Mengintip Ramadhan di Liga Jerman
Suhu udara di Jerman selama bulan Agustus terasa menyengat. Rata-rata sekitar 30 derajat Celcius. Bisa dimaklumi karena masih berlangsung musim panas. Sementara itu Liga Jerman atau dikenal dengan Bundesliga baru saja bergulir. Pada saat yang sama Ramadhan pun datang menyapa. Tentu sebuah dilema bagi para pemain beragama Islam selama liga berlangsung. Satu sisi menjalankan perintah agama, sisi lain kondisi tubuh musti tetap fit agar tim yang dibelanya bisa bersaing di papan atas. Mendahulukan keyakinan atau kesehatan?
Ritme ramadhan
“Ritme hidup di bulan Ramadhan seperti ini sudah biasa buat aku. Tak ada masalah. Selama puasa aku selalu bangun pukul 3.30 untuk makan sahur,“ tutur Jauhar Mnari, pemain FC. Nuermberg. Mnari yang asli Tunisia ini mengaku selama Ramadhan berat badannya turun hingga tiga kilogram. Namun dia tak merasa bermasalah dengan hal itu dan bahkan dia sering terpilih masuk tim inti. Malah rekan-rekannya merasa takjub dengan Mnari. “Luar biasa daya tahan tubuhnya. Dia selama sebulan tetap puasa, shalat tak pernah tinggal,“ puji salah seorang rekan setim kagum.
Pemain lainnya yang istiqamah dengan puasa adalah Abdelaziz Ahanfouf, yang bermain di klub Bundesliga divisi dua Fortuna Düsseldorf. Pemain dengan dua kewarganegaraan ini, Maroko dan Jerman, lebih radikal lagi. Dia sangat ketat mengikuti aturan puasa. Selama latihan dan begitu juga di hari pertandingan dia tetap puasa. “Hari-hari pertama memang terasa berat, tapi ketika ritme hidup sudah teratur maka semuanya akan lancar. Aku ingin masuk syurga,” papar pemain berusia 31 tahun itu dengan mimik serius.
Problematis
Bintang Bayern Muenchen asal Perancis, Franck Ribery dikenal sebagai salah satu pemain alim di kalangannya. Namun pada hari pertandingan tidak puasa, terutama untuk pertandingan tandang di luar Muenchen.
Serdar Tasci und Sami Khedira, pemain Stuttgart dan anggota timnas Jerman, juga tetap tekun menjalankan ibadah puasa. “Tak ada yang perlu ditakutkan, saya tetap puasa ketika latihan,“ kata Tasci yang kini dipercaya sebagai bek kiri di timnas Jerman. Sami Khedira, kapten timnas U-21 yang baru saja mengantarkan Jerman sebagai juara Euro U-21 mengamini pendapat Tasci.
Situasi ini tentu saja bikin pelatih sedikit pusing dan putar otak. Misalnya Werner Lorant, mantan pemain Borussia Dortmund dan melatif klub Fenerbahce Turki ini menganjurkan para pemain muslim untuk terbuka tentang puasa. “Saya sangat senang jika pemain yang puasa jauh-jauh hari memberitahukan hal itu. Jadi kita bisa atur jadwal dan macam-macam hal lainnya. Ya, kita cari jalan keluarnya,“ kata dia. Lorant termasuk moderat dalam hal puasa, mungkin karena dia pernah lama di Turki. Dia menyarankan kepada para pemainnya agar mengonsumsi makanan yang cukup dan berkualitas di waktu sahur.
Yang agak berseberangan pendapat adalah Wilfried Kindermann, mantan dokter di timnas Jerman. Dia melihat Ramadhan bagi olahragawan sebagai hal problematis. “Apa jadinya kalau seseorang kekurangan cairan dalam tubuh? Pasti ini akan mempengaruhi konsentrasi pemain yang berakibat jebloknya prestasi tim, baik ketika latihan maupun saat bertanding,“ tekan Kindermann.
Ada yang tak kuat puasa
Pola pikir Kindermann ini tampaknya diadopsi oleh sebagian pemain. Sebut saja misalnya Mesut Ozil yang berdarah Turki. Sikap pemain timnas Jerman dari klub Werder Bremen ini mungkin tak patut ditiru. Dia mengaku tak sanggup puasa penuh selama Ramadan. “Aku tidak kuat puasa kalau lagi latihan dan saat ada pertandingan. Pernah dulu sewaktu masih di tim junior coba berpuasa. Tapi cuma sanggup beberapa hari saja,“ tukas pemain berdarah Turki itu santai.
Begitu pula dengan Halil Altintop. Pemain Schalke 04 itu melihat Ramadan kali ini dengan agak skeptis. Dia tidak yakin bisa berpuasa penuh. “Puasa bagiku sungguh sangat penting. Tapi sebagai pemain bola kami musti cukup gizi dan terutama cairan dalam tubuh yang stabil. Tapi, di luar hari pertandingan aku tetap puasa,“ kata adik dari Hamit Altintop itu jujur.
Pemain Moenchengladbach asal Aljazair Karim Matmour juga tak mau ketinggalan puasa Ramadan. “Sebagai seorang muslim, aku tak mau ketinggalan dalam puasa. Aku selalu berusaha sedapat mungkin tidak tidak tinggal puasa. Kendati begitu, pada hari pertandingan, jika mengundang resiko, aku terpaksa berbuka,“ kata Karim.
Saat ini Karim sedang pulang kampung karena hari Minggu besok ikut memperkuat timnas Aljazair pada pertandingan kualifikasi Piala Dunia 2010. Selama berada di negerinya, Karim mengaku bisa menjalankan ibadah puasa dengan tenang. Karena di sana para pemain bisa istirahat total di siang hari. Sedangkan program latihan baru diadakan malam hari selepas shalat tarawih. Begitulah. (zulkarnain jalil)
Thursday, September 10, 2009
Wednesday, May 27, 2009
Terry Holdbrooks Memeluk Islam di Penjara Guantanamo
“Aku sangat tersentuh dengan kelakuan para napi. Mereka terlihat khusyuk menjalankan keyakinan agamanya. Banyak orang Amerika tak peduli lagi dengan Tuhan. Tapi para tahanan itu, bahkan di tempat seperti ini, tetap taat menunaikan shalat.”(Terry Holdbrooks)
PENGANTAR. Siapa tak kenal dengan penjara Guantanamo. Penjara khusus teroris ini menyimpan sejuta kisah penuh misteri. Salah satunya, yang baru-baru ini terungkap, adalah kisah pertemanan sipir penjara Terry Holdbrooks dengan salah seorang tahanan asal Maroko bernama Ahmed Errachidi. Dari pertemanan itu Terry akhirnya memeluk agama Islam. Semuanya berawal dari interaksi intensif di malam hari, di saat petugas lain sedang tertidur lelap. Mereka berbincang banyak hal, dari musik, politik, hingga agama Islam. Prosesinya syahadahnya juga tergolong unik. Terry menyorongkan selembar kertas dan pulpen kepada Ahmed untuk dituliskan kalimah syahadah dalam bahasa Arab dan artinya dalam bahasa Inggris. Terry pun mengeja kedua kalimah penuh hidayah itu. Tepatnya di tengah malam buta nan dingin, di awal 2004, Terry menjadi muslim dan berganti nama menjadi Abdullah Mustafa. Berikut kisah serunya seperti dituturkan kepada majalah Newsweek edisi 21 Maret 2009 dan dikutip situs readingislam.com.
00000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000
Terry Holdbrooks adalah seorang sipir khusus penjara militer. Dalam perjalanan karirnya, dia pernah ditugaskan di penjara Guantanamo. Sebuah penjara angker yang terkenal dengan kebengisan para tentaranya. Di sana pula dia mengalami sebuah perubahan paling mendasar dalam hidupnya. Ya, dia bersyahadah di penjara paling menakutkan dan penuh kontroversi itu.
Diskusi tengah malam
Ceritanya, suatu malam di awal tahun 2004, dia berbincang-bincang dengan seorang tahanan asal Maroko. Tahanan ini, mungkin karena senioritas, oleh rekan-rekannya kerap dipanggil “jenderal”. Kala itu Terry dapat tugas shift malam. Malam berjalan serasa begitu lambat bagi Terry hingga membuatnya merasa bosan.
“Untuk menghilangkan rasa bosan saya menyapu lantai. Hanya itu yang bisa kita lakukan di tengah malam buta kayak gitu,” kata Terry. Selebihnya dia berbincang-bincang dengan sebagian tahanan yang masih melek dari balik jeruji mereka.
Tak lama berselang, dia terlibat perbincangan serius dengan “sang jenderal” yang punya nama lengkap Ahmed Errachidi. Perbincangan dengan Ahmed di awal 2004 itulah yang akhirnya mengantarkan Terry mengucapkan dua kalimah syahadah.
“Iya, jika aku tugas jaga shift malam, aku sering diskusi dengan Ahmed. Kami awalnya cuma ngobrol-ngobrol biasa tentang perang yang dimotori Amerika, apa yang akan terjadi nanti di Timur Tengah, seratus atau dua ratus tahun kemudian. Menariknya, kendati kami berbincang hingga menyentuh hal-hal sensitif tentang keburukan Amerika, Ahmed sama sekali tak terprovokasi untuk menjelek-jelekkan Amerika. Yeah, itulah salah satu sisi menarik dari pria dengan nomor tahanan 590 ini. Nah akhirnya diskusi merembet kemana-mana hingga menyentuh masalah agama Islam,” urai Terry.
Perbincangan berjam-jam lamanya di tengah malam buta tentang Islam rupanya bikin Terry penasaran. Dia malah jadi risau akan masa depannya sendiri. Begitulah, malam-malam berikutnya mereka makin serius ngobrol. Terry bahkan memesan beberapa buah buku Islam dan bahasa Arab dari kantornya.
Bersyahadah
Akhirnya, satu malam di awal 2004, tepatnya pada pukul 12.49 Terry pun “resmi” masuk Islam. Kala itu, Terry menyorongkan pulpen dan selembar kertas melalui celah pintu penjara dan meminta Ahmed menuliskan dua kalimah syahadah dalam bahasa Arab beserta artinya dalam bahasa Inggris. Lalu, Terry pun segera melafalkan kalimat yang ditulis Ahmed. Ya, dimalam pekat itu, di tengah dinginnya malam dan lembabnya lantai penjara Guantanamo, Terry telah jadi seorang muslim!
Hanya setahun bertugas, Terry keluar dari dinas kemiliteran pada 2005. Dalam satu wawancara dengan majalah Newsweek, bersama dengan beberapa mantan petugas penjara lainnya, dia bercerita tentang sadisme di Guantanamo yang dilakukan oleh para tentara, petugas medis dan juga para interogator terhadap napi. Mereka seakan ingin balas dendam terhadap kejadian teror 9/11 di New York sembilan tahun silam. Begitu kata Terry.
Sejak itulah kedok sadisme penjara Guantanamo, yang selama ini cukup terjaga kerahasiaannya, pun terkuak. Tak hanya sadisme, tabir tentang interaksi rohani antara sipir dan para napi juga mengemuka. Alhasil, empati berbagai pihak pun mulai muncul.
“Para tahanan dulunya cuma bisa bercakap-cakap dari hati ke hati dengan beberapa sipir yang menaruh simpati pada mereka. Kami sering diskusi banyak hal. Dari mulai agama, politik hingga musik,” beber Ahmed kepada Newsweek via e-mail dari kampung halamannya di Maroko. Ahmed sendiri disekap selama lima tahun dan bebas pada 2007 lalu.
Masa kecil yang suram
“Aku dibesarkan di kota Phoenix. Masa kecilku suram. Kedua orangtuaku pecandu narkoba. Aku sendiri, sebelum masuk militer tahun 2002, suka mabuk-mabukan. Lubang di telingaku ini sebagai bukti aku pernah pakai anting-anting. Badan penuh dengan tato. Musik-musik metal dan keras adalah kesukaanku. Pokoknya masa remaja penuh hura-hura,” kisah Terry tentang masa lalunya.
Terry masuk militer sebenarnya untuk memperbaiki kehidupannya. Dia tidak mau hidupnya rusak seperti kedua orangtuanya. Terry, seperti pemuda Amerika umumnya, tak kenal agama, jiwa labil dan berusaha mencari kedamaian dalam hidupnya. Sewaktu minggat dari rumah, dia bertunangan dengan seorang wanita yang baru dikenalnya dalam bilangan hari. Tiga bulan selepas perkenalan itu mereka menikah.
“Aku tak pernah bersentuhan dengan agama. Jadi tak pernah terbayang dalam hidupku akan masuk Islam. Jujur kukatakan, selama bertugas di penjara, aku sangat tersentuh dengan kelakuan para napi. Mereka terlihat khusyuk menjalankan keyakinan agamanya. Banyak orang Amerika tak peduli lagi dengan Tuhan. Tapi para tahanan itu, bahkan di tempat seperti ini, tetap taat menunaikan shalat," kisah Terry penuh rasa kagum.
Terkesan dengan Ahmed
Kharisma Ahmed rupanya membuat Terry kepincut. Kedekatannya itu hingga dia tahu latar belakang “sang jenderal.” Pria Maroko itu, sebut Terry, dulunya seorang kepala juru masak di Inggris selama hampir 18 tahun. Sebab itu dia lancar berbahasa Inggris. Akhir September 2001, Ahmed mengadakan perjalanan ke Pakistan guna menjenguk anaknya yang baru menjalani operasi. Ketika menyeberang Afganistan dia ditangkap oleh warga lokal dan dijual ke tentara Amerika senilai 5000 dolar (sekitar 50 juta rupiah). Lalu dia dikirim ke penjara Guantanamo dengan tuduhan ikut latihan kelompok Al-Qaeda. Tapi, tahun 2007, dalam sebuah investigasi mendalam yang dilakukan oleh harian London Times dia dinyatakan tak bersalah dan dibebaskan pada tahun itu juga.
Ahmed sendiri lupa kapan persisnya Terry bersyahadah. Yang dia ingat, selama lima tahun di penjara Guantanamo dia memang termasuk aktif “berdakwah” tentang Islam kepada beberapa sipir. Saat Terry mengungkapkan keinginannya masuk Islam, Ahmed bahkan mengingatkan bahwa masuk Islam adalah perkara serius. Konon lagi di Guantanamo. Agar tak terjadi penyesalan di kemudian hari, sebut Ahmed. Terry tetap memutuskan memeluk Islam. Selepas bersyahadah, Terry menyembunyikan status keislamannya itu dengan rapi. Kecuali dua orang sipir yang sekamar dengannya, lainnya tak ada yang tahu.
Dipukul sang komandan
Tapi lambat laun ketahuan juga. Tanpa sepengetahuan Terry, beberapa sipir penjara memerhatikan perubahan sikapnya. Satu waktu, para sipir itu mendengar Terry dipanggil dengan nama "Mustafa" oleh para napi. Pernah pula Terry kedapatan sedang mempelajari bahasa Arab.
“Satu malam, komandan regu beserta lima anak buahnya menyeretku ke lapangan untuk diinterogasi. Mereka membentakku dengan kasar dan menanyakan apa aku sudah jadi penghianat. Lalu, si komandan diikuti dua orang anak buahnya pun meninjuku bertubi-tubi," cerita Terry.
Alhasil, Terry menghabiskan masa dinasnya di Guantanamo dalam kesendirian dan tak ada yang mau bergaul dengannya. Dia dikucilkan oleh rekan-rekannya. Rupanya, sebut Terry, hal seperti itu juga pernah dialami oleh seorang petugas penjara lainnya yang bertugas di sana. “Kapten James Yee nama petugas itu. Bertugas sebagai pendeta penjara di kisaran 2003. Kapten James masuk Islam setahun lebih awal dari aku. James akhirnya ditangkap dengan tuduhan membantu musuh (para napi-red) dan tuduhan-tuduhan kriminal lainnya,” sebut Terry.
Kembali mabuk-mabukan
Masa dinas di penjara Guantanamo pun berakhir. Terry dipindahkan ke penjara Fort Leonard Wood. Sejak itu dia mulai kehilangan pegangan hidup. Dia kembali ke kehidupan lamanya. “Aku sering ke mall untuk membunuh waktu. Atau ke klub-klub malam, mabuk-mabukan sambil nonton tarian striptis," kata dia.
Beberapa bulan kemudian Terry diberhentikan dengan hormat dari tugas militer. Militer AS tak menyebutkan alasan pemberhentian itu. Namun, kuat dugaan, kasusnya di penjara Guantanamo adalah penyebab keluarnya keputusan tersebut.
Terry memutuskan kembali ke kota asalnya Phoenix. Dia kembali mabuk-mabukan. Neely, salah seorang temannya kala di Guantanamo, bercerita bahwa Terry depresi berat akibat tekanan hidup selama di Guantanamo. Terry pernah menghabiskan 60 dolar AS (sekitar 600 ribu rupiah) dalam sehari untuk membeli minuman keras. Tak hanya itu, Terry bahkan menceraikan istrinya.
Kebiasaan buruk Terry tambah kronis hingga dia jatuh sakit akibat kelebihan mengkonsumsi alkohol. Terry terpaksa masuk rumah sakit. Jantungnya sempat anfal selama beberapa kali.
“Ternyata Allah masih sayang padaku. Secara tak terduga aku dipertemukan kembali dengan Ahmed dan kami pun merajut lagi persahabatan yang sempat terputus. Kami saling berkirim kabar via e-mail. Ahmed rupanya juga punya masalah dengan lingkungannya. Dia butuh waktu lama untuk adaptasi. Biasa, orang baru keluar penjara awalnya kan sulit diterima di masyarakat,” kisah Terry lagi. Begitulah, hidup Terry perlahan mulai berjalan ke arah yang benar.
Taubat dan menulis buku
Terry, yang kini berusia 25 tahun, sejak desember 2008 silam telah berhenti minum minuman keras dan mulai aktif shalat lima waktu ke mesjid. Dia sering ke Tempe Islamic Center, sebuah mesjid dekat kampus Universitas Phoenix. Sehari-hari dia bekerja sebagai pegawai bagian pendaftaran di universitas itu. Terry kini menjalankan perintah agama dengan taat. Kepalanya senantiasa tertutup kopiah.
“Aku telah berjanji pada diriku sendiri, berhenti mabuk-mabukan dan berhenti merokok. Aku ingin jadi muslim yang benar. Aku ingin belajar serta mempraktekkan amalan Islam secara sempurna. Tidak mudah memang merubah kebiasaan hidup ini. Banyak sekali tantangannya. Tapi, aku yakin “pintu kehidupan” yang baru pasti akan terbuka,” kata Terry optimis.
Satu ketika, saat imam mesjid Tempe memperkenalkan Terry kepada segenap jamaah, sang imam menceritakan bahwa Terry memeluk Islam saat di penjara Guantánamo. Para jamaah spontan terkesima dan berebutan menyalaminya. "Kita seringkali terbayang oleh kebengisan tentara di penjara Guantanamo. Tapi tak pernah membayangkan bagaimana hidayah bisa sampai ke sana. Ya, seperti Terry ini," ujar Amr Elsamny, imam mesjid Tempe yang berasal dari Mesir.
Begitulah. Terry saat ini sedang menulis semua kisah hidupnya selama bertugas di penjara Guantanamo. Dia bahkan telah meneken kontrak dengan sebuah penerbit. Terry tampaknya ingin berkecimpung di dunia tulis menulis. “Kalau bisa hidup dari buku, aku berencana berhenti kerja dari Universitas Phoenix dan mendedikasikan diri untuk membantu keluarga besar para tahanan Guantanamo,” tutup Terry. (Zulkarnain Jalil)
“Aku sangat tersentuh dengan kelakuan para napi. Mereka terlihat khusyuk menjalankan keyakinan agamanya. Banyak orang Amerika tak peduli lagi dengan Tuhan. Tapi para tahanan itu, bahkan di tempat seperti ini, tetap taat menunaikan shalat.”(Terry Holdbrooks)
PENGANTAR. Siapa tak kenal dengan penjara Guantanamo. Penjara khusus teroris ini menyimpan sejuta kisah penuh misteri. Salah satunya, yang baru-baru ini terungkap, adalah kisah pertemanan sipir penjara Terry Holdbrooks dengan salah seorang tahanan asal Maroko bernama Ahmed Errachidi. Dari pertemanan itu Terry akhirnya memeluk agama Islam. Semuanya berawal dari interaksi intensif di malam hari, di saat petugas lain sedang tertidur lelap. Mereka berbincang banyak hal, dari musik, politik, hingga agama Islam. Prosesinya syahadahnya juga tergolong unik. Terry menyorongkan selembar kertas dan pulpen kepada Ahmed untuk dituliskan kalimah syahadah dalam bahasa Arab dan artinya dalam bahasa Inggris. Terry pun mengeja kedua kalimah penuh hidayah itu. Tepatnya di tengah malam buta nan dingin, di awal 2004, Terry menjadi muslim dan berganti nama menjadi Abdullah Mustafa. Berikut kisah serunya seperti dituturkan kepada majalah Newsweek edisi 21 Maret 2009 dan dikutip situs readingislam.com.
00000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000
Terry Holdbrooks adalah seorang sipir khusus penjara militer. Dalam perjalanan karirnya, dia pernah ditugaskan di penjara Guantanamo. Sebuah penjara angker yang terkenal dengan kebengisan para tentaranya. Di sana pula dia mengalami sebuah perubahan paling mendasar dalam hidupnya. Ya, dia bersyahadah di penjara paling menakutkan dan penuh kontroversi itu.
Diskusi tengah malam
Ceritanya, suatu malam di awal tahun 2004, dia berbincang-bincang dengan seorang tahanan asal Maroko. Tahanan ini, mungkin karena senioritas, oleh rekan-rekannya kerap dipanggil “jenderal”. Kala itu Terry dapat tugas shift malam. Malam berjalan serasa begitu lambat bagi Terry hingga membuatnya merasa bosan.
“Untuk menghilangkan rasa bosan saya menyapu lantai. Hanya itu yang bisa kita lakukan di tengah malam buta kayak gitu,” kata Terry. Selebihnya dia berbincang-bincang dengan sebagian tahanan yang masih melek dari balik jeruji mereka.
Tak lama berselang, dia terlibat perbincangan serius dengan “sang jenderal” yang punya nama lengkap Ahmed Errachidi. Perbincangan dengan Ahmed di awal 2004 itulah yang akhirnya mengantarkan Terry mengucapkan dua kalimah syahadah.
“Iya, jika aku tugas jaga shift malam, aku sering diskusi dengan Ahmed. Kami awalnya cuma ngobrol-ngobrol biasa tentang perang yang dimotori Amerika, apa yang akan terjadi nanti di Timur Tengah, seratus atau dua ratus tahun kemudian. Menariknya, kendati kami berbincang hingga menyentuh hal-hal sensitif tentang keburukan Amerika, Ahmed sama sekali tak terprovokasi untuk menjelek-jelekkan Amerika. Yeah, itulah salah satu sisi menarik dari pria dengan nomor tahanan 590 ini. Nah akhirnya diskusi merembet kemana-mana hingga menyentuh masalah agama Islam,” urai Terry.
Perbincangan berjam-jam lamanya di tengah malam buta tentang Islam rupanya bikin Terry penasaran. Dia malah jadi risau akan masa depannya sendiri. Begitulah, malam-malam berikutnya mereka makin serius ngobrol. Terry bahkan memesan beberapa buah buku Islam dan bahasa Arab dari kantornya.
Bersyahadah
Akhirnya, satu malam di awal 2004, tepatnya pada pukul 12.49 Terry pun “resmi” masuk Islam. Kala itu, Terry menyorongkan pulpen dan selembar kertas melalui celah pintu penjara dan meminta Ahmed menuliskan dua kalimah syahadah dalam bahasa Arab beserta artinya dalam bahasa Inggris. Lalu, Terry pun segera melafalkan kalimat yang ditulis Ahmed. Ya, dimalam pekat itu, di tengah dinginnya malam dan lembabnya lantai penjara Guantanamo, Terry telah jadi seorang muslim!
Hanya setahun bertugas, Terry keluar dari dinas kemiliteran pada 2005. Dalam satu wawancara dengan majalah Newsweek, bersama dengan beberapa mantan petugas penjara lainnya, dia bercerita tentang sadisme di Guantanamo yang dilakukan oleh para tentara, petugas medis dan juga para interogator terhadap napi. Mereka seakan ingin balas dendam terhadap kejadian teror 9/11 di New York sembilan tahun silam. Begitu kata Terry.
Sejak itulah kedok sadisme penjara Guantanamo, yang selama ini cukup terjaga kerahasiaannya, pun terkuak. Tak hanya sadisme, tabir tentang interaksi rohani antara sipir dan para napi juga mengemuka. Alhasil, empati berbagai pihak pun mulai muncul.
“Para tahanan dulunya cuma bisa bercakap-cakap dari hati ke hati dengan beberapa sipir yang menaruh simpati pada mereka. Kami sering diskusi banyak hal. Dari mulai agama, politik hingga musik,” beber Ahmed kepada Newsweek via e-mail dari kampung halamannya di Maroko. Ahmed sendiri disekap selama lima tahun dan bebas pada 2007 lalu.
Masa kecil yang suram
“Aku dibesarkan di kota Phoenix. Masa kecilku suram. Kedua orangtuaku pecandu narkoba. Aku sendiri, sebelum masuk militer tahun 2002, suka mabuk-mabukan. Lubang di telingaku ini sebagai bukti aku pernah pakai anting-anting. Badan penuh dengan tato. Musik-musik metal dan keras adalah kesukaanku. Pokoknya masa remaja penuh hura-hura,” kisah Terry tentang masa lalunya.
Terry masuk militer sebenarnya untuk memperbaiki kehidupannya. Dia tidak mau hidupnya rusak seperti kedua orangtuanya. Terry, seperti pemuda Amerika umumnya, tak kenal agama, jiwa labil dan berusaha mencari kedamaian dalam hidupnya. Sewaktu minggat dari rumah, dia bertunangan dengan seorang wanita yang baru dikenalnya dalam bilangan hari. Tiga bulan selepas perkenalan itu mereka menikah.
“Aku tak pernah bersentuhan dengan agama. Jadi tak pernah terbayang dalam hidupku akan masuk Islam. Jujur kukatakan, selama bertugas di penjara, aku sangat tersentuh dengan kelakuan para napi. Mereka terlihat khusyuk menjalankan keyakinan agamanya. Banyak orang Amerika tak peduli lagi dengan Tuhan. Tapi para tahanan itu, bahkan di tempat seperti ini, tetap taat menunaikan shalat," kisah Terry penuh rasa kagum.
Terkesan dengan Ahmed
Kharisma Ahmed rupanya membuat Terry kepincut. Kedekatannya itu hingga dia tahu latar belakang “sang jenderal.” Pria Maroko itu, sebut Terry, dulunya seorang kepala juru masak di Inggris selama hampir 18 tahun. Sebab itu dia lancar berbahasa Inggris. Akhir September 2001, Ahmed mengadakan perjalanan ke Pakistan guna menjenguk anaknya yang baru menjalani operasi. Ketika menyeberang Afganistan dia ditangkap oleh warga lokal dan dijual ke tentara Amerika senilai 5000 dolar (sekitar 50 juta rupiah). Lalu dia dikirim ke penjara Guantanamo dengan tuduhan ikut latihan kelompok Al-Qaeda. Tapi, tahun 2007, dalam sebuah investigasi mendalam yang dilakukan oleh harian London Times dia dinyatakan tak bersalah dan dibebaskan pada tahun itu juga.
Ahmed sendiri lupa kapan persisnya Terry bersyahadah. Yang dia ingat, selama lima tahun di penjara Guantanamo dia memang termasuk aktif “berdakwah” tentang Islam kepada beberapa sipir. Saat Terry mengungkapkan keinginannya masuk Islam, Ahmed bahkan mengingatkan bahwa masuk Islam adalah perkara serius. Konon lagi di Guantanamo. Agar tak terjadi penyesalan di kemudian hari, sebut Ahmed. Terry tetap memutuskan memeluk Islam. Selepas bersyahadah, Terry menyembunyikan status keislamannya itu dengan rapi. Kecuali dua orang sipir yang sekamar dengannya, lainnya tak ada yang tahu.
Dipukul sang komandan
Tapi lambat laun ketahuan juga. Tanpa sepengetahuan Terry, beberapa sipir penjara memerhatikan perubahan sikapnya. Satu waktu, para sipir itu mendengar Terry dipanggil dengan nama "Mustafa" oleh para napi. Pernah pula Terry kedapatan sedang mempelajari bahasa Arab.
“Satu malam, komandan regu beserta lima anak buahnya menyeretku ke lapangan untuk diinterogasi. Mereka membentakku dengan kasar dan menanyakan apa aku sudah jadi penghianat. Lalu, si komandan diikuti dua orang anak buahnya pun meninjuku bertubi-tubi," cerita Terry.
Alhasil, Terry menghabiskan masa dinasnya di Guantanamo dalam kesendirian dan tak ada yang mau bergaul dengannya. Dia dikucilkan oleh rekan-rekannya. Rupanya, sebut Terry, hal seperti itu juga pernah dialami oleh seorang petugas penjara lainnya yang bertugas di sana. “Kapten James Yee nama petugas itu. Bertugas sebagai pendeta penjara di kisaran 2003. Kapten James masuk Islam setahun lebih awal dari aku. James akhirnya ditangkap dengan tuduhan membantu musuh (para napi-red) dan tuduhan-tuduhan kriminal lainnya,” sebut Terry.
Kembali mabuk-mabukan
Masa dinas di penjara Guantanamo pun berakhir. Terry dipindahkan ke penjara Fort Leonard Wood. Sejak itu dia mulai kehilangan pegangan hidup. Dia kembali ke kehidupan lamanya. “Aku sering ke mall untuk membunuh waktu. Atau ke klub-klub malam, mabuk-mabukan sambil nonton tarian striptis," kata dia.
Beberapa bulan kemudian Terry diberhentikan dengan hormat dari tugas militer. Militer AS tak menyebutkan alasan pemberhentian itu. Namun, kuat dugaan, kasusnya di penjara Guantanamo adalah penyebab keluarnya keputusan tersebut.
Terry memutuskan kembali ke kota asalnya Phoenix. Dia kembali mabuk-mabukan. Neely, salah seorang temannya kala di Guantanamo, bercerita bahwa Terry depresi berat akibat tekanan hidup selama di Guantanamo. Terry pernah menghabiskan 60 dolar AS (sekitar 600 ribu rupiah) dalam sehari untuk membeli minuman keras. Tak hanya itu, Terry bahkan menceraikan istrinya.
Kebiasaan buruk Terry tambah kronis hingga dia jatuh sakit akibat kelebihan mengkonsumsi alkohol. Terry terpaksa masuk rumah sakit. Jantungnya sempat anfal selama beberapa kali.
“Ternyata Allah masih sayang padaku. Secara tak terduga aku dipertemukan kembali dengan Ahmed dan kami pun merajut lagi persahabatan yang sempat terputus. Kami saling berkirim kabar via e-mail. Ahmed rupanya juga punya masalah dengan lingkungannya. Dia butuh waktu lama untuk adaptasi. Biasa, orang baru keluar penjara awalnya kan sulit diterima di masyarakat,” kisah Terry lagi. Begitulah, hidup Terry perlahan mulai berjalan ke arah yang benar.
Taubat dan menulis buku
Terry, yang kini berusia 25 tahun, sejak desember 2008 silam telah berhenti minum minuman keras dan mulai aktif shalat lima waktu ke mesjid. Dia sering ke Tempe Islamic Center, sebuah mesjid dekat kampus Universitas Phoenix. Sehari-hari dia bekerja sebagai pegawai bagian pendaftaran di universitas itu. Terry kini menjalankan perintah agama dengan taat. Kepalanya senantiasa tertutup kopiah.
“Aku telah berjanji pada diriku sendiri, berhenti mabuk-mabukan dan berhenti merokok. Aku ingin jadi muslim yang benar. Aku ingin belajar serta mempraktekkan amalan Islam secara sempurna. Tidak mudah memang merubah kebiasaan hidup ini. Banyak sekali tantangannya. Tapi, aku yakin “pintu kehidupan” yang baru pasti akan terbuka,” kata Terry optimis.
Satu ketika, saat imam mesjid Tempe memperkenalkan Terry kepada segenap jamaah, sang imam menceritakan bahwa Terry memeluk Islam saat di penjara Guantánamo. Para jamaah spontan terkesima dan berebutan menyalaminya. "Kita seringkali terbayang oleh kebengisan tentara di penjara Guantanamo. Tapi tak pernah membayangkan bagaimana hidayah bisa sampai ke sana. Ya, seperti Terry ini," ujar Amr Elsamny, imam mesjid Tempe yang berasal dari Mesir.
Begitulah. Terry saat ini sedang menulis semua kisah hidupnya selama bertugas di penjara Guantanamo. Dia bahkan telah meneken kontrak dengan sebuah penerbit. Terry tampaknya ingin berkecimpung di dunia tulis menulis. “Kalau bisa hidup dari buku, aku berencana berhenti kerja dari Universitas Phoenix dan mendedikasikan diri untuk membantu keluarga besar para tahanan Guantanamo,” tutup Terry. (Zulkarnain Jalil)
Subscribe to:
Posts (Atom)