Thursday, June 09, 2011

Kopi Bergendaal, produk lokal yang mendunia



“Wow, rasanya beda dari kopi yang biasa. Cobain deh!,”ujar seorang ibu tua sembari mengajak temannya ikut minum. “Gile bener, aroma dan rasanya nendang banget,” tukas teman si ibu ini dengan logat Betawi sembari menyeruput kopinya. Tak ayal stand Aceh pun diserbu pengunjung Pameran SMESCO UKM Festival 2011 yang ingin mencoba cita rasa kopi yang punya nama dagang unik, Bergendaal. Celutukan dan komentar-komentar kagum pun jadi bagian dari kemeriahan yang sempat terekam di Gedung Smesco Tower Jakarta tempat pameran digelar. Dalam waktu singkat Kopi Bergendaal jadi primadona di ajang pameran yang dihelat Kementerian Koperasi dan UKM dari 1-5 Juni 2011 itu.



“Namanya unik, tapi gampang diingat,” tukas seorang pria muda disamping saya. Pria ini mengaku pernah minum kopi Ulee Kareng di Banda Aceh. “Tapi yang ini lain. Aromanya khas, kayak minum di Starbuck aja,” lanjut pria yang mengaku maniak kopi ini kagum.



Ya selama ini kopi Ulee Kareng memang lebih dikenal di khalayak penikmat kopi Aceh. Tapi kini kopi Bergendaal boleh dicoba sebagai varian lain dari ragam kopi Aceh. Patut dicatat juga, dalam waktu dekat, kopi Bergendaal asal Kabupaten Bener Meriah ini akan ikut Pameran Ambient dan Perekonomian di Rumania yang berlangsung pada 8-12 Juni 2011 mendatang. Kementerian Koperasi dan UKM rupanya melihat kopi gayo punya nilai jual tinggi di dunia internasional.



“Ini kopi asli dataran tinggi gayo. Saya mulai memproduksi dan memasarkan Bergendaal sejak 2008 silam, setelah melewati serangkaian penelitian dan ujicoba pra produksi..Kopi Bergendaal termasuk dalam deretan kopi yang terbaik di dataran gayo dan diolah secara modern” ujar H. Yusrin HS, pemilik usaha kopi Bergendaal.



“Oya kata Bergendaal saya ambil dari bahasa Belanda, yang artinya bukit dan lembah. Menurut sejarah, wilayah ini pernah jadi kebun perkopian yang dipilih Belanda waktu itu,” sambung Yusrin yang mengaku terjun langsung dalam memilih dan menyortir biji kopi unggulan. Dia bersama sejumlah petani kopi binaannya mengelola sekitar 60 hektar kebun kopi di Simpang Tritit, Bener Meriah. Jadi, usahanya bisa disebut usaha terpadu, dari perkebunan, pengolahan biji kopi, bubuk kopi hingga produk kopi siap saji. Semuanya berlebel Bergendaal. Kenapa tertarik dengan usaha kopi?



“Saya termotivasi oleh kopi Starbuck, yang kata orang kopi paling enak. Starbuck tak punya lahan, tapi produknya tersebar di seluruh dunia. Atau, tak usah jauh-jauh lah. Kopi Medan misalnya, tak banyak lahan mereka. Tapi kopinya ada dimana-mana. Kita punya lahan, masak kita tidak bisa produksi sendiri,” ungkap pria yang pernah berkunjung ke negeri Belanda itu saat ditanya ide awal memulai usaha.



“Sebelumnya kopi gayo diolah secara tradisional dan diekspor dalam bentuk green bean atau biji mentah saja. Saat dikirim keluar, kebanyakan eksportir di Medan tidak memakai lagi nama kopi Arabica Gayo, tapi diganti dengan nama mereka. Ini kan ironis. Saya sebagai orang Aceh merasa tertantang melihat kondisi seperti ini,” ujar pria beranak empat ini penuh semangat.



Yusrin memang tak main-main dalam memulai usahanya. Pria yang menganut pola usaha 3 UR yakni sedapur, sesumur dan leluhur itu sampai mengirim anak laki-lakinya yang sarjana hukum ke Cinere, Depok untuk belajar meracik kopi. Bahkan mesin produksi kopinya dipilih yang buatan Jerman. Di arena Pameran UKM Festival 2011 sendiri, para pengunjung bisa melihat dengan detail cara mengolah kopi Bergendaal. Karena mesin pengolahnya, dari penghalusan biji kopi menjadi serbuk hingga penyeduhannya di gelas siap saji, dibawa langsung dari Aceh.



Agar makin dikenal, Yusrin mengaku sering ikut pameran. “Saya sudah berkali-kali ikut pameran baik di Jakarta maupun Surabaya . Saya sangat berharap agar para pengolah kopi di Aceh jangan hanya mengekspor kopi mentah lagi, tapi sedapat mungkin yang diekspor adalah bahan jadi yang kita produksi sendiri, nilai jualnya lebih tinggi. Secara tidak langsung juga akan dapat meningkatkan ekonomi rakyat,” harap Yusrin seraya menyebut saat ini permintaan kopinya kebanyakan dari jenis super premium dan juga kopi luwak liar.



Bagi yang ingin menikmati langsung cita rasa kopi asli Bergendaal, Yusrin telah pula menyulap gudang rumahnya di Simpang Tritit menjadi Kafe Bergendaal. Kedai kopi yang dibuka pertengahan 2007 silam itu kini banyak disinggahi wisatawan lokal dan mancanegara. So, kalau sekali waktu Anda melewati daerah ini atau kalau ingin hari-hari Anda lebih meriah, yuk minum kopi produk Bener Meriah. Mau? (zulkarnain jalil)
Terbentuk, Ikatan Mahasiswa Aceh di Jerman (IMAN)



Sehubungan dengan semakin banyaknya putra putri aceh yang menuntut ilmu di Jerman, baik itu yang langsung dikirim oleh pemda Aceh maupun melalui skema Beasiswa lain seperti DAAD, Dikti, Erasmus Mundus atau mereka yang kuliah dengan biaya sendiri, maka adalah menjadi kebutuhan bagi mahasiswa Aceh ini untuk menghimpun diri dalam sauatu wadah organisasi seluruh mahasiwa Aceh yang ada di Jerman.

Dengan tekad untuk saling menjalin silaturrahim, dalam rangka menyahuti aspirasi mahasiwa Aceh se-Jerman dan untuk saling membantu dalam meraih kesuksesan studi dan memberikan sumbangsih ilmu, pemikiran dan kerja nyata bagi kemakmuran Aceh, maka pada tanggal 26-27 Maret 2011 yang lalu di kota Goettingen, Negara Bagian Niedersachsen-Jerman, telah dibentuk „Ikatan Mahasiswa Aceh di Jerman (IMAN)“.

Organisasi ini dikukuhkan dalam sebuah Musyawarah Besar/Duek Pakat Aneuk Aceh yang dihadiri 54 mahasiswa Aceh yang datang dari seluruh penjuru Jerman baik yang sedang mengambil studi bachelor, master, maupun doktoral. Acara ini berlangsung cukup sukses dan dibuka langsung oleh Ketua Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) di Jerman, saudara Laode Mutakhir Bolu. Rangkaian Acara Musyawarah ini terdiri dari; Presentasi Ilmiah, Sidang pembentukan organisasi beserta AD/ARTnya, Silaturrahim dan penggalangan dana Bantuan Untuk Musibah Banjir di Tangse.

Setelah menjalani acara selama dua hari, akhirnya terbentuklah Ikatan Mahasiwa Aceh di Jerman (IMAN) dengan Saudara Saiful Akmal (Frankfurt) terpilih sebagai Ketua, Maimun Rizal (Goettingen) sebagai sekretaris dan Maria Umran (Fulda) sebagai Bendahara. Sedangkan Zakaria Hafizh (Offenburg) dan Heru Fahlevi (Speyer) dipercayakan sebagai pengurus wilayah Barat, Reza Fathurrahman (Erfurt) dan Fajarullah Mufti (Weimar) di pengurus wilayah Timur, serta Ikhlas Ali Amran dan Masyitah Saifuddin (Goettingen) menjadi Pengurus Wilayah Tengah. Sementara saudara Ichsan (Goettingen) didaulat menjadi Ketua Badan Pengawas Organisasi (BPO) yang didampingin oleh saudara T. Firman dan Essy Harnely (Goettingen), T. Faisal MG (Koln), Fathul Mahdariza (Karlsruhe) sebagai anggota BPO. Acara yang berlangsung dengan penuh rasa persaudaraan ini juga berhasil menelurkan sebuah Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) sebagai dasar hukum bagi pencapaian misi dan visi IMAN dimasa yang akan datang.

Dalam pencapaian misi dan visinya organisasi ini akan senantiasa bekerjasama dengan JAROE (Jaringan Aneuk Nanggroe Aceh di Eropa) yang membawahi mahasiwa Aceh se-Eropa dan juga senantiasa berkoordinasi dengan Persatuan Alumni Jerman di Aceh, Pemda Aceh, Komisi Beasiswa Aceh, PPI Jerman dan Eropa, KBRI dan KJRI di Jerman.
Mahasiswa Unsyiah Raih Perunggu Olimpiade MIPA



Universitas Syiah Kuala berhasil meraih 1 medali perunggu dan 1 Honorable Mention pada Olimpiade Nasional (ON)-MIPA 2011 yang dihelat tanggal 28 April – 2 Mei di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung. Medali Perunggu berhasil diraih oleh Nurul Wahyuni (FMIPA/Matematika), sedangkan Honorable Mention oleh Said Ali Akbar (FKIP/Kimia). Keberhasilan ini merupakan peningkatan tajam dari prestasi tahun lalu dimana Unsyiah tahun lalu belum mampu mendapatkan satupun medali dalam even tahunan tersebut. Universitas Syiah Kuala dalam ON-MIPA 2011 ini berhasil meloloskan 4 wakil di tingkat regional I.

Para peserta yang berhasil mendapatkan medali tersebut akan mengikuti Pelatnas pada bulan Juni 2011 untuk mengikuti seleksi Olimpiade MIPA Internasional yang akan berlangsung di Bulgaria.

Kegiatan ON-MIPA PT merupakan agenda tahunan Dinas Pendidikan Tinggi (DIKTI), Departemen Pendidikan Nasional yang digelar sebagai upaya meningkatkan minat dan kemampuan berkompetisi diantara mahasiswa, khususnya yang menekuni bidang-bidang: Matematika, Fisika, Kimia dan Biologi. Universitas Syiah Kuala sebagai salah satu universitas terkemuka di Sumatera memiliki kepentingan strategis yang tinggi untuk mengirimkan mahasiswa-mahasiswa terbaik dalam kompetisi ON-MIPA ini. Disamping sebagai Bench-Mark hasil pembelajaran dan kemampuan akademis mahasiswa, juga merupakan prestise dan ajang membangkitkan motivasi belajar yang lebih tinggi di kalangan mahasiswa Unsyiah.
Kopi Aceh Tembus Pasar Rumania


Cita rasa kopi Aceh kini tak hanya dikenal di Indonesia saja, namun dalam waktu dekat aroma khasnya bakal menembus pasar Eropa. Kabar gembira tersebut disampaikan oleh Ir. Syarifuddin, Kepala Bidang Usaha Koperasi dan UKM (Usaha Kecil Menengah) Provinsi Aceh kepada Kontributor Serambi, Zulkarnain Jalil, Sabtu (4/6) kemarin di sela-sela kegiatan Pameran SMESCO UKM Festival 2011 yang berlangsung di Gedung Smesco Tower, Jakarta.
“Kopi Aceh, dalam hal ini jenis Arabika dan Luwak asal Gayo, akan ikut Pameran Ambient dan Perekonomian Rumania . Pameran akan berlangsung pada 8-12 Juni 2011 di kota Bukarest. Rupanya pihak Kementerian Koperasi dan UKM sangat tertarik dengan cita rasa kopi yang kita pamerkan disini, ”ungkap Syarifuddin pada ajang pameran yang berlangsung dari 1-5 Juni 2011.
Menurut Syarifuddin, Kementerian Koperasi dan UKM saat ini melakukan terobosan dengan memasarkan produk unggulan koperasi dan UKM ke kawasan Eropa Timur sebagai target pasar baru. Ada delapan pelaku koperasi dan usaha kecil menengah yang akan dibawa ke negara itu untuk dipertemukan dengan konsumen melalui even yang akan berlangsung di Gedung Romeexpo, salah satu gedung pameran terbesar di Rumania .
Adapun pameran SMESCO UKM Festival 2011 yang saat ini sedang berlangsung di Jakarta diikuti oleh 315 koperasi dan UKM. Pameran tahun ini –yang berlangsung dari tanggal 1-5 Juni 2011 merupakan penyelenggaraan yang ke-9 kalinya. Dalam agenda tahunan Kementerian Koperasi & UKM sedikitnya 250 gerai memamerkan produk-produk unggulan seperti fashion, aneka asesoris, sepatu, piranti rumah tangga, furnitur, makanan dan minuman, hingga produk kreatif dari bahan daur ulang. pameran produk
“Pameran ini telah berlangsung sejak tahun 2003 dan tiap tahun produk yang dipamerkan semakin beragam dan berkualitas. Transaksi tahun lalu transaksinya mencapai Rp 26,3 miliar. Tahun ini kita targetkan mampu mendulang transaksi hingga Rp 30 miliar. " kata Neddy Rafinaldy Halim, Deputi Bidang Pemasaran dan Jaringan Usaha Kementerian Koperasi dan UKM.
Amatan Kontributor Serambi, stand Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi dan UKM Provinsi Aceh termasuk salah satu stand yang ramai disinggahi pengunjung. Di stand berukuran 3 x 4 meter persegi itu dipajang produk-produk unggulan seperti batik Aceh, aneka produk bordir, souvenir dan pernak pernik khas Aceh, coklat hasil produksi salah satu UKM asal Pidie Jaya dan kopi gayo jenis arabika dan luwak. Pengunjung umumnya tertarik dengan kopi Aceh Mulyadi, dari CV. Sumatra Mangoh –salah satu UKM mitra Disperindagkop Aceh- yang ikut serta dalam pameran itu menceritakan selama dua hari penyelenggaraan para pengunjung yang ingin mencicipi kopi Aceh sangat ramai. Mulyadi sendiri membawa peralatan untuk mengolah bubuk kopi hingga dapat diminum langsung di lokasi pameran. Tak sedikit diantara para pengunjung yang membeli kopi Aceh sebagai oleh-oleh untuk kerabat atau keluarga terdekat mereka. (jal)