Monday, November 20, 2006

Diizinkan, Jawaban Ujian Nasional ala SMS

Short Message Service (SMS) adalah layanan pesan singkat via telepon genggam yang biasa dipakai untuk mengirim pesan-pesan pendek. Banyak kalimat ataupun kata yang dipakai kala mengirim SMS mengalami penyingkatan. Seperti “txt“ untuk singkatan text, “CU“ untuk see you, atau “4 U” untuk for you, dan banyak lainnya. Akan tetapi memakai teks singkat ala SMS untuk menjawab soal ujian di sekolah tentu bukanlah hal yang lazim. Namun, di Selandia Baru para pelajar sekolah kini diizinkan untuk menggunakan jawaban singkat itu dalam ujian akhir nasional.

Seperti dikutip harian Jerman Netzeitung (14/11) dari CNNOnline, saat sekarang ini otoritas sekolah di Selandia Baru telah menyetujui penggunaan singkatan-singkatan ala SMS pada ujian nasional di negara Kiwi itu. Namun otoritas sekolah di sana menyarankan para pelajar untuk tidak memakai istilah yang tidak lazim. Akan tetapi khusus untuk pelajaran bahasa Inggris pemakaian teks singkat tersebut tentu saja dilarang. Demikian menurut salah seorang juru bicara otoritas sekolah di negara yang bertetangga dengan Australia itu kepada CNNOnline.

Tak pelak keputusan ini mengundang pro dan kontra. Beberapa pengamat pendidikan menilai keputusan kontroversial tersebut akan menyebabkan merosotnya kredibilitas bahasa Inggris di masyarakat, bahasa utama di Selandia Baru. Bahkan organisasi guru setempat mengkhawatirkan nantinya singkatan-singkatan “aneh” akan jadi bahasa tutur sehari-hari dalam masyarakat.

“Para guru khawatir pemakaian teks ala SMS ini nantinya akan jadi bahasa sehari-hari, yang tentunya akan merusak bahasa baku,“ tukas Debbie Te Whaiti, ketua Asosiasi Guru di Selandia Baru (PPTA) risau. Seorang pengamat lain menulis dalam blog-nya sembari berkelakar “U mst b joking“ (You must be joking).

(Zulkarnain Jalil)

Sunday, November 19, 2006

Dikira Bom, Ribuan Warga Paris Dievakuasi

Gedung pencakar langit Tour Montparnasse di pusat kota Paris, Senin (13/11) digegerkan oleh bunyi alarm tanda adanya bom. Kontan ribuan warga disekitar kawasan turis itu dilanda kepanikan. Sebagian besar pengunjung yang berada di dalam gedung itu pun segera dievakuasi. Namun setelah polisi spesialis bom menyisir kawasan di dekat Sungai Seine itu beberapa jam kemudian situasi dinyatakan aman, karena tidak terdeteksi adanya bom.

Sebagaimana disitir Netzeitung, seorang tak dikenal sekitar pukul 16.30 waktu setempat mengirim pesan ancaman bom melalui telepon. Selepas mendapat pesan itu polisi yang bertugas di gedung Montparnasse lalu membunyikan alarm pertanda adanya bom serta mengevakuasi warga. Pihak kepolisian sampai saat ini masih mencari biang penebar teror via telepon yang menggegerkan warga Paris itu. Demikian menurut penjelasan bagian penerangan kepolisian kota Paris.

Gedung Montparnasse yang memiliki ketinggian 209 meter serta 59 lantai itu merupakan bangunan tertinggi kedua di Paris setelah Eiffel. Lantai 59 dijadikan sebagai teras yang dipakai untuk menikmati indahnya pemandangan kota Paris dari atas. Dari ke 59 lantai tersebut, 52 lantai dijadikan pusat perkantoran dengan karyawan sebanyak 5000 orang. Menariknya, gedung tersebut dibangun persis di atas sebuah stasiun Metro (kereta api bawah tanah).
Sementara itu suasana di kantor kedutaan besar RI Paris berjalan normal karena letaknya yang berjauhan dari gedung itu. Ali Hasan, salah satu pegawai KBRI asal Aceh yang sempat dihubungi Kontributor Serambi menyebutkan tidak ada kepanikan di sana.

“Suasana normal-normal saja, kantor kita kan jauh dari lokasi itu,” ujar Ali yang telah bermukim di kota mode dunia itu selama hampir 20 tahun. Ali juga adalah saksi mata kejadian ledakan bom di KBRI Paris bulan Oktober 2004 silam yang merusakkan kaca-kaca gedung serta melukai tujuh orang.

Tampaknya warga Eropa kini jadi sangat sensitif dengan isu adanya bom, terutama selepas beberapa kali terjadi ledakan dan ancaman bom di beberapa kota. Misalnya peristiwa peledakan bom Madrid 11 Maret 2004, lalu ledakan bom hebat di stasiun kereta api bawah tanah di London Juli 2005, serta ditemukannya koper berisi bom rakitan di beberapa stasiun kereta api di Jerman bulan Agustus 2006 yang lalu. (Zulkarnain Jalil, Jerman)