Monday, April 07, 2008

Aisyah Bhutta Islamkan Orangtua dan 30 Temannya

PENGANTAR. Aisyah Bhutta (34), dulu bernama Debbie Rogers, kini mengaku hidup tenteram dan bahagia. Di apartemennya yang terletak di Cowcaddens, Glasgow, ia melewati hari-hari dengan amalan Islam. Rumahnya pun telah dihiasi dengan nuansa Islam. Di dinding rumahnya tergantung kaligrafi Al-Quran. Ada juga poster bergambar kota suci Mekkah. Lalu jam yang disetel khusus dengan suara azan yang senantiasa mengingatkan Aisyah dan keluarganya tiap masuk waktu shalat. Wajah Skotland-nya kental –serius, tak ada basa-basi namun humoris- terbungkus rapi oleh jilbab, yang makin menunjukkan kesalehannya. Berikut kisahnya seperti dilansir dari Islamweb.com.

Keluarga Kristen taat

Bagi seorang gadis Kristen taat seperti Aisyah, yang masuk Islam lalu menikah dengan pria muslim adalah suatu hal yang luar biasa. Lebih dari itu, ia juga telah mengislamkan kedua orantuanya, beberapa orang saudaranya. Yang paling menakjubkan ia telah mengajak sedikitnya 30 orang teman dan tetangganya masuk Islam!

Aisyah dulunya berasal dari keluarga Kristen yang taat. Mereka aktif dalam aneka kegiatan gereja. Kala remaja lainnya asyik dengan idola mereka, misalnya mengoleksi poster penyanyi kesayangan mereka, katakanlah seperti penyanyi terkenal George Michael atau asyik dengan hura-hura sepanjang malam. Maka Debbie Rogers justru sebaliknya. Di dinding kamarnya penuh dengan poster Yesus. Musiknya adalah musik bernuansa rohani, bernada puji-pujian bagi Yesus. Itulah aktifitas Aisyah sebelum kenal Islam.

Tapi akhirnya dia “lelah” sendiri. Ia merasa tak mendapatkan apa-apa dari apa yang dipelajarinya. Bahkan banyak sekali daftar pertanyaan tentang paham Kristen yang tak berjawab. Aisyah kemudian berkenalan dengan seorang pria keturunan Pakistan, Muhammad Bhutta namanya. Pria yang mengenalkan Islam padanya dan dikemudian hari menjadi suaminya. Tapi jangan dikira ia masuk Islam gara-gara jatuh cinta dengan Muhammad.

Terkesan dengan shalat

“Waktu itu saya masih kecil. Baru berumur 10 tahun. Kebetulan keluarga kami punya toko dan Muhammad adalah salah satu pelanggan tetapnya. Saya sering mengintip Muhammad kala shalat di belakang toko kami. “Dari wajahnya saya melihat pancaran kedamaian. Tampaknya dia sangat ikhlas dan menikmati shalatnya. Kala saya tanya, dia bilang dia orang Islam. Apa itu Islam?” tanya Aisyah kecil heran.

Berselang beberapa lama, dengan bantuan Muhammad, Aisyah cilik mulai mendalami Islam lebih jauh. Sekitar lima tahunan ia pelajari kitab suci tersebut dan menariknya dia telah mampu membaca seluruh isi Al-Quran dengan bahasa Arab.”Semua saya baca. Sungguh sangat menarik sekali. Serasa menancap di hati,” kenang Aisyah.

Masuk Islam dan menikah

Alhasil, di usianya yang ke-16 Aisyah pun mengucap dua kalimah syahadah.”Ketika saya mengucapkan kalimah itu, serasa seperti baru melepaskan beban berat yang lepas dari pundak saya. Luar biasa. Saya merasa seperti seorang bayi yang baru dilahirkan,” ujar Aisyah.

Meskipun Aisyah sudah memeluk Islam, namun bakal calon mertuanya -ayah kandung Muhammad- tidak setuju putranya menikah dengan wanita Barat. Orangtua Muhammad masih berpikiran tradisional yang menganggap perempuan Barat sulit menerima Islam. Dan, menurut mereka, malah nanti Muhammad yang dibawa ke jalan yang tidak benar. Mereka takut nanti nama keluarga menjadi jelek di mata masyarakat Islam. Namun tekad Muhammad sudah bulat. Iman Aisyah harus diselamatkan.

Muhammad melaksanakan pernikahan di mesjid setempat. Bahkan pakaian nikah yang dikenakan Aisyah dijahit sendiri oleh ibu kandung Muhammad dan saudaranya yang menyelinap secara sembunyi-sembunyi. Sebab bapaknya menolak menghadiri acara sakral dalam hidup anaknya itu. Halnya Michael dan Marjory Rogers, orangtua Aisyah, turut hadir di pernikahan anaknya. Mereka mengaku terkesan dengan baju nikah Aisyah.

Hubungan hambar dengan bapaknya akhirnya mencair. Ceritanya, nenek Muhammad datang khusus dari Pakistan untuk menjenguk cucunya yang baru menikah. Bagi neneknya, pernikahan dengan perempuan Barat juga masih tabu. Namun, semuanya berubah tatkala nenek Muhammad berjumpa dengan Aisyah. Dia sangat takjub dengan perempuan Skotlandia itu yang sudah mampu membaca Al-Quran dan menariknya lagi Aisyah bisa bercakap dalam bahasa Punjab. Perlahan Aisyah telah jadi bagian dari keluarga besar Muhammad.

Islamkan orangtua

Enam tahun kemudian, Aisyah mulai menjalankan misi sulit, yakni mengislamkan kedua orangtua dan anggota keluarganya. Aisyah dan suaminya menceritakan apa itu Islam. Aisyah sendiri kini telah berubah banyak dan hal itu tentu bagian dari dakwah kepada kedua orangtuanya. Misalnya kini dia jadi anak yang sopan, tidak suka membantah kata-kata orangtuanya seperti dulu.

Kesan perubahan sikap dan tingkah laku sang anak rupanya merasuk ke hati sang ibu. Tak lama, ibunya memeluk Islam dan berganti nama menjadi Sumayyah. “Bahkan ibu kini sudah mengenakan jilbab. Ibu shalat tepat waktu. Kini tak ada yang menarik baginya kecuali senantiasa berhubungan dengan Allah,” tutur Aisyah bangga.

Akan halnya dengan ayah Aisyah, ternyata sangat sulit untuk diajak. Ibu Aisyah turut membantu mengenalkan sang ayah kepada Islam. “Ibu dan saya sering berdiskusi tentang Islam. Nah satu hari kami duduk-duduk di dapur. Lalu ayah berkata; Apa yang kalimat yang kalian ucapkan ketika masuk Islam? Spontan saya dan ibu melompat ke atasnya,” cerita Aisyah sumringah. Ayah pun memeluk Islam.

Lalu, tiga tahun kemudian, abang kandung Aisyah juga mengucap dua kalimah syahadah. Uniknya sang abang memeluk Islam melalui telepon, karena ia tinggal agak jauh. Aisyah makin bersemangat tatkala melihat istri abangnya, diikuti oleh anak-anaknya juga memeluk Islam. Bahkan keponakan istri si abang juga masuk Islam. Bukan main bahagianya Aisyah.

“Saya belum mau berhenti berdakwah. Keluarga sudah, lalu saya beralih kepada para tetangga di Cowcaddens. Kawasan ini perumahannya sangat padat, bahkan bisa dikatakan kumuh. Tiap hari Senin selama 13 tahun saya membuka kelas khusus tentang Islam bagi wanita-wanita Skotlandia yang ada di situ,” kisah Aisyah mengenang. Sejauh ini dia sudah berhasil mengislamkan tetangga sekitar 30 orang.

“Latar belakang mereka macam-macam. Trudy misalnya, dia seorang dosen di Universitas Glasgow. Trudy adalah seorang Katolik yang awalnya mengikuti kelas saya untuk mengumpulkan data penelitian yang sedang dikerjakannya. Namun setelah berjalan enam tahun Trudy memutuskan memeluk Islam. Menurutnya Kristen sulit diterima akal dan membingungkan,” sebut Aisyah. Trudy sendiri mengaku masuk Islam karena terkesan dengan kuliah Aisyah yang mudah diterima dan masuk akal.

Disamping siswa non-muslim, kelas binaan Aisyah juga dipenuhi oleh gadis-gadis Islam yang telah terkena polusi pemikiran Barat. Menurut Aisyah, justru mereka yang patut diselamatkan. Aisyah pun fleksibel dalam kuliahnya. Dia menerima secara terbuka setiap pertanyaan dan mengajak peserta berdiskusi.

Suami Aisyah, Muhammad Bhutta (43), tampaknya tidak begitu tertarik untuk berdakwah di kalangan warga asli Skotlandia. Dia konsentrasi pada usaha restorannya. Fokus suami Aisyah adalah keluarga dan usaha. Suaminyalah yang bertugas memberikan ajaran Islam kepada kelima anaknya. Tumbuh dengan akhlak dan nuansa Islam, itulah obsesi Aisyah dan suaminya akan anak-anak mereka. Bahkan Safia, anaknya tertua yang berusia 14 tahun menjadi sebab masuk Islamnya seorang wanita tua. Ceritanya, suatu hari Safia melihat seorang nenek di jalan, dia tergerak untuk membantu si nenek dengan membawakan belanjaannya. Sang nenek rupanya terkesan. Tak berapa lama si nenek pun ikut kelas Aisyah Bhutta, dan beberapa waktu kemudian akhirnya bersyahadah.

“Muhammad orangnya romatis,” ujar Aisyah tersipu. “Saya seakan telah mengenalnya selama berabad-abad. Jadi tak mungkin terpisahkan. Dia bukan hanya kawan dalam hidup di dunia ini, tapi yang lebih penting lagi semoga juga kawan di surga nanti dan selama-lamanya. Itulah hal terindah,” tutup Aisyah. (Zulkarnain Jalil)

Hafidl Arsyi

Menempa Hidup di Pegunungan Rusia

PENGANTAR. Gagal tak selamanya harus disesali. Namun untuk bangkit dari sebuah kegagalan bukanlah hal mudah. Namun tidak bagi Hafidl Arsy. Pemuda Aceh satu ini tergolong ulet. Mimpinya sempat terwujud ketika bisa kuliah di Teknik Geofisika, ITB Bandung. Namun itu hanya berlangsung setahun. Ia kena drop out dan mengaku sangat terpukul. Ia bangkit lagi dengan mencari perguruan tinggi lain. Akhirnya dengan berbagai kendala seperti dana, bahasa, dan budaya ia kini dapat mencicipi kuliah di Rusia, tepatnya di Ufa State Petroleum Technological University, sebuah perguruan tinggi berkaliber di sana, khususnya dalam bidang perminyakan. Dalam sebuah kontak online dengan Kontributor Kontras, Zulkarnain Jalil, pemuda asal Lhokseumawe itu menuturkan kisah perjalanannya ke negara bekas pecahan Sovyet tersebut.

--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

“Ya memang orang terkadang harus dipukul dulu baru tahu bagaimana rasanya sakit,” ujar Hafidl Arsyi kala ditanya momen apa yang tak terlupakan dalam hidupnya. Ia mengakui tatkala gagal meneruskan studi di ITB adalah hal yang paling berkesan dalam hidupnya hingga momen itu sulit dilupakan. Di ITB –walau hanya setahun- ia sempat mencicipi ilmu teknik geofisika, salah satu bidang fisika bumi. Namun ia bukanlah tipe pemuda yang gampang putus asa. Kalimat orang bijak bahwa kegagalan adalah sukses yang tertunda menancap kuat di dadanya.

“Kegagalan di ITB itu menjadi pelajaran yang sangat berharga bagi saya. Tapi saya tak mau berlarut-larut menangisi kegagalan itu. Saya harus bangkit lagi,” tutur pemuda Lhokseumawe itu lagi. Usahanya untuk bangkit memang tak sia-sia. Buktinya, kini ia bisa menempuh studi di sebuah tempat yang justru tak ada dalam bayangannya yakni di Rusia.

Begitulah, dengan tekad dan kesabarannya, Hafidl kini merajut asa dan menempa hidup di Ufa, sebuah kota di kawasan pegunungan Ural, Republik Rusia. Sejak 2006 silam dia menekuni ilmu teknik geologi minyak dan gas di Ufa State Petroleum Technological University, sebuah perguruan tinggi berkaliber di sana khususnya dalam bidang perminyakan. Putra kelahiran Lhokseumawe 7 April 1985 memang menaruh minat tinggi terhadap ilmu kebumian.

Informasi lewat internet

Putra pasangan A.Barry Ibrahim (alm) –mantan karyawan PT. AAF- dan Fatmah itu menceritakan perjalanan ke Rusia bermula ketika mencari info beasiswa melalui internet.

“Melalui internet, saya mendapatkan informasi dari Pusat Kebudayaan Rusia (PKR) di Jakarta bahwa ada tawaran beasiswa studi di Rusia. Saat itu saya masih berada di Bandung. Nah saat saya ke Jakarta, menyempatkan diri ke kantor PKR guna mendapatkan informasi yang lebih jelas tentang kuliah di Rusia. Pada hari itu juga saya mengambil dan mengisi formulir pendaftarannya,” kisah pemuda lajang yang honi sepakbola itu.

“Sekitar bulan Juli 2005 saya dihubungi oleh pihak PKR bahwa saya diterima untuk studi di Rusia. Waktu itu saya masih di Aceh. Disebutkan bahwa saya akan berangkat bersama rombongan yang lain sekitar akhir Agustus 2005. Tentu saja, saya sangat senang sekali mendapat kabar tersebut,” lanjut Hafidl lagi.

Kendala biaya hidup

Namun ada permasalahan yang membuatnya sedikit ragu yakni masalah biaya hidup selama di Rusia. “Beasiswa tersebut hanya untuk studi saja, sedangkan biaya hidup selama di sana menjadi tanggungan sendiri. Lalu saya coba mendaftar beasiswa ke Pemda NAD. Namun masih belum beruntung. Saya tidak putus asa. Saya tetap bertekad untuk pergi. Setelah berunding dengan orang tua dan saudara-saudara, akhirnya diambil keputusan saya berangkat ke Jakarta untuk mencari universitas lain di Jakarta sembari mencoba mencari dana juga untuk ke Rusia,” kata Hafidl. Namun sesampai di ibukota dia tidak mau mencari universitas lain.

“Niat dan tekad saya kuat sekali untuk ke Rusia. Saya masih berusaha mencari bantuan dana untuk biaya hidup. Sampai akhir Agustus saya belum juga mendapatkannya. Kepada pihak PKR saya meminta supaya memberikan waktu satu bulan lagi. Alhamdulillah mereka mengabulkan. Akhirnya saya bertemu dengan Fahrul, abang sepupu saya. Saya disarankan untuk menghubungi Pak Nasir Djamil (anggota DPR RI-red) dan Pak Syamsuddin Mahmud (mantan Gubernur NAD-red),” ungkap penyuka musik jazz dan pop itu lagi.

“Pak Nasir Djamil dan Pak Syamsuddin Mahmud menyambut dengan baik. Dengan bantuan beliau saya mendapatkan bantuan dari berbagai pihak yang lain seperi Pemda Aceh Utara, Pemkot Lhokseumawe, PT. PIM, dan beberapa pihak lainnya. Alhamdulillah dari mencari dana ke sana kemari dan berkat doa keluarga, terkumpul dana untuk biaya hidup selama setahun di Rusia. Awal Oktober 2005 saya pun berangkat ke Rusia. Dapun biaya hidup tahun kedua di Rusia saya dapatkan bantuan pendidikan dari Pemda NAD. Alhamdulillah, Allah masih sayang sama saya,” kata Hafidl bersyukur.

Belajar bahasa Rusia

Seperti diakui banyak orang, bahasa Rusia termasuk salah satu bahasa yang lumayan rumit. Bahkan terkadang, karena bahasa yang rumit itu membuat sebagian orang enggan belajar ke negara bekas pecahan Sovyet tersebut. Hafidl juga merasakan kendala bahasa itu.

“Sebelum ke Rusia, saya tidak pernah mendengar bahasa Rusia. Sesampai di Rusia begitu mendengar orang berbicara dengan bahasa Rusia terasa sangat asing sekali. Syukurnya saya diberikan kesempatan untuk ikut kelas persiapan selama setahun di People’s Friendship University of Russia, Moskow. Memang untuk mahasiswa internasional pada tahun pertama di Rusia belajar bahasa Rusia. Selama berada di kampus mahasiswa di larang berbicara dengan bahasa lain selain bahasa Rusia. Jadi lama-kelamaan saya jadi terbiasa dengan bahasa Rusia.

Setelah setahun di Moskow, saya lalu pindah ke Ufa dan saat ini menuntut ilmu di jurusan Geology of Oil & Gas, Ufa State Petroleum Technological University, ujarnya panjang lebar.

Dikatakannya, Ufa merupakan kota yang menarik, sangat tenang dan nyaman. Sangat cocok untuk belajar. Suasana belajar, seperti diakui Hafidl, sangat kondusif. Tidak ada diskriminasi bagi mahasiswa asing. Mahasiswa tempatan dan dosen-dosen sangat bersahabat dengan mahasiswa asing. “Makanya jangan heran jika di kota ini ada sekitar 27 perguruan tinggi negeri dan swasta. Perguruan tinggi itu membidangi hampir seluruh disiplin ilmu hingga menjadikan Ufa sebagai salah satu pusat perindustrian dan budaya di Rusia,” imbuh Hafidl lagi.

Kota industri yang dingin

“Tak kalah penting lagi Ufa juga termasuk salah satu kota penghasil minyak bumi dan gas terbesar di Rusia. Secara geografis, kota ini terletak di antara bagian timur dan barat Rusia, tepatnya di kawasan pegunungan Ural. Karenanya disini kalau musim dingin suhunya bisa sampai -40 derajat. Ndak kebayang kan gimana dinginnya,” tukasnya. Hafidl juga menambahkan pada musim dingin waktu siang menjadi lebih pendek. Sebaliknya kalau musim panas lebih panjang.

“Nah jika puasa Ramadhan pas jatuh musim dingin waktunya sangat pendek. Biasanya kami sahur sekitar jam 7 atau 8 pagi dan sekitar jam 4 sore sudah buka puasa. Tetapi kalau musim panas, sahurnya sekitar jam 3.30-4.30 dinihari, sementara berbuka jam 11.30 malam. Jadi puasa berjalan selama 18 jam. Ini suatu tantangan akan kesabaran kita,” kisahnya

“Menariknya, ternyata Ufa merupakan salah satu kota muslim di Rusia. Banyak orang tidak tahu hal ini. Patut dicatat lebih dari 80% penduduk kota Ufa adalah muslim. Namun sayang sekali Islam disini seakan hanya tinggal sejarah saja. Sangat banyak penduduk muslim disini yang melenceng perbuatannya sebagai seharusnya muslim. Banyak diantara mereka yang tidak menjalankan perintah-perintah agama Islam. Begitupun kita tak mendapat halangan apapun selama ini dalam menjalankan perintah agama, seumpama shalat, puasa, dan lainnya. Mereka, warga asli, sudah tahu tentang ibadah-ibadah itu. Makanya mereka tak melihatnya sebagai sesuatu yang aneh. Oya imigran terbanyak disini dari Azerbaizan dan Uzbekhistan,” ungkap pemuda yang punya cita-cita masa kecil menjadi dokter itu lagi.

Bersama membangun Aceh

“Siapa yang bersungguh-sungguh dialah yang dapat,” ujar Hafidl kala ditanya moto hidupnya seraya menyebut bahwa moto hidup itu merupakan nasihat dari Abuwanya. Dengan moto hidup itu ia mengarungi sulitnya medan perjuangan selama di Rusia. Dia punya rencana ke depan untuk mencoba menerapkan ilmu yang diperolehnya, terutama tentang minyak dan gas bumi, untuk bersama-sama membangun Aceh. Ia mengaku tetap memantau situasi yang kini sangat aman di Aceh.

“Setelah MoU Helsinki ditandatangani saya berangkat ke Rusia. Sejak itu saya hanya bisa memantau situsi di dari jauh. Saya sangat berharap MoU dapat terealisasi dengan baik. Tak ada lagi perang, juga tindakan kriminalitas adalah harapan semua orang. Masyarakat kita, terutama yang berpenghasilan kecil, bisa mencari rezeki dengan mudah, Tak perlu muluk-muluk sebenarnya. Bagi mereka yang penting bisa makan, bisa menghidupi keluarganya. Tak perlu diajak politik-politik lah. Karena itu marilah kita merawat dan menjaga perdamaian Aceh bersama-sama guna membangun Aceh ke depan yang lebih baik,” ungkap Hafidl penuh harap.

Di akhir perbincangan, pemuda yang juga aktif di organisasi Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) dan berniat meneruskan studi Rusia hingga program doktor itu berharap satu saat nanti pendidikan di Aceh bisa bebas dari berbagai pungutan alias gratis, dari tingkat dasar hingga perguruan tinggi. Demikian pula harapannya kepada Pemerintah Aceh agar bisa mengirim lebih banyak lagi putra-putri daerah untuk menuntu ilmu di luar aceh untuk membangun aceh ke depan. Selamat belajar Hafidl, semoga lekas rampung studinya dan dapat segera kembali dan sama-sama membangun Aceh