Teknologi Ke Kamar Tidur
(Belajar dari kasus foto Bupati Akmal Ibrahim)
Oleh: Muhibuddin Hanafiah
Telah kesekian kalinya kasus penyalahgunaan teknologi terjadi di masyarakat kita. Akhir-akhir ini kasus yang sama menimpa keluarga Akmal Ibrahim, Bupati Aceh Barat Daya (Abdiya). Akmal dituduh telah melakukan perilaku amoral (selingkuh) dengan perempuan yang bukan istrinya. Menurut informasi yang berkembang, kejadian itu terekam kamera ponsel yang kemudian entah bagaimana tersebar luas ke publik. Kita berharap agar peristiwa serupa tidak terulang kembali pada siapapun juga. Sebab, kejadian itu bisa membawa aib, tidak hanya pada korban melainkan juga berimbas lebih luas kepada nama baik keluarga dan daerah. Dampak lainnya adalah merusak integritas individu sebagai manusia yang bermartabat, beriman dan beragama. Kejadian ini menyisakan pesan kepada kita bahwa dalam memanfaatkan piranti teknologi harus lebih berhati-hati, tidak lalai, apalagi jatuh ke tangan orang lain. Sehingga tidak ada celah untuk dapat disalahgunakan oleh orang-orang yang tidak bertanggungjawab.
Menjaga netralitas
Mencermati kasus ini, sejatinya kita berdiri pada posisi netral. Tidak dalam posisi menuduh Akmal telah berselingkuh dengan bukti tuduhan berupa foto-foto yang tersebar di masyarakat. Melainkan kita hanya pada posisi menyarankan masyarakat agar dalam menggunakan perangkat teknologi lebih hati-hati, dan tidak menyalahkannya pada fungsi yang tidak positif. Seperti merekam hal-hal yang bersifat privasi yang awalnya mungkin hanya sebagai iseng-iseng (tidak serius), namun karena suatu kelalaian dalam proses penyimpanan, maka rekaman tersebut akhirnya berpindah tangan dan menyebar ke tangan orang lain. Karena dengan segala kemudahannya kecanggihan teknologi bisa dibawa dan digunakan dimana saja. Bahkan bukan hal baru lagi bila teknologi telah merambah sampai ke ruang tidur kita yang super privat itu. Sedikit saja terjadi kelalaian dalam penggunaan dan pemanfaatannya, kita bisa dibuai oleh daya tarik teknologi tersebut. Tetapi kemudian tanpa disadari magnit yang membius itu bisa berbalik arah menghunus majikannya. Benar bila dikatakan bahwa teknologi bagaikan pedang yang bermata dua, sisi yang satu bisa menghibur manusia. Sebaliknya sisi yang lalu membunuh karakter manusia secara perlahan.
Sudah tidak menjadi rahasia umum lagi bahwa perangkat teknologi modern bersifat bebas nilai (free value) atau netral, ibarat pisau yang multifungsi, bisa digunakan untuk tujuan positif maupun negatif. Ia sangat tergantung pada manusia yang menggunakannya, atau tergantung siapa yang berada di balik perangkat teknologi itu, man behind gun kata orang bule. Jadi, terserah pada manusia sebagai pemakai perangkat teknologi, mau menggunakan pada tujuan awal penciptaan atau malah menyalahgunakannya pada tujuan lain. Contoh yang paling sederhana adalah maraknya pemakaian handphone oleh anak-anak muda (anak sekolah) kita sekarang. Percayalah bahwa pada umumnya mereka tidak sekedar menggunakan salah satu perangkat alat teknologi komunikasi itu sebagaimana fungsi dasarnya, seperti mengirim pesan singkat (short massage) atau untuk berbicara jarak jauh. Dipastikan mereka juga memanfaatkan fasilitas lain yang tersedia di
Bimbingi Anak!
Sejatinya, sebelum sebuah perangkat teknologi semisal hanphone diizingunakan oleh orang tua kepada anak mereka, terlebih dahulu dijelaskan positif-negatifnya produk modern tersebut. Ironisnya, tidak semua orang tua memiliki kesempatan yang memadai untuk membimbing putra-putrinya dalam pemakaian handphone saja misalnya. Konon lagi berbagai perangkat teknologi multimedia lainnya yang saat ini bak jamur di musim hujan yang dengan mudah diperoleh di pasaran. Masalahnya, orang tua kurang sadar untuk mengambil peran maksimal, yaitu mengisi nilai-nilai pada lahan kosong yang ditinggalkan teknologi. Nilai-nilai seperti etika, moral, budaya dan ajaran agama yang akan memandu putra-putri mereka dari dampak miring saat piranti teknologi digunakan. Anak yang kurang mendapat perhatian yang cukup dari orang tuanya dalam mengontrol penggunaan fasilitas teknologi cendrung lebih mudah terjerumus pada penyimpangan moral dengan menyalahgunakan piranti tersebut. Karena itu, idealnya orang tua tidak terlalu permisif (serba boleh, serba bebas, serba mandiri) dengan membiarkan anak-anak mereka tumbuh dan berkembang tanpa bimbingan dan perhatian yang mencukupi dari orang tua. Mengontrol pergaulan anak-anak bukan berarti kita tidak percaya kepada mereka. Orang tua dapat memilih metode yang tepat dalam mendekati anak secara terbuka tanpa harus menjaga jarak tertentu. Kedekatan hubungan antara anak dan orang tua akan menumbuhkan rasa saling percaya. Di sela-sela kedekatan hubungan tersebut, orang tua dapat menyelip beberapa pesan atau nasehat seperti menjelaskan batasan pergaulan yang harus dihormati dan dijaga dengan tegas.
Petik hikmahnya
Dalam kasus Akmal misalnya, jika benar ponsel yang digunakan untuk merekam foto atau video dimana Akmal sedang tiduran dengan istrinya adalah ponsel yang dipegang oleh anaknya sendiri, maka alangkah permisifnya kelaurga Akmal membiarkan ponsel digunakan oleh anak di bawah umur. Dan yang lebih naïf lagi ponsel itu dibiarkan untuk merekam diri dan istrinya tanpa sempat berpikir lebih jauh akibat yang akan terjadi di kemudian hari sebagaimana merebak sekarang. Kamar tidur adalah ruang yang sangat privasi, apa yang terjadi di