Tari Saman di Pegunungan Freiberg
“Hari Kamis ini (20 Juli) kami mengadakan Malam Indonesia, saya dan anak-anak ikut serta menari tari Saman dari Aceh. Datang yaa..“
Demikian isi e-mail (surat elektronik) yang saya terima dari Eka Priadi, mahasiswa program doktor di Technische Universtaet Bergakademie Freiberg (TU-Freiberg), Jerman. Isi e-mail ini kontan memompa darah keacehan saya lebih kencang. Eka yang sudah tiga tahun berada di kota Freiberg ditemani istri dan dua anaknya, merupakan dosen di jurusan Teknik Sipil, Universitas Tanjung Pura, Pontianak.
Tidak banyak mahasiswa Indonesia yang bersekolah di sana, hanya ada tujuh orang saja. Kendatipun demikian semangat mereka mengadakan acara malam budaya ini patut diacungi jempol. TU-Freiberg sendiri adalah perguruan tinggi favorit untuk bidang geologi dan mineral. Kota kecil berpenduduk 43.394 jiwa itu dikenal dengan sebutan “Bergstadt“ atau kota pegunungan dan berjarak hanya sekitar 60 kilometer dari Dresden, ibukota negara bagian Sachsen. Sepintas sangat mirip dengan kota Jantho yang terletak di lembah pegunungan Seulawah, Aceh Besar.
Yesifa sang ketua penyelenggara menyebutkan bahwa penyelenggaraan acara ini guna memperkenalkan budaya Indonesia. Yang mengesankan, unit kegiatan mahasiswa internasional TU-Freiberg sangat mendukung acara ini. Lebih dari itu, bahkan memberikan bantuan finansial serta gedung serba gunanya untuk tempat acara.
Mahasiswi program master asal Bekasi ini dalam sambutan pengantarnya juga menyampaikan Aceh sebagai tempat asal tari Saman, lalu dikaitkan dengan musibah tsunami 2004 silam.
“Saya tertarik untuk mementaskan Tari Saman selepas melihat acara perayaan musim panas (Sommerfest) di Hamburg. Kebetulan ada kawan yang punya CD tari ini. Melalui CD tersebut kami belajar. Persiapannya cuma dua minggu“, urai Yesifa dengan nada gembira. Memang tidak sia-sia, buktinya pengunjung yang hadir dibuat terkesima oleh gerakan tari yang begitu atraktif.
Menariknya, karena kekurangan penari, Yesifa lalu mengajak teman kuliahnya asal Pantai Gading dan Thailand ikut menari. Karin misalnya, mahasiswi asal Pantai Gading mengaku sangat menyukai tarian Aceh itu.“Wow, asyik sekali tarian ini, saya sangat suka. Awalnya sulit juga ya, gerakannya sangat cepat. Trus, sambil duduk pula“, ujar Karin sumringah. Ia juga menceritakan di negaranya kebanyakan tarian dilakukan dengan berdiri. Secara khusus, gadis Afrika ini berpesan kepada rakyat Aceh:“Tetap kuat, lanjutkan kerja, dan semoga tidak ada tsunami lagi“.
Tari Saman memang menjadi primadona di setiap pagelaran budaya di Jerman. Di beberapa kota seperti Aachen, Berlin, Bremen, Bonn, Goettingen, Hamburg, dan Leipzig, tarian ini selalu mendapat sambutan meriah. Yang jadi promotor biasanya salah seorang mahasiswa Aceh yang bermukim di setiap kota tersebut. Adapun para penari adalah mahasiswa Indonesia dari berbagai daerah yang sedang studi di Jerman. Namun, penampilan di kawasan pegunungan Freiberg Kamis kemarin adalah pertama kalinya seorang warga asing ikut jadi penari. Sebuah promosi yang bernilai jual tinggi tentunya. Disamping tari-tarian, juga diperkenalkan beberapa jenis makanan khas Indonesia. Diantaranya terselip roti martabak. Lalu ada aneka permainan seperti kelereng, lomba makan kerupuk, dll. Tentunya permainan ini “aneh” bagi sebagian warga Jerman.
(Zulkarnain Jalil, dari Jerman). Serambinews, 22.07
No comments:
Post a Comment