Dr. H. Azwar Manaf, M.Met:
Hanya dengan pendidikan Aceh bangkit
PENGANTAR. Dr. Azwar Manaf, M.Met nama lengkapnya. Sehari-hari bekerja sebagai dosen dan peneliti di FMIPA Universitas Indonesia, Jakarta. Tak banyak yang tahu, dibalik penampilannya yang sederhana, pria Langsa dan murah senyum ini ternyata menyimpan potensi tinggi di dunia iptek, terutama dalam pengembangan sains dan teknologi material dan mineral alam. Catat saja, dalam rentang waktu 1990 hingga 2008, Azwar telah menulis sekitar 85 publikasi ilmiah internasional dan nasional. Semuanya tentang pengembangan material nanomagnet. Bahkan ada 12 publikasinya di jurnal ilmiah internasional yang dikutip dan diacu oleh banyak peneliti dunia lainnya. Yang fenomenal, tahun 1992 silam pria kelahiran 12 Januari 1957 itu meraih amugerah Brunton Medals dari University of Sheffield, Inggris sebagai peneliti muda terbaik. Penyuka mie Aceh ini juga meraih penghargaan serupa pada tahun 2001 yakni sebagai peneliti senior terbaik Universitas Indonesia atas dedikasinya dalam litbang material magnetik. Azwar, yang kini menjabat Direktur Research Center for Materials Science (RCMS) FMIPA-UI, meraih gelar master dan doktornya dari Department of Engineering Materials, University of Sheffield, Inggris. Tahun 1996 dia sempat menjadi ilmuwan tamu di National University of Singapore. Azwar sejak 2006 lalu ikut terlibat di The Minerals, Metals and Materials Society, sebuah kelompok riset metalurgi di AS. Pria yang menikahi gadis sekampungnya, yakni Dra Hj Siti Sarah, kini hidup bahagia di kawasan teduh Sawangan, Bogor ditemani 3 orang anaknya masing-masing Alfa Sheffildi Manaf (19), Beta Nadia Manaf (17) dan Gamma Rizkina Manaf (15). Pekan lalu, kepada Kontributor Kontras Zulkarnain Jalil, Azwar mengungkapkan banyak hal terutama tentang potensi dan pengembangan sumber daya alam Aceh. Berikut petikannya:
Sumber daya alam (SDA) Aceh sangat melimpah, namun hingga kini sebagian rakyatnya masih ada yang dibelit kemiskinan, komentar Anda?
Sebagai orang Aceh seharusnya kita bersyukur karena memiliki sumber daya alam (SDA) yang berlimpah. Dari atas tanahnya tumbuh banyak tanaman subur dan bernilai seperti kelapa, sawit, kopi, cengkeh, pala dan lain sebagainya. Demikian pula dengan hutannya yang lebat hingga jadi salah satu paru-paru dunia. Lalu dari dalam tanahnya terdapat mineral-mineral yang berharga seperti batu bara. emas, nikel, besi, terdapat minyak dan gas. Di dalam lautnya terdapat juga kekayaan yang berlimpah. Sementara penduduknya hanya mencapai 3-4 juta orang. Jadi, jika terdapat kesan rakyatnya masih ada yang dibelit kemiskinan, itu menunjukkan bahwa Aceh belum memanfaatkan potensi luar biasa yang dimilikinya. Banyak rakyat Aceh yang belum sempat berfikir dan bertindak bagaimana harus maju. Bagaimana harus meningkatkan taraf hidupnya, rakyat Aceh belum sempat berbuat banyak. Bisa jadi hal itu terjadi karena deraan konflik yang berkepanjangan.
Satu hal pokok lagi yakni akses pendidikan, terutama pendidikan dasar, sudah seharusnya dirasakan oleh seluruh rakyat Aceh. Syukurlah bila bisa sampai pada tahap sekolah menengah. Lalu, kualitas pendidikan pada pendidikan dasar dan menengah menjadi sangat-sangat menentukan dan penting untuk disadari karena kompetisi di luar daerah Aceh sendiri sudah demikian tinggi. Hanya dengan pendidikan Aceh bisa bangkit dan maju sejajar dengan bangsa-bangsa lain.
Langkah-langkah untuk pemanfaatan SDA ini, saran Anda?
Sebagai akademisi, terkait dengan SDA ini, saya melihat peran riset sangat menentukan efektivitas eksplorasi dan eksploitasi SDA. Tanpa riset, dikhawatirkan SDA akan dieksploitasi tanpa pemberian nilai tambah sebagaimana yang banyak terjadi selama ini. Lihat saja, bagaimana batu bara itu diambil dari sumbernya dan langsung dimasukkan ke dalam tongkang, kapal-kapal pengangkut dan kemudian meninggalkan tempat. Perhatikan juga, bagaimana pasir-pasir yang banyak mengandung mineral bernilai jual di sedot dari dasar laut dan langsung masuk kedalam vessel kapal. Lihat juga bagaimana gunung-gunung mengandung besi dipecah-pecah menjadi bongkahan-bongkahan dan langsung dibawa keluar negara. Tanah mengandung emas, tembaga, perak digali dan langsung diekspor. Padahal kita mampu mengolah bahan mentah ini.
Tentu saja, pengelolaan SDA yang semacam ini tidak diharapkan untuk ditiru. Oleh karena itu peran riset sangat menentukan terutama bagaimana untuk memperoleh nilai tambah yang optimal. Sebagai contoh, bila kita eksploitasi iron ore (biji besi), nilainya hanya US$ 60 per ton. Melalui proses pengkayaan, harganya menjadi $ 200. Bila selanjutnya diproses menjadi pig iron, harganya bisa mencapai $ 800 - $1100 per ton. Contoh lain adalah nickle ore, itu bernilai ~ US $100 per ton tetapi dalam bentuk logam Nikel bisa mencapai US $ 29.500,- per ton. Demikian juga ilmenite (FeTiO3) bernilai US $ 200 per ton, namun jika dimurnikan menjadi logam Ti nilai jualnya mencapai US $ 20.000,- per ton!
Dapat dilihat added value yang bisa diperoleh. Walaupun teknologi pemrosesan bahan tambang itu telah tersedia dan hanya diperlukan investasi saja, akan tetapi knowledge, atitude dan skill untuk pengelolaan SDA tersebut sangat penting dipunyai. Ini hendaknya perlu disadari bersama.
Seperti telah Anda sebutkan tadi bahwa potensi SDA Aceh belum dikelola secara optimal, apakah ini karena kendala sumber daya manusia?
SDA dan SDM terkait sangat erat. Diperlukan tenaga ahli yang berkompeten dalam pengelolaan SDA, bila kita ingin memperoleh nilai tambah (added value) yang optimal sehingga dapat dinikmati dan memberi kesejahteraan bagi rakyatnya.
Untuk kegiatan eksplorasi tambang misalnya, diperlukan kompetensi bidang mineral sehingga dapat menjalani tahapan-tahapan eksplorasi yang tepat. Diperlukan atitude yang proporsional dalam memutuskan langkah investasi dan eksploitasi, melakukan kajian kelayakan yang cermat. Semua ini memerlukan tenaga yang kompeten.
Sepengetahuan saya, di Aceh bukan tidak ada SDM yang kompeten. Banyak, tetapi rasanya masih tetap kurang, Bila kita perhatikan pemberitaan harian Serambi beberapa waktu yang lalu, disebutkan bahwa ”pemerintah Aceh cari tenaga ahli untuk pembangunan infrastruktur” dan disebutkan pula ”tenaga ahli yang ada masih sangat kurang”. Hal ini menunjukkan masih banyak pembenahan masalah SDM yang perlu terus dilakukan, tidak saja melalui pendidikan formal dari jenjang dasar sampai dengan tinggi tetapi juga melalui pendidikan non-formal seperti pelatihan-pelatihan berbagai kompetensi.
Terkait peningkatan mutu SDM ini, perguruan tinggi di Aceh bisa dikatakan belum ada yang memiliki jurusan spesifik dan khas semisal Mineral dan Pertambangan, komentar Anda?
Sudah selayaknya perguruan tinggi yang ada di Aceh memiliki fakultas atau program studi yang mendalami masalah pertambangan dan termasuk didalamnya know how tentang technological processing berbagai jenis mineral tambang. Perlu juga diingat bahwa masalah pengelolaan SDA misalnya hasil tambang tidak harus dimonopoli oleh lulusan dengan kompetensi tambang. Jadi, kalaupun saat ini di Aceh belum memiliki kompetensi tersebut maka segera sarankan kepada otoritas untuk memulai merintis membuka fakultas atau program studi tersebut.
Saya sangat percaya, sebuah program studi yang didukung oleh kekayaan alamnya akan cepat mencapai keunggulan dan memiliki daya saing. Janganlah kita berfikir yang terlalu tinggi misalnya bidang teknologi nanoscience -yang menjadi tren riset dan main issue masa kini. Tetapi selalulah berfikir bahwa keunikan yang terdapat di sekitar kita akan mampu membawa kita menempati salah satu posisi penting di masa depan.
Keunikan seperti apa?
Saya mengamati ilmu kelautan, geofisika eksplorasi, geothermal, tambang, mineral serta terkait sumber daya alam lainnya adalah salah satu keunikan yang dimiliki oleh Aceh dan dengan demikian berpotensi untuk dikembangkan bila ingin berada pada jajaran depan, minimal di negara ini. Sekali lagi, lihatlah keunikan apa yang kita miliki. Karena saya punya keyakinan bahwa untuk berada pada jajaran depan kita harus memiliki keunikan. Jadi, bukan sekedar ikut-ikutan tren. Istilah orang kita, bek meuron-ron.
Keterlibatan Anda dalam pengembangan SDM Aceh?
Saya sendiri berupaya membangun SDM Aceh dari sisi lain. Sebagai dosen tetap di UI, saya kerap membimbing dosen-dosen Unsyiah yang mengambil pendidikan tinggi S2 dan S3 di bidang Materials Science pada program pascasarjana UI. Sekali waktu saya pernah berpesan kepada salah seorang anak bimbingan saya, seorang dosen FMIPA Unsyiah, bukalah program pendidikan dan penelitian terkait dengan sumber daya alam. Saya sudah sejak lama menjalin kontak kerjasama dengan FMIPA Unsyiah. Begitu.
Berkaitan dengan situasi damai saat ini, terutama pasca MoU Helsinki, amatan Anda?
Begini, sebelum MoU tersebut terus terang ketika saya kembali ke Langsa menjenguk ibu dan mertua saya, saya merasakan sebagai orang asing saja. Dicurigai, terus diperiksa setiap langkah. Tentu hal ini dialami oleh setiap orang. Dengan perkataan lain betapa tertekannya perasaan orang yang hidup di tanah Aceh ini pada masa itu. Alhamdulillah, pasca MoU saya merasakan situasi yang sungguh jauh berbeda. Dua tahun yang lalu saya berziarah ke kuburan bapak saya di Taman Makam Pahlawan Banda Aceh. Berangkat dengan mobil dari Langsa dan sekitar pukul 23.00 malam saya berada dalam pendakian gunung Seulawah. Tidak ada perasaan yang mendebarkan saya rasakan. Justru saya menikmati udaranya yang segar, banyak pengendara motor (kereta) lalu lalang dari dan menuju Banda Aceh. Suatu perjalanan yang sangat menyenangkan. Itulah yang saya amati, kini Aceh jauh lebih aman. Bila situasi aman semacam ini bisa terus dijaga dan ditingkatkan kualitasnya dari waktu ke waktu, tidak saja hal di atas yang bisa dirasakan tetapi lebih jauh lagi, ketertinggalan seperti pada pendidikan, investasi/ekonomi, pembangunan infrastruktur, sosial budaya, kesejahteraan dan sebagainya bisa dipercepat agar dapat sejajar dengan daerah-daerah maju lain di negara ini.
Artinya dibutuhkan rasa aman yang abadi bagi kemajuan Aceh?
Menurut saya base linenya adalah keamanan, ketenangan dan kepastian hukum. Bila keamanan dapat dipertahankan dan ditingkatkan kualitasnya maka akan diperoleh ketenangan. Ketenangan dalam bekerja, ketenangan dalam memikirkan masa depan, ketenangan dalam perencanaan Aceh ke depan. Ketenangan itu bisa menjadi stimulan untuk kreasi dan inovasi. Hal ini perlu untuk derap langkah ke depan.
Mungkin ada pesan khusus untuk masyarakat Aceh?
Saya tidak punya pesan khusus, mengingat saya masih datang dan pergi dari daerah Aceh ini. Namun ada amatan khusus dari saya, dari dulu saya melihat budaya kerja di Aceh ini tidak banyak berubah. Banyak diantaranya bekerja secara kurang efektif atau kurang maksimal. Kurang inisiatif. Akibatnya tidak muncul inovasi. Hal ini mungkin bisa disebabkan kurang terdapatnya program-program kerja yang terencana baik dan memiliki ukuran-ukuran pencapaian. Aceh haruslah memiliki program-program yang progressive dari waktu ke waktu. Kalaupun saya harus berpesan kepada masyarakat Aceh maka dukunglah secara sungguh-sungguh program-program progressive pemerintah NAD termasuk dengan bekerja lebih efektif dan progressive. Saya juga berharap makin banyak putra-putri dari Aceh ini untuk tidak segan menimba ilmu dan pengalaman dari luar wilayah Aceh sendiri, bila mungkin hingga ke luar negeri.