Tuesday, February 10, 2009

Easa Ashby masuk Islam di usia 13 tahun

PENGANTAR. Ada fenomena baru di Inggris saat ini dimana pemeluk Islam dari kalangan muda meningkat secara signifikan setiap tahunnya. Usia muallaf baru itu bahkan bisa dibilang sangat belia. Easa Ashby salah satunya. Remaja asal kota London itu memeluk Islam di usianya yang ke-13. Dia tertarik Islam melalui “dakwah” salah seorang anak tantenya. Sepupunya itu, yang masuk Islam pada usia 15 tahun, satu hari mengajak Easa ke rumahnya. Di rumah sepupunya itu Easa diperlihatkan kitab suci Alquran. Berawal dari sana pula dia mulai tertarik belajar Islam. Rasa ingin tahunya tentang Islam membuncah hingga uang jajannya habis untuk beli buku-buku Islam. Berikutnya rangkuman kisahnya seperti disadur dari Islamicgarden.com.

------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Kenal Islam melalui saudara sepupu

Easa saat memeluk Islam baru berumur 13 tahun. Sebelum masuk Islam, saat masih berusia 10 tahun dia seperti bocah-bocah lainnya, melewati kehidupan normal, pergi sekolah, bercengkrama dengan teman-temannya. Ya seperti umumnya anak-anak di sekolah dasar.

Kala di sekolah menengah pertama, salah satu saudara sepupunya yang perempuan berumur kira-kira 15 tahun diketahuinya telah memeluk Islam. Sepupunya itu tiap berkunjung ke rumah saudara-saudaranya yang lain selalu menceritakan kepada sanak keluarganya tentang Islam. Anggota keluarga semua ikut mendengar dan tentu saling beda pendapat satu sama lain. Lalu muncul adu argumentasi dan debat. Menariknya si saudaranya yang baru muallaf itu tidak membantah. Dia lebih banyak diam dan hanya mendengar saja. Tidak mau berdebat secara frontal.

“Satu ketika, kala aku sendirian di rumah, sepupuku itu mengajakku ke rumahnya yang jaraknya cuma 15 menit jalan kaki. Ya itu rumahnya bibi Easa,” kisah Easa. Sesampai di rumahnya, si sepupunya itu menunjukkan pada Easa kitab suci Alquran seraya bertanya apa dia tahu buku apa itu. Spontan Easa menjawab tidak tahu.

“Serta merta dia menjelaskan persis seperti orang Kristen menjelaskan apa itu Bibel. Aku baru tahu rupanya itu kitab suci umat Islam,” lanjutnya. Kepada sepupunya, Easa menyebut tidak tahu apapun tentang Islam. Agama yang dia tahu cuma Kristen yang sering dia dengar dari ibunya. Ketika itu sepupunya menerangkan tentang Allah SWT dan Nabi Muhammad zang merupakan utusan-Nya. Dan Alquran itu diturunkan oleh Allah melalui perantaraan Nabi Muhammad.

Terkesan dengan Alquran

Begitulah, Easa menemukan apa yang dia sebut sebagai keajaiban ilmiah di dalam Alquran hingga menggiringnya memeluk Islam. Hari-hari berikutnya dia suka mendengar kisah-kisah para muallaf lain, terutama pengalaman spiritual mereka kala memeluk Islam. Bagi Easa sendiri dia sagat terkesan dengan fakta dan gambaran kehidupan yang diceritakan dalam Alquran, yang nyata serta rasional.

“Misalnya, keterangan yang begitu jelas tentang proses kejadian manusia di dalam rahim seorang ibu. Lalu tentang kejadian jagat raya, bintang-bintang, laut dan aneka keterangan ilmiah lainnya. Menurut aku, ilmu pengetahuan yang ada hari ini seharusnya berterima kasih atas fakta-fakta ini,” kata dia.

Tentang shalat lima kali sehari, mengikuti anjuran makan makanan halal, dan busana muslim yang menutup aurat, bagi Easa hal itu tidak masalah. Bukan sebuah perkara yang sulit, kata dia. Sepupunya juga menjelaskan hal-hal mendasar dalam Islam. Easa lalu mempelajari dua hal yakni shalat dan satunya tentang etika berbusana menurut Islam. Dia akhirnya memilih untuk fokus pada masalah shalat. Buku-buku tentang tatacara shalat pun dicari lalu dipelajarinya.

Awalnya, dia tidak menceritakan kepada siapapun tentang hal ini. Sebab seperti diakuinya, dia belum begitu siap jika ada komentar atau kritikan. Dia mengaku sangat belia sekali, belum siap secara mental. Easa bahkan punya obsesi untuk pergi ke Mesir dan Yaman supaya bisa mempelajari Islam lebih mantap. Tapi keinginan itu disimpannya dulu dalam-dalam. Takut nanti bermasalah. Sebab, selain sepupunya itu, dia tak punya kenalan lain yang beragama Islam.

Uang jajan untuk beli buku Islam

Rasa ingin tahunya tentang Islam makin membuncah. Hingga uang jajan habis untuk beli buku di sebuah toko buku Islam di kotanya. Buku yang dia beli berisi penjelasan shalat, puasa, buku-buku tauhid, kehidupan Rasulullah dan kisah para sahabatnya.


Setelah tiga atau empat bulan belajar secara otodidak, dia mengunjungi pengajian yang sering diadakan di kediaman Syekh Abdur Rahman di selatan kota London . Pengajian yang berlangsung di ruang tamu sang ustaz itu sangat menarik. Para pengunjung, yang umumnya adalah para muallaf, terlihat sangat menikmati ceramah Syekh Rahman. Easa mengaku sangat terinspirasi dengan pengajian tersebut. Dia mendapat banyak sekali masukan hal-hal mendasar dalam Islam.

Dia berusia 15 tahun pada saat mulai belajar tentang Islam secara terbuka dan intensif. Pada saat bersamaan Easa punya teman yang juga baru masuk Islam dan karena itu mereka saling mengisi satu sama lainnya. Bahkan kala ke mesjid pun mereka sering berdua. Hanya saja kala di sekolah mereka kerap mendapat kesulitan untuk ke mesjid untuk shalat Jumat, karena bertubrukan dengan jam sekolah.

Meskipun dia baru kenal Islam di usia yang sangat belia, namun dia tidak melihat Islam sebagai agama yang keras atau penghalang aktifitasnya. Justru dia merasa Islam sangat menarik. Dari situ dia tahu kenapa alkohol itu haram. Masuk akal, menurut Easa, Islam melarang alkohol. Sebab hampir semua perbuatan buruk berawal dari sana .

Tetap berinteraksi dengan non muslim

Di rumah Syekh Rahman Easa banyak mendapat informasi misalnya hal apa yang dibolehkan dan diharamkan. Begitupun dia terkesan dengan Islam yang tak pernah membeda-bedakan golongan atau kelompok. Jadi dia masih tetap bisa berinteraksi dengan rekan-rekannya yang non muslim. Namun jika rekan-rekannya itu mengajaknya ke tempat yang dilarang Islam, misal ke pub atau ke bar untuk minum-minum, dia serta-merta menolaknya.

“Aku tidak mengisolasikan diri dengan teman-teman yang non-muslim. Begitupun aku tetap berpijak pada Islam jika ada yang tak berkenan dalam pertemanan kami. Misalnya, aku tak mau lagi terlibat dalam suasana ghibah (membicarakan keburukan orang lain).

“Informasi tentang kebenaran Islam tak cukup dari mendengar saja. Tapi kita harus berusaha terus mencari dan mencari. Tidak boleh malas. Dan, jalan terbaik untuk mendapatkan pengetahuan Islam adalah melalui Alquran dan hadist, terutama hadist Bukhari dan Muslim,” anjur Easa terutama bagi para muallaf baru. Dia juga menganjurkan untuk mempelajari kehidupan para sahabat Rasulullah. Karena merekalah yang melihat langsung cara hidup Rasul dan mempraktekkannya dalam kehidupan harian. Para sahabat menerima Islam langsung dari tangan pertama, yakni Rasulullah.

“Saat ini ada jarak yang sangat jauh sekali. Kita telah banyak meninggalkan sunnah-sunnah Nabi. Sehingga muncul berbagai amalan tanpa mengaju kepada ajaran dasar Islam. Muncul pula konflik dalam tubuh umat Islam akibat melakukan sesuatu tanpa pengetahuan yang cukup. Kini krisis ummat harus diselesaikan dengan kembali ke ajaran yang sebenarnya. Jangan lagi terkotak-kotak. Sunnah Rasul adalah cara hidup terbaik,” pesan remaja belia itu lagi.

Krisis identitas Islam

Easa mengamati sebagain besar pemuda Islam seakan kehilangan pegangan. “Mereka telah lepas kontrol dan jadi korban budaya tak beradab. Ironisnya mereka mengikuti cara hidup orang lain dan meinggalkan cara hidup Islam. Easa sendiri mengaku sangat beruntung bisa mendapatkan jalan hidup Islam di saat masih sangat belia, di usia 13 tahun. Sehingga semua yang dipelajarinya mudah terserap dan berkesan dalam hati. Rasa ingin tahunya yang besar membuat Easa selalu menghadiri setiap pengajian yang diadakan di rumah Syekh Rahman. Bahkan dia punya cita-cita untuk bisa jadi penghafal (hafiz) Alquran satu saat nanti.

Menjadi muslim di usia sangat muda bukannya tanpa masalah. Apalagi di kota London yang serba metroplit. “Masalah yang sangat kentara adalah di kala melamar pekerjaan. Walau dikatakan tak ada perbedaan dari segi agama atau kelompok, tapi kenyataannya ketika seorang muslim melamar sebuah pekerjaan maka ada banyak kesulitan yang bakal dihadapi. Akhirnya, tentu saja muncul rasa putus asa,” kata Easa.

“Lain halnya jika yang melamar non muslim. Mereka sangat gampang mendapatkannya. Sebab agamanya sama dengan yang menawarkan pekerjaan. Ini kenyataan lapangan yang tak bisa dibohongi. Jadi rasisme itu masih dan terkadang sangat kentara. Mungkin ini yang masih harus terus diperjuangkan oleh umat Islam disini,” imbuh dia lagi.Terhadap masalah itu Eesa menganjurkan pada muallaf baru untuk menahan diri dan sabar.

“Yang paling penting, jangan mudah marah hanya gara-gara hal itu. Apalagi sampai mebuat kerusuhan. Ini tidak baik bagi umat Islam sendiri. Sabar, jangan cepat marah dan jangan frustasi,” saran Easa bijak. Dia, secara khusus, menyarankan agar pimpinan komunitas Islam di Inggris untuk bersatu padu. Sekarang ini, menurut dia, tema-tema tentang menjadikan Inggris sebagai negara Islam sudah tak pada tempatnya lagi. Yang ada hanya perpecahan dan muncul bahaya yang lebih parah dimana Islam bakal tak mendapat tempat lagi.

“Sekarang bukan masanya lagi bicara tentang hal itu (negara Islam-red). Konon lagi di Barat. Jika semua sudah melaksanakan Islam secara sempurna itu akan datang dengan sendirinya. Mari belajar dan jalankan Islam secara benar. Tak ada yang baru dalam Islam karena Islam sudah sangat sempurna. Masalah yang muncul hari ini justru karena ketelodoran umat Islam sendiri, karena salah paham dan salah dalam pengamalannya,” tukas Easa panjang lebar. (Zulkarnain Jalil)

Di Norwegia, polwan muslim dibolehkan pakai jilbab

Pemerintah Norwegia telah setuju dengan sebuah amandemen yang memberi kebebasan bagi polisi wanita muslim untuk mengenakan jilbab. Keputusan itu diumumkan oleh komunitas muslim di Norwegia, Kamis lalu (5/2). Seperti dilaporkan situs Islamonline.com (6/2), kalangan muslim di negeri yang terletak di kawasan Skandinavia itu spontan menyambut gembira keputusan tersebut.

"Ini sebuah isyarat penting bagi kalangan muslim di Norwegia," kata Brahim Belkilani, Ketua Liga Muslim Norwegia. Liga Muslim Norwegia sendiri dideklarasikan pertamakali tahun 1987 silam dan kini menaungi hampir 90 organisasi Islam di Norwegia.

Keltoum Hasnaoui, seorang polwan muslim berusia 23 tahun berdarah Aljazair, kini adalah satu-satunya wanita berjilbab di kepolisian Norwegia. Dia sebelumnya sempat melayangkan sebuah petisi kepada Menteri Kehakiman Norwegia yang memohon keringanan bagi polisi wanita Islam untuk tetap bisa berjilbab selama bertugas.

"Setelah mendapat masukan dari Markas Besar Kepolisian, kami memutuskan jilbab dibolehkan bagi polwan muslim di negeri kami. Begitupun, kami membuat aturan khusus tentang modifikasi seragam kepolisian yang dipadu dengan jilbab dengan tidak menghilangkan nilai Islamnya," begitu bunyi salah satu pernyataan dari kantor Kementrian Kehakiman Norwegia.

Sementara itu Ingelin Killengreen, Direktur Kesatuan Polisi Nasional, mengatakan bahwa keputusan ini dibuat sebagai bagian dari upaya pemerintah untuk merekrut lebih banyak lagi polisi dari kalangan muslim.

"Kami kira ini sebuah keputusan penting dalam rangka memperluas proses rekrutmen polisi baru tanpa memandang perbedaan baik itu suku, etnis, dan agama tertentu dalam kelompok masyarakat. Semua bisa ambil bagian, itulah misi kami," tulis Killengree dalam siaran persnya.

"Adalah sangat penting bagi semua warga untuk memperoleh kesamaan hak serta punya hubungan baik dengan para polisi," lanjut dia.

Beberapa negara di Eropa, seperti Swedia dan Inggris, dikabarkan telah membolehkan para polisi wanita beragama Islam untuk mengenakan hijab selama dinas.

Integrasi

Perubahan kebijakan itu, dengan mengakomodasi keinginan warga muslim, diyakini akan makin memperkuat stabilitas di dalam masyarakat Norwegia.

" Para politisi tampaknya hendak mengirim pesan penting dalam rangka menghapus kesan diskriminatif yang selama ini kerap diperoleh masyarakat Arab dan komunitas Islam umumnya. Proses integrasi Islam dan pemerintah akan makin mudah," pungkas Brahim Belkilani. Belkilani juga menambahkan bahwa komunitas Islam di sana sangat menikmati kehidupan di sana , dimana mereka juga memperoleh hak-hak sepertimana warga Norwegia lainnya.

Populasi muslim di Norwegia diperkirakan makin bertambah tiap tahunnya. Saat ini ada sekitar 150 ribu warga muslim yang bermukim di negeri yang memiliki populasi penduduk 4,5 juta jiwa itu. Mayoritas muslim disana berdarah Pakistan, Somalia dan Maroko. (Zulkarnain Jalil)

Gadis Islandia itu Temukan Islam di Amerika

PENGANTAR. Kisah perjalanan menuju Islam gadis asal Islandia ini cukup menarik. Betapa tidak, seperti pengakuannya, di negaranya Islam hampir tak ada gema, saking minoritasnya. Dia sedikit tahu Islam justru ketika melakukan kontak dengan temannya, juga dari Islandia, yang sedang ikut pertukaran pelajar di Indonesia. Lalu, satu ketika, dia dapat beasiswa untuk belajar di AS. Dalam rombongannya ada seorang mahasiswa asal Mesir. Dari pemuda Mesir inilah dia mulai tahu Islam lebih jauh. Alhasil, di Amerika dia lebih banyak mencari tahu Islam hingga akhirnya bersyahadah melalui fasilitas chating di internet. Aminah, begitu namanya selepas memeluk Islam, menceritakan kisah uniknya itu di situs www.angelfire.com/ca/IslamicInfo.

yyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyy

“Nama saya Aminah dan memeluk Islam pada 31 Januari 1999 di usia 23 tahun. Saya sendiri lahir di Islandia pada tahun 1976. Keluarga besar saya semuanya anggota jamaah gereja Protestan. Saya sendiri termasuk di dalamnya dan aktif di sekolah minggu. Begitupun, kendati agama senantiasa hadir dalam keseharian namun hal itu tak banyak berperan banyak dalam perjalanan hidup saya,” tutur Aminah di awal kisahnya.


Lingkungan gereja

Sejak kecil memang dia sudah hidup dalam lingkungan agamis. Misalnya, di sekolah tempat Aminah belajar, rutin diadakan program kemah musim panas yang dikoordinir oleh sebuah organisasi berafiliasi agama Kristen. Lalu, nenek Aminah juga sering menemani sebelum tidur. Bahkan sang nenek juga mengajarkan doa tertentu di kala hendak tidur. Namun, seperti diakui Aminah, keluarganya tidaklah begitu sering ke gereja dan agama juga tidak tampak berpengaruh dalam kehidupan sehari-hari keluarga mereka.

“Oya di Islandia ada tradisi gereja bagi remaja yang beranjak dewasa, yakni di usia 14 tahun mereka musti dibaptis. Nah ketika itu saya dihadapkan pada satu kondisi, apa saya juga musti dibaptis atau tidak? Apa saya sudah cukup dewasa dan sudah pantas dibaptis? Waktu itu, saya sangat yakin adanya tuhan. Bahkan boleh dibilang tingkat keyakinan saya ini melebihi orang-orang lain. Jadi sudah pantas untuk dibaptis. Saya merasa, jika tidak melakukan itu maka sama saja tidak percaya adanya tuhan. Buat saya yang aktif ke gereja tentu hal ini sangat tragis,” tutur Aminah yang akhirnya memilih dibaptis oleh gereja.

Beberapa hari sebelum acara baptis, semua anak diwajibkan mengikuti kelas khusus berisi petunjuk-petunjuk dari pendeta. Demikian juga dengan kunjungan ke gereja juga tak boleh bolong-bolong. Intinya, sebelum dibaptis hati musti “dibersihkan” terlebih dahulu. “Begitulah tradisi yang saya maksud itu,” imbuh dia.

Mulai tinggalkan gereja

Selepas dibaptis, Aminah rupanya masih tetap aktif hadir di kelas khusus itu. Namun tak berlangsung lama hingga dia memutuskan untuk berhenti ke gereja. “Mungkin ini bukan keputusan yang benar saat itu. Tapi jujur saja, selama ke gereja saya tak mendapat apa-apa. Tak ada perubahan sama sekali dalam jiwa saya,” aku Aminah lagi.

Alhasil, di tahun berikutnya Aminah makin tak bergairah lagi ke gereja dan perlahan agama pun mulai terkikis dari dirinya. “Saya memang sering berdoa pada tuhan, tapi tak pernah menemukan ketenangan jiwa. Saya percaya akan keberadaan tuhan. Tapi apakah itu sudah cukup?,” kata dia.

“Di Islandia Islam tidak begitu dikenal. Sangat minoritas. Karena itu saya tidak mengikuti perkembangannya. Di sekolah, kami tak pernah diberitahu tentang agama lain. Yang kami tahu cuma Kristen saja. Hanya ada sedikit informasi tentang agama Yahudi. Hingga beranjak dewasa, saya masih belum banyak memperoleh info tentang Islam. Yang saya tahu kala itu Islam identik dengan Muhammadism atau ajaran Muhammad. Tapi apa itu Islam saya tidak tahu,” ungkap Aminah.

Kontak dengan rekan di Indonesia

Aminah, seperti orang-orang di Barat lainnya, hanya mendapatkan info Islam melalui media, Koran atau majalah saja. “Tentu saja secara umum tidak cukup untuk menggambarkan Islam yang sebenarnya. Kesan negatif akan Islam yang paling mencuat. Untungnya saya tidak sampai membenci Islam karena berita-berita miring itu,” tukas dia.

Rupanya kontak rutin dengan salah seorang rekannya, juga dari Islandia, yang sedang ikut program pertukaran pelajar di Indonesia sangat membantu Aminah dalam memahami Islam. “Waktu itu saya ada di Venezuela ikut pertukaran pelajar. Nah seorang sejawat saya ikut program yang sama dan dikirim ke Indonesia. Dari dialah saya dapat banyak info Islam di Indonesia. Ketika teman ini pulang ke Islandia, dia cerita hal-hal menarik dan positif dari Islam itu. Tentu saja apa yang diceritakan kawanku itu sangat berbeda dengan yang diberitakan di media,” lanjutnya.

Kenal pemuda Mesir

Aminah mengaku tidak tahu kapan pertamakali dia bersentuhan dengan Islam. Suatu ketika di musim gugur tahun 1997 dia berangkat ke Georgia, AS untuk mengikuti program beasiswa Rotary selama satu tahun. “Nah dalam rombongan universitas kami ada seorang mahasiswa asal Mesir yang juga ikut program beasiswa ini. Melalui hubungan persahabatan dengan pemuda Mesir itu pula saya mulai tahu Islam. Dia sering bercerita banyak tentang Islam. Tak hanya itu, kuamati dia sering mempraktekkan apa yang dia katakan. Misalnya shalat,” ungkap Aminah tentang perkenalan pertamanya dengan Islam.

Perlahan Aminah pun mulai tertarik dengan Islam. Dia sering terlibat dalam diskusi dengan mahasiswa Mesir dan bahkan sering adu argumentasi. Merasa belum puas, atas inisiatif sendiri, Aminah mencari lebih lanjut perihal Islam. “Internet sangat membantu dalam mencari tahu apa itu Islam. Juga buku-buku Islam, termasuk di dalamnya Alquran,” aku dia. Situs www.BeConvinced.com adalah salah satu situs yang sempat jadi panduannya belajar Islam.

Upaya Aminah untuk mengenal Islam lebih dalam makin membuncah tatkala dia mudik ke Islandia di musim panas 1997. Namun Amerika sangat berkesan baginya. Hingga, atas inisiatif sendiri, dia kembali lagi ke AS guna meneruskan studinya di sana. “Selama di AS, dalam jangka waktu yang lumayan lama, satu-satunya orang yang sering saya ajak diskusi, bertanya dan berdebat Islam adalah bekas teman satu rombongan dulu yakni pemuda Mesir itu,” lanjutnya.

Belajar Islam di internet

“Selanjutnya saya banyak dapat teman chating lewat internet. Melalui media online itu pula saya menemukan sebuah nuansa keakraban yang tiada tara. Kami saling tukar pengalaman, diskusi dan mereka, teman-teman muslim itu, sangat banyak membantu aku dalam memahami Islam,”aku Aminah.

Kala pertamakali Aminah melakukan upaya pencarian apa itu Islam, dia mengaku sangat terpesona dan menemukan banyak hal-hal yang luar biasa tentang Islam yang tidak diketahui sebelumnya. “Entah kenapa waktu itu saya jadi begitu bergairah dan sulit untuk dibendung. Rasa ingin tahu semakin tinggi. Makin saya baca sesuatu hal tentang Islam semakin menarik, lalu ingin membaca lagi, lagi dan lagi. Akan tetapi untuk jangka waktu yang lama ada begitu banyak hal yang belum saya pahami. Butuh yang cukup lama untuk bisa mengerti hal-hal pelik tersebut,” aku Aminah.

“Jujur saja, pada periode awal saya mencoba segala cara untuk menemukan hal-hal negatif dalam Islam. Saya katakan pada diri sendiri “kamu tidak mungkin jadi seorang muslim.” Dalam masa-masa pencarian itu saya merasa kagok dan bingung. Saya pikir, ah lebih baik hidup saja seperti yang sedang saya jalani sebelumnya, daripada menerima kbenaran dan berbagai perubahan dalam gaya hidup. Mungkin inilah saat-saat yang paling berat dalam fase pencarian kebenaran Islam saya,” tandas Aminah.

Seperti diakui Aminah, adakalanya dia merasa Islam adalah agama yang benar dan dia benar-benar ingin dekat dengan Tuhan. Dan ingin jadi muslim segera. Tapi di lain waktu, seakan ada bisikan lain, saya menemukan berbagai hal negatif dalam Islam. “Seakan-akan ada satu malaikat di telinga kanan yang mengatakan kebenaran, lalu ada syeitan di telinga kiri yang mencegahku menuju Islam,” ungkap dia.

“Namun akhirnya saya meluruskan hati kembali dan berhenti mendengar suara “syeitan kecil” itu dan melihat cahaya kebenaran dalam Islam. Saya ingin dekat dengan Tuhan dan menjalani kehidupan sebagai seorang muslim,” lanjutnya lagi.

Bersyahadah lewat chating

Segera setelah keputusan itu dibuat, persis tengah malam, Aminah mengontak teman chatingnya untuk melakukan kontak online via internet. Waktu itu dia hendak menyatakan kesiapannya masuk Islam dan ingin mengucapkan kalimah syahadah.

“Waktu lagi chating saya sebutkan rencana untuk melakukan prosesi syahadah di pengajian muslimah esok pagi. Tapi entah bagaimana, mendadak saya berubah pikiran. Kenapa harus menunggu besok? Apa tidak mungkin syahadah secara online saja, begitu pikir saya. Lalu saya putuskan untuk bersyahadah saat itu juga. Segera saya cari seorang muslimah lain untuk ikut chating. Nah melalui fasilitas chatroom akhirnya saya pun “mengucapkan” syahadah lewat internet,” kisah Aminah tentang prosesi syahadahnya.

Latifah, salah satu muslimah yang ikut chating, menyela sebab Aminah melakukan syahadah dengan mengetik kedua kalimah syahadah di halaman chating.

“Saya salah satu saksi syahadahmu, tolong prosesi syahadah diulang. Kamu harus mengucapkan dengan lisan kamu dan bukannya dengan cara mengetik seperti ini," seru Latifah. Begitulah, akhirnya di tengah malam buta itu Aminah pun bersyahadah dengan lisannya hingga bisa didengar oleh kedua rekan chatingnya via earphone. Subhanallah, internet telah membantu seorang muslimah untuk mendapat hidayah Allah dan akhirnya memeluk Islam.

“Selama jadi muslim, saya melewati banyak masa-masa manis disamping ada juga waktu-waktu sulit sebagai muallaf baru. Saya masih perlu belajar lebih keras lagi untuk mendalami Islam dan menjadi seorang muslim yang baik dan taat. Pada saat yang sama saya pun harus menjaga hubungan baik dengan keluarga dan teman-teman saya. Kendati mereka menaruh kesan negatif pada Islam saya tetap melakukan kontak dengan mereka. Saya yakin telah membuat keputusan yang benar dalam hidup ini. Terima kasih ya Allah telah Engkau tuntun saya menuju jalan kebenaran,” tutup Aminah seraya berharap keluarga dan teman-temannya segera mendapat hidayah-Nya. Amiin. (Zulkarnain Jalil).

Kaci Starbuck Bangga Jadi Muslimah

PENGANTAR. Semasa remaja dia aktif di kelompok musik gereja. Kala orangtuanya cerai, ajaran Kristen mulai hilang dalam kehidupannya. Ketika masuk bangku perguruan tinggi dia pindah ke Winston Salem, North Carolina, AS untuk kuliah di Wake Forest University . Di sanalah dia kenal seorang mahasiswa muslim yang tinggal seasrama dengannya. Mulailah Islam masuk dalam hidupnya. Uniknya, walau belum masuk Islam, dia bahkan telah aktif membantu organisasi Islam di kampus. Tak hanya itu, dia juga mencoba mengenakan kerudung. Dialah Kaci “Raihanah” Starbuck yang memeluk Islam pada 12 Juli 1997. “Aku bangga jadi muslimah,” kata dia satu ketika. Apa dan bagaimana hingga dia bersyahadah dan akhirnya mengenakan jilbab secara sempurna? Berikut kisahnya seperti disitir dari Islamreligion.com.

oooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooo

“Aku dibesarkan dalam keluarga Kristen. Tapi aku tahu tentang Kristen justru setelah dibaptis di sebuah gereja. Saat itu usiaku masih sangat belia sekali. Di sekolah Minggu aku dapat pesan bahwa “jika kamu tidak dibaptis, maka kamu tidak bakal masuk neraka," ujar Kaci memulai kisah uniknya.

Kaci mengaku waktu itu rela dibaptis untuk menyenangkan perasaan orang tuanya. “Satu hari, ayah dan ibuku masuk ke kamar dan meminta kesediaanku untuk dibaptis. Dia sangat berharap aku mau melakukannya. Akupun mau dan siap untuk dibaptis di gereja,” tukas Kaci.

Sebelum dibaptis dia musti menjawab beberapa pertanyaan. Kala ditanya: “Kenapa kamu mau dibaptis?“ Kaci menjawab:“Karena aku cinta Yesus dan aku tahu Yesus juga cinta aku“. Begitu pula dengan pertanyaan-pertanyaan lain dijawabnya dengan lugas. Lalu diapun dibaptis dengan disaksikan sejumlah jamaah gereja.

Anggota vokal grup gereja

Masa-masa awal di gereja, begitu juga ketika masih di taman kanak-kanak, Kaci pernah jadi anggota vokal grup dan aktif di kegiatan misa mingguan. Kemudian, beranjak remaja, dia masuk dalam kelompok grup musik young girls” yang sering dapat undangan di berbagai kegiatan gereja dan juga aktifitas rohani lainnya di luar gereja.

“Waktu usia remaja aku sering dapat undangan seperti mengisi acara musik di perkemahan dan kegiatan rekreasi lainnya. Di dalam grup musik, aku dikenal saat itu sebagai yang ”dituakan” dan dijuluki "gadis pemain piano".

“Beberapa tahun kemudian, kedua orangtuaku bercerai. Satu hal yang tak pernah kubayangkan dalam hidup ini akhirnya terjadi padaku. Kejadian ini sampai membuat agama Kristen tak lagi menarik bagiku. Waktu masih bocah, aku melihat keluarga seakan sempurna, tak ada cela. Ayahku adalah salah satu pengurus gereja. Orangnya sangat respek hingga semua jamaah kenal dia. Tapi beranjak remaja begini kejadiannya,” ungkap Kaci kecewa.

”Tahun-tahun berikutnya kulalui tanpa ayah. Aku, abang, dan seorang adikku pindah ke rumah ibu. Saat itu, ibu tak begitu aktif lagi ke gereja. Begitu pula dengan kedua saudaraku, mereka menganggap gereja tak penting lagi. Selama pindah ke rumah ibu, aku juga pindah ke sekolah baru dan ketemu banyak teman baru. Dan disana pula aku memulai kehidupan baru dalam hal agama. Aku jumpa dengan satu grup musik gereja di sana,” kata dia.

”Mereka bercerita tentang keyakinan yang ada di gereja mereka. Jamaah di gereja ini mengamalkan kitab Perjanjian Baru. Mereka tak pakai alat musik saat nyanyi di gereja. Hanya grup paduan suara. Gereja ini juga tak menggaji pendeta. Tapi orang tertua dalam jamaah yang meminpin setiap acara hari Minggu. Jamaah perempuan tidak boleh ceramah di gereja ini. Begitu pula dengan acara Natal, Paskah dan hari-hari libur lainnya, tak pernah dirayakan. Bagiku ini termasuk hal baru. Hingga aku mengira, apa dulu aku berada di jalan yang salah? Haruskah aku dibaptis lagi?,” imbuh Kaci panjang lebar.

Kenal Islam di bangku kuliah

Terhadap semua hal baru itu, Kaci curhat pada ibunya. Dia mengaku sekarang bingung dengan kontradiksi dalam ajaran Kristen. Tahun berikutnya, Kaci pun mulai kuliah di perguruan tinggi dan dia pun pindah ke kota Winston Salem, masih di North Carolina, AS. “Satu hari aku ketemu dengan seorang pemuda muslim yang juga tinggal se-asrama dengan aku. Dia cukup ramah dan kami sering terlibat tukar pikiran masalah keyakinan hidup,” kata Kaci yang kuliah di Wake Forest University.

”Satu sore, kami habiskan waktu hingga berjam-jam untuk berdiskusi tentang filosopi dan keyakinan hidup Islam. Alhasil, muncul pertanyaan dalam diriku: Apakah manusia dilahirkan dalam satu agama, dan hanya ada satu agama yang benar? Hari-hari berikutnya aku sering ketemu mahasiswa Islam ini dan melanjutkan diskusi kami yang belum tuntas. Namun, aku masih belum puas dengan jawabannya, yang menurutku masih menyentuh dasar Islam. Aku sendiri dapat memahami keterbatasan dia dalam menjelaskan Islam. Aku berupaya mencarinya sendiri,” imbuh dia lagi.

Ketika libur musim panas, Kaci memutuskan untuk kerja part time di sebuah toko buku. Di sana pula dia bisa “mengenal Islam lebih dekat.” Buku-buku Islam yang ada di toko buku itu dilahapnya. Dia juga bisa ketemu dengan seorang mahasiswa muslim lain yang juga belajar di kampus yang sama. Berbagai pertanyaan yang tersimpan sekian lama dalam kepalanya pun ditumpahkan. Rupanya si pemuda ini mampu menjawab setiap ada pertanyaan dari Kaci. Tak lama, Alquran pun jadi bacaan rutinnya. Tak hanya itu, Kaci juga mulai tertarik ke mesjid. Setidaknya, dia ada dua kali dalam seminggu ke mesjid setempat. Ada kebahagian yang mulai meretas dalam dirinya kala itu.

“Selepas mempelajari Islam sepanjang libur musim panas itu, aku mulai tersentuh dengan berbagai pernyataan dalam Islam. Pernah, aku coba ikut kuliah Perkenalan Islam di kampus. Waktu itu aku sedikit frustrasi, sebab dosen pengajar mata kuliah ini memberikan komentar yang menurutku salah. Tapi aku tidak tahu bagaimana mengoreksinya,” ungkap Kaci mengkritisi dosen yang bukan beragama Islam tersebut.

Aktif di organisasi Islam

Di luar aktifitas kuliah, diam-diam Kaci aktif terlibat sebagai anggota di sebuah organisasi sosial berafiliasi Islam. ”Ya aku terlibat di Islam Awareness Organization. Aku satu-satunya anggota yang perempuan. Oleh anggota lainnya, aku masih sering disebut dengan "gadis Kristen dalam kelompok kita". Tiap ada pertemuan, ucapan itu pasti keluar. Entah kenapa, batinku tak suka disebut seperti itu. Padahal, aku melakukan segala sesuatu persis seperti apa yang mereka lakukan. Jadi, menurutku, aku seorang muslim juga,” tukas Kaci.

Kaci mengungkapkan bahwa dia sudah tidak makan babi lagi. Sudah berhenti mengkonsumsi alkohol. Bahkan kala Ramadhan dia juga ikut berpuasa. Yang menakjubkan, persis di akhir tahun pertamanya di universitas, terjadi perubahan dalam diri Kaci. Dia memutuskan untuk mengenakan kain kerudung penutup rambut! “Aku tak ingin rambutku ini dilihat orang lain. Jika nanti menikah, hanya suamiku yang boleh melihatnya. Begitupun, aku belum berani memakai baju muslimah secara sempurna kala itu,” aku Kaci.

Chating di internet

Satu hari Kaci mempelajari Islam melalui internet. ”Aku juga mencari alamat e-mail orang-orang Islam. Maksudnya biar bisa jumpa seorang muslim yang bisa kuajak diskusi. Aku selalu menulis di surat elektronik dengan pesan tambahan ”saya bukan sedang mencari jodoh – tapi hanya ingin mempelajari Islam,” kata dia.

Beberapa hari kemudian, Kaci menerima balasan dari tiga orang muslim. Satu dari mahasiswa Pakistan yang sedang studi di AS, satu dari India tapi sedang belajar di Inggris, dan terakhir berasal dari muslim yang berdomisili di Uni Emirat Arab (UAE).

”Masing-masing mereka saling membantuku. Kami terlibat diskusi secara unik di tiga negara berbeda. Tapi akhirnya aku sering kontak dengan yang di Amerika. Karena kami dalam zona waktu yang sama. Jadi perbedaan waktunya tidak jauh berbeda. Jika aku kirim pertanyaan, maka dijawabnya dengan segera dalam rentang waktu yang sama. Jawaban-jawabannya pun rasional, masuk logika pikiranku.

“Dalam pandangan Islam semua manusia sama. Islam tak melihat warna kulit, usia, jenis kelamin, ras, suku bangsa, dan lainnya. Yang penting hatinya beriman kepada Allah,” kata dia kagum. Kaci terus mendalami Islam hingga dia sampai pada keyakinan bahwa Islam adalah agama pembawa kebenaran.

”Tiap ada kesulitan akan suatu perkara, maka aku langsung melihat jawabannya dalam Alquran. Aku juga makin merasakan nikmatnya persaudaraan dalam Islam. Bukan main,”aku Kaci.

Bersyahadah

Niat Kaci untuk mengikrarkan syahadahnya pun makin mengental. “Aku mendeklarasikan syahadah di mesjid. Aku kini percaya hanya ada satu Tuhan yang patut disembah. Satu hari di bulan Juli 1997 aku berbicara dengan seorang muslim via telepon. Aku bertanya banyak hal tentang cara masuk Islam dan dijawab dengan simpel sekali. Hingga aku pun memutuskan untuk ke mesjid esok harinya,” kisah Kaci lagi.

Keesokan harinya Kaci pun berangkat dari rumah kostnya di Wake Forest ke mesjid terdekat. Dia ditemani oleh dua orang teman baiknya. Satu muslim, satunya lagi non muslim. Tapi, menariknya, dia tidak menceritakan pada mereka apa maksudnya ke mesjid.

”Aku cuma bilang mau diskusi dengan pak imam. Sesampai di mesjid, pak imam barusan memberi khutbah dan jamaah mulai shalat Jumat. Nah setelah semuanya beres baru aku bicara dengan beliau. Waktu itu aku tanyakan apa yang musti dilakukan seseorang yang ingin masuk Islam. Pak imam menjawab bahwa ada beberapa hal dasar yang perlu dimengerti tentang Islam. Plus dua ikrar dua kalimah syahadah. Lalu aku beritahu pak imam bahwa aku sudah belajar Islam lebih dari setahun dan sekarang sudah siap jadi seorang muslimah. Tak menunggu lama, aku pun mengucapkan kalimah syahadah. Ya, tepatnya tanggal 12 July 1997 aku memeluk Islam. Alhamdulillah…

Dipecat kerja karena jilbab

“Mula-mula aku belajar tatacara shalat. Lalu mengikuti aneka aktifitas mesjid. Bahkan aku pergi ke banyak mesjid, seperti mesjid di Winston Salem, North Carolina. Yang paling menakjubkan, aku akhirnya berani memakai hijab secara sempurna, persis dua pekan setelah memeluk Islam. Alhamdulillah, selepas memeluk Islam, aku merasakan begitu banyak ”pintu” yang terbuka. Semua itu terbuka dengan kasih sayang Allah,” pungkas Kaci yang mengganti nama menjadi Raihanah selepas memeluk Islam.

Pernah satu ketika, di musim panas, dia bekerja part time di sebua toko tas. Waktu itu dia sudah mengenakan jilbab. Rupanya direktur perusahaan itu tidak suka dengan jilbab Kaci. ”Dia minta aku untuk melepas jilbab jika ingin tetap bisa kerja. Tentu saja aku tidak mau. Akhirnya aku musti keluar dari tempat kerja alias dipecat. Mereka mengira jilbab akan membatasi aku dan menganggap aku tidak bisa bekerja jika mengenakan jilbab. Tapi aku sendiri merasa bisa bergerak bebas kendati berjilbab. Tapi tak apa, aku tak menyesal. Aku bangga bisa jadi seorang muslimah,” cerita Kaci tentang diskriminasi di tempat kerja.

Itulah langkah besar dalam perjalanan hidup Kaci ”Raihanah” Starbuck. Ketabahan dan kekuatan imannya patut diacungi jempol hingga dia mampu menjalani berbagai ujian selaku muallaf baru. Begitulah. (Zulkarnain Jalil).