Sunday, June 22, 2008

Eropa buka pintu bagi pekerja imigran

Hari ini tidak ada pertandingan. Jadi saya ajak Anda menyimak satu isu hangat yang merebak belakangan ini di Eropa. Hitung-hitung untuk menghilangkan stress pasca babak perempatfinal yang menegangkan. Terutama pendukung Belanda, jangan terlalu bersedih tim Anda gagal melaju. Itulah sepakbola, kata Franz Beckenbauer.

Baik, isu apa itu? Badan pengurus harian Uni Eropa beberapa waktu lalu mengajukan satu usulan menarik yang intinya meminta negara-negara di Eropa agar membuka pintunya bagi kaum imigran berpendidikan tinggi.

Usulan yang diajukan akhir 2007 lalu itu beranjak dari kekhawatiran dengan semakin berkurangnya pekerja lokal berkemampuan tinggi, terutama bidang IT. Seperti disitir Radio Netherland, solusi bakal dilakukan melalui sistem Blue Card atau kartu biru yang memberikan hak tambahan bagi imigran dengan keahlian tertentu. Mirip Green Card di Amerika Serikat.

Menurut amatan Dr.-Ing. Syafii Syam, putra Aceh yang saat ini bekerja di Ghent University, Belgia, warga asli Eropa yang tertarik untuk belajar di sektor high engineering education terutama yang berbasis komputer (ICT-based) memang makin sedikit saja. Mereka seperti ”menghindar” masuk program studi ilmu-ilmu advance tersebut.

”Kebanyakan diisi oleh imigran. Orang Eropa bisa dihitung dengan jari. Saya kira beberapa tahun mendatang mereka bakal kekurangan tenaga ahli. Mau ndak mau ya musti buka pintu bagi imigran,” tugas pria yang datang ke Eropa 2002 silam dan sedang mengerjakan proyek Anesthesia Automatic Control.

”Peluang sekarang sangat terbuka dan ada dimana saja. Saat ini penyadaran ke anak muda (baca; pelajar dan mahasiswa) masih kecil. Umumnya kesempatan yang diperebutkan adalah kesempatan yang datang didepan mata. Padahal banyak sekali peluang ”tersembunyi”. Bila mau sedikit berpayah-payah akan dapat,” kata pria kelahiran Sanggeu, Kab. Pidie itu lagi. Syafii meminta pemuda-pemudi di Aceh agar sejak dini memupuk semangat untuk bersaing dalam hal keilmuan.

2050 Eropa kekurangan pekerja

Diprediksi tahun 2050 sepertiga rakyat Uni Eropa kebanyakan berusia di atas 65 tahun dan memasuki masa pensiun. Sementara pertumbuhan penduduk nyaris stagnan. Saat itu dibutuhkan jutaan orang untuk mengisi kekosongan itu.

Usulan itu juga menegaskan agar peraturan kerja bagi imigran di negara-negara Uni Eropa harus dipermudah. Komisi itu menghendaki agar setiap orang yang memiliki blue card mendapat ijin kerja sekaligus ijin menetap, kesetaraan gaji dan hak sosial ekonomi lainnya. Disamping itu pemilik kartu biru mendapat kemudahan untuk pindah ke negara anggota Uni Eropa lainnya, jika mendapat pekerjaan di sana. Saat ini mustahil bagi imigran untuk pindah atau mencari pekerjaan lain di Uni Eropa karena setiap negara memiliki peraturannya masing-masing.

Menteri muda Kehakiman Belanda, Albayrak sependapat dengan ide itu. ”Jumlah lansia di Belanda terus meningkat. Menarik orang-orang yang berpendidikan tinggi dari luar Uni Eropa akan bermanfaat, ” kata Albayrak yang keturunan Turki. Di Belanda. 24% imigran di sana konon berpendidikan tinggi. Frattini, komisaris Eropa urusan migrasi secara tegas menyebut kaum imigran harus dipandang sebagai sebuah fenomena dunia masa kini. ”Jangan lihat itu sebagai ancaman saja," tukas Frattini.

Namun, rencana tersebut mendapat kritikan serikat buruh setempat. Menurut mereka jumlah migran di Eropa sudah cukup banyak dan mereka harus lebih dimanfaatkan lagi. Tak perlu mendatangkan dari luar lagi.

Patut ditunggu, apakah Eropa benar-benar serius dengan proposal itu. Jika terlaksana, maka imigran terampil, terutama dari negara berkembang bisa bersiap. Tertarik menikmati hidup dan bekerja di Eropa? Sudah bisa siap-siap dari sekarang.

No comments: