Misi Rahasia Klinsmann
Pada saat pintu ruang khusus pemutaran video di Schloss Hotel Berlin ditutup, ketika itu tetamu yang berada di luar musti menahan bicaranya. Tidak boleh berisik sedikitpun. Jürgen Klinsmann, Joachim Löw (asisten pelatih) dan Urs Siegenthaler tak ingin ada gangguan di dalam ruangan “rahasia“ tersebut. Urs Siegenthaler, siapa pula orang ini ?
Siegenthaler merupakan nama asing yang bikin penasaran semua orang. Apa tugas pria asal Swiss yang dikontrak oleh DFB (PSSI-nya Jerman) sejak Mei 2005 ini ? Simak kalimat Klinsmann berikut:“Kunci kemenangan kami atas Swedia (2-0) kemarin mutlak berkat bantuan Urs Siegenthaler“.
Spielebeobachter atau mata-mata pertandingan, itulah tugas Urs Siegenthaler ! Siegenthaler berkeliling dari satu pertandingan ke pertandingan yang lain. Tentunya pertandingan yang dimainkan oleh tim segrup Jerman dan tim yang diprediksi bakal bertemu Jerman di babak berikutnya, Swedia misalnya. Seperti pada babak penyisihan, Urs mengumpulkan semua video pertandingan Kosta Rika, Polandia, dan Ekuador. Video ini dianalisanya secara cermat dan detail, kekuatan dan kelemahan tim-tim tersebut. Hasilnya didiskusikan dengan Klinsmann dan asistennya. Taktik apa yang perlu diterapkan di lapangan dibuat berdasarkan hasil analisis tersebut. Bukan main.
Secara ofisial fungsinya di DFB sebenarnya adalah pemandu bakat. Namun, di lapangan Siegenthaler justru lebih banyak berperan sebagai mata-mata. Jauh-jauh hari sebelum piala dunia berlangsung Siegenthaler pergi ke berbagai tempat seperti Kosta Rika, Polandia, dan Ekuador untuk mengamati kehidupan sepak bola di sana. Demikian juga negara yang diperkirakan bakal ketemu Jerman di babak selanjutnya.
„Tidak hanya teknik dan trik yang dipelajari, namun juga mentalitas dan karakter mereka. Bahkan bagaimana cara atau kebiasaan mereka melepaskan diri di saat menghadapi tekanan juga kita pelajari“, tukas Siegenthaler sebagaimana disitir Berliner Morgenpost (26/06).
Dan dengan bangga ia berujar: “Ich bin Klinsis Superspion“ (saya adalah super spionnya Klinsi).
Insinyur sipil berusia 58 tahun ini sebelumnya sempat menjadi mitra pelatih timnas Swiss dari tahun 1986 sampai 1988. Disamping itu ia juga mantan mantan pemain FC Basel, klub di liga utama Swiss. Joachim Löw, yang pernah tinggal di Schaffhausen (Swiss), adalah orang pertama yang “menemukan“ Siegenthaler. Löw lalu mengenalkannya pada Klinsmann yang langsung tertarik pada pandangan pertama.
Tentang tim di Piala Dunia 2006, Siegenthaler menyebut Argentina sebagai salah satu tim terbaik. ”Mereka merupakan tim yang sangat homogen, diantara para pemain sudah saling kenal sejak lama. Pemain cadangan pun tak kurang lincahnya. Kelebihan lainnya, para pemain Argentina begitu menyatu dengan Pekerman, sang pelatih”, puji Siegenthaler. Patut diketahui, sebagian besar skuad Argentina saat ini merupakan mantan pemain yang membawa Argentina merebut juara dunia junior tahun 1995, 1997, dan 2001. Hebatnya, semua gelar tersebut direbut dibawah asuhan tangan dingin Jose Pekerman.
Hari-hari belakangan ini Siegenthaler betah berlama-lama di ruangan khusus Schloss Hotel, Berlin. Kali ini tangannya menggenggam sebuah VCD berjudul “Argentina“. Mengenai hasil analisa video sebelum pertandingan tersebut, Siegenthaler cuma berkata: "Wer Argentinien besiegt, wird Weltmeister." (Siapa yang kalahkan Argentina, dia juara dunianya).
Zulkarnain Jalil, Serambinews (29/06/06).
Friday, July 14, 2006
Pemulung Botol Bekas pun Panen
“Disini uang berceceran di jalanan“, ujar seorang wanita tua dengan mimik gembira sembari memasukkan botol-botol plastik bekas ke dalam kantong yang dibawanya. Sekitar empat kantong plastik ukuran besar berisi berbagai jenis botol plastik dan botol kaca berhasil dikumpulkannya. Hasil kerja selama 3 jam itu jika ditotal ia memperoleh sedikitnya 50 Euro (sekitar 590.000 Rupiah, kurs 1 Euro=Rp.11.800). Kok bisa ?
Di Jerman setiap botol plastik -bekas air mineral- dihargai 25 cent (sekitar 2900 Rupiah), dan jenis botol kaca 15 cent (sekitar 1700 Rupiah). Botol bekas minuman yang dibeli dapat ditukar langsung di supermarket tempat kita berbelanja. Di setiap supermarket memang telah disediakan tempat pengumpulan botol bekas. Selanjutnya botol-botol bekas tersebut didaur ulang kembali. Ini merupakan salah satu kebijakan pemerintah Jerman dalam menangani masalah lingkungan.
Selama Piala Dunia berlangsung sampah yang paling kentara adalah botol-botol bekas minuman. Gunungan sampah botol ada dimana-mana. Konon lagi kalau Jerman yang main pasti para pemulung berteriak gembira, sebab sampahnya makin banyak. Orang Jerman dikenal suka minum bir, persis seperti kita minum air putih.
Kebanyakan dari para pemulung botol bekas ini adalah pelajar/mahasiswa, pensiunan, dan pengangguran yang tunjangan sosialnya rendah. “Saya datang terlambat. Jadi tidak begitu banyak yang saya kumpulkan hari ini. Yang lain udah ngumpulin banyak“, sahut David Schreier yang beroperasi di seputar Zentral Stadion, Leipzig. “Di perjalanan masih banyak yang sedang kesini. Malah ada yang bawa karung juga“, imbuh pemuda 19 tahun ini lagi. Ia sendiri membawa dua tas ransel dan kantong plastik ukuran besar.
“Pada saat Belanda dan Spanyol bertanding di Leipzig sampahnya luar biasa banyak. Pas Spanyol main misalnya, selama 3 jam bekerja kami ngumpulin botol yang jika ditotal dapat 235 Euro (sekitar 2, 7 juta Rupiah)“, cerita pasangan suami istri Schramm gembira. “Demikian juga pada saat Perancis main, kami bisa bawa pulang 11 karung besar“, lanjut mereka tanpa merinci berapa Euro yang bisa didapatkan.
Lain lagi dengan dua pemuda, Tim Lukas dan Alexander Drogla. Kalau orang lain demam bola, mereka sekarang malah demam mengumpulkan botol bekas. “Saat fans Belanda bikin perayaan di pusat kota, dalam waktu 90 menit kami bisa mengumpulkan botol bekas yang jika ditotal dapatlah 300 Euro (sekitar 3,5 juta Rupiah)“, cerita Lukas yang berniat akan mentraktir teman-temannya.
Sementara itu, Asim Brkic yang beroperasi di pusat kota Dortmund menceritakan bahwa ia juga memperoleh sekitar 50 Euro setiap harinya. “Itu cukup banyak buat saya. Uang pensiun saya cuma 400 Euro per bulan. Ngapain duduk-duduk di rumah aja”, sahutnya dalam bahasa Jerman logat Turki. Asim bekerja seperti ini bukan hanya selama Piala Dunia, jika klub Borussia Dortmund main ia ikutan juga memulung sampah botol tersebut.
Yang menarik adalah Nazmi Yildürüm, pria Turki ini malah mengajak teman-temannya mengais rezeki dari botol bekas tersebut. “Hari ini saya bawa 20 teman-teman ke sini. Yaa, buat uang rokok lah“, ujar Nazmi sambil tertawa terbahak-bahak.
Namun jika Iran atau Arab Saudi yang main misalnya, para pemulung kecele karena sedikitnya botol bekas yang didapat. “Tidak banyak yang bisa dikumpulkan kalau Iran yang main. Soalnya mereka kan Muslim, jadi ndak minum alkohol“, ujar David Schreier dengan santai.
Para pemulung itu, disamping memperoleh tambahan rezeki, tentu saja pekerjaan mereka tersebut setidaknya membantu petugas kebersihan. Rezeki memang Allah sebar dimana-mana, asal mau dan gigih berusaha.
Zulkarnain Jalil, Serambinews (05/07/06).
“Disini uang berceceran di jalanan“, ujar seorang wanita tua dengan mimik gembira sembari memasukkan botol-botol plastik bekas ke dalam kantong yang dibawanya. Sekitar empat kantong plastik ukuran besar berisi berbagai jenis botol plastik dan botol kaca berhasil dikumpulkannya. Hasil kerja selama 3 jam itu jika ditotal ia memperoleh sedikitnya 50 Euro (sekitar 590.000 Rupiah, kurs 1 Euro=Rp.11.800). Kok bisa ?
Di Jerman setiap botol plastik -bekas air mineral- dihargai 25 cent (sekitar 2900 Rupiah), dan jenis botol kaca 15 cent (sekitar 1700 Rupiah). Botol bekas minuman yang dibeli dapat ditukar langsung di supermarket tempat kita berbelanja. Di setiap supermarket memang telah disediakan tempat pengumpulan botol bekas. Selanjutnya botol-botol bekas tersebut didaur ulang kembali. Ini merupakan salah satu kebijakan pemerintah Jerman dalam menangani masalah lingkungan.
Selama Piala Dunia berlangsung sampah yang paling kentara adalah botol-botol bekas minuman. Gunungan sampah botol ada dimana-mana. Konon lagi kalau Jerman yang main pasti para pemulung berteriak gembira, sebab sampahnya makin banyak. Orang Jerman dikenal suka minum bir, persis seperti kita minum air putih.
Kebanyakan dari para pemulung botol bekas ini adalah pelajar/mahasiswa, pensiunan, dan pengangguran yang tunjangan sosialnya rendah. “Saya datang terlambat. Jadi tidak begitu banyak yang saya kumpulkan hari ini. Yang lain udah ngumpulin banyak“, sahut David Schreier yang beroperasi di seputar Zentral Stadion, Leipzig. “Di perjalanan masih banyak yang sedang kesini. Malah ada yang bawa karung juga“, imbuh pemuda 19 tahun ini lagi. Ia sendiri membawa dua tas ransel dan kantong plastik ukuran besar.
“Pada saat Belanda dan Spanyol bertanding di Leipzig sampahnya luar biasa banyak. Pas Spanyol main misalnya, selama 3 jam bekerja kami ngumpulin botol yang jika ditotal dapat 235 Euro (sekitar 2, 7 juta Rupiah)“, cerita pasangan suami istri Schramm gembira. “Demikian juga pada saat Perancis main, kami bisa bawa pulang 11 karung besar“, lanjut mereka tanpa merinci berapa Euro yang bisa didapatkan.
Lain lagi dengan dua pemuda, Tim Lukas dan Alexander Drogla. Kalau orang lain demam bola, mereka sekarang malah demam mengumpulkan botol bekas. “Saat fans Belanda bikin perayaan di pusat kota, dalam waktu 90 menit kami bisa mengumpulkan botol bekas yang jika ditotal dapatlah 300 Euro (sekitar 3,5 juta Rupiah)“, cerita Lukas yang berniat akan mentraktir teman-temannya.
Sementara itu, Asim Brkic yang beroperasi di pusat kota Dortmund menceritakan bahwa ia juga memperoleh sekitar 50 Euro setiap harinya. “Itu cukup banyak buat saya. Uang pensiun saya cuma 400 Euro per bulan. Ngapain duduk-duduk di rumah aja”, sahutnya dalam bahasa Jerman logat Turki. Asim bekerja seperti ini bukan hanya selama Piala Dunia, jika klub Borussia Dortmund main ia ikutan juga memulung sampah botol tersebut.
Yang menarik adalah Nazmi Yildürüm, pria Turki ini malah mengajak teman-temannya mengais rezeki dari botol bekas tersebut. “Hari ini saya bawa 20 teman-teman ke sini. Yaa, buat uang rokok lah“, ujar Nazmi sambil tertawa terbahak-bahak.
Namun jika Iran atau Arab Saudi yang main misalnya, para pemulung kecele karena sedikitnya botol bekas yang didapat. “Tidak banyak yang bisa dikumpulkan kalau Iran yang main. Soalnya mereka kan Muslim, jadi ndak minum alkohol“, ujar David Schreier dengan santai.
Para pemulung itu, disamping memperoleh tambahan rezeki, tentu saja pekerjaan mereka tersebut setidaknya membantu petugas kebersihan. Rezeki memang Allah sebar dimana-mana, asal mau dan gigih berusaha.
Zulkarnain Jalil, Serambinews (05/07/06).
Subscribe to:
Posts (Atom)