Wednesday, November 19, 2008

Teknologi Ke Kamar Tidur

(Belajar dari kasus foto Bupati Akmal Ibrahim)

Oleh: Muhibuddin Hanafiah

Telah kesekian kalinya kasus penyalahgunaan teknologi terjadi di masyarakat kita. Akhir-akhir ini kasus yang sama menimpa keluarga Akmal Ibrahim, Bupati Aceh Barat Daya (Abdiya). Akmal dituduh telah melakukan perilaku amoral (selingkuh) dengan perempuan yang bukan istrinya. Menurut informasi yang berkembang, kejadian itu terekam kamera ponsel yang kemudian entah bagaimana tersebar luas ke publik. Kita berharap agar peristiwa serupa tidak terulang kembali pada siapapun juga. Sebab, kejadian itu bisa membawa aib, tidak hanya pada korban melainkan juga berimbas lebih luas kepada nama baik keluarga dan daerah. Dampak lainnya adalah merusak integritas individu sebagai manusia yang bermartabat, beriman dan beragama. Kejadian ini menyisakan pesan kepada kita bahwa dalam memanfaatkan piranti teknologi harus lebih berhati-hati, tidak lalai, apalagi jatuh ke tangan orang lain. Sehingga tidak ada celah untuk dapat disalahgunakan oleh orang-orang yang tidak bertanggungjawab.

Menjaga netralitas

Mencermati kasus ini, sejatinya kita berdiri pada posisi netral. Tidak dalam posisi menuduh Akmal telah berselingkuh dengan bukti tuduhan berupa foto-foto yang tersebar di masyarakat. Melainkan kita hanya pada posisi menyarankan masyarakat agar dalam menggunakan perangkat teknologi lebih hati-hati, dan tidak menyalahkannya pada fungsi yang tidak positif. Seperti merekam hal-hal yang bersifat privasi yang awalnya mungkin hanya sebagai iseng-iseng (tidak serius), namun karena suatu kelalaian dalam proses penyimpanan, maka rekaman tersebut akhirnya berpindah tangan dan menyebar ke tangan orang lain. Karena dengan segala kemudahannya kecanggihan teknologi bisa dibawa dan digunakan dimana saja. Bahkan bukan hal baru lagi bila teknologi telah merambah sampai ke ruang tidur kita yang super privat itu. Sedikit saja terjadi kelalaian dalam penggunaan dan pemanfaatannya, kita bisa dibuai oleh daya tarik teknologi tersebut. Tetapi kemudian tanpa disadari magnit yang membius itu bisa berbalik arah menghunus majikannya. Benar bila dikatakan bahwa teknologi bagaikan pedang yang bermata dua, sisi yang satu bisa menghibur manusia. Sebaliknya sisi yang lalu membunuh karakter manusia secara perlahan.

Sudah tidak menjadi rahasia umum lagi bahwa perangkat teknologi modern bersifat bebas nilai (free value) atau netral, ibarat pisau yang multifungsi, bisa digunakan untuk tujuan positif maupun negatif. Ia sangat tergantung pada manusia yang menggunakannya, atau tergantung siapa yang berada di balik perangkat teknologi itu, man behind gun kata orang bule. Jadi, terserah pada manusia sebagai pemakai perangkat teknologi, mau menggunakan pada tujuan awal penciptaan atau malah menyalahgunakannya pada tujuan lain. Contoh yang paling sederhana adalah maraknya pemakaian handphone oleh anak-anak muda (anak sekolah) kita sekarang. Percayalah bahwa pada umumnya mereka tidak sekedar menggunakan salah satu perangkat alat teknologi komunikasi itu sebagaimana fungsi dasarnya, seperti mengirim pesan singkat (short massage) atau untuk berbicara jarak jauh. Dipastikan mereka juga memanfaatkan fasilitas lain yang tersedia di sana, semisal fitur-fitur tambahan, baik sebagai bawaan pabrik maupun di-download belakangan. Dimana fitur-fitur itu cendrung berfungsi sebatas hiburan (intertainment), maupun permaianan (game). Sebagaimana umumnya, anak-anak kita itu justru bermain-main, dan beriseng-iseng pada ranah ini. Jenis-jenis hiburan semisal foto, gambar, simbol, lagu, dan film, mereka rekam atau terima dari temannya, lalu dinikmati dan kemudian disebarkan kembali antar sesama mereka. Dalam lingkaran aktivitas semacam inilah penyalahgunaan fungsi-fungsi itu mudah terjadi. Di sinilah cikal-bakal modus penyebaran pornografi menyebar luas di tengah-tengah generasi muda kita. Sebuah tontonan yang tidak mendidik, bahkan bisa merusak masa depan mereka.

Bimbingi Anak!

Sejatinya, sebelum sebuah perangkat teknologi semisal hanphone diizingunakan oleh orang tua kepada anak mereka, terlebih dahulu dijelaskan positif-negatifnya produk modern tersebut. Ironisnya, tidak semua orang tua memiliki kesempatan yang memadai untuk membimbing putra-putrinya dalam pemakaian handphone saja misalnya. Konon lagi berbagai perangkat teknologi multimedia lainnya yang saat ini bak jamur di musim hujan yang dengan mudah diperoleh di pasaran. Masalahnya, orang tua kurang sadar untuk mengambil peran maksimal, yaitu mengisi nilai-nilai pada lahan kosong yang ditinggalkan teknologi. Nilai-nilai seperti etika, moral, budaya dan ajaran agama yang akan memandu putra-putri mereka dari dampak miring saat piranti teknologi digunakan. Anak yang kurang mendapat perhatian yang cukup dari orang tuanya dalam mengontrol penggunaan fasilitas teknologi cendrung lebih mudah terjerumus pada penyimpangan moral dengan menyalahgunakan piranti tersebut. Karena itu, idealnya orang tua tidak terlalu permisif (serba boleh, serba bebas, serba mandiri) dengan membiarkan anak-anak mereka tumbuh dan berkembang tanpa bimbingan dan perhatian yang mencukupi dari orang tua. Mengontrol pergaulan anak-anak bukan berarti kita tidak percaya kepada mereka. Orang tua dapat memilih metode yang tepat dalam mendekati anak secara terbuka tanpa harus menjaga jarak tertentu. Kedekatan hubungan antara anak dan orang tua akan menumbuhkan rasa saling percaya. Di sela-sela kedekatan hubungan tersebut, orang tua dapat menyelip beberapa pesan atau nasehat seperti menjelaskan batasan pergaulan yang harus dihormati dan dijaga dengan tegas.

Petik hikmahnya

Dalam kasus Akmal misalnya, jika benar ponsel yang digunakan untuk merekam foto atau video dimana Akmal sedang tiduran dengan istrinya adalah ponsel yang dipegang oleh anaknya sendiri, maka alangkah permisifnya kelaurga Akmal membiarkan ponsel digunakan oleh anak di bawah umur. Dan yang lebih naïf lagi ponsel itu dibiarkan untuk merekam diri dan istrinya tanpa sempat berpikir lebih jauh akibat yang akan terjadi di kemudian hari sebagaimana merebak sekarang. Kamar tidur adalah ruang yang sangat privasi, apa yang terjadi di sana haram hukumnya diketahui apalagi dipublikasi ke ruang umum (khalayak ramai) yang tidak patut. Oleh sebab itu, harus hati-hati sekali bersahabat dengan teknologi. Karena di suatu saat teknologi dapat mengangkat martabat kita, namun di waktu yang lain teknologi bisa menistakan, dan membawa masalah bagi pemakainya. Kita prihatin apa yang dialami oleh keluarga Akmal Ibrahim yang hanya dikarenakan kelalaian bisa mengakibatkan masalah menjadi besar dan menyebar dan menggelinding ke mana-mana. Mari kita memetik i`tibar (pelajaran) berharga ini, sambil berharap agar kasus serupa tidak dialami oleh orang lain. Semoga!

Penulis adalah Pemerhati Masalah Etika Sosial dan Pengamat Media, berdomisili di

Saatnya menuntut ilmu ke negeri Taiwan

PENGANTAR: Arus mahasiswa asing yang belajar ke Taiwan begitu meningkat akhir-akhir ini. Taiwan, yang notabene masih serumpun dengan China, kini makin gencar memperlihatkan eksistensinya di bidang pendidikan tinggi. Karena itu banyak beasiswa ditawarkan untuk pelajar asing. Tentunya satu peluang baru putra-putri Indonesia, khususnya Aceh, untuk menimba ilmu di sana. Satu kabar gembira, baru-baru ini tim dari Unsyiah menandatangani sebuah MoU penting dengan institusi pendidikan tinggi di sana. Peluang bagi warga Aceh untuk studi lanjut tentu makin terbuka. Dr Mustanir Yahya, salah satu anggota delegasi, yang dikontak Kontributor Kontras Zulkarnain Jalil melalui jalur online, menuturkan kisah perjalanannya itu.

ööööööööööööööööööööööööööööööööööööööööööööööööööööööööööööööööööööööööööööö

Pepatah lama yang berbunyi “tuntutlah ilmu hingga ke negeri Cina” tampaknya perlu diperbaharui menjadi “…hingga ke negeri Taiwan”. Setidaknya itulah yang tergambar dari kunjungan selama tiga hari delegasi Universitas Syiah Kuala ke Taiwan. Delegasi itu yakni, Prof. Dr Samsul Rizal (PR I), Prof. Dr. Darusman (PR IV) dan Dr Mustanir Yahya (Dekan FMIPA).

“Salah satu MoU yang berhasil ditandatangani adalah antara FMIPA Unsyiah dengan Computer Science National Tsin Hua University (NTU), salah satu universitas bergengsi di Taiwan. MoU ini sebenarnya merupakan upaya memformalkan kegiatan-kegiatan bersama NTU yang telah berlangsung selama 3 tahun ini. Ke depan, dengan adanya MoU, bidang kegiatan makin diperluas. Jadi akan ada pertukaran mahasiswa dan dosen untuk melakukan penelitian bersama. Mereka sangat serius dengan MoU ini. Tergambar dari harapan mereka adanya mahasiswa dan dosen untuk mengambil S2/S3 ke sana. Bahkan tim mereka sendiri sudah sempat mengunjungi kita beberapa bulan silam,“ tutur Mustanir panjang lebar.

Delegasi Unsyiah juga diundang oleh perguruan tinggi lainnya yakni National Chiao Tung University (NCTU). Mereka tampaknya juga tertarik untuk menjalin kerjasama. “Saat kami bertemu dengan pihak Rektorat mereka juga sangat ingin bekerjasama dengan kita. PR IV telah membicarakan detail bentuk-bentuk kerjasama itu. Bila konsep ini telah disetujui, maka segera akan dilakukan MoU sebagai payung untuk memudahkan kerjasama,“ imbuh Mustanir.

Mustanir sendiri akhir 2007 silam juga telah berkunjung ke Taiwan. Kala itu dia ditemani Prof. Dr Yuwaldi Away (kini Kadis Hubkomintel NAD). Dari dua kali kunjungan itu, dia mencatat setidaknya ada tiga hal penting yang patut dicermati.

“Pertama, Taiwan sedang "menunjukkan" eksistensi diri karena secara politis mereka ingin lebih unggul dari Cina daratan, sehingga ada peluang kita untuk masuk. Dan kualitas pendidikan mereka cukup bagus. Akademisi mereka bahkan ada yang sudah meraih hadiah Nobel,“ kata Mustanir.

“ Kedua, kolaborasi antara universitas di Taiwan dengan industri/pemerintahan sangat erat. Misalnya, Pemda Tsin Chu telah membangun Science Park (semacam silicon valley-nya Taiwan). Lokasinya pun harus antara NTHU dan NCTU. Oya saat kami berkunjung ke NCTU ada hadiah dari mereka berupa flashdisk yang merupakan karya alumni mereka di bidang IT,” ungkap Dekan FMIPA itu lagi.

“Hal ketiga, ini sangat penting ditiru, yakni penghargaan universitas untuk para pendahulunya luar biasa. Saat kami berkunjung ke NCTU, kami sempat berkunjung ke perpustakaan yang memiliki 8 lantai. Nah di dinding gedung ini kami lihat banyak dipajang foto-foto alumni-alumni mereka yang telah berhasil. Berdampingan dengan foto pimpinan terdahulu NCTU. Termasuk data-data alumni yang telah berhasil juga dipajang. Tentu ini memberi kebanggaan tersendiri, terlebih lagi akan jadi semacam motivator bagi mahasiswa yang sedang disitu untuk maju,” tukas Mustanir menyiratkan rasa kagum.

Kunjungan berikutnya adalah ke International Graduate Program Academia Sinica dan Institute of Information Science. Sewaktu di Academia Sinica ada beberapa hal yang menarik yang sempat dicatat delegasi.


“Ternyata di Academia Sinica, khususnya di Taiwan International Graduate Program, setiap tahunnya menyediakan banyak sekali beasiswa S2 dan S3 untuk mahasiswa asing. Sayangnya dari kita hanya sedikit. Mungkin karena tidak banyak yang tahu. Catat saja, dari 266 mahasiswa asing yang saat ini sedang sekolah di sana hanya ada 2 orang dari Indonesia . Yang banyak justru dari India, mereka ada 48 orang. Bagi peminat bisa mengakses informasi ini secara online. Silakan akses di www.tigp.sinica.edu.tw,” ungkap Mustanir.

Mustanir juga menyebutkan bahwa pihak Academia Sinica sangat menunggu mahasiswa dari Aceh. Setidaknya, kata Mustanir, saat ini ada sekitar 4 orang mahasiswa Aceh yang sedang mengambil program master disana.“ Ini bisa sebagai kontak person jika ada mahasiswa Aceh lain yang akan ke sana,“ lanjutnya.

-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------