Kilas Balik Idul Fitri 1428 H di Eropa:
Dari rindu timphan hingga takbiran dari rumah ke rumah
PENGANTAR: Setiap muslim pasti punya nuansa berbeda-beda dalam merayakan Idul Fitri. Kesan paling mendalam didapat, terutama sekali, tatkala jauh dari kampung halaman. Rindu keluarga dan orang-orang terkasih, lalu makanan khas hingga suasanana nan syahdu makin membuncah di kala lebaran datang. Itulah yang dirasakan oleh sebagian muslim Indonesia, dan khususnya warga Aceh, di Eropa yang baru saja merayakan Idul Fitri 1428 H. Nah, sebagian dari mereka menukilkan pernak pernik Idul Fitri di beberapa negara, antara lain Austria, Belanda, Inggris, Italia, Jerman, Perancis, hingga Turki. Berikut rangkuman kisah mereka yang dikirimkan melalui email dan dirangkum oleh Kontributor Kontras, Zulkarnain Jalil.
Jerman
Sebagian besar muslim Jerman merayakan Idul Fitri pada hari Jumat (12/10), disamping ada juga yang merayakannya pada hari Sabtu (13/10). “Sepertinya sebagian besar muslim di Jerman merayakan Idul Fitri tanggal 12 Oktober. Misalnya, mesjid-mesjid di Bonn yang di manage oleh muslim Turki dan Arab memilih berlebaran hari Jumat tersebut,” ujar Hafid Hasan yang tinggal di kota Bonn.
Keputusan lebaran hari Jumat rupanya sempat membuat sebagian warga kelabakan. Seperti diakui Ediansjah Zulkifli yang tinggal di Dresden. Bersama istrinya yang sama-sama kandidat doktor teknik sipil awalnya akan berlebaran hari Sabtu. Setiap lebaran, kediaman mereka memang kerap mengadakan open house. Persiapan makanan dan lain-lain pun diarahkan untuk hari Sabtu. Namun secara mendadak Islamic Center di sana mengumumkan bahwa lebaran jatuh hari Jumat.
“Akhirnya kami bikin acara silaturrahmi dua kali. Satu kali selepas shalat Id hari Jumat untuk kalangan terbatas dan hari Sabtu untuk warga Indonesia secara umum,” ungkap pria yang juga staf peneliti di Institut Baustatik, Technische Universitat Dresden itu.
“Sebagian kecil muslimin Indonesia di Bonn yang biasa shalat di mesjid-mesjid Arab juga memilih berhari raya di hari Jumat. Namun –secara umum- kebanyakan mengikuti majelis ulama Aachen yang menetapkan 1 Syawal jatuh pada 13 Oktober,” tutur Hafidh Hasan, warga Aceh yang sedang mengambil master teknik elektro..
Dikatakannya, musim gugur tahun ini lebih dingin dari biasanya, suhu bergerak dibawah 10 derajat Celcius. “Tapi Alhamdulillah pada 12 dan 13 Oktober kemarin cuacanya lumayan bersahabat. Pagi suhunya dimulai 10 derajat dan berangsur naik hingga 19 di siang hari dengan langit cerah.
Hafidh yang bersama istrinya sedang mengambil program master menyebut bahwa shalat Ied yang diorganisir muslim di Bonn dan Koeln ini juga didatangi masyarakat muslim Indonesia dari kota sekitarnya seperti Dusseldorf, Duisburg, Aachen, Monchenggladbach bahkan juga dari Muenster. Setelah shalat Ied dan khotbah di sambung dengan ramah tamah, jemaah disuguhi panganan khas Indonesia sumbangan sukarela muslim Bonn dan Koeln.
Masalah suguhan makanan selepas shalat ini terbilang menarik. Tentu saja tradisi ini tidak ada di Tanah Air. Meutia, mahasiswa asal Aceh yang sedang studi ilmu kedokteran di Universitas Muenster menceritakan hal yang sama.
”Kami juga disuguhi makanan selesai shalat berupa makanan khas dari Arab, karena panitianya mereka. Makanan dari Aceh sendiri nggak ada,” tukas alumni SMA 1 Banda Aceh itu lagi. Namun, untuk melepas rindu ia mengaku memasak opor ayam, bakso, sambal terasi plus urap. Bahkan ia juga mengadakan acara silaturrahmi kecil-kecilan, yang bukan muslim pun turut diundang.
“Lebaran disini hari Sabtu (13/10). Walaupun ndak semeriah di Aceh, tapi lumayan menyenangkan. Kami berbaur dari berbagai negara. Ada dari keturunan Arab, Turki, Palestina, Bosnia, Afrika, Indonesia, dan ada juga warga asli Jerman sendiri. Rame banget tahun ini. Ndak seperti tahun-tahun sebelum nya,” ujar Meutia penuh semangat. Kabarnya, memang ada peningkatan Muslim di Eropa 7 hingga 9 persen, khususnya di Jerman.
Diceritakannya, anak-anak juga diberi hadiah mainan. Menurut pengamatan Meutia, tradisi ini berkaitan dengan Weihnachten (Hari Natal). “Karena biasanya pada saat Natal, mereka bertukaran hadiah. Hadiah yang di berikan pada saat lebaran ini merupakan sumbangan dari beberapa komunitas muslim yang ada disana.
“Jangan sampai anak-anak membandingkan antara Natal dan lebaran. Mereka musti tahu, Islam juga punya hari besar,” tutur Eva Salviani, ibu tiga anak yang pernah tinggal di Dresden, Jerman.
Sementara itu di Berlin, komunitas Muslim Indonesia di ibukota Jerman itu merayakan Idul Fitri juga hari Sabtu. Dan, untuk pertamakalinya tahun ini mereka melaksanakan kegiatan Ramadhan di masjid baru yang diberi nama Masjid Al-Falah.
“Masjid tersebut berada dibawah naungan IWKZ (Indonesisches Weisheits- und Kulturzentrum). Namun khusus shalat Id kami buat di KBRI karena aulanya lebih luas. sore hari,” ujar Muzli, seorang mahasiswa Aceh di sana.
Beberapa masyarakat Indonesia yang sudah lama tinggal di Jerman ada juga yang mengadakan "open house". Sudah pasti jamaah menyerbu berbagai makanan khas Tanah Air. Seperti lontong atau nasi, opor ayam, rendang dan banyak lainnya. Demikian dengan kue-kuenya seumpama kroket, pastel, kue lapis, dan lain-lain.
“Cukup mengobati rasa rindu akan kampung halaman. Kalau kami disini memang rindu dengan masakan Aceh, tapi kendalanya di bumbu, paling kami kompromi dengan menyesuaikan rasanya menjadi lebih pedas misalnya jadi lebih sesuai dengan lidah Aceh,” ungkap Hafidh Hasan.
Austria
Halnya di Austria, tetangga terdekat Jerman, Idul Fitri 1428 jatuh pada Hari Jum`at tanggal 12 Oktober. Di Wina -ibukota Austria- suasananya terhitung meriah. “Pelaksanaan shalat Ied dipusatkan di Islamic Center (Mesjid Turki) dan mesjid-mesjid lainnya yang ada di sekitar Wina. Khusus masyarakat Indonesia, kegiatan shalat Ied berlangsung di aula serbaguna KBRI. Sedangkan acara open house di rumah duta besar dilakukan hari Sabtunya,” tukas Syafruddin Ghandy. Syafruddin malah tetap melaksanakan tradisi lebaran, yakni berkunjung ke rumah-rumah –terutama warga Indonesia- yang ada di sana.
Pengakuan pria asal Banda Aceh ini, suasana lebaran di sana sangat meriah dan tidak jauh beda dengan di Indonesia atau Aceh. Hal ini bisa dimaklumi, sebab Islam sudah diterima sebagai agama negara di Austria sejak 1912. Hak-hak warga muslim dijamin disana. Misalnya, mereka juga mendapat libur selama Idul Fitri dan Idul Adha. Hingga ada yang menyebut Austria “Serambi Mekkahnya” Eropa.
Belanda
Tentang suasana Idul Fitri di Negara bekas penjajah Indonesia, Belanda, diceritakan oleh Susi Andriani. Susi sebenarnya tinggal dan bekerja di Jerman. Namun, lebaran tahun ini ia ditemani suami dan 2 anaknya memutuskan untuk berlebaran di Belanda.”Di Belanda lebaran hari Jumat. Kami sejak 2 hari sebelum lebaran sudah berada di Eindhoven, di rumah adik,” ujar Susi melalui surat elektronik.
Untuk menambah nuansa ke-Acehan, ia bahkan sejak dari Muencheh telah menyiapkan kue kering lebaran.”Yaa, seperti di aceh lah. Ada kue bangket, nastar, dan kue-kue keju. Hidangan lebaran pun persis seperti yang biasa dibikin ibu di Aceh, sayur lodeh, rendang, taoco, sambal goreng hati lengkap dengan lontongnya. Pengen bikin timphan nggak sempat lagi,” cerita Susi yang bekerja di Siemens Telecommunications Muenchen, Jerman.
Ada hal menarik yang dialami nyonya muda itu ketika shalat berkaitan mukena yang mereka pakai.”kami shalatnya di mesjid Arab di dekat rumah adik. Lucunya hanya kami satu-satunya orang asing dari Asia. Hingga ibu-ibu Arab itu terheran-heran dengan pakaian shalat kami. Sampai ada yang nyelutuk, moi (artinya cantik-red) he he,” tukas Susi. Amatan Susi, di ruang shalat wanita, anak-anak kecil juga mendapat hadiah persis di pintu masuk berupa mainan. Lalu pada saat pulang diberikan permen coklat.
Susi juga menceritakan sempat bertemu dengan warga Aceh lainnya kala mengikuti halal bihalal masyarakat Indonesia di kota Delft. Lebih berkesannya lagi tatkala ia berjumpa 2 orang mahasiswa Aceh dari Politeknik Unsyiah Lhokseumawe, tempatnya dulu menuntut ilmu.
Italia
”Saya rindu banget sama timphan dan manisan halua. Soalnya dari tahun 1997 hingga kini saya selalu lebaran di rantau,” tutur Abdul Fikri yang tinggal di Bolzano, Italia. Pria lajang alumni SMU Modal Bangsa banda Aceh itu tahun kemarin masih belajar di Sudtirol, Austria. Di Italia, masih menurut Fikri, Idul Itri mengikuti Arab Saudi, 12 Oktober. Karena itu pula selepas shalat ia dan teman-temannya langsung ke kampus.
“Saya disini selesai shalat Ied harus langsung masuk kelas buat kuliah. Karena
komunitas muslimnya sangat sedikit, nuansa lebaran tidak begitu terasa. Mengenai penganan lebaran, bagi saya itu impian kalau bisa makan penganan khas aceh,” ungkap pria asal Bireuen itu penuh rindu.
”Ya, anak-anak biasa dikasih hadiah di mesjid,” jelas Fikri kala ditanya perihal hadiah untuk anak-anak. “Kenapa begitu ? Menurut saya, ditinjau dari segi psikologisnya anak-anak kan seneng kalo diberi hadiah. Nah kenapa di masjid. Menurut saya itu untuk memupuk rasa cintanya terhadap masjid semenjak kecil. Fikri juga menyebut kesemarakan Natal perlu diimbangi, dimana pas natalan sinterklasnya hadir sambil bawa hadiah untuk anak-anak.
Kabarnya Islamic Center di Roma, Italia bahkan menyelenggarakan perayaan khusus untuk anak-anak pada hari Minggu (14/10) silam. "Sudah tradisi, di hari yang fitri ini kami memberi mereka hadiah, juga permen,” ungkap seorang pengurus.
Inggris
“Alhamdulillah kami di Southampton, London, Manchester, Newcastle dan beberapa kota lainnya di Inggris pada umumnya merayakan Idul Fitri 1 Syawal 1428 H pada hari Jum'at 12 Oktober 2007,” lapor Nasrullah Zaini dari Southampton. Pria yang sedang menyelesaikan program master Geo-Information Science and Environmental Modelling and Management di School of Geography, Southampton University itu menyebut muslim di sana untuk memutuskan hari raya pada hari Jum'at setelah adanya petunjuk dari Central Mosque di London yang mengikuti Arab Saudi.
Dikatakannya, sebagian besar warga Asia di sana kebanyakan berasal dari Malaysia. Hingga nuansa ketimuran lebih terasa, terutama makanan. Bahkan –masih menurut Nasrullah- shalat Id dilaksanakan 2 kali karena tempat yang terbatas dan ramainya jamaah yang datang. Begitupun, ia mengaku rindu kampung.
”Suasana takbiran tidak terasa, sebab tidak menggema sampai keluar ruangan. Karena aturan di Inggris yang tidak membolehkannya," tuturnya. Alhasil, pada malam lebaran ia dan rekannya sesama Aceh, Azma Putra (PhD student di Institute of Sound and Vibration, Southampton University) ikut takbiran dari rumah ke rumah bersama keluarga muslim yang berasal dari Malaysia.
Informasi terkini yang dilansir Islamonline, Sabtu kemarin (21/10), ribuan umat Islam berkumpul di Trafalgar Square, London guna mendengarkan ceramah agama, pertunjukan seni, talk show, hingga pemutaran film. "London adalah salah satu kota penting di dunia. Karena itu umat Islam di sini sangat bangga menggoreskan sejarahnya di tempat ini,” ujar Dr Muhammad Abdul Bari, Sekjen Muslim Council of Britain (MCB). Hajat besar itu terselenggara berkat dukungan MCB dengan Islamic Relief dan Islamic Channel.
Bahkan Walikota London, Ken Livingstone ikut mendukung acara terbesar dalam sejarah perayaan Idul Fitri di Inggris. Tak terkecuali kalangan non muslim pun ikut menikmati even yang juga dimeriahkan oleh pemusik terkenal, Sami Yusuf. Demikian pula kehadiran grup nasyid Ashiq Rasul makin menghangatkan suasana yang lumayan dingin.
Perancis
Perancis, tempat bermukim umat Islam terbesar di Eropa, juga ber-Idul Fitri tanggal 13 Oktober. Keputusan itu ditetapkan oleh French Council of the Muslim Faith (FCMF). Warga Indonesia sendiri mengadakan acara di KBRI Paris. Ada 500-an warga Indonesia yang hadir dalam acara halal bil halal di kediaman Duta Besar.
“Khususnya bulan puasa, di Paris tidak begitu kelihatan. Tetapi mereka tetap menghargai dan menaruh respek. Bahkan pada hari raya kemarin TV Chanel menayangkan penghidupan orang Islam dan suasanan hari rayanya,” ujar Alijullah Hasan, seorang warga Aceh yang telah bermukim di negeri mode dunia itu sejak tahun 1970.
Diakui Ali yang juga staf di KBRI Paris, tahun ini puasa disana mulai terasa panjang.
“Sahur jam 4 pagi, buka puasanya baru pukul 20 malam. Tantangan lain, mata harus dipelihara dengan baik, sebab wanita bule mulai berpakaian seadanya.
Turki
Nuansa Idul Fitri yang benar-benar terasa adalah di Turki. Boleh dibilang mirip-mirip di Tanah Air. “Saya lebaran di Istanbul. Di sini lebaran dirayakan hari Jum'at (12/10). Sejak seminggu terakhir memang kelihatan sudah perlahan-lahan memasuki musim gugur, ditandai dengan seringnya hujan dan menurunnya suhu hingga 11 derajat. Di Turki, sepanjang pengetahuan saya, shalat Idul Fitri tidak diselenggarakan di lapangan terbuka, melainkan di berbagai mesjid besar dan indah di setiap penjuru kota,” tutur Zulhendri Abdullah, putra Pidie yang saat ini bekerja di Turki.
Disebutkannya, sejak subuh mesjid sudah mengumandangkan takbir, dan para orangtua dan anak-anak mulai berdatangan. Di setiap pintu masuk mesjid, panitia menaruh hidangan kecil seperti kurma dan manisan, untuk dicicipi oleh jama'ah pada hari raya ini. Biasanya sembari menunggu waktunya tiba untuk shalat, imam memberikan khutbah ringan (khutbah pembuka, sebelum khutbah yg sebenarnya setelah shalat) selama +/- 20 mnt. Setelah shalat, dan khutbah selesai, para jama'ah saling bermaafan dan anak-anak diberi hadiah oleh pengurus mesjid. Diakui pemuda lajang itu, pemberian hadiah tersebut merupakan sebuah budaya manis untuk menumbuhkan rasa memiliki mesjid kepada anak-anak.
“Untuk makanan lebaran, karena jumlah warga Indonesia yang sedikit, saya mengunjungi teman-teman Turki dan menikmati hidangan mereka. Biasanya semua keluarga dan kerabat datang ke rumah yang paling tua, dan setelah bersilaturahmi, dilanjutkan oleh makan siang khas Turki, dibuka oleh sup, daging kebab, dan roti, serta salad,” sambung alumni Universitas Indonesia itu lagi.
Dalam amatanmya, ada satu hal yang menarik, dimana ketika lebaran tiba, suasana persinggungan antara sayap sekuler dan agamis di Turki kelihatan mencair. Tokoh-tokoh politisi yang paling sekuler sekalipun datang shalat ke mesjid dan saling mengirimkan ucapan selamat lebaran ke politisi dari sayap agamis. Acara televisi spesial lebaran juga semuanya mengedepankan harmoni seperti itu.