Friday, April 10, 2009

Dr. H. Azwar Manaf, M.Met:

Hanya dengan pendidikan Aceh bangkit

PENGANTAR. Dr. Azwar Manaf, M.Met nama lengkapnya. Sehari-hari bekerja sebagai dosen dan peneliti di FMIPA Universitas Indonesia, Jakarta. Tak banyak yang tahu, dibalik penampilannya yang sederhana, pria Langsa dan murah senyum ini ternyata menyimpan potensi tinggi di dunia iptek, terutama dalam pengembangan sains dan teknologi material dan mineral alam. Catat saja, dalam rentang waktu 1990 hingga 2008, Azwar telah menulis sekitar 85 publikasi ilmiah internasional dan nasional. Semuanya tentang pengembangan material nanomagnet. Bahkan ada 12 publikasinya di jurnal ilmiah internasional yang dikutip dan diacu oleh banyak peneliti dunia lainnya. Yang fenomenal, tahun 1992 silam pria kelahiran 12 Januari 1957 itu meraih amugerah Brunton Medals dari University of Sheffield, Inggris sebagai peneliti muda terbaik. Penyuka mie Aceh ini juga meraih penghargaan serupa pada tahun 2001 yakni sebagai peneliti senior terbaik Universitas Indonesia atas dedikasinya dalam litbang material magnetik. Azwar, yang kini menjabat Direktur Research Center for Materials Science (RCMS) FMIPA-UI, meraih gelar master dan doktornya dari Department of Engineering Materials, University of Sheffield, Inggris. Tahun 1996 dia sempat menjadi ilmuwan tamu di National University of Singapore. Azwar sejak 2006 lalu ikut terlibat di The Minerals, Metals and Materials Society, sebuah kelompok riset metalurgi di AS. Pria yang menikahi gadis sekampungnya, yakni Dra Hj Siti Sarah, kini hidup bahagia di kawasan teduh Sawangan, Bogor ditemani 3 orang anaknya masing-masing Alfa Sheffildi Manaf (19), Beta Nadia Manaf (17) dan Gamma Rizkina Manaf (15). Pekan lalu, kepada Kontributor Kontras Zulkarnain Jalil, Azwar mengungkapkan banyak hal terutama tentang potensi dan pengembangan sumber daya alam Aceh. Berikut petikannya:

Sumber daya alam (SDA) Aceh sangat melimpah, namun hingga kini sebagian rakyatnya masih ada yang dibelit kemiskinan, komentar Anda?

Sebagai orang Aceh seharusnya kita bersyukur karena memiliki sumber daya alam (SDA) yang berlimpah. Dari atas tanahnya tumbuh banyak tanaman subur dan bernilai seperti kelapa, sawit, kopi, cengkeh, pala dan lain sebagainya. Demikian pula dengan hutannya yang lebat hingga jadi salah satu paru-paru dunia. Lalu dari dalam tanahnya terdapat mineral-mineral yang berharga seperti batu bara. emas, nikel, besi, terdapat minyak dan gas. Di dalam lautnya terdapat juga kekayaan yang berlimpah. Sementara penduduknya hanya mencapai 3-4 juta orang. Jadi, jika terdapat kesan rakyatnya masih ada yang dibelit kemiskinan, itu menunjukkan bahwa Aceh belum memanfaatkan potensi luar biasa yang dimilikinya. Banyak rakyat Aceh yang belum sempat berfikir dan bertindak bagaimana harus maju. Bagaimana harus meningkatkan taraf hidupnya, rakyat Aceh belum sempat berbuat banyak. Bisa jadi hal itu terjadi karena deraan konflik yang berkepanjangan.

Satu hal pokok lagi yakni akses pendidikan, terutama pendidikan dasar, sudah seharusnya dirasakan oleh seluruh rakyat Aceh. Syukurlah bila bisa sampai pada tahap sekolah menengah. Lalu, kualitas pendidikan pada pendidikan dasar dan menengah menjadi sangat-sangat menentukan dan penting untuk disadari karena kompetisi di luar daerah Aceh sendiri sudah demikian tinggi. Hanya dengan pendidikan Aceh bisa bangkit dan maju sejajar dengan bangsa-bangsa lain.

Langkah-langkah untuk pemanfaatan SDA ini, saran Anda?

Sebagai akademisi, terkait dengan SDA ini, saya melihat peran riset sangat menentukan efektivitas eksplorasi dan eksploitasi SDA. Tanpa riset, dikhawatirkan SDA akan dieksploitasi tanpa pemberian nilai tambah sebagaimana yang banyak terjadi selama ini. Lihat saja, bagaimana batu bara itu diambil dari sumbernya dan langsung dimasukkan ke dalam tongkang, kapal-kapal pengangkut dan kemudian meninggalkan tempat. Perhatikan juga, bagaimana pasir-pasir yang banyak mengandung mineral bernilai jual di sedot dari dasar laut dan langsung masuk kedalam vessel kapal. Lihat juga bagaimana gunung-gunung mengandung besi dipecah-pecah menjadi bongkahan-bongkahan dan langsung dibawa keluar negara. Tanah mengandung emas, tembaga, perak digali dan langsung diekspor. Padahal kita mampu mengolah bahan mentah ini.

Tentu saja, pengelolaan SDA yang semacam ini tidak diharapkan untuk ditiru. Oleh karena itu peran riset sangat menentukan terutama bagaimana untuk memperoleh nilai tambah yang optimal. Sebagai contoh, bila kita eksploitasi iron ore (biji besi), nilainya hanya US$ 60 per ton. Melalui proses pengkayaan, harganya menjadi $ 200. Bila selanjutnya diproses menjadi pig iron, harganya bisa mencapai $ 800 - $1100 per ton. Contoh lain adalah nickle ore, itu bernilai ~ US $100 per ton tetapi dalam bentuk logam Nikel bisa mencapai US $ 29.500,- per ton. Demikian juga ilmenite (FeTiO3) bernilai US $ 200 per ton, namun jika dimurnikan menjadi logam Ti nilai jualnya mencapai US $ 20.000,- per ton!

Dapat dilihat added value yang bisa diperoleh. Walaupun teknologi pemrosesan bahan tambang itu telah tersedia dan hanya diperlukan investasi saja, akan tetapi knowledge, atitude dan skill untuk pengelolaan SDA tersebut sangat penting dipunyai. Ini hendaknya perlu disadari bersama.

Seperti telah Anda sebutkan tadi bahwa potensi SDA Aceh belum dikelola secara optimal, apakah ini karena kendala sumber daya manusia?

SDA dan SDM terkait sangat erat. Diperlukan tenaga ahli yang berkompeten dalam pengelolaan SDA, bila kita ingin memperoleh nilai tambah (added value) yang optimal sehingga dapat dinikmati dan memberi kesejahteraan bagi rakyatnya.

Untuk kegiatan eksplorasi tambang misalnya, diperlukan kompetensi bidang mineral sehingga dapat menjalani tahapan-tahapan eksplorasi yang tepat. Diperlukan atitude yang proporsional dalam memutuskan langkah investasi dan eksploitasi, melakukan kajian kelayakan yang cermat. Semua ini memerlukan tenaga yang kompeten.

Sepengetahuan saya, di Aceh bukan tidak ada SDM yang kompeten. Banyak, tetapi rasanya masih tetap kurang, Bila kita perhatikan pemberitaan harian Serambi beberapa waktu yang lalu, disebutkan bahwa ”pemerintah Aceh cari tenaga ahli untuk pembangunan infrastruktur” dan disebutkan pula ”tenaga ahli yang ada masih sangat kurang”. Hal ini menunjukkan masih banyak pembenahan masalah SDM yang perlu terus dilakukan, tidak saja melalui pendidikan formal dari jenjang dasar sampai dengan tinggi tetapi juga melalui pendidikan non-formal seperti pelatihan-pelatihan berbagai kompetensi.

Terkait peningkatan mutu SDM ini, perguruan tinggi di Aceh bisa dikatakan belum ada yang memiliki jurusan spesifik dan khas semisal Mineral dan Pertambangan, komentar Anda?

Sudah selayaknya perguruan tinggi yang ada di Aceh memiliki fakultas atau program studi yang mendalami masalah pertambangan dan termasuk didalamnya know how tentang technological processing berbagai jenis mineral tambang. Perlu juga diingat bahwa masalah pengelolaan SDA misalnya hasil tambang tidak harus dimonopoli oleh lulusan dengan kompetensi tambang. Jadi, kalaupun saat ini di Aceh belum memiliki kompetensi tersebut maka segera sarankan kepada otoritas untuk memulai merintis membuka fakultas atau program studi tersebut.

Saya sangat percaya, sebuah program studi yang didukung oleh kekayaan alamnya akan cepat mencapai keunggulan dan memiliki daya saing. Janganlah kita berfikir yang terlalu tinggi misalnya bidang teknologi nanoscience -yang menjadi tren riset dan main issue masa kini. Tetapi selalulah berfikir bahwa keunikan yang terdapat di sekitar kita akan mampu membawa kita menempati salah satu posisi penting di masa depan.

Keunikan seperti apa?

Saya mengamati ilmu kelautan, geofisika eksplorasi, geothermal, tambang, mineral serta terkait sumber daya alam lainnya adalah salah satu keunikan yang dimiliki oleh Aceh dan dengan demikian berpotensi untuk dikembangkan bila ingin berada pada jajaran depan, minimal di negara ini. Sekali lagi, lihatlah keunikan apa yang kita miliki. Karena saya punya keyakinan bahwa untuk berada pada jajaran depan kita harus memiliki keunikan. Jadi, bukan sekedar ikut-ikutan tren. Istilah orang kita, bek meuron-ron.

Keterlibatan Anda dalam pengembangan SDM Aceh?

Saya sendiri berupaya membangun SDM Aceh dari sisi lain. Sebagai dosen tetap di UI, saya kerap membimbing dosen-dosen Unsyiah yang mengambil pendidikan tinggi S2 dan S3 di bidang Materials Science pada program pascasarjana UI. Sekali waktu saya pernah berpesan kepada salah seorang anak bimbingan saya, seorang dosen FMIPA Unsyiah, bukalah program pendidikan dan penelitian terkait dengan sumber daya alam. Saya sudah sejak lama menjalin kontak kerjasama dengan FMIPA Unsyiah. Begitu.

Berkaitan dengan situasi damai saat ini, terutama pasca MoU Helsinki, amatan Anda?

Begini, sebelum MoU tersebut terus terang ketika saya kembali ke Langsa menjenguk ibu dan mertua saya, saya merasakan sebagai orang asing saja. Dicurigai, terus diperiksa setiap langkah. Tentu hal ini dialami oleh setiap orang. Dengan perkataan lain betapa tertekannya perasaan orang yang hidup di tanah Aceh ini pada masa itu. Alhamdulillah, pasca MoU saya merasakan situasi yang sungguh jauh berbeda. Dua tahun yang lalu saya berziarah ke kuburan bapak saya di Taman Makam Pahlawan Banda Aceh. Berangkat dengan mobil dari Langsa dan sekitar pukul 23.00 malam saya berada dalam pendakian gunung Seulawah. Tidak ada perasaan yang mendebarkan saya rasakan. Justru saya menikmati udaranya yang segar, banyak pengendara motor (kereta) lalu lalang dari dan menuju Banda Aceh. Suatu perjalanan yang sangat menyenangkan. Itulah yang saya amati, kini Aceh jauh lebih aman. Bila situasi aman semacam ini bisa terus dijaga dan ditingkatkan kualitasnya dari waktu ke waktu, tidak saja hal di atas yang bisa dirasakan tetapi lebih jauh lagi, ketertinggalan seperti pada pendidikan, investasi/ekonomi, pembangunan infrastruktur, sosial budaya, kesejahteraan dan sebagainya bisa dipercepat agar dapat sejajar dengan daerah-daerah maju lain di negara ini.

Artinya dibutuhkan rasa aman yang abadi bagi kemajuan Aceh?

Menurut saya base linenya adalah keamanan, ketenangan dan kepastian hukum. Bila keamanan dapat dipertahankan dan ditingkatkan kualitasnya maka akan diperoleh ketenangan. Ketenangan dalam bekerja, ketenangan dalam memikirkan masa depan, ketenangan dalam perencanaan Aceh ke depan. Ketenangan itu bisa menjadi stimulan untuk kreasi dan inovasi. Hal ini perlu untuk derap langkah ke depan.

Mungkin ada pesan khusus untuk masyarakat Aceh?

Saya tidak punya pesan khusus, mengingat saya masih datang dan pergi dari daerah Aceh ini. Namun ada amatan khusus dari saya, dari dulu saya melihat budaya kerja di Aceh ini tidak banyak berubah. Banyak diantaranya bekerja secara kurang efektif atau kurang maksimal. Kurang inisiatif. Akibatnya tidak muncul inovasi. Hal ini mungkin bisa disebabkan kurang terdapatnya program-program kerja yang terencana baik dan memiliki ukuran-ukuran pencapaian. Aceh haruslah memiliki program-program yang progressive dari waktu ke waktu. Kalaupun saya harus berpesan kepada masyarakat Aceh maka dukunglah secara sungguh-sungguh program-program progressive pemerintah NAD termasuk dengan bekerja lebih efektif dan progressive. Saya juga berharap makin banyak putra-putri dari Aceh ini untuk tidak segan menimba ilmu dan pengalaman dari luar wilayah Aceh sendiri, bila mungkin hingga ke luar negeri.

DR. Rini Safitri, M.Si:

Tak perlu lagi berobat keluar Aceh

PENGANTAR. Polemik seputar belum berfungsinya peralatan medis canggih nan mahal di RSUZA (Serambi Indonesia, 4/4/09) cukup mengagetkan banyak pihak. Tak ayal beragam komentar “miring” bernada emosional pun bermunculan merespon berita tersebut. Sayangnya, sisi teknis dan ilmiah peralatan itu sendiri justru tak terangkat secara detail. Guna mengungkap sisi lain itu, Kontras berhasil menemui DR Rini Safitri, M.Si yang memiliki kompetensi tinggi di bidang Proteksi Radiasi dan Instrumentasi Medis. Patut dicatat, dosen dan peneliti di FMIPA Unsyiah itu saat ini merupakan satu-satunya doktor (S3) perempuan di Aceh yang menekuni bidang Medical Physics (Fisika Kesehatan). Jebolan School of Physics, USM Penang, Malaysia itu, dalam menyusun disertasi S3, bahkan sempat melakukan penelitian intensif di Rumah Sakit Pantai Mutiara Penang dengan memanfaatkan alat Radiotheraphy dan Linear Accelerator yang ada di sana. Perempuan kelahiran Banda Aceh 25 April 1970 itu juga pernah mengikuti kursus tentang Radiation Protection and the Safety of Radiation Sources yang diadakan oleh Badan Tenaga Nuklir Dunia (IAEA). Istri dari DR. M. Syukri Oesman (Wakil Dekan IV, FMIPA Unsyiah) itu Rabu kemarin (8/4) mengungkapkan beragam pandangannya kepada Kontributor Kontras, Zulkarnain Jalil. Berikut petikannya:

Berawal dari kunjungan tim anti korupsi gubernur ke RSUZA pekan lalu, didapati beberapa peralatan medis bernilai puluhan milyar rupiah belum difungsikan. Komentar Anda?

Menurut saya tidak ada yang perlu diperdebatkan. Kedua keterangan, mengutip Serambi Indonesia, yang diberikan oleh dr Indrita Iqbalawati SpR dan Sdr. Toni, staf ruangan radiologi, sangat berkaitan dan sesuai dengan prosedur dan standar yang berlaku. Dr. Rita sendiri telah berusaha untuk mencegah pemasangan alat itu. Namun, mengingat alatnya telah dipesan dan sudah sampai, serta harus segera diserahterimakan, maka dengan berat hati alat tersebut untuk sementara waktu diletakkan di RSUZA lama. Sedangkan penjelasan sdr. Toni, alat tersebut belum dapat dipakai sebab belum ada teknisi yang benar-benar terlatih yang bisa mengoperasikannya. Dari kedua pernyataan tersebut menunjukan bahwa mereka sangat paham dengan apa yang harus diperlakukan pada peralatan medis terbaru itu. Informasi dari dr. Rita, alat baru ini dapat mendiagnostik seluruh tubuh pasien. Alat sejenis itu biasanya memiliki energi sekitar 120-300 kV atau bahkan bisa juga lebih tinggi lagi.

Bisa lebih jelas lagi?

Dengan energi sebesar itu maka dapat dikategorikan sebagai radiasi dengan energi yang cukup tinggi. Misalnya ketika kita akan menempatkan mesin sinar X pada suatu ruangan. Ada aturan-aturan yang harus diperhatikan. Kita harus tahu apa fungsi dari sinar X yang akan kita tempatkan, untuk keperluan diagnostik atau untuk radioterapi. Lalu, disain bangunannya disesuaikan dengan energi maksimal yang akan dihasilkan alat dimaksud. Juga, semua sisi yang bersebelahan dari ruang mesin itu harus diperhitungkan. Berdasarkan kajian itu baru kita bisa mendesain tebal dinding dan jenis material yang akan diperlukan sebagai perisai untuk menghindari radiasi yang keluar dari alat tersebut.

Jika ruangan lama telah memenuhi standar, artinya alat tersebut sebenarnya sudah bisa dioperasikan?

Jika ruangan lama telah memenuhi standar proteksi radiasi, maka ada kemungkinan alat tersebut boleh dioperasikan. Ataupun paling tidak perlu ditempatkan tambahan pelindung berbahan Pb (timah hitam-red) dengan ketebalan tertentu sehingga radiasi scatter (terhambur) dari paparan alat tidak menganggu orang di sekitarnya.

Jika ruangan terdahulu pun tidak memenuhi standar proteksi radiasi?

Nah ada kemungkinan mesin sinar X yang lama dikhawatirkan juga telah menghasilkan hamburan yang mungkin telah mempengaruhi lingkungan sekitar. Tapi saya yakin proteksinya pasti sudah ada sejak awal didesain. Begitupun, sebagai bagian dari masyarakat yang prihatin dengan perkembangan teknologi kedokteran di NAD, saya sangat mendukung keberadaan berbagai alat kedokteran yang canggih itu. Karena tentu saja akan meningkatkan akurasi data hasil diagnosa dokter yang secara tidak langsung akan meningkatkan pelayanan kesehatan pada masyarakat. Patut pula diperhatikan bahwa berbagai alat yang canggih itu harus didukung oleh tenaga yang punya kapabilitas tinggi dan trampil mengendalikan alat tersebut. Jadi jangan sampai alat yang telah kita beli dengan harga mahal malah tidak memberikan manfaat bagi warga.

Soal keselamatan radiasi, adakah standar baku?

Begini. Alat-alat kedokteran seperti sinar X untuk radiodiagnostik, radiasi yang dihasilkan dari mesin sinar X itu memiliki kemampuan untuk mengionisasi materi yang dilaluinya yakni tubuh manusia. Dengan kemampuan tersebut tidak tertutup kemungkinan akan timbul efek sampingan pada tubuh sebagai objek yang akan diradiasi. Upaya keselamatan radiasi sangat perlu diperhatikan agar terhindar dari efek-efek yang merugikan tersebut. Sebab itu ada dosis yang diperkenankan untuk seluruh tubuh bagi pekerja radiasi di Indonesia. Merujuk rekomendasi Dirjen Badan Tenaga Nuklir Nasional tentang Ketentuan Keselamatan Kerja Terhadap Radiasi, adalah sebesar 50 mSv/ tahun. Sedangkan dosis maksimum yang diperkenankan untuk seluruh tubuh bagi masyarakat umum adalah 5 mSv/ tahun.

Bedanya dengan radioterapi?

Perlu dipahami bahwa radiodiagnostik adalah radiasi yang dimanfaatkan untuk mendapatkan image (citra) dari bagian tubuh yang diradiasikan. Disini fungsi utamanya adalah untuk mendiagnosa kelainan yang ada pada tubuh pasien. Sedangkan radioterapi adalah suatu jenis perawatan penyakit kanker atau tumor yang menggunakan energi tertentu. Tujuan dari pada terapi radiasi ini adalah untuk membunuh sel kanker dan tumor dengan sangat seksama, akurat dan tepat pada sasaran. Caranya dengan merusak jaringan tumbuhnya, dengan tidak merusak jaringan sekitarnya. Begitupun, ketika radiasi tersebut dijalankan tidak mustahil jaringan sehat yang berada disekitar jaringan tumor ataupun kanker tersebut ikut terusakkan. Namun jaringan yang sehat itu nantinya akan mengalami pemulihan kembali. Terapi radiasi disini semaksimal mungkin membunuh sel kanker dan meminimalisir rusaknya sel-sel disekitarnya. Begitu.

Lalu kontribusi ahli fisika medis?

Begini ya, untuk memperoleh hasil yang sesuai dengan yang kita harapkan perlu selalu dilakukan pengecekan secara berkala menggunakan ionization chamber yang dilakukan pada saat expose (pemaparan) berlangsung ataupun pengecekan yang dilakukan secara berkala sebelum dilakukan expose. Hal ini diperuntukkan agar pasien akan mendapatkan dosis yang bersesuaian dengan yang direncanakan. Dan ini perlu ada kontribusi orang fisika medis

Pengecekan berkala seperti apa yang Anda maksud?

Maksudnya kalibrasi alat. Ini sangat perlu dilakukan secara berkala. Setiap alat radiasi yang baru dibeli sebaiknya dilengkapi dengan seperangkat alat yang berfungsi untuk menguji kesempurnaan radiasi yang terpancar dari alat. Kemampuan untuk menguji kesempurnaan radiasi itu sebaiknya dikuasai oleh tim teknis khusus yang ada di RS. Hal itu dilakukan untuk menghindari hasil image diagnosis yang salah sehingga bisa saja dengan hasil yang salah tersebut, menyebabkan dokter juga akan melakukan kesalahan dalam menginterprestasikan kondisi pasien. Apalagi untuk alat radiotherapi sangat diperlukan perencanaan perawatan (treatment planning) yang matang dimana pada perawatan ini diperlukan tim khusus antara dokter oncologyst dan ahli fisika medis yang bisa melakukan perencanaan penyinaran dengan sebaik-baiknya. Hal itu dilakukan agar tujuan dari perawatan, misal penyakit kanker, dapat tercapai.

Jadi alat radiodiagnostik ataupun radiotherapi yang digunakan dengan perencanaan dan dosis yang tepat akan sangat bermanfaat bagi masyarakat.

Ke depan tak perlu berobat keluar Aceh?

Kita patut mendukung kerja keras pemerintah Aceh dalam meningkatkan pelayanan kesehatan bagi masyarakat. Dalam kerangka itu, keberadaaan alat radiodiagnostik dan radioterapi yang canggih sangat dibutuhkan. Sehingga jika ada pasien yang menderita penyakit tertentu dapat dilakukan perawatan di Aceh tanpa harus ke daerah lain atau bahkan ke negara lain. Kita bisa seperti Penang kok. Namun harus diingat, jika alatnya canggih tapi tak diiringi dengan pelayanan profesional maka sama saja bohong.

Harus ada yang memberi contoh tampaknya ya..

Iya betul. Ke depan para pejabat publik di Aceh harus bisa jadi patron. Misal, Pak Gubernur selaku public figure bisa memberi contoh. Tak perlu lagi berobat keluar Aceh. He he..

Oya, Anda kabarnya juga berkecimpung dengan nuklir. Bukankah itu jadi momok saat ini?

Teknologi nuklir memang selalu jadi momok menakutkan. Begitu opini hari ini. Padahal nuklir itu bukan sesuatu yang membahayakan, jika kita telah mengikuti aturan proteksi yang berlaku. Produk nuklir saat ini, selain untuk energi, telah pula dapat dimanfaatkan untuk berbagai keperluan seperti di bidang pertanian, peternakan, kedokteran, dan aneka industri lainnya. Karena yang dimanfaatkan dari hasil teknologi ini adalah energi radiasi yang dihasilkan dari bahan radioaktif yang merupakan produk dari reaktor nuklir. Khususnya energi , listrik tenaga nuklir tidak menghasilkan karbondioksida sebagai hasil pembakarannya. Jadi tidak mencemari lingkungan.

Bagaimana jika ada kebocoran?

Harus diakui masih ada pro dan kontra dalam pengembangan energi nuklir, terutama terkait dengan kebocoran radiasinya. Tapi itu dulu. Kini dengan teknologi yang sangat canggih, kebocoran tersebut dapat diminimalisir. Jadi tidak perlu ditakuti. Wong Amerika dan Eropa saja sebagian besar energinya dari nuklir kok.

Iran sendiri saat ini cukup maju teknologi nuklirnya. Tapi itu untuk keperluan pembangkit listrik. Bukan untuk senjata, seperti yang digembar-gemborkan Amerika dan sekutu-sekutunya.

Potensi nuklir di Aceh?

Saat ini, saya kira, yang sangat baik direalisasikan untuk Aceh adalah aplikasi atau pemanfaatan dari radiasi nuklir untuk keperluan masyarakat. Misalnya, penggunaan irradiator nuklir untuk pengawetan sayur-sayuran dan buah-buahan agar dapat bertahan lebih lama. Sehingga produk hasil pertanian kita dapat diekspor ketempat yang lebih jauh. Saat ini kami sedang mengkaji upaya pemanfaatan radiasi Co-60 dan Cs-37 untuk pengawetan hasil pertanian. Ada juga pemanfaatan teknologi radiasi untuk industri sterilisasi (makanan, minuman, dan lainnya). Saya kira ini akan membuka peluang kerja baru. Yang pasti apapun bentuk pemanfaatan dari radiasi nuklir ini kesemuanya harus memerhatikan upaya keselamatan radiasi standar.

Katlin Hommik Terkesan Puasa Ramadhan

PENGANTAR. Katlin Hommik nama gadis asal Estonia ini. Usia tiga tahun dia sudah banyak bertanya tentang Tuhan dan hidup setelah mati. Ketika Estonia masih dalam genggaman Sovyet, agama adalah hal tabu untuk dibicarakan. Begitupun, selepas Estonia merdeka Katlin mencoba belajar ajaran Kristen di sekolahnya. Tapi dia dikeluarkan karena dianggap terlalu banyak bertanya tentang keberadaan Tuhan. Akhirnya dia memutuskan keluar dari Kristen dan mencari agama lain. Begitulah, bertahun-tahun mempelajari berbagai ajaran diapun menemukan Islam. Menariknya, dia memeluk Islam selepas sebulan penuh ikut berpuasa. Dia mengaku puasa Ramadhan telah membimbingnya masuk Islam. Berikut penuturan Katlin seperti dikutip Islamreligion.com edisi 7 April 2008 silam.

---------------------------------------------------------------------------------------------------

Saat masih berumur tiga tahun, aku pernah bertanya pada ayah: ”Apa yang nanti aku lakukan setelah mati, Ayah?” Kala itu ayah sangat terkejut mendengar pertanyaan dari anaknya yang masih berusia tiga tahun. Dia terlihat bingung harus memberi jawaban apa. Itulah awal pencarianku akan keberadaan Tuhan.

Di Estonia, terutama ketika masih berada di bawah kekuasaan komunis Sovyet, agama adalah barang tabu dan tak seorang pun diijinkan untuk berbicara di depan umum masalah agama dan keyakinan. Waktu itu berlaku opini bahwa hanya orang gila saja yang percaya akan Tuhan. Bagaimana mungkin percaya pada sesuatu yang tidak bisa kita lihat? Astronot kami pergi ke angkasa luar dan mereka tidak melihat Tuhan duduk di atas awan. Karena itu Tuhan tidak ada! Begitulah opini yang berkembang saat itu.

Hidup dalam masyarakat serupa itu, tentu saja ayah tak mampu memberikan jawaban atas pertanyaan ”aneh” yang kuajukan itu. Dia hanya menjawab ringan: ”Anakku, ketika mati nanti kamu ya cuma tidur di dalam tanah...” Tak ada penjelasan lebih detil.

Selebih itu aku tidak pernah mendengar jawaban lain yang melawan pendapat ayahku. Sejak itulah aku berusaha mencari jawaban sendiri, meski baru berumur tiga tahun. Tapi, ternyata jalannya sangat panjang sekali. Perlu waktu bertahun-tahun. Aku selalu merasa Tuhan itu pasti ada kendati aku tidak mampu menyebut nama-Nya. Aku juga seakan merasa Dia selalu ”mengamati” tindak tandukku.

Saat mulai masuk sekolah dasar, pertanyaan-pertanyaanku makin membuat ayah pusing hingga aku dihantarkan kepada nenek. Nenekku sendiri lahir di masa Republik Estonia pertamakali dicetuskan. Jadi dia masih merasakan kehidupan gereja pada saat usianya masih muda.

Neneklah yang pertamakali mengenalkanku cara memanggil Tuhan. Dia mengajarkan cara berdoa ala Kristen dengan menyebut “kepada Bapa kami di surga”. Uniknya, dia melarangku agar tidak mengucapkannya di depan khalayak ramai. Nanti ayah bisa dapat masalah besar. Begitu pesan nenek kala itu. Sejak itulah aku berniat untuk terus belajar ajaran Kristen dari nenek secara diam-diam.

Begitulah. Waktu pun berjalan cepat. Tepat di usia 11 tahun , persis di hari kemerdekaan dari Sovyet, aku masuk sekolah Minggu. Tahu tidak, mereka justru menolak kehadiranku!

Mereka berdalih aku terlalu banyak tanya. Kata mereka, keimananku telah rusak. Aku merasa heran, padahal semua pertanyaanku itu tak ada yang salah. Pertanyaanku rasional. Bagaimana mungkin ada anak Tuhan yang pada saat yang sama sekaligus bertindak sebagai Tuhan. Hingga guruku pun bingung.

Memasuki usia 15 tahun, aku makin intensif belajar ajaran Kristen secara otodidak. Aku mencari sendiri melalui literatur yang ada. Waktu itu aku masih menganggap aku ini orang Kristen. Tapi entahlah, pada akhirnya aku tak mampu bertahan. Aku tidak bisa menerima hal-hal tak rasional dalam ajaran Kristen. Aku memutuskan untuk mencari “sesuatu” yang lain. Nah setelah mempelajari berbagai ajaran agama, akhirnya aku pun menemukan Islam.

Selepas mengenal Islam, aku butuh waktu hingga tiga tahun untuk ”mengenal” siapa aku ini sebenarnya. Aku selalu bertanya pada diri sendiri apa aku sudah benar-benar yakin jadi muslim. Apa aku sudah siap? Begitulah, akhirnya di usia yang ke-21 aku pun bersyahadah.

Aku memeluk Islam tepat beberapa hari selepas Ramadhan 2001. Ramadhan sangat menginspirasiku. Bulan puasa itu kurasakan begitu indah. Menjalankan ibadah puasa berarti sekaligus berempati kepada mereka yang tak berpunya. Jauh sebelum aku mengenal Islam, perasaan kasih antar sesama telah hadir dalam hatiku.

Aku sendiri masih bingung, kenapa aku bersyahadah setelah Ramadhan. Bukannya sebelum atau selama Ramadhan. Yang kuingat, aku berpuasa sebulan penuh. Aku berharap hal itu bisa menghapus segala “kotoran” dalam diriku dan masuk Islam dalam keadaan suci bersih. Begitu pemahamanku waktu itu.

Karena itu, tiap kita puasa jangan hanya memikirkan kapan datangnya waktu berbuka. Kapan waktunya bisa makan dan minum lagi. Kapan bisa merasakan enaknya masakan sang istri di rumah, dan lain-lainnya. Tapi seharusnya kita juga memikirkan nasib orang lain yang menderita, bukan hanya karena kekurangan makanan, tapi juga karena menderita ”batin” akibat belum mendapatkan petunjuk-Nya. Itulah esensi puasa.

Sebagai seorang muslim, kita harusnya benar-benar bersyukur sebab diberi waktu untuk berpuasa sekali dalam setahun. Harus kita yakini hal itu sebagai upaya untuk memperbaiki diri kita secara personal, jasmani dan rohani serta yang maha penting lagi untuk berbagi kasih sayang dengan sesama. Terutama kepada mereka-mereka yang sedang dalam perjalanan mencari kebenaran Islam, semoga mereka cepat mendapatkan hidayah Allah. Amiin. (Zulkarnain Jalil).