Wednesday, September 23, 2009

Di tengah kampanye anti Islam,
muslim Italia tetap ceria di hari lebaran
Minoritas muslim Italia, di tengah derasnya kampanye anti Islam yang dihembuskan oleh kelompok politisi sayap kanan, tetap menikmati suasana Idul Fitri 1430 H yang berlangsung beberapa hari yang lalu. Misalnya di Milan, nuansa kekeluargaan sangat jelas terasa. Seperti dilansir Islamonline.net (22/9), ratusan jamaah berdesak-desakan memenuhi aula gedung Islamic Center di Milan yang memang memiliki daya tampung sangat terbatas.
“Kendati diterpa berbagai kesulitan, umat Islam di Milan tetap menikmati suasana Idul Fitri tahun ini,” sebut Ali Abu Shwaima, Direktur Islamic Center Milan. “Lebaran adalah hari istimewa. Jadi kami tak mau melewati suasana bahagia ini begitu saja. Anak-anak kami terutamanya harus melewati hari-hari suci ini dengan riang. Segala kesulitan dan tantangan hidup harus dilewati dengan hati tenang. Tak ada yang perlu disedihkan di hari ini,” imbuh Abu Shwaima lagi.
Idul Fitri di Italia dan Eropa umumnya, berlangsung hari Minggu 20 September. Selepas shalat Id, jamaah terlihat saling bersalam-salaman dan dilanjutkan suguhan aneka hiburan islami sembari menikmati hidangan khas ala kadarnya.
Acara berlangsung meriah dan jamaah tak ada yang tergesa-gesa untuk meninggalkan arena shalat. Sebab, secara kebetulan, Idul Fitri berlangsung pada hari libur. Jika saja terjadi pada hari-hari kerja, maka dapat dipastikan sebagian besar jamaah bersegera berangkat ke kantor. Begitu pula dengan mahasiswa menuju ke kampus masing-masing. Karena -seperti negara-negara di Eropa lainnya terkecuali Austria- tak ada libur khusus bagi umat Islam.
Seperti halnya di tanah air, muslim Italia juga saling bersilaturahmi antara sesama keluarga dekat, karib kerabat dan teman sejawat. Anak-anak mengenakan pakaian terbaru mereka dan saling bertukar kado hadiah lebaran. Sebagaiannya ada juga yang berkumpul di taman-taman dan tempat-tempat lainnya.
Jamaah membludak
Patut diketahui, jauh sebelum lebaran, umat Islam di Milan telah merencanakan untuk melaksanakan shalat Id di lapangan terbuka. Sebab ruangan Islamic Center sangat terbatas, sementara jumlah jamaah shalat membludak.
Kantor Walikota Milan menolak proposal yang diajukan otoritas muslim setempat. Proposal itu berisi permohonan untuk menggunakan gedung olahraga kota mode itu untuk dijadikan arena shalat Id. Gedung itu lumayan besar hingga mampu menampung jamaah dalam jumlah besar.
Pemda Milan beralasan gedung tersebut, pada hari yang sama, telah dibooking untuk rapat oleh sebuah partai politik lokal. Menyikapi hal itu, selanjutnya pimpinan muslim beralih ke sebuah ruangan terbuka milik sebuah bar.
"Namun rencana itu tidak jadi, sebab dari ramalan cuaca diprediksi bakal turun hujan,” kata Abu Shwaima. Menghadapi semua halangan ini, akhirnya otoritas muslim Milan memutuskan mengadakan shalat Id di gedung Islamic Center. "Kami tak punya pilihan lain. Satu-satunya ya Islamic Center ini. Walau kapasitasnya terbatas, kami akan memanfaatkan setiap inci ruangan ini untuk mengakomodasi jamaah yang melimpah" tukas Abu Shwaima.
Masa-masa sulit
Sejak Silvio Berlusconi memimpin Italia, umat Islam di sana menghadapi sedikit tantangan. Pasalnya, partai pimpinan PM Italia itu berkoalisi dengan Northern League (NL), sebuah partai sayap kanan bergaris keras. “Sekitar 18 bulan ini, sejak NL bergabung dengan partai pemerintah, kami mendapat halangan yang cukup berarti. Diantaranya, ditolaknya pembangunan mesjid yang representatif bagi kegiatan harian, begitu juga dengan larangan perayaan hari-hari besar Islam,” cerita Abu Shwaima.
Jumlah warga muslim di Milan diprediksi ada sekitar 100.000 jiwa. Namun hingga kini mereka masih berpindah-pindah tempat shalat karena belum memiliki tempat tetap (baca: mesjid) untuk shalat. Selama hampir dua tahun mereka berganti tempat. Misalnya, mereka pernah menyewa ruangan olahraga, lalu kamar di sebuah gedung sepakbola. Saat shalat Jumat misalnya, saking sempitnya, jamaah meluber. Hingga sebagiannya shalat di luar ruangan. Berdesak-desakan di atas paving blok
Bulan lalu, otoritas muslim Milan sempat berencana menyewa sebuah aula khusus untuk shalat Jumat. Namun batal sebab biaya sewa mencekik leher. Mereka musti bayar 5.000 Euro per hari hanya untuk shalat Jumat saja!
Disamping biaya sewa yang mahal, upaya itu juga ditentang oleh pihak Northern League. Patut dicatat, Northern League sejak lama dikenal dengan paham rasisme yang dibawanya. Partai garis keras ini bahkan sering disebut sebagai BNP-nya Italia. BNP atau British National Party adalah sebuah partai nasionalis sayap kanan di Inggris, yang juga kerap menentang aspirasi umat Islam di negeri Ratu Elizabeth itu.
Isu-isu negatif
Dalam setiap kampanye pemilu baru lalu, mereka kerap menyuarakan isu-isu negatif berkait dengan imigran asing misalnya aksi kriminal, imigran illegal, ekonomi dan budaya yang dibawa para imigran yang dianggap mereka merusak budaya tempatan.
Bahkan, guna meraih simpati massa, NL ini mengidentikkan dirinya sebagai penjaga agama Kristen.Misi yang mulai berjalan sejak pemerintahan baru terbentuk Mei 2008 silam itu tergolong berhasil. Buktinya mereka sukses menggagalkan rencana pendirian sebuah mesjid di utara kota Verona. Bahkan September 2008 silam, NL girang dengan suksesnya kampanye mereka untuk menghentikan pembangunan mesjid di kota Bologna.
Tahun lalu, pemimpin tertinggi NL Mario Borghezio, dalam sebuah pidato di sebuah gereja di kota Genoa meneriakkan slogan-slogan anti-Islam.
Menurut catatan Wikipedia, sejarah Islam di Italia sebenarnya telah bermula sejak abad ke-9 tatkala terjadinya ekspansi negara-negara Afrika Utara yang menguasai Sisilia dan beberapa negara bagian lainnya di semenanjung Italia. Dari tahun 828 hingga 1300 Masehi muslim menguasai kawasan tersebut. Setelah itu, mengutip Wikipedia, hingga tahun 1970-an pengaruh Islam seakan hilang di Italia.
Di awal 1970-an, imigran muslim asal Somalia pertamakali mulai menginjak tanah Italia. Diikuti muslim Albania. Selanjutnya mulailah berdatangan secara berombongan dari Maroko, Mesir dan Tunisia. Awalnya mereka datang untuk membangun Italia dari kehancuran pasca Perang Dunia II.
Kini, kendati Islam tidak secara resmi diterima oleh pemerintah Italia, namun Islam menjadi agama terbesar kedua setelah Katolik. Populasi warga muslim saat ini, menurut catatan badan statistik Italia tahun 2005, tercatat ada sekitar 2,4 juta jiwa. 50.000 diantaranya adalah muallaf asli Italia. Menariknya, menurut catatan pemerintah, hampir 40% imigran Italia adalah illegal. Hal ini, tentu saja, jadi santapan empuk kampanye anti imigran yang disuarakan kalangan sayap kanan seumpama Northern League. Berkaitan dengan keberadaan mesjid, mereka beralasan bahwa orang Islam bisa shalat “di mana saja” dan tak perlu ada mesjid. Begitulah. Wallahu a’lam bisshawab. (Zulkarnain Jalil).

Thursday, September 17, 2009

Karena Babi Jang Memeluk Islam


Satu ketika di hari Jumat, jarum jam menunjukkan pukul 10 pagi jelang masuknya waktu shalat, seorang pemuda Cina tampak mendekati mesjid agung Beijing, China. Jang nama pemuda itu, berdiri sejenak persis di pintu gerbang masuk mesjid. Dia terlihat seperti ragu-ragu untuk melangkahkan kakinya lebih lanjut. Matanya tertumpu pada tulisan yang tergantung di gerbang, yang berbunyi “Muslims Only". Tanda peringatan itu ditulis dalam tiga bahasa, Cina, Inggris dan Arab.


Di tengah keragu-raguan itu, dia akhirnya memutuskan untuk masuk ke dalam mesjid. Batinnya seakan membawa sebuah beban berat.


"Ada yang kami bantu?" tanya imam mesjid ramah. "Saya mau menjadi seorang muslim, Pak," sahut Jang dengan nada bergetar. Sang imam tersenyum penuh simpatik. Lalu dia mengajak Jang masuk ke dalam ruangan kantor yang terletak menyatu dengan mesjid.

Lalu pengurus mesjid memberi Jang tiga buah brosur tentang Islam, agar dia sedikit paham sebelum memeluk Islam. Tapi serta merta mereka sangat terkejut ketika Jang memberitahukan bahwa dia tidak butuh brosur. Bahkan, kata Jang, dia telah mempelajari Islam dengan membaca bermacam buku.


Guna meyakinkan para pengurus mesjid, Jang mengajak mereka diskusi tentang apa saja yang telah diketahuinya. Alhasil, salah seorang pengurus menghampirinya dan melafalkan dua kalimah syahadah. Serta merta Jang pun mengikuti petunjuk sang imam.


Awalnya karena babi

Jang, yang kini telah menjadi mualaf mengganti namanya menjadi Salim. Lalu dia menceritakan kisah perjalanannya mencari Islam.


"Semuanya bermula dari masalah babi," kata dia sembari tersenyum. Sebagaimana diketahui Islam melarang para penganutnya untuk mengkonsumsi babi. Jang heran dan ingin tahu lebih detail kenapa babi dilarang dalam Islam.


"Saya lalu mempelajari hal itu dengan serius. Berbagai majalah kesehatan, demikian juga aneka rupa buku saya cari untuk mencari jawabnya," kisah Jang.


Dari hasil studi itu, diketahui bahwa babi merupakan hewan omnivora atau hewan pemakan segala jenis makanan. Tidak seperti sapi atau kambing yang hanya makan jenis tetumbuhan saja.


Beberapa peneliti juga menyebutkan bahwa makan babi dapat menyebabkan tidak kurang dari tujuh puluh macam jenis penyakit berbeda. Jang makin yakin Islam adalah agama yang benar.


"Bahkan saya juga menemukan hal yang sama di dalam pengobatan tradisonal Cina. Di sana disebutkan babi sangat tdak dianjurkan dijadikan sebagai makanan dan begitu pula mengolahnya menjadi sbahan baku produk-produk seperti kesehatan, kosmetik dan lainnya sangat dilarang," sebut Salim.


Berdasarkan data sejarah, Islam datang ke Cina melalui perantaraan pedagang muslim di era Dinasti Tang, sekitar 1300 tahun silam. Namun ada juga sejarah yang tergolong sahih menyebut bahwa Islam dibawa oleh sahabat Nabi Muhammad bernama Saad bin Abi Waqqas. Saat ini komunitas umat Islam di Cina ada sekitar 30 juta jiwa. Mereka sebagian besar berdiam di kawasan Xinjiang, Ningxia, dan Kashgar. Walahu alam bisshawab. (Zulkarnain Jalil/Islamonline).