
Pemerintah Norwegia telah setuju dengan sebuah amandemen yang memberi kebebasan bagi polisi wanita muslim untuk mengenakan jilbab. Keputusan itu diumumkan oleh komunitas muslim di Norwegia, Kamis lalu (5/2). Seperti dilaporkan situs Islamonline.com (6/2), kalangan muslim di negeri yang terletak di kawasan Skandinavia itu spontan menyambut gembira keputusan tersebut.
"Ini sebuah isyarat penting bagi kalangan muslim di Norwegia," kata Brahim Belkilani, Ketua Liga Muslim Norwegia. Liga Muslim Norwegia sendiri dideklarasikan pertamakali tahun 1987 silam dan kini menaungi hampir 90 organisasi Islam di Norwegia.
Keltoum Hasnaoui, seorang polwan muslim berusia 23 tahun berdarah Aljazair, kini adalah satu-satunya wanita berjilbab di kepolisian Norwegia. Dia sebelumnya sempat melayangkan sebuah petisi kepada Menteri Kehakiman Norwegia yang memohon keringanan bagi polisi wanita Islam untuk tetap bisa berjilbab selama bertugas.
"Setelah mendapat masukan dari Markas Besar Kepolisian, kami memutuskan jilbab dibolehkan bagi polwan muslim di negeri kami. Begitupun, kami membuat aturan khusus tentang modifikasi seragam kepolisian yang dipadu dengan jilbab dengan tidak menghilangkan nilai Islamnya," begitu bunyi salah satu pernyataan dari kantor Kementrian Kehakiman Norwegia.
Sementara itu Ingelin Killengreen, Direktur Kesatuan Polisi Nasional, mengatakan bahwa keputusan ini dibuat sebagai bagian dari upaya pemerintah untuk merekrut lebih banyak lagi polisi dari kalangan muslim.
"Kami kira ini sebuah keputusan penting dalam rangka memperluas proses rekrutmen polisi baru tanpa memandang perbedaan baik itu suku, etnis, dan agama tertentu dalam kelompok masyarakat. Semua bisa ambil bagian, itulah misi kami," tulis Killengree dalam siaran persnya.
"Adalah sangat penting bagi semua warga untuk memperoleh kesamaan hak serta punya hubungan baik dengan para polisi," lanjut dia.
Beberapa negara di Eropa, seperti Swedia dan Inggris, dikabarkan telah membolehkan para polisi wanita beragama Islam untuk mengenakan hijab selama dinas.
Integrasi
Perubahan kebijakan itu, dengan mengakomodasi keinginan warga muslim, diyakini akan makin memperkuat stabilitas di dalam masyarakat Norwegia.
" Para politisi tampaknya hendak mengirim pesan penting dalam rangka menghapus kesan diskriminatif yang selama ini kerap diperoleh masyarakat Arab dan komunitas Islam umumnya. Proses integrasi Islam dan pemerintah akan makin mudah," pungkas Brahim Belkilani. Belkilani juga menambahkan bahwa komunitas Islam di sana sangat menikmati kehidupan di sana , dimana mereka juga memperoleh hak-hak sepertimana warga Norwegia lainnya.
Populasi muslim di Norwegia diperkirakan makin bertambah tiap tahunnya. Saat ini ada sekitar 150 ribu warga muslim yang bermukim di negeri yang memiliki populasi penduduk 4,5 juta jiwa itu. Mayoritas muslim disana berdarah Pakistan, Somalia dan Maroko. (Zulkarnain Jalil)
No comments:
Post a Comment