Adakah Jejak Petualang Karl May di Aceh ?
Catatan: Zulkarnain Jalil
Tidak banyak yang tahu siapa itu Karl May. Namun bagi penggemar kisah-kisah petualangan , tentu masih ingat dengan Album Cerita Ternama yang sempat booming di kisaran tahun 70-an. Diantara kisah-kisahnya banyak karangan penulis dan petualang asal Dresden, Jerman itu. Saat ini ada sekitar 80 judul karya Karl May yang diterjemahkan dalam puluhan bahasa. Umumnya bertema persahabatan, perdamaian, dan kebebasan.
Karyanya yang sangat terkenal adalah Winnetou dan Old Shatterhand. Dulu, ketika membaca karya-karya Karl May kebanyakan hanya tahu ia penulis kisah-kisah dunia Western/Barat. Namun tidak banyak yang tahu –orang Jerman sekalipun- ternyata ada pertalian antara Karl May dan Aceh. Kok bisa ?
Beberapa waktu yang lalu saat Kontributor Kontras berkunjung ke Museum Karl May di desa kelahirannya di Radebeul, Dresden ada hal yang mengejutkan. Di museum itu, terpampang foto sebuah kartu pos keluaran Aceh ! Kartu pos tersebut bergambar suasana di Aceh dan foto pahlawan Teuku Umar. Kartu pos itu sendiri dikirim oleh Karl May saat dia melakukan perjalanan ke Dunia Timur selama 1,5 tahun lamanya dan sempat singgah di Aceh pada 4 Nopember 1899. Menilik tulisan di kartu pos itu, yakni De Groeten van Atjeh, jelas kartu itu dicetak pada masa Belanda.
Perjalanan melelahkan menuju museum ini seolah sirna kala menjumpai jejak Karl May di Aceh, walau “hanya“ melalui selembar kartu pos. Museum itu sendiri dibuka tahun 1928 dan hingga kini telah dikunjungi oleh lebih dari 6,5 juta tamu dari seluruh dunia. Tidak ada yang istimewa jika kita melihat fisik bangunan museum ini. Hanya rumah biasa saja. Kalah jauh dengan museum negeri seperti di Banda Aceh, misalnya.
Di sini kita bisa melihat benda-benda asli peninggalan Karl May saat berkunjung ke berbagai negara. Di bekas ruang kerja Karl May demikian juga perpustakaan bisa menggambarkan betapa produktifnya pengarang satu ini di masanya. Hanya sayangnya pengunjung tidak diizinkan untuk mengambil foto benda-benda penuh legenda itu. Terpaksalah main kucing-kucingan dengan si penjaga secara sembunyi-sembunyi. Apa boleh buat.
Selepas mengunjungi museum itu muncul rasa ingin tahu lebih dalam lagi, terutama kisah perjalanannya ke Aceh. Ternyata, semua ceritanya tentang Aceh tertuang di dalam novel "Und Friede auf Erden! " (Dan Damai di Bumi!). Novel berbahasa Jerman ini -telah diterjemahkan ke beberapa bahasa- berisi catatan perjalanan Karl May (selanjutnya disingkat KM) sepanjang tahun 1899-1900. Dalam catatan hariannya itu diketahui bahwa ia juga singgah di Aceh dan Padang.
Tanggal 4 Nopember 1899 May berangkat dari Penang (Malaysia) menuju Edi (Sumatra) dengan menumpang kapal Coen. Edi yang dimaksud May di sini adalah Pidie. Dua hari berselang, 6 Nopember ia melanjutkan perjalanan ke Ulee Lheue (KM menulis Uleh-leh. Dalam surat yang ditulis kepada istrinya Emma May, KM melanjutkan perjalanan ke Kota Radscha (maksudnya Kutaraja, kini Banda Aceh) dengan menggunakan kereta api dan menuju Hotel Rosenberg. Selama di Banda Aceh, ia mengirimkan 100 lembar kartu pos ke istri dan berbagai kenalannya. Nah salah satu kartu pos itu terdapat di Museum KM di Radebeul, Dresden. Selanjutnya, selepas bermalam di Kutaraja, tanggal 8 Nopember dari Ulee Lheue KM dengan kapal Coen bertolak menuju Padang.
Bila membaca kisahnya itu, seakan terbayang keadaan Aceh pada masa 1899 tersebut. Menarik juga untuk dicermati, KM menulis beberapa nama tempat yang unik, seperti Uleh-leh (maksudnya Ulee Lheue), Edi (Pidie), lalu Lo-Semaweh (Lhokseumawe) dan Segli (Sigli).
Akhirnya, muncul pertanyaan di benak kita. Adakah jejak atau situs Karl May di Aceh ? Tentu butuh waktu untuk menjawabnya. Atau jangan-jangan sudah terhempas dibawa air tsunami ? Wallahu ‘alam bisshawab.
Wednesday, December 06, 2006
Monday, December 04, 2006
Maskot Piala Eropa 2008, Trix & Flix di Jenewa
Maskot resmi Piala Eropa 2008, Trix & Flix muncul di acara balap motor anak-anak Course d’Escalade di Jenewa, Swiss Sabtu kemarin (2/12). Seperti dilansir situs resmi Piala Eropa 2008, kedua maskot dinamis ini menyambut kedatangan para bocah peserta lomba yang dimulai sekitar jam sepuluh pagi waktu setempat. Trix & Flix juga berdiri di garis finish pada saat anak-anak itu mengakhiri lomba.
Tak hanya itu, kedua maskot itu muncul disela-sela upacara penyerahan hadiah bagi pemenang lomba yang berlangsung di Promenade des Bastions. Masih pada hari yang yang sama, maskot ini juga meramaikan lomba balap untuk kategori dewasa.
Lomba balap motor Course d’Escalade merupakan salah satu even olahraga tahunan tertua di Jenewa dan masuk dalam kalender ulang tahun kota itu. Tahun lalu ada sekitar 20 ribu peserta ambil bagian dalam kegiatan yang pertama kali diadakan tahun 1978 tersebut.
Trix & Flix sendiri merupakan maskot yang terpilih untuk UEFA EURO 2008 yang akan berlangsung di Austria dan Swiss 7-29 Juni 2008. Menariknya, tidak seperti –katakanlah maskot Piala Dunia 2006 yang diperlombakan, kedua maskot lucu ini justru terpilih melalui pemungutan suara.
Lebih dari 67 ribu fans sepakbola di Austria dan Swiss ambil bagian dalam voting tersebut. Hasilnya, 36,3 persen suara warga di kedua negara bertetangga itu memilih Trix & Flix yang masing.masing mengenakan kaos putih dan merah serta memiliki tanda angka 20 dan 08 di dada.
"Saya yakin kedua maskot ini berikut namanya akan semakin memasyarakat dengan seringnya bergabung di acara-acara seperti ini,” ujar Christian Mutschler, ketua panitia Piala Eropa dari pihak Swiss. Ini merupakan kali kedua adanya tuan rumah bersama setelah sebelumnya tahun 2000 yang berlangsung di Belanda dan Belgia.(Zulkarnain Jalil, dari Jerman untuk Serambinews).
Maskot resmi Piala Eropa 2008, Trix & Flix muncul di acara balap motor anak-anak Course d’Escalade di Jenewa, Swiss Sabtu kemarin (2/12). Seperti dilansir situs resmi Piala Eropa 2008, kedua maskot dinamis ini menyambut kedatangan para bocah peserta lomba yang dimulai sekitar jam sepuluh pagi waktu setempat. Trix & Flix juga berdiri di garis finish pada saat anak-anak itu mengakhiri lomba.
Tak hanya itu, kedua maskot itu muncul disela-sela upacara penyerahan hadiah bagi pemenang lomba yang berlangsung di Promenade des Bastions. Masih pada hari yang yang sama, maskot ini juga meramaikan lomba balap untuk kategori dewasa.
Lomba balap motor Course d’Escalade merupakan salah satu even olahraga tahunan tertua di Jenewa dan masuk dalam kalender ulang tahun kota itu. Tahun lalu ada sekitar 20 ribu peserta ambil bagian dalam kegiatan yang pertama kali diadakan tahun 1978 tersebut.
Trix & Flix sendiri merupakan maskot yang terpilih untuk UEFA EURO 2008 yang akan berlangsung di Austria dan Swiss 7-29 Juni 2008. Menariknya, tidak seperti –katakanlah maskot Piala Dunia 2006 yang diperlombakan, kedua maskot lucu ini justru terpilih melalui pemungutan suara.
Lebih dari 67 ribu fans sepakbola di Austria dan Swiss ambil bagian dalam voting tersebut. Hasilnya, 36,3 persen suara warga di kedua negara bertetangga itu memilih Trix & Flix yang masing.masing mengenakan kaos putih dan merah serta memiliki tanda angka 20 dan 08 di dada.
"Saya yakin kedua maskot ini berikut namanya akan semakin memasyarakat dengan seringnya bergabung di acara-acara seperti ini,” ujar Christian Mutschler, ketua panitia Piala Eropa dari pihak Swiss. Ini merupakan kali kedua adanya tuan rumah bersama setelah sebelumnya tahun 2000 yang berlangsung di Belanda dan Belgia.(Zulkarnain Jalil, dari Jerman untuk Serambinews).
Pelatih tersohor asal Perancis, Phillippe Troussier Masuk Islam
Philippe Troussier adalah pelatih bertangan dingin asal Perancis yang dikenal para pemuka dan penggila sepakbola dunia. Karir terbaik pelatih berusia 51 tahun ini adalah kala mengantar Jepang ke babak 16 besar Piala Dunia 2002 Jepang/Korea. Terakhir Troussier melatih timnas Maroko dan kabarnya kini masuk nominasi calon pelatih tim Kanguru Australia. Ia di juluki “dukun putih“ karena suksesnya melatih tim-tim Afrika.
Akan tetapi tidak banyak yang tahu, jika kini Troussier telah berganti nama menjadi Umar. Ia sendiri tampaknya belum ingin perihal keislamannya diketahui orang ramai. Menurut harian Berliner Zeitung, adalah koran beroplah besar di Perancis L'Opinion yang pertama kali membuka tabir ini.
Menariknya, istri Troussierlah yang justru pertama kali menjadi muallaf tahun 2004 dan berganti nama dari Dominique menjadi Aminah. Sedangkan Phillippe butuh waktu dua tahun sebelum memutuskan memeluk Islam. Sejauh ini belum ada keterangan dari keduanya berkenaan latar ketertarikan mereka dengan Islam. Yang pasti sejak beberapa tahun belakangan suami istri ini bermukim di Casablanca, Maroko.
Muhammad Homrani, sahabat karibnya dan juga pengurus di salah satu klub sepakbola di Rabat adalah orang yang mengajari Troussier mengucapkan dua kalimat syahadah.
Pelatih kelahiran Paris ini mengucap dua kalimah syahadat di Rabat, ibukota Maroko pada 17 Maret 2006 silam. Persis tiga bulan selepas pensiun sebagai pelatih timnas Maroko. Kini pasangan yang belum dikarunia anak itu telah mengadopsi Salma dan Mariam, dua anak perempuan asal Maroko.
Troussier sebelumnya dikenal sebagai penganut Kristen taat. Namun tampaknya merasa belum mendapatkan ketenangan dalam hidupnya. Melalui proses perenungan yang lama, ia berpendapat Islam adalah agama rasional dan jelas.
Islam merupakan agama nomor dua terbesar di Perancis. Ada ratusan warga Perancis memeluk Islam setiap tahunnya. Akan tetapi tidak semuanya secara terbuka menunjukkan keislaman mereka. Semata-mata untuk menghindari tindak diskriminasi baik di rumah ataupun di tempat kerja.
Mantan pemain timnas Perancis Nicolas Anelka misalnya, tidak banyak yang tahu perihal keislamannya. Ia justru mengenal Islam ketika merumput di di klub Liverpool, Inggris (2001-2002). Nama Islamnya adalah Abdul Salam Bilal. Anelka kini berniat menghabiskan waktunya di Uni Emirat Arab serta tidak ingin kembali ke Inggris atau Perancis. (Zulkarnain Jalil, dari Jerman untuk Serambinews)
------------ --------- --------- --------- --------- --------- --------- --------- --------- --------- --------- --------- --------- ---------
Karir kepelatihan Phillippe Troussier:
- Pantai Gading (1993-1995)
- Afrika Selatan (1995)
- Nigeria (1996-1998
- Burkina Faso (1998)
- Jepang (1999-2002)
- Qatar (2004)
- Marokko (Juli 2005-Desember 2005
Philippe Troussier adalah pelatih bertangan dingin asal Perancis yang dikenal para pemuka dan penggila sepakbola dunia. Karir terbaik pelatih berusia 51 tahun ini adalah kala mengantar Jepang ke babak 16 besar Piala Dunia 2002 Jepang/Korea. Terakhir Troussier melatih timnas Maroko dan kabarnya kini masuk nominasi calon pelatih tim Kanguru Australia. Ia di juluki “dukun putih“ karena suksesnya melatih tim-tim Afrika.
Akan tetapi tidak banyak yang tahu, jika kini Troussier telah berganti nama menjadi Umar. Ia sendiri tampaknya belum ingin perihal keislamannya diketahui orang ramai. Menurut harian Berliner Zeitung, adalah koran beroplah besar di Perancis L'Opinion yang pertama kali membuka tabir ini.
Menariknya, istri Troussierlah yang justru pertama kali menjadi muallaf tahun 2004 dan berganti nama dari Dominique menjadi Aminah. Sedangkan Phillippe butuh waktu dua tahun sebelum memutuskan memeluk Islam. Sejauh ini belum ada keterangan dari keduanya berkenaan latar ketertarikan mereka dengan Islam. Yang pasti sejak beberapa tahun belakangan suami istri ini bermukim di Casablanca, Maroko.
Muhammad Homrani, sahabat karibnya dan juga pengurus di salah satu klub sepakbola di Rabat adalah orang yang mengajari Troussier mengucapkan dua kalimat syahadah.
Pelatih kelahiran Paris ini mengucap dua kalimah syahadat di Rabat, ibukota Maroko pada 17 Maret 2006 silam. Persis tiga bulan selepas pensiun sebagai pelatih timnas Maroko. Kini pasangan yang belum dikarunia anak itu telah mengadopsi Salma dan Mariam, dua anak perempuan asal Maroko.
Troussier sebelumnya dikenal sebagai penganut Kristen taat. Namun tampaknya merasa belum mendapatkan ketenangan dalam hidupnya. Melalui proses perenungan yang lama, ia berpendapat Islam adalah agama rasional dan jelas.
Islam merupakan agama nomor dua terbesar di Perancis. Ada ratusan warga Perancis memeluk Islam setiap tahunnya. Akan tetapi tidak semuanya secara terbuka menunjukkan keislaman mereka. Semata-mata untuk menghindari tindak diskriminasi baik di rumah ataupun di tempat kerja.
Mantan pemain timnas Perancis Nicolas Anelka misalnya, tidak banyak yang tahu perihal keislamannya. Ia justru mengenal Islam ketika merumput di di klub Liverpool, Inggris (2001-2002). Nama Islamnya adalah Abdul Salam Bilal. Anelka kini berniat menghabiskan waktunya di Uni Emirat Arab serta tidak ingin kembali ke Inggris atau Perancis. (Zulkarnain Jalil, dari Jerman untuk Serambinews)
------------ --------- --------- --------- --------- --------- --------- --------- --------- --------- --------- --------- --------- ---------
Karir kepelatihan Phillippe Troussier:
- Pantai Gading (1993-1995)
- Afrika Selatan (1995)
- Nigeria (1996-1998
- Burkina Faso (1998)
- Jepang (1999-2002)
- Qatar (2004)
- Marokko (Juli 2005-Desember 2005
Film Aceh di Festival Berlin
"Anywhere but fear " adalah salah satu film dokumenter yang diputar pada Festival Film Manusia dan Media yang berlangsung di Berlin, Jerman dari tanggal 16-22 Nopember 2006. Film yang mengangkat tema tentang konflik Aceh di kisaran tahun 2003-2004 itu diputar Jumat kemarin (17/11) di Kino Arsenal 1, kawasan Postdamer Platz, Berlin. Festival film ini diadakan atas prakarsa One World Berlin, sebuah LSM internasional yang bergerak di bidang hak asasi manusia.
Dari daftar tamu yang hadir di antaranya ada Annette Kaiser (Kementrian Kerjasama dan Pengembangan Perekonomian), lalu Christiane Steinert (Malteser International), dan Arnd Henze dari televisi WDR Jerman. Adapun Adeline Tumenggung, sang sutradara yang sedianya hadir tidak tampak di sana. Dalam surat elektronik yang diterima Kontributor Serambi di Jerman ia menyatakan tidak bisa hadir karena ada masalah mendadak yang harus ditangani di Manchester, sehingga tidak bisa meninggalkan Inggris –tempat tinggalnya saat ini. Adeline adalah seorang jurnalis lepas dan produser film-film dokumenter. Film Anywhere but fear sendiri diproduksinya di Inggris tahun 2004.
Dalam film yang berdurasi 32 menit itu diceritakan reaksi keras pemerintah Indonesia atas kehendak merdeka GAM yang telah berlangsung sejak tahun 1976. Bagaimana perlakuan keras pemerintah terhadap warga di sana ditunjukkan di film ini. Setelah pemutaran film, acara dilanjutkan dengan diskusi dalam bahasa Inggris bertajuk: “Natural Disasters and Conflicts: The Peace Process in Aceh after the Tsunami”-Bencana alam dan konflik: Proses perdamaian di Aceh pasca Tsunami.
Pada bagian akhir ditampilkan sebuah film dokumenter lainnya berjudul My Neighbour; the Giant Boat (Tetanggaku: Perahu Raksasa). Seperti judulnya, film ini menceritakan boat raksasa milik PLN terapung seberat 27.000 ton yang terhempas tsunami di sebuah perkampungan penduduk dekat Ulee Lheue
One World Berlin sendiri adalah sebuah LSM internasional yang bergerak di bidang hak asasi manusia. Lembaga non profit yang bermarkas di Berlin ini memiliki dokumentasi film-film bertema sosial, budaya, dan politik dari berbagai negara. Pada bagian akhir pemutaran film, selalu ada diskusi terbuka untuk masyarakat umum yang menghadirkan tamu yang umumnya adalah pejabat pemerintah setempat sutradara film, pengamat sosial, politik, ataupun budaya. Partner kerjanya antara lain UNICEF, Amnesty International, Transparency International, Human Rights Watch, dan banyak lagi lainnya. (Zulkarnain Jalil, dari Jerman untuk Serambinews).
"Anywhere but fear " adalah salah satu film dokumenter yang diputar pada Festival Film Manusia dan Media yang berlangsung di Berlin, Jerman dari tanggal 16-22 Nopember 2006. Film yang mengangkat tema tentang konflik Aceh di kisaran tahun 2003-2004 itu diputar Jumat kemarin (17/11) di Kino Arsenal 1, kawasan Postdamer Platz, Berlin. Festival film ini diadakan atas prakarsa One World Berlin, sebuah LSM internasional yang bergerak di bidang hak asasi manusia.
Dari daftar tamu yang hadir di antaranya ada Annette Kaiser (Kementrian Kerjasama dan Pengembangan Perekonomian), lalu Christiane Steinert (Malteser International), dan Arnd Henze dari televisi WDR Jerman. Adapun Adeline Tumenggung, sang sutradara yang sedianya hadir tidak tampak di sana. Dalam surat elektronik yang diterima Kontributor Serambi di Jerman ia menyatakan tidak bisa hadir karena ada masalah mendadak yang harus ditangani di Manchester, sehingga tidak bisa meninggalkan Inggris –tempat tinggalnya saat ini. Adeline adalah seorang jurnalis lepas dan produser film-film dokumenter. Film Anywhere but fear sendiri diproduksinya di Inggris tahun 2004.
Dalam film yang berdurasi 32 menit itu diceritakan reaksi keras pemerintah Indonesia atas kehendak merdeka GAM yang telah berlangsung sejak tahun 1976. Bagaimana perlakuan keras pemerintah terhadap warga di sana ditunjukkan di film ini. Setelah pemutaran film, acara dilanjutkan dengan diskusi dalam bahasa Inggris bertajuk: “Natural Disasters and Conflicts: The Peace Process in Aceh after the Tsunami”-Bencana alam dan konflik: Proses perdamaian di Aceh pasca Tsunami.
Pada bagian akhir ditampilkan sebuah film dokumenter lainnya berjudul My Neighbour; the Giant Boat (Tetanggaku: Perahu Raksasa). Seperti judulnya, film ini menceritakan boat raksasa milik PLN terapung seberat 27.000 ton yang terhempas tsunami di sebuah perkampungan penduduk dekat Ulee Lheue
One World Berlin sendiri adalah sebuah LSM internasional yang bergerak di bidang hak asasi manusia. Lembaga non profit yang bermarkas di Berlin ini memiliki dokumentasi film-film bertema sosial, budaya, dan politik dari berbagai negara. Pada bagian akhir pemutaran film, selalu ada diskusi terbuka untuk masyarakat umum yang menghadirkan tamu yang umumnya adalah pejabat pemerintah setempat sutradara film, pengamat sosial, politik, ataupun budaya. Partner kerjanya antara lain UNICEF, Amnesty International, Transparency International, Human Rights Watch, dan banyak lagi lainnya. (Zulkarnain Jalil, dari Jerman untuk Serambinews).
Subscribe to:
Comments (Atom)