cola dan McDonald." Kata benji yang berdagang buah-buahan di kawasan Grand Street, Cape Town. Bersama pedagang kaki lima lain dia saat ini berdesak-desakan di sisi sebuah jalan raya yang sebenarnya sudah diisi para pedagang tetap."Tidak benar kalau disebut Piala Dunia 2010 untuk semua orang Afrika Selatan. Tapi kami tidak bisa berbuat apa-apa. Orang seperti kami tak punya kuasa," imbuh Benji.
Lain lagi di Rustenburg. Para pedagang kecil di sana rencananya akan melakukan demo hari Senin (hari ini-red). Demo itu, seperti disitir StreetNet International, akan dipusatkan di kawasan Magistrate’s Court. Ratusan pedagang kaki lima dan asongan yang merasa terampas hak berjualan selama Piala Dunia bakal ikut serta.
“Pemko telah mengusir kami demi untuk “kecantikan” kota selama Piala Dunia. Mereka mengusir tanpa pemberitahuan, juga tidak memberi tempat alternatif lain untuk berdagang,” ujar Paul Shambira, pemimpin demo itu.
"Kami berusaha untuk hidup kami. Kami menjual barang seharga 2 hingga 5 rand (sekitar 2400 hingga 5800 rupiah) untuk membantu mereka-mereka yang tak mampu, bahkan pengemis sekalipun berbelanja pada pedagang seperti kami," ujar Mony Govender, seorang pedagang buah-buahan. "Tentu saja harga seperti itu tak akan didapat jika beli di supermarket atau mall," imbuh ibu itu lagi.
Kekecewaan para pedagang kecil terhadap panitia Piala Dunia juga merebak di kota Durban. Johannes Mzimela, seorang pedagang es krim, mengaku kecewa saat diciduk oleh Satpol PP setempat "Ini razia penuh permusuhan," umpat Mzimela yang bermaksud menggelar dagangannya di sekitar stadion.
“Saya telah jualan es krim selama 25 tahun disini. Tapi kini harus minggat. Pedagang bermodal besar bisa berjualan di dekat stadion. Mereka bisa membayar berapapun untuk mengurus perizinan. Tapi kami?,” ujar Clement Zulu, salah satu pedagang lainnya dengan nada ketus. Menurut regulasi, siapa saja yang akan berjualan musti mengurus izin usaha di kantor pemkot setempat. Yang melanggar, maka penjara menunggu.
Jabulane Ngubane, pedagang kaki lima lainya , menyebut Piala Dunia telah merampas kehidupan keluarganya. "Polisi mengusir kami dari kawasan stadion seakan-akan kami ini orang-orang kriminal," ujar Ngubane, yang berdagang makanan dan minuman ringan untuk menghidupi 13 orang anaknya.
Ngubane sendiri berasal dari Pietermaritzburg, sekitar 43 km dari Durban. Dia pulang kampung seminggu sekali untuk menemui keluarganya. Sebelum diciduk satpol, di hari-hari biasa Ngubane memperoleh penghasilan sekitar 400 rand (sekitar 480 ribu rupiah) dalam sehari. Dengan penghasilan segitu dia mampu mengirim untuk keluarga sedikitnya 1200 rand (sekitar 1,4 juta rupiah) setiap pekan. Saat barang dagangannya disita, dia musti bayar denda sebesar 300 rand, setara dengan pendapatannya sehari. "Tak ada yang bisa dilakukan dengan Piala Dunia ini. Saya gembira jika bisa segera berakhir. Jadi bisa dagang lagi seperti biasa,” harap Ngubane.
Umumnya para pedagang itu menyesalkan aturan yang menyebut hanya sponsor resmi Piala Dunia saja yang berhak tampil di stadion dan arena fan fest. Sementara pedagang kecil yang menjajakan makanan ringan, jagung bakar, rokok, permen, kartu telepon dan aneka souvenir tidak memiliki akses berdagang. Padahal merekalah yang mendominasi gambaran ekonomi warga di hampir semua kota di Afsel.
Seperti saya tulis di Serambi edisi Jumat (11/6) lalu, banyak pedagang kecil yang harus gigit jari sebab dilarang berdagang di arena kumpul fans dan sekitar stadion. FIFA memang mengeluarkan regulasi yang melarang pedagang membuka lapak dagangan di sekitar stadion dan fan fest kecuali sponsor resmi Piala Dunia. Manejer stadion yang ditanya seputar hal itu bungkam, menolak berkomentar. Sejauh ini belum ada respon dari pejabat FIFA terkait masalah sensitif tersebut.
Subscribe to:
Comments (Atom)