Thursday, March 06, 2008

Pemuda Slowakia Itupun Akhirnya Bersyahadah

Seumur hidup itulah pertamakali aku ke mesjid. Entah mengapa ketika berada di mesjid hatiku begitu tenteram dan damai. Aku merasa yakin telah menemukan kebenaran.”

PENGANTAR. Bandar Brano adalah seorang remaja belia asal Republik Slowakia. Sejak kecil ia tidak mendapat ajaran agama yang memadai dari kedua orangtuanya. Neneknya yang justru berperan mengenalkan agama Kristen padanya. Bahkan neneknya meminta Bandar untuk dibaptis namun dilarang sang ayah. Alasannya, dulu kakek Bandar adalah orang terhormat di pemerintahan komunis Cekoslowakia. “Orangtuaku dulunya nikah campur. Ayahku seorang Atheis dan Ibu Kristen. Makanya aku selalu dihina teman-teman sekolah, tetangga, bahkan juga guru. Aku ini dibilang anak gipsi yang kotor,” katanya mengenang. Satu ketika ia terlibat pertengkaran hebat dengan orangtuanya hingga memutuskan minggat dari rumah dan masuk ke kehidupan “hitam” yang liar. Untungnya ia bertemu dengan tiga pelajar Muslim asal Sudan hingga akhirnya memeluk Islam di usia 18 tahun. Berikut kisahnya yang diceritakannya dalam situs Islamweb berbahasa Slowakia dan kemudian dipublikasikan oleh situs Readingislam edisi 6 Juli 2006 lalu.

----------------------------------------------------------------------------------------------------------

Perjalananku mencari kebenaran penuh dengan onak dan duri. Aku lahir dari sebuah keluarga sederhana. Ayahku seorang penganut Atheis (tak percaya Tuhan-red) sementara ibu beragama Kristen tapi jarang ke gereja,” ujar Bandar memulai kisahnya.

Pengakuan Bandar, neneknyalah yang telah banyak memberi warna agama dalam hidup. Ia mengaku sangat dekat dengannya. Sang nenek, menurutnya, berusaha membangun semangat Kristen sejak kecil. “Meskipun nenek bukanlah seorang yang aktif di kegiatan gereja, namun ia adalah seorang yang sungguh-sungguh dan keyakinan agama datang dari dasar hatinya. Begitu juga caranya beribadah persis seperti penganut Kristen tradisional (orthodoks).

Ia mendesakku dan juga adikku untuk dibaptis di gereja. Namun ayah tidak setuju dengan sarannya itu. Karena, menurutnya, kakekku dulu merupakan pegawai terhormat di kantor semasa pemerintahan komunis Cekoslowakia,” kenangnya.

Ketika berumur 12 tahun, mata pelajaran agama mulai diajarkan di kelas. “Kala itu aku mulai mendapatkan petuah-petuah Kristen hingga punya keinginan untuk dibaptis. Karena menurutku hanya dengan cara ini bisa “selamat”. Sebenarnya aku sendiri tidak begitu antusias mengikuti pelajaran agama. Tapi aku bersikeras untuk tetap ikut. Teman-teman sekelas menyindir tajam keinginanku. Aku sering berdoa dan ikut jamaah gereja, membaca Bibel, ikut acara Misa dan turut membantu setiap ada kegiatan di sana,” imbuhnya lagi.

Setelah dua tahun mengabdi di gereja ia diberitahu bahwa kedua orangtuanya dulu tidak menikah di gereja. Karenanya ia tidak bisa dibaptis. “Jujur saja saat itu aku sangat kecewa sekali. Keyakinan akan ajaran Katolik spontan luntur. Di saat itu pula ibuku melahirkan adikku. Aku disibukkan oleh kehadiran adik dan akhirnya seiring perjalanan waktu Kristen hilang dari dalam diriku,” akunya.

Ketika di sekolah menengah Bandar ikut kelas yang ada mata pelajaran Etika. “Aku berkeyakinan bahwa untuk bisa patuh pada Tuhan tidak musti dibaptis dulu. Sejak itu aku berhenti ikut jamaah gereja demikian juga tidak punya minat lagi mempelajari Bibel,” kilahnya.

Orangtuaku dulunya nikah campur. Makanya aku selalu mendapat hinaan dari teman-teman di kelas, tetangga, guru dan bahkan warga kampungku baik di jalanan, bis kota, di mana-mana pokoknya. Mereka bilang, aku ini anak gipsi yang kotor. Akhirnya aku benar-benar hilang kontak dengan teman-teman semasa kecil karena mereka beranggapan sulit berteman denganku,” kenangnya sedih.

Sebagai pemuda 16 tahun, Bandar mengaku sulit mengontrol emosinya. “Aku sering bertengkar dengan orangtua dan satu ketika memutuskan minggat dari rumah. Berawal dari sinilah aku mulai mengenal dunia luar dan masuk ke kehidupan liar,” ujar Bandar. Ia tidak menceritakan seburuk apa dekadensi moralnya saat itu. Tak disangka, satu hari, ia berjumpa dengan tiga pelajar muslim dari Sudan. Pertemuan yang di kemudian hari mengubah jalan hidupnya.

Salah seorang dari mereka mengatakan jika Bandar ingin menyelesaikan masalahnya yang menggunung itu ia harus berhenti dari kehidupan liar. “Aku benar-benar terkejut kala mendengar ucapan itu. Bukan apa-apa, karena di pihak lain, saban hari semua teman-temanku malah mendukung dan menganjurkan untuk tetap di jalur “hitam”. Kok anak Islam ini berani-beraninya mengajak sebaliknya dan bahkan mengatakan Tuhan tidak suka dengan cara hidup seperti itu,” tukas Bandar.

Sejak saat itu, aku menghabiskan waktu dengan pelajar-pelajar Sudan itu. Aku pun mulai meninggalkan acara hura-hura, mabuk-mabukan dan kegiatan tak bermanfaat lainnya. Demikian pula dengan teman-teman lama, mereka mulai meninggalkan aku. Aku mulai masuk sekolah lagi. Aku kembali mengunjungi kedua orangtua, “ lanjutnya lagi. Bandar mengaku tidak merasa terasing dan juga tidak merasa rendah sedikitpun karena berteman dengan pelajar kulit hitam itu. “Aku justru merasa bahagia berada di tengah orang-orang yang bisa aku percaya dan saling berbagi. Bahkan aku pun bisa berhubungan dengan kelompok rasis Slowakia,” akunya.

Bandar sering terlibat diskusi dengan Ahmed, salah seorang pelajar Sudan itu. Tentang Tuhan, Islam dan banyak lainnya. “Aku belajar banyak darinya dan bahkan jujur saja aku sangat sedikit mengetahui tentang hal itu sebelumnya.”

Satu ketika, dengan penuh haru hingga mencucurkan airmata, Ahmed menyatakan perasaan hatinya. “Oh, seandainya kamu Islam,” katanya meniru ucapan Ahmed. Bahkan Ahmed mengaku bahwa ia secara rutin sering berdoa khusus untuknya. Bandar benar-benar terkejut dan terkesan. “Dia bukan siapa-siapa. Tapi demikian pedulinya dengan nasibku,” katanya.

Sedikit banyak apa yang kupelajari sebelumnya tidak ada kontradiksi dengan Islam. Aku percaya dengan Tuhan yang satu dan hanya satu, tidak ada lain. Konsep Trinitas dalam Kristen justru membuatku bingung. Samar-samar dan tidak jelas maksudnya. Islam, bagiku, justru tampil lebih terus terang, terbuka dan dapat dimengerti. Bebas dari dogma-dogma yang tidak rasional. Penganutnya mengerjakan sesuatu tanpa keterpaksaan. Semua berdasarkan konsep ikhlas. Aku berjanji akan meningkatkan langkah menuju usaha yang lebih keras lagi untuk mempelajari Islam. Ahmed dan teman-temannya sangat senang mendengar itu. Mereka menyokong dengan membantuku mencarikan buku-buku Islam berbahasa Slowakia,” kisahnya panjang lebar.

Setelah setahun, Bandar musti berpisah dengan pelajar-pelajar Sudan itu. Mereka pindah ke kota lain guna melanjutkan studinya. Ia merasa sangat kehilangan. Sepeninggal mereka Bandar jadi pemurung.

Aku seperti berada di persimpangan jalan. Seakan ada yang menarikku untuk kembali ke dunia lama. Tapi di pihak lain, aku merasa takut. Ya aku takut berdosa. Dalam suasana bingung seperti itu aku lalu mengunjungi komunitas Baptis. Aku diberitahu bahwa karena alasan “keselamatan” aku tidak perlu dibaptis. Namun mereka tidak menanggapi ketika aku mengajukan beberapa pertanyaan krusial tentang ajaran Kristen,” imbuhnya.

Di tengah keputusasaan itu, Allah datang dan menolongku. Subhanallah! Aku berjumpa lagi dengan seorang pelajar Muslim yang lain. Namanya Umar dan berasal dari Yaman. Ia sangat alim dan dengan senang hati mencarikan literatur-literatur penting untukku. Aku mulai belajar Islam lagi.”

Umar pun mengajari Bandar bagaimana cara shalat, cara bersyukur pada Allah, cara menghindarkan diri dari perbuatan dosa dan banyak lainnya lagi. “Yang paling berkesan, ia mengajariku bagaimana berbakti kepada kedua orangtua. Juga ia ceritakan bagaimana persaudaraan dalam Islam. Bukan main indahnya Islam,” aku Bandar kagum.

Singkat cerita, Bandar Brano akhirnya bersyahadah di hadapan Umar. Tak lama kemudian Umar pun mengajaknya ke mesjid. “Seumur hidup itulah pertamakali aku ke mesjid. Entah mengapa ketika berada di mesjid hatiku begitu tenteram dan damai. Aku merasa yakin telah menemukan kebenaran. Namun aku sedih sebab masih banyak dari anggota keluargaku yang belum Islam. Begitupun aku bersyukur kepada Allah atas hidayah-Nya,” tutur Bandar.

Alhamdulillah, segala pujian hanya bagi Allah. Aku menerima hidayah Islam pada saat berusia 18 tahun. Aku masih ingat dengan perasaan saat mengucapkan dua kalimah syahadah. Kala itu aku seperti menggigil dan takut. Namun selepas bersyahadah terasa sejuk, hening, damai. Tak bisa diungkapkan dengan kata-kata.”

Begitu girangnya Bandar. Ia menyaksikan wajah-wajah penuh persahatan. “Alhamdulillah, dalam masa sekitar tiga tahun aku mendapatkan kesempatan untuk tinggal bersama-sama Muslim lainnya guna belajar dari mereka. Tata cara hidup dalam Islam. Kehidupanku telah berubah sama sekali sejak saat itu. Semoga Allah berikan kekekalan hidayah padaku,” pintanya. Bandar sering berdoa, terutama bagi saudara-saudaranya baik di Slowakia maupun di Ceko agar satu ketika nanti juga mendapat hidayah. “Ya Allah berikanlah ganjaran dan kasih sayang-Mu kepada mereka-mereka yang telah membantuku menemukan kebenaran. Dan, Semoga Allah senantiasa membantu menguatkan keimananku.” do’a Bandar di akhir kisahnya. (zulkarnain jalil/zkarnain03@yahoo.com)


AWALNYA MEMOJOKKAN ISLAM, AKHIRNYA MALAH BERSYAHADAH

PENGANTAR. Dr. Yusuf Estes lahir tahun 1944 di Ohio, AS. Kisaran tahun 1962 hingga 1990 ia bekerja sebagai musisi di gereja, penginjil sekaligus mengelola bisnis alat musik piano dan organ. Awal 1991 ia terlibat bisnis dengan seorang pengusaha muslim asal Mesir bernama Muhammad Abd Rahim. Awalnya ia bermaksud meng-Kristenkan pria Mesir itu. Namun akhirnya ia justru memeluk Islam diikuti oleh istri, anak-anak, ayah serta mertuanya. Ia menguasai bahasa Arab secara aktif, demikian juga ilmu Al-Quran selepas belajar di Mesir, Maroko dan Turki. Sejak 2006, Yusuf Estes secara regular tampil di PeaceTV, Huda TV, demikian pula IslamChannel yang bermarkas di Inggris. Ia juga muncul dalam serial televisi Islam untuk anak-anak bertajuk “Qasas Ul Anbiya” yang bercerita tentang kisah-kisah para Nabi. Yusuf terlibat aktif di berbagai aktifitas dakwah. Misalnya menjadi imam tetap di markas militer AS di Texas, da’i di penjara sejak tahun1994, dan pernah menjadi delegasi PBB untuk perdamaian dunia. Syekh Yusuf telah meng-Islam-kan banyak kalangan, dari birokrat, guru, hingga pelajar. Berikut kisah Syekh Yusuf sebagaimana dituturkannya di situs Islamtomorrow.com.

------------------------------------------oooooooooooo---------------------------------------------

Nama saya Yusuf Estes. Saat ini dipercaya memimpin sebuah organisasi bagi Muslim asli Amerika. Kini sepanjang hidup saya berikan untuk Islam. Saya berkeliling dunia untuk memberikan ceramah dan berbagi pengalaman bagaimana Islam hadir dalam diri saya. Organisasi kami terbuka untuk berdialog dengan berbagai kalangan. Misalnya para pemuka agama seperti pendeta, rabi (ulama kaum Yahudi-red) dan lainnya dimanapun mereka berada.


Kebanyakan medan kerja kami adalah kawasan institusional seperti pusat militer, universitas, hingga penjara. Tujuan utama adalah untuk menunjukkan Islam yang sebenarnya dan memperkenalkan bagaimana hidup sebagai seorang muslim. Meskipun Islam saat ini berkembang sebagai salah satu agama terbesar kedua setelah Kristen, namun masih banyak saja terjadi misinformasi tentang Islam. Misalnya Islam selalu diidentikkan dengan hal berbau Arab.


Banyak orang bertanya pada saya bagaimana mungkin seorang pendeta atau pastur Kristen bisa masuk Islam. Padahal tiap hari kami menyampaikan kebenaran Kristen. Belum lagi dengan berita-berita negatif tentang perilaku buruk Islam di media. Pasti tidak ada orang yang tertarik dengan Islam. Pernah seorang pria Kristen bertanya pada saya melalui e-mail kenapa dan bagaimana saya meninggalkan Kristen dan masuk Islam. Saya berterima kasih pada semua yang bersedia mendengar kisah saya berikut ini. Semoga Allah ridha.


Keluarga Kristen taat

Saya lahir di Ohio, besar dan bersekolah di Texas. Dalam tubuh saya mengalir darah Amerika, Irlandia dan Jerman hingga sering disebut WASP (white anglo saxon protestant). Keluarga kami adalah penganut Kristen yang sangat taat. Tahun 1949, ketika masih di bangku SD kami pindah ke Houston, Texas. Saya dan keluarga sering hadir secara rutin ke gereja. Malah saya dibaptis pada usia 12 tahun di Pasadena, masih Texas.


Sebagai seorang remaja, saya punya keinginan untuk berkunjung ke banyak gereja di berbagai tempat guna menambah pengalaman dan juga pengetahuan Kristen. Kala itu saya benar-benar haus untuk mempelajari ajaran Kristen. Tidak hanya ajaran Kristen, bahkan ajaran Hindu, Budha, Yahudi,hingga Metafisika juga saya pelajari. Hanya satu ajaran yang saya tidak begitu serius dan bahkan tidak menaruh perhatian sama sekali, yaitu agama Islam.


Saya suka musik terutama klasik. Hingga saya sering dapat undangan menyanyi di berbagai gereja. Di kisaran tahun 1960-an saya mengajar musik dan tahun 1963 punya studio sendiri di Laurel, Maryland yang saya beri nama “Estes Music Studios.” Hingga tahun 1990 atau hampir 30 tahun lamanya saya bersama dengan ayah mengelola bisnis entertainment. Kami juga punya toko alat musik piano dan organ di Texas, Oklahoma hingga Florida.


Ayah dulu pernah aktif dalam aneka kegiatan gereja. Dari sekolah minggu hingga aktifitas penggalangan dana bagi pengembangan sekolah Kristen. Dia sangat menguasai Bibel dan juga terjemahannya. Melalui ayah pula saya belajar Bibel dalam berbagai versi dan terjemahan.

Ayah, seperti kebanyakan pendeta lainnya, selalu mendapat pertanyaan:”Apakah Tuhan yang menulis Bibel?” Biasanya jawabannya adalah: “Bibel adalah rangkaian kata inspirasi seorang lelaki yang berasal dari Tuhan.” Itu bermakna, menurut saya, manusialah yang menulis Bibel. Tentu saja, selama bertahun-tahun, jawaban itu menimbulkan banyak tanggapan bahkan penolakan. Namun ayah selalu menambahkan:”Akan tetapi (Bibel) itu tetap kata dari Tuhan yang diilhamkan kepada manusia.” Begitulah.


Mencari Tuhan

Beranjak dewasa dan memiliki usaha sendiri, akhirnya saya “menyerah”. Saya tidak mungkin jadi seorang pendeta. Saya takut bermental hipokrit. Saya belum bisa menerima tentang konsep Tuhan itu satu namun pada saat yang sama Dia menjadi “Tiga” atau Trinitas. Saya selalu bertanya-tanya, jika Dia “Tuhan Bapa” bagaimana mungkin pada saat yang sama juga menjadi “Anak Tuhan?”


Selama bertahun-tahun saya mencoba mencari Tuhan dengan berbagai cara. Saya pelajari dan cek dalam agama Budha, Hindu Metafisika, Taoisme, Yahudi dan banyak lagi. Bertahun-tahun saya pelajari hingga mendekati usia ke-50 saya belum menemukan siapa Tuhan yang sebenarnya. Lalu saya mencoba bergaul dengan banyak kalangan, termasuk dengan para evangelis dan penginjil yang punya pengalaman di berbagai tempat dan negara. Kami sering melakukan perjalanan jauh. Namun tidak ada jawaban yang memuaskan. Tidak ada yang mau menjawab siapa yang menulis Bibel sebenarnya, kenapa Bibel banyak versi padahal bukunya sama, kenapa banyak sekali terdapat kesalahan versi terkini dengan versi terdahulu. Dan, bahkan, dalam berbagai versi Bibel, saya tidak menemukan satupun kata “Trinitas.”


Kolega saya akhirnya tidak mampu meyakinkan saya. Mereka lelah mencari jawaban yang tepat atas pertanyaan-pertanyaan “nyeleneh” tersebut. Sampai akhirnya datanglah satu kejadian yang merupakan awal perjumpaan saya dengan Islam. Kejadian yang akhirnya meruntuhkan semua konsep-konsep dan keyakinan-keyakinan yang telah membebani saya selama bertahun-tahun. Solusi dan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan saya datang justru dengan cara, yang menurut saya, aneh dan ganjil.


Jumpa pria Mesir

Ceritanya, awal 1991 ayah mencoba menjalin bisnis dengan seorang pengusaha dari Mesir. Ia meminta saya untuk bertemu dengan pria Mesir itu. Bagi saya inilah kali pertama mengadakan kontak bisnis internasional. Yang saya tahu tentang Mesir adalah piramid, patung Sphinx, dan sungai Nil. Hanya itu. Lalu ayah menyebut bahwa pria itu seorang muslim. Apa? Islam? Saya tidak percaya dengan apa yang saya dengar. Menjalin hubungan dengan orang Islam? Spontan batin saya menolak. Tidak, no way!

Saya mengingatkan ayah agar membatalkan kontak dengan pria itu dengan menyebut hal-hal negatif tentang orang Islam. Orang Islam teroris, pembajak, penculik, pengebom, dan entah apa lagi. Saya sebut juga mereka (orang Islam) tidak percaya dengan Tuhan, tiap hari kerjanya mencium tanah lima kali sehari, dan menyembah kotak hitam di tengah padang pasir (maksudnya Ka’bah-red.). Tidak! Saya tidak mau jumpa orang itu.


Ayah tetap mendesak. Ia menyebut orang itu sangat ramah dan baik hati. Akhirnya saya menyerah dan bersedia bertemu dengan pengusaha Islam tersebut. Tapi untuk pertemuan tersebut saya buat semacam “aturan” khusus. Antara lain; saya mau bertemu dengannya pada hari Minggu setelah kegiatan di gereja, sehingga punya “kekuatan” kala bertemu nanti. Saya musti bawa Bibel, pakai baju jubah dan peci ala gereja bertuliskan “Yesus Tuhan Kami.” Istri dan kedua anak perempuan saya juga harus datang di saat pertemuan pertamakali dengan orang Islam itu.


Tibalah hari H. Ketika saya masuk toko, langsung bertanya pada ayah mana orang Islam itu. Ayah menunjuk seorang laki-laki di dekatnya. “Ini dia orangnya,” ujar ayah. Mendadak saya dilanda kebingungan. Ah sepertinya pria itu bukan si Islam yang dimaksud. Hati saya membatin. Penampilannya tidak seperti yang saya bayangkan sebelumnya. Laki-laki asal Mesir itu tidak berjanggut, bahkan tidak punya rambut sama sekali alias botak. Ia tidak bersorban dan tidak pula berjubah. Malah pakai jas.


Spontan saya mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan. Mengamati orang-orang yang hadir. Saya mencari-cari orang yang pakai jubah dan surban melilit di kepalanya, berjenggot lebat serta alis mata tebal. Khas orang Arab. Namun tidak ada seorangpun yang memenuhi kriteria saya. Yang lebih mengejutkan, pria itu malah menegur saya dengan sangat ramah. Ia menyambut dan menjabat tangan saya dengan hangat. Namun saya tidak terkesan dengan tingkahnya itu. Hanya ada satu pikiran, yakni bagaimana meng-Kristenkan pria Mesir itu.


Interogasi

Selepas perkenalan singkat, saya pun mulai “menginterogasi” pria Mesir tersebut. "Anda percaya dengan Tuhan?" tanya saya mengawali. Pria itu menjawab ya. Saya mencocornya lagi dengan rentetan pertanyaan lain seperti keyakinan Islam kepada Nabi Adam, Ibrahim. Musa, Daud, Sulaiman hingga Isa Al-Masih. Saya dibuat terpana kala mendengar jawaban pria Islam itu. Ia menjelaskan Islam percaya dengan Nabi-Nabi yang saya sebut tadi. Bahkan makin ternganga kala diberitahu Islam juga beriman dengan salah satu Kitab Allah yakni Injil dan Nabi Isa adalah salah satu utusan-Nya. Fantastik!


Yang bikin saya syok adalah tatkala mengetahui ternyata Islam juga percaya dengan Almasih (baca: Nabi Isa). Dalam Islam ternyata Isa dipercaya; sebagai utusan Tuhan dan bukan Tuhan, lahir tanpa seorang ayah, ibunya adalah Maryam. Ini sudah lebih dari cukup bagi saya untuk mempelajari Islam lebih lanjut. Ah padahal sebelumnya saya sangat benci dengan Islam. Kini saya harus mempelajarinya? Bagaimana mungkin?


Akhirnya kami jadi sering bertemu dan berdiskusi terutama tentang keimanan. Pria ini sangat lain. Ramah, kalem, dan terkesan pemalu. Ia mendengar dengan serius setiap kata-kata saya dan tidak menyela sedikitpun. Lama kelamaan saya jadi menyukai pria itu. Namun waktu itu yang masih terpikir oleh saya adalah mencari cara untuk mengajaknya masuk Kristen. Tidak ada yang lain. Orang ini sangat potensial menurut saya.


Menjadi mitra bisnis

Saya akhirnya setuju untuk menjalin bisnis dengan pengusaha Mesir itu. Kami sering mengadakan perjalanan bisnis di sepanjang kawasan Utara Texas. Sepanjang hari kami justru banyak berdiskusi hal keyakinan Islam dan Kristen ketimbang masalah bisnis. Kami bicara tentang konsep Tuhan, arti hidup, maksud penciptaan manusia dan alam serta isinya, tentang Nabi, dan banyak lainnya lagi.


Satu ketika saya dapat kabar Muhammad bermaksud pindah rumah. Selama ini ia tinggal bersama dengan seorang temannya. Ia berencana untuk tinggal di mesjid selama beberapa waktu. Saya dan ayah mengajaknya untuk tinggal di rumah kami saja. Ia setuju.


Satu ketika salah seorang teman saya –seorang pendeta- mengalami serangan jantung. Kami membawanya ke rumah sakit terdekat dan tinggal beberapa saat disana. Saya pun musti menjenguknya beberapa kali dalam seminggu. Muhammad sering saya ajak serta. Rupanya teman saya itu tidak begitu suka. Bahkan ia dengan nyata menolak berdiskusi apapun tentang Islam. Hingga satu hari datang pasien baru. Seorang pria yang kemudian tinggal satu kamar di rumah sakit dengan teman saya. Ia menggunakan kursi roda. Saya berkenalan dengan pria itu. Sekilas tampaknya pria itu seperti sedang depresi berat.


Pria di kursi roda mencari Tuhan

Akhirnya saya tahu pria itu kesepian dan depresi berat serta butuh teman dalam hidupnya. Jadilah saya mencoba mengingatkan dia tentang Tuhan. Saya kisahkan tentang Nabi Yunus yang hidup dalam perut ikan. Sendirian dalam gelap namun masih ada Tuhan bersamanya.

Selepas mendengar kisah itu, pria berkursi roda itu mendongakkan kepalanya seraya meminta maaf. Ia menceritakan bahwa ada sedikit masalah yang melandanya. Selanjutnya ia ia ingin mengakuinya kesalahannya itu di hadapan saya. Saya berujar bahwa saya bukan seorang pendeta. Pria itu justru menjawab; “Sebenarnya saya seorang pendeta.” Apa? Saya barusan menceramahi seorang pendeta ? Saya benar-benar syok kala itu. Kenapa jadi begini? Apa yang terjadi dengan dunia ini sebenarnya?


Rupanya pendeta itu –namanya Peter Jacobs- adalah mantan misionaris yang telah berkeliling Amerika Latin dan Meksiko selama 12 tahun. Kini ia malah depresi dan butuh istirahat. Saya menawarkannya untuk tinggal di rumah kami. Dalam perjalanan ke rumah, saya berdiskusi dengan Peter tentang Islam. Saya sungguh terkejut kala diceritakan bahwa para pendeta Katolik juga belajar tentang Islam dan bahkan sebagiannya ada yang doktor di bidang itu. Ini hal baru bagi saya tentunya.


Sejak itu, Muhammad, Peter dan saya sering terlibat diskusi hingga larut malam. Satu ketika masuk ke masalah kitab-kitab suci. Saya takjub kala Muhammad menceritakan bahwa dari pertama diturunkan hingga saat ini atau selama 1400 tahun Al-Quran hanya ada satu versi. Al-Quran dihafal oleh jutaan muslim di seluruh dunia dengan satu bahasa yaitu Arab. Sungguh mustahil. Bagaimana mungkin kitab suci kami bisa berubah-ubah dengan berbagai versi sementara Al-Quran tetap terpelihara?


Sang pendeta masuk Islam!

Satu hari pendeta Peter Jacobs ingin melihat apa yang dilakukan orang Islam di Mesjid. Ia pun ikut Muhammad. Sepulang dari sana saya bertanya pada Peter ada kegiatan apa di sana. Peter menyebut tidak ada acara apa-apa di mesjid. Mereka (orang Islam) cuma datang dan shalat saja. Tidak ada acara seremoni apapun. Apa? tidak ada ceramah atau nyanyian apapun?


Beberapa hari kemudian Peter minta ikut lagi ke mesjid. Namun kali ini lain. Mereka tidak pulang-pulang hingga larut malam. Saya khawatir sesuatu terjadi terhadap mereka. Akhirnya Muhammad kembali dengan seorang pria berjubah. Saya sungguh terkejut dengan laki-laki yang datang bersama Muhammad itu. Ia mengenakan jubah dan topi putih. Ah rupanya si Peter. Ada apa dengan kamu tanya saya. Jawaban Peter bak petir di siang bolong. Ia menyebut sudah bersyahadah. Oh Tuhan! Apa yang terjadi? Pendeta masuk Islam?


Saya benar-benar syok dan semalaman tidak bisa tidur memikirkan hal itu. Saya ceritakan kejadian tersebut kepada istri. Istri saya justru menyatakan ia juga ingin masuk Islam, karena itulah yang benar. Oh Tuhan! Saya benar-benar tidak percaya.


Saya turun ke bawah dan membangunkan Muhammad seraya minta waktu diskusi dengannya. Sepanjang malam hingga subuh kami bertukar pendapat. Muhammad minta izin shalat Subuh. Ketika itu saya mendapat firasat, kebenaran telah datang. Saya harus membuat pilihan. Lalu saya keluar rumah. Persis di belakang rumah, saya memungut sepotong papan. Lalu saya meletakkan papan itu menghadap ke arah orang Islam shalat. Saya pun bersujud menghadap kiblat dan meminta petunjuk-Nya.


Sekeluarga masuk Islam

Pagi itu, pukul 11, saya bersyahadah di hadapan dua orang, mantan pendeta Peter Jacobs dan Muhammad Abd. Rahman. Alhamdulillah, di usia ke-47 saya jadi seorang muslim. Beberapa menit kemudian istri saya juga ikut bersyahadah. Ayah baru memeluk Islam beberapa bulan kemudian. Sejak itu saya dan ayah sering ke mesjid terdekat di kota kami. Ayah mertua saya akhirnya juga mengikuti kami. Di usianya yang ke-86 ia memeluk Islam. Mertua saya meninggal persis beberapa bulan selepas bersyahadah. Semoga Allah ampuni dia. Amiin.

Adapun anak-anak saya pindahkan dari sekolah Kristen ke sekolah Islam. Setelah sepuluh tahun bersyahadah, mereka telah mampu menghafal beberapa juz Al-Quran.


Sejak itu saya habiskan waktu hanya untuk Islam. Saya berdakwah ke mana-mana, hingga ke luar Amerika. Banyak sudah yang memeluk Islam. Baik dari kalangan birokrat, guru, dan pelajar dari berbagai agama. Dari Hindu, Katolik, Protestan, Yahudi, Rusia Orthodok, hingga atheis. Saat ini saya juga mengelola sebuah website yakni Islamalways.com yang punya motto terkenal, " where we're always open 24 hours a day and always plenty of free parking." (kami buka 24 jam sehari dan banyak tempat parkir gratis). Islam telah mengubah cara saya melihat kehidupan ini dengan lebih bermakna. Semoga Allah pelihara hidayah yang sudah ada pada kita dan sebarkan hidayah itu ke seluruh alam. Amin. (zulkarnain jalil/islamtomorrow)


Chatting di Internet, Seorang Remaja Yahudi Masuk Islam

PENGANTAR. Musa Caplan nama lengkapnya. Baru berusia 16 tahun. Sebelum memeluk Islam, Musa beragama Yahudi. Keluarganya bukanlah dari kalangan Yahudi tradisional (orthodok). Namun ia justru belajar agama dari penganut tradisional.

Aku belajar agama dari kelompok Yahudi Orthodok di sinagog (rumah ibadah kaum Yahudi-red). Demikian pula pendidikan formal juga di sekolah orthodok,” tutur Musa. Tinggal di komunitas Yahudi Orthodok di Amerika Serikat, ia seakan ”putus” kontak dengan dunia luar. Otomatis kala itu Musa tidak punya teman non-Yahudi sama sekali. Melalui bantuan internetlah ia mendapatkan banyak teman, terutama dari kalangan Islam. Dari diskusi online, ia justru mulai ragu dengan agamanya dan akhirnya bersyahadah via internet. Berikut kisahnya seperti dituturkan di di situs readingislam.com.


Kenal Islam lewat internet

Belakangan, sejak kenal internet, aku jadi suka chating. Dari situlah bisa kenalan dengan berbagai macam kalangan, suku dan agama,” imbuhnya. Bahkan, e-mail Musa secara perlahan mulai terisi oleh teman-temannya yang beragama Islam. Sejak saat itulah ia mulai tertarik dan antusias mempelajari Islam.


Aku menaruh perhatian sangat spesial dengan Islam. Kami saling bertukar info tentang Tuhan, nabi, moral, dan nilai-nilai agama. Perlahan aku jadi tahu banyak tentang Islam. Ternyata Islam adalah agama yang penuh damai. Begitupun aku belum bisa menghilangkan imej buruk tentang Islam. Misal ketika kudengar ada serangan teroris, sama seperti yang lainnya, aku menuding Islam itu ekstrem,” aku Musa. Beruntungnya ia punya kenalan online beragama Islam. “Dialah yang telah membuka pintu Islam kepadaku,” sebut Musa lagi.


Alhasil ia justru jadi banyak bertanya pada dirinya sendiri. Apakah agama Islam mengajarkan hal itu (membunuh orang tak berdosa)? Katanya Nabi Muhammad adalah seorang pejuang besar dan tidak pernah membunuh orang tak berdosa.


Dari diskusi itu aku yakin Islam juga mengajarkan respek, damai, dan toleransi. Tidak pernah disebutkan untuk membunuh orang selain Islam. Dalam Quran ada satu pelajaran yang sangat berharga dan dalam maknanya:”Membunuh seseorang, sama dengan merusak seluruh dunia.” Musa menyitir sebuah ayat Al-Quran.

Oleh karena itu Kami tetapkan (suatu hukum) bagi Bani Israil, bahwa barangsiapa membunuh seseorang, bukan karena orang itu membunuh orang lain, atau bukan karena berbuat kerusakan di bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh semua manusia. Barangsiapa memelihara kehidupan seorang manusia, maka seakan-akan dia telah memelihara kehidupan semua manusia. (Al-Ma'idah:32)



Setelah yakin Islam bukan agama perang, Musa memutuskan untuk mempelajari Islam lebih mendalam. Ia justru menemukan keragu-raguan dalam agamanya sendiri.

Entah mengapa pandanganku sangat cocok dengan pandangan Islam. Aku bahkan menduga Kitab Perjanjian Lama, misalnya, telah banyak diubah. Diubah semata-mata untuk kepentingan materi.”

Hal menarik lainnya yang membawaku makin condong ke Islam adalah kebenaran ilmiah (scientific truth) yang ada dalam AlQuran. Kandungan ilmiah AlQuran luar biasa. Misal Quran menceritakan bagaimana kejadian manusia yang berawal dari sperma manusia. Asal mula kehidupan manusia sebagaimana diceritakan dalam AlQuran itu jauh sebelum ilmu pengetahuan ditemukan,” tukas Musa mantap.

AlQuran juga menyatakan bagaimana gunung-gunung dibentuk dan berbicara tentang lapisan atmosfir. Ini semuanya hanya beberapa dari begitu banyaknya penemuan-penemuan ilmiah yang telah ada dalam AlQuran 1400-an tahun yang lalu. Jauh sebelum penemuan-penemuan ilmu pengetahuan saat ini. Inilah salah satu kunci atau faktor yang menghantarku menemukan kebenaran dalam kehidupan,” lanjutnya bersemangat.

Musa menambahkan ada banyak website (situs) yang sangat bias dalam mengartikan ayat-ayat tertentu. Misalnya ayat-ayat tentang “perang”. Dikatakannya, kebanyakan situs-situs itu mengambil frase “perang”tersebut untuk membuat opini bahwa Islam agama suka perang.

“Padahal tidak demikian. Dalam bahasa Arab, kata Islam berasal dari salama yang bermakna “damai atau selamat”. Aku sangat yakin Islam agama damai.”



Tidak berani tinggalkan shalat

Menilik usianya yang masih sangat muda dan tinggal di lingkungan kaum Yahudi, Musa menghadapi banyak tantangan. Terutama dari keluarganya.

Sungguh sangat sulit bagi mereka jika tahu aku telah berganti keyakinan. Jujur saja, keluarga dan sanak famili semua sayang padaku. Apa reaksi mereka kala mengetahui anak laki-laki kesayangannya telah masuk Islam? Karena itu, sementara waktu aku tak bisa leluasa memperlihatkan kehidupan Islam secara sempurna dalam kehidupan harian. Namun aku bersyukur kepada Allah, diberikan kekuatan hingga tetap bisa menunaikan shalat lima waktu dengan lancar. Khusus shalat saya berjuang untuk tidak meninggalkannya,” tutur Musa.

Menariknya, tatacara amal ibadah dalam Islam, semisal shalat dipelajarinya melalui chating dengan rekan muslim dan juga browsing di internet. “Paling kurang aku bisa tetap memelihara keyakinan pada Allah. Beberapa hal lain, secara fisik, lumayan sulit mengekspresikannya di khalayak ramai.”

Musa belum berani memberitahukan kepada kedua orangtuanya bahwa sudah memeluk Islam. Karena itu pula ia belum berani keluar rumah guna mendatangi mesjid untuk shalat. Seperti disebutkan di atas, tempat tinggalnya adalah kawasan Yahudi Orthodoks dan mesjid yang ada letaknya pun sangat jauh dengan rumahnya.

Karena usia yang masih sangat belia, Musa terkadang sulit mengendalikan emosinya. Misal kala berdebat sesuatu tentang Muslim, katakanlah tentang Timur Tengah, hatinya jadi mudah meletup.

Saat diskusi seluruh anggota keluarga sudah pasti mendukung Israel. Mereka tidak tahu bagaimana kenyataan yang sebenarnya. Seperti bangsa Palestina, saya pikir seharusnya mereka memperlakukan rakyat disana secara baik. Ketika keluargaku bicara tentang situasi di sana, terutama saat mereka menyebut-nyebut “Tanah suci bangsa Yahudi” atau “Tanah Impian”, entah kenapa hatiku menolaknya dan bahkan ada rasa marah. Saya jadi gampang tersinggung,” aku Musa panjang lebar.

Sulitnya bersyahadah di khalayak ramai

Aku belum mendapatkan kesempatan untuk mengucapkan syahadah dengan disaksikan khalayak ramai. Meskipun begitu aku telah bersyahadah di hadapan yang Maha Menyaksikan, yakni Allah SWT. Nanti ketika umurku sudah cukup dan dianggap dewasa untuk bepergian sendirian, maka aku berniat untuk melangkah ke mesjid, insya Allah. Hal terpenting saat ini adalah meningkatkan kualitas diri (iman),” ujarnya.

Diam-diam Musa bahkan mulai berdakwah dengan mengajak rekan-rekan sepermainannya untuk meninggalkan minum-minuman keras, nonton film porno, menjauhi obat-obatan terlarang dan juga menghilangkan kebiasaan mencuri. Namun, tentu saja hal itu tidaklah mudah. Musa mencoba semampu yang ia bisa.

Semuanya demi dan untuk Allah. Aku berharap sepanjang waktu yang ada bisa mengerjakan apa yang Allah maui dari hamba-Nya.”

Musa, uniknya, tidak mau disebut telah menemukan Islam atau masuk Islam ataupun telah mendapatkan cahaya terang selepas berada dalam kegelapan. Akan tetapi ia ingin dikatakan telah kembali kepada Islam. Semoga Allah menuntunnya kepada jalan yang benar sebagaimana Allah telah tuntun kita semua. Amiin.

Dianggap sudah mati

Peristiwa masuk Islamnya kalangan Yahudi memang sering bikin heboh. Kebanyakan komunitas dan terlebih keluarga si muallaf tidak bisa menerima hal itu. Seperti peristiwa kaburnya seorang gadis Yahudi baru-baru ini di Yaman. Terakhir diketahui sang gadis telah memeluk Islam. Kabarnya di sana peristiwa seperti itu telah puluhan kali terjadi. Untuk kasus seperti itu, maka pihak keluarga si muallaf Yahudi melakukan upacara kematian dan menganggap salah satu anggota keluarganya telah mati, karena keluar dari agama Yahudi.

Maryam Jamilah, penulis buku Islam terkenal dan seorang muallaf Yahudi Amerika yang masuk Islam tahun 1961, pernah mengalami masa-masa sulit selepas berganti keyakinan. Diceritakan kala itu ia dianggap sudah tidak ada lagi oleh anggota keluarganya.

Keluarga saya menyusun opini bahwa saya sudah keluar (dari Yahudi). Saya diperingatkan, dengan memeluk Islam kehidupan saya akan sulit. Karena Islam bukan bagian dari Amerika. Dikatakan mereka, dengan ber-Islam maka saya akan diasingkan dari keluarga dan masyarakat,” kisah wanita yang punya nama asli Margaret Marcus itu sebagaimana disitir Islamreligion.

Jujur saja, pada masa itu saya belum begitu kuat menghadapi serangan dan tekanan seperti itu. Hingga jatuh sakit. Bahkan saya berencana berhenti dari kuliah. Selama dua tahun saya berada dalam perawatan medis khusus,” lanjutnya. Maryam bersentuhan dengan Islam kala baru berumur sepuluh tahun. Satu ketika ia pernah berujar begini.

“Delapan tahun di sekolah dasar, lalu empat tahun di sekolah menengah dan satu tahun di akademi. Saya belajar bahasa Inggris, Perancis, Spanyol, Latin dan Yunani, Aritmatika, Geometri, Aljabar, Biologi, Sejarah Eropa dan Amerika, Musik dan Seni, akan tetapi saya tidak pernah mengenal siapa Tuhan saya!” Begitulah. (zulkarnain jalil).