Demo anti Israel marak di Jerman
Israel makin menampakkan kebiadabannya di Palestina. Teriakan masyarakat dunia dianggap bak angin lalu saja. Begitupun, warga di berbagai belahan dunia tetap tak surut untuk terus memberikan dukungan morilnya. Umat Islam di Jerman pun tak ketinggalan dalam mengusung gerakan anti Israel. Demo marak di berbagai kota beberapa hari belakangan ini. Seperti di Berlin, Frankfurt, Duesseldorf, Karlsruhe dan kota-kota lainnya.
Berlin
Untuk ketigakalinya dalam sepekan, Sabtu kemarin (3/1) ribuan orang berkumpul di Berlin melakukan demonstrasi atas kebiadaban serangan Israel ke Palestina. Menurut keterangan pihak kepolisian, seperti dikutip harian online Berliner Moergenpost, sedikitnya 7500 pendemo memenuhi alun-alun Marx Engels Forum yang berdekatan dengan gedung Balai Kota Berlin. Sehari sebelumnya, Jumat(2/1) demo juga berlangsung di tempat yang sama dan diikuti oleh 2500 pendemo.
.
Demo yang berjalan tertib itu dimulai sekitar pukul 15.30 waktu setempat dan berlangsung hingga sore hari. Dari gedung balai kota para demosntran selanjutnya melakukan pawai melewati kawasan bersejarah Unter den Linden hingga Potsdamer Platz. Penyelenggara kegiatan adalah Kesatuan Masyarakat Palestina di Berlin diikuti berbagai organisasi Arab lainnya
Duesseldorf
Sementara itu di kota Duesseldorf sedikitnya ada 4000 warga disana yang turut serta melakukan demo anti Israel. Di antara para demosntran yang didominasi warga Palestina banyak pula terlihat pendemo dari berbagai Negara lainnya. Mereka bersatu untuk solidaritas Palestina. Ada sekitar 700 warga asli Palestina yang bermukim di Duesseldorf.
Para demonstran meneriakkan yel-yel yang mendesak Israel untuk segera menghentikan serangan brutalnya ke Gaza. Dari berbagai spanduk yang dibawa umumnya mereka sangat geram dengan banyaknya korban sipil tak berdosa yang sebagian besar adalah anak-anak. Pendemo menyebut Israel sebagai pembunuh anak-anak.
“Para pendemo sangat tertib. Tak ada tindak anarkis kendati jumlah mereka ribuan,” sebut Dieter Höhbusch, salah seorang kepala polisi disana. Begitupun sekitar 500 personel polisi disiagakan di berbagai sudut jalan. Tak hanya di jalan raya, polisi juga mengamati dari udara dengan helikopter.
Frankfurt
Halnya di Frankfurt, demo juga berlangsung Sabtu kemarin. Di kota bandara internasional itu, menurut catatan polisi, sedikitnya ada 10000 orang berkumpul di depan gedung balai kota Roemer menentang aksi Israel di Gaza. Seorang demonstran tampak sangat emosional dengan melakukan aksi membakar bendera Israel.
Sultan Haidar, seorang mahasiswa asal Indonesia, yang melaporkan via milis Forum Lingkar Pena (FLP) Jerman, menyebut meskipun cuaca mencapai minus 5 derajat celcius, Sabtu siang itu pelataran stasiun kereta Frankfurt am Main HBF telah diwarnai oleh atribut bendera dan plakat untuk Palestina. Segerombolan massa besar yang hadir dari berbagai kota di negara bagian Hessen ini, menyedot banyak perhatian dan simpati warga Jerman yang sedang berakhir pekan.
Ditenggarai oleh Islamische Religionsgemeinscha ft negara bagian Hessen (IRH), aksi peduli yang diantisipasi hanya menyedot 1000 peserta ini melonjak drastis menjadi 10.000 peserta, dan tercatat sebagai salah satu aksi unjuk rasa terbesar di Jerman menyusul agresi brutal Israel ke jalur Gaza pada Sabtu (27/12/2008) .
Tidak hanya terbatas pada komunitas-komunitas islam di negara bagian Hessen. Aksi solidaritas ini juga diikuti oleh kalangan non-muslim dan beberapa golongan, yang masing-masing mengatas-namakan kelompok anti-fasismus, kelompok anti-rasialis dan kelompok anti-imperialis. Secara serempak mereka mengutuk keras perilaku brutal agresor Israel hingga memakan korban lebih dari 450 warga palestina, yang sebagian besar di antaranya warga sipil, tidak terkecuali anak-anak dan wanita.
Selain beratribut bendera-bendera Palestina, sebagian besar peserta serempak mengenakan keffiyeh hitam-putih di lehernya, yang merupakan ikat leher atau kepala ciri khas Palestina semenjak tahun 1930. Selain berfungsi sebagai penutup leher dari dinginnya cuaca, dalam
dua tahun belakangan keffiyeh menjadi trend di kalangan pelajar, mahasiswa dan masyarakat Jerman. Di samping alasan mode, sebagian besar mendedikasikan keffiyeh mereka sebagai simbol dukungan atas perjuangan rakyat Palestina.
Secara umum, kata Sultan Haidar, ada lima tuntutan besar yang diajukan pada aksi Sabtu siang itu; mendesak Israel secepatnya menghentikan agresinya; melepaskan blokade dan melepaskan intimidasi sepihak atas jalur Gaza; pemenuhan pasokan bahan-bahan makanan, air bersih, bahan bakar dan obat-obatan untuk jalur Gaza; secepatnya menghentikan proyek perluasan pemukiman di Westbank; dan bebaskan tahanan-tahanan politik.
Pada orasi penutupan yang mengambil tempat di depan kantor pemerintahan Frankfurt di Römer, masing-masing komunitas menampilkan seorang perwakilannya yang disahut dengan gemuruh takbir dan yel-yel "stop agresi biadab di Gaza!", "tidak untuk kekerasan!" sambil bersahutan mempertanyakan, "di manakah solidaritas internasional? "
Meskipun sempat melumpuhkan beberapa transportasi umum dan menutup beberapa jalan utama di Frankfurt, pihak kepolisian mengakui aksi ini berjalan dengan sangat tertib. Dalam catatannya, hanya ada seorang demonstran bermasalah yang bermaksud membakar bendera Israel, namun
berhasil dicegah oleh demonstran lainnya.
Di Karlsruhe juga tak kalah seru. 1000-an pendemo yang dikomandani warga Palestina dan Libanon meneriakkan yel-yel anti Israel.
Menlu Jerman Walter Steinmeier mengungkapkan perlunya segera dilakukan aksi yang disebutnya sebagai “Jeda Kemanusiaan”. Steinmeier juga mendesak jalur Gaza segera dibuka agar bantuan makanan dan obat-obatan dapat segera disalurkan. Andrea Nahles, politisi partai terbesar di Jerman SPD, menyebut penyelesaian secara politis untuk Palestina dan bukannya militeris.
Sementara itu di Paris demo berlangsung sedikit panas. Ratusan pendemo melakukan tindak anarkisme. Mereka melempari kursi-kursi yang ada di kafe-kafe ke arah para polisi yang berjaga-jaga. Polisi membalasnya dengan semprotan gas airmata. (Zulkarnain Jalil)
No comments:
Post a Comment