Sunday, May 17, 2009

Elizabeth Valencia bersyahadah melalui telepon

PENGANTAR. Elizabeth Valencia adalah seorang gadis belia kelahiran Tijuana , Meksiko. Sebelum memeluk Islam dia merasa hidupnya seakan tak berharga. Karena tubuhnya yang gemuk dia sering diejek di sekolah. Dia makin stress dan tak punya semangat hidup. Begitulah, waktu terus berjalan hingga satu ketika di musim panas tahun 2000, Elizabeth bertemu dengan seorang seorang pemuda yang kemudian memperkenalkan Islam dan memberinya hadiah sebuah mushaf Alquran. Diapun mulai mengkajinya hingga akhirnya pada 13 Februari 2001 dia bersyahadah dan mengganti namanya menjadi Asma Alia. Bagaimana kisah ketertarikannya pada Islam? Berikut kisah lengkapnya seperti dituturkannya di www.geocities.com/embracing_islam.

00000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000


“Aku muallaf sejak 13 February 2001. Alhamdulillah!” ujar Elizabeth Valencia yang lahir di Tijuana , Baja California , Mexico pada 14 Juni 1986. Selepas masuk Islam di usia 14 tahun, dia berganti nama dengan Asma Alia.

“Saat ini akulah satu-satunya muslim di dalam keluarga. Tapi aku yakin satu saat akan bertambah lagi muallaf di rumahku, Insya Allah,” tukas dia yakin. Bagaimana kisahnya hingga Asma memeluk Islam?

“Kisah keislamanku sebenarnya telah dimulai sejak aku masih kanak-kanak,” lanjut Asma seraya berharap kisahnya bisa membawa perubahan bagi orang lain yang saat ini mencari kebenaran dalam lembaran hidup mereka.


Hidup tak bernilai
”Sebelum memeluk Islam, aku merasa hidupku seakan tak bernilai. Aku melihat seakan tak ada lagi kehidupan bagiku, tak ada yang namanya masa depan. Ditambah lagi hubunganku dengan kedua orangtua yang tak harmonis,” aku Asma.

Di sekolah, Asma merasa disisihkan oleh rekan-rekannya. ”Memang aku punya banyak teman, tapi jujur saja mereka serasa bak orang asing di mataku.
Sehingga sulit sekali untuk akur dan saling berbagi,” imbuh dia.

”Adakalanya, orang-orang melihatku dengan pandangan aneh. Aku ibaratnya seperti orang buangan. Oya waktu masih bocah aku kelebihan berat badan alias. Bahkan makin gemuk persis orang dewasa padahal waktu itu aku masih duduk di bangku SMP. Sering aku pulang ke rumah dengan tangisan sebab teman-temanku kerab mengejekku dengan kata-kata yang menyakitkan. Inilah yang membuatku makin down dan tersisih,” kata dia lagi.

Hal itu membuat prestasinya di sekolah menurun, padahal dia termasuk siswa berperingkat bagus. ”Waktu masih di kelas 6 aku tak pernah bolos sekolah. Aku cinta sekolah,” kata dia mengenang. Hingga satu ketika aku mencoba berteman dengan beberapa anak muda. Ya biasa lah, masuk masa puber, mulai suka dengan lawan jenis. Aku ingin akrab dengan mereka. Sayangnya, aku harus menelan kekecewaan. Tak ada seorangpun yang menyukaiku. Ketika itu, aku makin benci dengan diriku sendiri,” lanjutnya.

”Satu hari, aku pasrah dengan keadaan dan tak mampu mencari solusi lain untuk mengatasi permasalahan hidupku. Aku ceritakan semua masalah yang membebaniku kepada setiap orang dalam rumahku, tentang bagaimana sikap orang-orang di sekolahku. Termasuk kepada kakek dan nenek, yang kutahu juga tidak begitu menyukaiku. Aku tumpahkan semua isi hatiku, tentang betapa tak bahagianya hidupku, betapa aku kesepian. Pokoknya semuanya.”

Sebagai penganut Katolik Asma lalu berupaya mencari solusi dengan banyak berdoa. ”Aku berdoa untuk hidup yang lebih baik. Tapi tak ada yang berubah. Aku pasrah dan ingin bunuh diri. Keinginan ini muncul saat aku berumur 13 dan 14 tahun. Untung pikiranku masih jernih, bunuh diri bukan jalan terbaik menyelesaikan masalah. Tapi hidup makin hari serasa makin berat saja,” lanjut dia.

Asma sering cemburu dengan teman-temannya yang rata-rata sudah punya pacar. Dia sering berangan-angan punya wajah cantik. Lalu disukai banyak pria. Sering juga sang ibu menghibur Asma dengan menyebutkannya anak yang cantik. ”Tapi aku tahu ibu berbohong. Ucapan itu cuma untuk menghiburku saja,” tukas Asma.


”Tapi, selepas memeluk Islam, dan ingat kejadian masa lalu, rasanya aku bukanlah orang yang buruk di dunia ini.
Ya aku cuma gemuk saja. Tak lebih dari itu. Benar kata ibu wajahku cantik. Tapi entah kenapa aku merasa hidupku buruk. Untung Allah datang dan membimbingku ke jalan yang benar,” syukur Asma.


Bertemu pemuda Islam

Ceritanya, pas musim panas tahun 2000 silam, Asma bertemu dengan seorang seorang pemuda yang kemudian memperkenalkan Islam kepadanya. “Aku masih sangat ingat, hari Sabtu 4 Nopember dia menghadiahiku sebuah mushaf Alquran. Akupun mulai mengkajinya. Hanya dalam waktu 3,5 bulan, aku berhasil mempelajarinya secara tuntas! Menakjubkan. Tahu tidak, inilah bacaan pertamaku yang mampu kutamatkan secara tuntas tanpa kehilangan satu katapun. Sebelumnya buku apapun yang kubaca tak ada yang tamat. Masya Allah!,” kata Asma gembira.

Pada 13 Februari 2001 Asma jatuh sakit dan dia terbaring lemah di atas pembaringannya di rumah. Dia merasa depresi berat. Layaknya orang baru putus cinta. “Batinku benar-benar tertekan. Aku punya pacar dan kami sudah sepakat nanti jika sudah sampai waktunya akan menikah. Dia pun tak menampik. Sayangnya, keluarga pacarku itu ternyata telah menyiapkan gadis lain di kampungnya,” cerita Asma kelu.

Di tengah kegalauan itu muncul ide dalam kepalanya. “Aku ingin bikin perubahan dalam hidup ini,” batin Asma. Kendati kondisi lemah, dia beranjak dari tempat tidur dan bergegas menuju ke Mesjid Hamzah, sebuah mesjid di Mira Mesa, selatan California. Sebelumnya Asma mengontak dua orang rekan muslimah untuk ketemu di sana.

“Aku ceritakan pada mereka bahwa aku telah mempelajari Islam dan butuh saran mereka. Kepada salah seorang dari muslimah itu, dia baru berusia 13 tahun, aku sebutkan bahwa aku mau masuk Islam tapi tidak tahu bagaimana caranya. Rekan muslimah itu menyebut sangat sederhana sekali. Pertama harus ada dua kalimah syahadah di dalam hati. Begitupun, kata dia, aku musti mendeklarasikan kalimah itu di hadapan muslim lain sebagai saksi keislamanku,” kisah Asma panjang lebar.

Bersyahadah via telepon

Mendengar penjelasan temannya tersebut Asma pun setuju dan tak mau menunggu lagi untuk segera mengucapkan dua kalimah syahadah. “Tidak ada Tuhan selain Allah dan Muhammad itu utusan Allah. Alhamdulillah! Aku bersyahadah melalui telepon. Disaksikan oleh rekan muslimah yang baru berusia 13 tahun itu, di seberang sana ada saksi lain yakni ayah si muslimah tersebut dan seorang pembantunya. Merekalah saksi keislamannku,” kisahnya lagi.
Asma tampak berlinangan airmata. Dia merasakan tubuhnya ringan sekali. Mungkin itu yang disebut, dosa-dosa di masa silam bagi orang yang baru memeluk Islam dimaafkan alias dihapuskan.

“Segera setelah proses syahadah itu, aku pun menemui rekan-rekan lain yang selama ini mengajarkanku apa itu Islam. Mereka sangat gembira sekali. Setelah itu akupun pulang untuk mandi. Di kaca aku berujar “Aku sudah jadi muslim, aku sudah jadi muslim. Oh masya Allah, aku jadi muslim!”. Ya aku sangat gembira sekali," ujar Asma.

Ibunya syok

Hari-hari berikutnya, Asma bertemu dengan banyak rekannya yang muslimah seraya memberitahukan keislamnnya. “Tapi aku belum berani menceritakan pada orangtuaku. Aku takut dan menduga bisa saja dibunuh, gara-gara masuk Islam. Aku minta saran seorang muslimah apa yang musti kulakukan. Kata dia memang sebaiknya tak usah diberitahukan dulu hingga nanti ada waktu yang tepat. Soalnya aku juga masih sangat kecil sekali, baru 14 tahun,” sebut Asma.

Asma akhirnya menceritakan perihal keislamannya kepada sang ibu. “Ibu sangat terkejut dan sempat syok. Namun di hari berikutnya keadaan membaik. Dia bisa menerima berita itu. Ibu juga menyarankan untuk memberitahu ayah. Tapi aku menolak sarannya. Aku masih butuh waktu. Dan ini semua adalah proses,” ceritanya lagi.

Hari-hari berikutnya Asma menghabiskan waktunya dengan belajar tatacara shalat. “Aku belajar sendiri melalui buku-buku hingga aku bisa hafal bacaan di dalam shalat. Subhanallah!,” syukur Asma. Asma juga kadangkala ke mesjid untuk berjumpa rekan-rekannya dan menanyakan hal-hal yang belum dikuasainya.

Mulai pakai jilbab

Waktu terus berjalan dan kadar keimanan Asma pun semakin meningkat. Hingga dia memutuskan untuk mengenakan jilbab. Sesuatu yang awalnya sangat berat sekali bagi Asma. “Aku mulai pakai jilbab kala pergi keluar rumah. Aku mencoba untuk istiqamah,” ujar Asma.

Satu ketika tanpa disadarinya sang ayah melihat kelakuan Asma itu. Asma benar-benar takut kala tahu ayahnya mengamati dia. “Aku takut sekali. Aku takut bakal dimarahi. Dengan segenap kekuatan hati kusampaikan bahwa aku telah masuk Islam dan apa yang kulakukan ini adalah mengikuti perintah Allah. Ayah terpana sejenak. Lalu dia menyebut: “Tidak apa-apa anakku. Tapi sekarang sudah besar dan kamu sudah saatnya memilih. Nak, kamu anak ayah yang paling pintar,” kisah Asma perihal jilbab dan respon ayahnya.

Sejak itu Asma seolah mendapat kekuatan berlipat. Tepat tanggal 11 Juni 2001 diapun mulai mengenakan jilbab di sekolah. “Hanya 3 hari sebelum ulang tahunku yang ke-15. Jadi ini merupakan hadiah ulang tahun terbesar dalam hidupku. Awaknya aku hendak mengenakannya pas di hari ultah. Tapi batinku mengatakan kenapa musti ditunda sesuatu yang bisa dilaksanakan sekarang. Masha'Allah!,” tukas Asma lagi.

Sejak itu pula Asma berhenti memikirkan pandangan orang lain terhadapnya. Misalnya pandangan aneh kala ada warga yang melihatnya berjilbab dan macam-macam hal lainnya. “Berat memang, tapi rasa percaya diriku benar-benar tumbuh. Aku suka dengan jalan hidupku ini. Terutama setelah berjilbab. Alhamdulillah!,” kata dia penuh percaya diri.

Tak hanya itu, Asma pun mulai berani berdakwah. “Aku mulai menceritakan apa itu Islam kepada ayah setelah sebelumnya hal yang sama juga kuceritakan pada ibu. Aku hanya berusaha, hidayah ada di tangan Allah. Tapi aku yakin satu ketika kedua orangku Insya Allah akan mengikutiku. Amiin,” harap Asma.


“Aku sangat bahagia sebab Allah SWT telah memberiku peluang untuk menjadi seorang muslim dan satu hari nanti, Insya Allah, semoga aku bisa mendapat seorang pendamping hidup yang saleh, menikah dan memiliki anak serta aku akan menjadi guru bagi mereka. Indah sekali rasanya. Aku sangat mensyukuri atas semua karunia ini. Semoga Allah memelihara hidayah ini dan berharap Allah juga segera memberi hidayah untuk kedua orangtuaku,” tutup Asma. (Zulkarnain Jalil)

Friday, April 10, 2009

Dr. H. Azwar Manaf, M.Met:

Hanya dengan pendidikan Aceh bangkit

PENGANTAR. Dr. Azwar Manaf, M.Met nama lengkapnya. Sehari-hari bekerja sebagai dosen dan peneliti di FMIPA Universitas Indonesia, Jakarta. Tak banyak yang tahu, dibalik penampilannya yang sederhana, pria Langsa dan murah senyum ini ternyata menyimpan potensi tinggi di dunia iptek, terutama dalam pengembangan sains dan teknologi material dan mineral alam. Catat saja, dalam rentang waktu 1990 hingga 2008, Azwar telah menulis sekitar 85 publikasi ilmiah internasional dan nasional. Semuanya tentang pengembangan material nanomagnet. Bahkan ada 12 publikasinya di jurnal ilmiah internasional yang dikutip dan diacu oleh banyak peneliti dunia lainnya. Yang fenomenal, tahun 1992 silam pria kelahiran 12 Januari 1957 itu meraih amugerah Brunton Medals dari University of Sheffield, Inggris sebagai peneliti muda terbaik. Penyuka mie Aceh ini juga meraih penghargaan serupa pada tahun 2001 yakni sebagai peneliti senior terbaik Universitas Indonesia atas dedikasinya dalam litbang material magnetik. Azwar, yang kini menjabat Direktur Research Center for Materials Science (RCMS) FMIPA-UI, meraih gelar master dan doktornya dari Department of Engineering Materials, University of Sheffield, Inggris. Tahun 1996 dia sempat menjadi ilmuwan tamu di National University of Singapore. Azwar sejak 2006 lalu ikut terlibat di The Minerals, Metals and Materials Society, sebuah kelompok riset metalurgi di AS. Pria yang menikahi gadis sekampungnya, yakni Dra Hj Siti Sarah, kini hidup bahagia di kawasan teduh Sawangan, Bogor ditemani 3 orang anaknya masing-masing Alfa Sheffildi Manaf (19), Beta Nadia Manaf (17) dan Gamma Rizkina Manaf (15). Pekan lalu, kepada Kontributor Kontras Zulkarnain Jalil, Azwar mengungkapkan banyak hal terutama tentang potensi dan pengembangan sumber daya alam Aceh. Berikut petikannya:

Sumber daya alam (SDA) Aceh sangat melimpah, namun hingga kini sebagian rakyatnya masih ada yang dibelit kemiskinan, komentar Anda?

Sebagai orang Aceh seharusnya kita bersyukur karena memiliki sumber daya alam (SDA) yang berlimpah. Dari atas tanahnya tumbuh banyak tanaman subur dan bernilai seperti kelapa, sawit, kopi, cengkeh, pala dan lain sebagainya. Demikian pula dengan hutannya yang lebat hingga jadi salah satu paru-paru dunia. Lalu dari dalam tanahnya terdapat mineral-mineral yang berharga seperti batu bara. emas, nikel, besi, terdapat minyak dan gas. Di dalam lautnya terdapat juga kekayaan yang berlimpah. Sementara penduduknya hanya mencapai 3-4 juta orang. Jadi, jika terdapat kesan rakyatnya masih ada yang dibelit kemiskinan, itu menunjukkan bahwa Aceh belum memanfaatkan potensi luar biasa yang dimilikinya. Banyak rakyat Aceh yang belum sempat berfikir dan bertindak bagaimana harus maju. Bagaimana harus meningkatkan taraf hidupnya, rakyat Aceh belum sempat berbuat banyak. Bisa jadi hal itu terjadi karena deraan konflik yang berkepanjangan.

Satu hal pokok lagi yakni akses pendidikan, terutama pendidikan dasar, sudah seharusnya dirasakan oleh seluruh rakyat Aceh. Syukurlah bila bisa sampai pada tahap sekolah menengah. Lalu, kualitas pendidikan pada pendidikan dasar dan menengah menjadi sangat-sangat menentukan dan penting untuk disadari karena kompetisi di luar daerah Aceh sendiri sudah demikian tinggi. Hanya dengan pendidikan Aceh bisa bangkit dan maju sejajar dengan bangsa-bangsa lain.

Langkah-langkah untuk pemanfaatan SDA ini, saran Anda?

Sebagai akademisi, terkait dengan SDA ini, saya melihat peran riset sangat menentukan efektivitas eksplorasi dan eksploitasi SDA. Tanpa riset, dikhawatirkan SDA akan dieksploitasi tanpa pemberian nilai tambah sebagaimana yang banyak terjadi selama ini. Lihat saja, bagaimana batu bara itu diambil dari sumbernya dan langsung dimasukkan ke dalam tongkang, kapal-kapal pengangkut dan kemudian meninggalkan tempat. Perhatikan juga, bagaimana pasir-pasir yang banyak mengandung mineral bernilai jual di sedot dari dasar laut dan langsung masuk kedalam vessel kapal. Lihat juga bagaimana gunung-gunung mengandung besi dipecah-pecah menjadi bongkahan-bongkahan dan langsung dibawa keluar negara. Tanah mengandung emas, tembaga, perak digali dan langsung diekspor. Padahal kita mampu mengolah bahan mentah ini.

Tentu saja, pengelolaan SDA yang semacam ini tidak diharapkan untuk ditiru. Oleh karena itu peran riset sangat menentukan terutama bagaimana untuk memperoleh nilai tambah yang optimal. Sebagai contoh, bila kita eksploitasi iron ore (biji besi), nilainya hanya US$ 60 per ton. Melalui proses pengkayaan, harganya menjadi $ 200. Bila selanjutnya diproses menjadi pig iron, harganya bisa mencapai $ 800 - $1100 per ton. Contoh lain adalah nickle ore, itu bernilai ~ US $100 per ton tetapi dalam bentuk logam Nikel bisa mencapai US $ 29.500,- per ton. Demikian juga ilmenite (FeTiO3) bernilai US $ 200 per ton, namun jika dimurnikan menjadi logam Ti nilai jualnya mencapai US $ 20.000,- per ton!

Dapat dilihat added value yang bisa diperoleh. Walaupun teknologi pemrosesan bahan tambang itu telah tersedia dan hanya diperlukan investasi saja, akan tetapi knowledge, atitude dan skill untuk pengelolaan SDA tersebut sangat penting dipunyai. Ini hendaknya perlu disadari bersama.

Seperti telah Anda sebutkan tadi bahwa potensi SDA Aceh belum dikelola secara optimal, apakah ini karena kendala sumber daya manusia?

SDA dan SDM terkait sangat erat. Diperlukan tenaga ahli yang berkompeten dalam pengelolaan SDA, bila kita ingin memperoleh nilai tambah (added value) yang optimal sehingga dapat dinikmati dan memberi kesejahteraan bagi rakyatnya.

Untuk kegiatan eksplorasi tambang misalnya, diperlukan kompetensi bidang mineral sehingga dapat menjalani tahapan-tahapan eksplorasi yang tepat. Diperlukan atitude yang proporsional dalam memutuskan langkah investasi dan eksploitasi, melakukan kajian kelayakan yang cermat. Semua ini memerlukan tenaga yang kompeten.

Sepengetahuan saya, di Aceh bukan tidak ada SDM yang kompeten. Banyak, tetapi rasanya masih tetap kurang, Bila kita perhatikan pemberitaan harian Serambi beberapa waktu yang lalu, disebutkan bahwa ”pemerintah Aceh cari tenaga ahli untuk pembangunan infrastruktur” dan disebutkan pula ”tenaga ahli yang ada masih sangat kurang”. Hal ini menunjukkan masih banyak pembenahan masalah SDM yang perlu terus dilakukan, tidak saja melalui pendidikan formal dari jenjang dasar sampai dengan tinggi tetapi juga melalui pendidikan non-formal seperti pelatihan-pelatihan berbagai kompetensi.

Terkait peningkatan mutu SDM ini, perguruan tinggi di Aceh bisa dikatakan belum ada yang memiliki jurusan spesifik dan khas semisal Mineral dan Pertambangan, komentar Anda?

Sudah selayaknya perguruan tinggi yang ada di Aceh memiliki fakultas atau program studi yang mendalami masalah pertambangan dan termasuk didalamnya know how tentang technological processing berbagai jenis mineral tambang. Perlu juga diingat bahwa masalah pengelolaan SDA misalnya hasil tambang tidak harus dimonopoli oleh lulusan dengan kompetensi tambang. Jadi, kalaupun saat ini di Aceh belum memiliki kompetensi tersebut maka segera sarankan kepada otoritas untuk memulai merintis membuka fakultas atau program studi tersebut.

Saya sangat percaya, sebuah program studi yang didukung oleh kekayaan alamnya akan cepat mencapai keunggulan dan memiliki daya saing. Janganlah kita berfikir yang terlalu tinggi misalnya bidang teknologi nanoscience -yang menjadi tren riset dan main issue masa kini. Tetapi selalulah berfikir bahwa keunikan yang terdapat di sekitar kita akan mampu membawa kita menempati salah satu posisi penting di masa depan.

Keunikan seperti apa?

Saya mengamati ilmu kelautan, geofisika eksplorasi, geothermal, tambang, mineral serta terkait sumber daya alam lainnya adalah salah satu keunikan yang dimiliki oleh Aceh dan dengan demikian berpotensi untuk dikembangkan bila ingin berada pada jajaran depan, minimal di negara ini. Sekali lagi, lihatlah keunikan apa yang kita miliki. Karena saya punya keyakinan bahwa untuk berada pada jajaran depan kita harus memiliki keunikan. Jadi, bukan sekedar ikut-ikutan tren. Istilah orang kita, bek meuron-ron.

Keterlibatan Anda dalam pengembangan SDM Aceh?

Saya sendiri berupaya membangun SDM Aceh dari sisi lain. Sebagai dosen tetap di UI, saya kerap membimbing dosen-dosen Unsyiah yang mengambil pendidikan tinggi S2 dan S3 di bidang Materials Science pada program pascasarjana UI. Sekali waktu saya pernah berpesan kepada salah seorang anak bimbingan saya, seorang dosen FMIPA Unsyiah, bukalah program pendidikan dan penelitian terkait dengan sumber daya alam. Saya sudah sejak lama menjalin kontak kerjasama dengan FMIPA Unsyiah. Begitu.

Berkaitan dengan situasi damai saat ini, terutama pasca MoU Helsinki, amatan Anda?

Begini, sebelum MoU tersebut terus terang ketika saya kembali ke Langsa menjenguk ibu dan mertua saya, saya merasakan sebagai orang asing saja. Dicurigai, terus diperiksa setiap langkah. Tentu hal ini dialami oleh setiap orang. Dengan perkataan lain betapa tertekannya perasaan orang yang hidup di tanah Aceh ini pada masa itu. Alhamdulillah, pasca MoU saya merasakan situasi yang sungguh jauh berbeda. Dua tahun yang lalu saya berziarah ke kuburan bapak saya di Taman Makam Pahlawan Banda Aceh. Berangkat dengan mobil dari Langsa dan sekitar pukul 23.00 malam saya berada dalam pendakian gunung Seulawah. Tidak ada perasaan yang mendebarkan saya rasakan. Justru saya menikmati udaranya yang segar, banyak pengendara motor (kereta) lalu lalang dari dan menuju Banda Aceh. Suatu perjalanan yang sangat menyenangkan. Itulah yang saya amati, kini Aceh jauh lebih aman. Bila situasi aman semacam ini bisa terus dijaga dan ditingkatkan kualitasnya dari waktu ke waktu, tidak saja hal di atas yang bisa dirasakan tetapi lebih jauh lagi, ketertinggalan seperti pada pendidikan, investasi/ekonomi, pembangunan infrastruktur, sosial budaya, kesejahteraan dan sebagainya bisa dipercepat agar dapat sejajar dengan daerah-daerah maju lain di negara ini.

Artinya dibutuhkan rasa aman yang abadi bagi kemajuan Aceh?

Menurut saya base linenya adalah keamanan, ketenangan dan kepastian hukum. Bila keamanan dapat dipertahankan dan ditingkatkan kualitasnya maka akan diperoleh ketenangan. Ketenangan dalam bekerja, ketenangan dalam memikirkan masa depan, ketenangan dalam perencanaan Aceh ke depan. Ketenangan itu bisa menjadi stimulan untuk kreasi dan inovasi. Hal ini perlu untuk derap langkah ke depan.

Mungkin ada pesan khusus untuk masyarakat Aceh?

Saya tidak punya pesan khusus, mengingat saya masih datang dan pergi dari daerah Aceh ini. Namun ada amatan khusus dari saya, dari dulu saya melihat budaya kerja di Aceh ini tidak banyak berubah. Banyak diantaranya bekerja secara kurang efektif atau kurang maksimal. Kurang inisiatif. Akibatnya tidak muncul inovasi. Hal ini mungkin bisa disebabkan kurang terdapatnya program-program kerja yang terencana baik dan memiliki ukuran-ukuran pencapaian. Aceh haruslah memiliki program-program yang progressive dari waktu ke waktu. Kalaupun saya harus berpesan kepada masyarakat Aceh maka dukunglah secara sungguh-sungguh program-program progressive pemerintah NAD termasuk dengan bekerja lebih efektif dan progressive. Saya juga berharap makin banyak putra-putri dari Aceh ini untuk tidak segan menimba ilmu dan pengalaman dari luar wilayah Aceh sendiri, bila mungkin hingga ke luar negeri.