Friday, May 22, 2009
PENGANTAR. Sarah Bokker namanya lengkapnya. Perempuan Amerika ini dulu seorang model, instruktur fitnes dan juga aktifis. Hidupnya yang penuh glamour ternyata tak membuatnya bahagia. Satu ketika dia berjumpa dengan seorang pria muslim asal Mesir dalam sebuah aksi unjuk rasa anti perang Irak. Berawal dari sini dia mulai mengenal Islam dan kemudian belajar secara mandiri hingga akhirnya di musim dingin Januari 2003 memeluk Islam. Bersama pria Mesir itu, yang kemudian jadi suaminya, dia membentuk organisasi The March for Justice dan Sarah sendiri sebagai Direktur Komunikasi. Sarah yang dulu bangga menyusuri Pantai Miami dengan bikini, kini malah bangga dengan jilbabnya. Berikut kisah keislaman Sarah Bokker seperti ditulisnya di www.islamreligion.com.
000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000
“Aku dibesarkan di sebuah kota kecil di South Dakota, AS. Sebelum kenal Islam, satu-satunya agama yang aku tahu kala itu dan mewarnai kehidupanku hanyalah Kristen. Aku, mengikuti petuah mama, sering ikut acara misa mingguan di gereja dekat tempat tinggal kami yang berafiliasi Marthin Luther. Aku percaya adanya Tuhan, tapi sebagian kegiatan gereja ada yang tak kusuka, seperti menyanyi, menyembah patung Yesus dan beberapa kegiatan lainnya. Sama sekali tak menarik,” tutur Sarah Bokker.
”Semakin lama aku seperti merasa ada sesuatu yang hilang. Seperti ada sebuah “lubang” di hatiku. Lubang yang begitu menganga dan gelap. Tak ada yang bisa menutup lubang yang gelap itu. Aku gelisah hingga kecanduan alkohol di usia yang masih sangat belia. Hubunganku dengan keluarga pun makin ada jarak. Seiring dengan bertambahnya usia, aku makin jauh dengan kedua orangtuaku. Hingga aku bermaksud minggat dari rumah,” aku dia.
Pindah ke Florida
Sarah drop out dari kuliahnya dan atas inisiatifnya sendiri pindah ke South Dakota, dekat Florida pada usia 19 tahun. Kendati lingkungan di sana masih baru tapi dia bisa cepat beradaptasi. Menurut Sarah, suasana di sana sangat mengesankan dimana dia bisa segera memeroleh kenyamanan dan ketenangan jiwa dalam waktu relatif singkat. Tapi ternyata suasana tersebut berlangsung hanya sebentar. “Rasa sakit dan sedih serta “lubang” di hatiku masih tetap ada,” aku Sarah.
“Aku habiskan waktu bertahun-tahun untuk mencari dan mencari. Mencari sesuatu yang dapat menyembuhkan luka di batinku. Aku mengadu ke psikolog, membaca buku, mendengar kaset dan aneka rupa latihan olah batin. Perlahan aku mulai mendapatkan ketenangan jiwa dan mampu mengatasi persoalan hidup. Aku bisa menikmati lagi hidup di Florida. Tak hanya itu, aku dapat pekerjaan hingga bisa membiayai hidup secara wajar, bahkan lebih dari cukup. Aku jadi suka shoping dan ikut pesta. Penampilan juga berubah. Aku ingin selalu tampak cantik. Makanya sebagian gaji kualokasikan untuk penampilan. Tentu saja tidak murah,” kata dia.
“Tanpa kusadari aku telah jadi budak bagi diriku sendiri. Perilaku konsumtif makin menjadi-jadi. Gajiku habis untuk ke salon, klub kebugaran, shoping, dan banyak lainnya lagi. Aku sangat gembira jika ada orang melihatku dengan rasa kagum. Aku suka jadi perhatian banyak orang. Tapi, entah kenapa lama kelamaan aku jadi benci cara hidup seperti ini. Semua cuma fantasi sesaat. Aku merasa telah diperbudak oleh nafsuku sendiri. Aku tetap tak merasa bahagia. Lalu, aku pun mencari lagi. Mencari kebahagiaan yang sebenarnya,” ungkap Sarah panjang lebar.
Tak mendapatkan kebahagiaan
Sarah mengaku memang mendapatkan bahagia, tapi itu hanya berumur sekejap. Lalu dia mulai mencari bahagia dengan belajar agama. Semua jenis agama. Perlahan dia mulai tahu ada “keyakinan universal” dalam setiap ajaran agama.
Rasa cinta akan sesama manusia dan kedamaian makin hari makin muncul di hatinya seiring dengan tumbuhnya keyakinan. “Aku mulai tertarik dengan “kajian metafisik” terutama meditasi ala Timur seperti yoga. Tapi aku ingin lebih. Aku butuh seseorang yang bisa menjelaskan apa yang seharusnya kukerjakan dan bagaimana mengerjakannya. Aku butuh aturan dan tatacaranya,” lanjut dia.
Membentuk organisasi kemanusiaan
Akhirnya Sarah memutuskan kembali lagi ke bangku kuliah. Dia sangat berkeinginan mengembangkan sebuah yayasan internasional yang bergerak di bidang kemanusiaan. “Jujur saja, aku benci dengan kebijakan luar negeri Amerika yang melanggar hak asasi manusia. Aku benci dengan ketakadilan, rasisme, dan tindakan penganiayaan yang sewenang-wenang. Aku harus mengerjakan sesuatu. Begitu kata hatiku,” tukas dia.
Lalu Sarah pun mulai menjalin networking dengan kalangan terpelajar dari akademisi hingga mahasiswa untuk menyuarakan ketakadilan di Timur Tengah. Atas inisitif dia pula akhirnya berdiri sebuah yayasan lokal berisi para aktifis muda. Kali pertama aksi mereka adalah menggelar unjuk rasa di Washington DC untuk menentang perang Irak.
Ketemu pria Mesir
“Nah saat kegiatan ini kami gelar, aku bertemu dengan seorang pria muslim asal Mesir yang juga sering mengadakan aksi unjuk rasa dengan tujuan yang sama. Aku belum pernah ketemu orang seperti dia yang mendedikasikan separuh hidupnya untuk orang lain, untuk menentang kesewenang-wenangan, untuk berbuat bagi kemanusiaan. Dia membangun sendiri organisasinya, persis seperti yang kulakukan. Karena itu aku berniat belajar dari pengalaman dan perjuangan dia. Kami pun bekerjasama. Tak hanya itu, dia juga sering berbagi cerita tentang kehidupan dalam Islam, akhlak Nabi Muhammad dan para sahabatnya. Aku benar-benar terkejut mendengar kisah-kisah ini. Aku tak pernah tahu cerita seperti ini sebelumnya. Islam tak pernah hadir utuh. Kontan setelah mengetahui hal ini, aku pun jadi tertarik dan mencari-cai informasi lebih lanjut tentang Islam. Aku pelajari juga Alquran,” aku Sarah panjang lebar.
“Bukan main, akhirnya aku menemukan sesuatu setelah sekian lama mencari. Padahal sebelumnya, Islam tak menarik bagiku, penuh dengan stereotip negatif. Ternyata ajarannya sangat mengagumkan. Dulu aku sangat benci dengan wanita Islam (berjilbab). Bagaimana orang bisa lihat kecantikan kita jika selalu ditutup. Ternyata Islam sangat melindungi dan menghargai wanita. Bukan main,” lanjut Sarah kagum.
Sarah terus belajar dan mencari setiap jawaban atas soalan yang tak dipahaminya. Setiap jawaban yang didapat selalu saja membuatnya kagum. “Semuanya masuk akal. Islam itu rasional, masuk akal. Mengagumkan! Anda lihat, Islam ternyata bukan hanya sebuah agama. Islam juga tatacara hidup dari atifitas sosial keseharian hingga bernegara. Dalam Islam kutemukan bahwa hal-hal sekecil apapun ada aturannya. Misal, makan dan tidur pun ada tatacaranya. Luar biasa!,” tukas dia.
Begitupun, Sarah belum punya komitmen khusus untuk masuk Islam. Masih berat, begitu kata dia. Tapi yang namanya hidayah tak kan kemana. Satu malam di musim dingin, Januari 2003, Sarah kembali dari sebuah aksi unjuk rasa di Washington. Di dalam bus yang ditumpanginya, hati Sarah mulai “bergelut”.
“Aku sudah banyak melewati aneka ragam kehidupan. Aku lelah. Umurku sudah 29 tahun dan aku belum punya tujuan hidup yang pasti lagi. Apa yang harus kulakukan dengan hidup ini? Hatiku runtuh, aku menangis. Hatiku berteriak; "Apa yang musti kulakukan? Apa yang musti kulakukan? Aku hanya ingin jadi orang berguna, jadi orang baik-baik dan ingin dunia ini jadi damai." Entah bagaimana, tiba-tiba batinku berkata: Masuklah Islam. Oh! Tiba-tiba hatiku seperti digiring menuju Islam,” kisah Sarah.
Bersyahadah dan berjilbab
Sepekan kemudian, Sarah pun mengucapkan dua kalimah syahadah di depan masyarakat muslim yang berkumpul di mesjid setempat. “Dan, yang menakjubkan, sesaat selepas aku bersyahadah tak lama muncul pelangi di langit!,” tutur Sarah.
“Semua yang hadir waktu itu sangat tersentuh dan rekan-rekan muslimah memelukku dengan hangat penuh persaudaraan. Aku menangis sesenggukan, rasa bahagia mengalir di sekujur tubuhnya. Aku merasakannya,” lanjutnya bahagia.
Keesokan harinya, Sarah ingin segera menunjukkan kepada semua orang bahwa dia sudah jadi seorang muslim. Dia pun pergi ke kawasan pertokoan yang dihuni oleh warga Timur Tengah. Di sana dia membeli beberapa lembar pakaian muslimah dan tentu saja jilbab. Tanpa ragu, dia segera mengenakan baju muslimah dengan sempurna. Itulah hari pertama dia berjilbab.
“Ahhhhh … akhirnya aku bebas! Aku telah memutus rantai dengan budak kecantikan. Aku seperti baru melepaskan beban berat yang selama ini ada di pundak. Tahu tidak, begitu tahu aku berjilbab, sebagian orang yang selama ini mengagumi kecantikanku menganggapku aneh, ada juga yang menyayangkan keputusanku, malah ada pula yang marah,” kata Sarah.
“Alhamdulillah, terima kasih ya Allah telah Engkau perkenalkan pada Islam. Telah Engkau tunjukkan padaku jalan yang benar,” syukur dia.
Menikah dan pindah ke Mesir
Persis sebulan setelah ikrar syahadah itu, Sarah dilamar oleh pria Timur Tengah yang mengenalkan Islam pertamakali padanya. Sejak itu pula mereka meneruskan kerja kemanusiaan bersama-sama. Tak hanya di Amerika, mereka juga pergi kampanye kemanusiaan ke berbagai Negara. Akhirnya Sarah memutuskan tinggal di Mesir bersama dengan ibu mertuanya dan hidup dalam lingkungan Islam. “Alhamdulillah, aku dikarunia sebuah keluarga besar yang sangat bahagia dan penuh perhatian,” katanya.
“Hidup adalah hidup. Perlu terus dijalani walau tidak mudah. Tapi hidup musti ada tuntunan. Dan, kini aku telah menemukan buku tuntunan hidup itu. Kisah hatiku sudah cukup lengkap. Kesedihan dan kesendirian kini telah pergi, berganti kebahagiaan. Semoga kebahagiaan ini terus berlanjut hingga ke hari akherat nanti,” harap Sarah.
Begitulah, Sarah Bokker yang dulu bangga dengan bikininya menyusuri pantai South Beach, Miami dan hidup glamor ala Barat kini bangga dengan jilbabnya. Dia menemukan “kehidupan” lain yang tak pernah diduganya. Kehidupan damai dalam bimbingan Allah sang Maha Pencipta dan saling berbagi suka dan duka dengan makhluk ciptaan-Nya yang lain.
“Hari ini, jilbab adalah simbol kebebasan wanita Islam. Bebas dari perbudakan dunia kecantikan dan fashion. Kepada para wanita-wanita yang selama ini memandang rendah wanita Islam dan jilbab, maka saya katakan kepada Anda semua; Ada sesuatu yang hilang dalam diri Anda. Carilah,” tutup Sarah diplomatis. (Zulkarnain Jalil)
Sunday, May 17, 2009
Elizabeth Valencia bersyahadah melalui telepon
PENGANTAR. Elizabeth Valencia adalah seorang gadis belia kelahiran Tijuana , Meksiko. Sebelum memeluk Islam dia merasa hidupnya seakan tak berharga. Karena tubuhnya yang gemuk dia sering diejek di sekolah. Dia makin stress dan tak punya semangat hidup. Begitulah, waktu terus berjalan hingga satu ketika di musim panas tahun 2000, Elizabeth bertemu dengan seorang seorang pemuda yang kemudian memperkenalkan Islam dan memberinya hadiah sebuah mushaf Alquran. Diapun mulai mengkajinya hingga akhirnya pada 13 Februari 2001 dia bersyahadah dan mengganti namanya menjadi Asma Alia. Bagaimana kisah ketertarikannya pada Islam? Berikut kisah lengkapnya seperti dituturkannya di www.geocities.com/embracing_islam.
00000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000
“Aku muallaf sejak 13 February 2001. Alhamdulillah!” ujar Elizabeth Valencia yang lahir di Tijuana , Baja California , Mexico pada 14 Juni 1986. Selepas masuk Islam di usia 14 tahun, dia berganti nama dengan Asma Alia.
“Saat ini akulah satu-satunya muslim di dalam keluarga. Tapi aku yakin satu saat akan bertambah lagi muallaf di rumahku, Insya Allah,” tukas dia yakin. Bagaimana kisahnya hingga Asma memeluk Islam?
“Kisah keislamanku sebenarnya telah dimulai sejak aku masih kanak-kanak,” lanjut Asma seraya berharap kisahnya bisa membawa perubahan bagi orang lain yang saat ini mencari kebenaran dalam lembaran hidup mereka.
Hidup tak bernilai
”Sebelum memeluk Islam, aku merasa hidupku seakan tak bernilai. Aku melihat seakan tak ada lagi kehidupan bagiku, tak ada yang namanya masa depan. Ditambah lagi hubunganku dengan kedua orangtua yang tak harmonis,” aku Asma.
Di sekolah, Asma merasa disisihkan oleh rekan-rekannya. ”Memang aku punya banyak teman, tapi jujur saja mereka serasa bak orang asing di mataku. Sehingga sulit sekali untuk akur dan saling berbagi,” imbuh dia.
”Adakalanya, orang-orang melihatku dengan pandangan aneh. Aku ibaratnya seperti orang buangan. Oya waktu masih bocah aku kelebihan berat badan alias. Bahkan makin gemuk persis orang dewasa padahal waktu itu aku masih duduk di bangku SMP. Sering aku pulang ke rumah dengan tangisan sebab teman-temanku kerab mengejekku dengan kata-kata yang menyakitkan. Inilah yang membuatku makin down dan tersisih,” kata dia lagi.
Hal itu membuat prestasinya di sekolah menurun, padahal dia termasuk siswa berperingkat bagus. ”Waktu masih di kelas 6 aku tak pernah bolos sekolah. Aku cinta sekolah,” kata dia mengenang. Hingga satu ketika aku mencoba berteman dengan beberapa anak muda. Ya biasa lah, masuk masa puber, mulai suka dengan lawan jenis. Aku ingin akrab dengan mereka. Sayangnya, aku harus menelan kekecewaan. Tak ada seorangpun yang menyukaiku. Ketika itu, aku makin benci dengan diriku sendiri,” lanjutnya.
”Satu hari, aku pasrah dengan keadaan dan tak mampu mencari solusi lain untuk mengatasi permasalahan hidupku. Aku ceritakan semua masalah yang membebaniku kepada setiap orang dalam rumahku, tentang bagaimana sikap orang-orang di sekolahku. Termasuk kepada kakek dan nenek, yang kutahu juga tidak begitu menyukaiku. Aku tumpahkan semua isi hatiku, tentang betapa tak bahagianya hidupku, betapa aku kesepian. Pokoknya semuanya.”
Sebagai penganut Katolik Asma lalu berupaya mencari solusi dengan banyak berdoa. ”Aku berdoa untuk hidup yang lebih baik. Tapi tak ada yang berubah. Aku pasrah dan ingin bunuh diri. Keinginan ini muncul saat aku berumur 13 dan 14 tahun. Untung pikiranku masih jernih, bunuh diri bukan jalan terbaik menyelesaikan masalah. Tapi hidup makin hari serasa makin berat saja,” lanjut dia.
Asma sering cemburu dengan teman-temannya yang rata-rata sudah punya pacar. Dia sering berangan-angan punya wajah cantik. Lalu disukai banyak pria. Sering juga sang ibu menghibur Asma dengan menyebutkannya anak yang cantik. ”Tapi aku tahu ibu berbohong. Ucapan itu cuma untuk menghiburku saja,” tukas Asma.
”Tapi, selepas memeluk Islam, dan ingat kejadian masa lalu, rasanya aku bukanlah orang yang buruk di dunia ini. Ya aku cuma gemuk saja. Tak lebih dari itu. Benar kata ibu wajahku cantik. Tapi entah kenapa aku merasa hidupku buruk. Untung Allah datang dan membimbingku ke jalan yang benar,” syukur Asma.
Bertemu pemuda Islam
Ceritanya, pas musim panas tahun 2000 silam, Asma bertemu dengan seorang seorang pemuda yang kemudian memperkenalkan Islam kepadanya. “Aku masih sangat ingat, hari Sabtu 4 Nopember dia menghadiahiku sebuah mushaf Alquran. Akupun mulai mengkajinya. Hanya dalam waktu 3,5 bulan, aku berhasil mempelajarinya secara tuntas! Menakjubkan. Tahu tidak, inilah bacaan pertamaku yang mampu kutamatkan secara tuntas tanpa kehilangan satu katapun. Sebelumnya buku apapun yang kubaca tak ada yang tamat. Masya Allah!,” kata Asma gembira.
Pada 13 Februari 2001 Asma jatuh sakit dan dia terbaring lemah di atas pembaringannya di rumah. Dia merasa depresi berat. Layaknya orang baru putus cinta. “Batinku benar-benar tertekan. Aku punya pacar dan kami sudah sepakat nanti jika sudah sampai waktunya akan menikah. Dia pun tak menampik. Sayangnya, keluarga pacarku itu ternyata telah menyiapkan gadis lain di kampungnya,” cerita Asma kelu.
Di tengah kegalauan itu muncul ide dalam kepalanya. “Aku ingin bikin perubahan dalam hidup ini,” batin Asma. Kendati kondisi lemah, dia beranjak dari tempat tidur dan bergegas menuju ke Mesjid Hamzah, sebuah mesjid di Mira Mesa, selatan California. Sebelumnya Asma mengontak dua orang rekan muslimah untuk ketemu di sana.
“Aku ceritakan pada mereka bahwa aku telah mempelajari Islam dan butuh saran mereka. Kepada salah seorang dari muslimah itu, dia baru berusia 13 tahun, aku sebutkan bahwa aku mau masuk Islam tapi tidak tahu bagaimana caranya. Rekan muslimah itu menyebut sangat sederhana sekali. Pertama harus ada dua kalimah syahadah di dalam hati. Begitupun, kata dia, aku musti mendeklarasikan kalimah itu di hadapan muslim lain sebagai saksi keislamanku,” kisah Asma panjang lebar.
Bersyahadah via telepon
Mendengar penjelasan temannya tersebut Asma pun setuju dan tak mau menunggu lagi untuk segera mengucapkan dua kalimah syahadah. “Tidak ada Tuhan selain Allah dan Muhammad itu utusan Allah. Alhamdulillah! Aku bersyahadah melalui telepon. Disaksikan oleh rekan muslimah yang baru berusia 13 tahun itu, di seberang sana ada saksi lain yakni ayah si muslimah tersebut dan seorang pembantunya. Merekalah saksi keislamannku,” kisahnya lagi.
Asma tampak berlinangan airmata. Dia merasakan tubuhnya ringan sekali. Mungkin itu yang disebut, dosa-dosa di masa silam bagi orang yang baru memeluk Islam dimaafkan alias dihapuskan.
“Segera setelah proses syahadah itu, aku pun menemui rekan-rekan lain yang selama ini mengajarkanku apa itu Islam. Mereka sangat gembira sekali. Setelah itu akupun pulang untuk mandi. Di kaca aku berujar “Aku sudah jadi muslim, aku sudah jadi muslim. Oh masya Allah, aku jadi muslim!”. Ya aku sangat gembira sekali," ujar Asma.
Ibunya syok
Hari-hari berikutnya, Asma bertemu dengan banyak rekannya yang muslimah seraya memberitahukan keislamnnya. “Tapi aku belum berani menceritakan pada orangtuaku. Aku takut dan menduga bisa saja dibunuh, gara-gara masuk Islam. Aku minta saran seorang muslimah apa yang musti kulakukan. Kata dia memang sebaiknya tak usah diberitahukan dulu hingga nanti ada waktu yang tepat. Soalnya aku juga masih sangat kecil sekali, baru 14 tahun,” sebut Asma.
Asma akhirnya menceritakan perihal keislamannya kepada sang ibu. “Ibu sangat terkejut dan sempat syok. Namun di hari berikutnya keadaan membaik. Dia bisa menerima berita itu. Ibu juga menyarankan untuk memberitahu ayah. Tapi aku menolak sarannya. Aku masih butuh waktu. Dan ini semua adalah proses,” ceritanya lagi.
Hari-hari berikutnya Asma menghabiskan waktunya dengan belajar tatacara shalat. “Aku belajar sendiri melalui buku-buku hingga aku bisa hafal bacaan di dalam shalat. Subhanallah!,” syukur Asma. Asma juga kadangkala ke mesjid untuk berjumpa rekan-rekannya dan menanyakan hal-hal yang belum dikuasainya.
Mulai pakai jilbab
Waktu terus berjalan dan kadar keimanan Asma pun semakin meningkat. Hingga dia memutuskan untuk mengenakan jilbab. Sesuatu yang awalnya sangat berat sekali bagi Asma. “Aku mulai pakai jilbab kala pergi keluar rumah. Aku mencoba untuk istiqamah,” ujar Asma.
Satu ketika tanpa disadarinya sang ayah melihat kelakuan Asma itu. Asma benar-benar takut kala tahu ayahnya mengamati dia. “Aku takut sekali. Aku takut bakal dimarahi. Dengan segenap kekuatan hati kusampaikan bahwa aku telah masuk Islam dan apa yang kulakukan ini adalah mengikuti perintah Allah. Ayah terpana sejenak. Lalu dia menyebut: “Tidak apa-apa anakku. Tapi sekarang sudah besar dan kamu sudah saatnya memilih. Nak, kamu anak ayah yang paling pintar,” kisah Asma perihal jilbab dan respon ayahnya.
Sejak itu Asma seolah mendapat kekuatan berlipat. Tepat tanggal 11 Juni 2001 diapun mulai mengenakan jilbab di sekolah. “Hanya 3 hari sebelum ulang tahunku yang ke-15. Jadi ini merupakan hadiah ulang tahun terbesar dalam hidupku. Awaknya aku hendak mengenakannya pas di hari ultah. Tapi batinku mengatakan kenapa musti ditunda sesuatu yang bisa dilaksanakan sekarang. Masha'Allah!,” tukas Asma lagi.
Sejak itu pula Asma berhenti memikirkan pandangan orang lain terhadapnya. Misalnya pandangan aneh kala ada warga yang melihatnya berjilbab dan macam-macam hal lainnya. “Berat memang, tapi rasa percaya diriku benar-benar tumbuh. Aku suka dengan jalan hidupku ini. Terutama setelah berjilbab. Alhamdulillah!,” kata dia penuh percaya diri.
Tak hanya itu, Asma pun mulai berani berdakwah. “Aku mulai menceritakan apa itu Islam kepada ayah setelah sebelumnya hal yang sama juga kuceritakan pada ibu. Aku hanya berusaha, hidayah ada di tangan Allah. Tapi aku yakin satu ketika kedua orangku Insya Allah akan mengikutiku. Amiin,” harap Asma.
“Aku sangat bahagia sebab Allah SWT telah memberiku peluang untuk menjadi seorang muslim dan satu hari nanti, Insya Allah, semoga aku bisa mendapat seorang pendamping hidup yang saleh, menikah dan memiliki anak serta aku akan menjadi guru bagi mereka. Indah sekali rasanya. Aku sangat mensyukuri atas semua karunia ini. Semoga Allah memelihara hidayah ini dan berharap Allah juga segera memberi hidayah untuk kedua orangtuaku,” tutup Asma. (Zulkarnain Jalil)