Tuesday, September 09, 2008

Pemuda Argentina temukan Islam melalui lirik lagu berbahasa Arab

PENGANTAR. Mariano Ricardo Calle namanya. Dia berasal dari Buenos Aires, Argentina. Sebelum masuk Islam, Mariano menganut agama Katolik Roma. Sejak kecil sudah dibaptis dan tinggal dalam suasana agama Kristen yang taat. “Di masa remaja, aku sempat kena pengaruh narkotika. Itulah saat-saat aku mulai pencarian identitas diri dalam hidup,” kata dia mengenang. Dia terkesan dengan bahasa Arab yang awalnya dikenal melalui lirik-lirik lagu. Akhirnya secara rutin mempelajari bahasa Arab dan Alquran. Dia makin tertarik dengan Islam hingga akhirnya pada Juli 2007 memeluk Islam. Berikut kisah lengkapnya seperti dituturkannya pada situs Readingislam.com dan disadur oleh Zulkarnain Jalil.

öööööööööööööööööööööööööööööööööööööööööööööööööööööööööööööööööööööööö

Aku tinggal dalam keluarga yang menganut paham Katolik Roma. Ajaran Kristen kuterima melalui perantaraan ibu dan nenek. Aku sudah belajar Bibel sejak usia tujuh tahun. Waktu itu aku belajar Bibel khusus untuk anak-anak dalam bahasa Spanyol. Pahlawan favoritku kala itu adalah Nabi Daud dan Nabi Nuh.

Ketika masuk usia sebelas tahun, aku biasa berdoa di malam hari bagi kebahagiaan hidupku. Kadangkala aku menangis tatkala bermunajah dengan Tuhan. Tapi di masa remaja, aku sempat jatuh ke lembah hitam. Kena pengaruh narkotika. Saat itu aku baru masuk usia 21. Itulah saat-saat aku memulai pencarian identitas diri dalam hidup.

Memasuki usia ke-24 aku coba berdoa lebih sungguh lagi. Bahkan aku mengerjakannya sepanjang hari, 24 jam! Masing-masing untuk Tuhan Bapa dan Bunda Maria. Ini kulakukan selama setahun penuh. Tapi ternyata hal itu tidak banyak membantu. Hatiku masih resah.

Tertarik lirik lagu Arab

Persis di penghujung tahun aku mencoba belajar naskah-naskah kuno, tentang piramid dan pada saat yang sama mempelajari bahasa Arab. Bukan tentang tata bahasanya, tapi cuma ingin tahu arti bahasa Arab dari lirik lagu saja.

Aku terkesan sekali dengan bahasa Arab dalam lirik lagu itu. Akhirnya kucoba belajar secara mandiri. Sebuah buku yang kuperoleh lewat internet sungguh sangat membantu. Kesungguhan itu berbuah manis. Dalam dua pekan aku sudah dapat mengucap satu dua patah kata Arab. Alhasil, ketika kucoba ikutan tes di kampus aku langsung ditempatkan di level dua. Wah, hatiku sungguh sangat gembira..

Pernah pada saat ada pameran buku di kota kami, mama memberiku hadiah dua buah buku tentang Islam. Aku suka sekali dan membacanya hingga tuntas. Buku itu sangat menyentuh hatiku. terutama penjelasan-penjelasan tentang sains di dalam Al-Quran. Benar-benar menarik. Yang lebih menarik lagi ketika membaca profil Nabi Muhammad. Benar-benar pribadi idolaku.

Tinggalkan minum alkohol

Aku secara perlahan mulai meninggalkan rokok dan minum alkohol. Pokoknya semua yang berhubungan dengan alkohol kuenyahkan dari kehidupanku. Keputusan itu murni kubuat secara sadar. Bukan karena paksaan agama Islam yang sedang kupelajari. Kala itu, jujur saja, aku tak pernah berniat sama sekali untuk jadi seorang muslim

Waktu terus berjalan. Aku ingin cepat bisa bahasa Arab. Kuputuskan untuk membeli Al-Quran. Tapi guruku memberitahukan di mesjid Palermo, dekat Buenos Aires ada dibagikan Quran secara gratis.

Tanpa menunggu lama, pada hari itu juga aku bergegas ke mesjid untuk meminta hadiah sebuah Al-Quran. Dan, aku belum tahu seperti apa mesjid itu. Pasti sebuah gedung yang menarik dan megah. Dan kenyataannya memang begitu. Menurutku, meski Argentina bukan negara Islam, mesjid itu merupakan gedung terindah di Amerika Latin.

Belajar Alquran

Di mesjid aku berjumpa dengan seorang pria yang kemudian karib terbaikku dalam Islam. Ibrahim namanya. Dia juga memberiku sebuah link di internet hingga aku bisa mendowload Al-quran.

Aku belajar membaca Al-Quran hasil download itu. Aku print per halaman dan kupelajari. Untungnya, terjemahannya ditulis dalam bahasa Spanyol.

Sejak masa kanak-kanak aku sudah menamatkan seluruh isi Bibel sebanyak dua kali. Lalu kitab Gita dari India juga dua kali. Dan, sekarang Al-Quran harus bisa lebih baik lagi. Bahkan targetku harus bisa dalam bahasa Arab. Awalnya keinginanku hanya mau belajar bahasa Arab, tapi hatiku makin tertarik dan tersentuh untuk mempelajari Al-Quran setelah mulai membacanya. Mungkin itu karena aku langsung membaca dari bahasa Arab, disamping menggunakan bantuan kamus tentunya.

Alhamdulillah, aku bisa memperoleh sesuatu yang lain dalam Alquran. Ada bagian-bagian dari isi Quran yang tidak disebutkan dalam Bibel. Makin kubaca makin tertarik dengan Al-Quran. Kebenaran yang tertera di dalam Quran sangat sempurna. Inilah yang kucari-cari. Tak ada seorang pun yang mempengaruhiku untuk belajar Islam. Keinginanku untuk mencari siapa Tuhan telah membawaku ke jalur ini. Terima kasih Allah atas karunia ini!

Bersyahadah

Sejak saat itu aku mulai sering ke mesid. Dan, hanya dalam waktu dua pekan akupun mengucapkan dua kalimah syahadah. Persis tanggal 14 Juli 2007. Imam mesjid, Syeikh Nasir asal Arab Saudi adalah salah satu saksinya.

Tak ada Tuhan selain Allah dan Nabi Muhammad utusan-Nya. Air mataku meleleh membasahi pipi. Aku mulai membaca apa saja tentang Islam guna menambah keyakinanku. Juga belajar bahasa Arab secara intensif di mesjid. Aku belajar aqidah, tauhid, dan berusaha menamatkan bacaan Al-quran. Aku ingin belajar secepat mungkin yang kubisa.

Saat berada di mesjid aku merasakan rasa damai yang tiada tara. Aku, bahkan, pernah ikutan shalat ketika belum bersyahadah. Hanya kepingin tahu saja seperti apa sih rasanya shalat itu. Bagaimana rasanya berdiri di hadapan Tuhan. Begitulah, aku pun belajar tatacara shalat dan Alhamdulillah dalam waktu dua minggu sudah dapat mengerjakannya. Di mesjid pula aku jadi banyak dapat kenalan baru.

Tak mau pacaran lagi

Aku cinta bahasa Arab dan berdoa kepada Allah agar diberikan kemampuan untuk bisa memahaminya dengan cepat. Selama bulan suci Ramadan aku sangat menikmatinya. Inilah pengalaman pertama yang sangat indah. Kurasa 2007 adalah tahun terbaik dalam hidupku. Oya sejak bersyahadah hingga saat ini aku tak pernah tinggal shalat sekalipun.

Nah hal yang sangat sulit bagiku adalah memutus hubungan dengan pacarku. Ya aku memang punya seorang pacar. Tapi aku benar-benar ingin menjalankan perintah Islam dan tak mau pacaran lagi. Akhirnya kutinggalkan dia secara baik-baik. Aku bermohon kepada Allah agar memberiku istri yang baik. Itulah kali pertama aku memohon sesuatu yang khusus kepada Allah.

Aku menceritakan pada kedua orangtua bahwa aku sudah masuk Islam. Ibu sedikit terkejut, namun aku tetap menjaga hubungan dengan keduanya. Aku tetap berkomunikasi dengan baik. Abang tak berkata apa-apa. Dia hanya melontarkan joke-joke lucu. Tapi itu tak masalah bagiku. Kutanggapi dengan joke juga.

Aku kemudian bekerja di sebuah perusahaan. Hari pertama kerja aku langsung menanyakan adakah tempat atau ruangan kecil untuk mengerjakan shalat. Alhamdulillah tak masalah aku diberikan keleluasaan untuk shalat. Hidupku makin hari makin berubah. Sangat indah rasanya, serasa damai. Kujalani hidup dengan senyum. Aku berinteraksi dan bersikap terbuka dengan setiap orang.

Oya reaksi rekan-rekanku macam-macam selepas aku memeluk Islam. Teman-teman karibku semuanya masih beragama Katolik. Kami masih bersahabat hingga kini. Mereka banyak bertanya tentang Islam. Kami sering terlibat diskusi lama dan aku menjawab semampunya. Makin hari pertanyaan mereka makin banyak. Ada seorang karibku yang kelihatannya sangat serius dengan Islam. Ia dan istrinya yang asal Brazil menganut paham Kristen Advent. Semoga mereka dapat petunjuk-Nya. Aku senantiasa berdoa kepada Allah agar dijadikan sebagai instrumen atau penyebab turunnya hidayah bagi orang lain. Terutama bagi kedua orang tuaku.

Perkembangan lain, ibuku kini tak lagi memasak babi. Ibuku rupanya senang dengan perubahan sifatku yang tak lagi minum-minum dan mengkonsumsi narkoba. Hanya saja adikku masih berprasangka buruk padaku. Dia masih mencelaku karena masuk Islam. Semoga mereka segera mendapat hidayah. Amin.

Aku cinta Allah. Kecintaan itu melebihi cintaku pada keluargaku. Aku cinta Nabi Muhammad. Aku mencintainya melebihi cintaku pada semua orang. Dan, aku sangat mencintai agama islam ini.

Alhamdulillah aku telah mendapat kebahagiaan hidup yang selama ini kucari-cari. Bahkan kini aku sedang menyiapkan pernikahan dengan seorang gadis yang dipilihkan oleh Alllah untukku. Terima kasih Allah.

Terpikat suara azan, Tatiana pun pilih Islam

PENGANTAR: Gadis asal Slowakia itu terbuka hatinya kepada Islam selepas mendengar suara azan kala berkunjung ke Kairo, Mesir. “Ketika mendengar suara azan, jujur saja, saya merasakan getaran-getaran aneh dalam hati. Ketika itu saya seakan terhipnotis dan tak mendengar suara lain kecuali suara yang berkumandang melalui menara mesjid itu,” akunya. Sekembalinya ke Slowakia dia memperdalam Islam dengan dibantu muslimah di sana. Bahkan internet juga sangat membantunya dalam mengenal Islam. Alhasil, dia pun memeluk Islam dan kini menjalani hari-hari yang dikatakannya sebagai begitu indah dan nikmat terasa. Itulah Tatiana Fatimah, yang menceritakan kisahnya itu di situs readingislam.com.

Ööööööööööööööööööööööööööööööööööööööööööööööööööööööööööö

“Sejuta kata-kata tak cukup untuk mengekspresikan bagaimana kecintaan saya kepada Allah. Inilah yang saya rasakan saat ini. Islam ibarat darah yang mengalir di sekujur tubuh hingga ke ujung jari saya. Ketika bercakap-cakap dengan Allah di dalam shalat, sangat indah,” kata Tatiana.

“Saya berterima kasih kepada Allah SWT atas hadiah yang sangat berharga ini, yakni menjadikan saya sebagai seorang muslim. Sepanjang hidup kini hanya untuk memuji dan mensyukuri nikmat-Nya,” kata dia lagi.

Suka traveling

Sebelum seperti sekarang, perjalanan Tatiana menuju Islam cukup sederhana dan tidak melewati jalan yang rumit. Kadang dia mengaku sering tersenyum sendiri jika ingat perkenalan pertamanya dengan Islam. “Traveling adalah kesukaan saya. Kami sering bepergian sekeluarga dengan berkunjung ke berbagai negara. Negara-negara muslim telah banyak pula jadi tempat liburan kami,“ akunya.

“Mesir merupakan negara terakhir yang pernah kami kunjungi. Budaya dan segala rupa keunikan masyarakatnya sangat berkesan di hati,“ kenangnya. Di sana pula pertama kali Tatiana bersentuhan secara dekat dengan mesjid. Namun waktu ke sana dia belum sempat masuk ke dalamnya. “Waktu itu saya mengira, karena bukan muslim, dilarang masuk ke dalam mesjid,“ katanya.

“Tapi jujur saya katakan, ketika mendengar suara azan, saya merasakan getaran-getaran aneh dalam hati,“ aku dia. Ketika itu Tatiana seakan terhipnotis dan tak mendengar suara lain kecuali suara yang berkumandang melalui menara mesjid. Dia benar-benar terpikat dengan suara azan. “Yang lebih berkesan lagi adalah tatkala melihat orang-orang yang berkumpul di dalam mesjid, penuh dengan kesan kesatuan dan kasih sayang dikala mendirikan shalat. Hal itu hingga kini masih sangat berbekas dalam ingatan saya,“ katanya lagi.

Tertarik bahasa Arab

“Oya saat itu saya tidak banyak tahu tentang Islam. Sama sekali nol. Berbanding terbalik dengan apa yang telah saya ketahui hari ini,“ kata dia. Tatiana masih ingat, waktu ketika kembali dari Kairo, dia sangat tertarik sekali belajar bahasa Arab. “Secara tiba-tiba bahasa Arab menjadi salah satu bahasa yang paling indah di dunia,“ tukasnya. Sayangnya di kota tempat Tatiana tinggal tidak ada kursus yang menyelenggarakan bahasa Arab. Kala itu cuma ada bahasa Inggris dan Jerman.

Pernah pihak sekolah berencana membuka kelas bahasa Arab. Tapi dibatalkan. “Waktu itu mau masuk puasa Ramadhan. Rupanya sang guru yang berasal dari Arab, mau pulang liburan ke kampung halamannya. Makanya dibatalkan. Tentu saja saya kecewa berat,“ sambung Tatiana.

Beberapa lama dia vakum dari mempelajari bahasa Arab. Namun dia mengaku memang sangat “haus” untuk mempelajari Islam dan bahasa Arab secara lebih mendalam. “Tak lama saya mulai belajar Islam lagi, secara perlahan. Mulai dari awal sekali. Belajar melalui internet. Berbagai website tentang Islam saya telusuri. Begitu juga semua chanel di TV yang menyajikan acara tentang Islam dan muslim tak pernah saya lewati,” tuturnya. Dia juga ikut sebuah forum khusus untuk wanita via internet. Ya melalui internet Tatiana banyak belajar Islam.

Ikut kelas Alquran

Ada juga beberapa warga muslim Slowakia yang membantunya dalam memahami Islam. Pernah satu ketika seorang muslimah asal Kosice memberitahukan akan ada kelas bahasa Arab dan Alquran. Kosice merupakan sebuah region di Slowakia yang memiliki luas wilayah 6.753 km² dan populasi penduduk 766.012 jiwa. Muslimah itu cukup saya kenal wajahnya sebab sering tampil di acara talk show menceritakan tentang Islam dan muslim,” kenangnya.

“Saya tentu saja tak menyia-nyiakan kesempatan itu dan segera mengirim email kepadanya memberitahukan keikutsertaan saya. Kami ketemu sepekan kemudian. Bukan main. Orangnya sangat ramah dan santun sekali. Wajahnya memancarkan kedamaian,” aku Tatiana lagi.

Satu sifat Tatiana, yakni dia selalu berprasangka baik terhadap orang lain. Jadi tak sulit baginya untuk belajar sesuatu yang baru. Tak ada rasa takut tentang die\sebut teroris, misalnya. “Saya belajar dari siapa saja. Saya hadir bersama rekan muslimah tersebut ke kelas bahasa Arab. Tak berapa lama saya punya banyak kenalan baru. Saya hadir secara rutin dan sangat menikmati kelas Alquran,” katanya. Ketika itu dia belum masuk Islam lagi, namun tak menghalanginya untuk belajar Quran. Semua yang ada di kelas sangat respek dan membantu setiap kesulitan yang dihadapinya.

Selepas beberapa bulan kemudian kelas bahasa Arab berakhir. Tapi keakraban di antara mereka telah terjalin begitu kental. Kami sering bertemu. Bahkan sering kami diskusi berjam-jam lamanya. Bagi saya hal itu sangat membantu untuk mengenal kehidupan Islam lebih dalam,” imbuh dia.

Waktu itu Tatiana masih ragu-ragu, antara masuk Islam dan tidak. “Saya masih menghadapi dilema soal itu. Tapi batin saya mengatakan itu bukan hal krusial. Yang paling penting sekarang adalah belajar mengenal dan mencintai Tuhan (Allah).

Saya bertanya kepada kawan-kawan muslimah lainnya, kapan waktu yang tepat (untuk masuk Islam). Mereka secara diplomatis menjawab bahwa tanda itu nanti akan datang dengan sendirinya. Mereka menyebutnya dengan hidayah Allah.”

Keluarga Tatiana berlatar belakang Kristen Katolik. Namun dia mengaku tak ada seorang pun yang membimbingnya belajar agama. Praktis sejak kecil dia tak menganut agama apapun. “Ibu memberikan kebebasan bagi saya untuk memilih keyakinan. Dia tak memaksa. Semua terserah saya. Keluarga saya bahkan tak pernah pergi ke gereja,” katanya berterus terang Namun Tatiana mengaku, di antara anggota keluarga yang lain dialah yang lebih “alim”. “Saya merasa Tuhan itu ada dan dekat sekali.”

Waktu berlalu dan semuanya berjalan biasa saja, tak ada kejutan yang berarti. Saban hari Tatiana berdoa supaya Tuhan beri petunjuk kepadanya untuk jadi seorang muslim.

Debar aneh

Pas musim panas Tatiana menghabiskan waktu liburannya di rumah nenek. Selepas liburan dan kembali ke rumah dia merasakan sesuatu yang lain dalam hati. Sesuatu yang amat “spesial“ itu hadir secara tiba-tiba. Spontan Tatiana teringat dengan kata-kata teman muslimahnya:”Satu saat kamu akan dapatkan petunjuk dari-Nya.“

Entah mengapa saya persis seorang anak kecil yang baru mendapatkan sesuatu. Mendadak saya merasakan gairah yang hebat untuk segera menjadi seorang muslim. Tuhan serasa membimbing saya,” aku dia. Tatiana benar-benar ingin segera dekat dengan Yang Kuasa.

Dia percaya kebenaran telah datang. Allah telah kirimkan kepadanya. Tekad Tatiana sudah bulat. Dia tidak ragu-ragu lagi untuk memeluk Islam. “Saya yakin pilihan saya benar adanya. Jika Anda tanya kenapa, saya tak mampu menjawabnya. Tapi saya yakin dengan sinyal ini,” tukas Tatiana.

Bersyahadah

Tatiana memberitahukan rekan muslimah yang pertama kali membimbingnya. “Tak berapa lama saya pun bersyahadah. Rekan-rekan memeluk saya dengan penuh kasih sayang. Saya merasa seperti “orang baru” di dunia ini. Seperti dilahirkan kembali. Menurut Alquran semua dosa-dosa masa lalu dihapuskan. Bak kain putih, tak ada noda lagi. Saya sudah siap untuk menjalani kehidupan baru ini,” kenangnya.

Pada awal keislaman, dia semakin banyak bertanya terutama hal-hal yang prinsipil dalam Islam. “Saya ingin tahu apa saja, dari nol. Jujur saja, keinginan untuk belajar sangat menggelegak ketika itu. Islam benar-benar telah “membangunkan” kehidupan baru bagi saya. Saya inginnya mendapat semua informasi, dari hukum-hukum hingga sejarah Islam dan bermaksud meneruskannya ke koleganya yang lain,” kata dia penuh obsesi.

Belajar shalat

Oya usaha pertama saya untuk shalat sangat amatiran sekali. Tapi semuanya benar-benar keluar dari hati, bukan paksaan,” kenang dia. Ketika baru pertamakali belajar, dia menulis semua tatacara shalat di secarik kertas. Begitu juga dengan ayat Alquran, ditulisnya di secarik kertas. Jadi dia membaca “contekan“ di kertas tersebut sembari shalat. Bukan main. “Tahu tidak, sekitar tiga minggu kemudian saya sudah bisa mengerjakan shalat tanpa bantuan kertas itu lagi,” ujarnya senang.

“Saya selalu berdoa kepada Allah agar dimudahkan dalam belajar Islam,” tukasnya.Islam agama yang sangat indah, “ kata dia lagi.

Di akhir penuturannya, dia berharap dapat terus dekat dengan Allah dan melakukan segala hal semata-mata karena perintah-Nya. “Menghindari larangannya, lalu memperlihatkan dan memberi contoh budi pekerti yang baik kepada orang lain. Hanya dengan cara itu kita bisa tunjukkan Islam yang sebenarnya,” tutupnya. (Zulkarnain Jalil)

Ada makanan halal di Olimpiade Beijing

Tak ada yang menduga sama sekali, ternyata panitia olimpiade kali ini cukup aspiratif dengan kalangan atlet beragama Islam. Catat saja, rupanya selama olimpiade dihelat pemerintah Cina telah membangun lebih dari 200 outlet khusus yang menyediakan makanan halal bagi atlet muslim. Seperti diekspos Islamonline kebijakan itu tak hanya berlaku bagi para atlet dan ofisial saja, tapi penonton yang beragama Islam juga dapat menikmati sajian itu.

“Sekitar 32 milyar Yuan telah dialokasikan untuk membuat outlet makanan halal tersebut,” kata Wu Shixiong, salah seorang panitia setempat. Disebutkan Wu, pengunjung muslim dapat dengan mudah mendapatkan makanan halal itu di berbagai tempat di Beijing. “Outlet tersebut dibuka di kawasan keramaian seperti bandara, stasiun kereta api, terminal, pusat perbelanjaan hingga perkampungan atlet,” kata Wu, yang juga anggota dewan kota komisi pengawasan makanan dan kesehatan pemerintah kota Beijing.

Saat ini diprediksi ada sekitar 10.000 atlet muslim, pelatih, dan official dari berbagai negara berada di Beijing selama perhelatan olimpiade ke-17 itu. Ditambah ribuan pendukung muslim lainnya juga berkumpul di Beijing.

Training keagamaan

Tak hanya itu, polisi juga diberikan semacam training khusus tentang kehidupan dan etika keagamaan. "Training dimaksud dapat membantu polisi lebih mengenal orang asing, membuat mereka merasa aman dengan menaruh respek tinggi bagi pemeluk agama tertentu,” kata Yang Tao, salah seorang trainer kursus. Dalam training dijelaskan antara lain sejarah Islam, kebiasaan hidup dan keyakinan seorang muslim.

Panitia bekerjasama dengan pemimpin agama setempat untuk membantu pelaksanaan keagamaan bagi orang asing selama perhelatan Olimpiade. Bahkan panitia juga menyediakan kita suci Al-Quran di setiap hotel yang ada tamu beragama Islam. Cina memiliki populasi penduduk muslim sekitar 20 juta jiwa. Mayoritas berdiam di daerah otonomi khusus Xinjiang dan Ningxia.

Muslimah pertama di IOC

Sementara itu peraih medali emas olimpiade asal Maroko Nawal Elmutawakel menjadi muslimah pertama yang duduk di jajaran komite olimpiade internasional (IOC). Ia terpilih setelah menyisihkan beberapa calon lainnya. Dia duduk sebagai Wakil Presiden IOC yang ditinggalkan Gunilla Lindberg asal Swedia karena habis masa jabatan.

“Saya sangat bangga dan senang bisa jadi bagian dari sebuah keluarga besar induk olahraga dunia ini,” tukas Nawal selepas terpilih pada 7 Agustus 2008 lalu. Kini Nawal duduk bersama 14 anggota dean kehormatan lainnya yang memiliki tanggungjawab menyusun agenda olimpiade.

Nawal yang lahir April 1962 mencetak sejarah bagi Maroko di lintasan atletik pada Olimpiade 1984 saat mana dia meraih medali emas di nomor 400 meter lari gawang. Raja Maroko kala itu, Muhammad VI memberinya sebuah penghargaan unik. Semua bayi perempuan yang lahir persis pada tanggal Nawal merebut medali emas musti diberikan nama depan Nawal. (Zulkarnain Jalil)