Monday, June 23, 2008

Karl Wald, pencetus adu tendangan penalti yang terlupakan

Adu tendangan penalti selalu melahirkan ironi. Bahkan Frank Lampard sampai mengupat “sepakbola itu kejam” kala Chelsea tersingkir di final Liga Champion 2008 yang lalu saat kalah lewat adu penalti melawan MU. Lalu, pekan lalu, setelah menjalani pertandingan yang heroik, pemain Kroasia terlihat menangis tersedu-sedu selepas kalah adu penalti lawan Turki.

Banyak yang bilang pertandingan yang diakhiri dengan adu tendangan penalti tidak fair dan persis seperti lotre. Untung-untungan. Yang lain malah menikmatinya karena nuansa ketegangan yang tinggi. Saking tegangnya bisa bikin jantung copot.

Namun tak banyak yang tahu siapa sebenarnya penemu adu tendangan penalti itu. Ternyata pencetusnya adalah seorang wasit dari Penzberg, sebuah kota kecil berjarak 50 kilometer dari Muenchen, Jerman. Dialah Karl Wald yang kini berusia 92 tahun dan mengaku bangga dengan gagasannya yang diperkenalkan pertamakali tahun 1970 itu. "Hanya ada satu pemenang dalam tiap pertandingan", ujar Wald kepada majalah Stern.

“Dulu, sebelum adu penalti diperkenalkan, pertandingan penentuan yang berakhir imbang pemenangnya ditentukan lewat undian koin“, imbuh Wald yang pernah menjadi pemain FSV Frankfurt dan FC Nürnberg. “Bahkan ada pertandingan yang musti diulang lagi. Misalnya final Piala Eropa 1968 yang dihelat di Italia. Di babak final Italia bertemu Yugoslavia. Pertandingan berakhir 1-1. Karena adu penalti belum diperkenalkan, pertandingan pun diulang sekali lagi. Kala itu Italia sukses mendulang dua gol dan menggondol Piala Eropa 1968,“ kenang pria kelahiran Frankfurt 17 Februari 1916.

Ada cerita menarik dibalik undian koin ini. Pada final Liga Champion tahun 1965 FC. Köln bertemu FC Liverpool di babak akhir melalui sistem tandang dan kandang. Keduanya berakhir 0-0. Pertandingan lalu diulang di tempat netral yakni di Rotterdam, Belanda. Hasilnya masih imbang 2-2. Akhirnya pemenang diundi dengan lemparan koin. Menariknya pas lemparan pertama koin malah jatuh tegak lurus. Harus diulang lagi. Pada lemparan kedua itulah Liverpool “memenangkan“ pertandingan. Karl Wald mengaku berang jika sang juara ditentukan lewat koin. Dia menyebutnya sebagai sangat tidak sportif.

Setelah melalui serangkaian percobaan, Karl Wald menemukan gagasan adu penalti itu. Tak menunggu lama, Wald mengajukan inovasinya ke organisasi sepakbola negara bagian Bayern (BFV). Awalnya ditolak mentah-mentah. Pria yang mendapat lisensi wasit tahun 1936 itu terus berusaha meyakinkan pimpinan BFV, hingga akhirnya diadakan semacam dengar pendapat dengan mengundang seluruh anggota BVF dari berbagai daerah di Bayern.

Dalam forum itu Hans Huber –Presiden BFV- masih tetap keberatan dengan ide Karl Wald. Hingga Wald secara berani melakukan interupsi: "Tuan Presiden, sejak pagi saya duduk berjam-jam disini. Dengan tekun saya mendengarkan berbagai pendapat dalam forum ini. Sekarang saya minta waktu 5 menit saja kepada Anda untuk mendengar saya." Spontan keberaniannya itu mendapat aplaus dari anggota yang hadir. Dari sini sudah dapat diduga sebagian peserta sebenarnya menyetujui idenya tersebut.

Selepas interupsi bersejarah itu, sidang diskor selama 20 menit. Hans Huber melakukan rapat tertutup dengan stafnya. Selepas masa istirahat, Hans Huber tampil ke podium dan berujar: "Saudara Wald, sekarang saya akan menyampaikan putusan sidang. Gagasan adu tendangan penalti yang Saudara ajukan kami terima dan akan diterapkan pada musim kompetisi mendatang. Apakah Anda setujui?“ Karl Wald dengan wajah tersenyum sumringah menyetujui keputusan tersebut seraya mengucapkan terima kasih.

Gagasan Wald diperkenalkan tepat pada perayaan ulang tahun BFV tahun 1970. Delegasi BFV lalu mengajukan ide Wald ke DFB (PSSI-nya Jerman). DFB menerima dengan mutlak inovasi dari negara bagian Bayern itu. Berselang beberapa waktu, induk sepakbola Eropa (UEFA) dan dunia (FIFA) juga menerima ide adu tendangan penalti. Sejak itulah nama Karl Wald tercatat dalam sejarah sepakbola dunia.

Adu tendangan penalti mulai diperkenalkan pada Piala Eropa 1976 di Yugoslavia saat Jerman bertemu Cekoslowakia di babak final. Cekoslowakia sukses merengkuh gelar pertamanya di Eropa setalah menang adu penalti 4-3. Di ajang Piala Dunia adu penalti diperkenalkan tahun 1982 kala berlangsung di Spanyol. Jerman berhasil menundukkan Perancis lewat adu tendangan 12 pas di babak semifinal.

Kini Karl Wald melewati masa tuanya di Penzberg dan jauh dari soroton publik. Dia seolah terlupakan di tengah hingar bingarnya industri sepakbola. Padahal Wald, yang telah mengabdi sebagai wasit selama 40 tahun dan memimpin lebih dari 1000 pertandingan, telah memperkenalkan sebuah inovasi maha penting dalam dunia persepakbolaan. Begitulah.

Sunday, June 22, 2008

Eropa buka pintu bagi pekerja imigran

Hari ini tidak ada pertandingan. Jadi saya ajak Anda menyimak satu isu hangat yang merebak belakangan ini di Eropa. Hitung-hitung untuk menghilangkan stress pasca babak perempatfinal yang menegangkan. Terutama pendukung Belanda, jangan terlalu bersedih tim Anda gagal melaju. Itulah sepakbola, kata Franz Beckenbauer.

Baik, isu apa itu? Badan pengurus harian Uni Eropa beberapa waktu lalu mengajukan satu usulan menarik yang intinya meminta negara-negara di Eropa agar membuka pintunya bagi kaum imigran berpendidikan tinggi.

Usulan yang diajukan akhir 2007 lalu itu beranjak dari kekhawatiran dengan semakin berkurangnya pekerja lokal berkemampuan tinggi, terutama bidang IT. Seperti disitir Radio Netherland, solusi bakal dilakukan melalui sistem Blue Card atau kartu biru yang memberikan hak tambahan bagi imigran dengan keahlian tertentu. Mirip Green Card di Amerika Serikat.

Menurut amatan Dr.-Ing. Syafii Syam, putra Aceh yang saat ini bekerja di Ghent University, Belgia, warga asli Eropa yang tertarik untuk belajar di sektor high engineering education terutama yang berbasis komputer (ICT-based) memang makin sedikit saja. Mereka seperti ”menghindar” masuk program studi ilmu-ilmu advance tersebut.

”Kebanyakan diisi oleh imigran. Orang Eropa bisa dihitung dengan jari. Saya kira beberapa tahun mendatang mereka bakal kekurangan tenaga ahli. Mau ndak mau ya musti buka pintu bagi imigran,” tugas pria yang datang ke Eropa 2002 silam dan sedang mengerjakan proyek Anesthesia Automatic Control.

”Peluang sekarang sangat terbuka dan ada dimana saja. Saat ini penyadaran ke anak muda (baca; pelajar dan mahasiswa) masih kecil. Umumnya kesempatan yang diperebutkan adalah kesempatan yang datang didepan mata. Padahal banyak sekali peluang ”tersembunyi”. Bila mau sedikit berpayah-payah akan dapat,” kata pria kelahiran Sanggeu, Kab. Pidie itu lagi. Syafii meminta pemuda-pemudi di Aceh agar sejak dini memupuk semangat untuk bersaing dalam hal keilmuan.

2050 Eropa kekurangan pekerja

Diprediksi tahun 2050 sepertiga rakyat Uni Eropa kebanyakan berusia di atas 65 tahun dan memasuki masa pensiun. Sementara pertumbuhan penduduk nyaris stagnan. Saat itu dibutuhkan jutaan orang untuk mengisi kekosongan itu.

Usulan itu juga menegaskan agar peraturan kerja bagi imigran di negara-negara Uni Eropa harus dipermudah. Komisi itu menghendaki agar setiap orang yang memiliki blue card mendapat ijin kerja sekaligus ijin menetap, kesetaraan gaji dan hak sosial ekonomi lainnya. Disamping itu pemilik kartu biru mendapat kemudahan untuk pindah ke negara anggota Uni Eropa lainnya, jika mendapat pekerjaan di sana. Saat ini mustahil bagi imigran untuk pindah atau mencari pekerjaan lain di Uni Eropa karena setiap negara memiliki peraturannya masing-masing.

Menteri muda Kehakiman Belanda, Albayrak sependapat dengan ide itu. ”Jumlah lansia di Belanda terus meningkat. Menarik orang-orang yang berpendidikan tinggi dari luar Uni Eropa akan bermanfaat, ” kata Albayrak yang keturunan Turki. Di Belanda. 24% imigran di sana konon berpendidikan tinggi. Frattini, komisaris Eropa urusan migrasi secara tegas menyebut kaum imigran harus dipandang sebagai sebuah fenomena dunia masa kini. ”Jangan lihat itu sebagai ancaman saja," tukas Frattini.

Namun, rencana tersebut mendapat kritikan serikat buruh setempat. Menurut mereka jumlah migran di Eropa sudah cukup banyak dan mereka harus lebih dimanfaatkan lagi. Tak perlu mendatangkan dari luar lagi.

Patut ditunggu, apakah Eropa benar-benar serius dengan proposal itu. Jika terlaksana, maka imigran terampil, terutama dari negara berkembang bisa bersiap. Tertarik menikmati hidup dan bekerja di Eropa? Sudah bisa siap-siap dari sekarang.