Monday, December 18, 2006

Pilkada Aceh Hiasi Media Eropa

Pilkada Aceh yang berlangsung Senin kemarin(11/12) benar-benar mendunia. Kegiatan pemilihan langsung yang baru pertama kali dilaksanakan dalam sejarah Aceh itu jadi sorotan beberapa media terkemuka di Eropa. Di Jerman misalnya, harian beroplah besar die Welt yang terbit di Berlin menulis tragedi tsunami telah melahirkan peluang damai di propinsi yang berseteru. Die Welt juga menyitir harapan banyak kalangan agar Pilkada dapat menjadi puncak tertinggi dari proses perdamaian di Aceh. Hal yang kurang lebih sama juga ditulis harian terkemuka Jerman Frankfurter Algemenen Zeitung (FAZ). FAZ menyebutnya sebagai pemilu yang penuh persahabatan.

Lain halnya dengan Tageszeitung yang terbit di Muenchen. Harian ini secara terbuka menulis judul Ex-Rebellenführer Wahlsieger (Pemenang Pemilu, Mantan Gerilyawan) dengan mengulas pasangan Irwandi Yusuf-Nazar yang unggul sementara dari kandidat-kandidat lainnya. Ulasan Tageszeitung yang “meriah“ ini justru jadi trend. Buktinya N24 –televisi berita Jerman- dan koran online Netzeitung juga mengulas hal yang serupa. Bahkan kedua media ini menampilkan gambar Irwandi yang sedang mengisi kotak suara.

Berita kemenangan Irwandi Yusuf ini juga menghiasi media cetak terkemuka Le Figaro dan La Croix yang terbit di Perancis. Kedua harian itu menyebut kemenangan sementara mantan gerilyawan GAM tersebut sebagai hal yang mengejutkan. La Croix menyebut kejutan karena pasangan independen Irwandi-Nazar tidak masuk hitungan sebelumnya. Harian yang bermarkas di Paris itu meletakkan berita Pilkada Aceh sama hebohnya dengan berita kematian Augusto Pinochet, mantan diktator Chile.

Beranjak ke Swiss, harian Nachrichten, Aargauer Zeitung (AZ), demikian juga Solothurner Zeitung (SZ) seolah seperti sepakat menulis tentang Irwandi Yusuf. “Yusuf in Aceh zum Gouverneur gewählt“ (Yusuf terpilih sebagai gubernur Aceh), tulis SZ seraya menceritakan latar belakang dokter hewan yang sempat berseteru dengan Jakarta itu. Sementara AZ menampilkan gambar Irwandi di arena TPS saat mengisi kotak suara.

Yang menarik adalah der Standard (Austria), melalui kolumnisnya Markus Bernath, harian yang terbit di Wina –ibukota Austria- ini menulis judul Gereifte Rebellen (Gerilyawan yang makin matang) dengan mengulas perjalanan GAM hingga langkahnya ke panggung Pilkada. Berita-berita sejenis juga jadi pokok bahasan di siaran Radio Nederland (Belanda), BBC (Inggris), dan suara Jerman Deutsche Welle.

Di luar negara-negara utama di Eropa itu, Turki yang masih berjuang untuk bisa masuk salah satu anggota Uni Eropa menyebut Irwandi sebagai mantan gerilyawan yang pulang kampung untuk perdamaian. Demikian sebagaimana disitir Turkishweekly.

Begitulah, tampaknya masyarakat dunia pun berharap hal yang sama sebagaimana harapan jutaan pemilih di Aceh. Jangan ada lagi pertumpahan darah, mari bentangkan tangan, satukan hati menuju Aceh damai. Yang jelas siapapun yang terpilih hendaknya memikirkan kemakmuran rakyat bukannya menumpuk kekayaan untuk diri sendiri. Demikian komentar Fikri, salah seorang mahasiswa Aceh yang tinggal di Tirol, Austria. (Zulkarnain Jalil, Jerman, Serambinews)