Pemulung Botol Bekas pun Panen
“Disini uang berceceran di jalanan“, ujar seorang wanita tua dengan mimik gembira sembari memasukkan botol-botol plastik bekas ke dalam kantong yang dibawanya. Sekitar empat kantong plastik ukuran besar berisi berbagai jenis botol plastik dan botol kaca berhasil dikumpulkannya. Hasil kerja selama 3 jam itu jika ditotal ia memperoleh sedikitnya 50 Euro (sekitar 590.000 Rupiah, kurs 1 Euro=Rp.11.800). Kok bisa ?
Di Jerman setiap botol plastik -bekas air mineral- dihargai 25 cent (sekitar 2900 Rupiah), dan jenis botol kaca 15 cent (sekitar 1700 Rupiah). Botol bekas minuman yang dibeli dapat ditukar langsung di supermarket tempat kita berbelanja. Di setiap supermarket memang telah disediakan tempat pengumpulan botol bekas. Selanjutnya botol-botol bekas tersebut didaur ulang kembali. Ini merupakan salah satu kebijakan pemerintah Jerman dalam menangani masalah lingkungan.
Selama Piala Dunia berlangsung sampah yang paling kentara adalah botol-botol bekas minuman. Gunungan sampah botol ada dimana-mana. Konon lagi kalau Jerman yang main pasti para pemulung berteriak gembira, sebab sampahnya makin banyak. Orang Jerman dikenal suka minum bir, persis seperti kita minum air putih.
Kebanyakan dari para pemulung botol bekas ini adalah pelajar/mahasiswa, pensiunan, dan pengangguran yang tunjangan sosialnya rendah. “Saya datang terlambat. Jadi tidak begitu banyak yang saya kumpulkan hari ini. Yang lain udah ngumpulin banyak“, sahut David Schreier yang beroperasi di seputar Zentral Stadion, Leipzig. “Di perjalanan masih banyak yang sedang kesini. Malah ada yang bawa karung juga“, imbuh pemuda 19 tahun ini lagi. Ia sendiri membawa dua tas ransel dan kantong plastik ukuran besar.
“Pada saat Belanda dan Spanyol bertanding di Leipzig sampahnya luar biasa banyak. Pas Spanyol main misalnya, selama 3 jam bekerja kami ngumpulin botol yang jika ditotal dapat 235 Euro (sekitar 2, 7 juta Rupiah)“, cerita pasangan suami istri Schramm gembira. “Demikian juga pada saat Perancis main, kami bisa bawa pulang 11 karung besar“, lanjut mereka tanpa merinci berapa Euro yang bisa didapatkan.
Lain lagi dengan dua pemuda, Tim Lukas dan Alexander Drogla. Kalau orang lain demam bola, mereka sekarang malah demam mengumpulkan botol bekas. “Saat fans Belanda bikin perayaan di pusat kota, dalam waktu 90 menit kami bisa mengumpulkan botol bekas yang jika ditotal dapatlah 300 Euro (sekitar 3,5 juta Rupiah)“, cerita Lukas yang berniat akan mentraktir teman-temannya.
Sementara itu, Asim Brkic yang beroperasi di pusat kota Dortmund menceritakan bahwa ia juga memperoleh sekitar 50 Euro setiap harinya. “Itu cukup banyak buat saya. Uang pensiun saya cuma 400 Euro per bulan. Ngapain duduk-duduk di rumah aja”, sahutnya dalam bahasa Jerman logat Turki. Asim bekerja seperti ini bukan hanya selama Piala Dunia, jika klub Borussia Dortmund main ia ikutan juga memulung sampah botol tersebut.
Yang menarik adalah Nazmi Yildürüm, pria Turki ini malah mengajak teman-temannya mengais rezeki dari botol bekas tersebut. “Hari ini saya bawa 20 teman-teman ke sini. Yaa, buat uang rokok lah“, ujar Nazmi sambil tertawa terbahak-bahak.
Namun jika Iran atau Arab Saudi yang main misalnya, para pemulung kecele karena sedikitnya botol bekas yang didapat. “Tidak banyak yang bisa dikumpulkan kalau Iran yang main. Soalnya mereka kan Muslim, jadi ndak minum alkohol“, ujar David Schreier dengan santai.
Para pemulung itu, disamping memperoleh tambahan rezeki, tentu saja pekerjaan mereka tersebut setidaknya membantu petugas kebersihan. Rezeki memang Allah sebar dimana-mana, asal mau dan gigih berusaha.
Zulkarnain Jalil, Serambinews (05/07/06).
No comments:
Post a Comment