Saturday, January 17, 2009

Demo anti Israel marak di Jerman

Israel makin menampakkan kebiadabannya di Palestina. Teriakan masyarakat dunia dianggap bak angin lalu saja. Begitupun, warga di berbagai belahan dunia tetap tak surut untuk terus memberikan dukungan morilnya. Umat Islam di Jerman pun tak ketinggalan dalam mengusung gerakan anti Israel. Demo marak di berbagai kota beberapa hari belakangan ini. Seperti di Berlin, Frankfurt, Duesseldorf, Karlsruhe dan kota-kota lainnya.

Berlin

Untuk ketigakalinya dalam sepekan, Sabtu kemarin (3/1) ribuan orang berkumpul di Berlin melakukan demonstrasi atas kebiadaban serangan Israel ke Palestina. Menurut keterangan pihak kepolisian, seperti dikutip harian online Berliner Moergenpost, sedikitnya 7500 pendemo memenuhi alun-alun Marx Engels Forum yang berdekatan dengan gedung Balai Kota Berlin. Sehari sebelumnya, Jumat(2/1) demo juga berlangsung di tempat yang sama dan diikuti oleh 2500 pendemo.

.

Demo yang berjalan tertib itu dimulai sekitar pukul 15.30 waktu setempat dan berlangsung hingga sore hari. Dari gedung balai kota para demosntran selanjutnya melakukan pawai melewati kawasan bersejarah Unter den Linden hingga Potsdamer Platz. Penyelenggara kegiatan adalah Kesatuan Masyarakat Palestina di Berlin diikuti berbagai organisasi Arab lainnya

Duesseldorf

Sementara itu di kota Duesseldorf sedikitnya ada 4000 warga disana yang turut serta melakukan demo anti Israel. Di antara para demosntran yang didominasi warga Palestina banyak pula terlihat pendemo dari berbagai Negara lainnya. Mereka bersatu untuk solidaritas Palestina. Ada sekitar 700 warga asli Palestina yang bermukim di Duesseldorf.

Para demonstran meneriakkan yel-yel yang mendesak Israel untuk segera menghentikan serangan brutalnya ke Gaza. Dari berbagai spanduk yang dibawa umumnya mereka sangat geram dengan banyaknya korban sipil tak berdosa yang sebagian besar adalah anak-anak. Pendemo menyebut Israel sebagai pembunuh anak-anak.

“Para pendemo sangat tertib. Tak ada tindak anarkis kendati jumlah mereka ribuan,” sebut Dieter Höhbusch, salah seorang kepala polisi disana. Begitupun sekitar 500 personel polisi disiagakan di berbagai sudut jalan. Tak hanya di jalan raya, polisi juga mengamati dari udara dengan helikopter.

Frankfurt

Halnya di Frankfurt, demo juga berlangsung Sabtu kemarin. Di kota bandara internasional itu, menurut catatan polisi, sedikitnya ada 10000 orang berkumpul di depan gedung balai kota Roemer menentang aksi Israel di Gaza.DruckenVersendenSpeichernVorherige Seitelinkfurloneviewyiggwebnewsfacebookwongdeliciousdigg Seorang demonstran tampak sangat emosional dengan melakukan aksi membakar bendera Israel.

Sultan Haidar, seorang mahasiswa asal Indonesia, yang melaporkan via milis Forum Lingkar Pena (FLP) Jerman, menyebut meskipun cuaca mencapai minus 5 derajat celcius, Sabtu siang itu pelataran stasiun kereta Frankfurt am Main HBF telah diwarnai oleh atribut bendera dan plakat untuk Palestina. Segerombolan massa besar yang hadir dari berbagai kota di negara bagian Hessen ini, menyedot banyak perhatian dan simpati warga Jerman yang sedang berakhir pekan.

Ditenggarai oleh Islamische Religionsgemeinscha ft negara bagian Hessen (IRH), aksi peduli yang diantisipasi hanya menyedot 1000 peserta ini melonjak drastis menjadi 10.000 peserta, dan tercatat sebagai salah satu aksi unjuk rasa terbesar di Jerman menyusul agresi brutal Israel ke jalur Gaza pada Sabtu (27/12/2008) .

Tidak hanya terbatas pada komunitas-komunitas islam di negara bagian Hessen. Aksi solidaritas ini juga diikuti oleh kalangan non-muslim dan beberapa golongan, yang masing-masing mengatas-namakan kelompok anti-fasismus, kelompok anti-rasialis dan kelompok anti-imperialis. Secara serempak mereka mengutuk keras perilaku brutal agresor Israel hingga memakan korban lebih dari 450 warga palestina, yang sebagian besar di antaranya warga sipil, tidak terkecuali anak-anak dan wanita.

Selain beratribut bendera-bendera Palestina, sebagian besar peserta serempak mengenakan keffiyeh hitam-putih di lehernya, yang merupakan ikat leher atau kepala ciri khas Palestina semenjak tahun 1930. Selain berfungsi sebagai penutup leher dari dinginnya cuaca, dalam
dua tahun belakangan keffiyeh menjadi trend di kalangan pelajar, mahasiswa dan masyarakat Jerman. Di samping alasan mode, sebagian besar mendedikasikan keffiyeh mereka sebagai simbol dukungan atas perjuangan rakyat Palestina.

Secara umum, kata Sultan Haidar, ada lima tuntutan besar yang diajukan pada aksi Sabtu siang itu; mendesak Israel secepatnya menghentikan agresinya; melepaskan blokade dan melepaskan intimidasi sepihak atas jalur Gaza; pemenuhan pasokan bahan-bahan makanan, air bersih, bahan bakar dan obat-obatan untuk jalur Gaza; secepatnya menghentikan proyek perluasan pemukiman di Westbank; dan bebaskan tahanan-tahanan politik.

Pada orasi penutupan yang mengambil tempat di depan kantor pemerintahan Frankfurt di Römer, masing-masing komunitas menampilkan seorang perwakilannya yang disahut dengan gemuruh takbir dan yel-yel "stop agresi biadab di Gaza!", "tidak untuk kekerasan!" sambil bersahutan mempertanyakan, "di manakah solidaritas internasional? "

Meskipun sempat melumpuhkan beberapa transportasi umum dan menutup beberapa jalan utama di Frankfurt, pihak kepolisian mengakui aksi ini berjalan dengan sangat tertib. Dalam catatannya, hanya ada seorang demonstran bermasalah yang bermaksud membakar bendera Israel, namun
berhasil dicegah oleh demonstran lainnya.

Di Karlsruhe juga tak kalah seru. 1000-an pendemo yang dikomandani warga Palestina dan Libanon meneriakkan yel-yel anti Israel.

Menlu Jerman Walter Steinmeier mengungkapkan perlunya segera dilakukan aksi yang disebutnya sebagai “Jeda Kemanusiaan”. Steinmeier juga mendesak jalur Gaza segera dibuka agar bantuan makanan dan obat-obatan dapat segera disalurkan. Andrea Nahles, politisi partai terbesar di Jerman SPD, menyebut penyelesaian secara politis untuk Palestina dan bukannya militeris.

Sementara itu di Paris demo berlangsung sedikit panas. Ratusan pendemo melakukan tindak anarkisme. Mereka melempari kursi-kursi yang ada di kafe-kafe ke arah para polisi yang berjaga-jaga. Polisi membalasnya dengan semprotan gas airmata. (Zulkarnain Jalil)

Polisi Amerika Bersyahadah di hadapan polisi Arab

Linda Delgado adalah seorang muallaf yang tinggal di Arizona, AS. Dia seorang polisi. Linda merupakan sarjana lulusan University of Phoenix dan berdinas di kantor kepolisian setempat di Arizona. Satu ketika dia mendapat tugas menjadi tutor untuk polisi Arab. Polisi Arab itu tinggal di rumah anaknya. Dari sikap dan akhlak polisi Arab itulah dia terkesan dengan Islam. Akhirnya di hadapan kedua polisi dari jazirah Arab itu dia bersyahadah. Kini Linda yang memiliki 3 anak dan 8 cucu telah pensiun sebagai polisi. Dia aktif berdakwah melalui internet dengan membuat website konsultasi Islam. Dia juga kini aktif sebagai penulis dan menjabat sebagai Direktur Islamic Writers Alliance (www.islamicwritersalliance.net), dia juga penulis di Islamic Rose Books (www.widad-lld.com). Berikut kisah keislaman Linda Delgado sebagaimana dituturkannya di situs islamselect.com.

==================================

Selama masa pencarian kebenaran saya telah mempelajari banyak agama dan kepercayaan. Saya belajar dua kali dalam sepekan tentang Katolik. Namun tak juga tenang. Saya masih belum bisa menerima agama ini. Lalu pindah lagi ke ajaran Yehovah dan masih belum bisa menerima ajaran yang menurut saya tidak rasional. Kemudian pindah lagi ke agama Yahudi. Tak puas juga lalu masuk ke Protestan. Tapi saya masih belum menemukan jawaban yang saya cari.

Di usia saya yang ke-52 saya belum mendapatkan titik terang. Saya juga kala itu belum bersentuhan dengan agama Islam. Saya, seperti banyak orang-orang barat lainnya yang mendengar Islam melalui media, bahwa Islam itu agama fanatik, teroris, dan banyak hal negatif lainnya lagi. Saya tidak pernah mencari secara serius informasi tentang Islam ini. Hingga kedatangan dua polisi muda dari Arab membuat hidup saya berubah.

Terkesan dengan polisi Arab

Sekitar empat tahun yang lalu, saya pensiun dari kepolisian. Saya telah mengabdi sebagai polisi selama 24 tahun lamanya. Suami saya juga berhenti dari kepolisian. Sekitar setahun sebelum pensiun, saya masih aktif berdinas sebagai sersan polisi. Polisi di seluruh dunia pasti tahu prinsip yang dikenal dengan brother-sisterhood atau ikatan persaudaraan antar sesama polisi. Kami senantiasa saling membantu satu sama lain. Tak peduli dari kesatuan mana dan dari negara mana.

Nah pada tahun itu saya mendapat tawaran kerjasama dari kepolisian Arab Saudi untuk membantu sebuah grup polisi disana yang akan berangkat ke Amerika. Polisi Arab itu ke AS dalam rangka belajar bahasa Inggris yang dipusatkan di sebuah universitas. Tak hanya itu mereka juga diprogramkan untuk mengunjungi mabes kepolisian di kota tempat saya tinggal. Polisi-polisi Arab tersebut kala itu ditempatkan di rumah-rumah penduduk dengan maksud memperlancar bahasa Inggris mereka sembari tukar menukar budaya.

Saya punya seorang cucu perempuan dari anak lelaki saya. Anak saya itu telah lama jadi single parent sejak pisah dengan istrinya. Jadilah dia yang membesarkan sang anak satu-satunya itu. Rumahnya dekat dengan kami. Saya bermaksud untuk menerima salah satu polisi Arab dan tinggal di rumah anak saya. Suami saya sangat setuju dengan rencana ini. Tentu ini satu peluang juga buat cucu saya untuk mengenal orang dari negeri lain dengan budaya yang berbeda. Sekilas saya dapat informasi bahwa polisi Arab yang mau tinggal di rumah anak saya adalah seorang pemuda muslim. Rasa ingin tahu saya pun makin bertambah.

Tak berapa lama, polisi muda itu pun tiba. Namanya Abdul dan bahasa Inggrisnya sangat pas-pasan sekali. Kami segera akrab dan sungguh saya suka dengan sifat Abdul. Dia sangat respek dan tingkah lakunya sopan.

Ada satu polisi lagi, Fahd namanya. Dia ini lebih muda dari Abdul dan orangnya pemalu. Saya menjadi tutor bagi mereka berdua. Kami sering diskusi banyak hal terutama tentang kerja sebagai polisi. Diskusi kami melebar hingga ke masalah Islam.

Saya amati mereka sangat kompak dimana mereka saling membantu satu sama lain. Oya mereka seluruhnya berjumlah 16 orang. Selama setahun sejak kedatangan dua orang polisi Arab ini, saya mendapat banyak hal, terutama kultur Arab. Yang bikin saya salut pada Abdul dan Fahd, mereka berdua sama sekali tidak serta merta terbawa budaya Amerika. Mereka tidak terpengaruh sama sekali dengan budaya Amerika yang serba bebas.

Mereka ke mesjid tiap hari Jumat. Bahkan mereka tetap ke mesjid sekalipun dilanda kelelahan. Bukan main. Menariknya lagi, mereka sangat berhati-hati dengan makanan. Mereka juga mengajarkan saya bagaimana cara memasak masakan Arab yang halal. Untuk itu mereka mengajak saya ke toko dan juga restoran Arab guna diperlihatkan makanan halal. Dan, cucu saya pun tampaknya terkesan dengan kedua pemuda ini. Mereka sering memberi hadiah dan mengisahkan cucu saya dengan cerita-cerita jenaka.

Kedua pemuda Arab itu juga sangat akrab dan respek dengan suami saya. Saban hari, sebelum ke kampus, mereka selalu bertanya apakah kami butuh bantuan untuk belanja ke pasar. Saya mulai tertarik untuk mengetahui ajaran Islam dan mencari tahu bagaimana budaya Islam melalui internet.

Ingin baca Alquran

Satu hari saya tanya apa mereka punya Alquran berlebih. Saya kepingin membacanya. Seperti apa isi Alquran itu, gumam saya. Mereka mengontak kedubes Arab Saudi di Washington DC. Saya akhirnya bisa mendapatkan Alquran dengan terjemahan Inggris, lalu kaset dan beberapa literatur Islam. Atas permintaan saya, mereka menjelaskan apa itu Islam. Mereka sudah mampu menjelaskan dalam bahasa Inggris dan ini memang fokus utama mereka yakni memperlancar bahasa Inggris. Kedua polisi ini menyebut bahwa sayalah non muslim pertama yang mereka ajari Islam.

Persis setahun mereka pun selesai belajar bahasa Inggris. Saya puas bisa menjadi tutor bagi kedua polisi Arab itu. Mereka pun bersiap untuk kembali ke Arab Saudi. Jujur saja kami merasa kehilangan.

Bersyahadah di hadapan polisi Arab

Kira-kira seminggu sebelum “murid” saya itu kembali ke negerinya, saya merencanakan untuk sebuah acara makan malam. Saya memasak masakan khas Arab. Lalu saya juga membeli baju muslim yakni abaya dan jilbab. Saya ingin saat mereka kembali ke kampung halaman masih ingat saya (dengan berpakaian muslimah) sebagai seorang saudara dalam Islam.

Mereka sungguh terkejut, karena sebelum acara makan malam dimulai saya mengucapkan dua kalimah syahadah di hadapan mereka berdua. Kedua anak muda itu spontan menangis. Mereka larut dalam keharuan. Suasana jadi begitu emosional saat itu. Itulah malam yang sangat spesial bagi saya dalam hidup ini. Saya sangat yakin Allah telah mengirim dua pemuda ini untuk menjawab doa-doa yang saya panjatkan selama bertahun-tahun. Saya yakin Dia memilih saya untuk melihat kebenaran dalam Islam. Terima kasih ya Allah atas karunia dan kasih sayang-Mu.

Kedua murid saya telah kembali ke kampung halamannya. Terus terang saya rindu akan kehadiran mereka lagi. Selepas masuk Islam, saya mulai aktif belajar Islam di mesjid setempat. Saya diterima dengan hangat di komunitas muslim yang ada di kota Arizona, tempat saya tinggal. Saya berpikir semua muslim seperti kedua pemuda Arab itu. Akhlak mulia lagi taat menjalankan perintah agama.

Belum ada dukungan keluarga

Keluarga saya masih sangat syok dengan keputusan saya masuk Islam. Mereka mengira saya bakal tak betah berlama-lama dalam nuansa Islam. Lalu mulai bosan, dan pindah ke agama lain. Begitu seterusnya. Saya dulu memang punya tabiat seperti itu. Suka pindah-pindah agama. Karena tidak puas dengan apa yang saya cari.

Dugaan keluarga saya ternyata meleset. Saya masih bertahan dan bahkan mempraktekkan semua amalan Islam dalam hidup keseharian. Adapun suami saya, dia orangnya penurut. Jadi kala saya ajak makan makanan halal dan kita musti tinggalkan makanan haram, dia oke oke saja. Tak menolak atau membantah.

Perubahan lainnya, saya segera menyingkirkan foto atau gambar-gambar makhluk bernyawa yang ada di dalam rumah. Satu hari, suami saya pulang dari kerja, pas saya lagi memindahkan foto keluarga yang dulunya terpampang manis di dinding rumah kami. Dia heran melihat tingkah saya. Namun tak memberi komentar apapun. Dia diam saja.

Selanjutnya saya menulis sepucuk surat untuk anggota keluarga lainnya tentang keislaman saya. Saya terangkan pada mereka tentang hal-hal mendasar tentang Islam. Namun mereka masih tetap dengan pendiriannya. Tak bergeming. Namun saya terus melanjutkan aktifitas keislaman tanpa terpengaruh dengan sikap keluarga. Saya makin sering dan serius mengikuti kelompok pengajian muslimah yang diadakan via internet. Internet sangat membantu saya dalam mempelajari Islam secara kaffah.

Tak hanya itu, saya juga ikut dalam kajian rutin yang diadakan di mesjid setempat. Bahkan jika kegiatan itu bertubrukan dengan jam kerja di kantor polisi, saya tetap berusaha untuk bisa hadir. Saya ingin konsentrasi penuh dengan agama saya yang baru ini.

Begitupun saya kadangkala masih sering melakukan kesalahan-kesalahan kecil seumpama bicara keras di ruangan shalat hingga mengganggu jamaah lain. Lalu, adakalanya saya lupa, masih makan dengan tangan kiri. Masih pakai pewarna kuku (kutek). Berwudhu tidak tertib dan tidak sempurna. Pokoknya masih banyak yang musti saya perbaiki. Teman-teman tampaknya sangat memaklumi keadaan ini

Paket berisi baju muslim

Oya satu hari saya dapat kiriman sebuah paket via pos. Pengirimnya adalah seorang muslimah yang saya kenal lewat internet. Isinya bukan main. Rupanya dia mengirim seperangkat busana muslimah dari jilbab hingga kaus kaki. Bukan main gembiranya saya waktu itu. Muslimah tersebut ternyata tinggal di Kuwait. Ada juga muslimah lain yang tinggal di Arab mengirimkan saya perangkat shalat sajadah hasil jahitannya sendiri. Saya sungguh terharu sekali dengan persaudaraan dalam Islam. Saya bahagia menjadi seorang muslim. Terima kasih atas hadiah yang sangat berharga ini ya Allah.

Empat tahun berlalu. Banyak sekali perubahan drastis dalam diri saya. Yang membuat saya bahagia, keluarga besar saya kini sudah mau menerima keislaman saya

Pernah saya musti menjalani operasi berat karena serangan jantung. Waktu itu saya merasa sedih sebab pasti tidak bisa menyentuh sajadah lagi (untuk shalat). Namun saya sungguh terkejut. Ternyata Islam sangat toleran. Saya masih bisa shalat kendati sambil tidur dan bisa bertayamum pula. Dan dibolehkan tidak berpuasa untuk orang yang sakit. Bukan main agama Islam ini, pikir saya. Saya yakin akan makin banyak pengalaman rohani lainnya yang bakal saya peroleh di kemudian hari yang tentunya makin menguatkan keimanan saya. Semoga Allah pelihara hidayah yang sangat mahal ini. Amiin. (Zulkarnain Jalil).

Pemuda Perancis Dapat Hidayah di Inggris

“Aku tidak tahu darimana harus memulai kisah ini. Kenapa saya masuk Islam?,” ujar Abdul seperti disitir dari 2muslims.com. Begitulah, setelah pindah dari Perancis ke Inggris, untuk keperluan studi lanjut, dia menemukan Islam di negeri Ratu Elizabeth itu. Di sana dia mengaku teratrik Islam karena akhlak teman-temannya asal mayoritas berasal dari Malaysia dan Indonesia. Disana pula dia mendapatkan teman hidupnya, seorang muslimah asal Brunei Darussalam. Lulus kuliah, kedua memutuskan menetap di Brunei dan kini hidup bahagia di sana dengan dua putrid yang mungil. Berikut kisah lengkapnya.
====================================================

“Namaku Abdul Hakim. Aku dilahirkan 24 tahun yang lalu di tengah teriknya sinar matahari di Spanyol. Ibuku asli Perancis, dan ayah asal Spanyol,” kata Abdul memulai kisahnya.

Abdul tinggal di Spanyol hanya dua tahun. Lalu pindah ke Perancis ikut kedua orangtuanya. Lepas sekolah menengah atas, di usia 18 tahun, Abdul pindah ke Inggris untuk melanjutkan studi di Jurusan Teknik Kimia, Universitas Sheffield.

“Pertama sekali aku ingin tekankan bahwa hingga usiaku 18 tahun, aku tidak suka sama sekali dengan Islam. Kala itu aku baru memasuki tahun pertama kuliah di Inggris,” tukas dia mengenang. Di usia 17 tahun, menurut pengakuannya, dia bahkan pernah bergabung dengan salah satu kelompok ekstrim untuk memerangi kelompok Islam. Dia menyebut dua alas an masuk grup tersebut,´kisahnya.

“Pertama karena keluarga dan juga teman-temanku dulunya semua pendukung nasionalis dan rasisme. Jadi aku ingin “membersihkan” lingkungan dari orang-orang yang tak kusukai. Kedua, pengalaman pribadi dimana aku pernah diserang secara pisik dua kali oleh warga asing asal Aljazair,” kata Abdul tentang masa lalunya.

“Sekarang Anda bisa bayangkan bagaimana pola pikir saya bisa berubah setelah kuliah di Inggris. Anda pasti bertanya-tanya apa dan bagaimana aku bisa menemukan Islam di Inggris,´ kata dia lagi.

Kala studi di Inggris Abdul mengaku menjalin hubungan persahabtan dengan sejumlah siswa asal Asia. Kebanyakan anak-anak dari Malaysia dan Indonesia. Saat itu dia tidak tahu sama sekali teman-teman saya itu semuanya beragama Islam. Sebab sebelumnya dia selalu mengidentikkan Islam dengan Arab.

“Teman-teman muslim yang aku kenal itu semuanya mempraktekkan Islam dalam kehidupan harian mereka. Nah secara perlahan aku menemukan sesuatu yang lain dari Islam. Ini muncul murni dari hatiku, tanpa ada tekanan atau paksaan dari mereka untuk masuk Islam. Melihat perangai dan perilaku mereka pikiranku tentang Islam mulai berubah. Islam ternyata berbeda sama sekali dari yang pernah kudengar dan kubayangkan di masa lampau. Islam ternyata sangat toleran. Islam berarti kejujuran, keterbukaan, kasih saying dan rasa damai. Yang bikin aku makin terkesan, ternyata orang-orang Islam punya kepedulian terhadap muslim lainnya,” tukas dia panjang lebar.


Apa yang telah diamati Abdul benar-benar membuat dia syok. Saban hari dia semakin termotivasi untuk “mengintip” kelakuan mahasiswa muslim di kampusnya. “Mereka bahkan tidak tahu aku sedang menjalankan misi seperti “spionase terhadap mereka.” Aku benar-benar ingin tahu tentang Islam. Makin hari makin membuncah saja. Kebencian kini justru berganti dengan keingintahuan. Sebab perangai dan tingkah laku mereka berbanding terbalik dengan prasangka dia akan Islam sebelumnya. Perilaku ternyata lebih hebat daripada sejumlah kata-kata.

”Aku belajar dari mereka tentang perilaku yang benar sebagai seorang muslim. Hal ini jauh dari apa yang pernah kulihat selama di Perancis,” lanjut dia. Kurang dari setahun, Abdul telah belajar banyak hal. Alhasil, dia berani mengambil kesimpulan bahwa Islam itu ternyata amat mengagumkan. “Islam luar biasa!” aku Abdul.

“Pada tahap ini, tanpa sepengetahuan seorangpun, aku mulai mempelajari Islam secara serius. Aku segera mencari mushaf Alquran sebagai tahap awal mempelajari Islam. Aku mencarinya ke mesjid. Namun, untuk mendekat ke mesjid kala itu aku tak punya keberanian sama sekali. Aku takut ketahuan teman-temanku yang muslim. Entahlah aku sedikit tertekan kala itu. Tak tahu apa yang musti kulakukan,” aku Abdul.

Begitulah, yang namanya hidayah Allah ada saja jalan yang tak diduga-duga oleh hamba-Nya. Seperti kasus Abdul ini, “tanda-tanda” dari Allah mulai terlihat. “Satu hari aku sedang jalan menyusuri kota dan berharap bisa memperoleh Alquran. Entah bagaimana aku melewati satu kawasan dimana disana sedang ada pameran Islam,” kisahnya.

Abdul pun tak menyia-nyiakan peluang yang sudah di depan mata. Dia yakin disitu tak ada seorang pun yang kenal dengannya. Awalnya dia agak ragu-ragu namun karena rasa ingin tahu yang sudah membuncah dia pun memberanikan diri meminta sepotong mushaf Alquran beserta terjemahannya.

Selepas mendapatkan Alquran yang sekian lama dicari-carinya diapun bersegera pulang ke rumah dan langsung mempelajarinya. “Sedikit demi sedikit aku bisa tahu apa itu Islam. Aku ingin Islam hadir karena usahaku sendiri dan bukan karena paksaan atau tekanan orang lain. Aku juga suka tidak suka adu argumentasi atau berdebat. Aku hanya ingin menemukan jawaban apa itu Islam. Aku benar-benar ingin tahu,” tegas dia.

Beberapa hari berselang, persis selepas aku memperoleh Alquran, bulan suci Ramadhan pun tiba. Muncul ide yang kuanggap “gila” kala itu. Aku mau coba berpuasa, kendati belum jadi muslim! Tak hanya itu selama bulan Ramadhan kuhabiskan waktu setiap hari dengan mempelajari Alquran,” tutur Abdul.

“Allah akhirnya membuka pintu hatiku. Satu ketika di tengah malam, persis di pertengahan Ramadhan, aku merasakan betapa indahnya Islam itu. Pengajarannya begitu mengagumkan dan penuh makna. Simpel tapi mendasar, dan yang terpenting rasional, mudah dipahami. Ini yang begitu membuatku terkesima, aku sama sekali tidak merasa takut untuk menjadi seorang muslim. Mungkin karena hal ini benar-benar dating dari hati nuraniku sendiri, bukan karena paksaan,” tegas Abdul lagi

Begitulah, akhirnya pada 30 Maret 1997, Abdul mengikrarkan syahadahnya. Prosesi singkat itu berlangsung di kamarnya. Sendirian tanpa ada yang menjadi saksi. “Kala itu, aku ingin shalat tapi belum tahu lagi bagaimana caranya. Gerakan-gerakannya aku tahu, tapi apa yang harus dibaca itu yang aku masih belum tahu lagi. Namun shalat tetap kulakukan sebisa mungkin lima kali sehari, aku dia. Tak berapa lama berselang Abdul pun melakukan prosesi syahadah secara formal di mesjid, di depan para saksi. Dan, saat ini aku dengan bangga sudah dapat menunjuk diri sebagai seorang muslim. Allahu Akbar!, pekiknya gembira.

”Aku berharap banyak orang bisa menjadi kisahku ini sebagai bahan pelajaran. Baik itu untuk yang muslim maupun bukan. Oya jika ada yang mau Tanya-tanya atau silaturrahmi silahkan kirim lewat email saja. Insya Allah aku akan balas,” harap dia..

Abdul mengaku menaruh rasa kagum akan Inggris yang modern, dinamis, nyaman, dan semuanya serba teratur dan terorganisir dengan rapi. “Aku tinggal di kota Sheffield untuk studi Teknik Kimia selama 4 tahun. Selepas studi aku berencana untuk mencari pengalaman kerja disini,” kata dia.

Menariknya, di tahun terakhir, Abdul bertemu dengan seorang wanita asal Brunei yang juga sedang studi di sana. Di kemudian perempuan melayu itu pun menjadi pendamping hidupnya. “Muslimah asal Brunei itu kunikahi persis disaat aku menyelesaikan studiku. Tepatnya. Tanggal 20 Juni 1997. Setahun kemudian rumah kami makin semarak dengan kehadiran buah hati kami seorang anak perempuan mungil dan lucu, imbuhnya gembira.

Setelah itu mereka memutuskan pindah ke Brunei. Mereka telah berniat untuk tinggal menetap di negeri yang juga salah satu negeri muslim kaya di dunia. “Kami ingin agar putri semata wayang kami bisa besar dan tumbuh di dalam lingkungan Islami,” kilah Abdul memberi alasan kepindahannya. Dan, Maret 2000 kebahagiaan makin lengkap dengan kelahiran putri kedua mereka.

“Saat ini, baik aku dan istriku, belum ada pekerjaan yang tetap lagi. Namun aku sangat yakin dengan khazanah Allah. Jika menghendaki sesuatu terjadi, maka dengan mudah hal itu segera terjadi. Sebaliknya jika Allah tidak menginginkan sesuatu terjadi, maka juga tidak akan terjadi. Aku akan terus berusaha sembari berdoa. Semua kuserahkan kepada-Nya untuk memutuskan..Hanya kepada Allah kita meletakkan segala harapan dan mohon pertolongan. Aku meyakini bahwa tiada Tuhan selain Allah dan Nabi Muhammad utusan Allah,” pungkas Abdul mantap dan penuh keyakinan. (Zulkarnain Jalil).