Wednesday, November 15, 2006

Takut Islam, Seorang Pendeta Bunuh Diri

Kasus bunuh diri seorang pendeta di Gereja Evangelis kota Erfurt, Jerman kini jadi pembicaraan hangat disana. Kalangan Islam utamanya, kontan memberi reaksi atas kasus ini. Sebabnya, alasan bunuh diri sang pendeta itu karena khawatir dan takut dengan penyebaran Islam di Jerman.

Kalangan Islam menilai hal itu dapat merusak citra Islam sebagai agama damai dan penuh persahabatan.“Islam agama perdamaian, jadi kenapa harus takut ?,“ ujar Abdurrahim Vural, Presiden Organisasi Masyarakat Islam Berlin yang tidak bisa menerima alasan bunuh diri pendeta itu dengan menyebut Islam sebagai momok.

Sementara itu pihak gereja berharap kejadian ini tidak merusak hubungan antara umat Kristen dan Islam di Jerman. “Sungguh, ini kejadian tragis, motif dan alasan bunuh dirinya tidak bisa dimengerti dan dipertanggungjawabkan,“ tukas Uskup Christoph Kähler, salah seorang pembina gereja Evangelis kota Eisenach. Kähler juga menekankan bahwa sejauh ini tidak ada hal negatif dalam hubungan Kristen dan Islam di negara bagian Thuringen. Sementara Uskup Gereja Protestan Saxony, Axel Noack menyatakan kasus bunuh diri itu telah mengejutkan komunitasnya dan berharap hal itu tidak melukai hubungan Islam dan Kristen. Di Thuringen sendiri saat ini ada sekitar 3000 muslim yang bermukim di sana.

Sebagaimana dilaporkan der Spiegel, pendeta Roland Weisselberg kedapatan melakukan aksi bunuh diri di depan biara Augustiner di kota Erfurt, ibukota negara bagian Thuringen pada Selasa (31/10) yang lalu. Saat itu bertepatan dengan peringatan Hari Reformasi –salah satu hari besar umat Kristen Evangelis-. Sang pendeta diketahui membakar dirinya sendiri selepas menyiram bensin ke sekujur tubuh. Ia sempat dilarikan ke rumah sakit khusus luka bakar di kota Halle. Namun karena luka bakar yang sangat serius, keesokan harinya pendeta malang itu menghembuskan nafasnya yang terakhir.

Menurut keterangan saksi mata, sekitar pukul 10.30 pendeta berusia 73 tahun itu naik ke atas biara. Di atas ketinggian sekitar 2,5 meter itulah ia menjalankan aksi bunuh dirinya. Pegawai gereja dan biarawati yang berada disana berusaha untuk menolong dengan menyiram air ke tubuhnya. Adapun sekitar 300 jamaah gereja yang sedang mengikuti kebaktian mengaku tidak melihat sama sekali upaya bunuh diri di tempat terbuka itu.

Weisselberg yang pensiun tahun 1989 meninggalkan sepucuk surat kepada istrinya. Dalam surat terakhir kepada istrinya itu, ia menyebut alasan bunuh diri karena khawatir dengan semakin berkembangnya Islam di Jerman serta lemahnya upaya gereja dalam hal itu. Peristiwa ini mirip kasus Agustus 1976, saat mana pendeta Oskar Brüsewitz juga melakukan hal yang sama. Namun Brüsewitz bunuh diri karena alasan tekanan pemerintahan komunis di Jerman Timur saat itu.

Di Jerman -dan Eropa secara umum- saat ini bisa dikatakan banyak gereja yang kosong. Hanya kalangan tua saja yang umum terlihat datang ke sana. Sedangkan kaum mudanya malah tidak peduli lagi dengan agama. Majalah beroplah besar terbitan Perancis, Figaro dalam satu laporannya menulis, “Kehadiran umat Islam di masjid yang sedemikian banyak di Jerman, membuat Paus mengimpikan sambutan yang sama terhadap gereja.”

Patut dicatat pula, selepas peristiwa 11 September 2001 di New York, Islam malah makin banyak mendapatkan perhatian dari warga asli Jerman. Penisbatan teroris terhadap Islam justru menyebabkan minat mempelajari Islam semakin tinggi. Malah selepas kejadian itu Al-Quran sempat Ausverkauft (terjual habis).

Adapun warga Jerman yang masuk Islam, bukanlah karena adanya upaya penyebaran terselubung atau cara-cara tidak terpuji lainnya dari Islam. Motif kebanyakan pemeluk Islam di Jerman semata-mata karena ketertarikan mereka secara pribadi akan nilai-nilai yang diserukan oleh Islam. (Zulkarnain Jalil, Jerman).

Wednesday, November 08, 2006

Catatan Idul Fitri 1427 H Eropa:
Likok Pulo Semarakkan Lebaran di Jerman

Masyarakat muslim di Jerman dan Eropa umumnya merayakan Hari Raya Idul Fitri 1427 H pada Senin (23/10). Di Jerman, warga Indonesia di kota-kota besar seperti Berlin, Hamburg, dan Frankfurt mengikuti shalat Id yang diadakan oleh KBRI dan Konsulat Jenderal setempat. Sebagian besar lainnya mengikuti shalat Id di mesjid Turki atau Arab. Lain halnya di Muenchen, warga Indonesia yang berdomisili di kota terbesar ketiga di Jerman itu berinisitif untuk mengadakan sendiri acara shalat Idul Fitri. Istimewanya -tidak seperti di Tanah Air- jamaah ‘Id tidak langsung pulang selepas shalat. Akan tetapi mengadakan berbagai aneka acara seperti nasyid, hiburan anak-anak, hingga pemutaran film sembari bersilaturrahim.

Kontributor Serambi di Jerman -yang bertindak sebagai khatib dan imam di sana- mengamati antusiasme yang tinggi terutama di kalangan anak-anak. Terlebih lagi tatkala Tari Likok Pulo tampil di pentas, tepuk tangan dan decak kagum penonton bagai tak henti setiap para penari menyelesaikan satu variasi gerakan cepat yang diiringi pantun khas Aceh.

“Kami hanya punya waktu efektif untuk belajar sekitar satu minggu. Maklum para penari sibuk dengan kuliah juga. Namun Alhamdulillah, teman-teman cepat beradaptasi dengan tarian ini,” ungkap Teuku Edward, sang pelatih sumringah. Edward –kandidat master di Technische Universitaet Muenchen- dan grup tarinya kontan mendapat tawaran tampil pada acara Malam Budaya Indonesia Muenchen Nopember mendatang. Tak pelak lagi Likok Pulo memang memukau.

Hal lainnya, selepas shalat ‘Id anak-anak juga memperoleh hadiah dari orang tua atau sanak saudara mereka. Hal ini memang sudah mentradisi baik di Jerman maupun Eropa secara umum.

“Sebabnya –sebagai perbandingan- anak-anak selalu mendapat hadiah di sekolah pada saat Natal tiba. Karena itu orang tua perlu mengimbanginya di kala lebaran guna menunjukkan kepada anak-anak mereka bahwa Islam pun punya hari besar,“ tukas Estananto, salah seorang panitia acara itu.
“Bagi muslim yang tinggal di negara Barat hal tersebut menjadi penting. Jika tidak, anak-anak tak akan kenal dengan hari-hari besar Islam yang berujung lunturnya kecintaan pada Islam, “ imbuh Estananto lagi.

Sementara itu di Perancis, ucapan “Bonne Fete” (selamat Idul Fitri) telah menjadi sapaan favorit di kalangan muslim di sana. Sapaan dalam bahasa Perancis itu bahkan melebihi ucapan tradisional yang biasa diucapkan orang tua mereka yang sebagian besar berasal dari Maroko dan Aljazair. Di Perancis -dan beberapa negara Eropa lainnya- Idul Fitri bukanlah libur resmi, sehingga warga tetap ke kantor atau sekolah selepas shalat Id. Namun kebanyakan orang tua tidak mengantar anaknya ke sekolah pada hari pertama lebaran. Hal ini juga untuk menjaga kecintaan Islam bagi anak-anak.

Sebagian besar Warga Indonesia melaksanakan shalat Id di kantor KBRI Paris.
“Yang tidak ada cuma Timphan, lainnya mudah didapat disini, “ ujar Taufik Akbar, mahasiswa asal Aceh mengomentari lebaran di sana seraya tertawa.

Adapun di Italia, tepatnya di kota Milan -seperti dilaporkan IslamOnline (23/10) Idul Fitri yang berlangsung Senin kemarin membawa kebahagiaan tersendiri bagi banyak warga muslim di sana. Shalat Id yang berlangsung di tempat terbuka sekaligus jadi ajang silaturrahim sesama warga muslim di kota mode itu.

Muslim Italia hingga saat ini masih menghadapi banyak kendala terutama meningkatnya Islamofobia di negara Pizza itu. Di Italia warga muslim sedikit tertekan dengan gencarnya propaganda media massa yang menyudutkan Islam yang mengidentikkan Islam dengan terorisme dan kekerasan.

“Kami berusaha melupakan masa-masa sulit itu dan menikmati hari lebaran ‘Id,” ujar Ali Abu Oshwaima, direktur Islamic Center Milan kepada IslamOnline. Di Milan sendiri ada tiga mesjid besar dengan menara dan kubah, disamping 35 mushalla dan 150 toko halal. Populasi muslim Italia saat ini ada sekitar 1,2 juta jiwa, termasuk 20.000 muallaf asli negara Eropa bagian Selatan itu.

Yang menarik adalah di Spanyol, suasana perayaan Idul Fitri sangat berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Setelah dua tahun berada dalam rasa tidak nyaman, selepas kasus penangkapan muslim oleh polisi pada peristiwa bom di kota Madrid (2002) yang menewaskan 190 warga disana. Islam jadi target utama dimana warga muslim, mesjid, Islamic Center sempat jadi sasaran kebencian.

Namun kemarin, suasana Idul Fitri berlangsung meriah. Shalat ‘Id yang berkesan adalah di mesjid Granada. Masjid indah di puncak bukit, menghadap Pegunungan Sierra Nevada dan istana Alhambra itu diresmikan kembali pemakaiannya pada 10 Juli 2003 silam. Kumandang azan di Granada bergema lagi setelah hampir 500 tahun ! Beberapa orang turis muslim yang ada disana terharu, seakan tidak percaya bangunan itu dulunya adalah mesjid.

Laporan IslamOnline menyebutkan media Spanyol yang sebelumnya “garang“ tampak lebih bersahabat, terutama berita-berita yang menyejukkan beberapa hari menjelang lebaran. Mereka berhenti menghujat dan bahkan mengundang tokoh muslim untuk berbicara tentang Islam selama Ramadhan maupun Idul Fitri. Beberapa saluran televisi malah menyiarkan dokumentasi singkat berkenaan persiapan Idul fitri. Misalnya, stasiun televisi Euskal Telebista bahkan mengirim reporternya ke Rabat -ibukota Marokko- guna meliput suasana menjelang Idul Fitri di negara Afrika Utara itu. Patut diketahui warga Maroko merupakan imigran terbesar di Spanyol.

Lain halnya dengan harian La Ley yang mengangkat tentang keingintahuan warga Spanyol tentang Ramadhan serta meningkatnya warga Spanyol yang memeluk Islam. “Kini dengan mudah kita temui orang-orang Spanyol yang belajar tradisi ritual Islam,” tulis surat kabar itu dalam laporan terbarunya.

Selama Ramadhan hubungan muslim dan non muslim juga jadi sorotan. Pemutaran film “Sea and Heaven” –Lautan dan Syurga- yang menceritakan sejarah Andalusia (sekarang Spanyol) mendapat perhatian khusus.

Budaya Andalusia sangat dipengaruhi oleh pemerintahan Muslim di wilayah itu selama delapan abad. Andalusia berasal dari nama bahasa Arab "Al Andalus". Dalam sejarah dinasti Islam di Andalusia, dikisahkan masyarakat pada masa itu baik Yahudi, Kristen, maupun Islam hidup berdampingan secara damai. Mesjid Cordoba di Andalusia –kini beralih fungsi sebagai gereja- adalah saksi bisu kejayaan Islam selama 800 tahun di Spanyol.

Sedikitnya saat ini ada 800.000 muslim dari total 40 juta jiwa penduduk Spanyol. Negara yang terletak di Selatan Eropa itu telah menerima Islam sebagai agama melalui undang-undang kebebasan beragama pada Juli 1967. Saat ini muslim di Spanyol masih terus mengupayakan adanya hari libur resmi pada hari-hari besar Islam. Wallahu ‘alam bisshawab.
(Zulkarnain Jalil Serambinews (28/10)).