Sunday, July 16, 2006

Blatter Khawatir Piala Dunia 2010

Presiden FIFA, Sepp Blatter mengaku sedikit khawatir dengan persiapan Piala Dunia 2010 di Afrika Selatan (Afsel). Ia bahkan meminta Sekjen PBB Kofi Annan yang kelahiran Ghana untuk membantunya. Hal tersebut mengemuka saat pertemuan di Berlin kemarin (7/7).

Seperti dilansir kantor berita Jerman DPA (4/7), pertemuan yang bertajuk “Afrika Memanggil“ itu dalam rangka membicarakan persiapan Piala Dunia 2010. Hadir dalam kesempatan itu Presiden Afsel Thabo Mbeki, Presiden FIFA Sepp Blatter, dan Sekjen PBB Kofi Annan.
Secara terbuka Blatter menyebutkan bahwa sejauh ini ia hanya mendapat “berita pujian“ berkenaan persiapan Afsel. Tetapi di Berlin, pria Swiss itu mulai bicara bahwa Piala Dunia 2010 sebagai “petualangan yang beresiko“. Beberapa informasi penting yang diperoleh Blatter, seperti telah ditetapkannya 10 stadion di 9 kota. Namun ternyata 4 kota (Kap, Port Elizabeth, Durban, Nelspruit) harus dibangun stadion baru . Sedangkan 6 lainnya yakni di Johannesburg (2 buah), Rustenburg, Bloemfontein, Pretoria, dan di Polokwane stadion yang ada musti diperbesar serta direnovasi besar-besaran. Pemerintah kabarnya telah menambah dana pembangunan sejumlah 627 juta Euro (sekitar 7 trilyun rupiah). Akan tetapi tetap saja masih belum cukup.

Berkenaan dengan masalah pendanaan, Walikota Kapstadt Helen Zille malah meminta proyek senilai 200 juta Euro (sekitar 2,3 trilyun Rupiah) di dekat kawasan Waterfront itu dihentikan saja. “Kita bangun stadion, atau membantu rakyat miskin yang butuh air bersih”, protes wanita yang baru Maret silam menduduki jabatan baru itu. Helen meminta agar beban dana yang begitu besar dapat diselesaikan bersama-sama.

Tampaknya “kompromi pembiayaan“ akan menjadi kesepakatan baru FIFA dan Afrika Selatan. Diakui sepak bola Afsel secara struktur sangat lemah, konon lagi mengelola turnamen yang berskala dunia tentu saja bukan pekerjaan mudah. Namun Blatter tetap yakin dengan “proyek mercusuar“nya tersebut. "Sebagian besar kontrak dengan televisi dan sponsor sudah tercapai, saya yakin di Afrika pemasukan akan lebih banyak ketimbang 2006“, ujarnya akhir Januari silam.

Seperti disitir Financial Times (4/7), mesin uang FIFA sudah menghitung di Afsel nanti -melalui hak siar TV dan sponsor saja- mereka bakal menangguk untung hampir 3 milyar Euro (35,4 trilyun), 1 milyar Euro lebih banyak dari Piala Dunia 2006.
Prediksi sementara, Afrika Selatan butuh suntikan dana sedikitnya 783 juta Euro (9,2 trilyun Rupiah). Dua kali biaya tambahan yang diberikan pada perhelatan di Jerman yakni senilai 370 juta Euro (sekitar 4,36 trilyun Rupiah).

Hal lainnya yang masih menjadi tanda tanya adalah lalulintas menuju ke arena. Di kota-kota yang disebutkan di atas itu sepertinya belum punya jaringan lalu lintas yang baik. Pemerintah menyatakan telah menyediakan dana 1,6 juta Euro terutama untuk memperbesar bandara, perbaikan jalan, dan jalur kereta api. Untuk memudahkan penonton, dianjurkan agar pertandingan babak penyisihan tiap grup di buat di satu kota saja. Tidak berpindah-pindah seperti di Piala Dunia Jerman 2006 sekarang. Dengan begitu para penonton dapat menghemat pengeluaran biaya transportasi dan akomodasi.

Lalu hal lainnya yang krusial, yakni tiket masuk yang disesuaikan dengan pendapatan penduduk. Dengan tingkat pengangguran antara 26 hingga 40 persen dan pendapatan rata-rata 500 Euro per bulan (sekitar 5,9 juta Rupiah), maka panitia lokal menyarankan agar harga tiket masuk 16 sampai 170 Euro (babak penyisihan) dan babak final tidak melebihi 660 Euro. Contohnya tiket di liga utama negara-negara Afrika antara 1,10 dan 8 Euro. Kemungkinan lainnya, FIFA akan kembali mengelola sendiri tiket piala dunia tersebut. Tidak seperti di Jerman yang hampir 3 juta tiket dikelola oleh agen resmi yang ditunjuk.

Sementara itu Danny Jordaan -ketua panitia Piala Dunia 2010- yang telah mengirim 80 orang pengamat ke Jerman selama Piala Dunia mengatakan bahwa Piala Dunia di Jerman memang luar biasa. “Kami tentu saja ingin seperti ini. Barangkali sedikit beda adalah dari cara Afrika merayakan.“, ujarnya sembari menambahkan mereka masih menghadapi kendala dengan tempat kumpul fans, merujuk sukses Jerman yang mendirikan ratusan arena nonton bareng di setiap kota penyelenggara.
Zulkarnain Jalil, Serambinews (08/07/06)

No comments: