Wednesday, December 06, 2006

Adakah Jejak Petualang Karl May di Aceh ?

Catatan: Zulkarnain Jalil

Tidak banyak yang tahu siapa itu Karl May. Namun bagi penggemar kisah-kisah petualangan , tentu masih ingat dengan Album Cerita Ternama yang sempat booming di kisaran tahun 70-an. Diantara kisah-kisahnya banyak karangan penulis dan petualang asal Dresden, Jerman itu. Saat ini ada sekitar 80 judul karya Karl May yang diterjemahkan dalam puluhan bahasa. Umumnya bertema persahabatan, perdamaian, dan kebebasan.

Karyanya yang sangat terkenal adalah Winnetou dan Old Shatterhand. Dulu, ketika membaca karya-karya Karl May kebanyakan hanya tahu ia penulis kisah-kisah dunia Western/Barat. Namun tidak banyak yang tahu –orang Jerman sekalipun- ternyata ada pertalian antara Karl May dan Aceh. Kok bisa ?

Beberapa waktu yang lalu saat Kontributor Kontras berkunjung ke Museum Karl May di desa kelahirannya di Radebeul, Dresden ada hal yang mengejutkan. Di museum itu, terpampang foto sebuah kartu pos keluaran Aceh ! Kartu pos tersebut bergambar suasana di Aceh dan foto pahlawan Teuku Umar. Kartu pos itu sendiri dikirim oleh Karl May saat dia melakukan perjalanan ke Dunia Timur selama 1,5 tahun lamanya dan sempat singgah di Aceh pada 4 Nopember 1899. Menilik tulisan di kartu pos itu, yakni De Groeten van Atjeh, jelas kartu itu dicetak pada masa Belanda.

Perjalanan melelahkan menuju museum ini seolah sirna kala menjumpai jejak Karl May di Aceh, walau “hanya“ melalui selembar kartu pos. Museum itu sendiri dibuka tahun 1928 dan hingga kini telah dikunjungi oleh lebih dari 6,5 juta tamu dari seluruh dunia. Tidak ada yang istimewa jika kita melihat fisik bangunan museum ini. Hanya rumah biasa saja. Kalah jauh dengan museum negeri seperti di Banda Aceh, misalnya.

Di sini kita bisa melihat benda-benda asli peninggalan Karl May saat berkunjung ke berbagai negara. Di bekas ruang kerja Karl May demikian juga perpustakaan bisa menggambarkan betapa produktifnya pengarang satu ini di masanya. Hanya sayangnya pengunjung tidak diizinkan untuk mengambil foto benda-benda penuh legenda itu. Terpaksalah main kucing-kucingan dengan si penjaga secara sembunyi-sembunyi. Apa boleh buat.

Selepas mengunjungi museum itu muncul rasa ingin tahu lebih dalam lagi, terutama kisah perjalanannya ke Aceh. Ternyata, semua ceritanya tentang Aceh tertuang di dalam novel "Und Friede auf Erden! " (Dan Damai di Bumi!). Novel berbahasa Jerman ini -telah diterjemahkan ke beberapa bahasa- berisi catatan perjalanan Karl May (selanjutnya disingkat KM) sepanjang tahun 1899-1900. Dalam catatan hariannya itu diketahui bahwa ia juga singgah di Aceh dan Padang.

Tanggal 4 Nopember 1899 May berangkat dari Penang (Malaysia) menuju Edi (Sumatra) dengan menumpang kapal Coen. Edi yang dimaksud May di sini adalah Pidie. Dua hari berselang, 6 Nopember ia melanjutkan perjalanan ke Ulee Lheue (KM menulis Uleh-leh. Dalam surat yang ditulis kepada istrinya Emma May, KM melanjutkan perjalanan ke Kota Radscha (maksudnya Kutaraja, kini Banda Aceh) dengan menggunakan kereta api dan menuju Hotel Rosenberg. Selama di Banda Aceh, ia mengirimkan 100 lembar kartu pos ke istri dan berbagai kenalannya. Nah salah satu kartu pos itu terdapat di Museum KM di Radebeul, Dresden. Selanjutnya, selepas bermalam di Kutaraja, tanggal 8 Nopember dari Ulee Lheue KM dengan kapal Coen bertolak menuju Padang.

Bila membaca kisahnya itu, seakan terbayang keadaan Aceh pada masa 1899 tersebut. Menarik juga untuk dicermati, KM menulis beberapa nama tempat yang unik, seperti Uleh-leh (maksudnya Ulee Lheue), Edi (Pidie), lalu Lo-Semaweh (Lhokseumawe) dan Segli (Sigli).

Akhirnya, muncul pertanyaan di benak kita. Adakah jejak atau situs Karl May di Aceh ? Tentu butuh waktu untuk menjawabnya. Atau jangan-jangan sudah terhempas dibawa air tsunami ? Wallahu ‘alam bisshawab.

No comments: