Tuesday, July 18, 2006

Adidas dan Puma Bermula dari Ruang Cuci

Dalam perjalanan dari stasiun kereta api Zoologischer Garten menuju Stadion Olimpia, Berlin rekan saya Hizir nyelutuk bahwa yang bertarung di babak final sebenarnya ”Jerman vs Jerman”. Lho, kok bisa ?

Sebagaimana diketahui, sponsor utama perangkat olahraga (kostum dan sepatu) yang dipakai Italia adalah Puma sedangkan timnas Perancis didukung Adidas. Nah, Puma dan Adidas merupakan dua perusahaan asal Jerman. Yang menarik, pemenang ”Jerman vs Jerman” adalah Italia. Kemenangan Italia tersebut berarti kemenangan bagi produsen alat olahraga Puma. ”Ini merupakan kemenangan yang mengesankan bagi kami“, ujar direktur Puma Jochen Zeitz selepas kemenangan Italia di final. Inilah kemenangan pertama Puma di ajang piala dunia.

Perusahaan yang bermarkas di Herzogenaurach, negara bagian Bayern itu telah menandatangani kontrak dengan federasi sepak bola Italia (FIGC) sejak tahun 2003. Bahkan Nopember 2005 yang lalu Puma memperpanjang kontraknya hingga 2014. “Semoga kami bisa juara lagi bersama Italia“, imbuh Zeitz dengan bangga. Seperti dilansir Financial Times (10/7) pendapatan Puma meningkat tajam hingga 40 persen tahun 2005 silam.

Uniknya, jika menilik sejarah cikal bakalnya maka Puma dan Adidas justru merupakan dua saudara kandung. Ceritanya Rudolf Dassler dan adiknya Adolf Dassler pada tahun 1920 mencoba mendirikan usaha kecil-kecil sepatu olahraga. Mereka memulai usaha tersebut di ruang cuci kepunyaan ibunya di Herzogenaurach. Empat tahun kemudian, tepatnya Juli 1924 dua bersaudara ini mendirikan perusahaan sepatu “Gebrüder Dassler”.

Puncak ketenaran perusahaan itu adalah ketika atlet lari Amerika Serikat Jesse Owen sukses merebus medali emas di Olimpiade Berlin tahun 1936 dengan mengenakan sepatu buatan Dassler. Sejak itulah sepatu bikinan mereka makin dikenal luas.

Namun setelah mengalami kemajuan yang cukup pesat, Rudolf Dassler berpisah dengan adiknya Adolf Dassler. Tahun 1948 ia mendirikan perusahaan sepatu sendiri yang diberi nama "PUMA Schuhfabrik Rudolf Dassler", selanjutnya dikenal dengan Puma. Situs Wikipedia Jerman menyebutkan perpisahan kedua bersaudara ini sebagai Meinungsverschiedenheiten atau perbedaan pendapat. Tidak dijelaskan perbedaan pendapat yang seperti apa. Sedangkan adiknya, Adolf Dassler mendirikan perusahaan Adidas yang berasal dari nama ”Adi“ (nama kecil Adolf) yang digabung dengan potongan nama belakangnya yakni ”Dass“. Nama Adidas terdaftar pada tahun 1949.

Dalam perkembangannya Adidas berlari lebih kencang dari Puma. Karena Puma terkesan “kaku”, tidak mengikuti trend dan mode. Belakangan Puma sadar dan mulai berbenah diri, hingga di Piala Dunia 2006 menjadi pemasok kostum dan perlengkapan terbesar setelah Nike dan Adidas. Bandingkan, Puma memasok 12 tim sedangkan Adidas hanya 6 tim. Piala Dunia 2010 di Afrika Selatan diprediksi Puma masih tetap nomor satu, karena mereka juga pemasok utama tim-tim Afrika. Jadi bisa dikatakan sampai hari ini pun kakak beradik ini masih terus “bertengkar“. Pertengkaran yang membawa rezeki tentunya.

Zulkarnain Jalil, ditulis untuk Serambinews.

Monday, July 17, 2006

Australia 2018; Apa Kabar Indonesia ?

Polemik seputar ketidaksiapan Afrika Selatan menjadi penyelenggara Piala Dunia 2010 sedikit memanas. Malah media memunculkan opini baru, jika Afsel tidak siap maka sebaiknya ditawarkan kepada Amerika Serikat atau Australia (FAZ, 11/7). Kontan hal ini bikin panas kuping bos FIFA. “Piala Dunia 2010 tetap berlangsung di Afrika Selatan !“, tandas Sepp Blatter.

Baiklah kita tinggalkan sejenak “keributan kecil“ itu. Ada yang lebih menarik lagi sebenarnya, utamanya bagi sepak bola Indonesia. Dilansir situs-situs Sportal, Netzeitung, dan FAZ Jumat kemarin (14/7), Australia semakin mempertegas minatnya untuk menjadi tuan rumah Piala Dunia 2018. Selepas satu pertemuan di Canberra -ibukota Australia-, para politikus menegaskan mereka mendukung sepenuhnya rencana yang diajukan oleh federasi sepak bola Australia (FFA) tersebut. Bahkan Perdana Menteri John Howard menekankan pemerintah akan melakukan apa saja untuk keberhasilan proposal tersebut.

Keyakinan yang demikian tinggi ini tidak lepas dari sukses Socceroos –julukan Australia- di Piala Dunia 2006 Jerman. Permainan yang ditunjukkan anak asuh Gus Hiddink cukup menjanjikan kendati gagal melaju ke perempat final setelah dihadang Italia melalui drama yang disebut sebagai “10 detik yang menyakitkan“. Di samping itu mereka memang pernah menjadi penyelenggara even berkaliber dunia. Misalnya, pernah sukses sebagai tuan rumah Olimpiade Sydney 2000, lalu kejuaraan dunia Rugby 2003, dan terakhir pekan olah raga persemakmuran (Commenwealth Games) Maret 2006 silam di Melbourne.

”Tahun 2006 di Eropa, 2010 Afrika, 2014 ke Amerika Selatan, dan 2018 giliran kami. Jika tidak bisa juga, ya 2022”, ujar Sekjen FFA John O’Neill optimis. Australia yang sejak Januari 2006 masuk zone Asia –meninggalkan Oceania- juga menyatakan keinginannya menjadi penyelenggara Piala Asia 2011 sebagai bagian dari ambisi menggapai tuan rumah Piala Dunia 2018. Pada Piala Asia 2007 Indonesia menjadi tuan rumah bersama Malaysia, Thailand, dan Vietnam.

Lebih lanjut Mohammed bin Hammam, Presiden konfederasi sepak bola Asia (AFC) baru-baru ini berujar:“Australia adalah bagian dari Asia dan itu impian saya untuk melihat tahun 2018 di Asia (lagi)”.

Berkaitan dengan hal itu, saat nonton bareng di kota Dresden beberapa waktu yang lalu, seorang teman berseloroh kenapa PSSI tidak menyewa Gus Hiddink saja sebagai pelatih. Pertama dia orang Belanda, setidaknya dalam darah di tubuhnya pasti ada mengalir sebagian hasil jarahan VOC (serikat dagang Belanda) ketika menjajah Indonesia dulu. Kedua, Hiddink memang bertangan dingin dalam menangani tim “kelas dua”. Lihat hasil sentuhannya di Korea Selatan (juara empat Piala Dunia 2002). Lalu Australia pun dihantarnya hingga babak 16 besar Piala Dunia 2006. Permainan trengginas ala Eropa mengalir di tim Ginseng dan Kanguru. Entahlah, barangkali Hiddink pun “takut“ dengan atmosfir sepak bola Indonesia yang identik dengan kerusuhan.

Ada yang bilang sepak bola Indonesia sulit maju, karena kita tak punya tradisi sepak bola. Terlepas dari urusan politik dengan Australia -tetangga nakal yang selalu bikin masalah-, sepak bola di sana dulu juga cuma olah raga kelas dua. Kriket (juara dunia 1999, 2003) dan rugby justru lebih memasyarakat di sana. Kini sepak bola makin mendapat tempat di hati masyarakat. Para pemainnya kini pasti makin diminati klub-klub Eropa. Apalagi selepas dilatih Gus Hiddink, rekomendasinya tentu makin dipercaya.

Jika memang nanti negara Kanguru itu jadi tuan rumah piala dunia, masak kita cuma jadi penonton saja di sebelah rumah yang cuma selemparan batu itu ? Aduh jangan sampai lah. Padahal bakat-bakat alam lumayan banyak di tempat kita. Mungkin ada baiknya pemain-pemain remaja yang ada sekarang di titipkan saja di klub-klub Belanda. Irvin Museng, remaja Makasar yang kini bermain di Ajax Amsterdam junior barangkali bisa jadi contoh. Masalahnya, apa meneer-meneer itu mau ?

Zulkarnain Jalil, Serambinews (17/07/07).

Sunday, July 16, 2006

Blatter Khawatir Piala Dunia 2010

Presiden FIFA, Sepp Blatter mengaku sedikit khawatir dengan persiapan Piala Dunia 2010 di Afrika Selatan (Afsel). Ia bahkan meminta Sekjen PBB Kofi Annan yang kelahiran Ghana untuk membantunya. Hal tersebut mengemuka saat pertemuan di Berlin kemarin (7/7).

Seperti dilansir kantor berita Jerman DPA (4/7), pertemuan yang bertajuk “Afrika Memanggil“ itu dalam rangka membicarakan persiapan Piala Dunia 2010. Hadir dalam kesempatan itu Presiden Afsel Thabo Mbeki, Presiden FIFA Sepp Blatter, dan Sekjen PBB Kofi Annan.
Secara terbuka Blatter menyebutkan bahwa sejauh ini ia hanya mendapat “berita pujian“ berkenaan persiapan Afsel. Tetapi di Berlin, pria Swiss itu mulai bicara bahwa Piala Dunia 2010 sebagai “petualangan yang beresiko“. Beberapa informasi penting yang diperoleh Blatter, seperti telah ditetapkannya 10 stadion di 9 kota. Namun ternyata 4 kota (Kap, Port Elizabeth, Durban, Nelspruit) harus dibangun stadion baru . Sedangkan 6 lainnya yakni di Johannesburg (2 buah), Rustenburg, Bloemfontein, Pretoria, dan di Polokwane stadion yang ada musti diperbesar serta direnovasi besar-besaran. Pemerintah kabarnya telah menambah dana pembangunan sejumlah 627 juta Euro (sekitar 7 trilyun rupiah). Akan tetapi tetap saja masih belum cukup.

Berkenaan dengan masalah pendanaan, Walikota Kapstadt Helen Zille malah meminta proyek senilai 200 juta Euro (sekitar 2,3 trilyun Rupiah) di dekat kawasan Waterfront itu dihentikan saja. “Kita bangun stadion, atau membantu rakyat miskin yang butuh air bersih”, protes wanita yang baru Maret silam menduduki jabatan baru itu. Helen meminta agar beban dana yang begitu besar dapat diselesaikan bersama-sama.

Tampaknya “kompromi pembiayaan“ akan menjadi kesepakatan baru FIFA dan Afrika Selatan. Diakui sepak bola Afsel secara struktur sangat lemah, konon lagi mengelola turnamen yang berskala dunia tentu saja bukan pekerjaan mudah. Namun Blatter tetap yakin dengan “proyek mercusuar“nya tersebut. "Sebagian besar kontrak dengan televisi dan sponsor sudah tercapai, saya yakin di Afrika pemasukan akan lebih banyak ketimbang 2006“, ujarnya akhir Januari silam.

Seperti disitir Financial Times (4/7), mesin uang FIFA sudah menghitung di Afsel nanti -melalui hak siar TV dan sponsor saja- mereka bakal menangguk untung hampir 3 milyar Euro (35,4 trilyun), 1 milyar Euro lebih banyak dari Piala Dunia 2006.
Prediksi sementara, Afrika Selatan butuh suntikan dana sedikitnya 783 juta Euro (9,2 trilyun Rupiah). Dua kali biaya tambahan yang diberikan pada perhelatan di Jerman yakni senilai 370 juta Euro (sekitar 4,36 trilyun Rupiah).

Hal lainnya yang masih menjadi tanda tanya adalah lalulintas menuju ke arena. Di kota-kota yang disebutkan di atas itu sepertinya belum punya jaringan lalu lintas yang baik. Pemerintah menyatakan telah menyediakan dana 1,6 juta Euro terutama untuk memperbesar bandara, perbaikan jalan, dan jalur kereta api. Untuk memudahkan penonton, dianjurkan agar pertandingan babak penyisihan tiap grup di buat di satu kota saja. Tidak berpindah-pindah seperti di Piala Dunia Jerman 2006 sekarang. Dengan begitu para penonton dapat menghemat pengeluaran biaya transportasi dan akomodasi.

Lalu hal lainnya yang krusial, yakni tiket masuk yang disesuaikan dengan pendapatan penduduk. Dengan tingkat pengangguran antara 26 hingga 40 persen dan pendapatan rata-rata 500 Euro per bulan (sekitar 5,9 juta Rupiah), maka panitia lokal menyarankan agar harga tiket masuk 16 sampai 170 Euro (babak penyisihan) dan babak final tidak melebihi 660 Euro. Contohnya tiket di liga utama negara-negara Afrika antara 1,10 dan 8 Euro. Kemungkinan lainnya, FIFA akan kembali mengelola sendiri tiket piala dunia tersebut. Tidak seperti di Jerman yang hampir 3 juta tiket dikelola oleh agen resmi yang ditunjuk.

Sementara itu Danny Jordaan -ketua panitia Piala Dunia 2010- yang telah mengirim 80 orang pengamat ke Jerman selama Piala Dunia mengatakan bahwa Piala Dunia di Jerman memang luar biasa. “Kami tentu saja ingin seperti ini. Barangkali sedikit beda adalah dari cara Afrika merayakan.“, ujarnya sembari menambahkan mereka masih menghadapi kendala dengan tempat kumpul fans, merujuk sukses Jerman yang mendirikan ratusan arena nonton bareng di setiap kota penyelenggara.
Zulkarnain Jalil, Serambinews (08/07/06)