Wednesday, November 19, 2008

Saatnya menuntut ilmu ke negeri Taiwan

PENGANTAR: Arus mahasiswa asing yang belajar ke Taiwan begitu meningkat akhir-akhir ini. Taiwan, yang notabene masih serumpun dengan China, kini makin gencar memperlihatkan eksistensinya di bidang pendidikan tinggi. Karena itu banyak beasiswa ditawarkan untuk pelajar asing. Tentunya satu peluang baru putra-putri Indonesia, khususnya Aceh, untuk menimba ilmu di sana. Satu kabar gembira, baru-baru ini tim dari Unsyiah menandatangani sebuah MoU penting dengan institusi pendidikan tinggi di sana. Peluang bagi warga Aceh untuk studi lanjut tentu makin terbuka. Dr Mustanir Yahya, salah satu anggota delegasi, yang dikontak Kontributor Kontras Zulkarnain Jalil melalui jalur online, menuturkan kisah perjalanannya itu.

ööööööööööööööööööööööööööööööööööööööööööööööööööööööööööööööööööööööööööööö

Pepatah lama yang berbunyi “tuntutlah ilmu hingga ke negeri Cina” tampaknya perlu diperbaharui menjadi “…hingga ke negeri Taiwan”. Setidaknya itulah yang tergambar dari kunjungan selama tiga hari delegasi Universitas Syiah Kuala ke Taiwan. Delegasi itu yakni, Prof. Dr Samsul Rizal (PR I), Prof. Dr. Darusman (PR IV) dan Dr Mustanir Yahya (Dekan FMIPA).

“Salah satu MoU yang berhasil ditandatangani adalah antara FMIPA Unsyiah dengan Computer Science National Tsin Hua University (NTU), salah satu universitas bergengsi di Taiwan. MoU ini sebenarnya merupakan upaya memformalkan kegiatan-kegiatan bersama NTU yang telah berlangsung selama 3 tahun ini. Ke depan, dengan adanya MoU, bidang kegiatan makin diperluas. Jadi akan ada pertukaran mahasiswa dan dosen untuk melakukan penelitian bersama. Mereka sangat serius dengan MoU ini. Tergambar dari harapan mereka adanya mahasiswa dan dosen untuk mengambil S2/S3 ke sana. Bahkan tim mereka sendiri sudah sempat mengunjungi kita beberapa bulan silam,“ tutur Mustanir panjang lebar.

Delegasi Unsyiah juga diundang oleh perguruan tinggi lainnya yakni National Chiao Tung University (NCTU). Mereka tampaknya juga tertarik untuk menjalin kerjasama. “Saat kami bertemu dengan pihak Rektorat mereka juga sangat ingin bekerjasama dengan kita. PR IV telah membicarakan detail bentuk-bentuk kerjasama itu. Bila konsep ini telah disetujui, maka segera akan dilakukan MoU sebagai payung untuk memudahkan kerjasama,“ imbuh Mustanir.

Mustanir sendiri akhir 2007 silam juga telah berkunjung ke Taiwan. Kala itu dia ditemani Prof. Dr Yuwaldi Away (kini Kadis Hubkomintel NAD). Dari dua kali kunjungan itu, dia mencatat setidaknya ada tiga hal penting yang patut dicermati.

“Pertama, Taiwan sedang "menunjukkan" eksistensi diri karena secara politis mereka ingin lebih unggul dari Cina daratan, sehingga ada peluang kita untuk masuk. Dan kualitas pendidikan mereka cukup bagus. Akademisi mereka bahkan ada yang sudah meraih hadiah Nobel,“ kata Mustanir.

“ Kedua, kolaborasi antara universitas di Taiwan dengan industri/pemerintahan sangat erat. Misalnya, Pemda Tsin Chu telah membangun Science Park (semacam silicon valley-nya Taiwan). Lokasinya pun harus antara NTHU dan NCTU. Oya saat kami berkunjung ke NCTU ada hadiah dari mereka berupa flashdisk yang merupakan karya alumni mereka di bidang IT,” ungkap Dekan FMIPA itu lagi.

“Hal ketiga, ini sangat penting ditiru, yakni penghargaan universitas untuk para pendahulunya luar biasa. Saat kami berkunjung ke NCTU, kami sempat berkunjung ke perpustakaan yang memiliki 8 lantai. Nah di dinding gedung ini kami lihat banyak dipajang foto-foto alumni-alumni mereka yang telah berhasil. Berdampingan dengan foto pimpinan terdahulu NCTU. Termasuk data-data alumni yang telah berhasil juga dipajang. Tentu ini memberi kebanggaan tersendiri, terlebih lagi akan jadi semacam motivator bagi mahasiswa yang sedang disitu untuk maju,” tukas Mustanir menyiratkan rasa kagum.

Kunjungan berikutnya adalah ke International Graduate Program Academia Sinica dan Institute of Information Science. Sewaktu di Academia Sinica ada beberapa hal yang menarik yang sempat dicatat delegasi.


“Ternyata di Academia Sinica, khususnya di Taiwan International Graduate Program, setiap tahunnya menyediakan banyak sekali beasiswa S2 dan S3 untuk mahasiswa asing. Sayangnya dari kita hanya sedikit. Mungkin karena tidak banyak yang tahu. Catat saja, dari 266 mahasiswa asing yang saat ini sedang sekolah di sana hanya ada 2 orang dari Indonesia . Yang banyak justru dari India, mereka ada 48 orang. Bagi peminat bisa mengakses informasi ini secara online. Silakan akses di www.tigp.sinica.edu.tw,” ungkap Mustanir.

Mustanir juga menyebutkan bahwa pihak Academia Sinica sangat menunggu mahasiswa dari Aceh. Setidaknya, kata Mustanir, saat ini ada sekitar 4 orang mahasiswa Aceh yang sedang mengambil program master disana.“ Ini bisa sebagai kontak person jika ada mahasiswa Aceh lain yang akan ke sana,“ lanjutnya.

-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

No comments: