Tuesday, September 30, 2008

Islam makin diminati di Spanyol

Ribuan warga Spanyol, umumnya kalangan terpelajar seperti intelektual, akademisi, hingga aktifis, dikabarkan makin banyak yang tertarik dengan Islam. Umumnya mereka masuk Islam setelah menjalani masa pencarian spiritual yang panjang. Mereka mengaku mendapatkan kebahagiaan dan kedamaian dalam Islam.

"Walau media barat kerap memojokkan Islam, arus masuk Islam begitu meningkat akhir-akhir ini," kata Abdul-Nour Barado, Direktur Islamic Society of Catalonia, Spanyol seperti diberitakan IslamOnline.net (25/9). Barado mengambil contoh pertumbuhan muallaf baru di Propinsi Catalonia , yang diprediksi berkisar antara 3000 hingga 4000 jiwa per tahunnya. "Jumlah itu malah bisa lebih besar lagi," imbuh Barado.

Catatan sejarah menyebutkan warga Catalonia pertamakali masuk Islam adalah pada kisaran 1960-an. Jumlah mereka waktu itu masih sedikit. Tapi kini ribuan warga Catalonia dipercaya telah banyak yang memeluk Islam.

Catalonia merupakan salah satu propinsi kaya di Spanyol. Kawasannya meliputi 31,950 km² dan jumlah populasi 6.3 juta jiwa. Ibukota propinsi, yakni Barcelona , merupakan sebuah kota yang terkenal ke seantero dunia. Disamping karena keindahannya, juga karena klub sepakbola disana yaitu FC. Barcelona . Warga kotanya sendiri dikenal memang gila bola. Imigran muslim disini diprediksi sekitar 100 ribu jiwa yang mayoritas berasal dari Moroko. Mereka memilih tinggal di Catalonia barangkali karena kondisi geografinya yang mirip seperti di Maroko.

Kawasan utara

Beralih ke kawasan utara Spanyol, tepatnya di Provinsi Palencia . Disana dikabarkan arus masuk Islam juga begitu meningkat akhir-akhir ini. "Sedikitnya ada 4000 warga Palencia yang masuk Islam tahun-tahun terakhir ini," tukas Saed Al-Ruttabi, Ketua Islamic Council Provinsi Palencia.

Ruttabi menyebutkan kebanyakan warga Spanyol yang masuk Islam adalah mereka-mereka yang telah menjalani masa pencarian rohani yang panjang. “Akhirnya mereka menemukan kedamaian ada dalam Islam,” sebut Ruttabi.

Ruttabi menyebut kelompok muallaf baru tersebut kebanyakan adalah mereka-mereka yang selama ini salah dalam memandang Islam. Apa yang dikatakan Ruttabi ada benarnya. Buktinya, dari 150 ribu muslim di Palencia, hanya 90,000 yang berlatar belakang imigran. Sisanya muallaf asli Spanyol. "Tren ini muncul tidak hanya di Spanyol, tapi juga di seluruh Eropa dan Amerika," sebut Ruttabi lagi.

Sejarah panjang

Spanyol memiliki sejarah panjang Islam yang kuat. Islam dipercaya masuk kesana pada 27 Ramadhan tahun 92 H, saat mana pasukan Islam yang dipimpin oleh Thariq bin Ziyad berhasil memasuki Andalusia . Di negeri ini pula banyak muncul ilmuwan-ilmuwan muslim ternama yang menguasai berbagai ilmu pengetahuan dan menjadi rujukan masyarakat Eropa kala itu.

Sebutlah salah satunya Ibnu Firnas, yang oleh Barat kini diyakini sebagai peletak konsep dasar pembuatan pesawat terbang. Kini, dengan malu-malu ilmuwan Barat mulai mengakui keunggulan Islam.

Misalnya, mahasiswa teknologi dirgantara di University of Houston, Amerika Serikat, sejak September 2000 mulai diperkenalkan dengan sejarah penerbangan.yang telah dirintis pertamakali oleh Firnas. Bahkan Richard P Hallion, salah satu pakar kedirgantaraan AS, dalam sebuah kesempatan menyatakan dunia penerbangan tak boleh melupakan pencapaian seorang Ibnu Firnas.

Begitulah, setelah kejatuhan Islam semua seolah tinggal kenangan saja. Umat Islam di sana kini bak tamu di negeri sendiri. Begitupun saat ini Islam mulai meretas kembali masa-masa jaya kehidupan di Spanyol. Catatan resmi menyebutkan jumlah penduduk muslim di Spanyol saat ini ada sekitar 1,5 juta dari total populasi sebesar 40 juta jiwa. Islam merupakan agama kedua terbesar di sana setelah Kristen. Pada Juli 1967 Islam diterima sebagai salah satu agama yang diakui negara. (Zulkarnain Jalil)

Sunday, September 28, 2008

Pecatur Jeman itu Ternyata Putra Aceh

“Lon asli dari Banda Aceh Bang,”ujar Teuku Edward kala dijumpai Mei lalu di kediamannya di kawasan Hauptbahnhof, Muenchen, Jerman. Edo, panggilannya, Oktober 2007 silam menorehkan sebuah prestasi mentereng di olahraga catur. Dia merebut juara pertama kejuaraan catur internasional bertajuk Offenes Internationales Schachturnier (OIS). Menariknya dia bukannya mewakili Indonesia, malah tim catur Jerman. Lho kok?

Ya Edo merupakan pecatur inti yang memperkuat tim Technical University of Muenchen (TU-Muenchen) di OIS saat itu. “Pertama kali saya ikut tahun 2005, dapat juara ke-3. Tahun 2006 ikut lagi, juara ke-2,” kenang mahasiswa program master teknik otomatisasi di TU-Muenchen itu.

Seperti diakui mantan peraih medali emas Kejurda Catur se-Aceh 1995 itu, final OIS 2006 sangatlah dramatis. Pasalnya, dia menyerah dari pecatur Cina justru di detik-detik akhir yang membuatnya penasaran. Akhirnya Edo merengkuh prestasi puncak di tahun berikutnya dengan merebut gelar juara I OIS 2007.

Prestasinya itu tidak saja menjadi kebanggaan kota Muenchen, tapi masyarakat Indonesia di sana juga turut senang. “Tentu saja, kami pun turut gembira ada putra Indonesia mewakili tim Jerman dan juara lagi,” ungkap Wiwit Suryanto, salah seorang warga Indonesia asal Jogja yang tinggal di Muenchen.

OIS merupakan salah satu kejuaraan bergengsi dan sudah masuk kalendar tetap kejuaraan catur di Muenchen. Sedikitnya ada 80 pecatur dari berbagai negara mengikuti kejuaraan yang berlangsung setiap bulan Oktober itu.

Asosiasi Catur Muenchen (BVM) sendiri, tempat Edo bernaung, adalah bagian dari persatuan catur Jerman (DSB). “Di BVM ada sekitar 2100 pecatur dan tersebar di 47 klub. Jika diamati, sistem kompetisi di Jerman persis seperti di ajang sepakbola. Kompetisinya dari divisi 1 (Bundesliga) hingga paling buncit yakni divisi 5 (Bezirkliga). Makanya mereka tak pernah kekurangan pecatur, karena kompetisi lancar,” kata atlet Aceh pada Kejurnas Catur 1995 di Palangkaraya itu lagi.

Segudang prestasi
Pemuda kelahiran Banda Aceh 10 Oktober 1976 itu ternyata tak hanya pintar di meja catur. Di bangku sekolah pun prestasinya mencorong. Catat saja, juara catur ITB tahun 2000 itu pernah dinobatkan sebagai siswa teladan tingkat SMP se-Aceh tahun 1990 yang mengantarkannya ke Istana Negara untuk bertemu dengan Presiden RI.

Edo juga pernah meraih medali emas pada lomba sains di Missouri’s State Science Knowledge Bowl 1993yang dihelat di Kansas University, AS. Saat itu dia mengikuti ajang American Field Service (AFS). Di kejuaraan lain yakni Missouri State Science Olympiad, masih di tahun yang sama, Edo juga merebut emas di bidang elektronik dan perunggu di fisika. Bukan main. Masih ada lagi, pemuda murah senyum ini juga pemegang medali perak pada Internasional Mathematics Olympiad (IMO) tahun 1992.

Putra dari pasangan Teuku Mahyuddin dan Saida Afrida ini memang berotak encer. Tahun 1995, Edo mampu menembus ketatnya persaingan untuk masuk Jurusan Teknik Elektro ITB. Lulus dari ITB tahun 2000, dia sempat bekerja. Namun meja kuliah memanggilnya. Dia pun terbang ke Jerman untuk mengambil master bidang Sistem Otomatisasi pada TU-München.. Saat ini, pemuda yang juga anggota Persatuan Insinyur Elektro Jerman (VDE) itu sedang menyusun tesis masternya. “Satu saat saya akan kembali ke Aceh, mengabdi di gampong,” pungkasnya sembari menutup perbincangan. Ditunggu, Bung Edo!
.Zulkarnain Jalil

Semarak buka bersama di Bulgaria

Ada kebiasaan menarik dilakukan muslim Bulgaria selama bulan Ramadhan ini. Biasanya acara buka bersama di mesjid selalu didominasi oleh kaum lelaki. Seperti diberitakan situs IslamOnline.net, mereka menciptakan sebuah suasana baru dimana seluruh anggota keluarga ikut serta pada saat buka bareng. Dari bapak, ibu hingga anak-anak pun turut serta. Nuansa buka bersama pun terlihat begitu semarak. Betapa tidak, mereka berkumpul bak sebuah keluarga besar saja layaknya.

Misalnya di kota Chepintsi, saban hari setiap keluarga muslim disana memasak untuk acara berbuka bagi seluruh komunitas muslim di kota yang terletak di selatan Bulgaria itu. Menjelang sore terlihat ratusan warga muslim memadati mesjid setempat dimana acara buka bersama diadakan. Suasana kebersamaan begitu terasa.

"Ini merupakan Ramadan yang sangat berkesan bagi kami," kata Mustafa Haci, Mufti besar Bulgaria. "Setiap keluarga memberikan layanan terbaik mereka dengan menyiapkan aneka menu berbuka sesuai kemampuan masing-masing," imbuh Mustafa.

Sebagian besar keluarga secara sukarela mengeluarkan biaya mandiri bagi acara berbuka itu. Namun adakalanya The Fatwa House (semacam MUI-red) turut membantu sebagian pengeluaran tersebut. "Ya kadangkala kami menyediakan bantuan juga untuk hidangan berbuka. Baik dari dana The Fatwa House (TFH) ataupun dari donasi masyarakat Islam di luar negeri," kata Haci. Seperti umat Islam lainnya di seluruh dunia, umat Islam di Bulgaria juga memulai puasa Ramadhan tahun ini pada 1 September.

Hidup harmonis

Kegiatan buka bareng semacam itu ternyata tidak hanya diadakan oleh masyarakat yang berada di kawasan dengan populasi mayoritas muslim. Kota-kota dengan jumlah muslim yang sedikit pun tak mau ketinggalan.

"Keluarga muslim yang tinggal di kota-kota kecil bahkan ada yang mengundang kerabat terdekat, teman atau tetangganya yang nonmuslim untuk ikut serta dalam acara berbuka," tutur Sami Fazliiski, seorang mahasiswa yang tinggal di kota Rudozem, kepada IslamOnline. "Ini pertanda atau sinyal harmonisme sosial dari muslim Bulgaria, terutama selama bulan puasa," tambah Fazliiski lagi.

Umumnya pihak tuan rumah mengundang tetamunya itu pada sore hari atau menjelang maghrib. Fazliiski juga menceritakan, sambil menunggu waktu berbuka tiba, mereka duduk-duduk sembari ngobrol santai seputar kegiatan-kegiatan rutin umat Islam selama Ramadhan.

"Lalu, salah seorang diantara kami secara khusus memberikan uraian singkat tentang makna puasa dan keutamaan-keutamaannya. Juga penjelasan tentang apa itu Islam. Selepas berbuka, shalat maghrib pun segera ditunaikan. Para jamaah juga menyemarakkan malam dengan shalat Tarawih berjamaah," ungkap Faziiski menutup penjelasannya.

Menurut catatan Wikipedia, di seluruh Bulgaria saat ini ada sekitar 966 ribu umat Islam (data sensus tahun 2001) atau 12 persen dari total populasi sebesar 7,8 juta jiwa. Sebagian besar merupakan etnik Turki yang datang ke sana pertamakali pada masa kekhalifahan Usmaniyah. Namun TFH memprediksi persentase muslim disana bisa mencapai 25 persen.

Mereka punya hubungan baik dengan para penganut agama lain. Ikatan budaya setempat yang dikenal dengan istilah Komshuluk atau hubungan pertetanggaan itu membuat umat Islam di sana hidup harmonis dengan kalangan lainnya.

Gadis Kolombia itu bersyahadah lewat internet

PENGANTAR. Namanya Saidah Paola Dugue Correa. Dia dilahirkan di kota Bucaramanga, Kolombia. Namun sebagian besar masa kecilnya dihabiskan di kota Valledupar, sebuah kota yang terletak di bagian timurlaut Kolombia. Saidah merupakan sarjana Biologi dari Universidad de Santander (UDES), Bucaramanga. Kini menekuni pekerjaan sebagai seorang bakteriologis. Perkenalan pertamanya dengan Islam adalah tatkala menerima sebuah e-mail dari seorang muslim Mesir. Berawal dari sanalah dia tertarik dengan Islam dan akhirnya bersyahadah. Saidah saat ini bekerja dengan Mostafa Mohye, pria yang mengirim e-mail tersebut dan manejer sebuah proyek yang berpusat di Mesir. Proyek itu dikhususkan bagi para muallaf baru yang ada di Spanyol dan Amerika Latin. Berikut kisah lengkapnya seperti dilaporkan situs Readingislam.com edisi 20 Agustus 2008.

---------------------------------------000-------------------------------------------------------

“Sebelum masuk Islam saya menganut Katolik. Tapi saya tidak pernah mempraktekkan agama itu dalam kehidupan sehari-hari. Bisa disebut agama cuma di KTP,” kata Saidah di awal kisahnya. Kini, selepas masuk Islam, Saidah mengaku bangga menjadi seorang muslimah. Dia sangat bersyukur dengan anugerah yang luar biasa itu.

“Tahun 2004 merupakan awal ketertarikan saya dengan Islam, Alhamdulillah. Sebelum tertarik dengan Islam saya sebenarnya sudah punya rasa ingin tahu yang tinggi dengan budaya Arab, seperti musik Arab, lalu ingin ketemu dengan orang-orang Arab, dan banyak lainnya lagi. Saya juga sangat suka kaligrafi Arab. Itulah beberapa hal yang saya suka dari dunia Islam, jauh sebelum masuk Islam,” kata dia.

E-mail dari Mesir

Perlahan, sembari mempelajari budaya Arab itu tanpa disadarinya diapun “bersentuhan” dengan Islam. “Tahu tidak, pertemuan pertama saya dengan Islam adalah lewat internet,” lanjut Saidah. Ceritanya, satu hari di tahun 2004, Saidah menulis sebuah komentar singkat pada sebuah website Islam yang baru dibacanya. Di situ Saidah menulis bahwa dia sangat tertarik untuk mengetahui Islam.

Beberapa hari kemudian dia menerima sebuah e-mail yang berbunyi:”Anda tertarik untuk mendapatkan buku-buku gratis tentang Islam dalam bahasa Spanyol?". Pengirim surat elektronik itu mengenalkan dirinya dengan nama Mostafa Mohye Mossad dan mengaku berasal dari Mesir. “Ketika membaca e-mail itu saya benar-benar surprise. Tetapi secara spontan hati saya dilanda sedikit keraguan. Mana mungkin ada orang mau berikan buku secara gratis. Ah, ini tidak normal,” aku Saidah.

Begitupun, meski Saidah tidak mengenali siapa itu Mostafa Mohye, dia tetap menaruh perhatian besar pada e-mail tersebut. Sebab, itulah kontak pertama dia dengan kalangan Islam. Perkara itu (keragu-raguan) tak membuatnya surut untuk mengetahui Islam lebih jauh. “Saya balas e-mail itu serta memberikan alamat rumah. Tak lama, kira-kira 2 bulan, buku-buku dimaksud sampai ke alamat saya,” kisahnya. Saidah mengaku sangat gembira sekaligus takjub. Ternyata keragu-raguannya tak terbukti.

Mulai “berdakwah”

“Kala itu, saya jadi tertarik untuk terus melakukan kontak dengan Mohye. Dia telah menunjukkan cara yang sangat menarik dalam mengenalkan Islam kepada nonmuslim,” tukasnya. Saidah bahkan mengirimkan Mohye alamat beberapa orang rekannya yang nonmuslim agar juga dikirimkan buku sejenis. Bukan main, rupanya Saidah mulai “berdakwah” pula. Dan yang membuatnya takjub, Mohye mengirim buku-buku Islam ke teman-temannya yang ada di berbagai negara dengan bahasa negara asal rekan-rekannya itu..

“Juli 2004, kami mulai melakukan kerja dakwah. Kami berempat yakni Mohye, Maryam, Claudia dan saya sendiri membentuk sebuah kelompok kecil. Kini, tahun 2008, Alhamdulillah jaringan dakwah kami sudah luas. Tim kami berjumlah 30 orang yang bersal dari negara-negara latin seperti Kolombia, Argentina, Brayil, Chili, Peru, Meksiko dan lainnya. Tiap kelompok melakukan pertemuan dengan orang-orang yang tertarik dengan Islam,” pungkas Saidah.

Menariknya, Saidah sendiri justru belum bersyahadah lagi. Tapi dia sudah ikut membantu kegiatan dakwah Islam. Inilah yang bikin heran sebagian muslim dan bahkan juga nonmuslim yang lain. Saidah terkadang sangat gigih mempertahankan Islam, jika ketemu dengan orang-orang yang salah dalam memandang Islam. Dengan sigap dia menerangkan kepada mereka tentang kebenaran Islam.

Makin cinta Islam

“Begitulah, bantuan berupa buku-buku referensi dari kawan-kawan, juga referensi dari internet, sangat membantu saya dalam mempelajari Islam. Kecintaan saya pada Islam makin hari makin bertambah. Belajar lewat internet sungguh menarik. Jalur diskusi online sangatlah membantu. Misalnya chatting. Saya banyak bertanya pada rekan-rekan muslim melalui cara chatting ini. Jadi, dapat saya katakan perkenalan awal saya dengan Islam ya melalui internet,” lanjutnya.

Beberapa temannya kadangkala bertanya kenapa tidak masuk Islam. Saidah selalu menjawab bahwa dia cuma ingin belajar saja, tak ada keinginan untuk masuk Islam. Namun, hati nuraninya tak bisa dibohongi. Seiring dengan perjalanan waktu, dia mulai merasakan sesuatu yang lain di hati.

Saidah mengaku perlahan ada yang “mengalir” dalam hatinya. Tampaknya dia mulai menemukan kebenaran itu ada dalam Islam. Menurut dia, Islamlah agama yang benar. Satu-satunya jalan dan sekaligus cahaya kehidupan yang benar. “Itulah yang muncul dalam pikiran dan hati saya waktu itu. Dan, Mohye kerap menanyakan akankah saya bersegera untuk bersyahadah. Saya hanya menjawab belum lagi. Saya masih butuh beberapa lama lagi untuk memutuskan itu,” kata Saidah.

Memasuki 2007, sebagian teman-teman akhirnya tahu ternyata Saidah belum bersyahadah lagi. “Tapi pada kenyataannya saya sudah bersyahadah di dalam hati. Sebab saya telah yakin bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan Muhammad utusan-Nya,” tukasnya.

Teman-temannya berujar:"Hatimu sebenarnya sudah Islam. Kamu seorang muslim. Semua yang kamu lakukan adalah perbuatan seorang muslim. Tapi kamu mungkin belum tahu, syahadah itu adalah perkara penting untuk sahnya keislaman seseorang.” Saidah akhirnya paham apa maksud rekan-rekannya itu.

Ke Maicao

Pada akhir Ramadhan 2007 Saidah melawat ke Maicao, sebuah kota di propinsi La Guajira, Kolombia, dengan seorang teman muslimnya Aisyah. Saidah kesana untuk menemani Aisyah yang hendak bersyahadah.

Di Maicao, saat berada di mesjid, Saidah menyaksikan teman-teman mengerjakan shalat. Saat itu hatinya tergerak untuk berdoa dan bermohon pada Allah agar membantunya dalam mengambil keputusan. “Ya Allah, jika ini memang jalan yang Engkau inginkan, tunjukilah jalan menuju Islam ya Allah,’ pintanya sungguh-sungguh.

Beberapa hari kemudian dia menyatakan pada Aisyah dan salah seorang rekan lainnya yakni Muhammad Hamoud tentang keputusannya (untuk memeluk Islam). Mereka terlihat sangat gembira sekali.

“Kamipun bersegera menuju ke mesjid guna mendeklarasikan syahadah itu. Oya beberapa saat sebelum kesana saya sempat menelpon kedua orangtua dan menceritakan keinginan masuk Islam pada mereka,” kisahnya lagi. Saidah merasa perlu memberitahukan kedua orangtuanya, sebab baginya keputusan tersebut akan sangat mempengaruhi kehidupannya di kemudian hari.

Mendengar penuturan putrinya, Milciades, sang ayah berujar dalam bahasa Kolombia:"Bueno mija, felicitaciones!" Artinya, putriku, selamat! Kalimat singkat dari sang ayah sudah lebih dari cukup bagi Saidah. Dia merasa tenang dan makin percaya diri.

Sementara ibunya, Luisa, awalnya sedikit bingung dengan keputusan anaknya itu. Namun akhirnya dia paham kemauan Saidah. "Ok anakku, kamu yang lebih tahu apa yang terbaik bagi kamu”, ujar ibunya kala itu. Kebahagiaan Saidah makin bertambah. Dia bahkan berdoa semoga Allah merahmati mereka dengan hidayah-Nya.

Bersyahadah via internet

Saidah pun mendeklarasikan keislamannya via internet di depan dua orang saksi, yakni Mostafa Mohye dan Ahmed, keduanya dari Mesir. Baik keluarga maupun teman-temannya yang nonmuslim menyambut keislamannya itu secara tenang. Tak ada komentar-komentar miring.

“Ya ada juga sedikit joke-joke kecil, tapi tidak masalah bagi saya. Alhamdulillah, yang terpenting saya masih bagian dari kehidupan mereka. Misalnya keponakan saya, Omar David yang baru berusia 6 tahun, sering meminta saya menulis kata Alah dalam bahasa Arab. Dia suka kaligrafi rupanya. David juga suka mendengar lagu-lagu Islam. Bahkan adakalanya dia meminta saya untuk membacakan beberapa potong ayat suci Alquran,” kata dia mengenang.

Sungguh, keputusan untuk masuk Islam benar-benar datang dari lubuk hati yang dalam. Bukan karena paksaan seseorang atau hal lainnya. Itu semata-mata karena Allah telah menunjukkan jalan yang penuh cahaya kepada saya,” akunya.

Saidah berusaha menunjukkan budi pekerti terbaiknya guna menunjukkan bahwa Islam itu agama yang benar. Saidah beranggapan, selama ini banyak berita tentang Islam, baik melalui televise ataupun media cetak, seringkali tidak adil dalam pemberitaannya. “Benar bahwa ada sekelompok muslim yang melakukan perbuatan keji dan merusak. Tapi janganlah menyalahkan Islam. Itu semata-mata kesalahan pemeluk bukan agamanya. Karena itu saya berpesan kepada semua muslim untuk menunjukkan akhlak terbaik sepertimana diajarkan Islam dan telah dicontohkan oleh Rasulullah SAW. Hanya ini yang bisa merubah persepsi mereka yang tidak suka Islam,” pesan Saidah seraya menutup kisahnya. (Zulkarnain Jalil)