Friday, October 26, 2007

Sarkozy buka bersama muslim Perancis

PARIS – Presiden Perancis Nicolas Sarkozy seakan mengirimkan isyarat penting kepada minoritas Muslim di sana setelah ia secara mengejutkan menghadiri sebuah jamuan buka puasa bersama di Mesjid Agung kota Paris yang berlangsung Senin kemarin (1/10). Dilansir Islamonline (2/10), dalam forum itu ia secara terbuka menyatakan komitmennya untuk melindungi hak-hak muslim di negara yang menganut paham sekuler itu.

“Saya akan berada di samping Anda,” ujar Sarkozy di hadapan jamaah mesjid tertua di Paris yang dibangun tahun 1926 itu. "Saya tidak akan mengkhianati komitmen yang telah saya buat untuk melindungi Islam di Perancis,” imbuh Sarkozy lagi.

Sarkozy menyatakan bahwa pemerintahannya sangat serius meningkatkan hubungan integrasi dengan masyarakat muslim di negara mode dunia itu. Bahkan beberapa pejabat penting di pemerintahannya juga ikut dalam acara yang terhitung langka itu.

Selepas terpilih sebagai Presiden, Nicolas Sarkozy memang sempat bikin kejutan setelah ia secara berani menunjuk Rasyidah Dati sebagai Menteri Hukum di kabinetnya. Rasyidah Dati yang keturunan Maroko merupakan muslimah pertama yang menduduki jabatan penting di peta perpolitikan Perancis yang menganut paham sekuler.

Penunjukan Dati kala itu memupus kekhawatiran banyak pihak yang menilai Sarkozy sebagai rasis. Imigran di Perancis pasti tak pernah lupa dengan kata “sampah” yang diucapkan Sarkozy kepada para imigran tahun 2005 silam. Saat itu ia masih menjabat Menteri Dalam Negeri. Kala itu Perancis dilanda kerusuhan rasisme terburuk sepanjang sejarah negara berpenduduk 60 juta jiwa itu.

Kenapa Sarkozy berani menunjuk Dati? Karena Dati dianggap dekat dengan para imigran. Dukungan suara yang mengalir dari kalangan imigran kepada Sarkozy sewaktu pemilu yang baru lalu tidak luput dari andil Rasyidah Dati.

Kini dengan jumlah umat Islam 5 juta jiwa dari 60 juta penduduknya, Perancis tercatat sebagai negara dengan populasi muslim terbesar di Eropa. Kedatangan muslim pertama ke Perancis adalah ketika Perang Dunia I, kala Perancis butuh banyak buruh untuk membantu proses rekonstruksi pascaperang. Banyak pekerja yang datang berasal dari kawasan Afrika Utara (Aljazair, Marokko, Tunisia) yang merupakan bekas jajahan Perancis. Migrasi berikutnya terjadi di tahun 1960-an , selanjutnya tahun 1970-an.

Ada catatan menarik di awal 2006 silam. Kala itu permintaan akan Al-Quran meningkat tajam. Demikian pula dengan buku-buku tentang Islam. Masyarakat Perancis ingin tahu apa itu Islam. Minat yang tinggi ini mencuat selepas adanya kasus karikatur Nabi Muhammad yang menghebohkan dunia Islam.

Generasi muslim Perancis saat ini merupakan generasi ketiga. Konfrontasi Perancis dengan Islam bermula saat diberlakukannya UU larangan jilbab tahun 2004 silam. Sejak itu hubungan Pemerintah dengan warga muslim sedikit terganggu. Tentunya melalui buka bersama Senin kemarin itu diharapkan gangguan hubungan dapat sedikit mencair. (zulkarnain jalil)

No comments: