Jerman menang, fans Turki ikut senang
Sungguh malam yang luar biasa. Patut dicatat, mungkin tak ada dalam sejarah sepakbola, dimana fans tim yang kalah ikut merayakan kemenangan bersama dengan fans yang menang. Itulah yang terjadi malam kemarin pasca pertandingan semifinal Jerman-Turki. Setelah wasit meniup peluit panjang tanda pertandingan berakhir terlihat fans Jerman mendekati fans Turki, merangkul mereka seraya menghibur. Sebuah kemenangan bagi persabahatan.
Malah Lukas Podolski secara simpatik mendatangi kamar ganti Turki. "Mereka memberi ucapan selamat padaku. Walau kalah, mereka sangat sportif. Kami senang melaju ke final. Tapi penampilan kami tidak mengesankan. Turki memang hebat", aku Podolski kepada pers seusai pertandingan.
Di Fan Zone Wina, fans Turki mendominasi arena nobar dekat gedung Rathaus (balai kota -red). Lautan warna merah menyala terhampar disana. Di belakangnya terlihat fans Jerman dengan warna putih dominan. Total ada sekitar 28.000 penonton yang menyesaki kawasan tersebut.
Fans Turki juga menempati "pole position“di Fan Zone Burgtheater. Fans Jerman boleh dibilang minoritas, berada di tengah-tengah massa Turki yang menyemut. Atmosfirnya benar-benar panas. “Melebihi suasana di stadion malahan“, sebut Syafruddin Ghandy, seorang warga Aceh yang tinggal di Wina.
“Wah, kalau Turki yang maen, penampilan mereka ndak ada lawan pokoknya. Seluruh fans membalut diri dengan kaos merah serta mengikat kepala dengan bendera Turki. Ini bisa dimaklumi karena beberapa pusat perdagangan di Wina dikuasai warga Turki”, lanjut mahasiswa program doktor di Universitas Wina itu lagi.
Satu jam setelah pertandingan berakhir, di area seluas tujuh hektar itu masih terlihat fans Turki dalam kelompok-kelompok kecil. Mereka menyanyi dan mengelu-elukan pemain timnasnya.
Halnya di Jerman, selepas kemenangan itu, pendukung Jerman keluar dari rumah, berpawai. Diperkirakan ratusan ribu fans der Panzer memenuhi arena nobar baik di kedai-kedai, pub, stadion hingga lapangan terbuka. Menariknya, fans Turki juga ikut serta. Mereka mengibar-ngibarkan bendera negaranya.
Di Berlin, seperti dicatat Bild-Online, 500.000 pendukung Jerman memadati jalan raya sepanjang 1,2 kilometer di dekat Brandenbuger Tor yang disulap jadi arena nobar. Sejam sebelum pertandingan dimulai, semua akses menuju jalan tersebut ditutup untuk kenderaan umum. 1700 polisi bersiaga di sekitar arena. Namun hingga acara berakhir tak terjadi tindakan yang menjurus anarkis.
Sementara di Hamburg, sedikitnya 42.000 suporter memadati kawasan Heiligengeistfeld. Di Muenchen, 30.000 penonton menyesaki stadion Olimpiade yang disulap jadi arena nobar. Sedangkan di Stuttgart 40.000 maniak bola nobar di lapangan Schlossplatz. Stadion milik klub Borussia Dortmud yang berkapasitas 12.000 penonton juga disulap jadi arena nonton bareng. Karena tidak muat, 15.000 warga Dortmund lainnya menonton di lapangan Friedenplatz. Yang menarik, di kota Nuernberg, dari 25.000 penonton yang memadati lapangan nobar, setengahnya adalah warga Turki.
Begitulah, Jerman yang menang, tapi fans Turki ikut senang. Begitupun, sebagian media di Jerman tak mau gegabah dalam memberi komentar. "Jujur saja, kita menang karena lebih beruntung. Bukan karena permainan yang memikat. Ingat, Turki bermain dengan "tim kedua“. Jadi semata-mata karena keberuntungan“, tulis Morgenpost yang terbit di Berlin. Media lainnya kurang lebih sama.
Di Basel, tempat pertandingan tersebut berlangsung, tak kalah hebohnya. Arena Fan Zone sudah terisi penuh sejak satu jam sebelum pertandingan. Fans Turki dan Jerman menyatu di sana. Di sela-sela tampak beberapa pendukung Spanyol, Rusia, bahkan fans Swiss juga ikut nongol. Ya itulah pertandingan terakhir di Basel. Perlahan Basel mulai ditinggalkan maniak bola yang selama tiga pekan memadati kota seni itu. Beberapa pedagang mulai menurunkan harga jual beberapa jenis souvenir, hingga setengah harga. Bahkan di arena nobar dekat Kasernen ada yang berani memberi diskon hingga 70 persen. Kontan tempat itu diserbu banyak fans. Obral, obral...!
No comments:
Post a Comment