Saturday, October 07, 2006

Ada Ramadhan di Bundesliga

Siapa sangka ada Ramadan di Bundesliga (Liga Jerman). Adalah ARD, salah satu televisi swasta Jerman yang menyiarkan satu mata acara guna membahas hal tersebut. “Ramadan in der Bundesliga” (Ramadan di Bundesliga), demikian judul acaranya. Dalam dialog dengan pemain, pelatih dan dokter terungkap beberapa hal menarik, terutama bagaimana pemain muslim di Bundesliga menjalani puasa selama kompetisi berlangsung.

Mehdi Mahdavikia yang bermain di klub Hamburg SV mengaku sejak Minggu(24/9) sudah mulai berpuasa. Pemain asal Iran ini seperti tahun lalu tetap menunjukkan kemampuannya meski main di bulan puasa. Akan tetapi Mehdi juga menyebutkan, jika dalam satu pertandingan atau latihan mulai terasa berat, biasanya ia berbuka dan menggantinya di hari lain. “Dia tahu mana yang terbaik, kapan musti makan dan kapan musti istirahat,“ ujar Thomas Doll, pelatihnya.

Adapun sebagian pemain muslim lain tetap bersikukuh menjalankan puasanya secara penuh. Penyerang Schalke04 asal Turki, Hamit Altintop tetap puasa dan ikut program latihan. “Saya tidak mau kompromi masalah itu (puasa) dengan pelatih", tegas pemain nasional Turki itu. Saudara kembarnya Halil menambahkan; "Saya pada hari biasa juga selalu berusaha menjalankan perintah agama. Akan tetapi kepentingan team tetap menjadi prioritas”. Halil Altintop selalu ingat Ramadhan sebagaimana disambut warga Turki lainnya:“Ramadhan bikin kita tahu, bagaimana lapar dan hausnya mereka-mereka yang hari ini terpaksa menahan lapar, karena bencana gempa misalnya“.

Demikian juga Abdel Aziz Ahanfouf yang bermain di klub Arminia Bielefeld. Pemain nasional Marokko ini mengaku sejak bertahun-tahun sangat ketat mengikuti aturan Ramadan.“Saya nanti mau masuk syurga, karena itu tidak ada pengecualian,” ujar mantan pemain MSV Duisburg itu.

Tetap main dengan perut kosong ? Bagaimana tanggapan pelatih ? Pelatih MSV Duisburg , Rudi Bommer mengatakan ia sudah biasa menangani pemain yang berpuasa. “Musim lalu ketika melatih FC. Saarbrücken, ada empat pemain kami yang muslim, mereka juga tetap berpuasa,” ungkap Bommer.

Mantan pelatih 1860 Muenchen ini malah memberikan kelonggaran kepada pemainnya. “Ada pemain tetap main baik. Tentu saja ada juga yang sedikit berkurang kekuatannya. Sebab itu adakalanya saya tidak memainkannya secara penuh,” terang Bommer lebih lanjut.

Khusus bagi pemain yang mengadakan perjalanan jauh untuk pertandingan antar negara, Bommer menyarankan pemainnya –jika mungkin- untuk tidak puasa.”Saya kira itu juga dijelaskan dalam Quran,“ ujar Bommer seraya menambahkan agar pada saat berbuka menghindari jenis makanan fast food (cepat saji).

Akan tetapi hal ini ada semacam kekurangmengertian di pihak dokter .Dr Nicolas Gumpert termasuk salah satu yang khawatir dengan pemain yang berpuasa. “Olahragawan butuh glikogen yang merupakan sumber energi cadangan. Glikogen pasti akan cepat hilang selama puasa,” ujar Gumpert. Akan tetapi Rudi Bommer menimpali:”Namun kita juga harus menaruh hormat pada agama seseorang,”

Di Liga Jerman secara umum pemain muslim banyak yang berasal dari kawasan Turki dan Afrika Utara (Maroko, Mesir, Tunisia).

Yang menarik adalah di Belanda yang bertetanggaan dengan Jerman. Ibrahim Afellay dan Ismail Aissati -PSV Eindhoven- misalnya, melaksanakan puasa secara penuh. Pemain berdarah Marokko itu juga tetap dimainkan saat PSV menaklukkan Bordeaux di Liga Champion (27/9). Saat ini ada sekitar 20-an pemain muslim dari tim junior hingga senior di PSV. Manajemen PSV sendiri sampai perlu mendatangkan imam untuk menerangkan perihal Ramadhan.
(Zulkarnain Jalil, Kontributor Serambi di Jerman)

Friday, October 06, 2006

Catatan dari Hari Mesjid se-Jerman:
Tak Sebatas Kagum, tapi ada yang Ikut Shalat

RASA ingin tahu apa itu Islam menyeruak pada saat berlangsungnya acara Tag der Offenen Moschee (TOM) atau hari masjid se-Jerman, Selasa 3 Oktober 2006 bertepatan dengan hari ke-10 Ramadhan 1427 H.

“Pertanyaan yang banyak muncul berkenaan dengan konflik kekinian seputar masalah terorisme, lalu tentang wanita dalam Islam, jilbab, dan puasa Ramadhan” ujar Mounir Azzaoui, koordinator acara TOM 2006 di markas Zentralrat der Muslime (ZDM), Koln. Azzaoui yang juga jurubicara ZDM menyatakan ada sekitar 800 masjid di beberapa kota di Jerman membuka pintunya bagi para pengunjung, terutama warga Jerman.

Seperti dilaporkan televisi berita Jerman N-TV, Selasa (3/10), sedikitnya 90.000 pengunjung hadir dalam acara yang bertepatan dengan hari libur di seluruh Jerman itu. Kebanyakan para pengunjung baru pertama kali melihat masjid. Umumnya ingin memperoleh info berkenaan kehidupan keseharian seorang muslim.

“Kalau bukan karena kasus teror 11 September 2001 di Amerika, mungkin kami tidak pernah tahu apa itu Islam dan masjid,” ujar Jürgen Kallmann yang datang bersama istrinya mengunjungi Masjid Ayasofya Moschee, di Neuss-Norf, Duesseldorf. Pasangan usia lanjut ini mengaku pertama kali mengikuti acara ini tahun 2001. Sejak saat itulah muncul rasa ingin tahu mereka tentang Islam.

Para pengunjung juga mengagumi arsitektur di beberapa masjid yang tergolong besar. Seperti di Masjid Sehitlik, Berlin yang berasitektur ala Turki. Mereka berkeliling hingga ke atas kubah masjid. Di Masjid Merkez Berlin, Peter Becker -seorang pengunjung- sangat terkesan dengan suasananya. “Seperti sebuah keluarga besar saja”, ujar Becker menyiratkan rasa kagum. Yang menarik adalah di Kota Koln, di sana malah ada pengunjung yang menonton dan bahkan ikutan shalat.

“Islam adalah agama damai, membunuh hal dilarang dalam Islam,” ujar salah seorang pengurus Masjid Sehitlik menanggapi pertanyaan tentang terorisme dan Islam. “Kami bukan penyokong al-Qaida, dan Islam bukan pembawa bencana serta tidak identik dengan peperangan,” urai Talat Kamran di hadapan pengunjung yang menjenguk Masjid Yavuz Sultan Selim, Mannheim.

TOM 2006 merupakan penyelenggaraan yang kesepuluh sejak dilaksanakan pertama sekali tahun 1997. TOM tahun ini terasa lebih berkesan, karena bertepatan dengan bulan suci Ramadhan. Banyak masjid juga ikut mengundang warga Jerman untuk buka bersama.

Di Jerman saat ini umat Islam mencapai 3,5 juta jiwa, atau terbesar kedua setelah Kristen. Sedangkan jumlah masjid di seluruh Jerman menurut data terbaru mencapai 2.300 masjid. Masjid terbesar adalah Yavuz Sultan Selim di Kota Mannheim yang mampu menampung hingga 2.000 jamaah. Di Duisburg dan Koln saat ini sedang dalam tahap perencanaan pembangunan masjid yang mampu menampung 1.200 jamaah. Adapun masjid tertua terdapat di Wilmersdorf, Berlin yang dibangun tahun 1924. (zulkarnain jalil, kontributor Serambi di Jerman). Serambinews (6/10)

Tuesday, October 03, 2006

Buka Bersama di Jerman; Es gefält mir sehr

Buka bersama adalah kegiatan yang rutin dilakukan oleh umat Islam dimana saja berada. Bagi kita di tanah air, pemandangan ini bisa terlihat baik di mesjid, perkantoran, hotel maupun di warung kopi. Ditambah lagi bunyi sirene dan bedug, komplit sudah ciri khas Ramadhan.

Bagi yang tinggal di luar negeri, buka bersama juga menjadi ajang silaturahmi sesama warga muslim di perantauan. Yang lebih menarik adalah kala warga asli yang nota bene non muslim ikut buka bareng.
Es gefält mir sehr (Saya benar-benar terkesan),” ujar Andrea sembari menyantap makanan yang disuguhkan dalam acara buka bersama masyarakat Indonesia di Dresden, sebuah kota indah di pinggiran Jerman Timur.

Andrea dan anaknya Maya adalah warga asli Dresden yang sore itu ingin melihat langsung acara buka bersama. Beruntungnya, saat itu juga hadir Hakim, warga asli Jerman yang sudah tiga tahun memeluk Islam. Terjadilah dialog menarik berkenaan puasa dan Islam Sabtu kemarin (30/9). Saking terkesannya, mereka berdua mengaku ingin mempelajari lebih jauh lagi tentang Islam.

Istilah Ramadhan boleh jadi sudah dikenal oleh warga Jerman. Namun bahwa selama Ramadhan tidak diperkenankan makan dan minum, tidak semuanya tahu. Ediansjah, mahasiswa program doktor di TU-Dresden, suatu hari menolak makanan yang ditawarkan rekannya di kampus seraya mengatakan ia sedang berpuasa. Si teman tampaknya bisa mengerti. Sejurus kemudian si teman menawarkan minuman. Nah kali ia benar-benar terkejut. “Oo, jadi minum juga tidak boleh ya,” ujar sang teman manggut-manggut merasa takjub. Demikianlah yang umum terjadi di Jerman. Minum atau pun merokok mereka kira masih diperkenankan selama Ramadhan.

“Awalnya Ramadan bagi saya juga berat. Kalau ndak makan ok lah. Tapi ndak boleh minum dan merokok ?. Wah, berat juga ya,” tukas Hakim sambil tertawa geer mengenang Ramadhan pertamanya 2003 silam.

Tampaknya Ramadan cukup efektif sebagai sarana mengenalkan Islam bagi warga asli setempat. Sebab itu pula kabarnya Zentralrat der Muslime in Deutschland (ZMD) sebagai wakil organisasi masyarakat Islam di Jerman bermaksud mengadakan buka bersama se-Jerman pada tanggal 3 Oktober mendatang. Warga Jerman non muslim turut diundang mengikuti acara yang rencananya bakal digelar di mesjid-mesjid yang ada di seluruh pelosok Jerman. Menarik untuk ditunggu. (Zulkarnain Jalil, Jerman, Serambi Indonesia 2/10).