Wednesday, June 25, 2008

Nuansa warung kopi Ulee Kareng di kota Wina


Kata orang, jika ke Austria belum lengkap rasanya bila tak merasakan nikmatnya kopi di Wina. Jika satu ketika Anda kesana, cobalah singgah di salah satu kafe yang tersebar merata hingga ke pojok-pojok kota. Kafe disini tak jual bir. Berbeda dengan kafe di tempat lain.


Para jurnalis biasanya melepas penat di kafe dekat kawasan Stephansdom. Disana berjejer kafe-kafe tradisional. Orang Wina memang dikenal suka minum kopi. Makanya dimana-mana berdiri kafe (baca; kedai kopi). Konon kabarnya budaya minum kopi tersebut berasal dari Turki yang dibawa oleh pasukan Islam zaman dinasti Usmaniyah saat berusaha menduduki Wina.


Salah satu yang terkenal adalah Kafe Hawelka yang terletak di Jalan Dorotheergasse 6. Hawelka adalah nama pemiliknya, Leopold Hawelka ditemani istrinya yang setia Josefine. Leopold selalu menyambut para tamu yang datang ke kedainya dengan ramah dan bibir tersungging. Dari luar, aroma kopinya yang khas langsung menusuk hidung. Oya Cappucino (Italia) atau kopi Starbuck (Amerika) tak laku disini.


Dan, jangan terkejut, suasana didalamnya persis seperti suasana di salah satu warung kopi terkenal di Ulee Kareng, Banda Aceh. Para tamu sambil minum kopi terlihat asyik membaca koran atau majalah. Koran memang salah satu “panganan“ wajib disini. Berbagai jenis koran tersedia. Di pojok yang lain ada yang lagi serius, tampaknya sedang membahas suatu persoalan.


Menilik dekorasinya, tak ada yang istimewa. Bahkan bisa dibilang kesan tradisonalnya sangat kentara. Kedainya berdinding papan. Di dinding yang terkesan sudah kusam itu tergantung beberapa lukisan dan foto. Rupanya itu foto mantan Stammgäste. Yakni tamu yang datang rutin dan hanya duduk di meja itu selalu, tidak berpindah-pindah. Sehingga meja itu disebut Stammtisch. Di tiap meja ada sepotong pesan yang berbunyi "Bitte kein Handy". Artinya, mohon HP dinonaktifkan. Jangan harap ada suara musik. Televisi juga tidak ada.


Tak perlu menunggu lama. Secangkir kopi dilengkapi dengan segelas kecil kreamer (sejenis susu) plus segelas air putih yang disajikan di atas sebuah nampan kecil berwarna perak segera terhidang di hadapan Anda. Wiener Melange nama kopinya. Spintas mirip kopi sanger. Panganan khasnya? Ada juga. Kalau di Ulee Kareng terkenal dengan roti yang diolesi selai srikaya, maka di kafe Hawelka kita bisa nikmati roti khasnya yakni Sacher Torte. Serupa kue bolu yang diiris dan diolesi gula. Secangkir kopi harganya 2 Euro (sekitar 30 ribu rupiah).


Dan jangan heran, orang Wina suka duduk berjam-jam lamanya dengan hanya membeli secangkir kopi, sambil baca koran tentunya. Bahkan di kafe pula mereka saling bertukar informasi, sosialisasi dan silaturahmi sesama warga kota. Ngopi yuk!

Tuesday, June 24, 2008

Ujian bagi sebuah persahabatan


“Toooor !“ (Gooool !), teriakan yang memekakkan telinga itu terdengar ketika Lukas Podolski mencetak gol. Kedai doner kebab itu seakan hendak runtuh. Penonton yang semuanya pria Turki spontan melompat gembira. Apa? Warga Turki mendukung Jerman? Bukan, itu tadi rekaman suasana di Piala Dunia 2006 yang lalu.


Kala itu Jerman menghadapi Swedia di babak perempatfinal. Turki tidak ikut, karena gagal di kualifikasi, sehingga semua warga Turki di Jerman mendukung Lukas Podolski dkk. Tapi kini keadaannya malah berbalik. Malam nanti, Turki harus menghadapi saudara tuanya“ Jerman di semifinal. Nuansa perang saudara“ mulai dihembus banyak pihak, terutama media. Padahal Jerman dan Turki ibarat dua sahabat lama yang diikat oleh sejarah masa lalu.


Menilik sejarah, orang Turki datang ke Jerman sekitar awal 1960-an. Umumnya generasi pertama ini adalah pekerja kasar yang datang untuk membantu membangun Jerman dari keruntuhan pasca Perang Dunia II. Sebagian besar dari pekerja Turki itu tidak kembali lagi ke negara asalnya dan memilih menetap di Jerman. Kini generasi kedua Turki bisa dikatakan telah banyak yang berhasil baik di parlemen, sebagai pengusaha, akademisi, olahragawan, hingga bintang film. Catatan Wikipedia, saat ini ada sekitar 2,5 juta warga Turki di seluruh Jerman (termasuk yang telah mendapatkan status kewarganegaraan Jerman).


Komunitas warga Turki di Austria, jika dibandingkan dengan di Jerman, tak ada apa-apanya. Makanya orang Turki menyebut Jerman sebagai rumah kedua bagi mereka. Sebab itu sebagian warga Turki seperti menghadapi dilema kala menatap partai knock out nanti malam. Begitupun, kabarnya mereka tetap santai dan berharap tidak ada gejolak apa-apa antar sesama pendukung.


Mengutip laporan harian Tagesspiegel, di kota Berlin kini banyak dijumpai mobil-mobil yang memasang dua bendera sekaligus, Jerman dan Turki. Bahkan banyak anak-anak muda Turki yang mengenakan kaos timnas Jerman.


”Pertandingan nanti bisa disebut sebagai uji coba bagi hubungan persaudaraan Jerman dan Turki,” ujar Ozcan Mutlu, politikus Jerman berdarah Turki. Dia menyebutkan jika nanti malam Jerman yang menang, warga Turki tetap akan melakukan pesta. Berbaur bersama saudaranya warga Jerman. Ketika Turki melawan Kroasia, misalnya. Terlihat banyak pemuda Jerman mengenakan kaos Turki. Giliran Jerman yang bertanding, tampak anak-anak muda Turki berkaos Jerman dengan antusias melambai-lambaikan bendera berwarna hitam-merah-kuning emas.


“Tak peduli siapa yang menang, saya tetap akan merayakannya“, kata Yusuf Deniz saat minum teh di kedai Körfez. Direktur sebuah perusahaan logistik yang lahir di Jerman itu mengaku tahu dengan pasti bagaimana perasaan warga Turki saat ini.


Jujur saja, bagi kami yang sudah bertahun-tahun tinggal di Jerman, hati ini serasa terbelah dua,“ lanjut Yusuf yang tinggal di Köln. Ketika ditanya siapa yang diharapkannya menang nanti malam. Yusuf lama terdiam. Köln adalah kampung saya. Saya bayar pajak di Jerman, bukan di Turki“, jawab pria berusia 29 tahun itu diplomatis.


Yusuf lalu melangkah keluar seraya menunjuk ke jalan raya. Persis di seberang jalan Osheimerstrasse tampak dua pemuda, satu Jerman dan satunya lagi Turki, melambai-lambaikan bendera Jerman berukuran sekitar 3 x 5 meter. Yusuf lalu menunjuk pada truk besar yang sedang parkir dekat kedai. Warna truk itu gabungan dari warna bendera Jerman dan Turki. Dia seakan hendak menunjukkan bagaimana jalinan persahabatan Jerman dan Turki.


“Pertandingan bakal dramatis. Hati-hati buat yang punya penyakit jantung atau darah tinggi ha ha“, wanti-wanti Ozcan Oz (41) seraya terbahak. Ozkan yang tinggal di Jerman sejak tahun 1980, ditemani rekannya Ahmet Kilickiran (37), berharap selepas pertandingan nanti nuansa persahabatan tetap terjadi serta tidak terjadi kerusuhan.


Jadi siapa yang bakal menang malam nanti, Jerman atau Turki? Persahabatan yang akan memenangkan partai nanti malam“, ujar Jan Wördenweber, kolumnis harian Tagesspiegel diplomatis. Semoga begitu, dan selamat begadang!