Saturday, August 05, 2006

Lagu ’54, ’74, ’90, 2010 Jadi Hit di Jerman

Kelompok musik Jerman Sportfreunde Stiller selepas kekalahan timnasnya di babak semifinal piala dunia yang lalu menggubah sebuah lagu yang berjudul unik, ’54, ’74, ’90, 2010. Lagu berdurasi tiga menitan itu kini jadi hit di seantero Jerman. Seperti dilansir Mix1, lagu tersebut saat ini nangkring di peringkat pertama tangga lagu Jerman, mengalahkan nama-nama beken semacam Shakira atau Nelly Hurtado.

Awalnya lagu itu berjudul ’54, ’74, ’90, 2006 dan selama piala dunia berlangsung jadi lagu “wajib“ stasiun televisi dan radio. Kopi pertamanya saja sempat meraih sukses besar serta menduduki peringkat pertama tangga musik di Jerman. Namun setelah kalah melawan Italia pada 4 Juli silam mereka tak patah arang. Angka 2006 diganti menjadi 2010 dan beberapa liriknya direvisi. Tahun 2010 adalah harapan Jerman berikutnya untuk menjadi juara dunia di Afrika Selatan.

Sportfreunde Stiller sendiri merupakan grup musik rock asal Germering, Muenchen. Grup musik yang lahir pada tahun 1996 ini terdiri dari tiga orang anak muda, Peter, Florian, dan Ruediger. Stiller diambil dari nama mantan pelatih mereka di klub sepakbola SV Gemering, Hans Stiller. Kini mereka laris manis mendapat undangan manggung dimana-mana.

Sementara itu di Perancis lagu berjudul Coupe de Boule yang berisi pelesetan seputar tandukan kepala Zidane dan kegagalan penalti David Trezequet benar-benar jadi hit di musim panas ini. Lagunya sendiri bernada riang, simak salah satu baitnya yang berbunyi "Zidane menabraknya, piala tidak bisa diraih, namun kita masih bisa tertawa.”

Sebenarnya sebelum Perancis kalah, lagu Zidane y va marquer (Zidane akan mencetak gol) lebih sering dinyanyikan untuk menyemangati Zidane dkk. Namun beberapa jam selepas kalah di final, anak-anak muda di Champs Elysees, Paris menyanyikan Zidane il l'a frappé (Zidane menabraknya) yang akhirnya jadi inspirasi album Coupe de Boule.

Kisah perjalanan lagu ini menuju tangga sukses terhitung unik. Lagu yang dinyanyikan tiga anak muda dari grup musik La Plage itu dibuat persis selepas pertandingan final 9 Juli. Lalu, tanggal 10 Juli sekitar pukul 17.00 disebar melalui internet ke lebih kurang 50 orang teman karib mereka. Dengan “operan bola“ cepat dari tangan ke tangan itulah malamnya lagu tersebut sudah bisa didengarkan melalui siaran radio. Rabu, 12 Juli lagu tersebut sudah masuk dapur rekaman. Coupe de Boule yang berdurasi 2:36 menit kini terjual lebih dari 135.000 kopi dalam waktu tiga minggu. “Luar biasa, ini benar-benar jadi catatan sejarah“, ujar Thierry Chassagne, bos Warner Music Perancis.

Nah, sementara itu di Italia lagu yang dinyanyikan oleh penyanyi Fabrizio Levita juga sangat populer. Mau tahu judulnya ? Lagu tersebut bertajuk '34, '38, '82, 2006 ! Yakni tahun dimana Italia menjadi juara dunia. Ada-ada saja orang Eropa ini.
(Zulkarnain Jalil dari Jerman, Serambinews, 04/08/06).

Tuesday, July 25, 2006

Tari Saman di Pegunungan Freiberg

“Hari Kamis ini (20 Juli) kami mengadakan Malam Indonesia, saya dan anak-anak ikut serta menari tari Saman dari Aceh. Datang yaa..“

Demikian isi e-mail (surat elektronik) yang saya terima dari Eka Priadi, mahasiswa program doktor di Technische Universtaet Bergakademie Freiberg (TU-Freiberg), Jerman. Isi e-mail ini kontan memompa darah keacehan saya lebih kencang. Eka yang sudah tiga tahun berada di kota Freiberg ditemani istri dan dua anaknya, merupakan dosen di jurusan Teknik Sipil, Universitas Tanjung Pura, Pontianak.

Tidak banyak mahasiswa Indonesia yang bersekolah di sana, hanya ada tujuh orang saja. Kendatipun demikian semangat mereka mengadakan acara malam budaya ini patut diacungi jempol. TU-Freiberg sendiri adalah perguruan tinggi favorit untuk bidang geologi dan mineral. Kota kecil berpenduduk 43.394 jiwa itu dikenal dengan sebutan “Bergstadt“ atau kota pegunungan dan berjarak hanya sekitar 60 kilometer dari Dresden, ibukota negara bagian Sachsen. Sepintas sangat mirip dengan kota Jantho yang terletak di lembah pegunungan Seulawah, Aceh Besar.

Yesifa sang ketua penyelenggara menyebutkan bahwa penyelenggaraan acara ini guna memperkenalkan budaya Indonesia. Yang mengesankan, unit kegiatan mahasiswa internasional TU-Freiberg sangat mendukung acara ini. Lebih dari itu, bahkan memberikan bantuan finansial serta gedung serba gunanya untuk tempat acara.

Mahasiswi program master asal Bekasi ini dalam sambutan pengantarnya juga menyampaikan Aceh sebagai tempat asal tari Saman, lalu dikaitkan dengan musibah tsunami 2004 silam.
“Saya tertarik untuk mementaskan Tari Saman selepas melihat acara perayaan musim panas (Sommerfest) di Hamburg. Kebetulan ada kawan yang punya CD tari ini. Melalui CD tersebut kami belajar. Persiapannya cuma dua minggu“, urai Yesifa dengan nada gembira. Memang tidak sia-sia, buktinya pengunjung yang hadir dibuat terkesima oleh gerakan tari yang begitu atraktif.

Menariknya, karena kekurangan penari, Yesifa lalu mengajak teman kuliahnya asal Pantai Gading dan Thailand ikut menari. Karin misalnya, mahasiswi asal Pantai Gading mengaku sangat menyukai tarian Aceh itu.“Wow, asyik sekali tarian ini, saya sangat suka. Awalnya sulit juga ya, gerakannya sangat cepat. Trus, sambil duduk pula“, ujar Karin sumringah. Ia juga menceritakan di negaranya kebanyakan tarian dilakukan dengan berdiri. Secara khusus, gadis Afrika ini berpesan kepada rakyat Aceh:“Tetap kuat, lanjutkan kerja, dan semoga tidak ada tsunami lagi“.

Tari Saman memang menjadi primadona di setiap pagelaran budaya di Jerman. Di beberapa kota seperti Aachen, Berlin, Bremen, Bonn, Goettingen, Hamburg, dan Leipzig, tarian ini selalu mendapat sambutan meriah. Yang jadi promotor biasanya salah seorang mahasiswa Aceh yang bermukim di setiap kota tersebut. Adapun para penari adalah mahasiswa Indonesia dari berbagai daerah yang sedang studi di Jerman. Namun, penampilan di kawasan pegunungan Freiberg Kamis kemarin adalah pertama kalinya seorang warga asing ikut jadi penari. Sebuah promosi yang bernilai jual tinggi tentunya. Disamping tari-tarian, juga diperkenalkan beberapa jenis makanan khas Indonesia. Diantaranya terselip roti martabak. Lalu ada aneka permainan seperti kelereng, lomba makan kerupuk, dll. Tentunya permainan ini “aneh” bagi sebagian warga Jerman.
(Zulkarnain Jalil, dari Jerman). Serambinews, 22.07