Thursday, October 30, 2008

Kita dilahirkan bukan untuk menjadi pembantu

Kalimat diatas ditulis Hasan Tiro dalam bukunya yang fenomenal "The Price of Freedom: The Unfinished Diary", yang dipublikasikan pertamakali tahun 1984. Kalimat itu secara khusus dikutip oleh Richard C. Paddock, seorang kolumnis harian Los Angeles Times edisi 30 June 2003. Paddock, dalam tulisannya, kagum dengan kemandirian pria yang dipanggil wali itu ketika berada di hutan belantara dengan akomodasi dan logistik yang terbatas. Padahal semua kemewahan hidup sudah dia dapatkan di New York.

“Kita harus hidup bebas merdeka atau tak perlu hidup sama sekali alias mati saja,” lanjut Hasan Tiro yang menjadi warganegara Swedia sejak 1985 itu. Buku tersebut berisi kisah hariannya ketika berada di Aceh dari 4 September 1976 hingga 29 Maret 1979.

Meninggalkan kehidupan glamour

Isi buku itu penuh dengan semangat hidup yang tak pernah pudar dari seorang Hasan tiro. Secara duniawi, dia sebenarnya sudah punya segala-galanya. “Saya punya istri cantik dan seorang bocah kecil yang sangat tampan,” tulis Hasan Tiro pada kata pengantar bukunya.

”Saya juga sedang memasuki tahap tersukses dalam bisnis. Saya punya kontak bisnis dengan para pengusaha dunia dan telah masuk dalam lingkaran pemerintahan dunia seperti di AS, Eropa, Timur Tengah, Afrika dan Asia Tenggara, kecuali Indonesia,” tandasnya. Kala itu Hasan Tiro sudah punya relasi bisnis dengan 50 pengusaha top Amerika yang bergerak di berbagai sektor seperti petrokimia, perkapalan, konstruksi, penerbangan, manufaktur dan industri pengolahan makanan.

Namun demi untuk "membebaskan Aceh dari penjajahan" dia rela meninggalkan keluarganya dan segala kemewahan hidup yang sedang dicicipinya. Hasan Tiro sendiri mengakui, hal yang sangat berat dalam hidupnya adalah ketika harus meninggalkan keluarga yang sangat dicintainya. Dia meninggalkan bocah laki-lakinya semata wayang, Karim, yang saat itu baru berusia enam tahun. Dia juga terpaksa membiarkan istrinya, Dora, kesepian di tengah keramaian New York.

“Bukan pekerjaan mudah meninggalkan kehidupan yang penuh glamour di Riverdale, New York lalu tinggal di hutan gelap di pedalaman Aceh untuk memimpin gerilya,” tulisnya. Namun ia memutuskan untuk melakukan apa yang dipercayainya sebagai tujuan dalam hidup ini yakni memimpin rakyat dan bangsanya menuju kemerdekaan.

“Itulah misi hidup saya. Saya akan merasa gagal jika tidak mampu mewujudkan hal ini. Harta dan kekuasaan bukanlah tujuan hidup saya. Bukan pula tujuan dari perjuangan ini. Saya sudah punya kedua-duanya. Saya hanya ingin rakyat Aceh makmur sejahtera dan bisa mengatur diri sendiri. Itu saja,” tulisnya pada bagian pengantar diari berbahasa Inggris itu.

Satu teladan lain yang pantas ditiru adalah, dia tak pernah menggunakan jabatan, demikian juga mitra bisnisnya untuk membantu terwujudnya cita-cita kemerdekaan itu. “Saya tak pernah mencampur aduk antara bisnis dan politik. Saya juga tak pernah meminta simpati, nasihat, ataupun dukungan mereka,” aku Hasan Tiro. Karenanya relasi bisnisnya itu tak ada yang tahu ternyata dia punya ambisi politik yang sangat hebat. Memerdekakan Aceh!.
Hidup atau mati syahid
Satu ketika, dikala pesawat sedang menderu di udara kala menuju ke Aceh, kala melongok ke bawah dia teringat akan mati. Ia takut mati? “Bukan, saya bukan takut kehilangan nyawa. Tapi takut jika nanti mati sementara saya belum melakukan sesuatu bagi tanah leluhur dan rakyat saya,” aku Hasan Tiro. Bukan main!
“Negeri kita adalah negerinya para syahid. Tak ada istilah takut mati atau menyerah. Kita akan terus berjuang untuk kemerdekaan Aceh hingga akhir. Dan, kita berdiri dengan penuh keyakinan karena Allah bersama kita. Hidup atau mati syahid!”
Senjata bukan segalanya
Di awal-awal meretas perjuangan, banyak pengikutnya yang menanyakan tentang senjata. “Kebanyakan dari mereka memikirkan senjata. Mana senjatanya, tanya mereka.Tanpa senjata kita sebaiknya jangan bicara tentang merdeka sama sekali! Begitu kata mereka. Dengan sabar saya jelaskan kepada mereka. Saya tahu, senjata sangat penting dan kita tidak bisa bergerak tanpa itu. Kita akan bahu membahu untuk mendapatkannya segera,” tulis Hasan Tiro.

“Tapi, ada yang lebih penting dari senjata, dan harus kita selesaikan dulu sebelum urusan senjata. Yakni persoalan status Aceh dalam hukum internasional, masalah identitas nasional, sejarah Aceh dan beberapa hal lainnya. Perkara-perkara ini bukanlah aktifitas militer tapi politik, budaya dan pendidikan. Ini semua lebih penting dipersiapkan daripada senjata. Jadi senjata bukanlah hal yang utama namun juga bukan hal terakhir. Saya sudah katakan ini berpuluh-puluh kali!,” tukas pria kelahiran desa Tanjong Bungong itu lagi.

Hasan Tiro menyebut dia menulis buku itu untuk mempersiapkan kematiannya yang bisa datang tiba-tiba. “Saya menulis buku ini dalam rangka mempersiapkan kematian syahid saya. Orang-orang tua kita terdahulu telah berkorban segala-galanya untuk mempertahankan marwah bangsa. Sekarang giliran kita untuk melakukannya. Jangan mundur sedikitpun,” tulisnya membangkitkan semangat.

Ya jangan mundur sejengkalpun. Kini saatnya membangun bagi kemakmuran rakyat Aceh di tengah nuansa damai yang makin terasa. Mari kita merdekakan Aceh dari kemiskinan dan kebodohan. Kita pasti bisa! (Zulkarnain Jalil)

000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000
Karim putra kesayangan
Kecintaan Hasan Tiro pada Karim, anak semata wayang buah kasih dengan Dora sangatlah kentara. Dia menulis secara khusus tentang Karim di dalam bukunya. Diceritakannya, Karim sering diajak bareng ke masjid. Misalnya untuk shalat Jumat. Hasan Tiro bermaksud untuk membuat anaknya itu mengerti perintah agama.

Karim, tulis Hasan Tiro, sangat dikagumi banyak orang. Misalnya kala di bawa ke gedung PBB tempatnya bekerja atau ke KBRI, banyak orang yang mendekati bocah itu, mengusap pipinya yang lucu atau mengelus-ngelus kepalanya. Hasan Tiro mengaku, jika bersama Karim, dia merasa dirinya seperti mendampingi orang penting. Bukan main.

No comments: