Saturday, September 16, 2006

Jenderal Murung itu Akhirnya Pensiun

Bagi anda penggemar tim nasional Argentina, terlebih lagi kesengsem dengan gocekan Juan Riquelme, maka mulai sekarang sudah bisa menyimpan semua memori dari pemain berwajah “murung” ini. Pasalnya, jenderal lapangan tengah Albiceleste –julukan Argentina- itu menyatakan mengundurkan diri dari tim nasional. Hal itu dikatakannya dalam satu wawancara dengan televisi berita Argentina, Telenoche (13/9). Riquelme menyebutkan masalah psikologis dan kesehatan ibunya yang menjadi alasan pengunduran dirinya.

”Ini keputusan yang sulit sebenarnya. Tentu ada rasa sedih tidak memakai kaos Argentina lagi,” ujar Riquelme yang terakhir memimpin rekan-rekannya saat Argentina kalah melawan Brazil (0:3) di laga persahabatan 3 September yang lalu.

“Namun kesehatan ibuku nomor satu. Dia tidak bisa dibandingkan dengan kaos tim nasional atau apapun yang lainnya,” tukas pemain yang pensiun dini di usia 28, saat mana sebenarnya seorang pemain sedang di puncak karir. Riquelme yang menghabiskan masa kecilnya di sebuah kawasan kumuh di ibukota Argentina, Buenos Aires barangkali bisa dinilai sebagai pemain yang berbakti kepada ibunya.

“Sejak piala dunia yang lalu, ibuku telah dua kali dirawat di rumah sakit dan tugasku untuk menjaga kesehatannya," ujar Riquelme yang menjalani kerasnya kehidupan masa kecil bersama 10 saudara kandungnya itu.

Juan Roman Riquelme nama lengkapnya, pensiun di usia 28 tahun. Terlalu dini memang, apalagi untuk pemain sekaliber dia yang punya penguasaan bola dan visi bermain yang prima. Ia merintis karirnya di klub Boca Juniors, persis seperti Maradona, pemain yang dikaguminya. Lalu pindah ke klub La Liga Spanyol Barcelona (2002). Di klub Catalan itu ia kurang bersinar hingga “dipinjamkan” ke Villareal (2003). Karirnya justru bersinar di Villareal yang dihantarnya hingga ke semifinal Liga Champion musim lalu. Itulah kali pertama klub “kecil” Spanyol tersebut masuk jajaran elit tim-tim Eropa.

Di pentas piala dunia, Riquelme tidak masuk skuad Agentina di Piala Dunia 2002 kala dilatih Marcelo Bielsa. Baru pada Piala Dunia 2006 ia menjadi figur jenderal lapangan tengah di bawah asuhan Jose Pekerman, mantan pelatihnya saat merebut supremasi piala dunia junior tahun 1997. Sayangnya Argentina yang sempat disanjung karena permainan indahnya harus tersingkir di tangan tuan rumah Jerman pada babak perempat final. Banyak pengamat menyebut faktor keluarnya Riquelme di babak kedua sebagai rusaknya irama permainan sehingga Jerman bisa menyamakan kedudukan. Entahlah, yang pasti dunia sepak bola kembali murung selepas jenderal Riquelme pensiun.

Zulkarnain Jalil, dari Jerman untuk Serambinews (16/09)

Saturday, August 19, 2006

Malik Fathi, Pemain Muslim Pertama di Timnas Jerman

Pertandingan ujicoba Jerman lawan Swedia Rabu kemarin (16/8) mengingatkan kembali akan babak perdelapan final Piala Dunia 2006, Juli silam. Kala itu Jerman menang 2:0. Kini pun Miroslav Klose dkk tetap berpesta. Kemenangan 3:0 serasa pantas mengingat tim Panzer bermain rancak sejak menit pertama. Awal yang mengesankan bagi pelatih baru Jerman Joachim Loew.

Namun kali ini mantan asisten Klinsmann itu melakukan satu eksperimen yang dinilai cukup berani. Philip Lahm yang biasanya bermain sebagai bek kiri, digeser Jogi –panggilan Loew- ke sisi kanan. Sedangkan Marcell Jansen menggantikan posisi "kesayangan" Lahm tersebut. Kedua pemain itupun terlihat tidak canggung sama sekali dengan perubahan posisi mereka itu. Kejutan masih berlanjut, pada menit ke-46 Jogi memasukkan Malik Fathi menggantikan Jansen. Malik Fathi, siapa pula dia ?

Anak muda berdarah Turki-Jerman ini sebenarnya sudah sejak lama jadi perhatian pengamat sepakbola. Posisi bek kiri di timnas junior U-21 seakan telah jadi miliknya. Lugas, berani, dan jago bola-bola atas, itulah sosok pemuda usia 22 tahun pengagum Paolo Maldini –bintang Italia. Di timnas U-21 ia sudah main sebanyak 21 kali. Barangkali, karena itu pula Loew berani berjudi dengan menarik Lahm ke sisi kanan guna mencoba Fathi di posisi bek kiri. Nominasi Malik Fathi sendiri awalnya karena beberapa pemain bawah cedera seperti Christoph Metzelder, Per Mertesacker dan Robert Huth.

Debutan baru asal Herha BSC Berlin inipun tak menyia-nyiakan kesempatan pertamanya main di timnas senior. "Pemberani dan bermain tanpa cela", tulis harian Abendzeitung keesokan harinya. Bahkan Sueddetsche Zeitung menempatkannya di satu kolom khusus.“Serasa mimpi aja bisa main dengan Podolski dkk. Soalnya di piala dunia kemarin saya cuma lihat wajah mereka di layar televisi”, ujar pemuda yang suka makan spageti Italia ini sumringah selepas pertandingan yang berlangsung di Gelsenkirchen –kandang Schalke 04.

Malik Fathi memulai karir sepakbolanya di klub amatir Tennis Borussia, lalu masuk tim junior Hertha 03 Zehlendorf. Dua-duanya di Berlin, kota kelahiran pemuda yang di waktu senggang suka main bola basket dan juga tenis. Bakat Fathi pun makin terasah, sehingga ia ditawari masuk tim senior Hertha BSC tahun 2001, kala usianya masih 18 tahun.

Di kompetisi Bundesliga (Liga Jerman), Fathi telah main sebanyak 71 kali. "Saya selalu siap, tidak masalah taktik apa yang dimainkan", ujar pemain bernomor punggung 29 itu satu ketika. Dibandingkan dengan teman seangkatannya di Hertha seperti Dennis Cagara, Sofian Chahed atau Alexander Ludwig, Fathi lebih cepat bersinar.

Kehadiran Fathi semakin menampakkan "keterbukaan" Jerman di sepakbola. Di masa silam banyak hal tabu di negara yang pernah punya motto Deutschland ist über alles (Jerman diatas segala-galanya) itu. Misal, tidak ada pemain berkulit gelap di tim Panzer. Hal yang bertolak belakang dengan –misalnya- pasukan multinasional Perancis yang bermaterikan para pemain imigran. Namun di Piala Dunia 2002, kehadiran Gerald Asamoah yang asal Ghana memecah mitos tersebut. Dan kini, masuknya Malik Fathi -nama yang jelas berbau Arab (baca: Islam)- menjadikannya pemain muslim pertama di timnas Jerman.

Karir pemuda yang ayahnya berdarah Turki ini diyakini akan jadi bintang baru pertahanan tim Jerman. Namun Malik Fathi tetap merendah. "Tidak ada manusia yang sempurna, dan saya bukanlah siapa-siapa“, tutur pemuda yang suka dengan kesederhanaan itu diplomatis. (Zulkarnain Jalil, dari Jerman).