Tuesday, November 03, 2009

Mie Neodles, Temuan Putra Aceh yang Dipatenkan di Malaysia

Mie Aceh sudah dikenal dimana-mana. Itu pasti. Tapi mie yang satu ini bukanlah sembarang mie. Mie Neodles namanya. Mie jenis baru ini diyakini sangat bermanfaat bagi penderita diabetes atau dikenal dengan penyakit kencing manis. “Mie Neodles sangat cocok untuk pengidap diabetes dan juga obesitas (kelebihan berat badan –red),” papar Saifullah Ramli, M.Sc, sang penemu yang juga kandidat doktor bidang Teknologi Makanan di University Sains Malaysia (USM), Penang .

"Istilah Neodles berasal dari dua padanan kata Inggris yakni new (baru) dan noodles (mie). Jadi Neodles berarti mie jenis baru. Nama ini adalah murni ide dari saya sendiri, " imbuh pria kelahiran Bayu, Aceh Besar 10 Desember 1960. Produk Neodle ini telah mendapat award "PECIPTA 2009" dari Kementrian Pendidikan Tinggi Malaysia dalam sebuah acara yang berlangsung di Kuala Lumpur Convention Center pada 8-10 Oktober 2009 yang lalu.

”Alhamdulillah, direncanakan Neodles ini akan diproduksi secara komersial sekitar Februari 2010 di Malaysia,” kata Saifullah lagi. Saifullah menceritakan temuannya itu berawal saat ia melakukan riset tentang pemanfaatan tepung pisang (pisang cavendish dan barangan) di USM.

”Saya menganalisa physicochemical dari buah pisang (pulp) dan kulit pisang (peel). Ternyata kandungan fiber(serat) dalam buah pisang sangat tinggi. Karena kandungan fiber tinggi, lalu saya menganalisis kandungan GI (Glycemix Index) secara enzymatis dan ternyata GI yang dihasilkan relatif rendah. Patut diketahui, setiap bahan makanan yang memiliki GI rendah dapat berpotensi untuk memperlambat proses pelepasan glukosa (gula) dari karbohidrat ke dalam aliran darah manusia. Sehingga kadar gula dalam darah menjadi lebih rendah. Nah ini sangat cocok untuk orang yang menderita gula darah tinggi dan juga bagi penderita obesitas,” papar dosen Teknik Kimia Unsyiah itu yang beberapa kali sempat muncul di televisi Malaysia.

Segera dipasarkan
Temuan mie jenis baru itu kontan saja menarik minat para pengusaha Malaysia untuk berinvestasi. Setidaknya hal tersebut mencuat kala konferensi pers antara tim peneliti USM yang dipimpin Prof. Azhar Mat Easa dengan media cetak dan elektronik pada 28 Oktober pekan lalu di Fakultas Teknologi Industria (PPTI), Universiti Sains Malaysia.

”Saat ini kami sedang dalam proses akhir perbincangan dengan beberapa pihak tertentu untuk tujuan produksi masal. Tak hanya dalam bentuk mie, neodles juga bisa diproduksi dalam bentuk tepung mentah untuk tujuan eksport. Produk yang murni menggunakan kandungan lokal ini diperkirakan Februari tahun depan akan berada di pasaran dalam kemasan 200 gram dan dijual dengan harga 2 hingga 2,5 Ringgit (sekitar Rp. 7000,- ),” ungkap Azhar kepada pers, seperti dikutip dari kantor berita Malaysia Bernama.

Azhar yang didampingi anggota tim risetnya yakni Saifullah Ramli, Yeoh Shin Yong dan Dr. Abbad F.M Alkarkhi juga menyebut bahwa untuk penelitian tersebut dia mendapat kucuran dana riset dari Kementerian Sains, Teknologi dan Inovasi (MOSTI) Malaysia bernilai RM900.000 (sekitar 2,5 milyar rupiah). Halnya dengan Saifullah, dia mulai meneliti di USM sejak Januari 2008 dan kini telah menghasilkan 8 buah publikasi di jurnal international.

Industri tepung pisang
“Saya berencana setelah selesai S3 pulang ke Aceh dan membuka usaha industri tepung pisang instan. Para petani pisang patut kita berdayakan. Jika perlu kita satukan mereka dalam satu wadah sejenis koperasi atau apapun namanya. Kita bina agar bersemangat dan mau memanfaatkan lahan-lahan kosong untuk menanam pokok pisang. Hasilnya kita beli dan kita jadikan tepung pisang," papar Saiful bersemangat.

"Jika memungkinkan kita cari jalur untuk ekspor. Saya sudah mendapatkan jaringan international ekspor-import buah pisang. Buah pisang kalau dijadikan tepung pisang maka lebih awet dan tahan lama. Tepung pisang dapat dijadikan sebagai untuk bahan baku membuat roti, kue dan segala macam olahan makanan lainnya. Selama ini yang kita kenal kan tepung gandum atau tepung beras," tutur ayah empat anak itu lagi.

Tak ada dukungan dalam negeri
Saifullah memang identik dengan ide-ide kreatif. Misalnya saja, pria bersahaja ini tahun 1996 silam pernah menerima penghargaan sebagai pemakalah terbaik untuk risetnya mengenai "Pembuatan Bubuk Santan Instan" dalam sebuah seminar yang disuport HEDS-JICA di Padang. Dia pernah merasakan getirnya mengurus hak paten.

”Waktu itu di Indonesia belum ada produk santan instan di pasaran. Saya pernah mengurus hak patennya. Tapi akhirnya tidak berhasil, karena rumitnya birokrasi dan juga tak ada dukungan yang memadai,” keluh Saifullah, yang mengaku waktu itu tidak mendapatkan suport, baik dari institusi ataupun pemda setempat.

“Beberapa tahun kemudian, produk santan instan ini mulai muncul di pasaran. Ceritanya, setelah artikel saya dipublikasi oleh ITB Bandung, banyak surat datang ke saya dan meminta informasi pembuatan santan instan tersebut. Kebanyakan adalah dari pengusaha di Jakarta, Jawa Timur dan Sulawesi Selatan,” papar suami Cut Suzanna itu mengenang.

Koleganya di Unsyiah tentu saja menyambut antusias temuan mie neodles Saifullah itu. “Keberhasilan Pak Saifullah menghasilkan penelitian yang dapat dipatenkan dan dikomersialkan dalam skala industri patut kita sambut gembira. Hal ini tentu saja akan memberikan dorongan rekan-rekan lain untuk dapat mencapai hal yang sama. Dan, tentu saja dukungan dana riset dari dalam negeri harus memadai. Saya yakin hasil-hasil riset peneliti kita banyak yang bisa dijadikan produk komersil,” ujar Dr. Saiful Sulun, salah seorang dosen dan peneliti di FMIPA Unsyiah.

Tampaknya institusi akademik di Aceh perlu bersinergi dengan dinas atau instansi riset terkait untuk mendukung upaya seperti disitir Saiful. Dan, dukungan pemerintah daerah juga tak bisa dipandang remeh sehingga hasil riset aneuk nanggroe bisa memberi kesejahteraan bagi rakyat banyak. Bukan justru dinikmati oleh negeri tetangga. Begitulah. (Zulkarnain Jalil).

No comments: