Saturday, December 29, 2007

Bunga Rampai Idul Adha 1428 H di Eropa:

Jamaah Membludak, Shalat Id Dilaksanakan Hingga Tiga Kali

PENGANTAR. Masyarakat muslim di Eropa secara umum merayakan Idul Adha 1428 H pada Rabu, 19 Desember 2007. Berbagai nuansa dirasakan warga Aceh di sana. “Di tengah alunan gema takbir tak terasa air mata saya berlinang membasahi pipi, teringat akan istri dan anak-anak, kerabat dan handai taulan yang jauh di Aceh,” tutur Nasrullah Zaini yang tinggal di Inggris melalui e-mail (surat elektronik) pekan lalu. Nasrullah adalah satu dari sekian banyak warga Aceh lainnya di Eropa yang “terpaksa” memendam rindu akan kampung halaman di hari raya kurban. Disamping kisah rindu, ada banyak cerita seru lainnya, semisal di Austria yang shalatnya terpaksa dilakukan dalam tiga gelombang saking banyaknya jamaah yang hadir. Padahal suhu udara bulan Desember sedang dingin-dinginnya. Seperti diakui Hafild Arsy, putra Aceh di Rusia, suhu di sana mendekati -15°C. Berikut torehan serba serbi Idul Adha yang dikirimkan via e-mail oleh warga Aceh di Eropa dan dirangkum oleh Kontributor Kontras, Zulkarnain Jalil.

Inggris: Warga Aceh sumbang hewan qurban

“Kami warga muslim di Southampton dan kota-kota lainnya di Inggris merayakan Idul Adha 1428 H pada hari Rabu 19 Desember 2007. Pelaksanaan Idul Adha itu berdasarkan keputusan dari Islamic Cultural Centre yang berpusat di London. Tentu saja merujuk kepada keputusan penetapan hari raya Idul Adha oleh Kerajaan Arab Saudi,” kata Nasrullah Zaini.

Disebutkan, di Southampton khususnya Islamic Society (ISOC) University of Southampton melaksanakan shalat Eid di Stoneham Building yang diselenggarakan sebanyak dua kali pukul 8.30 dan 9.30 pagi. Hal ini dikarenakan banyaknya jamaah yang datang sekalipun suasana di luar sangat dingin mencapai -5 derajat Celcius.

“Di tengah alunan suara takbir tanpa terasa air mata saya berlinang membasahi pipi teringat akan keluarga, sahabat, kerabat dan handai taulan yang jauh di Aceh sana yang entah kapan Allah SWT mempertemukan kembali,” ujar Nasrullah yang juga dosen Fakulta MIPA Unsyiah. Selesai pelaksanaan shalat Eid pihak panitia menyediakan hidangan makanan ringan sehingga jamaah larut dalam nuansa gembira penuh persahabatan.

”Alhamdulillah warga Aceh yang terhimpun dalam "Rangkang Nanggroe" baik yang ada di Inggris maupun yang sudah kembali ke Aceh, pada Idul Adha kali ini dapat melaksanakan qurban dengan menyembelih dua ekor lembu yang diserahkan kepada panitia qurban Mesjid Al-Abrar Ganoe, Lam Dingin, di Banda Aceh,” cerita pria asal Aceh Selatan itu lagi. Disebutkan, kegiatan qurban itu dikoordinir oleh Cut Yufrita Skyner (Edinburgh) dan koordinator penyaluran hewan qurban di Banda Aceh adalah Isra Ahmadsyah, M.Sc (alumni University of Birmingham).

”Ada juga sebagian warga yang menyalurkan qurbannya melalui KIBAR (Keluarga Islam Britania Raya) dan disalurkan kepada Rumah Zakat Indonesia,” ujarnya mengakhiri kabar dari Inggris.

Rusia: Suhu -15°C

“Hari raya Idul Adha di tempat kami jatuh pada hari Kamis 20 Desember. Di Ufa, kota tempat saya bermukim, mayoritas penduduknya adalah muslim. Jadi tiap lebaran pasti ada libur selama satu hari. Suasana lebaran haji di sini biasa-biasa saja. Tanggapan warga setempat bagus, tak ada masalah. Mereka sudah tahu kalau libur kemarin itu adalah liburnya umat Islam. Hanya saja, ada sebagian warga asli Ufa yang tidak tahu lagi tentang hari-hari besar Islam, kendati mereka itu muslim. Barangkali inilah salah satu efek dari padamnya aktifitas dakwah, terutama pada era komunis Sovyet dulu,” urai Hafidl Arsy, putra Lhokseumawe yang hampir dua tahun menimba ilmu di Rusia.

Begitupun, tahun-tahun terakhir ini pertumbuhan Islam di Rusia sangat pesat. Hal itu diiringi dengan makin tingginya animo dalam beribadah. Sebutlah ibadah Haji misalnya yang terus meningkat dari tahun ke tahun. Pemerintah Rusia pun turut memfasilitasinya dengan membentuk kantor khusus yang menangani jamaah haji, seperti urusan visa dan transportasi haji. Bahkan maskapai penerbangan milik negara, Aeroflot, memberikan potongan harga spesial bagi jamaah yang akan ke Mekkah. Kini di Rusia berdiam lebih dari 23 juta jiwa warga muslim atau 15 persen dari 145 juta total populasi.

Perancis: Ingin timphan, sulit cari daun pisang
Di Perancis, Idul Adha sangat ramai. Umumnya muslim disana berasal dari kawasan Arab. ”Bagi orang Arab, lebaran haji adalah lebaran terbesar. Jika dibandingkan dengan Idul Fitri maka Idul Adha yang paling meriah. Orang-orang Alzajair, Maroko, Tunisia dan Afrika lainnya terlihat sangat menikmati lebaran. Apalagi kala memotong domba, sangat semarak. Menariknya, hewan-hewan kurban itu disamping dibagikan kepada tetangga-tetangganya yang Islam juga dikirimkan pada orang-orang Islam di kampung halaman mereka. Pokoknya ramai lah. Lain dengan perayaan Idul Adha di Tanah Air,” ungkap Alijullah Hasan, pria Aceh yang telah 40 tahun bermukim di Paris.

Ditambahkannya, masyarakat Indonesia melaksanakan shalat Idul Adha di kantor KBRI Paris. Bahkan warga muslim asal Malaysia, Brunei, dan masyarakan Islam Perancis lainnya pun turut hadir. Setelah shalat, aneka macam hidangan ala nusantara memenuhi meja. Dari pisang goreng, kue lapis, risol dan kombinasi kue Indonesia dan Perancis.

Ditambah dengan lontong sayur dan gulai kambing yang sangat sedap. Ini semua mengingatkan kami kala lebaran di kampung halaman tercinta. Tapi sayang timphan tidak ada, habis cari daun pisang sulit,” kelakar Ali yang juga staf senior di KBRI Paris.

Italia: Nonmuslim ikut bergembira

“Saya mengucapkan selamat Idul Adha kepada seluruh ureung-ureung Aceh dan sekalian kaum muslimin. Alhamdulillah kami semua muslim di kota Bolzano, Italia bisa merayakan Idul Adha dengan aman, nyaman, dan suka cita. Meskipun tidak meriah, akan tetapi suasananya sangat menyenangkan. Lokasi shalat hari raya adalah di sebuah gedung kesenian yang disewa oleh panitia pembangunan mesjid. Ada sekitar 1000 muslim baik laki-laki maupun perempuan serta anak-anak turut merayakannya. Tampak juga muallaf dari Italia dan Rumania yang beberapa tahun lalu masuk Islam. Umat Islam di Bolzano terdiri atas berbagai etnis, seperti Pakistan, Bangladesh, Chechnya, Albania, Rumania, Bosnia, Maroko, Tunisia, Aljazair, Lybia, dan Indonesia tentunya,” ungkap Irvanizam Zamanhuri panjang lebar.

Pemuda lajang asal Pidie itu menceritakan pada malam hari raya ke dua mereka juga merayakan khanduri bersama mahasiswa-mahasiswa Islam mancanegara. Bahkan teman-temannya yang nonmuslim juga ikut serta.

“Dengan suguhan nasi biryani ala Pakistan dan makanan khas Italia lainnya, suasana khanduri tambah meriah. Banyak dari teman-teman mahasiswa yang nonmuslim menanyakan tentang Idul Adha dan juga ibadah haji. Kami berdiskusi hingga larut malam. Tak lupa di akhir acara, saya dan salah seorang teman dari Maroko mendendangkan beberapa nasyid. Bahkan teman-teman dari India turut berpartisipasi menyumbangkan lagu-lagu Bollywood sehingga suasana malam lebaran terasa sangat meriah dan berkesan,” ujar pria yang sedang belajar IT di Free University Bolzano itu lagi.

Austria: Shalat dilakukan hingga tiga gelombang

Di Austria, Idul Adha juga jatuh pada hari Rabu 19 Desember. Di Wina -ibukota Austria- suasananya terhitung meriah kendati udara cukup menusuk. Sejak pagi jamaah telah memenuhi Masjid Agung kota Wina.

“Kendati temperaturnya -4°C , namun tidak menyurutkan langkah umat Islam di negeri kelahiran komponis besar Mozart ini untuk melaksanakan dan memeriahkan lebaran haji. Bahkan saking ramainya jamaah, shalat terpaksa dilaksanakan dalam tiga gelombang,” tutur Syafruddin Ghandy, mahasiswa program doktor di Vienna University.

Dikatakannya, sebagian besar umat Islam di Austria yang berasal dari berbagai etnis seperti Turki, Bosnia, Tunisia, Maroko dan negara-negara di Asia melaksanakan shalat Idul Adha di Mesjid Agung Wina yang sekaligus berfungsi sebagai Islamic Center dan kabarnya yang terbesar di Austria.

Masih menurut Syafruddin, pelaksanaan kurban di Austria dilaksanakan di tempat pemotongan hewan. Daging kurban tersebut lalu dibagikan, terutama, kepada mahasiswa-mahasiswa muslim yang sedang menuntut ilmu dari berbagai strata dan negara. Pada Idul Adha tahun ini mereka juga menyumbangkan hewan kurban kepada muslim kurang mampu di negara-negara miskin lainnya. Demikian juga negara-negara yang dilanda bencana alam. Catatan Islamonline, daging kurban itu dikirim hingga ke Mozambik, Afrika.

Sementara itu warga muslim Indonesia melaksanakan kegiatan lebaran di Ruang Serba Guna KBRI di Wina. “Kumandang takbir semakin mengingatkan saya ke Aceh. Jadi ingat pada mesjid dengan alur sungai kecil di desa kelahiran saya Ujung Padang, Sawang, Aceh Selatan. Gema takbir tersebut juga mengingatkan saya pada Blang Padang dan halaman Mesjid Raya Baiturrahman. Dua kali sudah saya melaksanakan Idul Adha di Austria. Jadi sangat wajar jika kerinduan pada Aceh dan keluarga serta sanak saudara sangat menggunung,” aku pria yang juga dosen Fakultas Pertanian Unsyiah itu lagi. Disebutkan, setelah pelaksanaan shalat Idul Adha diikuti dengan acara halal bil halal sambil menikmati makanan khas dari tanah air.

“Ada tape hitam khas Aceh, rendang Padang sampai lontong sayur dan penganan kue-kue khas hari raya lainnya. Makanan tersebut di sediakan oleh ibu-ibu secara swadaya. Meskipun dalam rentang jarak yang jauh dari tanah air, tetapi nuansa Idul Adha di Austria sangat meriah dan kental terasa,” sambungnya sembari menitip salam untuk warga di Aceh.

Spanyol: Mesjid baru di Sevilla

Bagi Muslim di Sevilla akhir tahun 2007 ini terasa sangat berkesan. Pasalnya mereka baru saja memiliki mesjid sendiri secara permanen. Sebelumnya, muslim di sana musti berpindah-pindah tempat shalat. Itupun dengan status sewa. Adalah pesepakbola di klub FC. Sevilla, Frederic Kanoute, yang telah menyumbang senilai 510 ribu Euro (sekitar 6,7 milyar) untuk membeli satu-satunya mesjid yang ada di Spanyol Selatan itu.

Dilaporkan Agence France-Presse (AFP) dan dikutip Islamonline, pemain nasional Mali berusia 30 tahun itu diperkirakan menabung sebagian gajinya selama hampir setahun untuk membeli mesjid. Kondisi itu tentu sangat kontras, mengingat Sevilla merupakan bekas daerah kekuasan Islam selama hampir 7 abad lamanya. Begitupun, kini Islam mulai mendapat perhatian dari pemerintah Spanyol. Penuturan Dr Syafii Syam, seorang warga Aceh yang bekerja di Universitas Valladolid, warga Spanyol sangat menghormati umat Islam di negeri matador itu. Mereka tidak merasa terusik dengan ibadah seumpama shalat atau puasa Ramadhan.

Jerman: Daging kurban dikirim ke seluruh dunia

“Tak ada tradisi meugang kali ini. Suasananya sangat dingin, tidak seperti tahun lalu. Namun kami ada juga berkurban, bergabung dengan muslim Turki yang komunitasnya cukup besar disini. Telah berlaku umum, di Jerman daging kurban dikirim ke negara-negara lain di seluruh dunia dimana banyak saudara-saudara kita lebih membutuhkannya,” tutur H. Ali Jahja, warga Aceh yang telah 42 tahun bermukim di Hamburg. Ia mengaku rindu dengan suasana lebaran di Meureudu, Pidie Jaya tempat ia dilahirkan.

Suhu yang menusuk pada lebaran tahun ini memang membuat sebagian warga lebih betah berada di rumah. “Saya tidak kemana-mana pas lebaran Idul Adha. Bahkan saya bolos ke kampus. Karena suhunya dingin banget, -7 derajat celcius. Kemana-mana jadi malas,” ujar Cut Erika, mahasiswi program master di Universitas Goettingen.

Belanda: Selepas shalat kembali masuk kantor

“Lebaran jatuh hari Rabu, 19 Desember 2007 ikut Arab Saudi. Jadi kita lebih cepat sehari dibanding di Aceh. Suasananya saya rasakan sangat berbeda. Di sana, selepas shalat salam-salaman sebentar, lalu kembali ke tempat kerja atau ke kampus. Karena lebaran pas hari kerja, jadi tidak libur. Kebanyakan jamaah muslim minta izin dari kantor mereka hanya untuk shalat Ied,” ujar Mursalin yang tinggal di kota Maastricht.

“Memang sampai saat ini belum ada izin atau cuti khusus buat masyarakat muslim Belanda yang akan melaksanakan ibadah shalat, baik Jum’at maupun Ied. Sehingga harus curi-curi waktu untuk hal tersebut. Seperti sebagian dari kami, para mahasiwa, harus kembali ke kampus karena masih ada pelajaran yang harus diikuti.”

“Saya hanya duduk termenung menatap layar laptop sambil menuliskan kerinduan akan kampung halaman di saat hari indah seperti ini. Internet lumayan membantu menghapus rindu,” imbuhnya.

“Saya kepingin sekali makan timphan asoe kaya. Karena buat saya, tanpa timphan maka nggak jadi hari rayanya. Lebaran tahun ini adalah lebaran pertama dimana saya tidak bisa mencium tangan kedua orang tua saya,” ungkap pemuda asal Seulimuem, Aceh Besar itu penuh rindu.

Timphan seakan telah jadi ikon di hari raya nan suci. Makanan khas itu seakan tak tergantikan oleh jenis makanan lain. Bagi yang di Aceh, timphan sudah biasa dan tak begitu berkesan. Tapi, ternyata, di luar negeri makanan yang satu ini cukup dirindukan. Begitulah.

No comments: