Thursday, September 10, 2009

Iklan Makanan Halal Rambah Televisi Perancis

Cahaya Islam makin bersinar saja di Perancis. Konon lagi di bulan suci Ramadhan ini. Aneka kegiatan digelar. Dari buka bersama -yang turut mengundang kalangan non-muslim-, shalat tarawih, tadarus, hingga kampanye makanan dan minuman halal. Baru-baru ini warga Perancis dikejutkan oleh munculnya tayangan iklan halal di beberapa stasiun televisi swasta. Tayangan iklan makanan dan minuman halal di negeri mode dunia itu sungguh bak sebuah ”hadiah” bagi muslim Perancis di bulan suci Ramadhan tahun ini. Iklan makanan khusus untuk warga muslim bukanlah iklan yang lazim di benua Eropa yang menganut paham sekuler.
Halal, yes!
Seperti dilansir harian online Telegraph, penayangan iklan yang baru pertama kali di di negeri yang pernah melarang penggunaan jilbab itu telah membuat sekitar lima juta warga muslim di Perancis lega. Betapa tidak, selama ini mereka musti ekstra hati-hati dalam membeli makanan. Jika ingin aman musti ke toko makanan halal yang jumlahnya bisa dihitung dengan jari. Kini, otomatis mereka akan dengan mudah mendapatkan makanan halal di pusat-pusat perbelanjaan terdekat. Sebelumnya, iklan-iklan makanan halal hanya bisa disaksikan di saluran televisi Arab.

Iklan halal itu muncul sejak 17 Agustus silam di saluran televisi TFI, salah satu TV swasta terkenal Perancis, begitu pula di saluran M6 dan beberapa televisi lokal lainnya. Dalam tayangan diperlihatkan sekelompok muslim kelas menengah Perancis mengantri di sebuah pusat perbelanjaan untuk membeli Zakia Halal, sebuah merek makanan, untuk sajian berbuka.

Dalam tayangan digambarkan sepasang suami isteri sedang mendorong kereta belanja yang penuh dengan barang belanjaan sembari berujar: "Yes, yes, we eat halal" (Ya, ya, kami makan yang halal). "Halal? Yes, Zakia halal," imbuh sang istri sumringah.

Bisnis menggiurkan
Nilai bisnis makanan halal memang mengiurkan. Catat saja, saat ini ada sekitar 400 jenis produk makanan dan minuman halal yang dipasarkan di berbagai supermarket di seluruh Perancis. Sedikitnya 260 ribu poundsterling (sekitar 2,7 milyar rupiah) bisa diraup dari pasar halal ini per hari dan diperkirakan akan terus tumbuh hingga 15 persen per tahunnya. Mengutip studi yang dilakukan Solis, sebuah biro penelitian lokal, hampir 94 persen warga muslim di Perancis adalah konsumen produk-produk halal.

Beberapa pekan sebelumnya sebuah papan reklame produk makanan halal bermerk Isla Delice menyeruak di antara aneka papan reklame lainnya di sela-sela pusat keramaian Champs-Elysees, sebuah kawasan wisat terkenal di Paris.

Beragam reaksi dari kalangan muslim Perancis pun bermunculan. Sebagian besar dari mereka terkejut dan tak percaya. "Baru kali ini saya lihat ada begitu banyak warga Arab di iklan televisi. Sepertinya ini tanda-tanda Arab (baca: Islam) memberi warna baru dalam perekonomian Perancis," tulis seorang pembaca di website muslim Perancis Bladi.net.

"Selama bertahun-tahun produk makanan halal sangat terbatas dan hanya ada di pasar tradisional milik orang Arab. Namun sejak sepuluh tahun silam, sejumlah perusahaan retail mulai menawarkan beberapa produk halal. Sejumlah pengusaha melirik pasar yang menggiurkan dengan meningkatnya jumlah konsumen dari generasi kedua dan ketiga imigran muslim," kata Abbas Bendali, Direktur Solis.
Investor berlomba
Tentu saja setiap konsumen punya beragam keperluan akan produk-produk halal. Hal ini berakibat pada meningkatnya permintaan produk tertentu. Misalnya produk makanan berbagai merek seperti Maggi, Herta, Fleury Michon, Panzani, dan lainnya yang kini diperdagangkan di banyak supermarket dengan label halal. Menariknya, pasca booming produk halal, para investor kini malah melirik produk rumah tangga lainnya -selain makanan dan minuman- untuk memenuhi kebutuhan kaum muslimin Perancis.

"Pangsa pasar warga muslim di outlet kami mencapai 20 persen. Bahkan diprediksi akan terus meningkat. Sebagian besar mencari produk-produk halal,” kata Stéphane Renaud, seorang produsen produk rumah tangga yang membuka outletnya di kawasan Auchan.

Muslim Perancis memang terkenal dengan aneka sensasinya. Dari demo menentang pelarangan jilbab, penggunaan Burkini, yakni sejenis baju renang yang khusus dirancang bagi muslimah, dan yang terkini adalah iklan halal. Hanya saja untuk kasus iklan produk halal tidak sampai memunculkan kontroversi. Pemerintah adem-adem saja. Bisa jadi karena nilai ekonomi yang didapat dari bisnis halal sangat menjanjikan.

Perancis merupakan negara dengan komunitas muslim terbesar di Eropa. Saat ini, menurut catatan tak resmi, ada sekitar 7 juta warga muslim bermukim di negeri Napoleon Bonaparte itu. Sebagian besar merupakan imigran asal Afrika Utara (Maroko, Aljazair, Tunisia) dan Turki. Gelombang kedatangan pertama sekitar tahun 70-an guna membantu Perancis pasca Perang Dunia II. Imigran muslim saat ini adalah generasi kedua dan ketiga yang lebih moderat dan telah membaur dengan warga setempat. Begitulah. (zulkarnain jalil).
Mengintip Ramadhan di Liga Jerman

Suhu udara di Jerman selama bulan Agustus terasa menyengat. Rata-rata sekitar 30 derajat Celcius. Bisa dimaklumi karena masih berlangsung musim panas. Sementara itu Liga Jerman atau dikenal dengan Bundesliga baru saja bergulir. Pada saat yang sama Ramadhan pun datang menyapa. Tentu sebuah dilema bagi para pemain beragama Islam selama liga berlangsung. Satu sisi menjalankan perintah agama, sisi lain kondisi tubuh musti tetap fit agar tim yang dibelanya bisa bersaing di papan atas. Mendahulukan keyakinan atau kesehatan?

Ritme ramadhan
“Ritme hidup di bulan Ramadhan seperti ini sudah biasa buat aku. Tak ada masalah. Selama puasa aku selalu bangun pukul 3.30 untuk makan sahur,“ tutur Jauhar Mnari, pemain FC. Nuermberg. Mnari yang asli Tunisia ini mengaku selama Ramadhan berat badannya turun hingga tiga kilogram. Namun dia tak merasa bermasalah dengan hal itu dan bahkan dia sering terpilih masuk tim inti. Malah rekan-rekannya merasa takjub dengan Mnari. “Luar biasa daya tahan tubuhnya. Dia selama sebulan tetap puasa, shalat tak pernah tinggal,“ puji salah seorang rekan setim kagum.

Pemain lainnya yang istiqamah dengan puasa adalah Abdelaziz Ahanfouf, yang bermain di klub Bundesliga divisi dua Fortuna Düsseldorf. Pemain dengan dua kewarganegaraan ini, Maroko dan Jerman, lebih radikal lagi. Dia sangat ketat mengikuti aturan puasa. Selama latihan dan begitu juga di hari pertandingan dia tetap puasa. “Hari-hari pertama memang terasa berat, tapi ketika ritme hidup sudah teratur maka semuanya akan lancar. Aku ingin masuk syurga,” papar pemain berusia 31 tahun itu dengan mimik serius.

Problematis
Bintang Bayern Muenchen asal Perancis, Franck Ribery dikenal sebagai salah satu pemain alim di kalangannya. Namun pada hari pertandingan tidak puasa, terutama untuk pertandingan tandang di luar Muenchen.

Serdar Tasci und Sami Khedira, pemain Stuttgart dan anggota timnas Jerman, juga tetap tekun menjalankan ibadah puasa. “Tak ada yang perlu ditakutkan, saya tetap puasa ketika latihan,“ kata Tasci yang kini dipercaya sebagai bek kiri di timnas Jerman. Sami Khedira, kapten timnas U-21 yang baru saja mengantarkan Jerman sebagai juara Euro U-21 mengamini pendapat Tasci.

Situasi ini tentu saja bikin pelatih sedikit pusing dan putar otak. Misalnya Werner Lorant, mantan pemain Borussia Dortmund dan melatif klub Fenerbahce Turki ini menganjurkan para pemain muslim untuk terbuka tentang puasa. “Saya sangat senang jika pemain yang puasa jauh-jauh hari memberitahukan hal itu. Jadi kita bisa atur jadwal dan macam-macam hal lainnya. Ya, kita cari jalan keluarnya,“ kata dia. Lorant termasuk moderat dalam hal puasa, mungkin karena dia pernah lama di Turki. Dia menyarankan kepada para pemainnya agar mengonsumsi makanan yang cukup dan berkualitas di waktu sahur.

Yang agak berseberangan pendapat adalah Wilfried Kindermann, mantan dokter di timnas Jerman. Dia melihat Ramadhan bagi olahragawan sebagai hal problematis. “Apa jadinya kalau seseorang kekurangan cairan dalam tubuh? Pasti ini akan mempengaruhi konsentrasi pemain yang berakibat jebloknya prestasi tim, baik ketika latihan maupun saat bertanding,“ tekan Kindermann.

Ada yang tak kuat puasa
Pola pikir Kindermann ini tampaknya diadopsi oleh sebagian pemain. Sebut saja misalnya Mesut Ozil yang berdarah Turki. Sikap pemain timnas Jerman dari klub Werder Bremen ini mungkin tak patut ditiru. Dia mengaku tak sanggup puasa penuh selama Ramadan. “Aku tidak kuat puasa kalau lagi latihan dan saat ada pertandingan. Pernah dulu sewaktu masih di tim junior coba berpuasa. Tapi cuma sanggup beberapa hari saja,“ tukas pemain berdarah Turki itu santai.

Begitu pula dengan Halil Altintop. Pemain Schalke 04 itu melihat Ramadan kali ini dengan agak skeptis. Dia tidak yakin bisa berpuasa penuh. “Puasa bagiku sungguh sangat penting. Tapi sebagai pemain bola kami musti cukup gizi dan terutama cairan dalam tubuh yang stabil. Tapi, di luar hari pertandingan aku tetap puasa,“ kata adik dari Hamit Altintop itu jujur.

Pemain Moenchengladbach asal Aljazair Karim Matmour juga tak mau ketinggalan puasa Ramadan. “Sebagai seorang muslim, aku tak mau ketinggalan dalam puasa. Aku selalu berusaha sedapat mungkin tidak tidak tinggal puasa. Kendati begitu, pada hari pertandingan, jika mengundang resiko, aku terpaksa berbuka,“ kata Karim.

Saat ini Karim sedang pulang kampung karena hari Minggu besok ikut memperkuat timnas Aljazair pada pertandingan kualifikasi Piala Dunia 2010. Selama berada di negerinya, Karim mengaku bisa menjalankan ibadah puasa dengan tenang. Karena di sana para pemain bisa istirahat total di siang hari. Sedangkan program latihan baru diadakan malam hari selepas shalat tarawih. Begitulah. (zulkarnain jalil)