Friday, October 26, 2007

Der Panzer Akhirnya Runtuhkan Mitos

Glueckwunsch, Jogi! Selamat, Jogi!. Itulah bunyi headline harian beroplah tinggi Bild edisi online, Minggu (14/10). Ya, tak salah lagi Jogi adalah nama panggilan Joachim Loew, pelatih timnas Jerman. Ucapan itu memang pantas diterima Jogi. Pasalnya der Panzer menjadi tim pertama yang lolos ke putaran final Piala Eropa 2008 Austria-Swiss. Kendati malam itu hanya bermain imbang (0:0) di kandang Irlandia, akan tetapi poin mereka tak mungkin dikejar Republik Ceko, peringkat kedua.

Sukses lainnya, tak tanggung-tanggung Tim Panser berhasil meruntuhkan mitos yang telah bertahan selama 24 tahun atau sejak tahun 1982! Bunyi mitos atau lebih layak disebut kutukan itu adalah; juara ketiga Piala Dunia selalu gagal lolos kualifikasi Piala Eropa. Tidak percaya? Coba simak catatan sejarah berikut.

Piala Dunia 1982 yang digelar di Spanyol menempatkan Polandia sebagai juara ketiga. Kala itu di tim Polandia masih bercokol nama-nama besar seperti Boniek dan Lato. Akan tetapi Boniek dkk terpaksa gigit jari. Mereka gagal menembus babak kualifikasi hingga memupus ambisi menuju Perancis, tuan rumah Piala Eropa 1984.

Korban berikutnya adalah Perancis yang merupakan juara ketiga Piala Dunia “Maradona” 1986 di Meksiko, Perancis yang masih dipimpin Michel Platini juga tergusur saat kualifikasi dan absen di putaran final Piala Eropa 1988 di Jerman Barat.

Kutukan belum usai, nama besar Italia yang juara ketiga Piala Dunia Italia 1990 tak mampu mencapai Swedia, penyelenggara Piala Eropa 1992. Celakanya, Swedia –juara ketiga Piala Dunia 1994 Amerika Serikat, jadi korban selanjutnya. Negara tempat Hasan Tiro bermukim itu turut mencicipi mitos alias gagal lolos ke putaran final Piala Eropa 1996 yang berlangsung di Inggris.

Kroasia yang merupakan juara ketiga Piala Dunia 1998 Perancis, gagal meraih tiket ke putaran final Piala Eropa 2000 yang digelar pertama kali secara bersama oleh Belanda dan Belgia. Terakhir Turki, juara ketiga Piala Dunia 2002 Korea-Jepang, juga gagal lolos kualifikasi Piala Eropa 2004 Portugal. Pertanyaan yang muncul di kemudian hari, akankah Jerman yang juara ketiga Piala Dunia 2006 di tanahnya sendiri jadi korban berikutnya?

Tanggal 14 Oktober 2007 kemarin Bastian Schweinsteiger dkk berhasil menjawab pertanyaan berat tersebut. Mereka sukses mengubur mitos sekaligus mencatat sejarah baru. Jadi sangat pantas jika anak asuh Loew merayakannya bak sudah jadi jawara saja.

The winning team

Prestasi Loew sendiri yang menangani timnas sepeninggal Klinsmann boleh dibilang lumayan mengkilap. Selama memimpin Ballack cs, dari 15 pertandingan (persahabatan dan kualifikasi Piala Eropa) anak asuhnya meraih 12 kali kemenangan, 2 kali seri dan hanya sekali kalah. Tak pelak, petinggi DFB (PSSI-nya Jerman) pun spontan menyodorkannya kontrak baru untuk dua tahun berikut.

Selepas kemenangan telak 3:1 melawan Rumania dalam laga persahabatan bulan September silam, Jogi tetap mempertahankan the winning team-nya. “Muka baru” yang dipasang barangkali cuma Torsten Frings. Veteran Piala Dunia 2006 itu menempati posisi Hitzlsperger yang dibekap cedera. Kembalinya Frings, selepas istirahat panjang dari cedera, terbukti mampu menutup lubang di lini tengah. Barisan pertahanan pun bisa bernapas sedikit lega. Apalagi malam itu Jens Lehmann bermain cukup cemerlang di bawah mistar gawang.

Jerman Barat

Partai ini berlangsung lumayan panas. Buktinya, pada menit ke-12 Bastian Schweinsteiger musti keluar lapangan. Pasalnya, ia mengalami benturan kepala cukup keras dengan pemain Irlandia, Kilbane. Akibatnya Schweini mendapat tujuh jahitan di kepalanya.

Nah ada kejadian menarik tatkala pengumuman pergantian pemain antara Schweini dengan Rolf. “Pergantian di kubu Jerman Barat!,” demikian bunyi pengumuman itu. Beberapa detik kemudian, menyadari kesalahannya, sang anounser (pembaca pengumuman-red) segera meralat menjadi “Jerman” saja. Kontan stadion bergemuruh oleh tawa gerr sekitar 67.000 penonton yang berdesak-desakan. Si pembaca pengumuman tampaknya sangat menikmati pertandingan hingga ia lupa bahwa Jerman kini telah bersatu. (zulkarnain jalil).

Muslim Indonesia se-Jerman Silaturrahmi Jelang Ramadhan

Bagi yang pernah merantau tentu pernah merasakan bagaimana tersiksanya perasaan kala pisah dengan orang tua, sanak keluarga dan orang-orang yang dicintai. Jauh di rantau tentu saja bikin yang namanya rindu kampung halaman atau homesick membuncah, konon lagi pas puasa Ramadhan.

Namun “penyakit” itu tak perlu dipendam lama-lama. Banyak media bisa diciptakan guna mengurangi rasa rindu. Seperti yang dilakukan oleh Forum Komunikasi Masyarakat Muslim Indonesia di-Jerman atau Forkom. Sabtu lalu (8/9) mereka kumpul-kumpul sesama muslim Indonesia se-Jerman dalam acara yang mereka beri nama SALAM singkatan dari Silaturahim Masyarakat Muslim Indonesia se-Jerman.

Hajat besar itu biasa diadakan setiap tahun oleh Forkom. Kebetulan tahun 2007 ini bertepatan dengan datangnya bulan suci Ramadhan. Tahun ini kota Darmstadt ditunjuk sebagai tuan rumah. Tentu saja bukan asal tunjuk. Kumpulan pengajian muslim yang ada di setiap kota di Jerman terlebih dahulu mengadakan pertemuan antar pengurus atau Muktamar Forkom.

Darmstadt, kota berpenduduk 140.203 jiwa dan tempat industri kimia E-Merck bermarkas, Sabtu kemarin dibanjiri lebih dari 200-an warga muslim Indonesia dari berbagai kota seperti Berlin, Hamburg, Muenchen, Aachen, Hannover, Goettingen, Kassel, Nuermberg dan kota-kota lainnya. Pada Salam tahun ini IKID (Ikatan Keluarga Islam Darmstadt), yang secara mandiri melaksanakan kegiatan tahunan Forkom tersebut, mengusung tema “Kembali kepada Islam”. Seperti dilansir situs resmi Salamdarmstadt, selain forum silaturrahmi juga diisi dengan ceramah agama.

Sebuah Talk Show bertema “Kembali kepada Islam” barangkali adalah acara yang paling mengesankan. Betapa tidak, dalam forum itu dihadirkan muallaf Jerman yang menceritakan ihwal ketertarikannya dengan Islam. Misalnya ada Daniel Ibrahim Gremer dari IIS Darmstadt (Islamische Informations- & Serviceleistungen e.V), lalu Muhammad Siddiq (Haus des Islam). Tak kurang tokoh muslim Indonesia di Jerman juga turut hadir, seperti Mochsen Ali Sjawie (Hamburg) Abdul Qadir (Darmstadt) dan M. Nasser Balfas (Hamburg). Mendengarkan kisah mereka hingga tertarik dengan Islam seakan memberi semangat baru bagi kita yang telah sekian lama “beragama” Islam.

Nah bagi yang kangen makanan khas tanah air peserta bisa menikmati berbagai panganan yang disajikan pada Tour Jajanan Khas Nusantara di arena bazaar. Menurut informasi, Salam tahun ini panitia memang tidak menyediakan komsumsi secara langsung. Artinya setiap peserta dipersilahkan jika ingin membawa makan sendiri. Namun panitia menyediakan bazaar makanan. Dengan bazaar ini para peserta Salam dapat memilih jenis makanan yang disukainya. Tentu saja dijual dengan harga yang terjangkau oleh peserta yang sebagian besar adalah mahasiswa.

Jenis makanan pun beragam. Untuk sarapan panitia menyediakan: lumpia, donat, lalu ada bubur sumsum, bolu, aneka gorengan seperti bakwan dan risoles. Nah makan siangnya tersedia Pempek Palembang, Siomay dan Batagor Bandung, Batagor Riri, Batagor Kingsley, hingga Comro (sejenis oncom). Tidak ketinggalan, minuman khas Bandung ikut juga hadir menghangatkan tenggorokan misalnya Bandrek Braga Bandung dan Sop Buah. Bahkan ada juga makanan khas dari pulau Lombok yaitu Ayam Taliwang. Ayam bakar yang disajikan dengan sambal khas daerah Lombok ini memang memiliki rasa yang beda dengan ayam bakar biasa. Masih belum kenyang ? Bisa coba lagi nasi campur, lontong sayur dan mie ayam.

Menariknya lagi, panitia juga menyediakan arena khusus bagi anak-anak. Jadi bagi yang bawa anak pun bisa mengikuti berbagai acara Salam dengan tenang. Pasalnya, panitia ternyata juga sudah mempersiapkan program khusus untuk anak-anak. Banyak sekali jenis permainan yang ditawarkan Sehingga para bocah bisa saling bersenda gurau dengan sesamanya. Bosan dengan permainan bisa juga ikutan nyanyi dengan tembang-tembang menarik yang disenandungkan bersama-sama. Yang senang melukis bisa mengikuti lomba menggambar. Bisa dikatakan Salam kemarin memang arena berbagi kegembiraan segala usia, dari anak-anak hingga orang tua.

Forkom sendiri boleh disebut sebagai satu-satunya organisasi yang mempersatukan berbagai kalangan muslim Indonesia di Jerman. Tak pandang dari kalangan dan kelompok mana berasal. Forkom didirikan di Karlsruhe tahun 1994 silam atas prakarsa beberapa mahasiswa muslim Indonesia yang sebagian besar merupakan penerima beasiswa DAAD dari Pemerintah Jerman.

Forkom merupakan forum komunikasi lintas pengajian muslim Indonesia se-Jerman, dimana para anggotanya tidak terikat secara organisatoris, melainkan diikat bersama dalam rasa kecintaan terhadap Allah, Rasul, Islam dan Umat. Selain kegiatan SALAM, ada juga acara tahunan lainnya seperti safari ustadz (didatangkan dari Indonesia), pengajian antar kota, training ke-Islaman, dan PRIMA (Pekan Olahraga Insan Beriman). Prima mungkin hampir mirip Salam dari segi jumlah peserta. Prima diadakan dengan maksud untuk membentuk karakter Islam yang sehat, kuat dan berkualitas. Kota penyelenggaranya juga berpindah-pindah.

Forkom yang tergabung dalam ISF (Indonesian Solidarity Foundation) juga ikut serta dalam upaya recovery Aceh pada saat musibah tsunami melanda dengan menggalang dana bantuan bagi korban yang diadakan baik di kampus, mesjid hingga di jalanan dengan cara mengamen serta berbagai jenis kegiatan sosial lainnya.

Begitulah, andil muslim pendatang –salah satunya Indonesia- sangat kentara bagi perkembangan Islam di negeri Panser. Sebagai catatan, dari sekitar 3,5 juta pemeluk Islam di Jerman adalah para imigran. Dan sekitar 300 ribu pemeluk Islam berkewarganegaraan Jerman. Diperkirakan hampir setiap saat ada warga Jerman yang memeluk Islam. (zulkarnain jalil)

Umat Islam Denmark Jenguk Pasien di Hari Raya

Ada banyak cara untuk merayakan Idul Fitri. Namun terobosan yang dilakukan oleh umat Islam di Denmark sangatlah berbeda. Bagi muslim Denmark, Idul Fitri adalah saat yang baik untuk berbagi kebahagiaan dengan para pasien yang terbaring lemah di rumah sakit. Itulah yang dilakukan mereka. Persis di saat warga muslim lainnya berbagi kegembiraan dengan sanak keluarga, maka umat Islam Denmark mengunjungi rumah sakit dan memberikan secercah harapan kepada para pasien agar mereka cepat sembuh.

Menurut situs Islamonline (13/10) yang melansir berita tersebut, mereka tak lupa menyelipkan sekuntum bunga berisi pesan:”Umat Islam peduli dengan semua warga kota tak peduli apa agama mereka.”

"Kami sengaja membuat program yang tidak lazim ini. Di hari lebaran, banyak relawan muslim menjenguk pasien di rumah sakit," ujar Mohamed Fouad Al-Barazi, Ketua Liga Muslim Denmark.

"Misi kami adalah memberikan mereka secuil rasa bahagia serta membuat mereka tersenyum kembali. Yang kami kunjungi bukan hanya pasien muslim, non muslim pun kami sambangi,” imbuh Al-Barazi.

Barazi mengatakan bahwa upaya itu sangat membantu dalam merubah imej buruk tentang Islam di Denmark dan Eropa umumnya. "Hal itu telah meninggalkan kesan yang sangat impresif,” ujarnya lagi, seraya menambahkan bahwa perilaku atau akhlak mulia adalah salah satu kunci terbaik dalam memperkenalkan Islam. "Kebanyakan warga Denmark memeluk Islam karena Islam memberikan perhatian terhadap hal kemanusiaan, tidak sebagaimana opini yang dimunculkan secara sepihak oleh sebagian media Barat," tukas Barazi.

Idul Fitri di Denmark jatuh pada hari Jumat (12/10). Selepas shalat ‘Id seperti biasanya ada acara perayaan, apakah itu berupa acara pentas seni budaya, permainan, pemutaran film, dan lainnya lagi. Saling berkunjung ke rumah orang tua dan karib kerabat adalah hal biasa dilakukan dan telah mentradisi. Secara tradisional, semua orang mengenakan baju baru, khususnya anak-anak akan mendapat aneka hadiah baik dari orang tua maupun saudara. Inilah kebiasaaan unik yang membedakan perayaan lebaran di Tanah Air.

Tradisi memberikan bingkisan bagi anak di hari lebaran menjadi sangat penting terutama bagi yang tinggal di kalangan minoritas muslim. Sebab kebiasaannya, anak-anak selalu menerima hadiah di sekolah di saat perayaan Natal. Nah, sang anak perlu juga tahu bahwa Islam pun punya hari besar yang layak diperingati.

Barazi mengatakan sejak pagi-pagi sekali jamaah telah datang dalam rombongan-rombongan besar.”Mereka datang bersama seluruh anggota keluarga. Selepas shalat kebanyakan anak-anak mencari kehangatan dalam pelukan orangtuanya. Anak-anak juga diberikan hadiah dan oleh-oleh setelah acara shalat Ied usai,” tutur Barazi.

Sumbangan dana

Umat Islam di Denmark tak mau ketinggalan dengan memanfaatkan momen Idul Fitri sebagai ajang untuk mengumpulkan dana bagi umat Islam di seluruh dunia. "Hampir dapat dipastikan sebagian besar umat Islam di sini mendapatkan penghidupan yang layak. Karena itu zakat fitrah yang berhasil kami kumpulkan digunakan untuk membantu umat Islam di belahan dunia yang lain yang lebih menderita dan membutuhkan uluran tangan saudara-saudara mereka yang berkelebihan secara materi," ungkap Barazi.

"Saban tahun kami bisa mengumpulkan zakat fitrah hingga 70 ribu US Dollar (sekitar 630 juta). Dana yang terkumpul itu kami transfer kepada fakir miskin, yatim piatu, hingga para janda papa yang ada di berbagai tempat, terutama di negara-negara mayoritas muslim," lanjut Barazi. Misalnya saja tahun 2006 lalu umat Islam di Denmark mengirim bantuan sebesar 21 ribu US Dollar guna membantu warga miskin di Iraq.

Begitupun, para pimpinan organisasi Islam di Denmark menyarankan agar bantuan mencapai sasaran, ada baiknya bantuan diberikan melalui organisasi kemanusiaan yang dapat dipercaya. Hal tersebut semata-mata untuk menghindari penyelewengan.

"Kami mohon agar setiap organisasi kemasyarakatan dapat membuktikan bahwa mereka punya izin dari pemerintah setempat. Sehingga kami dengan sendirinya yakin dana bantuan tersebut tidak digunakan untuk kepentingan pribadi," tegas Barazi.

Di Denmark saat ini bermukim sedikitnya 200.000 minoritas muslim. Jumlah ini sekitar 3 persen dari total populasi penduduk sejumlah 5.4 juta jiwa. Islam di negeri yang terkenal dengan dongeng penuh legenda H.C. Andersen itu merupakan agama terbesar kedua setelah Protestan.

Ada catatan menarik dimana akhir-akhir ini minat warga Denmark untuk mempelajari Islam tergolong tinggi. Bahkan uniknya, sebagaimana dikutip dari situs Alsofwah, Natal tahun 2006 silam Al Quran termasuk salah satu hadiah favorit.

Masih menurut Alsofwah, surat kabar ‘Kristeligt Dagblad’ menyebutkan sekitar 5000 Al Qur’an terjemahan habis terjual sepanjang Desember 2006. Ini berarti sekitar separuh dari cetakan pertama mushaf terjemahan terbitan Pan De Kusnten. Jadilah Al Quran sebagai produk best seller di Denmark kala itu.

Banyak pengamat menyebut bahwa pasca krisis kartun pelecehan Nabi Muhammad, Islam mulai mendapat perhatian masyarakat Denmark. Bahkan tidak sedikit dari mereka yang kepincut dan akhirnya memeluk Islam. Seperti telah diketahui, koran Jyllands-Posten edisi September 2005 mempublikasi 12 karikatur berisi gambar kartun yang melecehkan Nabi Muhammad. Namun saat ini situasinya jadi lain, malah banyak media massa yang menyediakan halaman khusus berupa informasi seputar Islam.

Catatan Danish Broadcast Corporation News (DBC), saat ini sedikitnya ada 5000 warga asli Denmark yang telah memeluk Islam. DBC sendiri merupakan situs pemerintah Denmark pertama yang menyediakan halaman khusus tentang Islam. Bahkan sebelumnya, DBC juga meluncurkan program radio bertema serba serbi agama Islam. Program tersebut berisi tentang kehidupan umat Islam sehari-hari, ajaran-ajaran dalam Islam hingga isu-isu aktual seperti jihad, pendidikan dan integrasi. Tak hanya itu, mereka juga menyiarkan wawancara dengan para pemuka umat Islam di Denmark.

Muslim di Denmark secara umum bisa dikategorikan ke dalam tiga kelompok utama. Yakni pekerja asing, pencari suaka politik, dan mereka yang menikah dengan penduduk tempatan. Patut dicatat, warga muslim dari golongan pencari suaka politik menduduki peringkat pertama yang mencapai 40 persen dari total umat di sana. Begitulah! (zulkarnain jalil).

Software Panduan Makanan Halal/Haram

Hidup di negara-negera Barat tentu butuh kehati-hatian dalam memilih makanan. Meneliti kehalalan makanan sebelum membeli adalah sangat diutamakan. Biasanya konsumen muslim musti menghafal kode-kode tertentu yang tertera pada bungkusan makanan. Misalnya kode E-471, bahan aditif yang mengandung lemak babi.

Namun kini konsumen muslim mendapatkan kemudahan dengan adanya software khusus yang dapat memberikan informasi makanan halal atau tidak. Software ini diberikan secara cuma-cuma dan dapat didownload melalui situs Islamicfinder. Setelah program tersebit terinstal ke handphone, maka jika satu ketika Anda berbelanja dan melihat kode tertentu pada daftar kandungannya, Anda tinggal menuliskan kode tersebut kemudian program akan memberikan informasi Cari daftar kandungan/ingredient atau e-Code (kode bahan pengemulsi) untuk mengetahui apakah halal atau haram. Software yang berbasis program Java itu. (Zulkarnain Jalil)

Halal Food Guide for Mobiles

Sarkozy buka bersama muslim Perancis

PARIS – Presiden Perancis Nicolas Sarkozy seakan mengirimkan isyarat penting kepada minoritas Muslim di sana setelah ia secara mengejutkan menghadiri sebuah jamuan buka puasa bersama di Mesjid Agung kota Paris yang berlangsung Senin kemarin (1/10). Dilansir Islamonline (2/10), dalam forum itu ia secara terbuka menyatakan komitmennya untuk melindungi hak-hak muslim di negara yang menganut paham sekuler itu.

“Saya akan berada di samping Anda,” ujar Sarkozy di hadapan jamaah mesjid tertua di Paris yang dibangun tahun 1926 itu. "Saya tidak akan mengkhianati komitmen yang telah saya buat untuk melindungi Islam di Perancis,” imbuh Sarkozy lagi.

Sarkozy menyatakan bahwa pemerintahannya sangat serius meningkatkan hubungan integrasi dengan masyarakat muslim di negara mode dunia itu. Bahkan beberapa pejabat penting di pemerintahannya juga ikut dalam acara yang terhitung langka itu.

Selepas terpilih sebagai Presiden, Nicolas Sarkozy memang sempat bikin kejutan setelah ia secara berani menunjuk Rasyidah Dati sebagai Menteri Hukum di kabinetnya. Rasyidah Dati yang keturunan Maroko merupakan muslimah pertama yang menduduki jabatan penting di peta perpolitikan Perancis yang menganut paham sekuler.

Penunjukan Dati kala itu memupus kekhawatiran banyak pihak yang menilai Sarkozy sebagai rasis. Imigran di Perancis pasti tak pernah lupa dengan kata “sampah” yang diucapkan Sarkozy kepada para imigran tahun 2005 silam. Saat itu ia masih menjabat Menteri Dalam Negeri. Kala itu Perancis dilanda kerusuhan rasisme terburuk sepanjang sejarah negara berpenduduk 60 juta jiwa itu.

Kenapa Sarkozy berani menunjuk Dati? Karena Dati dianggap dekat dengan para imigran. Dukungan suara yang mengalir dari kalangan imigran kepada Sarkozy sewaktu pemilu yang baru lalu tidak luput dari andil Rasyidah Dati.

Kini dengan jumlah umat Islam 5 juta jiwa dari 60 juta penduduknya, Perancis tercatat sebagai negara dengan populasi muslim terbesar di Eropa. Kedatangan muslim pertama ke Perancis adalah ketika Perang Dunia I, kala Perancis butuh banyak buruh untuk membantu proses rekonstruksi pascaperang. Banyak pekerja yang datang berasal dari kawasan Afrika Utara (Aljazair, Marokko, Tunisia) yang merupakan bekas jajahan Perancis. Migrasi berikutnya terjadi di tahun 1960-an , selanjutnya tahun 1970-an.

Ada catatan menarik di awal 2006 silam. Kala itu permintaan akan Al-Quran meningkat tajam. Demikian pula dengan buku-buku tentang Islam. Masyarakat Perancis ingin tahu apa itu Islam. Minat yang tinggi ini mencuat selepas adanya kasus karikatur Nabi Muhammad yang menghebohkan dunia Islam.

Generasi muslim Perancis saat ini merupakan generasi ketiga. Konfrontasi Perancis dengan Islam bermula saat diberlakukannya UU larangan jilbab tahun 2004 silam. Sejak itu hubungan Pemerintah dengan warga muslim sedikit terganggu. Tentunya melalui buka bersama Senin kemarin itu diharapkan gangguan hubungan dapat sedikit mencair. (zulkarnain jalil)

Rencong Bekas Laku Terjual di eBay

Sebilah rencong dan pisau bekas khas Aceh laku terjual via rumah lelang online eBay cabang Australia. Kedua benda tradisional Aceh itu dilelang dengan harga akhir tertinggi US$170,07 (sekitar 1.7 juta Rupiah). Sedangkan harga bukanya adalah US$125 (sekitar 1,25 juta Rupiah) dengan masa penjualan berlangsung sepekan dari 11 hingga 18 Januari 2007.

Dari situs eBay tersebut diketahui ternyata penjual tinggal di Rotterdam, Belanda. Menariknya sang penjual menulis Sikin Aceh untuk menamai pisau bekas sepanjang 72 sentimeter itu. Tampaknya lelang benda khas itu kurang menarik minat pembeli. Bisa jadi karena tidak begitu populer. Ini diketahui dari jumlah penawar hanya enam orang. Jika menilik foto yang ditampilkan di halaman situsnya tampak kedua benda itu lebih berkesan barang bekas ketimbang benda purbakala dan bersejarah.

Si penjual yang berinisial Mandaukudi terdaftar sebagai anggota eBay cabang Belanda sejak 28 Oktober 2003 dan memiliki tingkat kepercayaan sempurna (100%). Namun tidak ada data yang bisa dilacak apakah ia seorang warga Aceh atau bukan.

Rumah lelang eBay kini memang jadi fenomena. Cabangnya kini ada di seluruh dunia. Sistem jual belinya berlangsung secara online via internet. Uniknya pembeli tidak mengenal secara langsung si penjual barang. Kepercayaan, hanya itu andalan sistem jual beli ini. Data prosentase tingkat kepercayaan penjual selalu tertera dan di-update setiap saat di halaman situs eBay. (Zulkarnain Jalil)

NOSTALGIA RAMADHAN DI NEGERI PANSER

Catatan: Zulkarnain Jalil

Ramadhan merupakan saat yang senantiasa ditunggu-tunggu. Tidak saja di Tanah Air, namun juga muslim di seantero dunia. Bagi yang pernah merantau, konon lagi di luar negeri yang minoritas Islam, sangat banyak kenangan indah yang bisa dikenang. Tahun ini merupakan Ramadhan pertama saya di nanggroe Aceh setelah hampir empat tahun berpuasa di rantau, yakni di Jerman. Sekedar berbagi pengalaman, berikut ini merupakan catatan nostalgia selama menjalani Ramadhan di negeri Panser.

-------000--------

``Jadi minum juga tidak boleh ya ? Wah, kalau saya bisa meninggal``, ujar teman sekerja saya warga Jerman sembari tersenyum, menanggapi puasa Ramadhan yang sedang saya jalani. Hari-hari berikutnya sang teman ini selalu meminta maaf jika akan makan di depan saya. Sebagai upaya menghormati, barangkali.

Penggalan cerita di atas mungkin tidak akan pernah kita dapati di tanah air. Hal tersebut menjadi wajar untuk kasus puasa di negara yang minoritas muslim. Namun secara umum kalangan non-Muslim Jerman dapat memahami aktivitas yang sedang kita jalani ini. Dari cerita beberapa rekan mereka memang menaruh hormat pada muslim yang berpuasa. Hanya saja mereka tidak tahu bahwa selama Ramadhan dilarang makan dan minum. Jadi jangan heran jika suatu saat Anda ditawari makanan atau minuman, kendati mereka sudah tahu Anda sedang berpuasa.

Puasa lebih singkat

Bulan September-Oktober merupakan masa tibanya musim gugur di belahan bumi bagian Utara yang berjalan singkat. Sinar matahari hanya sedikit memancarkan kehangatannya. Tiupan angin di musim gugur lumayan kencang. Dinginnya menusuk. Daun yang telah menguning jatuh berguguran menutupi jalanan, pekarangan dan taman-taman, menambah indahnya suasana kota.

Di musim dingin, waktu siang menjadi lebih pendek. Puasa menjadi tidak terasa, apalagi dengan kesibukan di kampus, tanpa disadari waktu berbuka sudah tiba. Sementara bila puasa di musim panas waktunya lebih panjang, terkadang bisa sampai 18-20 jam. Disamping itu Ramadhan di musim panas tantangannyapun lebih besar, karena umumnya warga Jerman memakai pakaian seadanya, sehingga membuat kita yang berpuasa harus banyak-banyak beristighfar.

Sebagaimana di Indonesia yang selalu menunggu pengumuman dari majelis hisab setempat, maka di Jerman pun demikian, maklumat dari Majelis Pusat Islam Jerman (Zentralrat der Muslime in Deutschland) selalu menjadi rujukan. Pengumuman ini bisa diakses melalui internet ataupun per telepon. Jadwal imsakiah juga tersedia di mesjid.

Menjalankan ibadah puasa di negeri yang tidak ada nuansa keislaman terkadang membuat tingkat keimanan meningkat, dan disertai juga rindu akan kampung halaman. Konon lagi di bulan suci Ramadhan sangat terasa sekali. Suasana buka bersama di meunasah dan mesjid, suara azan bergema dimana-mana, riuhnya tabuhan beduk, suara tadarusan di malam hari, begitu pula dengan bunyi sirine kala berbuka dan sahur dan banyak lainnya lagi, selalu menambah nuansa kerinduan itu.

Bagi para imigran, kerinduan akan kampung halaman saat Ramadhan sangatlah terasa. Maka tak heran acara buka bersama terkadang jadi ajang berbagi rindu. Menariknya, peserta buka bersama bisa berasal dari berbagai warga negara seperti Turki, Somalia, Indonesia, Bangladesh, India, Iran, Pakistan, Palestina, dan banyak lainnya lagi. Umumnya adalah para pelajar yang rata-rata masih bujangan. Masing-masing menceritakan suasana puasa di kampungnya. Dan, ikatan persaudaraan antar bangsa pun segera terbangun.

Saya dan keluarga sempat menjalani ibadah puasa Ramadhan di kota Dresden. Kota peninggalan komunis yang berjarak 2,5 jam perjalanan kereta api dari Berlin ini jumlah pendatangnya tidak sebanyak di kota-kota lain, seumpama Hamburg, Stuttgart, atau Muenchen. Dari benua Asia sebagian besar berasal dari Cina dan Vietnam. Diikuti kalangan Timur Tengah/Arab. Sementara dari Indonesia ada sekitar 40-an orang. Mantan presiden Indonesia, Soeharto, tentu tidak akan pernah melupakan kota ini, karena di kota inilah ia didemonstrasi saat mengadakan kunjungan ke Jerman 1995 silam.

Kehidupan Islam di kota Dresden –yang digelar sebagai Parisnya Jerman karena keindahannya- tidak begitu terasa, mengingat muslimnya sangat minoritas. Hanya ada sebuah mesjid yang sekaligus berfungsi sebagai Islamic Centre. Beberapa warga Jerman asli ada yang bersyahadat di sini.

Di Jerman umumnya mesjid tidak memiliki menara maupun kubah. Dari luar sama sekali tidak terkesan sebagai sebuah tempat ibadah umat Muslim. Hanya beberapa mesjid di kota-kota besar saja yang memiliki menara dan kubah.

Ada kalanya gudang atau gabungan beberapa kamar dijadikan sebagai tempat shalat. Seperti di kota Dresden, mesjid tersebut awalnya adalah gedung taman kanak-kanak. Disewa oleh dermawan dari kalangan Arab dan dijadikan sebagai mesjid. Pernah sekali waktu digeledah oleh polisi selepas kejadian 11 September 2001. Begitu juga dengan suara azan, hanya dikumandangkan di dalam mesjid saja. Tidak boleh terdengar keluar mesjid. Rindu akan gema suara azan semakin membuncah selama Ramadhan.

Secara umum di Jerman ada dua jenis mesjid, yaitu mesjid Turki dan mesjid Arab. Yang beda barangkali shalat tarawihnya. Rakaatnya sama, yakni delapan. Shalat tarawih di mesjid Turki mengingatkan kita pada sebagian mesjid di tanah air, karena shalatnya cepat-cepat sekali, hampir tidak ada jeda, dengan bacaan surat-surat pendek. Sebaliknya di mesjid Arab setiap malam bacaan ayat kala shalat tarawih selalu satu juz. Hal itu berlaku di seluruh Jerman. Para imam semuanya hafiz Quran. Karena bacaan ayat-ayat Al-Quran sang imam yang lembut dan merdu membuat shalat tidak terasa lama Makanya bisa dipastikan, jika bisa aktif tarawih sebulan penuh, tamat Al Quran. Pernah satu ketika, sang imam berhalangan hadir. Akhirnya saya ditunjuk jadi imam. Karena bukan hafiz, terpaksalah berdiri sembari membawa Al Quran.

Makanan sahur dan berbuka

Bagaimana dengan makanan untuk sahur dan berbuka? Dalam masalah makanan ini masyarakat muslim di Jerman harus ekstra hati-hati dalam membeli, karena bahan tambahan atau emulgator yang digunakan banyak mengandung lemak babi. Sehingga kita harus menghapal nomor-nomor tertentu yang tertera di kemasannya. Pada awalnya cukup sulit, namun lama kelamaan jadi terbiasa dan hapal dengan sendirinya.

Mahasiswa Indonesia umumnya lebih suka membeli makanan mentah dan diolah sendiri. Untuk memperoleh makanan halal tidaklah sulit. Setiap Jumat di mesjid ada penjualan makanan halal, demikian juga kebutuhan lainnya. Juga terdapat toko makanan halal yang dikelola oleh orang Arab, Irak dan Turki. Sedangkan makanan seperti tempe, tahu, kecap, mie instan, kerupuk, beras, dan lain-lain dapat dibeli di Asian Shop, yang umumnya dikelola oleh warga Vietnam.

Satu hal yang menarik, selama di Jerman banyak mahasiswa yang dulunya tidak bisa memasak menjadi pintar masak. Ramadhan silam kebetulan saya mendapat kiriman dari kampung seperti keumamah, bumbu kari Aceh, dan asam sunti, sehingga kerinduan akan masakan Aceh sedikit terobati. Bahkan teman-teman sering minta dimasakkan kari Aceh -yang katanya- baunya sangat khas. Ada kawan sambil bercanda mengatakan, ``mungkin ada pakai ganja ya``.

Satu waktu, entah bagaimana, kami sangat kepingin makan mie Aceh (mengambil istilah teman di Jakarta). Akhirnya, ada spagethi, makanan khas dari Italia yang berbentuk persis mie, lalu kami olah dan rasanya mirip-mirip mie Aceh. Alhamdulillah, dapat juga makan mie goreng Aceh. Jadi boleh dibilang, di Jerman semua ada, kecuali pliek u dan asam sunti saja yang tidak ada, demikian seorang teman pernah berkata.

Begitulah sekelumit nostalgia suasana puasa Ramadhan di Jerman, lebih khususnya di kota Dresden. Semoga bermanfaat dan kita termasuk ke dalam kalangan alumni universitas Ramadhan dengan mendapat gelar taqwa. Amien.

Muslim Pertama di Kabinet Belanda

Muslim Belanda kini patut bergembira selepas terpilihnya dua wakil mereka di Pemerintahan Belanda. Kedua orang itu, Ahmed Aboutaleb dan Nebahat Albayrak, Kamis lalu (22/2) menjadi muslim pertama yang duduk di kabinet Belanda.

Seperti dilansir Islamonline, Ahmed Aboutaleb yang kelahiran Maroko dan Nebahat Albayrak asal Turki akan diambil sumpahnya sebagai menteri muda dalam kabinet baru yang dibentuk Perdana Menteri Jan Peter Balkenende. Aboutaleb akan duduk sebagai deputi Menteri Muda Urusan Sosial dan Albayrak sebagai deputi Menteri Hukum.

”Inilah era Eropa baru, dan Belanda akan jadi contohnya,” ujar Sadik Harchaoui, kepala Institut Nasional untuk Pengembangan Multikultur.
”Baru kali ini warga berlatar imigran (baca: Muslim) dapat mengambil peran di pemerintahan,”imbuh Harchaoui. Namun pria berdarah Maroko itu juga mengakui bahwa integrasi Muslim di Belanda masih butuh waktu lama.

“Saya kira 15 hingga 20 tahun lagi baru normal,” tukasnya.


Nebahat Albayrak (38) datang ke Belanda kala berusia 18 bulan bersama 6 saudaranya yang lain. Wanita Turki ini telah aktif di Partai Buruh sejak masih menjadi mahasiswa Hukum Internasional di sebuah universitas di Belanda. Tahun 1998 ia terpilih untuk duduk di Parlemen Belanda.

Sedangkan Ahmed Aboutaleb (45) meninggalkan Maroko ketika berusia 15 tahun. Aboutaleb lalu belajar Telekomunikasi dan selanjutnya bekerja sebagai pembaca berita. Ia sempat mendapat perlakuan kurang menyenangkan di tempat kerjanya saat terbunuhnya tokoh perfilman Theo van Gogh.


Sejak serangan teror 11 September di New York, lalu ledakan bom di London dan Madrid, banyak Muslim jadi target pihak keamanan, dicurigai serta diperlakukan secara tidak adil. Namun demikian, hal itu tidaklah menjadi halangan bagi imigran Muslim untuk tetap eksis di negara-negara Barat serta menunjukkan partisipasi yang tinggi dalam kancah perpolitikan. (Zulkarnain Jalil)

Kilas Balik Idul Fitri 1428 H di Eropa:

Dari rindu timphan hingga takbiran dari rumah ke rumah

PENGANTAR: Setiap muslim pasti punya nuansa berbeda-beda dalam merayakan Idul Fitri. Kesan paling mendalam didapat, terutama sekali, tatkala jauh dari kampung halaman. Rindu keluarga dan orang-orang terkasih, lalu makanan khas hingga suasanana nan syahdu makin membuncah di kala lebaran datang. Itulah yang dirasakan oleh sebagian muslim Indonesia, dan khususnya warga Aceh, di Eropa yang baru saja merayakan Idul Fitri 1428 H. Nah, sebagian dari mereka menukilkan pernak pernik Idul Fitri di beberapa negara, antara lain Austria, Belanda, Inggris, Italia, Jerman, Perancis, hingga Turki. Berikut rangkuman kisah mereka yang dikirimkan melalui email dan dirangkum oleh Kontributor Kontras, Zulkarnain Jalil.

Jerman

Sebagian besar muslim Jerman merayakan Idul Fitri pada hari Jumat (12/10), disamping ada juga yang merayakannya pada hari Sabtu (13/10). “Sepertinya sebagian besar muslim di Jerman merayakan Idul Fitri tanggal 12 Oktober. Misalnya, mesjid-mesjid di Bonn yang di manage oleh muslim Turki dan Arab memilih berlebaran hari Jumat tersebut,” ujar Hafid Hasan yang tinggal di kota Bonn.

Keputusan lebaran hari Jumat rupanya sempat membuat sebagian warga kelabakan. Seperti diakui Ediansjah Zulkifli yang tinggal di Dresden. Bersama istrinya yang sama-sama kandidat doktor teknik sipil awalnya akan berlebaran hari Sabtu. Setiap lebaran, kediaman mereka memang kerap mengadakan open house. Persiapan makanan dan lain-lain pun diarahkan untuk hari Sabtu. Namun secara mendadak Islamic Center di sana mengumumkan bahwa lebaran jatuh hari Jumat.

“Akhirnya kami bikin acara silaturrahmi dua kali. Satu kali selepas shalat Id hari Jumat untuk kalangan terbatas dan hari Sabtu untuk warga Indonesia secara umum,” ungkap pria yang juga staf peneliti di Institut Baustatik, Technische Universitat Dresden itu.

“Sebagian kecil muslimin Indonesia di Bonn yang biasa shalat di mesjid-mesjid Arab juga memilih berhari raya di hari Jumat. Namun –secara umum- kebanyakan mengikuti majelis ulama Aachen yang menetapkan 1 Syawal jatuh pada 13 Oktober,” tutur Hafidh Hasan, warga Aceh yang sedang mengambil master teknik elektro..

Dikatakannya, musim gugur tahun ini lebih dingin dari biasanya, suhu bergerak dibawah 10 derajat Celcius. “Tapi Alhamdulillah pada 12 dan 13 Oktober kemarin cuacanya lumayan bersahabat. Pagi suhunya dimulai 10 derajat dan berangsur naik hingga 19 di siang hari dengan langit cerah.

Hafidh yang bersama istrinya sedang mengambil program master menyebut bahwa shalat Ied yang diorganisir muslim di Bonn dan Koeln ini juga didatangi masyarakat muslim Indonesia dari kota sekitarnya seperti Dusseldorf, Duisburg, Aachen, Monchenggladbach bahkan juga dari Muenster. Setelah shalat Ied dan khotbah di sambung dengan ramah tamah, jemaah disuguhi panganan khas Indonesia sumbangan sukarela muslim Bonn dan Koeln.

Masalah suguhan makanan selepas shalat ini terbilang menarik. Tentu saja tradisi ini tidak ada di Tanah Air. Meutia, mahasiswa asal Aceh yang sedang studi ilmu kedokteran di Universitas Muenster menceritakan hal yang sama.

”Kami juga disuguhi makanan selesai shalat berupa makanan khas dari Arab, karena panitianya mereka. Makanan dari Aceh sendiri nggak ada,” tukas alumni SMA 1 Banda Aceh itu lagi. Namun, untuk melepas rindu ia mengaku memasak opor ayam, bakso, sambal terasi plus urap. Bahkan ia juga mengadakan acara silaturrahmi kecil-kecilan, yang bukan muslim pun turut diundang.

“Lebaran disini hari Sabtu (13/10). Walaupun ndak semeriah di Aceh, tapi lumayan menyenangkan. Kami berbaur dari berbagai negara. Ada dari keturunan Arab, Turki, Palestina, Bosnia, Afrika, Indonesia, dan ada juga warga asli Jerman sendiri. Rame banget tahun ini. Ndak seperti tahun-tahun sebelum nya,” ujar Meutia penuh semangat. Kabarnya, memang ada peningkatan Muslim di Eropa 7 hingga 9 persen, khususnya di Jerman.

Diceritakannya, anak-anak juga diberi hadiah mainan. Menurut pengamatan Meutia, tradisi ini berkaitan dengan Weihnachten (Hari Natal). “Karena biasanya pada saat Natal, mereka bertukaran hadiah. Hadiah yang di berikan pada saat lebaran ini merupakan sumbangan dari beberapa komunitas muslim yang ada disana.

“Jangan sampai anak-anak membandingkan antara Natal dan lebaran. Mereka musti tahu, Islam juga punya hari besar,” tutur Eva Salviani, ibu tiga anak yang pernah tinggal di Dresden, Jerman.

Sementara itu di Berlin, komunitas Muslim Indonesia di ibukota Jerman itu merayakan Idul Fitri juga hari Sabtu. Dan, untuk pertamakalinya tahun ini mereka melaksanakan kegiatan Ramadhan di masjid baru yang diberi nama Masjid Al-Falah.

“Masjid tersebut berada dibawah naungan IWKZ (Indonesisches Weisheits- und Kulturzentrum). Namun khusus shalat Id kami buat di KBRI karena aulanya lebih luas. sore hari,” ujar Muzli, seorang mahasiswa Aceh di sana.

Beberapa masyarakat Indonesia yang sudah lama tinggal di Jerman ada juga yang mengadakan "open house". Sudah pasti jamaah menyerbu berbagai makanan khas Tanah Air. Seperti lontong atau nasi, opor ayam, rendang dan banyak lainnya.
Demikian dengan kue-kuenya seumpama kroket, pastel, kue lapis, dan lain-lain.

“Cukup mengobati rasa rindu akan kampung halaman. Kalau kami disini memang rindu dengan masakan Aceh, tapi kendalanya di bumbu, paling kami kompromi dengan menyesuaikan rasanya menjadi lebih pedas misalnya jadi lebih sesuai dengan lidah Aceh,” ungkap Hafidh Hasan.

Austria

Halnya di Austria, tetangga terdekat Jerman, Idul Fitri 1428 jatuh pada Hari Jum`at tanggal 12 Oktober. Di Wina -ibukota Austria- suasananya terhitung meriah. “Pelaksanaan shalat Ied dipusatkan di Islamic Center (Mesjid Turki) dan mesjid-mesjid lainnya yang ada di sekitar Wina. Khusus masyarakat Indonesia, kegiatan shalat Ied berlangsung di aula serbaguna KBRI. Sedangkan acara open house di rumah duta besar dilakukan hari Sabtunya,” tukas Syafruddin Ghandy. Syafruddin malah tetap melaksanakan tradisi lebaran, yakni berkunjung ke rumah-rumah –terutama warga Indonesia- yang ada di sana.

Pengakuan pria asal Banda Aceh ini, suasana lebaran di sana sangat meriah dan tidak jauh beda dengan di Indonesia atau Aceh. Hal ini bisa dimaklumi, sebab Islam sudah diterima sebagai agama negara di Austria sejak 1912. Hak-hak warga muslim dijamin disana. Misalnya, mereka juga mendapat libur selama Idul Fitri dan Idul Adha. Hingga ada yang menyebut Austria “Serambi Mekkahnya” Eropa.

Belanda

Tentang suasana Idul Fitri di Negara bekas penjajah Indonesia, Belanda, diceritakan oleh Susi Andriani. Susi sebenarnya tinggal dan bekerja di Jerman. Namun, lebaran tahun ini ia ditemani suami dan 2 anaknya memutuskan untuk berlebaran di Belanda.”Di Belanda lebaran hari Jumat. Kami sejak 2 hari sebelum lebaran sudah berada di Eindhoven, di rumah adik,” ujar Susi melalui surat elektronik.

Untuk menambah nuansa ke-Acehan, ia bahkan sejak dari Muencheh telah menyiapkan kue kering lebaran.”Yaa, seperti di aceh lah. Ada kue bangket, nastar, dan kue-kue keju. Hidangan lebaran pun persis seperti yang biasa dibikin ibu di Aceh, sayur lodeh, rendang, taoco, sambal goreng hati lengkap dengan lontongnya. Pengen bikin timphan nggak sempat lagi,” cerita Susi yang bekerja di Siemens Telecommunications Muenchen, Jerman.

 

Ada hal menarik yang dialami nyonya muda itu ketika shalat berkaitan mukena yang mereka pakai.”kami shalatnya di mesjid Arab di dekat rumah adik. Lucunya hanya kami satu-satunya orang asing dari Asia. Hingga ibu-ibu Arab itu terheran-heran dengan pakaian shalat kami. Sampai ada yang nyelutuk, moi (artinya cantik-red) he he,” tukas Susi. Amatan Susi, di ruang shalat wanita, anak-anak kecil juga mendapat hadiah persis di pintu masuk berupa mainan. Lalu pada saat pulang diberikan permen coklat.

 
Susi juga menceritakan sempat bertemu dengan warga Aceh lainnya kala mengikuti halal bihalal masyarakat Indonesia di kota Delft. Lebih berkesannya lagi tatkala ia berjumpa 2 orang mahasiswa Aceh dari Politeknik Unsyiah Lhokseumawe, tempatnya dulu menuntut ilmu.

Italia


”Saya rindu banget sama timphan dan manisan halua. Soalnya dari tahun 1997 hingga kini saya selalu lebaran di rantau,” tutur Abdul Fikri yang tinggal di Bolzano, Italia. Pria lajang alumni SMU Modal Bangsa banda Aceh itu tahun kemarin masih belajar di Sudtirol, Austria. Di Italia, masih menurut Fikri, Idul Itri mengikuti Arab Saudi, 12 Oktober. Karena itu pula selepas shalat ia dan teman-temannya langsung ke kampus.

“Saya disini selesai shalat Ied harus langsung masuk kelas buat kuliah. Karena
komunitas muslimnya sangat sedikit, nuansa lebaran tidak begitu terasa. Mengenai penganan lebaran, bagi saya itu impian kalau bisa makan penganan khas aceh,” ungkap pria asal Bireuen itu penuh rindu.

”Ya, anak-anak biasa dikasih hadiah di mesjid,” jelas Fikri kala ditanya perihal hadiah untuk anak-anak. “Kenapa begitu ? Menurut saya, ditinjau dari segi psikologisnya anak-anak kan seneng kalo diberi hadiah. Nah kenapa di masjid. Menurut saya itu untuk memupuk rasa cintanya terhadap masjid semenjak kecil. Fikri juga menyebut kesemarakan Natal perlu diimbangi, dimana pas natalan sinterklasnya hadir sambil bawa hadiah untuk anak-anak.

Kabarnya Islamic Center di Roma, Italia bahkan menyelenggarakan perayaan khusus untuk anak-anak pada hari Minggu (14/10) silam. "Sudah tradisi, di hari yang fitri ini kami memberi mereka hadiah, juga permen,” ungkap seorang pengurus.

Inggris

 
“Alhamdulillah kami di Southampton, London, Manchester, Newcastle dan beberapa kota lainnya di Inggris pada umumnya merayakan Idul Fitri 1 Syawal 1428 H pada hari Jum'at 12 Oktober 2007,” lapor Nasrullah Zaini dari Southampton. Pria yang sedang menyelesaikan program master Geo-Information Science and Environmental Modelling and Management di School of Geography, Southampton University itu menyebut muslim di sana untuk memutuskan hari raya pada hari Jum'at setelah adanya petunjuk dari Central Mosque di London yang mengikuti Arab Saudi. 
 
Dikatakannya, sebagian besar warga Asia di sana kebanyakan berasal dari Malaysia. Hingga nuansa ketimuran lebih terasa, terutama makanan. Bahkan –masih menurut Nasrullah- shalat Id dilaksanakan 2 kali karena tempat yang terbatas dan ramainya jamaah yang datang. Begitupun, ia mengaku rindu kampung.
 
”Suasana takbiran tidak terasa, sebab tidak menggema sampai keluar ruangan. Karena aturan di Inggris yang tidak membolehkannya," tuturnya. Alhasil, pada malam lebaran ia dan rekannya sesama Aceh, Azma Putra (PhD student di Institute of Sound and Vibration, Southampton University) ikut takbiran dari rumah ke rumah bersama keluarga muslim yang berasal dari Malaysia.

Informasi terkini yang dilansir Islamonline, Sabtu kemarin (21/10), ribuan umat Islam berkumpul di Trafalgar Square, London guna mendengarkan ceramah agama, pertunjukan seni, talk show, hingga pemutaran film. "London adalah salah satu kota penting di dunia. Karena itu umat Islam di sini sangat bangga menggoreskan sejarahnya di tempat ini,” ujar Dr Muhammad Abdul Bari, Sekjen Muslim Council of Britain (MCB). Hajat besar itu terselenggara berkat dukungan MCB dengan Islamic Relief dan Islamic Channel.

Bahkan Walikota London, Ken Livingstone ikut mendukung acara terbesar dalam sejarah perayaan Idul Fitri di Inggris. Tak terkecuali kalangan non muslim pun ikut menikmati even yang juga dimeriahkan oleh pemusik terkenal, Sami Yusuf. Demikian pula kehadiran grup nasyid Ashiq Rasul makin menghangatkan suasana yang lumayan dingin.

Perancis

Perancis, tempat bermukim umat Islam terbesar di Eropa, juga ber-Idul Fitri tanggal 13 Oktober. Keputusan itu ditetapkan oleh French Council of the Muslim Faith (FCMF). Warga Indonesia sendiri mengadakan acara di KBRI Paris. Ada 500-an warga Indonesia yang hadir dalam acara halal bil halal di kediaman Duta Besar.

“Khususnya bulan puasa, di Paris tidak begitu kelihatan. Tetapi mereka tetap menghargai dan menaruh respek. Bahkan pada hari raya kemarin TV Chanel menayangkan penghidupan orang Islam dan suasanan hari rayanya,” ujar Alijullah Hasan, seorang warga Aceh yang telah bermukim di negeri mode dunia itu sejak tahun 1970.

Diakui Ali yang juga staf di KBRI Paris, tahun ini puasa disana mulai terasa panjang.

“Sahur jam 4 pagi, buka puasanya baru pukul 20 malam. Tantangan lain, mata harus dipelihara dengan baik, sebab wanita bule mulai berpakaian seadanya.

Turki

Nuansa Idul Fitri yang benar-benar terasa adalah di Turki. Boleh dibilang mirip-mirip di Tanah Air. “Saya lebaran di Istanbul. Di sini lebaran dirayakan hari Jum'at (12/10). Sejak seminggu terakhir memang kelihatan sudah perlahan-lahan memasuki musim gugur, ditandai dengan seringnya hujan dan menurunnya suhu hingga 11 derajat. Di Turki, sepanjang pengetahuan saya, shalat Idul Fitri tidak diselenggarakan di lapangan terbuka, melainkan di berbagai mesjid besar dan indah di setiap penjuru kota,” tutur Zulhendri Abdullah, putra Pidie yang saat ini bekerja di Turki.

Disebutkannya, sejak subuh mesjid sudah mengumandangkan takbir, dan para orangtua dan anak-anak mulai berdatangan. Di setiap pintu masuk mesjid, panitia menaruh hidangan kecil seperti kurma dan manisan, untuk dicicipi oleh jama'ah pada hari raya ini. Biasanya sembari menunggu waktunya tiba untuk shalat, imam memberikan khutbah ringan (khutbah pembuka, sebelum khutbah yg sebenarnya setelah shalat) selama +/- 20 mnt. Setelah shalat, dan khutbah selesai, para jama'ah saling bermaafan dan anak-anak diberi hadiah oleh pengurus mesjid. Diakui pemuda lajang itu, pemberian hadiah tersebut merupakan sebuah budaya manis untuk menumbuhkan rasa memiliki mesjid kepada anak-anak.

“Untuk makanan lebaran, karena jumlah warga Indonesia yang sedikit, saya mengunjungi teman-teman Turki dan menikmati hidangan mereka. Biasanya semua keluarga dan kerabat datang ke rumah yang paling tua, dan setelah bersilaturahmi, dilanjutkan oleh makan siang khas Turki, dibuka oleh sup, daging kebab, dan roti, serta salad,” sambung alumni Universitas Indonesia itu lagi.

Dalam amatanmya, ada satu hal yang menarik, dimana ketika lebaran tiba, suasana persinggungan antara sayap sekuler dan agamis di Turki kelihatan mencair. Tokoh-tokoh politisi yang paling sekuler sekalipun datang shalat ke mesjid dan saling mengirimkan ucapan selamat lebaran ke politisi dari sayap agamis. Acara televisi spesial lebaran juga semuanya mengedepankan harmoni seperti itu.

Antena Wajanbolic, alternatif bagi yang berkantong cekak

Ruangan Labschool Unsyiah 25 Agustus lalu benar-benar meriah. Suara tawa cekikikan terdengar jelas di salah satu ruangan sekolah favorit itu. Beberapa anak muda terlihat menenteng wajan penggoreng. Ada apa gerangan, ada lomba masak? Bukan, puluhan anak-anak muda itu sedang mengikuti Pelatihan Antena Wireless Wajan Bolic. Lho antena kok dari wajan, memang bisa?

Begitulah, terobsesi dengan akses internet murah wajan pun jadi antena alternatif. Stefen Yauwanta, salah seorang pemateri yang datang secara khusus dari Jakarta menyebut bahwa keunggulan dari wajan bolic (WB) selain hemat juga tidak pernah rusak, karena petir misalnya.

“Saya bukan pencetus antena wajan ini. Pencetusnya adalah Mas Goen. Namun saya termasuk orang yang pertama mengikuti workshop yang diadakan pertamakali di Karawaci, Bekasi” ujar Stefen kepada saat ditanya latar belakang munculnya ide antena wajan bolic itu.

Sehabis mengikuti seminar tersebut Stefen lalu mencoba di rumahnya kendati ia sudah puanya jaringan internet. Hasilnya menakjubkan. Ia dan sebagian warga di komplek perumahannya bisa menikmati internet secara gratis dengan akses yang lumayan cepat.

”Saya memberi nama SSID-nya JJ NET. Pelan tapi pasti keinginan warga untuk menikmati internet terus bertambah. Mungkin disinilah awal RTRW-net pertama yg dimulai dengan WB dan antena kaleng yang masih ada hingga saat ini,” tutur Stefen seperti disitir dari situs Komunitas Atjeh Joomla!, panitia penyelenggara pelatihan tersebut.

Awalnya rangkaian antena WB itu belumlah sesempurna seperti sekarang. Dengan bermodal ilmu yang diperolehnya dari workshop, Stefen memoles WB tersebut dengan lebih baik. Seperti pengakuannya di Joomla!, bagian antena yang sebelumnya ada kuping, dipotong dan disemprot serta di beri logo Hiperling. Demikian pula dengan kabelnya yang terlihat kurang rapi ia bungkus dengan shrink kit. Hingga tampak lebih rapi.

“Setahun berlalu ada beberapa orang yang ingin mencoba dan memesannya dari saya, Saya mulai merakit dan mengirimkannya ke beberapa daerah pelosok. Dengan berjalannya waktu, penggunaan RTRW-Net ini makin marak. Kini sudah ada beberapa RTRW-Net yang menggunakan WB ini,” imbuh Stefen lagi.

Ahmad Fitri Annahar SE., MLIS, Ketua Aceh Information Technology Development (AITD) yang merupakan mitra kerja Komunitas Atjeh Joomla!, menyebut bahwa bahan dan peralatan yang dibutuhkan untuk membuat sebuah antena WB ini murah dan mudah diperoleh (Baca: Sekilas wajan bolic). Bahkan pihaknya berencana untuk membentuk komunitas yang diberinama sedikit berbau Aceh, yakni Beulangong Bolic.

Workshop antena wireless yang seperti ini seperti diakui Ahmad Fitri adalah yang pertama dilaksanakan di Aceh. “Dengan adanya workshop ini diharapkan nantinya akan dapat memperbesar jaringan Internet hingga ke rumah-rumah penduduk dengan menggunakan jaringan RT/RW Net. Diharapkan juga nantinya minat warga untuk menikmati internet akan terus bertambah,” ungkap pemuda yang meraih gelar master IT-nya di Malaysia.

Para peserta yang datang dari beberapa daerah di Aceh pun tampak terkesan dan menikmati workshop yang baru pertamakali diadakan di Aceh tersebut.

“Sangat berkesan, ilmunya bermanfaat sekali. Saya berencana untuk mempromosikan antena ini nantinya di kampung,” tukas Mufizar, salah seorang peserta dari Sabang.

Para peserta diharapkan nantinya dapat bertambah skillnya serta profesional di bidang IT sebagai pilihan karir mereka. Menjadi pengusaha jasa penyedia internet (ISP) adalah harapan lainnya, yang dapat menyediakan akses internet RTRW Net murah bagi masyarakat dengan modal kecil. Jadi jangan heran jika suatu saat Anda melihat ada wajan di atap rumah.

Sekilas wajan bolic

Antena wireless wajan bolic adalah sebuah peralatan komunikasi internet di sisi Client (CPE = Customer Premises Equipment) yang murah meriah. Perangkat antena wireless ini sangat sederhana dengan hanya menggunakan peralatan yang mudah diperoleh dilingkungan sehari-hari, yaitu berupa sebuah wajan sebagai penguat input output signal wireless.

Antena wireless unik ini berjalan di frekwensi 2.4 Ghz. Dalam penggunannya Antenna wajan bolic ini harus diarahkan ke Access Point (AP) penyelengara jasa koneksi internet. Biasanya penyelengara jasa koneksi internet yang menggunakan alat ini adalah RTRWNet (Wireless Internet di lingkungan RT/RW sekitar tempat tinggal Anda). Namun demikian, tidak mustahil jika digunakan untuk memperluas jaringan HOTSPOT di kampus, NGO, sekolah, bandara, dan lain-lain.

Keunggulan dari WB ini adalah selain hemat untuk biaya antenanya, tapi juga tidak pernah rusak karena petir, seperti halnya antena dengan menggunakan radio yang lebih beresiko besar hangus terbakar disambar petir. Namun –seperti diakui Stefen- kendala yang masih dihadapi adalah keterbatasan kabel, dimana kabelnya paling panjang hanya bisa 20m–25m, dan sangat stabil di 15m. Hingga saat ini antena WB telah berjalan kurang lebih 2 tahun, peminatnya semakin bertambah.

Peralatan yang dibutuhkan:

  • 1 buah gergaji paralon.
  • Solder dan timah.
  • Palu (untuk melubangi kaleng).
  • Tang dan obeng Min (untuk melubangi kaleng, untuk USB wireless)

Bahan yang dibutuhkan :

  • Wajan berdiameter 45 cm, lubangi tepat di bagian tengahnya.
  • 2 sambungan peralon.
  • 1.5 m pipa paralon kecil, di utamakan yang kuat.
  • Lem besi Power Glue (untuk kekuatan penyambungan pipa paralon).
  • 2 buah baut ukuran 12 (paling besar) lengkap dengan murnya.
  • USB Wireless + kabel USB untuk percobaan.
  • 1 buah kaleng Fox/kaleng susu.
  • 2 buah pengait baja, sebagai pegangan kaki antena.

Begitulah, keterbatasan bukanlah halangan untuk maju. Justru keterbatasan membuat orang makin kreatif. So, tunggu apa lagi, coba yuk! (Zulkarnain Jalil)

Meriah, Penyelenggaraan Hari Mesjid se-Jerman

“Mesjid sebagai Jembatan Membangun Kebersamaan Menuju Masa Depan”, demikian motto yang diusung panitia acara Tag der Offenen Moschee (TOM) atau Hari Mesjid se-Jerman tahun ini. Kegiatan tahunan yang diadakan setiap tanggal 3 Oktober itu telah berlangsung sejak tahun 1997. Jadi tahun ini merupakan penyelenggaraan yang ke sebelas kali.

Sebagaimana dilansir Islam.de (4/10) dan dikutip berbagai media Jerman lainnya, pada hari tersebut berbagai acara diadakan, seperti dialog antar agama dan antar budaya, diskusi seputar dunia Islam serta tatacara hidup sehari-hari dalam Islam, ada pula pameran, bedah buku hingga bazaar makanan khas. Khususnya bazaar makanan sangat menarik minat pengunjung. Sebab berbagai jenis makanan dengan aneka cita rasa dari berbagai negara asal imigran dijajakan di arena TOM. Pengunjung juga diperkenakan untuk melihat suasana di dalam mesjid. Tak jarang ada pula yang ikut menonton dan bahkan ikutan shalat.

Tahun ini TOM terasa lebih berkesan, sebab empat organisasi Islam terbesar di Jerman bersatu menjadi penyelenggara bersama, yakni Persatuan Masyarakat Turki di Jerman (DITIB), Dewan Penasehat Islam Jerman (IRD), Organisasi Pusat Kebudayaan Islam (VIKZ), dan Majelis Pusat Islam Jerman (ZMD). Tahun-tahun sebelumnya ZMD selalu menjadi penyelenggara tunggal.

Masih menurut Islam.de, sekitar 2000 mesjid ambil bagian dalam program yang kini sudah jadi agenda tahunan di Jerman. Jumlah ini meningkat dua kali lipat dibanding tahun lalu.

"Tujuan utamanya kegiatan TOM adalah untuk menunjukkan dan memperkenalkan kehidupan dalam Islam bagi kalangan non muslim yang ada di Jerman. Yang kami harapkan adalah terbangunnya jembatan kebersamaan sehingga tertanam rasa saling percaya satu sama lain," ujar Bekir Alboga, juru bicara panitia penyelenggara dalam satu jumpa pers.

Disebutkan, di Hamburg sedikitnya 4500 warga kota pelabuhan itu mengunjungi sekitar 35 mesjid di sana. Sementara di Rostock disamping penyampaian informasi seputar Islam ada juga pameran foto yang mengusung tema “Temukanlah dalam Islam”. Di Rostock yang merupakan salah satu kota pelabuhan penting dan letaknya di bekas Jerman Timur juga ada pameran Koran Dinding yang berisi kumpulan berita tentang dunia Islam dalam bahasa Arab dan terjemahannya dalam bahasa Jerman.


Lebih berkesan lagi, penyelenggaraan tahun 2007 ini bertepatan dengan bulan suci Ramadhan. Sehingga banyak masjid turut mengundang warga Jerman untuk ikut berbuka bersama. Tentunya kesempatan itu digunakan oleh panitia untuk menjelaskan tentang Ramadhan yang sebenarnya. Sebab tidak semua warga mengerti bahwa dalam Ramadhan tidak diperkenankan makan, minum dan segala hal yang membatalkan puasa. Banyak kejadian-kejadian unik dimana adakalanya warga non Muslim Jerman menawarkan makanan atau minuman, kendati mereka tahu istilah Ramadhan.

Sepanjang kunjungan banyak sekali pertanyan yang muncul. Misal di Berlin, pertanyaan-pertanyaan semisal kenapa pakai tikar untuk shalat? Apakah anak-anak juga musti puasa? Kenapa tempat shalat pria dan wanita dipisah? Kenapa harus lepas sepatu/sandal saat masuk mesjid? Dan banyak lainnya lagi. Degan sabar, para pemandu pun menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut dengan penjelasan yang masuk akal. Karena begitulah sifat orang Jerman dan Barat yang umumnya berpikir rasional.

Tak kalah menarik, anak kecil pun terlihat antusias saat berada di mesjid. Anton (5) misalnya, ia datang bersama ditemani adiknya Florentine serta sang ibu Kerstin. Menurut sang ibu, Anton sangat ingin tahu seperti apa mesjid itu. Mereka mengunjungi Mesjid Sehitlik yang terletak di Neukolln, Berlin.

“Anton, seperti anak seusianya, selalu banyak tanya. Tentang Mesjid ia ingin tahu banyak,” ujar Kerstin Klinkenburg, sang ibu. Kerstin mengatakan bahwa ia bukanlah penganut Kristen yang taat. Ia membebaskan anak-anaknya untuk memilih agama yang diyakini. Saya sangat suka ada orang dengan sungguh mengamalkan keyakinannya,“ ujar wanita dua anak yang juga seorang insinyur itu kagum. Bersama 100-an pengunjung lainnya, Kerstin dan anak-anaknya larut dalam kesyahduan di rumah Allah yang tergolong megah di Berlin.

Sedikitnya 3,5 juta muslim tinggal di Jerman yang berasal dari 40 negara. menurut data Pusat Arsip Islam. Jumlah mesjid dan ruang ibadah 2750 buah di seantero Jerman. Namun yang menyerupai bangunan mesjid (memiliki kubah dan menara) hanya 164 buah. Mesjid tertua terdapat di negara Schwetzingen, negara bagian Baden Wuttenberg, yang dibangun tahun 1873.

Kebebasan dalam menjalankan perintah agama terbuka seluas-luasnya bagi muslim Jerman. Bahkan, menurut informasi terkini, tidak berapa lama lagi mata pelajaran agama Islam akan masuk sekolah-sekolah umum di Jerman. Informasi tersebut menyebutkan bahwa komunitas muslim di enam negara bagian Jerman telah mengajukan permohonan pada Kementerian Pendidikan negara itu, bagi kemungkinan diberikannya pelajaran agama Islam di sekolah-sekolah. Patut diketahui program ini sebenarnya sudah sangat lama diperjuangkan oleh muslim Jerman. Namun selalu saja ada batu sandungan dalam memperjuangkan hak dan kebenaran. Wallahu alam bisshawab. (zulkarnain jalil)